Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Dilema Law-Related Education dalam Pembelajaran Jarak Jauh di Sekolah Sadar Hukum Bandung Baeihaqi Baeihaqi; Kokom Komalasari; Nisrina Nurul Insai; Zindan Baynal Hubi; Dwi Iman Muthaqin; Pitria Sopianingsih
Nomos : Jurnal Penelitian Ilmu Hukum Vol. 4 No. 2 (2024): April
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/nomos.v4i2.2101

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dilema pembelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis Law-Related Education (LRE) di sekolah sadar hukum di Sekolah Menengah Atas Negeri 27 Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kasus dengan instrumen penelitian meliputi observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Teknik analisis data meliputi reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan pembelajaran jarak jauh yang banyak mengalami tantangan seperti dalam pelaksanaan pembelajaran, guru dihadapkan pada berbagai kendala seperti jaringan internet yang tidak stabil, terbatasnya perangkat media pembelajaran jarak jauh untuk siswa seperti handphone atau laptop, interaksi dalam proses pembelajaran yang tidak bisa seinteraktif pembelajaran langsung, pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok sehingga guru tidak bisa memonitoring satu persatu siswa, berkurangnya waktu pembelajaran dan tuntutan untuk mencapai kompetensi yang harus dimiliki siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kurikulum pendidikan serta harus tetap bisa memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan kepada siswa agar tidak stres.
Political Literacy Based on Nahdlatul Ulama Community Civics in Strengthening Civic Virtue and Democracy Zindan Baynal Hubi; Karim Suryadi; Endang Danial; Asep Mahpudz; Anwar Hidayat
Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 10, No 3 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um019v10i3p273-283

Abstract

The purpose of this study is to analyze the normative basis for fostering political literacy among Nahdliyin citizens and bahtsul masa’il as a framework for political education in the Nahdlatul Ulama tradition. This study employed a qualitative approach, utilizing a case study design. The results of the study indicate that the development of political literacy among Nahdliyin citizens is based on classical texts, the opinions of scholars, the decisions of the Nahdlatul Ulama Muktamar, and the outcomes of the Musyawarah Alim Ulama. The values instilled in the process of developing political literacy among Nahdliyin citizens can be categorized into four key areas, namely tasamuh, tawasuth, tawazun, and ta'adul. Political literacy development within Nahdlatul Ulama is centered on the lajnah bahtsul masa'il as a forum that examines various social, political, and religious issues in depth from the perspective of ahlussunnah wal jama'ah scholarship and theology. The lajnah bahtsul masa'il functions as a center for law enforcement and collective decision-making among scholars, Syuriah, Khatib, A'wan, and Tanfidziyah.
Kompetensi Multikultural Konselor Pada Lulusan Program SM3T Aisha Nadya; Zindan Baynal Hubi; Nursanda Rizki Adhari; Rizal Fahmi
Jurnal Pedagogik Indonesia: Yayasan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Ksatria Siliwangi Vol 1 No 1 (2022): Jurnal Pedagogi Indonesia: Yayasan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Ksatria Siliw
Publisher : CV. Ksatria Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67025/jpi.v1i1.14

Abstract

Keragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia menuntut konselor sebagai pendidik memiliki kompetensi multikultural. Cara terbaik untuk tumbuh dalam kompetensi multikultural adalah membenamkan diri dalam belajar tentang budaya lain. Penelitian ini mengambil lima orang konselor sebagai responden. Mereka telah lulus dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, terluar dan Tertinggal) Metode yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian ini disajikan menjadi empat bagian yaitu hambatan yang dirasakan, gegar budaya yang dialami, kemampuan konselor dalam menghadapi gegar budaya dan keterampilan konselor dalam proses konseling. Tiga hal penting dalam kompetensi multikultural konselor adalah kisadaran (awareness), pengetahuan (knowledge), dan keterampilan (skill).
Sosialisasi dan Penguatan Anti-Cyberbullying terhadap Mahasiswa Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang Ina Oktavia Ramadhani; Putri Ramadhani; Zindan Baynal Hubi; Sutarjo Sutarjo; Irma Dwi Puspita
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2026): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/ba-jpm.v6i3.5252

Abstract

Perundungan siber (cyberbullying) yang kerap disamarkan sebagai norma humor di perguruan tinggi berisiko membahayakan kesehatan mental mahasiswa, sehingga memerlukan langkah penanganan yang konkret dan edukatif. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk mentransformasikan kesadaran kolektif mahasiswa, membedah batasan antara candaan dan kekerasan verbal, serta membangun ruang aman (safe space) berbasis penguatan literasi hukum, empati psikologis, dan nilai-nilai Pancasila. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif-dialogis melalui forum interaktif Intensive Awareness Forum & Discussion berdurasi 180 menit. Kegiatan diikuti oleh 35 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang yang dipilih melalui purposive sampling pendekatan pembelajaran berbasis kasus kontekstual(contextual case-based learning) diterapkan untuk memicu refleksi kritis peserta. Hasil evaluasi menunjukan adanya lonjakan signifikan pada kesadaran kolektif mahasiswa, dari nilai rata-rata awal (baseline) sebesar 46,8% naik menjadi 92,35% pada tahap post-test. Peningkatan tertinggi tercatat pada pemahaman aspek hukum UU ITE, sensitivitas empati, serta kesiapan peserta untuk bertindak sebagai active bystander dan memberikan pertolongan pertama emosional (Psychological First Aid). Intervensi ini membuktikan bahwa pengintegrasian aspek kognitif, hukum, dan nilai Pancasila secara holistik afektif memutus rantai perundungan siber di lingkungan kampus.