Claim Missing Document
Check
Articles

Waktu Produksi Yolk Immunoglobulin (IGY) Kuning Telur Ayam yang Diimunisasi Streptococcus mutans Mufidana Azis; Dhinintya Hyta N; Aurita Siwi R; Kristiyani Dwi M; Norma Dias L; Juni Handajani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.245 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8308

Abstract

Prevalensi karies di Indonesia menunjukkan angka yang tinggi. Karies diketahui sebagai penyakit multifaktorial rongga mulut yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Salah satu metode terbaru pencegahan karies gigi, yaitu, melalui imunisasi pasif menggunakan antibodi kuning telur ayam (Yolk Immunoglobulin/IgY). Beberapa penelitian menunjukkan waktu produksi IgY bervariasi dengan perbedaan teknik pengujian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi IgY kuning telur ayam yang diimunisasi S. mutans. Metode penelitian menggunakan 4 ekor ayam Hysex Brown sebagai kelompok perlakuan dan 1 ekor ayam sebagai kontrol. Suspensi S. mutans diinjeksikan pada ayam saat minggu pertama hari ke-1,2,3, kemudian ditambahkan Freund Adjuvant pada minggu ke-2 hingga minggu ke-4. Koleksi kuning telur ayam dilakukan mulai minggu ke-2 setelah imunisasi. Untuk mengetahui efektivitas vaksinasi dan keberadaan S.mutans, kuning telur ayam selanjutnya diuji dengan AGPT (Agar Gel Precipitation Test) dan hasilnya dinyatakan positif apabila terbentuk presipitasi diantara  sumuran  antigen dan antibodi.. Hasil penelitian menunjukkan hasil positif pada kuning telur ayam minggu ke-5. Disimpulkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk produksi IgY spesifik S. mutans pada kuning telur ayam mulai minggu ke-5 setelah imunisasi.Production Time of Yolk Immunoglobulin (Igy) Yellow Chicken Egg Immunized with Streptococcus mutans. Dental caries prevalence in Indonesia appears in high rate. Caries is known as a multifactorial disease in oral cavity caused by Streptococcus mutans bacteria. The latest method to prevent dental caries is through passive immunization using chicken yolk antibody (Yolk Immunoglobulin /IgY). Some researches showed the variation of IgY production time using different testing technique. The purpose of this research is to determine the time required to produce IgY chicken yolk immunized by S. mutans. For the method, this research uses 4 chickens of Hysex Brown as the treatment group and a chicken as the control. S. mutans suspension is injected to the chicken from 1st, 2nd, and 3rdday in the first week; Freund Adjuvant was added in the 2ndtill 4thweeks. Collection of chicken yolk was started at 2ndweek after immunization. The chicken yolk then was tested using Agar Gel Precipitation Test (AGPT) to know the effectiveness of vaccination and the existence of S.mutans. The result of the test can be positive if it forms precipitation between antigen and antibody wells. The result has shown a positive response in chicken yolk in the 5thweek. From the test, it can be concluded that the time required for the production of IgY specific against S. mutans in chicken yolk is in the beginning of 5thweek after immunization.
Efek eugenol terhadap jumlah sel inflamasi pada pulpa gigi molar tikus Sprague Dawley Raras Ajeng Enggardipta; Tetiana Haniastuti; Juni Handajani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3245.41 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8730

