Claim Missing Document
Check
Articles

The Correlation between Body Mass Index (BMI) and Recovery Time on General Anesthesia Patient Using Endotracheal Tube (ET) Maryadi, Adi; Rahmaya Nova Handayani; Eza Kemal Firdaus; Asmat Burhan
Java Nursing Journal Vol. 2 No. 1 (2024): November - February 2024
Publisher : Global Indonesia Health Care (GOICARE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61716/jnj.v2i1.24

Abstract

Conscious recovery time is the time it takes for the patient to be removed from the conscious recovery room when the patient is fully conscious. Patients who are unconscious within more than 15 minutes are considered prolonged, even to respond to a stimulus in highly susceptible patients requires 30-45 minutes after general anesthesia drugs are stopped. One of the causes of lengthening the time to recover consciousness is the Body Mass Index (BMI) in patients which can increase the potential of anesthetic drugs given. The purpose of this study was to determine the relationship between Body Mass Index (BMI) and conscious recovery time in general anesthesia patients using Endotracheal Tube (ET) at RSUD Dr. Soedirman Kebumen. The method of ths study was correlation analitik with a cross-sectional approach. The sample of this study amounted to 48 respondents with consecutive sampling technique. Data analysis was carried out using the Kendall Tau test. The results of the study obtained 86.5% of respondents had a fast conscious recovery time (<15 minutes) and 13.5% of respondents had a prolonged conscious recovery time (>15 minutes). Of the results of the kendall tau correlation test obtained results with a significancy p value of 0.000 < 0.05 which means there is a relationship between the body's mass index to the recovery time of consciousness after general anesthesia with the endotracheal tube. The conclusion of this study is that majority of respondents who have a quick recovery time of less tha 15 minutes are respindents with a normal body mass index. Patient with a fat or obese BMI will receive a higher dose of anesthetic medication compared to patients in the thin category. When the anesthetic drug is given a higher concentration, the effect of the ansthetic drug will be longer.
Be Brave to Speak Up: Strategi Pengembangan Kepemimpinan Kolaboratif di Kalangan Mahasiswa Keperawatan Anestesuologi Universitas Harapan Bangsa: Strategi Pengembangan Kepemimpinan Kolaboratif di Kalangan Mahasiswa Keperawatan Anestesuologi Suandika, Made; Handayani, Rahmaya Nova; Susanti, Indri Heri; Nailli, Yuris Tri; Yudha, Magenda Bisma; Jerau, Emiliani Elsi; Tanjung, Ar-Rahman
Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30644/jphi.v7i2.1033

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan mahasiswa dalam organisasi kemahasiswaan melalui pelatihan Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) bertema "Be Brave To Speak Up In Positive Ways." Program ini diselenggarakan oleh HIMANES Universitas Harapan Bangsa dengan peserta sebanyak 45 mahasiswa. Metode kegiatan meliputi penyampaian materi, diskusi, simulasi organisasi, roleplay, dan permainan edukatif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap konsep kepemimpinan, komunikasi efektif, dan kemampuan kerja tim. Pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam mencetak kader pemimpin mahasiswa yang solutif, inovatif, dan berkarakter. Abstract This community service activity aims to improve the leadership capacity of students in student organizations through the Basic Student Leadership Training (BSLT) with the theme "Be Brave To Speak Up In Positive Ways." This program was organized by HIMANES Universitas Harapan Bangsa with 45 students participating. The activity methods include delivering materials, discussions, organizational simulations, roleplays, and educational games. The results of the activity showed an increase in participants' understanding of the concept of leadership, effective communication, and teamwork skills. This training is a strategic step in producing student leaders who are solution-oriented, innovative, and have character.
Studi Deskriptif Burnout Pada Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa Sofia Nanda Arista; Asmat Burhan; Rahmaya Nova Handayani
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i1.1698

