p-Index From 2021 - 2026
5.416
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Social Infrastructure and Halal Tourism Village: A Study on Communities Around Lon Malang Beach, Madura Yudho Bawono; Hera Wahyuni
E-Journal of Tourism Volume 12 Number 1 (March 2025)
Publisher : Centre of Excellence in Tourism Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24922/eot.v12i1.124078

Abstract

By optimizing social infrastructure, it is expected that changes will occur in the community. The aim of this research is to provide an important input regarding tourism development, especially halal tourism villages in Sampang Regency through optimizing social infrastructure in the community around Lon Malang Beach, Sampang Regency. One of the expected changes is the development of Bira Tengah Village as a halal tourism village. This research was conducted in Bira Tengah Village, Sokobanah District, Sampang Regency. The research employed a qualitative case study method. The research participants (IM, N, and MA) were selected according to the following criteria: 1) Residents of Bira Tengah Village; 2) Employed as tourism actors for at least one year. Participants were selected using purposive and snowball sampling methods. The data were collected through observations and interviews. The data then were analyzed by using the Miles & Huberman interactive model, starting with data collection, data reduction, data display, and conclusion drawing/verifying. The validity of the data was assessed by testing its credibility, transferability, dependability, and confirmability. This research found 3 themes, including: (a) The beginning of Lon Malang Beach; (b) Suboptimal social infrastructure; and (c) Limited knowledge about halal tourism villages. Suggestions for tourism stakeholders at Lon Malang Beach, including the Sampang Regency Government and the Sampang Regency Culture and Tourism Office, are expected to promote the development of halal tourism in Bira Tengah Village, Sokobanah District, Sampang Regency.
Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur Intensitas Pemberian Dongeng untuk Anak Usia Sekolah Dasar Bawono, Yudho; Wibowo, Wasis
Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 3 (2025): May
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v2i3.3979

Abstract

Saat ini, aktivitas memberikan dongeng atau mendongeng kepada anak, khususnya kepada anak-anak usia sekolah dasar, sudah mulai jarang ditemukan. Untuk itu, diperlukan penelitian yang dapat mengungkap aktivitas pemberian dongeng kepada anak usia sekolah dasar. Namun, pertanyaan yang kemudian muncul adalah terkait alat ukur yang digunakan dalam penelitiannya nanti. Apakah alat ukurnya nanti benar-benar mengukur apa yang hendak dan seharusnya diukur, serta sejauhmana alat ukur tersebut dapat diandalkan dan berguna. Tujuan penelitian ini adalah ingin menguji validitas dan reliabilitas konstruk intensitas pemberian dongeng yang disusun oleh Bawono. Subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas IV dan V SDIT Ulil Albab, Kamal-Bangkalan sejumlah 57 anak. Berdasarkan analisis yang dilakukan, diketahui bahwa aspek dan item-item pada konstruk intensitas pemberian dongeng telah valid dan reliabel, sehingga dapat digunakan sebagai alat ukur penelitian yang dapat merefleksikan konstruk intensitas pemberian dongeng.
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT SEBAGAI INTERVENSI STUNTING DI DESA TAJUNGAN KECAMATAN KAMAL KABUPATEN BANGKALAN Bawono, Yudho; Rosyidah, Rezkiyah
Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v4i1.2595