Abstract

Inflammatory cells infiltration after eugenol administration in Sprague Dawley rat’s molars. The purpose of this study was to determine effect of eugenol on inflammatory cells infiltration (neutrophils, macrophages and lymphocytes) in the inflamed dental pulp. Thirty male Sprague Dawley rats aged 3-4 months and weighed 300-350 g were randomly divided into 2 groups: treated and control groups. Rats were injected with ketamine HCl i.m. (0.1 ml/100 grams BW) before cavity preparation at occlusal surface of the upper molars. Cavity preparation was made using a round bur No.010 to pulp perforation. At the cavity base of treated group, 15 rats were given eugenol and of control group 15 rats were given aquadest, before filled with temporary filling. Three rats from each group were sacrificed at 1, 3, 5, 7 and 14 days after the cavity preparation. Rats were injected with ketamine HCl im (0.1 ml / 100 g BW) on the thigh then tissues were collected for histological process and stained using haematoxylin eosin. The number of inflammatory cells (neutrophils, macrophages and lymphocytes) was analysed by Two-Way Anova. The result of the study showed number of inflammatory cells infiltration of treated group was lower than control and showed significant differences between groups (p <0.05). The conclusion from this study is eugenol administration in Sprague Dawley rats’s inflamed dental pulp can reduce the number of inflammatory cells (neutrophils, macrophages and lymphocytes).ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eugenol terhadap jumlah sel inflamasi (netrofil, makrofag dan limfosit) pada pulpa gigi terinflamasi. Tiga puluh ekor tikus Sprague Dawley jantan berumur  3-4 bulan dengan berat badan 300-350 g dibagi secara acak dalam 2 kelompok yaitu perlakuan dan kontrol. Tikus diinjeksi ketamine HCl i.m. (0,1 ml/100 gram BB) sebelum dilakukan preparasi kavitas pada permukaan oklusal gigi molar satu rahang atas. Preparasi kavitas dibuat dengan menggunakan bur bulat No.010 hingga kedalaman pulpa. Pada dasar kavitas kelompok perlakuan (15 ekor) diberi eugenol dan kelompok kontrol (15 ekor) diberi akuades, kemudian kavitas ditumpat sementara. Tiga ekor tikus dari masing-masing kelompok dikorbankan pada 1, 3, 5, 7 dan 14 hari pasca preparasi kavitas. Tikus diinjeksi ketamine HCl i.m. (0,1 ml/100 gram BB) pada paha kemudian jaringan diambil, diproses secara histologis dan dicat dengan hematoxylin eosin. Data jumlah sel inflamasi (netrofil, makrofag dan limfosit) dianalisis dengan Two Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan rerata jumlah infiltrasi sel inflamasi kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan kontrol dan berbeda bermakna (p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian eugenol pada pulpa gigi tikus Sprague Dawley yang mengalami inflamasi dapat menurunkan jumlah sel inflamasi (netrofil, makrofag dan limfosit).
Efektivitas Desensitizing Agent dengan dan tanpa Fluor pada Metode in Office Bleaching terhadap Kandungan Mineral Gigi (Kajian In Vitro) Yulita Kristanti; Widya Asmara; Siti Sunarintyas; Juni Handajani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.638 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8746