Abstract

Burnout merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi dimana seseorang merasa stres dan mengalami kelelahan, baik secara emosional maupun secara fisik. Burnout dapat menyebabkan absensi yang lebih tinggi pada mahasiswa, motivasi yang lebih rendah untuk mengerjakan tugas, serta persentase drop out yang meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran burnout pada mahasiswa keperawatan anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian di Universitas Harapan Bangsa. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner MBI-SS. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling. Besar sampel yaitu 266 responden. Analisa data yang digunakan adalah analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 18-20 tahun (58,3%), berjenis kelamin perempuan (69,5%), serta jumlah responden semester 2 sebanyak 70 orang (26,3%), semester 4 sebanyak 82 orang (30,8%), semester 6 sebanyak 60 orang (22,6%), dan semester 8 sebanyak 54 orang (20,3%). Mayoritas responden mengalami burnout tingkat sedang (55,3%). Berdasarkan karakteristik responden, mayoritas mengalami burnout sedang pada rentang usia 18-20 tahun (30,1%), Berdasarkan jenis kelamin, perempuan memiliki persentase burnout lebih tinggi dari pada laki-laki dengan persentase 26,3% burnout ringan,38% burnout sedang, dan 4,5% burnout berat. Berdasarkan tingkat semester, mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi semester 2,4,6, dan 8 mengalami burnout tingkat sedang dengan persentase tertinggi berada pada mahasiswa semester 2 yaitu sebesar 15,8%. Mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi mengalami burnout tingkat sedang.
Pendidikan Kesehatan tentang Tanda Kegawatan Hipoglikemia pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Posbindu PTM Cirebon Girang Rohmah, Ayu Nurita; Handayani, Rahmaya Nova; Yanti, Linda
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 8 (2025): Volume 8 No 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i8.21128

Abstract

ABSTRAK Prevalensi diabetes di Indonesia meningkat signifikan dari 9,19% pada tahun 2020 (18,69 juta kasus) menjadi 16,09% pada tahun 2045 (40,7 juta kasus). Selain itu, prediksi jumlah kematian yang disebabkan oleh diabetes meningkat dari 433.752 pada tahun 2020 menjadi 944.468 pada tahun 2045. Hipoglikemia merupakan komplikasi dari diabetes tipe 2 yang kondisi nya ditandai dengan kadar glukosa darah yang rendah dan menyebabkan disfungsi kognitif, gangguan fungsi otak, serta peningkatan risiko DM tipe 2 di otak. Salah satu strategi untuk mengatasi masalah pengetahuan tentang hipohlikemia dan tanda kegawatan dapat melalui edukasi Kesehatan. Pengabdian kepada Masyarakat ini berfokus pada peningkatan pengetahuan pasien DM di posbindu PTM Cirebon Girang mengenai tanda kegawatan hipoglikemia. Metode yang digunakan yaitu memberikan edukasi berupa materi dalam bentuk slide power point, video dan booklet. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan sebelum diberikan edukasi, menunjukkan bahwa mayoritas peserta berada pada kategori cukup (76%), kategori kurang (20%) dan hanya (4%) peserta berada pada kategori baik. Tingkat pengetahuan setelah diberikan edukasi, mengalami peningkatan signifikan yaitu ditunjukkan dengan meningkatnya peserta dalam kategori baik dari (4%) menjadi (84%) dan tidak ada lagi peserta dalam kategori baik (0%).  Penggunaan video dan booklet ini efektif digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat yang mana terjadi peningkatan pengetahuan kategori baik sebanyak 80%. Kata Kunci: Diabetes Melitus, Hipoglikemia, Pendidikan Kesehatan  ABSTRACT The prevalence of diabetes in Indonesia increased significantly from 9.19% in 2020 (18.69 million cases) to 16.09% in 2045 (40.7 million cases). In addition, the predicted number of deaths caused by diabetes increased from 433,752 in 2020 to 944,468 in 2045. Hypoglycemia is a complication of type 2 diabetes that is characterized by low blood glucose levels and causes cognitive dysfunction, impaired brain function, and increased risk of type 2 DM in the brain. One of the strategies to overcome the problem of knowledge about hypoglycemia and signs of emergency can be through health education. This community service focuses on increasing the knowledge of DM patients in Posbindu PTM Cirebon Girang about the signs of hypoglycemia. The method used is to provide education in the form of material in the form of power point slides, videos and booklets. The results of this activity showed that the level of knowledge before education was given, showed that the majority of participants were in the moderate category (76%), the less category (20%) and only (4%) participants were in the good category. The level of knowledge after education was given, experienced a significant increase, as shown by the increase in participants in the good category from (4%) to (84%) and there were no more participants in the good category (0%). The use of videos and booklets is effective in community service where there is an increase in knowledge in the good category as much as 80%. Keywords: Diabetes Mellitus, Hypoglycemia, Health Education
The effect of various anesthesia techniques on changes in leukocyte types Handayani, Rahmaya Nova; Suandika, Made; Muti, Refa Teja; Yantoro, Awal Tunis
Riset Informasi Kesehatan Vol 13 No 1 (2024): Riset Informasi Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30644/rik.v13i1.840

