Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Addressing Death Anxiety in Terminally III Patients: A Review of Current Interventions and Future Directions Roza, Defia; Sasmita, Heppi; Fadriyanti, Yessi
Frontiers on Healthcare Research Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63918/fhr.v1.n2.p39-47.2024

Abstract

particularly those facing chronic or terminal illnesses. Understanding the factors influencing death anxiety and the effectiveness of interventions is crucial for improving patient care and outcomes. This review aims to explore the psychological, social, and environmental factors contributing to death anxiety and evaluate the effectiveness of interventions designed to mitigate this anxiety. Additionally, it seeks to identify research gaps and provide recommendations for future studies. Methods: A literature search was conducted, resulting in the inclusion of ten studies focusing on different populations, including COVID-19 patients, elderly individuals in nursing homes, and terminally ill cancer patients. The studies employed various methodologies such as correlational studies, path analysis, conceptual analysis, retrospective analysis, comparative studies, and randomized controlled trials. Data were synthesized to identify common themes, methodological quality was assessed, and findings were compared and contrasted. Results: Psychological interventions, including cognitive-behavioral therapy (CBT), well-being therapy (WBT), and spiritual care programs, were found to be effective in reducing death anxiety. The design of healthcare environments also significantly impacted death anxiety, with well-designed palliative care settings providing substantial benefits. Holistic approaches addressing psychological well-being, meaning in life, self-care, and social capital were essential in managing death anxiety, especially among the elderly. However, several research gaps were identified, including the need for long-term studies, comparative effectiveness research, culturally sensitive interventions, and the potential of technology-based interventions. Conclusion: The review highlights the importance of integrated, holistic, and culturally sensitive approaches to managing death anxiety. By addressing the identified research gaps and implementing the recommended strategies, healthcare systems can enhance the quality of care for patients facing death anxiety, leading to improved patient outcomes and more compassionate end-of-life care.
LAYANAN BIMBINGAN KONSELING SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KEMANDIRIAN SISWA Sasmita, Heppi; Prayitno, Prayitno; Karneli, Yeni
IJoCE: Indonesian Journal of Counseling and Education Vol. 1 No. 2 (2020): IJoCE : Indonesian Journal Counseling and Education
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan masa remaja membawa anak pada kebutuhan hidup yang lebih beragam dengan tingkat kesulitan yang tinggi sehingga remaja dituntut untuk mampu secara mandiri menentukan pilihan yang diambil. Pencapaian kemandirian pada remaja ini merupakan sesuatu yang tidak mudah, namun merupakan hal yang sangat penting karena masalah remaja dalam bentuk perilaku negatif dan jauh dari kemandirian. Beberapa gejala yang muncul pada anak yang menunjukkan perilaku negatif tersebut adalah adanya ketergantungan disipiln kepada kontrol luar dan bukan niat secara iklas. Kondisi saat ini sangat sulit menemukan kedisiplinan seseorang secara iklas dari hati nurani mereka. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan hidup baik lingkungan fisik maupun sosial yang tidak terkendali. Sikap hidup yang cenderung mematuhi dan menghormati orang lain bukan karena kemanusiaan namun karena ada atribut dibelakangnya. Oleh sebab itu pentingnya kemandirian pada remaja didasarkan pada pertimbangan bahwa pencapaian kemandirian merupakan dasar menjadi oarang dewasa yang sempurna. Maka oleh sebab itu ketidakmandirian pada remaja perlu mendapatkan penanganan khusus sehingga kemandirian dapat ditingkatkan, melalui layanan konseling
Pemberdayaan Kelompok Pendamping dalam Membangun Ketahanan Psikososial Anak Pasca Bencana Ilda, Zolla Amely; Rachmadanur, N.; Sasmita, Heppi; Anggreni, Sila Dewi; Delima, Delima; Silaban, Evi Maria
Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 25, No 3 (2025): Suluah Bendang: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/sb.06880

Abstract

Anak merupakan kelompok rentan dalam situasi bencana yang sering mengalami masalah baik fisik maupun gangguan psikologis, hal ini karena perkembangan psikologis anak belum matang. Model Group Supportive Therapy dan program pelatihan kesiapsiagaan bencana merupakan intervensi meningkatkan kesiapsiagaan anak dan pemberdayaan masyarakat sebagai pendamping psikososial untuk memperkuat kesiapsiagaan serta pemulihan mental anak pasca bencana. Tujuan kegiatan untuk meningkatkan pemberdayaan kelompok pendamping dalam membangun ketahanan psikososial anak pasca bencana. Metode pengabdian masyarakat ini adalah dalam bentuk pelatihan, diskusi dan simulasi, dengan desain pre-posttest one group.. Kegiatan dilakukan di Kecamatan Sungai Tarab, sejak bulan Mei sampai dengan Oktober 2025 dengan 60 orang peserta. Data di analisis dengan uji paired t dependen. Hasil kegiatan menunjukkan adanya hubungan signifikan pengetahuan peserta sebelum dan setelah pelatihan dengan p-value 0,000. Adanya kelompok Pendampingan Psikososial dan Pusat Pendampingan Psikososial Anak dapat memperkuat kolaborasi antara tim kesehatan, guru, pihak kenagarian (kader), kecamatan, pemerintah daerah (BPBD) dan masyarakat dalam membangun sistem kesiapsiagaan dan ketahanan nagari terhadap bencana.
Deteksi Dini Risiko Sindrom Metabolik melalui Pemeriksaan Kesehatan ASN Kori Kornelia; Helpi Nelwatri; Renidayati; Heppi Sasmita; Wella Meitri; Hamdani; Arif Paria Musta
Jurnal Pengabdian Masyarakat Cendikia Jenius Vol. 3 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. CENDIKIA JENIUS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70920/pengabmaskes.v3i2.409

Abstract

This community service activity aimed to conduct early detection of metabolic syndrome risk factors among civil servants, identify their health status based on metabolic parameters, and increase awareness of the importance of routine health check-ups. The method was implemented through comprehensive health examinations, including measurements of blood pressure, body mass index, waist circumference, blood glucose, uric acid, and cholesterol levels among 230 participants, followed by brief individual counseling based on examination results. The activity was carried out through preparation, registration, examination, counseling, and evaluation stages. The results showed that a significant proportion of participants had metabolic risk factors, with obesity prevalence at 46.5%, overweight 18.3%, elevated cholesterol 45.2%, high blood pressure 32.2%, increased uric acid 32.6%, and elevated blood glucose 11.7%. The counseling provided helped participants understand their health conditions and encouraged healthier lifestyle behaviors. In conclusion, health screening is effective in early detection of metabolic syndrome risk factors and in improving awareness of routine examinations as promotive and preventive efforts against non-communicable diseases in the workplace.