Abstract

In office bleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% sering memberikan efek samping berupa linu baik selama maupun setelah perawatan tersebut dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh waktu aplikasi dan kandungan fluor desensitizing agent pada metode in office bleaching terhadap kandungan mineral gigi. Delapan gigi masing-masing dipotong menjadi 4 bagian, 6 potong digunakan untuk pemeriksaan XRD awal. Gigi dikeringkan dalam oven suhu 50° selama 30 menit diserbuk, diambil 1 mg untuk diperiksa kandungan mineralnya dengan goniometer. Dua puluh empat potong yang lain dibagi dalam 4 kelompok perlakuan. Kelompok I: gigi diaplikasi bahan bleaching 0,5-1 mm hidrogen peroksida 40% selama 1 jam, dicuci, dikeringkan, diikuti aplikasi 0,1 ml desensitizing agent tanpa fluor (CPP-ACP) selama 30 menit, dicuci, dikeringkan. Kelompok II : gigi diaplikasi CPP-ACP 30 menit, dicuci, dikeringkan, dibleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% selama 1 jam. Selanjutnya gigi diaplikasi CPP-ACP 30 menit lagi, dicuci, dikeringkan. Kelompok III gigi dibleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% selama 1 jam, dicuci, dikeringkan, diikuti aplikasi desensitizing agent yang mengandung fluor (CPP-ACFP) selama 30 menit, dicuci, dikeringkan. Kelompok IV: gigi diaplikasi CPP-ACFP 30 menit, dicuci, dikeringkan, dibleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% selama 1 jam. Selanjutnya gigi diaplikasi CPP-ACFP selama 30 menit, dicuci dikeringkan. Sesudah perlakuan, semua gigi dilakukan pemeriksaan kandungan mineral gigi dengan prosedur yang sama. Uji Mann Whitney menunjukkan penurunan mineral paling sedikit terjadi pada kelompok IV (4500). Desensitizing agent mengandung F sebelum dan sesudah perlakuan in office bleaching menunjukkan penurunan mineral paling kecil. The Effectiveness of Desensitizing Agent with and without Fluorine in Office Bleaching Method to Tooth Mineral content. Tooth sensitivity arises during or after an in-office bleaching was performed is usually overcome by using desensitizing agent with or without fluor. So far, desensitizing method applied only reduces tooth sensitivity but it had not overcome demineralization problem yet. This study was aimed to determine the influence of an application process and fluoride containing desensitizing agent in tooth mineral lossEight teeth were divided into four parts. Six specimens were smoothened using agate mortar. One mg of powder was inserted into the sample holder and mounted on goniometer heads to examine mineral content before treatment using X-Ray Diffraction (XRD). Twenty-four specimens were classified into four groups. In group I, 0,1 ml desensitizing agent without fluoride (CPP-ACP) was applied for 30 minutes after an in-office bleaching using 40% Hydrogen Peroxide was performed, while in group II, CPP-ACP was applied before and after an in-office bleaching was performed. In group III 0,1 ml fluoride containing desensitizing agent (CPP-ACFP) was applied for 30 minutes after in-office bleaching using 40% Hydrogen Peroxide was performed, while in group IV fluoride containing desensitizing agent was applied before and after an in-office bleaching was performed. Finally, all of the specimens were measured in their after-treatment mineral contain. Mann Whitney test showed that the lowest mineral lost was detected in group IV (4500). Fluoride containing desensitizing agent applied before and after an in-office bleaching effectively reduced mineral loss.
Ekspresi COX-2 dan Jumlah Neutrofil Fase Inflamasi pada Proses Penyembuhan Luka Setelah Pemberian Sistemik Ekstrak Etanolik Rosela (Hibiscus sabdariffa) (studi in vivo pada Tikus Wistar) Endah Kusumastuti; Juni Handajani; Heni Susilowati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.588 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8778

Abstract

Inflamasi merupakan respon alami tubuh terhadap adanya kerusakan jaringan. Salah satu medikamen untuk mengatasi inflamasi adalah antiinflamasi non steroid (AINS). Penggunaan AINS mempunyai beberapa efek samping dan dalam beberapa hal penggunaan tanaman obat dinilai lebih aman. Rosela merupakan salah satu tanaman obat yang mempunyai potensi sebagai antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian sistemik ekstrak etanolik rosela terhadap ekspresi COX-2 dan jumlah neutrofil fase inflamasi pada proses penyembuhan luka. Bunga rosela didapatkan dari perkebunan di Dusun Bulusari Desa Pojok Kecamatan Tarokan Kabupaten Kediri Jawa Timur. Pembuatan ekstrak rosela dilakukan di LPPT unit I UGM Yogjakarta dengan cara perkolasi. Tikus putih galur Wistar sebanyak 36 ekor diberi perlukaan dengan punch biopsi ɵ 3 mm pada mukosa bukal. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok 12 ekor tikus. Pembagian kelompok terdiri dari kontrol negatif (saline), kontrol positif (ibuprofen 20 mg/kg BB) dan perlakuan (ekstrak rosela 500 mg/kg BB). Pemberian minum sesuai kelompoknya sehari sekali selama 4 hari. Pada hari ke-1, ke-2, ke-3 dan ke-4 tikus dikorbankan lalu jaringan mukosa yang mengalami perlukaan dibuat preparat histologis. Pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE) dilakukan untuk mengamati jumlah neutrofil. Ekspresi COX-2 diamati pada preparat dengan pewarnaan imunohistokimia menggunakan rabbit polyclonal antibody COX-2 (Lab Vision, USA). Jumlah neutrofil dan ekspresi COX-2 dihitung di bawah mikroskop cahaya lalu data dianalisi menggunakan ANAVA dan LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi COX-2 dan jumlah neutrofil lebih rendah pada kelompok perlakuan dibanding kontrol. Pengamatan klinis pada hari ke-4 juga tampak luka seluruh subjek telah menutup sempurna setelah pemberian minum rosela. Disimpulkan bahwa ekstrak etanolik rosela mempunyai kemampuan menghambat ekspresi COX-2 dan menurunkan jumlah neutrofil sehingga dapat digunakan sebagai bahan anti-inflamasi. Expression of COX-2 and The Number of Neutrophil in Inflammation stage of Wound Healing Process after Systemic Administration of Ethanolic Extract Rosela. Inflammation is an initial stage of body’s natural response to tissue damage.The use  empirically plants often used for traditional medicine because it is easily found in the community and fewer side effects. Flavanoid presence of roselle (Hibiscus sabdariffa) is thought to have anti inflammatory effects. This study aimed to know the effect of systemic administration of Roselle ethanolic extract toward COX-2 expression and neutrophils number in the inflammatory phase of wound healing processes. Roselle was obtained from plantations in Bulusari hamlet, Tarokan, Kediri, EastJava. Making roselle extract was performed in LPPT unit 1 UGM Yogyakarta by percolation ways. Wistar rats were given a total of 36 injuries with ɵ 3 mm punch biopsy of the buccal mucosa. Subjects were divided into three groups, each group of 12 rats. The division consists of the negative control group (saline), positive control (ibuprofen 20 mg/kg) and treatment (roselle extract 500 mg/kg). Giving drink suitable group once daily for four days. On day 1, the 2nd, 3rd and fourth rats were sacrificed, and mucosal tissue injury was made histological preparat. Hematoxylin eosin staining (HE) was performed to observe the number of neutrophils. COX-2 expression was found in preparations for immunohistochemical staining using rabbit polyclonal COX-2 antibody (Lab Vision, USA). The number of neutrophils and expression of COX-2 is calculated under a light microscope data were analyzed using Two-way ANOVA and LSD. The results showed that the expression of COX-2 and neutrophil number were least in the treatment group compared to the control. Clinical observation on day four also appears around the wound has completely closed the subject after administration of roselle drink. It was concluded that the ethanolic extract of roselle can inhibit COX-2 expression and decrease the number of neutrophils that can be used as an anti-inflammatory ingredient. 
Kontrasepsi Hormonal Meningkatkan Kadar α-Amylase Saliva Juni Handajani; Rini Maya Puspita; Rizki Amelia
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.936 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8788

Abstract

Salivary α-amylase atau α-amylase saliva (SAA) adalah salah satu enzim dalam saliva yang berperan penting pada inisiasi digesti karbohidrat dan fungsi interaksi bakteri. Kontrasepsi hormonal sangat populer di Indonesia untuk mencegah kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar SAA wanita pemakai kontrasepsi pil dan suntik. Subjek penelitian sebanyak 30 perempuan usia 20-35 tahun. Prosedur penelitian telah mendapat persetujuan dari Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok (pemakai kontrasepsi pil, suntik, dan kontrol), masing-masing 10 perempuan. Kriteria subjek antara lain subjek sehat, tidak menggunakan alat ortodontik, protesa atau mahkota, serta menggunakan kontrasepsi hormonal lebih dari 3 bulan. Sampel saliva dikumpulkan pada sore hari (16.00-18.00 WIB) selama 1 menit dengan metode tanpa stimulasi. Kadar tingkat SAA diukur menggunakan ELISA kit (Salimetrics LLC) dengan Optical Density (OD) pada 405 nm. Data dianalisis menggunakan ANOVA (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan kadar SAA tertinggi pada perempuan pemakai kontrasepsi  pil dan ada perbedaan yang signifikan diantara tiga kelompok. Disimpulkan bahwa kontrasepsi hormonal meningkatkan kadar SAA.Hormonal Contraceptive Increased The Level of Salivary Α-Amylase. Salivary α-amylase (SAA) is one of the most important enzymes in saliva. This enzyme was mainly involved in the initiation of the digestion of starch in the oral cavity and has significant bacterial interactive function. Hormonal contraceptives are very popular in Indonesia to avoid pregnancy. This study aimed to evaluate the level of SAA in woman who taking pill and by injection contraceptives. Thirty women were in subjects, 20-35 years old, approval ethical clearance from Ethic Committee Medical Faculty of Gadjah Mada University, Yogyakarta Indonesia. Subjects were divided into three groups (taking pill contraceptive, by injection contraceptive and control). Each group consisted ten women. Criteria for issue were medication free, healthy, no orthodontic treatment, no prosthesis or crown and took hormonal contraceptives more than three months. Saliva samples were collected at afternoon (16.00-18.00 pm) for 1 minute using unstimulating method. The level of SAA was measured by ELISA kit (Salimetrics LLC). Optical Density was read on a standard plate at 405 nm. Data for level SAA were analyzed using ANOVA (p<0.05). Results showed the highest level of SAA in woman who takes pill contraceptive, and there were significant differences between the three groups. This study is suggesting that the hormonal contraceptive increased the level of SAA.
Efek aplikasi topikal gel ekstrak pandan wangi terhadap penyembuhan luka gingiva Icha Nofikasari; Afifah Rufaida; Chynintia Dewi Aqmarina; Failasofia Failasofia; Annisa Rahmi Fauzia; Juni Handajani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.944 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.9896