Abstract

Abstract Background: Surgery and anesthesia can affect the immune and neuroendocrine systems which can cause the release of hormones and cytokines as a result of changes in the body's physiological responses. Neuroendocrine pathways to the immune system related to stress responses due to surgery. surgery and a decrease in the number of T lymphocytes causes a shift in the balance between immunosuppressive regulatory T lymphocytes and immune-triggering T helper and cytotoxic T cells in a predominance of regulatory T cells. Apart from causing a decrease in the number of T lymphocytes, it also causes suppression of NK cells and an increase in the number of neutrophils. Research purposes determine the effect of various anesthetic techniques on changes in leukocyte count levels. Method: This research is a type of experimental research with a pre-pos test group design approach. The samples for this study were taken from patients undergoing surgery and anesthesia with inclusion criteria: age 17-65 years, ASA 1-2, no infectious diseases. The sample size is the sampling technique is Consecutive sampling. Sample measurements were taken from venous blood before and after surgery and anesthesia. The parameters measured are leukocyte counts which include leukocytes, basophils, neutrophils, monocytes and lymphocytes. Blood samples were taken before surgery and anesthesia, and 2 hours after surgery and anesthesia using a hematology analyzer. The analytical tests used are the parametric dependent test (paired T-test) or the non-parametric Wilcoxon test and the independent test. Results: There is a significant difference in the count of leukocyte types between general anesthesia and regional anesthesia Conclusion: General anesthesia can increase leukocyte counts significantly compared to regional anesthesia, but eosinophils are not significant in both groups
Pemberian Edukasi Puasa Sebelum Tindakan Operasi dalam Upaya Meningkatkan Pengetahuan Pasien Pre Operasi di RSUD dr. R.Goeteng Taroenadibrata Rahmawati, Diah; Handayani, Rahmaya Nova; Adriyani, Fauziah Hanum Nur
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 3 No. 4 (2025): Bulan Juli
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v3i4.343

Abstract

Prosedur anestesi terdiri dari tiga tahap: pra-anestesi, intra-anestesi, dan pasca-anestesi. Pendidikan adalah proses penyampaian pengetahuan dan informasi yang relevan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang masalah penting, memungkinkan individu mengembangkan pemikiran kritis dan analitis. Tujuan PkM ini meningkatkan pengetahuan pasien di Rumah Sakit Umum Dr. R. Goeteng Taroenadibrata. Metode PkM yang digunakan adalah pre- dan post-testing. Kegiatan pendidikan dilakukan menggunakan video dan media pendukung berupa brosur selama 20 menit di ruang bedah (ruang Edelweis, Bougenville, dan Dahlia). Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner yang terdiri dari 14 pertanyaan. Hasil PkM menunjukkan karakteristik responden didominasi usia di atas 56 tahun (40%), jenis kelamin laki-laki (56,7%), dan pendidikan sekolah menengah atas (46,7%). Skor pengetahuan rata-rata tentang puasa sebelum operasi di Rumah Sakit Umum Dr. R. Goeteng Taroenadibrata sebelum pendidikan adalah 8,07, sedangkan setelah pendidikan meningkat menjadi 10,60. Sebelum pendidikan, pengetahuan pasien tentang puasa sebelum operasi sebagian besar berada dalam kategori memadai (40%), sedangkan setelah pendidikan, kategori pengetahuan yang paling dominan adalah baik (50%). Kesimpulan dari Program Pengabdian Masyarakat ini adalah terdapat peningkatan signifikan dalam tingkat pengetahuan pasien sebelum dan setelah pelaksanaan program pendidikan.
Keefektifan Forced Air Warming untuk Mengatasi Hipotermia Perioperatif: Systematic Review Meliana, Vanessa Febri; Fauziah, Dian Nur; Setyawati, Martyarini Budi; Handayani, Rahmaya Nova
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i9.21824

