Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Mozaik Humaniora

Peran Semantis Subjek dalam Klausa Bahasa Muna Made Sri Satyawati
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 2 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 2
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.816 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5861

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji beberapa peran semantis subjek dalam klausa bahasa Muna. Dalam berbagai bahasa, klausanya dimungkinkan memiliki sejumlah peran semantis. Begitu pula dengan bahasa Muna. Dalam tuturan sehari-hari, klausa merupakan unsur terpenting karena mengandung predikasi. Predikat sebagai penentu maksud pembicaraan. Di dalam klausa tersebut, subjeknya dapat saja berupa agen atau pasien. Dalam teori Role and Reference Grammar (RRG), agen dan pasien dikatakan sebagai peran umum, yaitu ACTOR dan UNDERGOER. Kedua peran semantis ini dapat saja hadir dalam satu klausa atau pun dapat hadir dalam satu klausa sekaligus. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan karena sumber data yang berupa data lisan berasal dari penutur atau informan. Penelitian ini menggunakan metode simak dan metode cakap dengan teknik sadap, teknik simak libat cakap, teknik rekam atau teknik catat, serta teknik pemancingan. Selanjutnya, data dianalisis dengan metode agih dan metode padan dengan teknik dasar bagi unsur langsung (BUL) sehingga analisis peran semantis subjek terlihat jelas. Analisis peran semantis subjek dalam klausa bahasa Muna mengacu pada teori Role and Reference Grammar (RRG). Hasil yang ditemukan, klausa bahasa Muna memiliki tiga peran semantis subjek, yaitu (1) klausa dengan SUBJEK memiliki peran semantis ACTOR, (2) klausa dengan SUBJEK memiliki peran semantis UNDERGOER, dan (3) klausa dengan SUBJEK memiliki peran semantis ACTOR sekaligus UNDERGOER. Klausa dengan peran semantis ACTOR sekaligus UNDERGOER dapat berupa klausa refleksif dan klausa resiprokal.Argumen UNDERGOER sebagai SUBJEK klausa dapat berupa entitas [-human] dan [+human]. Kata kunci: bahasa Muna, klausa, peran semantis subjek ABSTRACTThis study concerns particular semantical roles of a subject in the clauses of Munansese language. In the Munanese language, the clause may have  a number of semantical roles. In daily utterances,  the clause is a constitute primary element because it has a predicate. The predicate determines the speaker’s intended meaning in one conversation. In the clause, the subject can be an agent or patient. In Role and Reference Grammar theory, the agent and the patient can be called as an ACTOR  and UNDERGOER. These semantical roles can be present at the same time in the  clause. The study using a qualitative descriptive approach is a field research. The data were collected from the speakers’ and informants’ utterances. To collect the data,  the methods included a close observation and conversation using a hidden recorder, taking some notes, and giving an improptu statement that needed an immediate response. The data were analyzed by directly dividing the elements of the clause named BUL (Bagi Unsur Langsung), so that the semantical roles of the subject could be identified.  The results of the study show that the Munanese language clause has three semantical roles of the subject; (1) clauses with SUBJECT as ACTOR, (2) clauses with SUBJECT as UNDERGOER, and (3) clauses with SUBJECT as ACTOR  andUNDERGOER. The clause having ACTOR  and UNDERGOER as the semantic roles at the same time is reflexive and reciprocal clause. The argument, UNDERGOER,  as SUBJECT may have such features as [-human] and[+human].  Keywords: clauses, Munanese language, semantical role of subject
Bentuk dan Fungsi Operator Bahasa Bima Made Sri Satyawati
MOZAIK HUMANIORA Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.15 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v14i2.7814

Abstract

Persoalan yang dikaji dalam tulisan ini difokuskan pada operator Bahasa Bima, yaitu bentuk danfungsi operator bahasa Bima. Secara lintas bahasa, operator dikenal sebagai unsur-unsur yang tidakdilekatkan pada unsur lain, seperti did dan not dalam bahasa Inggris dan ka, pemarkah tanya, dalamBahasa Jepang. Wujudnya beragam, misalnya afiks, klitik, atau kata bergantung pada tipe-tipe bahasaitu sendiri. Hasil penelitian yang mengkaji operator Bahasa Bima masih belum banyak dilakukansehingga sebagai penelitian awal dan untuk menambah wawasan kelinguistikan, kajian ini sangatmenarik untuk dibicarakan. Karena metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitianlinguistik lapangan, metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode elisitasi,metode perekaman, dan metode observasi. Ketiga metode itu dibantu dengan teknik catat. Analisispenelitian ini dilakukan dengan menggunakan konsep yang diperkenalkan oleh Van Valin dan LaPolla dalam teori Role and Reference Grammar. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode padandan distribusional dengan teknik lanjutan teknik hubung banding, teknik lesap, dan teknik subsitusisehingga unsur-unsur yang dinamai operator dapat dengan mudah dikenali. Pada hasil analisis data,diketahui bahwa operator dalam bahasa Bima dimarkahi dengan klitik dan kata seperti 1) klitikseperti ku-, na-, dan mu- dan 2) preposisi seperti kai dan labo. Selain itu, diketahui pula Bahasa Bimamemiliki operator berupa aspek dan penegasi.
Ekspresi Semantis Verba dan Pelibatan Argumen dalam Klausa Bahasa Bima Made Sri Satyawati; Ketut Widya Purnawati; I Nyoman Kardana
MOZAIK HUMANIORA Vol. 19 No. 2 (2019): MOZAIK HUMANIORA VOL. 19 NO. 2
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mozaik.v19i2.14918

