Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan Budidaya Sayuran Secara Vertikultur di Pekarangan Guna Ketahanan Pangan Rumah Tangga Endah Djuwendah; Tuti Karyani; Zumi Saidah; O Hasbiansyah
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2021): April 2021, Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v5i2.5291

Abstract

One of the efforts to increase food sufficiency, resilience and self-sufficiency is the use of the yard. Cultivation of vegetables using verticulture techniques can be applied in the use of yards. The verticulture technique was chosen because it has advantages: it does not require large costs, is easy, can be a source of family food, the beauty of the home and the environment and produces oxygen. This training activity aims to introduce vegetable farming techniques with the verticulture system as an effort to strengthen household food security. Participants in the activity were members of the Kencana Lestari Women's Farmer Group, Rancaekek Kencana Village, Bandung Regency. The methods used in this activity are lectures, practice and mentoring. The methods used in this activity are lectures, practice and mentoring.This activity has provided benefits for activity participants. The result was that there was a significant change in cognitive terms, namely an increase in the level of participants' knowledge about vegetable cultivation techniques using the verticulture system. For the psychomotor aspect, there is an increase in the skills of participants to cultivate various types of vegetable plants using verticulture techniques.
KOMPARASI RISIKO PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI KOPI ORGANIK DAN AN ORGANIK: (Suatu Kasus di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung) Tuti Karyani; R. Az-Zahra S; E. Djuwendah; E. Supriyani R
Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol 22 No 1 (2022)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jppt.v22i1.2155

Abstract

Changes in consumer lifestyle have led to an increasing demand of organic products. The government supports the growth of the organic-product trend by establishing 1000 organic-farming village program. The transformation of farming method from the conventional (inorganic) one to the organic one certainly imposes risks that need to be considered. This study aims to analyze the differences of production risks and income risk between organic and inorganic coffee farmers. The research was conducted in Margamulya Village, Pangalengan District, West Java, which was purposively chosen because Margamulya Village is the center of coffee production in West Java and is one of the villages selected in the 1000 organic-farming-village program. The samples used in this study amounted to 56 respondents, which consisted of 28 organic farmers and 28 conventional farmers that were obtained through Slovin’s formula and selected by simple random method. The method used in this research was comparative quantitative research method. The data were analyzed using comparative analysis by coefficient comparison analysis of production risks and income risks. The results show that the production risks and income risks of inorganic coffee farmers are higher than those of organic farmers. Keywords: Organic Coffee, Production Risks, Income Risks
POTENSI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN AGROEKOWISATA DESA ALAMENDAH SEBAGAI KAWASAN WISATA BERBASIS MASYARAKAT Aisyah Nabilah; Endah Djuwendah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh Vol 9, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jimag.v9i2.7530

Abstract

Desa Alamendah merupakan salah satu kawasan agro-ekowisata di Kabupaten Bandung yang menerapkan konsep pariwisata berbasis masyarakat dalam pengelolaannya. Pengembangan sektor pariwisata secara berkelanjutan dapat berdampak bagi kesejahteraan masyarakat, sehingga strategi pengembangan agro-ekowisata di Desa Alamendah perlu dilakukan dengan tujuan supaya potensi dapat terus digali dan ditingkatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah menggali potensi yang dapat menjadi daya tarik wisata serta menentukan prioritas alternatif strategi pengembangan Agro-ekowisata di Desa Alamendah. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Analisis data yang digunakan menggunakan analisis SWOT dan ANP (Analytical Network Process). Hasil analisis ANP menunjukkan bahwa alternatif strategi prioritas utama dalam pengembangan Agro-ekowisata Desa Alamendah yang diperoleh adalah strategi menjaga loyalitas konsumen yang sebaiknya lebih difokuskan pada aktivitas agroindustri rumah tangga yang dilaksanakan oleh masyarakat lokal.
Keragaan Usaha dan Nilai tambah Pada Agroindustri Keripik Tike (Studi Kasus di Desa Jumbleng Kecamatan Losarang Indramayu) Endah Djuwendah
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v2i1.2037