Abstract

ABSTRACT Perioperative hypothermia is a common problem in patients undergoing surgery and can increase the risk of complications. One possible non-pharmacological measure is the use of Forced Air Warming. This intervention is recommended as an effective strategy for managing perioperative hypothermia. This study aimed to provide strong and up-to-date scientific evidence regarding the effectiveness of using Forced Air Warming in preventing and treating perioperative hypothermia. The method used was a systematic review using the PICOTS approach and a search of articles in three databases: PubMed, Scopus, and ProQuest, as well as using PRISMA. A total of 12 articles met the inclusion and exclusion criteria, and their eligibility met the threshold assessed using the JBI Critical Appraisal. The results of this study indicate that Forced Air Warming can treated perioperative hypothermia, reduced the incidence of hypothermia, and maintained perioperative patient body temperature. Comparisons of Forced Air Warming with resistive heating methods have shown varying results. The used of Forced Air Warming is an effective strategy in addressing perioperative hypothermia and temperature monitoring must be carried out continuously to maximize effectiveness and potential side effects. Keywords: Forced Air Warming, Hypothermia, Perioperative  ABSTRAK Hipotermia perioperatif merupakan masalah umum yang sering terjadi pada pasien yang menjalani pembedahan, dan dapat meningkatkan risiko komplikasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan tindakan non-farmakoetapi, yaitu penggunaan Forced Air Warming. Intervensi ini direkomendasikan sebagai strategi yang efektif dalam mengatasi hipotermia perioperatif. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan bukti ilmiah yang kuat dan terkini terkait keefektifan penggunaan Forced Air Warming dalam mencegah dan mengatasi hipotermia perioperatif.Metode yang digunakan adalah tinjauan sistematis dengan menggunakan pendekatan PICOTS dan melakukan pencarian artikel pada tiga basis data, yaitu PubMed, Scopus, ProQuest, serta menggunakan prisma. Sebanyak 12 artikel memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi, serta kelayakannya telah memenuhi ambang batas yang dinilai menggunakan JBI Critical Appraisal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Forced Air Warming dapat mengaasi hipotermia perioperatif, menurunkan angka kejadian hipotermia, dan mempertahankan suhu tubuh pasien perioperatif. Perbandingan Forced Air Warming dengan metode pemanasan resistif menunjukkan hasil yang bervariasi. Penggunaan Forced Air Warming merupakan strategi yang efektif dalam mengatasi hipotermia perioperatif dan pemantauan suhu harus tetap dilakukan secara kontinu untuk memaksimalkan efektivitas dan potensi efek samping. Kata Kunci: Forced Air Warming, Hipotermia, Perioperatif
Pengaruh Pemberian Edukasi terhadap Tingkat Kecemasan dan Mean Arterial Pressure (MAP) Pasien Pre Anestesi untuk Tindakan Sectio Caesarea di RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN Denni, Febby Febrian; Handayani, Rahmaya Nova; Cahyaningrum, Etika Dewi
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i9.21911