Abstract

Tahun 2021 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menemukan prevalensi stunting di Indonesia angkanya mencapai 24,4%. Di Jawa Timur, kabupaten yang angka stuntingnya tinggi selain Lumajang adalah Bangkalan. Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) mencatat jumlah stunting di Kabupaten Bangkalan sebanyak 38%, di mana salah satu desa yang angka stuntingnya tinggi adalah Desa Tajungan, Kecamatan Kamal. Kasus stunting yang terjadi di Kabupaten Bangkalan ini salah satunya terkait perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang diterapkan di masyarakat. Dalam penanggulangan stunting, penerapan PHBS ini termasuk dalam intervensi yang dicanangkan pemerintah. Berangkat dari permasalahan tersebut, maka diadakan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tajungan yang tujuannya memberikan edukasi atau penyuluhan untuk pencegahan stunting. Adapun metode yang digunakan adalah keikutsertaan masyarakat (community participation). Partisipan yang diikutsertakan antara lain: pemerintah desa, organisasi PKK, tenaga kesehatan, dan warga setempat. Kegiatan yang dilakukan adalah penyuluhan pencegahan stunting serta promosi kesehatan kepada 16 orang masyarakat yang hadir, berkaitan dengan penerapan PHBS. Melalui penerapan PHBS ini, diharapkan stunting di Desa Tajungan dapat diturunkan
PEMBERDAYAAN KELUARGA BERSAMA ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA PASCA PASUNG MELALUI KERAJINAN BAMBU BERBASIS LOCAL WISDOM DAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK UNTUK MENUNJANG EKONOMI KELUARGA Wahyuningsih, Sri; Medhy Aginta Hidayat; Yudho Bawono; Anis Fitriyah; Ahmad In’am Kholifi
Dharma: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Mei
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Madura, especially Sampang district, there have been many successes in releasing ODGJ from confinement in stocks, with 1333 successfully released from detention in stocks. This is very supportive of the Government's program to free people from pasung by 2024. Families who are shackled are on average in a weak economic condition, so they do not want to send their family to a mental hospital. They think that the treatment for ODGJ is expensive. The results of the observations of the Pengabdhi and the Abdimas team, that the condition of the families of People with Mental Disorders (ODGJ) in Sampang Madura is categorized as economically weak, meaning that the family with their family members who are ODGJ after being shackled really need help both material approaches and mental rehabilitation assistance from Pengabdhi and community service team in collaboration with the Bina Insan Madulang Group and the Omben Health Center, Sampang Regency. The method in this service is to provide training by empowering families with ODGJ to make handicrafts from bamboo materials by utilizing the village's potential in the form of bamboo plants. The results of handicrafts from bamboo will provide economic value for the family and ODGJ. ODGJ's mental condition is getting better because indirectly cognitive, affective, and psychomotor gradually recover by experiencing improved mental and reproductive health in the community.
Penggunaan Metode Bercerita untuk Meningkatkan Kemampuan Empati Anak Usia Dini Febriani, Widya; Bawono, Yudho; Purwo Wibowo, Wasis
Journal of Psychology and Humans Vol. 1 No. 2 (2025): Journal of Psychology and Humans
Publisher : CV. Cendekiawan Muda Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70656/jopah.v1i2.387

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kemampuan empati anak usia dini yang mendapatakan cerita sebelum dimulai pembelajaran di TK Anak Sholeh Bangkalan. Rendahnya kemampuan empati anak usia dini saat ini dikarenakan kurangnya stimulasi dari lingkungan sekitar. Banyak cara dalam meningkatkan kemampuan empati anak, salah satunya adalah melalui metode bercerita. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study). Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 3 anak usia dini yang ditentukan berdasarkan teknik non-probability sampling dengan jenis purposive sampling. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perbedaan pemenuhan aspek kemampuan empati. Aspek tersebut meliputi perspective taking, fantasy, empathic concern, dan personal distress. Ketiga partisipan menunjukkan bahwa kemampuan empati anak usia dini berdasarkan aspek tersebut sudah berkembang dengan baik, namun diperlukan beberapa stimulasi untuk menumbuhkan beberapa indikator yang belum muncul.
PEMASARAN JAMU MADURA SEBAGAI BENTUK PELESTARIAN BUDAYA PADA KEGIATAN CAR FREE DAY (CFD) DI KABUPATEN PAMEKASAN bawono, priyo sandi; Nayatul Aisyah, Fitri; Biroli, Alfan; Bawono, Yudho; Afifuddin, Mohammad
ADIMAS Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9 No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/adi.v9i2.10307