Abstract

ABSTRAKKeripik tike merupakan pangan lokal tradisional dari Kabupaten Indramayu yang berasal dari umbi tumbuhan Tike (Eleocharis dulcis Brumn f). Tike merupakan tumbuhan rawa pasang surut sulfat masam. Tanaman ini memiliki manfaat kesehatan karena mengandung Zat antibiotik puchiin dan vitamin C. Usaha pengolahan keripik tike memiliki peran penting dan potensial untuk dikembangkan karena mampu memberikan nilai tambah dari umbi tike menjadi komoditas pangan yang khas (local spesifik), memiliki cita rasa enak, bermanfaat bagi kesehatan, menciptakan kesempatan kerja dan memberikan pendapatan bagi masyarakat. Oleh karena itu cukup potensial untuk berkembang. Namun hingga saat ini usaha keripik tike belum berkembang secara luas karena terkendala oleh berbagai faktor diantaranya keterbatasan bahan baku, permodalan dan wilayah pemasaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis keragaan usaha dan nilai tambah agroindusti keripik tike yang berada di desa Jumbleng Kecamatan Losasang Kabupaten Indramayu. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknis penelitiannya berupa studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengadaan bahan baku umbi tike diperoleh dari Kabupaten Bekasi dan Cilacap dengan harga berkisar Rp 16.000 s,d 18.000 per Kg. Terjadi keterbatasan bahan baku tike saat peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Tenga kerja yang digunakan berasal dari desa setempat dan berjumlah 2-6 orang per unit usaha dengan sistem upah harian. Modal penyedia bahan baku terdiri dari modal pribadi dan modal pinjaman. Pengolahan keripik tike melalui proses pencucian, perendaman, penyangraian, penumbukan, penjemuran, penggorengan dan pengemasan. Pemasaran Keripik tike dilakukan oleh pedagang perantara yaitu penyalur dan pengecer dengan harga jual berkisar Rp 2000 – 10,000 untuk pemasaran langsung kemasan kecil dan Rp 80.000 s.d 90.000/kg untuk pemasaran tidak langsung melalui penyalur. Wilayah pemawaran keripik tike umumnya di wilayah Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Kapasitas produksi keripik tike rata-rata 50 kg umbi tike per proses produksi dengan tingkat konversi produk akhir mencapai 0,96. Nilai tambah per kilogam bahan baku adalah Rp 35.320, rasio nilai tambah 45,99 % dan keuntungan per nilai tambah adalah 30,36 %. Margin balas jasa terhadap faktor produksi paling besar dimiliki oleh keuntungan pengrajin yaitu 57,16 %, pendapatan tenaga kerja sebesar 29,41% dan sisanya 13,43% merupakan balas jasa terhadap sumbangan input lain.Kata kunci: Keripik tike, keragaan usaha, nilai tambahABSTRACTTike Chips is a traditional local food from Indramayu Regency derived from tuber Tike (Eleocharis dulcis Brumn f). Tike is a sulphurous acid wet tidal swamp. This plant has health benefits because it contains Puchiin antibiotic and vitamin C. Tike chips processing business has an important role and potential to be developed because it can provide added value from tike bulb to be a specific local food commodity, has good taste, beneficial for health, creating employment opportunities and providing income for the community. It is therefore quite potential to develop. However, until now the business of tike chips has not developed widely due to constrained by various factors such as limited raw materials, capital and marketing area. The purpose of this research is to analyze business performance and value added agroindustry tike chips that located in Jumbleng Village, Subdistrict of Losasang of Indramayu Regency. The research method used is descriptive qualitative with technical research in the form of case study. The results of research shows that the procurement of tike tuber raw material is obtained from Bekasi and Cilacap regencies with prices ranging from Rp 16.000 s, d 18,000 per kg. There is a limitation of tike raw materials during the transition from dry season to rainy season. Working tillers are from local villages and numbered of 2-6 people per business unit with daily wage system. Capital providers of raw materials consist of personal capital and loan capital. Processing of tike chips through washing process, immersion, roasted, collision, drying, frying and packaging. Marketing Chips tike is done by intermediary traders ie dealers and retailers with selling prices ranging from Rp 2000 - 10,000 for direct marketing of small packaging and Rp 80.000 s.d 90.000 / kg for indirect marketing through distributors. Tike chips offer areas generally in the districts of Indramayu and Cirebon. The production capacity of tike chips averages 50 kg of tike bulbs per production process with a final product conversion rate of 0.96. The added value per kilogram of raw materials is Rp 35,320, the value added ratio is 45.99% and the profit per added value is 30.36%. The greatest profit margin for the factor of production is owned by the craftsman's profit of 57.16%, the employment income of 29.41% and the remaining 13.43% representing the remuneration to other input contributions.Keywords: Tike chips, business performance, added value
Kajian Pengembangan Agroindustri Berbasis Teh Rakyat Lucyana Trimo; Sri Fatimah; Endah Djuwendah
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v1i2.1634

Abstract

ABSTRAKPeluang kelompok tani teh menjadi kelompok bisnis agroindustriteh cukup besar, ini karena tingginya dukungan pemerintah melalui program GPATN serta semakin tingginyapermintaan pasar luar negeri dan dalam negeri dalam bentuk“instant tea” (makanan, minuman, farmasi, kosmetik).Namun, kondisi tersebut belum dapat dimanfaatkan dengan baik oleh petani teh. Hal ini terlihat dari, sebagian besar petani the masih menjual produknya dalam bentuk pucuk basah. Penelitian dilakukan untuk mengkaji kendala yang dihadapi oleh petani teh rakyat dalam pengembangan agro-industri teh. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi deskriptif survey. Tempat penelitian yang dipilih adalah Kabupaten: Garut (KecamataCisurupan), Cianjur (Kecamatan Sukanagara) dan Bandung (Kecamatan Pasirjambu), yang merupakan sentra teh di Provinsi Jawa Barat.Data dikumpulkan dengan cara: studi kepustakaan, dan wawancara dengan pihak terkait, yaitu pejabat pada instansi pemerintah, koperasi, pabrikan, asosiasi petani teh, kelompok tani, serta petani teh yang diambil secara acak sederhana dari setiap Kecamatan yang dijadikan sampel. Secara proposional sampel diambil berdasarkan luas wilayah sentra teh, dan setiap kecamatandiambil 30 orang petani teh. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, dengan pendekatan system thinking. Salah satu alat pendekatan system thinking yang digunakan yaitu dengan causal loop modelling, agar mudah mendeskripsikannya maka digunakan Causal Loop Diagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala yang dihadapi dalam mengembangkan agroindustri teh rakyat, yaitu: 1) kurangnya ketersediaan pucuk the sebagai bahan baku agroindustri, 2) kurangnya pengetahuan untuk meningkatkan nilai tambah pucuk teh, 3) kurangnya kemampuan dalam penyediaan modal dan peralatan dalam mengolah pucuk teh, dan 4) masih kurangnya dukungan pemerintah dalam mempromosikan teh olahan rakyat (misal: dalam rapat-rapat atau kegiatan-kegiatan yang berlangsung di pemerintahan sebaiknya memanfaatkan produk olahan the dari petani).Katakunci: agroindustri, kendala, nilai tambah, peluang, teh rakyat, ABSTRACTThe increasing market demand, abroad and domestically in the form of "instant tea" (food, beverage, pharmaceutical, cosmetics), and also support from the higher government through GPATN program makes the oopportunitiesof tea small holder groups into tea agro-industry business is quite huge.But infact, this opportunity cannot be utilized properly bytea small holder. Most of the tea small holders still sell their products in the form of freshflush. This research was conducted toinvestigate the constrain of tea small holder in agroindustry development.The study was conducted using a survey descriptive study approach. Selected location research is located at the center of tea small holder in West Java province, i.e.District of Garut (Subsdistrict of Cisurupan), Cianjur (Subdistrict of Sukanagara) and Bandung (District of Pasirjambu). In this research, the data were collected by study of literature and interviews with relevant parties, i.e. officials at government agencies, cooperatives, manufacturers, associations of tea farmers, tea small holder groups, and tea farmers. Tea farmers are taken randomly from each subdistrict sampled. Proportionally, samples are taken based on the size area of tea central region, and from those each district about 30 tea farmers were taken. Data were analyzed descriptively, with a system thinking approach. One of the tool system thinking approaches used in this research is causal loop modeling, in particularly Causal Loop Diagram. Result of the research showed that the obstacles of tea small holder in developing agro-industrial were : 1) the lack of availability of tea flush as raw material for agro-industry, 2) the lack of knowledge to increase value added of tea flush, 3) the lack of capability in the providing capital and equipment in processing the tea flush, and 4) the lack of government support in promoting the tea small holder’s products (e.g., Doing product promotion fromthe tea small holder in the goverment meetings or activities; such as by using those products in the activities).Keywords: agro-industry, constrain, opportunity, tea small holder, value added 
Strategi Pengembangan Agribisnis Buah Naga di Perkebunan Sabila Farm Yogyakarta Vanya Almeira Rizkika; Hepi Hapsari; Rani Andriani Budi Kusumo; Endah Djuwendah
Jurnal Manajemen Bisnis dan Kewirausahaan Vol 5, No 4 (2021): Jurnal Manajemen Bisnis dan Kewirausahaan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmbk.v5i4.10946

Abstract

Sabila Farm is a plantation that plants various commodities, and dragon fruit is its superior commodity. But its production and productivity are declining. The purpose of this study is to determine its agribusiness performance, identify strengths, weaknesses, opportunities and threats of business and determine agribusiness development strategies that are appropriate to its condition. This research is conducted through qualitative approach with case study method. Data collection techniques or information by means of participatory observation, in-depth interviews and literature studies. Informants that are being interviewed are the owner and staffs of Sabila Farm. All the data obtained from research are analyzed with SWOT and fishbone analysis. The result of this research is that Sabila Farm has managed its farming business quite well, although there are several obstacles that have caused the lower production and productivity, such as climate condition, lack of labour especially due to Covid-19 pandemic, and its traditional technology. Therefore, Sabila has to increase its labour and develop its technology. Sabila Farm adalah perkebunan yang mengusahakan berbagai komoditas, dimana buah Naga adalah komoditas unggulnya. Akan tetapi, produksi dan produktivitasnya semakin menurun. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keragaan agribisnis di Sabila Farm Yogyakarta, mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman usaha dan menentukan strategi pengembangan agribisnis yang sesuai dengan keadaan. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode studi kasus, karena seluruh subsistem agribisnis akan diteliti secara mendalam. Teknik pengumpulan data atau informasi secara observasi partisipatif, wawancara mendalam dan studi literatur. Informan dalam wawancara yang dilakukan yaitu owner dan pegawai Sabila Farm. Seluruh data hasil penelitian dianalisis dengan SWOT dan analisis fishbone. Hasil dari penelitian ini yaitu Sabila Farm sudah mengelola usaha taninya dengan cukup baik, walaupun ada beberapa kendala yang menyebabkan semakin rendahnya produksi dan produktivitas, seperti kondisi iklim, kurangnya tenaga kerja karena kondisi pandemi, dan masih sederhananya teknologi. Karena itu, Sabila sebaiknya menambah SDM dan mengembangkan teknologi budidayanya.
ANALYSIS OF HOUSEHOLD WELF ARE LEVELOF PANDAN WANGI RICE PLANT FARMERSIN TEGALLEGA VILLAGE, WARUNGKONDANG SUBDISTRICT, CIANJUR REGENCY Yudhanto Dewo G; Endah Djuwendah
OPTIMA Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.437 KB) | DOI: 10.33366/optima.v3i1.1245

Abstract

The purpose of this research were to 1) Knowing the income of farmer household of Pandan Wangi rice plant in one year period 2) Knowing the expenditure of farmer household of Pandan Wangi rice plant in one year period 3) to analyzing the welfare level of farmer household of Pandan Wangi rice plant. The research uses descriptive qualitative design. The research technique that used is census reasearch technique by interviewing 21 Pandan Wangi Farmers. The result shows that the average income of farmer household of Pandan Wangi rice plant is Rp 41.783.000 per year, and the average per capita income is Rp 10.824.611,4. While the average of expenditure of farmer household of Pandan Wangi rice plant is Rp 30.146.190 per year, with the average of expenditure per capita is Rp 9.362.516. The results of the welfare analysis with 11 indicators levels of welfare 2003 from BPS produces 3 criterias for welfare level of farmer household of Pandan Wangi rice plant, that is high, medium, and low. The welfare level is determined by calculating 11 indicators that have been given different weight. The average of farmer household welfare’s score is 314.76 poins. The result of this analysis is all of the Pandan Wangi farmers have a high level of household welfare.
PEMILIHAN PROSES PENGADAAN BAHAN BAKU JAHE MERAH KERING DALAM MEMPRODUKSI BANDREK INSTAN DALAM KEMASAN; THE USE OF DRIED RED GINGER AS RAW MATERIAL IN PRODUCINGINSTANT BANDREK Levina Maharani; Endah Djuwendah
OPTIMA Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.877 KB)

Abstract

Bandrek Hanjuang merupakan minuman kemasan khas dari Jawa Barat yang sudah dipasarkan baik di dalam negeri maupun internasional. Perubahan manajemen pada perusahaan ini berdampak pada peningkatan penjualan produk yang dihasilkannya. Disisi lain, keterbatasan lahan yang dimiliki membuat perusahaan belum mampu memastikan ketersediaan bahan baku seiring dengan meningkatnya kebutuhan terhadap bahan baku tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kelayakan usaha produksi bandrek menggunakan dua alternatif pengadaan bahan baku jahe merah yaitu memproduksi sendiri atau membeli dari luar menggunakan analisis R-C Rasio. Penelitian dilakukan di CV. Cihanjuang Inti Teknik dari bulan Maret-September 2015. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang diarahkan untuk memberikan informasi secara sistematis dan akurat mengenai objek penelitian serta menganalisis berdasarkan data yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan jumlah pendapatan yang sama, proses produksi dengan alternatif pengadaan jahe merah dengan memproduksi sendiri memiliki nilai R/C yang lebih tinggi dibandingkan dengan membeli dari luar. Hal ini menunjukkan bahwa proses produksi dengan alternatif pengadaan jahe merah dengan memproduksi sendiri memiliki biaya produksi yang lebih rendah sehingga memiliki keuntungan yang lebih besar. Oleh karena itu, proses produksi dengan alternatif pengadaan jahe merah dengan memproduksi sendiri dinilai lebih layak untuk direalisasikan. Kata kunci : bandrek, jahe merah, kelayakan usaha, pengadaan bahan baku, R/C rasio Bandrek Hanjuang is a special instant drink from West Java which has been in the national and international market. However, due to the increase of demand, the company was not be able to provide the dried red ginger as raw material, due to the limited resources. The aim of this research is to analyze the properness of bandrek production using two ways of making; self-producing or buying from other party using analysis ratio R-C. This research was conducted in CV. Cihanjuang Inti Teknik from March to September 2015. The method used in this research is qualitative descriptive method; that is; a research which is conducted to give systematic information concerning the object of the research and to analyze from the obtained data. The finding of this research showed that with equal income, self-producing of dried red ginger had higher R/C value compared to buying from other party. This illustrates that the self-producing required lower production cost, therefore the company is able to get higher income. In conclusion, self-producing of dried red ginger is likely more preferable to be conducted. Keywords : bandrek, red ginger, properness, raw material making, R/C ratio
USAHA PERTANIAN ORGANIK BERBASIS CSA (COMMUNITY SUPPORTED AGRICULTURE) (STUDI KASUS DI “SENI TANI”, KOTA BANDUNG, INDONESIA) Diffa Nida Haniyah; Endah Djuwendah; M. Gunardi Judawinata; Agriani Hermita Sadeli
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 8, No 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v8i2.7518

Abstract

Organic vegetables that are mostly consumed by the community in the midst of the rapid development of the organic farming sector, can generally be obtained by purchasing vegetables that have been harvested so that the interaction between consumers and farmers is very limited. However, a concept called CSA (Community Supported Agriculture) that connects farmers with consumers directly and invites consumers to be involved with the production process. Seni Tani is one of the few organic farming businesses that apply the CSA concept in Indonesia. This study aims to explain the type of business and the application of CSA in Seni Tani as an example of the application of CSA in Indonesia which has not been widely carried out. The research design is a qualitative research design with a case study approach. This study uses data collection techniques in the form of observation, in-depth interviews and literature study. The results are indicate that Seni Tani applies regenerative organic agriculture. The plants are organic products and fullfil the principles of health, ecology, justice and protection by imitating natural patterns without adding synthetic chemical inputs. Seni Tani implements social entrepreneurship with a socially responsible enterprise type of business and carries out urban farming activities. CSATani Sauyunan at Seni Tani has fulfilled the CSA concept. CSA Tani Sauyunan fulfills four principles namely partnership, locality, solidarity, and producer-consumer relations. CSA Tani Sauyunan is a small scale CSA that operates informally and can be categorized into the Multi-Farm CSA, Subscription CSA and Mixed-Vegetable CSA types.
MANAJEMEN PERSEDIAAN KAKAO CAKE SEBAGAI BAHAN BAKU KAKAO POWDER PADA PT. SINAR PELITA JAYA ABADI DI KABUPATEN BANDUNG Raihan Fikri Rohmansyah; Endah Djuwendah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh Vol 9, No 3 (2022): September 2022
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jimag.v9i3.8147

Abstract

PT. Sinar Pelita Jaya Abadi merupakan salah satu perusahaan agroindustri yang kegiatan utamanya memproduksi kakao powder. Proses persediaan bahan baku kakao cake selalu mengalami sisa persediaan bahan baku yang berlebih. Hal ini mengakibatkan proses pembuatan produk kakao powder yang berbahan baku kakao cake menjadi terhambat, sehingga manajemen persediaan di PT. Sinar Pelita Jaya Abadi perlu dilakukan dengan tujuan optimalisasi bahan baku. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji sistem persediaan perusahaan, teridentifikasinya akar permasalahan, dan memberikan solusi kepada perusahaan yang berhubungan dengan persediaan bahan baku. Teknik peneliatian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Solusi bagi perusahaan adalah dengan menggunakan metode EOQ. Total biaya persediaan bahan baku kakao cake menurut perhitungan metode Economic Order Quantity yaitu Rp. 357.782.575,91 atau efisiensi penghematan senilai 41%.
Co-Authors A. -, Yusup, A. Achmad Septio Agriani H Sadeli Agriani Hermita Sadeli Aisyah Nabilah Akbar Adiputra Irawan Algiffary, Naufal Amallia Ridhatillah Anadilla Fahyra Riawan Anjelia, Serly Annisa Fitri ANWAR MUJADDID Astrini, Carmelita Aziza, Nadya Nur Azizah, Khaerunnisa Ismi Bintang Pinndito Bobby Rachmat Saefudin Bobby Rachmat Saefudin Carmelita Astrini Chania Alfatianda D, Yosini D, Yosini Desy Indra Yani Dhany Esperanza Diah Suci Wahyuni Diffa Nida Haniyah Dini Rochdiani E Supriadi R Eddy Renaldy Eka Purna Yudha Eka Septiarini Eliana Wulandari Elly Rasmikayati Erna Rachmawati Ernah Ernah Ernah, Ernah Ery Supriyadi R. Eti Suminartika Fadillah, Futri Fauza Fatimah, Sri Fatimah, Sri Febriani, Alifia Fitriana Wati Gema Wibawa Mukti Gema Wibawa Mukti Gema Wibawa Mukti Ghifari, Faris Gugun Arioditha Gunardi Yudawinata H. -, Hapsari, H. Hapsari, H. - Hasbiansyah, O. Hepi Hapsari Hesty Nurul Utami Ignatia Rahmadani Putri Palupi Ima Marlina Indrawibawa, Diky Intan Okta Mulyana Irfan Firmansyah Irfan Firmansyah, Irfan Jannet Aszury Astaningrum Junawinata, M. Gunardi Karl Andhika Mahaputra KARTIWA, NUR ANNISA RIZKITA Kusumarahman, Kintami Kuswarini Kusno Kuswarini Kusno Kuswarini Kusno Laili Rahayuwati Levina Maharani Lucyana T Lucyana Trimo Lucyana Trimo, Lucyana M. Gunardi Judawinata Mahra Arari Heryanto Marlina, Ima Milda Selvia Milda Selvia Muhammad Arief Budiman Muhammad Fadli Nadya Nur Aziza Naufal Algiffary Nur Syamsiyah Nur Syamsiyah Nur Syamsiyah O Hasbiansyah Omar, Natasha Margaretha Wiryawan Opan S Suartapradja Pardede, Legenda Samuel Permadi, Nida Fathi Putra, Harry Wiyono Putri, Andiani Aulia Qanti, Sara Ratna R, E Supriadi R. Az-Zahra S Rahmadiani, Riyanti Rahmah, Ulya Rahman, Naufal Raihan Fikri Rohmansyah Rakotonjanahary Joachim Audry Ramadhanti, Azahra Putri Rani Andriani Budi Kusumo Rayhan Ahmad Giffary Resa Ana Dina S, Tuhpawana P S, Tuhpawana P Sadeli, Agriani H Septio, Achmad Serly Anjelia Shintiya Devi Siregar Sri Fatimah Sri Fatimah Sri Fatimah Sulistyodewi Nur Wiyono Supriyadi, E Sutisna Sutisna Syifa Herliani T, Lucyana T, Lucyana Tomy Perdana Trisna Insan Noor Tuhpawana P S Tuti Karyani Ulya Rahmah Vanya Almeira Rizkika Wati, Fitriana Yayat Sukayat Yayat Sukayat Yosini D Yosini Deliana Yudhanto Dewo G Yusup, A. - Zainal Arifin Zumi Saidah