Abstract

ABSTRACT Sectio Caesarea is a major surgical procedure that often causes anxiety in patients. Pre-anesthesia anxiety can affect hemodynamic conditions, including blood pressure and Mean Arterial Pressure (MAP). Pre-anesthesia education is believed to be able to reduce anxiety and stabilize the patient's physiological condition. One method used is education through video media. Objectives: (1) to identify the level of anxiety before and after education in pre-anesthesia Sectio Caesarea patients at Dr. Soedirman Hospital, Kebumen, (2) to identify MAP values before and after education, (3) to analyze the effect of education on anxiety levels, and (4) to analyze the effect of education on MAP values. Methods: This study used a pre-experimental one group pretest-posttest design with a sample of 45 patients undergoing Sectio Caesarea. The study was conducted for 1 month on March 14-April 12, 2025, with a population of 101 patients. The instruments used were the APAIS questionnaire to measure anxiety and a blood pressure measuring instrument to calculate MAP. Data analysis using the Wilcoxon test. Results The average anxiety value from 60% experiencing severe anxiety to 64.4% experiencing mild anxiety and the Map value from 105 to 90 the study showed a significant decrease in the level of anxiety P value 0.000 and MAP P value 0.000 after education (p <0.05). Conclusion: Pre-anesthesia education through video media is effective in reducing anxiety levels and stabilizing MAP values in pre-anesthesia patients with Sectio Caesarea. This education is recommended to be part of the standard of pre-anesthesia services in hospitals. Keywords: Education, Anxiety, MAP, Pre-Anesthesia, Sectio Caesarea  ABSTRAK Sectio caesarea merupakan tindakan pembedahan mayor yang sering menimbulkan kecemasan pada pasien. Kecemasan pre-anestesi dapat memengaruhi kondisi hemodinamik, termasuk tekanan darah dan Mean Arterial Pressure (MAP). Edukasi pra-anestesi dipercaya mampu menurunkan kecemasan serta menstabilkan kondisi fisiologis pasien. Salah satu metode yang digunakan adalah edukasi melalui media video. Tujuan: (1) mengidentifikasi tingkat kecemasan sebelum dan sesudah edukasi pada pasien pre-anestesi Sectio Caesarea di RSUD Dr. Soedirman Kebumen, (2) mengidentifikasi nilai MAP sebelum dan sesudah edukasi, (3) menganalisis pengaruh edukasi terhadap tingkat kecemasan, dan (4) menganalisis pengaruh edukasi terhadap nilai MAP. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest dengan sampel sebanyak 45 pasien yang menjalani Sectio Caesarea. Penelitian dilakukan selama 1 bulan pada tanggal 14 Maret-12 April 2025, dengan jumlah Populasi sebanyak 101 paisen. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner APAIS untuk mengukur kecemasan dan alat ukur tekanan darah untuk menghitung MAP. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil Nilai rata-rata kecemasan dari 60% mengalami kecemasan berat menjadi 64.4 % mengalami kecemasan ringan dan nilai Map dari 105 menjadi 90 penelitian menunjukkan adanya penurunan yang signifikan pada tingkat kecemasan P value 0.000 dan MAP P value 0.000 setelah pemberian edukasi (p < 0,05). Kesimpulan: Edukasi pra-anestesi melalui media video efektif menurunkan tingkat kecemasan dan menstabilkan nilai MAP pada pasien pre-anestesi Sectio Caesarea. Edukasi ini disarankan menjadi bagian dari standar pelayanan pra anestesi di rumah sakit. Kata Kunci: Edukasi, Kecemasan, MAP, Pre Anestesi, Sectio Caesarea
Postoperative Cognitive Dysfunction in Craniotomy: Mechanisms, Challenges, and Future Directions Suandika, Made; Yantoro , Awal Tunis; Suhendro , Anton; Wijayanti, Indri; Handayani, Rahmaya Nova; Yulianto, Dwi Agus; Kisdyanti, Yuniar Melissa
Java Nursing Journal Vol. 3 No. 2 (2025): March - June 2025
Publisher : Global Indonesia Health Care (GOICARE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Postoperative cognitive dysfunction (POCD) is a clinical concern that can affect patients undergoing craniotomy, often impairing memory, attention, and executive function. Despite advances in neurosurgical and anesthetic techniques, POCD remains prevalent and under-recognized. This review aims to explore the underlying mechanisms and contributing factors of POCD in the context of craniotomy under general anesthesia. A narrative literature review method was employed to examine publications retrieved from major databases including PubMed, Scopus, and ScienceDirect between 2015 and 2025. Selected studies focused on adult patients and provided insights into both clinical manifestations and molecular pathways linked to POCD. The analysis revealed that factors such as advanced age, duration of anesthesia, and neuroinflammatory responses significantly influence the development of POCD. Mitochondrial dysfunction and oxidative stress were frequently cited as key contributors to neuronal damage following surgery. In terms of clinical management, the literature suggests that early cognitive assessment and tailored anesthetic strategies may reduce the risk of long-term impairment. Although definitive treatment remains elusive, this review highlights the importance of early identification and multidisciplinary approaches to mitigate POCD in post-craniotomy patients. Future research should prioritize standardized diagnostic criteria and explore neuroprotective interventions to improve cognitive outcomes following neurosurgical procedures.
Perbedaan Efektivitas Durasi Video Laringoskopi Dan Laringoskopi Langsung Dalam Intubasi Urutan Cepat Pada Pasien Bedah Di RSD Gunung Jati Kota Cirebon Syabilla Afifuddin Suat; Made Suandika; Rahmaya Nova Handayani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.191

Abstract

Intubasi urutan cepat merupakan tindakan penting dalam proses anestesi umum untuk mengamankan jalan anpas secara cepat, sehingga risiko aspirasi dan hipoksia dapat dicegah. Pemilihan alat intubasi yang tepat berperan dalam keberhasilan prosedur ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas durasi intubasi urutan cepat menggunakan video laringoskopi dan laringoskopi langsung pada pasien bedah di RSD Gunung Jati Kota Cirebon. Penelitian ini menggunakan desain analitik komparatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 100 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok, 50 pasien menggunakan video laringoskopi dan 50 pasien menggunakan laringoskopi langsung. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 96,0% pasien yang diintubasi dengan laringoskopi langsung berhasil melakukan intubasi kurang dari 60 detik, sedangkan pada video laringoskopi hanya 82,0%. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan nilai p = 0,026 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan. Kesimpulan penelitian ini adalah laringoskopi langsung lebih efektif dalam hal durasi intubasi urutan cepat dibandingkan video laringoskopi. Pemilihan alat tetap harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien.
Co-Authors A, Anggiatwan A, M Aryadi Achmad Djuneadi Adi Ryanto Adiratna Sekar Siwi Adriyani, Fauziah Hanum Nur Afandy, Dian Nurnatasha Afrilies, Marlia Hafny Agus, Dwi Aldi Hartono, Mochamad Amana, Titin Selwia Aprilyani, Ita Arni Nur Rahmawati Asmat Burhan Atun Raudotul Ma&#039;rifah Atun Raudotul Ma’rifah Atun Raudotul Ma’rifah AZ ZAHRA, FITRAH ANNISA Bambang P, