Claim Missing Document
Check
Articles

Pengembangan Media Elektronik Book Sebagai Sarana Sosialisasi Olahraga Futsal Pada Siswa Tingkat Tsanawiyah Budijanto Budijanto; Guntur Firmansyah; Rubbi Kurniawan
Jendela Olahraga Vol 5, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jo.v5i2.5325

Abstract

AbstractAmong the students of Futsal sports are well-liked, it is seen by the number of schools that present extracurricular Futsal games, and the many futsal championships between students. On the other side of this futsal sport does not require a large place to play it. The purpose of this research is to socialize futsal sports using electronic book media. The product produced in this development research is in the form of an E-Book that uses computers as learning media. Based on the product developed in the form of a futsal game E-Book it has been declared eligible to be displayed, with the results of data analysis 89.31%.Keywords: Media, Electronic Book, Futsal Di kalangan pelajar olahraga Futsal banyak digemari, hal tersebut tampak dengan banyaknya sekolah-sekolah yang menyajikan ekstrakurikuler permainan Futsal, dan banyaknya kejuaraan-1kejuaraan futsal antar pelajar. Dilain sisi olahraga futsal ini tidak membutuhkan tempat yang luas untuk memainkannya. Tujuan dari penelitianini adalah untuk mensosialisasikan olahraga futsal menggunakan media elektronik book. Produk yang diperoleh  dari penelitian pengembangan ini adalah berupa E-Book sebagai media pembelajaran. Berdasarkan produk yang dikembangkan berupa E-Book permainan futsal telah dinyatakan layak untuk di tampilkan, ini sesuai dengan hasil analisis data yang diperoleh dari hasil porsentase sebesar 89, 31 %.Kata kunci: Media, Elektronik Book, Futsal
Makna Pernikahan Usia Dini Bagi Orang Tua Di Nagari Tapan, Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan Septra Yodi; Budijanto Budijanto; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan Geografi: Kajian, Teori, dan Praktek dalam Bidang Pendidikan dan Ilmu Geografi Vol 25, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um017v25i22020p128

Abstract

Indonesia has a law governing marriage, the Law number 1 of 1974 concerning Marriage stipulates that a marriage can be performed if the age of the groom is over 19 years and the age of the bride is over 16 years. But early marriage in Nagari Tapan, Basa Ampek Balai Tapan Sub-district happened every year. The triggering factors for early marriage were promiscuity, economy and the mass media. This research was conducted to reveal the meaning of early marriage for parents. This study used qualitative research with a Geographic spatial approach and phenomenology approach from Alfred Schutz's proposition to identify because motives and the in-order-to motives in conducting an early marriage which produces a meaning. The data were analyzed through several studies, namely: preparatory research, research, in the field, and data analysis (data reduction, display data, and verification data). The results shows that the meaning of early marriage in Nagari Tapan, Basa Ampek Balai Tapan Sub-district, found three meanings of early marriage; early marriage is agreed to avoid family’s shame, early marriage as an effort to help the economy, and early marriage as a rescue effort.Indonesia memiliki Undang-Undang yang mengatur tentang pernikahan yaitu Undang-Undang pernikahan nomor 1 tahun 1974 menjelaskan bahwa pernikahan dapat dilakukan apabila usia laki-laki berada diats 19 tahun dan usia perempuan berada diatas 16 tahun. Namun pernikahan usia dini di Nagari Tapan, Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan selalu terjadi setiap tahun. Faktor penyebab terjadinya pernikahan usia dini yaitu factor pergaulan bebas, perekonomian, dan media massa. Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan makna pernikahan usia dini bagi orang tua. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan keruangan Geografi. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologi proposisi Alfred Schutz untuk mengetahui motive sebab (because motives) dan motif tujuan (in order to motives) melakukan pernikahan usia dini yang menghasilkan sebuah makna. Data dianalisis melalui beberapa tahap yaitu: tahap persiapan penelitian, tahap penelitian dilapangan, dan tahap analisis data (reduksi data, display data, dan tahap verifikasi data). Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna pernikahan usia dini bagi orang tua di Nagari Tapan, Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan ditemukan tiga pemaknaan pernikahan dini yaitu: pernikahan usia dini sebagai menghindar malu, pernikahan usia dini sebagai upaya membantu perekonomian, dan pernikahan usia dini sebagai upaya penyelamatan.
Hubungan pendidikan ibu dengan penggunaan alat kontrasepsi di Desa Wringinsongo Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang Singgih Susilo; Budijanto Budijanto; Ifan Deffinika
Jurnal Pendidikan Geografi: Kajian, Teori, dan Praktek dalam Bidang Pendidikan dan Ilmu Geografi Vol 27, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um017v27i12022p117-125