Abstract

The Effect of topical application pandan extract gel on gingival wound. Post-gingivectomy wound is usually covered by periodontal dressing, which generally contains some chemical compounds to protect the wound. However, it can provide allergic effect on some patients. Pandan leaves (Pandanus amaryllifolius Roxb.) contain a number of active substances that have anti-inflammatory, antioxidant and antibacterial effect and play a role in wound healing. This study aims to determine the effect of topical application of Pandan leaf extract gel on gingival wound healing. Gingivectomy model was carried out on mandibular incisive gingival using the 2.5-mm punch biopsy. Thirty-six rats were randomly divided into 3 groups of treatment: negative control (CMC-Na), positive control (Aloclair), and 50% of pandan extract gel. The gels on each group were applied (twice in a day) to the wound area after gingivectomy. The observation of the wound healing process was also carried out on day 1, 3, 7, and 14 by making the histological preparations of gingival wound area. The number of blood vessels was observed using microscope and data was analysed using Two- Way Anova and LSD. The result showed that number of blood vessel increased on day 3 and the peak was on day 7. Anova and LSD test showed several significant differences comparison the number blood vessel between treatment and control. In conclusion, topical application Pandan leaves extract gel could accelerate gingival wound healing.ABSTRAKLuka pasca gingivektomi dibalut dengan periodontal dressing yang mengandung senyawa kimia dengan tujuan melindungi luka, namun senyawa kimia periodontal dressing yang ada di pasaran dapat menimbulkan efek alergi terhadap beberapa pasien. Daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) mengandung zat aktif yang memiliki anti inflamasi, antioksidan, dan antibakteri kemungkinan berperan dalam proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran gel ekstrak daun pandan wangi dalam proses penyembuhan luka pasca gingivektomi pada tikus wistar melalui pengamatan jumlah pembuluh darah. Model gingivektomi dilakukan pada gingiva incisivus mandibula dengan menggunakan punch biopsy diameter 2,5 mm. Tiga puluh enam tikus dibagi secara acak ke dalam 3 kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif (Gel CMC-Na), kontrol positif (Aloclair), dan gel ekstrak pandan wangi 50%. Gel uji pada masing- masing kelompok diaplikasikan pada area luka pasca gingivektomi dua kali sehari. Pengamatan proses penyembuhan luka dilakukan pada hari ke 1, 3, 7, dan 14 dengan membuat preparat histologi gingiva area luka. Parameter penyembuhan luka yang diamati adalah jumlah pembuluh darah. Data jumlah pembuluh darah dianalisis dengan menggunakan uji statistik parametrik. Hasil penelitian menunjukkan jumlah pembuluh darah mengalami peningkatan mulai hari ke-3 dan mencapai puncaknya pada hari ke-7. Hasil uji two way Anova menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna rerata jumlah pembuluh darah antar kelompok perlakuan dengan kontrol positif maupun negatif (p<0,05). Hasil uji LSD juga menunjukkan perbedaan yang bermakna perbandingan kelompok kontrol dan perlakuan pada semua hari pengamatan. Kesimpulan penelitian ini adalah gel ekstrak pandan wangi 50% dapat mempercepat proses penyembuhan luka pasca gingivektomi dengan kemampuannya meningkatkan jumlah pembuluh darah.
Penurunan Kadar IL-1β Makrofag Terpapar Agregat Bakteri Actinomycetemcomitans setelah Pemberian Minyak Atsiri Temu Putih Juni Handajani; Siti Fatimah; Ristini Asih; Antinah Latif
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 1, No 2 (2015): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.177 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.10158

Abstract

IL-1β level of macrophage exposed to A. actinomycetemomitans decreases after administration Curcuma Zedoaria volatile oil. Activation of interleukin-1β (IL-1β) is a key regulator of the inflammatory response. Macrophage is a phagocytic mononuclear cell that plays an important role in innate and adaptive immune response. The cytokine secreted by macrophages in response to pathogen are IL-1, IL-6, IL-12, TNF-α and chemokine. Curcuma zedoaria volatile oil may have anti inflammation effect. The aim of this study was to investigate IL-1β level of macrophage exposed to A. actinomycetemcomitans after administration Curcuma zedoaria volatile oil. The subjects were 10 male Wistar rats, which divided into two groups (treatment and control), each group 5 rats. In the treatment group, 30,6 μl/ml Curcuma zedoaria volatile oil was administered per oral for 14 days and the control group used aquabidest. In the 7th days, 100 μl A. actinomycetemcomitans in CMC 2% were applied on the anterior gingival mandible for 7 days. Rats were anesthetized in the 15th days then macrophage was collected from peritoneal. Interleukin-1β level of macrophage was measured using ELISA kit (R&D Systems, USA). Data were analyzed using t-test. The result showed IL-1β level decreased after treatment. The comparison between treatment and control was significant difference (p<0.05). It can be concluded that Curcuma zedoaria volatile oil may have anti inflammation effect through reducing the IL-1β level of macrophage.
Efek Antimikroba Pasta Gigi Kandungan Ekstrak Daun Teh 2% (Camellia sinensis) terhadap A. Actinomycetemcomitans Juni Handajani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.341 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15592

Abstract

Latar Belakang: Kandungan polifenol (catechin) dalam daun teh diketahui memiliki efek antimikroba terhadap beberapa bakteri. Derajat fermentasi terhadap daun teh akan mempengaruhi daya antimikrobanya. Pasta gigi dengan kandungan ekstrak daun teh segar 2% (Camellia sinensis) diharapkan memiliki efek antimikroba. Tujuan: pengetahuan ini bertujuan untuk mengetahui daya antimikroba pasta gigi kandungan ekstrak teh segar 2% terhadap bekteri A. actinomycetemcomitans. Metode Penelitian: bakteri A. actinomycetemcomitans diperololeh dari laboratorium MikrobiologiFakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pengenceran pasta gigi dengan kandungan teh 2% diencerkan menjadi 0,875%; 1,75%; 2,5%; 5%; 10%; dan 100% (kontrol positif). Metode difusi dilakukan pada 15 petri dengan cara masing-masing konsentrasi diambil 100 ul lalu diteteskan dalam setiap sumuran pada media BHI agar yang telah mengandung A. Actinomycetemcomitans kemudian petri dieramkan dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 370 C. Pengukuran diameter zone hambatan disekitar sumuran menggunakan jangka sorong, dibantu dngan mikroskop, selanjutnya data dianalisis menggunakan AVANA dan LSD. Hasil menunjukkan daya anti bakteri pasta gigi kandungan ekstrak teh 2% terhadap bakteri A. Actinomycetemcomitans dimulai pada konsentrasi 5% dan terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,01) pengaruh konsentrasi terhadap zone hambatan yang dihasilkan. Disimpulkan peningkatan konsentrasi pasta gigikandungan ekstrak teh akan meningkatkan daya antimikroba terhadap bakteri A. Actinomycetemcomitans.  Background: Polyphenols (catechins) in tea leaves are known to have antimicrobial effects against some bacteria. Degree of fermentation tea leaves will affect the antimicrobial. Toothpaste containing 2% tea leaves ectract (Camellia sinensis) is expected to have antimicrobial effects. Aim: this study was aimed to determine the antimicrobial effect of tootthpastes contain 2% tea extract on the bacteria A. Actinomycetemcomitans. Method: Aggregatibacter actinomycetemcomitans bacteria from Microbiology Laboratory, Faculty of Veterinary Medicine, Gadjah Mada University Yogyakarta. Tea extract-containing dentrifice was dilluted into 0,875%; 1,75%; 2,5%; 5%; 10%; dan 100% (as positive control). Diffusion method was used on 15 disks. Every concentration of tea extract-containing dentrifice was placed in bottomless cylinder in BHI agar disks that have been heavily seeded with A. Actinomycetemcomitans , then incubated for 24 hours at 370. The diameter of the clear zone of inhibition was measured using sliding caliper and microscope then data were analyzed using AVANA and LSD. The result showed that the antimicrobial effect of  tea extract-containing dentrifice was started at 5% and there were significantly difference (p<0,01) effect concentration of  tea extract-containing dentrifice on zone of inhibition. In conclusion, increasing concentration of  tea extract-containing dentrifice could increase the antimicrobial effect against A. Actinomycetemcomitans. 
Pengunyahan Permen Karet Gula dan Xylitol Menurunkan Pembentukan Plak Gigi Indah Fatikarini; Juni Handajani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3996.134 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16448

Abstract

Latar belakang. Plak gigi adalah deposit lunak yang terdiri dari kumpulan berbagai macam mikroorganisme pada permukaan gigi yang berada dalam suatu polimer matriks bakteri. Pengunyahan perm en karet dapat membersihkan gigi dari debris dan plak gigi, mencegah terjadinya penyakit gingivitis dan periodontal, meningkatkan pH plak gigi, dan merangsang pengeluaran saliva. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pengunyahan permen karet gula dan xylitol terhadap pembentukan plak gigi. Metode penelitian. Subjek penelitian yang digunakan adalah mahasiswa universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan rentang usia 18-24 tahun sebanyak 30 subjek. Kelompok subyek dibagi menjadi tiga yaitu mengunyah permen karet gula, permen karet xylitol, dan kontrol (masing-masing kelompok sebanyak 10 subjek). Data yang diambil adalah indeks plak gigi (Podshadley dan Haley Indeks) kemudian dianalisis dengan statistik Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan bermakna pembentukan plak gigi antara mengunyah permen karet xylitol, gula, dan kontrol salama tujuh hari. Disimpulkan. bahwa pengunyahan permen karet gula dan xylitol dapat menurunkan indeks plak gigi.
Efek Pengunyahan Permen Karet Gula dan Xylitol terhadap Status Saliva Lisna Kurnia Rezky; Juni Handajani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3925.475 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16450