Abstract

Jamu tradisional Madura merupakan minuman herbal yang memiliki banyak manfaat kesehatan dan telah digunakan secara turun-temurun. Namun, globalisasi dan meningkatnya persaingan dari produk kesehatan modern telah menyebabkan penurunan popularitas jamu, terutama di kalangan masyarakat perkotaan. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melestarikan jamu tradisional Madura melalui pemasaran di acara Car Free Day (CFD) Kabupaten Pamekasan. Kegiatan ini melibatkan produsen jamu tradisional seperti BRB Hj. Sumiati yang aktif mempromosikan produknya di CFD. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, penyuluhan manfaat jamu kepada pengunjung, serta penjualan langsung di lokasi acara. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini mencakup perencanaan strategi pemasaran, sosialisasi kepada masyarakat, penyuluhan manfaat jamu, dan pemasaran langsung di lokasi CFD. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan penjualan produk jamu, yang meningkat secara signifikan dibandingkan dengan hari biasa. Pemasaran jamu di CFD juga membuka peluang dialog budaya antara produsen dan konsumen, di mana masyarakat bisa lebih memahami sejarah dan manfaat dari jamu yang mereka konsumsi. Pelestarian jamu tradisional melalui kegiatan ini tidak hanya mendukung kesehatan masyarakat, tetapi juga membantu menjaga identitas budaya lokal. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa CFD merupakan platform yang efektif dalam memperkenalkan produk tradisional kepada masyarakat perkotaan dan memberikan dampak positif pada ekonomi produsen jamu skala kecil.   Kata kunci: Car Free Day (CFD), Jamu Madura, Pelestarian Budaya, Pemasaran
Pelatihan Digital Marketing pada Kelompok Industri Jamu Madura Berbasis Focus Group Discussion (FGD) di Kabupaten Pamekasan Biroli, Alfan; Afifuddin, Mohammad; Bawono, Yudho; Bawono , Priyo Sandi; Aisah , Fitri Nayatul
Santri : Journal of Student Engagement Vol. 4 No. 1 (2025): Santri : Journal of Student Engagement
Publisher : Universitas Sunan Drajat Lamongan, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55352/santri.v4i1.1283

Abstract

The traditional herbal medicine (jamu) industry in Pamekasan, Madura, which has been passed down through generations, faces significant challenges in marketing in the digital era. Most jamu entrepreneurs still rely on conventional marketing methods, such as direct sales and word-of-mouth, which limit their market reach. Therefore, a community service program based on digital marketing training was conducted to help these entrepreneurs utilize digital technology to expand their market. The training employed a Focus Group Discussion (FGD) method and involved six jamu business owners from Pamekasan. The material covered the basics of digital marketing, strategies for using social media platforms like Instagram and Facebook, as well as marketplace optimization for platforms such as Tokopedia and Shopee. The results of the training showed an increase in participants' understanding of the importance of digital marketing in business development. However, there were still challenges, including low digital literacy, limited technological infrastructure, and complex regulatory requirements for product licensing. Overall, this training had a positive impact, helping the entrepreneurs enhance their competitiveness in broader markets. Continued mentoring and regulatory simplification are needed to ensure the success of the digital transformation of the jamu industry in Pamekasan.
KECEMASAN IBU HAMIL DALAM MENGHADAPI PERSALINAN DITINJAU DARI TINGKAT PENDIDIKAN Wibowo, Wasis Purwo; Bawono, Yudho
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.31561