Abstract

This study aims to analyze the relationship between maternal education and contraceptives use with fertility conditions in Wringinsongo Village, Tumpang District. This study was conducted using a quantitative approach with primary data and supported by secondary data. Primary data was gathered through observation and structured interviews, which included information about the respondent's education level and the respondent's participation in the use of contraceptives. Secondary data in this study such as BPS publications and also previous studies. The location was conducted in the Independent Qualified Family Village (KB) of Wringinsongo Village which was formed by the National Population and Family Planning Board (BKKBN). This study uses the concept of fertility from Freedman. Samples were taken using the random sampling technique. The total samples of this study are 30. The number of samples was 30, where Wringinsongo Village had two hamlets and 15 samples were taken from each hamlet. Data were analyzed using descriptive and inferential nonparametric Spearman Correlation. The result shows that the correlation coefficient of ALH with the duration of contraceptive use is 0.487 with a Sig value of 0.006. Therefore, it can be concluded that there is no correlation between ALH and contraception use. In addition, the correlation coefficient result between ALH and education is -0.550 with a Sig. of 0.002. Thus, it can be concluded that there is an inverse relationship between the number of ALH and education. In conclusion, the higher the maternal education, the smaller the number of children they had. This research can be used as study material in Geography classes, particularly those focusing on population.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan ibu dan pemakaian alat kontrasepsi dengan kondisi fertilitas di Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sumber data utama berupa data primer yang didukung oleh data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara terstruktur mencakup informasi mengenai tingkat pendidikan responden dan partisipasi responden dalam penggunaan alat kontrasepsi. Data sekunder dalam penelitian ini seperti publikasi BPS dan juga penelitian-penelitian terdahulu. Lokasi penelitian dilakukan di Kampung Keluarga Berkualitas (KB) Klasifikasi Mandiri Desa Wringinsongo yang dibentuk oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Penelitian ini menggunakan konsep fertilitas dari Freedman. Sampel diambil menggunakan random sampling dengan jumlah total 30 sampel. Jumlah sampel sebanyak 30, dimana Desa Wringinsongo memiliki dua dusun dan pada masing-masing dusun diambil 15 sampel. Analisis data dilakukan menggunakan deskriptif dan inferensial berupa Korelasi Spearman. Hasil penelitian ini adalah koefisien korelasi ALH dengan lama penggunaan kontrasepsi sebesar 0,487 dengan nilai Sig. sebesar 0,006. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara ALH dengan penggunaan kontrasepsi. Sedangkan koefisien korelasi antara ALH dengan pendidikan sebesar sebesar -0,550 dengan nilai Sig. sebesar 0,002. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang berbanding terbalik antara jumlah ALH dengan pendidikan. Semakin tinggi pendidikan ibu maka semakin sedikit anak yang dimilikinya. Studi ini dapat diimplementasikan dalam pembelajaran Geografi sebagai bahan kajian kependudukan.
Hubungan Minat dan Kebiasaan Membaca dengan Hasil Belajar Geografi Siswa SMA Unggulan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo Kurnia Maulidi Noviantoro; Achmad Amirudin; Budijanto Budijanto
Jurnal Pendidikan Geografi: Kajian, Teori, dan Praktek dalam Bidang Pendidikan dan Ilmu Geografi Vol 21, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.02 KB) | DOI: 10.17977/jpg.v21i1.297

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengungkap hubungan antara minat membaca dengan hasil belajar geografi, (2) mengungkap hubungan antara kebiasaan membaca dengan hasil belajar geografi, (3) mengungkap hubungan antara minat dan kebiasaan membaca dengan hasil belajar geografi, dan (4) mengungkap hubungan yang paling dominan antara minat dan kebiasaan membaca dengan hasil belajar geografi. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMA Unggulan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo yang terbagi dalam empat kelas. Sampel penelitian dipilih dengan teknik purposive sampling dengan menunjuk dua kelas yang memiliki nilai rata-rata tertinggi dan terendah yaitu siswa kelas X-3 untuk kelas nilai tertinggi dan siswa kelas X-4 untuk kelas terendah. Pengumpulan data dilakukan dengan instrument angket. Hasil belajar diukur dengan keberadaan nilai UAS semester ganjil siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan negatif antara minat membaca dan hasil belajar geografi dengan kontribusi min-at membaca sebesar 8,8%, (2) terdapat hubungan positif antara kebiasaan mem-baca dan hasil belajar geografi dengan kontribusi kebiasaan membaca sebesar 21,8%, (3) terdapat hubungan yang positif secara simultan antara minat dan ke-biasaan membaca dengan hasil belajar geografi, (4) Kebiasaan membaca mem-iliki hubungan yang paling dominan di antara minat membaca dengan hasil belajar geografi.DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um017v21i12016p022
Tradisi Anjala Ombong masyarakat Selayar dalam perspektif geografi Alfiani Dwi Astuti; Budijanto Budijanto; I Komang Astina
Jurnal Pendidikan Geografi: Kajian, Teori, dan Praktek dalam Bidang Pendidikan dan Ilmu Geografi Vol 26, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um017v26i12021p030

Abstract

This research aims to uncover the relationship between Anjala Ombong Tradition and Selayar community in a geographical perspective. This study uses a qualitative design with a geographical approach. Data collected by using in–depth interview, field observation and documentation. Data were analyzed by using spatial approach, ecological approach, and regional complex approach. The results of this research show that the spatial perspective of Anjala Ombong tradition is the typical conditions of Sangkulu–Kulu River Estuary, that is: the water conditions including salinity (22%), current strength of water (0.071 m/s), water depth (1–1.2 m), and surface temperature (28oC) at July–August, the conditions are suitable for the environment of juku 'lompa. Ecological perspectives in the Anjala Ombong tradition appear in human interaction with the environment, namely the prohibition of fishing, catching juku lompa rollers, the installation of uhara, violations of the restrictions in tradition, and restrictions on fishing time. The regional–complex perspective of Anjala Ombong tradition can be seen by areal differentiation that creates interaction between one region and another, namely: the migration of juku  lompa from Komba Beach headed for the Sangkulu–Kulu River Estuary and the change in the time of the tradition due to external factors.Penelitian ini bertujuan mengungkap keterkaitan antara tradisi Anjala Ombong dengan masyarakat Selayar dalam perspektif geografi yang akan diungkap melalui analisis menggunakan pendekatan keruangan, pendekatan ekologis, dan pendekatan kompleks wilayah. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif keruangan dalam tradisi Anjala Ombong tampak pada kekhasan ruang yang dimiliki Muara Sungai Sangkulu–kulu yaitu pada kondisi perairannya meliputi salinitas (22%), kecepatan arus (0,071 m/s), kedalaman perairan (1–1,2 m), dan suhu permukaan (28oC) yang pada bulan Juli–Agustus memiliki kondisi yang sesuai dengan lingkungan hidup juku’ lompa. Perspektif ekologis dalam tradisi Anjala Ombong tampak pada interaksi manusia dengan lingkungannya yaitu larangan menangkap ikan, penangkapan juku’ lompa beramai–ramai, pemasangan uhara, adanya pelanggaran terhadap larangan–larangan dalam tradisi, dan pembatasan waktu penangkapan ikan. Perspektif kompleks–wilayah dalam tradisi Anjala Ombong tampak pada adanya areal differentiation yang menciptakan interaksi antara wilayah yang satu dengan wilayah lainnya yaitu migrasi juku’ lompa dari Pantai Komba menuju Muara Sungai Sangkulu–kulu dan adanya perubahan waktu pelaksanaan tradisi karena adanya faktor dari luar.
Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Self-Efficacy terhadap Hasil Belajar Geografi Di SMA Fatiya Rosyida; Sugeng Utaya; Budijanto Budijanto
Jurnal Pendidikan Geografi: Kajian, Teori, dan Praktek dalam Bidang Pendidikan dan Ilmu Geografi Vol 21, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.821 KB) | DOI: 10.17977/jpg.v21i2.304

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya (1) pengaruh kebiasaan belajar terhadap hasil belajar Geografi, (2) pengaruh self-efficacy terhadap hasil belajar Geografi, dan (3) pengaruh kebiasaan belajar dan self-efficacy terhadap hasil belajar Geografi di SMAN 1 Widang-Tuban. Data dikumpulkan dengan menyebarkan angket dan dokumentasi dari 94 responden. Kebiasaan belajar diukur dengan angket kebiasaan belajar yang dikembangkan oleh Bakare 1971. Instrumen Motivation and Strategy Learning Quetionare (MSLQ) yang dikembangkan oleh Pintrich dkk tahun 1991 digunakan untuk mengukur self-efficacy, sedangkan hasil belajar siswa diperoleh dari nilai rata-rata ulangan. Setelah data terkumpul, dianalisis secara statistik dengan teknik regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kebiasaan belajar secara signifikan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dengan sumbangan efektif sebesar 65,60%, (2) Self-efficacy secara signifikan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dengan sumbangan efektif sebesar 15,80%, dan (3) kebiasaan belajar dan self-efficacy secara signifikan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dengan sumbangan efektif sebesar 65,20%. DOI: http://dx.doi.org/10.17977/um017v21i22016p017
IPTEK BAGI MASYARAKAT KELOMPOK PANDE BESI TARIK SIDOARJO Budijanto Budijanto; Adi Sucipto; Nur Iffah
JPM PAMBUDI Vol 1 No 1 (2017): JPM Pambudi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) IKIP Budi Utomo Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.77 KB) | DOI: 10.33503/pambudi.v1i1.7

Abstract

Tarik Krian Sidoarjo is one of the areas of agricultural technology and the result pemroduk carpentry most reliable and most turnover compared with other regions. Products produced are tools such as the hoe, trowel, sickles, shovels, machetes, bendo and others. However, these efforts have not seen a sign - a sign of progress and development, which means, it is necessary to increase output menajamen improvement.The method used was a demonstration and practice. Demonstrations conducted at the stage of the introduction of tools to etalworkers, while the practice is performed immediately after the target is considered to use a tool that is prepared to increase production.Activity Results: Effectiveness and efficiency of technology tools / lathe versatile mechanical system seen from the large expenses associated with the manufacture of the benefits calculated by financially. (1) Changes in the behavior of workers before and after using the technology tools / lathe versatile mechanical system. (2) The increase in family income before and after using the technology.
PEMANFAATAN DAUN MIMBA SEBAGAI PESTISIDA ORGANIK DI KECAMATAN KADEMANGAN KOTA PROBOLINGGO Rusdi Rusdi; Titik Purwati; Budijanto Budijanto; Riyanto Riyanto
JPM PAMBUDI Vol 1 No 1 (2017): JPM Pambudi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) IKIP Budi Utomo Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.009 KB) | DOI: 10.33503/pambudi.v1i1.11

Abstract

Science Program for Wiayah (IbW) is intended to empower the community to form Kademangan Sub-district in Probolinggo City which is more advanced, more prosperous and more faithful. This objective will be achieved by empowering communities through the development of science and technology based areas with a planned approach, in which communities are involved in the planning, implementation, evaluation and utilization of results. In particular the IbW Program is: (1) To identify potential, realistic, realistic, real, and realistic human resources, condition, and resources in Kademangan sub-district, Probolinggo Municipality; (2) To formulate the potential of human resources and natural resources so that it can be used as a commodity of superior territory; (3) Conducting training activities in the framework of technology transfer produced by Higher Education to the community. The methods used in this Program are survey, and observation. Preparation of action programs conducted through workshop activities. The results of the IbW program are: (1) The socialization of IbW Program with the Local Government of Probolinggo Municipality and the Pohsangit Kidul and Pilang Village Farmer Groups; (2) Counseling on the Benefits and Use of Pesticide Neighbors; (3) Training and practice of Mimba Leaf Processing Becoming Plant Pesticide. The conclusion of the IbW program is that it is very potential to develop bio-pesticide biological agents from neem. To cultivate vegetable pesticides especially from neem by farmers still needed the process and time because farmers are still familiar with chemical pesticides.
Population Fertility As an Evaluation of The Success of Family Planning in Jatisari Village Pakisaji District, Malang Regency Budijanto
SPATIAL: Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi Vol 19 No 2 (2019): Spatial : Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi
Publisher : Department Geography Education Faculty of Social Science - Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.381 KB) | DOI: 10.21009/spatial.192.6

Abstract

The decrease of fertility and improving public health are the main objectives to improve family welfare. The purpose of this study was to determine the fertility level of Kedampul Hamlet in Petung Sewu Village, Tumpang District, Malang Regency and to evaluate the success of family planning (KB) program of Couples of Reproductive Age (CRA) in that area. This research is a survey research with population of couples of reproductive ages in Kedampul Hamlet. The CRA sampling technique of the respondent is purposive, and interview as the main technique in data collection. The results showed that the fertility rate of CRA is higher in non-acceptor than the acceptor. The fertility of acceptor communities with non-acceptors are based on age of first marriage, span of reproduction period, wife's education, family income and infant mortality. There is a no significant difference in fertility based on the use of contraceptive. However, simultaneously the six independent variables have a significant relationship with fertility for acceptors and non-acceptors CRA. The largest contribution is given by the infant mortality variable and the smallest by the use of contraceptive.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA MAN 6 JAKARTA Mushoddik Mushoddik; Sugeng Utaya; Budijanto Budijanto
JURNAL SWARNABHUMI : Jurnal Geografi dan Pembelajaran Geografi Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Swarnabhumi
Publisher : Geography Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.345 KB) | DOI: 10.31851/swarnabhumi.v1i1.809

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengkaji apakah model pembelajaran Group Investigation berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa MAN 6 Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan quasi experimen dengan pre test and post test control group design. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol, yang homogen berdasarkan nilai raport semester 1. Hasilkemampuan berpikir kritis siswa diukur dengan menggunakan soal esai. Skor tes kemampuan berpikir kritis ditentukan berdasarkan hasil skor pretest dan posttest (gainscore). Hasil penelitian menunjukkanbahwa model pembelajaran Group Investigation berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini dapat dilihat dari analisis data nilai t = 3,432 dan signifikansi dua ekor 0,01 lebih kecil dari α =0,05. Hal ini dapat dilihat rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen adalah 25,64, lebih tinggi dari kelas kontrol 19,88.Kata kunci: Group Investigation, Kemampuan Berpikir Kritis