Abstract

Latar belakang. Rongga mulut sebagai pintu masuk makanan ke dalam tubuh selalu dibasahi oleh saliva setiap harinya. Saat ini banyak produk permen karet yang beredar di masyarakat yang mengandung gula dan xylitol. Banyak orang yang gemar mengunyah permen karet dengan kurang memperhatikan komposisinya baik yang mengandung gula ataupun xylitol sehingga kurang mengetahui efek masing-masing jenis permen karet tersebut terhadap kesehatan rongga mulut. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pengunyahan permen karet gula dengan permen karet xylitol terhadap status saliva yang terdiri dari volume, pH, dan viskositas saliva. Metode penelitian. Subjek penelitian berjumlah 30 orang dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 10 orang, terdiri dari kelompok mengunyah permen karet gula, xylitol, dan kontrol dengan mengunyah apel. Pengambilan saliva dilakukan pagi hari dan siang hari. Subjek mengunyah 2 butir permen karet dan tidak diperbolehkan untuk makan dan minum 1 jam sebelum mengunyah. Subjek diinstruksikan meludah ke dalam pot saliva selama 10 menit dalam interval setiap 1 menit. Pengukuran volume saliva menggunakan pipet volume, pH saliva dengan menggunakan pH meter, dan viskositas saliva dengan menggunakan viskometer Ostwald hari ke-1 dan ke-4. Analisis data dengan uji statistik Mann-Whitney. Hasil. penelitian menunjukkan adanya peningkatan bermakna volume dan viskositas saliva pada pengunyahan permen karet xylitol dan gula. Derajat keasaman (pH) saliva menurun setelah mengunyah permen karet gula sedangkan pada perm en karet xylitol relatif stabil. Disimpulkan bahwa permen karet xylitollebih baik untuk kestabilan status saliva dibandingkan permen karet gula.
Co-Authors Afifah Rufaida Alma Linggar Jonarta Annisa Rahmi Fauzia Antinah Latif, Antinah Anugerah Pekerti Astamurtiningrum Ardiny Andriani Aurita Siwi R Aurita Siwi R, Aurita Siwi Bambang Priyono Chynintia Dewi Aqmarina Dea Cahyani, Yessica Dhika Paramita Prameswari Dhika Paramita Prameswari, Dhika Paramita Dhinintya Hyta N Dhinintya Hyta N, Dhinintya Hyta Dhinintya Hyta Narissi Dyah Irnawati Ema Mulyawati Endah Kusumastuti Enggardipta, Raras Ajeng Evy Tri Utami Evy Tri Utami Evy Tri Utami Failasofia Failasofia Fauzia Nilam Orienty Fery Setiawan Fery Setiawan Finsa Tisna Sari Finsa Tisna Sari, Finsa Tisna Fitri Setia Rahayu Haniastuti, Tetiana Hardono Jaya Lauson Heni Susilowati Heni Susilowati Heni Susilowati Icha Nofikasari Indah Fatikarini Islamy Rahma Hutami, Islamy Rahma Isti Endah Kurniwati Isti Endah Kurniwati, Isti Endah Juwita Raditya Ningsih Kristiyani Dwi M Kristiyani Dwi M, Kristiyani Dwi Lanagusti, Alfin Layung Sekar Prabarayi Lisdrianto Hanindriyo Lisdrianto Hanindriyo Lisna Kurnia Rezky Lukis, Prima Agusti Mahadna Aulia Rahmah Marsetyawan HNES Mochammad Imron Awalludin Moh. Khafid Mohammad Khafid Mufidana Azis Mufidana Azis, Mufidana Muhammad Nabil Pratama Nadia Rully Auliawati Nadie Fatimatuzzahro Norma Dias L Norma Dias L, Norma Dias Nuryono Nuryono Prakosa, Basma Rosandi Pramana Pananja Putra Pratama, I Wayan Gita Pribadi Santosa Rais Aliffandy Damroni Rebecca Azary Kuncoro Rebecca Azary Kuncoro, Rebecca Azary Regina TC. Tandelilin Regina TC. Tandelilin, Regina TC. Regina Titi Christinawati Tandelilin Rini Maya Puspita Ristini Asih Rizki Amelia Rizki Amelia Rizki Amelia Rizki Fadlilah Santoso, Aloysia Supartinah Sifra Kristina Hartono Singh, Malreen Kaur Harban Siti Fatimah Siti Sunarintyas Sri Widiati, Sri Stefany Elan Saktiyawardani Swastiana Eka Yunita Tri Ayu Hidayani Tri Ayu Hidayani Tri Endra Untara, Tri Endra Urfa Tabtila Virta Devi Kartika Putri Volanda Kusumaningsari Widya Asmara Widya Asmara Yoga, I Gede Krisna Merta Yosaphat Bayu Rosanto Yulita Kristanti