Abstract

Kehamilan merupakan periode penting dan krisis yang dialami oleh seorang perempuan dan dapat menimbulkan kecemasan karena adanya perubahan baik secara fisik maupun psikologis. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kecemasan yang dialami ibu hamil, salah satunya adalah tingkat pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan kecemasan ibu hamil ditinjau dari tingkat pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di RSIA dr. Hikmah Sawi Bangkalan. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 50 ibu hamil. Pengumpulan data dari variabel kecemasan menghadapi persalinan menggunakan skala PASS (Perinatal Anxiety Screening Scale). Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui uji One-Way Anova untuk mengetahui perbedaan kecemasan ibu hamil dalam menghadapi persalinan ditinjau dari tingkat pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kecemasan ibu hamil dalam menghadapi persalinan berdasarkan tingkat Pendidikan. Ibu hamil dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki tingkat kecemasan yang rendah dibandingkan dengan ibu hamil yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan memegang peranan penting dalam mempengaruhi tingkat kecemasan ibu hamil, sehingga ibu hamil disarankan untuk terus mencari informasi dan mempelajari hal-hal seputar kehamilan dan persalinan guna mengurangi kecemasan yang dirasakan selama proses kehamilan.
Shaping Prosocial Behavior in Kindergarten Children Through Bedtime Storytelling Yuni Istikomah, Ela; Bawono, Yudho; Purwo Wibowo, Wasis
Nak-Kanak: Journal of Child Research Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/njcr.v2i2.150

Abstract

Background of the study: Prosocial behavior typically begins to emerge when a child is around two years old, an age that falls within the early childhood stage. Children of kindergarten age are also considered to be in early childhood. At this stage, children tend to exhibit prosocial behaviors primarily toward those closest to them, such as family members, teachers, and classmates. The development of prosocial behavior is crucial for early childhood, as it prepares children to become members of a community and helps them adapt and interact within a broader social environment in the future. Factors that support the emergence of prosocial behavior include a positive environment, effective communication, observable role models, good habits, and parental involvement. One way parents can contribute is by engaging in bedtime storytelling. Aims and scope of paper: This study aims to explore and understand prosocial behavior in kindergarten-aged children who are regularly told bedtime stories. Methods: This research employs a qualitative method with a case study approach. The sampling technique used is purposive sampling, involving three participants aged 4–6 years who are enrolled as students at TK Anak Sholeh, Bangkalan. Data were collected through interviews and analyzed using Stake’s data analysis model. The validity of the data was ensured through source triangulation. Results: The study found that all three participants demonstrated prosocial behavior across several key aspects. These behaviors include the ability to express empathy, collaborate, share tasks with peers, help others, donate willingly, and acknowledge their mistakes. In summary, the results indicate that the three kindergarten-aged participants exhibited prosocial behaviors such as sharing, cooperation, helping, donating, and honesty. Contribution: This study concludes that bedtime storytelling can effectively foster prosocial behavior in kindergarten-aged children. Therefore, it is recommended that parents pay closer attention to their children's prosocial development and support it by establishing a consistent bedtime storytelling routine.
Storytelling before bed, is it still effective? Mendongeng Sebelum Tidur, Masihkah Efektif Dilakukan? Bawono, Yudho; Wibowo, Wasis Purwo; Listiyana, Ar Liza; Muarif, Samsul; Aditya, Puji Restu
Procedia of Social Sciences and Humanities Vol. 6 (2024): International Conference Psychology and Education Transformation For Bright Future
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/pssh.v6i.558

Abstract

Bedtime storytelling is an oral tradition that has been passed down for generations. Many previous studies have found the benefits of storytelling, which is usually given to children at bedtime. Some of them are: (1) Fostering a proactive attitude; (2) Strengthening the relationship between parents and children; (3) Increasing knowledge; (4) Training concentration; (5) Increasing vocabulary; (6) Fostering interest in reading; (7) Triggering children's critical thinking; (8) Stimulating children's imagination, fantasy, and creativity; and (9) Providing lessons without seeming patronizing. However, behind the various benefits of bedtime storytelling, with the development of technology, especially media using the internet, the question arises, is bedtime storytelling still effective today? The purpose of this study is to find out whether storytelling before bed is effective for children. The research was conducted by distributing Questionnaires of Children's Activities Listening to Fairy Tales in the form of google forms. The results showed 139 respondents (90.3%) answeredyes, 13 respondents (8.4%) answered neutral, and 2 respondents (1.3%) answered no. Based on the results, it can be said that storytelling before bedtime is still effective. Based on the results of the study, it can be said that storytelling (before bed) is still effective, especially to improve children's language skills.