Abstract

Bimanese language is an Austronesian, Malayo Polinesian Language (Arafik 2005). In 1986, Jonker conducted a research on this language. His reseach focused on sintactic structure of the language. Jonker’s analisis (1896) looked similar with Owens’ analisis (2000) that stated there are two common features of the Bimanese as one of the Austronesian language, they are affixing and compounding. With the base features, Owens considered that Bimanese at least has one of the features or even both features as well. His work focused on verb expression and bound arguments in Bimanese clauses. The two problems were analyzed based on Functional Lexical Grammar theory proposed by Kroeger (2005). The theory contains three sintactic aspects, such as functional structure, constituent structure, and argument structure. Data were collected through elicitation and observation method. Elicitation was applied to obtain spoken data while observation method was used to collect written data from texts. Both methods were supported by note taking technique and recording. The collected data were analyzed by substitution and immediate constituent technique. The result shows that Bimanese verbs can express their arguments syntactically by using verb semantic meaning and preposition like labo, kai, wea, and ba-. It was also found that the obligatory arguments in a clause are generally marked with the four markers. 
Fungsi Semantis Lokasi dalam Struktur Klausa Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia Ketut Widya Purnawati; Made Sri Satyawati; Ketut Artawa
MOZAIK HUMANIORA Vol. 21 No. 1 (2021): MOZAIK HUMANIORA VOL. 21 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mozaik.v21i1.24623

Abstract

Setiap bahasa memiliki sistem pemarkahannya sendiri untuk menunjukkan fungsi semantis tertentu dalam suatu klausa. Sistem pemarkahannya bisa sangat sederhana atau sangat kompleks. ‘Lokasi’ sebagai salah satu fungsi semantis memiliki tiga subtipe, yaitu sumber, tujuan, dan lintasan. Dengan ketiga subtipenya tersebut, fungsi semantis ini paling tidak memiliki empat buah pemarkah yang berbeda. Dalam penelitian ini dipaparkan bagaimana sistem pemarkahanfungsi semantis ‘lokasi’ dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. Data yang diambil dari korpus data Corpora Leipzig dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan metode agih dan teknik bagi unsur langsung sebagai teknik utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemarkahan ‘lokasi’ bahasa Jepang lebih kompleks daripada bahasa Indonesia. Dalam bahasa Jepang, sebuah subtipe bisa memiliki tiga jenis pemarkah yang berbeda. Namun, tidak demikian halnya dengan bahasa Indonesia yang memiliki sistem pemarkahan jauh lebih sederhana. Baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jepang, fungsi semantis lokasi tidak selalu menduduki fungsi gramatikal yang sama. Fungsi semantis lintasan yang menduduki fungsi oblik dalam bahasa Jepang, ternyata menduduki fungsi objek dalam bahasa Indonesia.
Co-Authors A.A. Putu Suari Alimah Fadhilah Can Anak Agung Putu Putra Anak Agung Putu Putra Anggie Ray Salvatore Antari, Ni Made Suwari Aron Meko Mbete Aron Meko Mbete Asako Shiohara Bintang Suryaningsih, A.A. Istri Agung CHOIRUN NISA Dewa Ayu Widiasri Dewa Gede Agung Aditya . Gusti Nyoman Ayu Sukerti Hanny Hafiar I Gde Nyana Kesuma I Gede Budasi I Gusti Ayu Agung Dian Susanthi I Gusti Ayu Gede Sosiowati I Gusti Made Sutjaja I Gusti Ngurah Ketut Putrayasa I Ketut Artawa I Ketut Darma Laksana I Ketut Oka Ribawa I Made Beni Wrihatnala I Made Budiarsa I Nengah Sudipa I Nyoman Kardana I Nyoman Sedeng I NYOMAN SUPARWA I Nyoman Udayana I WAYAN PASTIKA I Wayan Simpen I Wayan Simplen I Wayan Simplen Ida Bagus Putra Yadnya Johandi Sinaga Kadek Ayu Winda Winanda Kesuma, I Gde Nyana Ketut rtawa Ketut Widya Purnawati La Yani Laksono Trisnantoro Lien Darlina Maryanti E. Mokoagouw Muliawan, Made Sani Damayanthi Nazara, Wa’özisökhi Ni Ketut Ratna Erawati Ni Ketut Sri Rahayuni Ni Made Ayu Sulasmini NI MADE AYU SULASMINI . Ni Made Dhanawaty Ni Made Sri Maharani Ni Nyoman Dewi Astari Putri Ni Wayan Kencanawati Ni Wayan Sri Darmayani Nidya Fitri Nidya Fitri Novita Mulyana Nyoman Putra Sastra Paramarta, I Made Suta Puronami Sarah Stefany Putri, Ni Nyoman Dewi Astari Putu Agus Bratayadnya, Putu Agus Putu Ayu Prabawati Sudana Putu Eka Dambayana Suputra Said, Rahmat Sawirman Sawirman Sukardi Sukardi Syufi, Yafet Togasa, Shotaro Wayan Yuni Antari Wa’özisökhi Nazara Widiasri, Dewa Ayu Widiatmika, Putu Wahyu Yafed Syufi Yafet Syufi Yendra Yusuf Parri Akbar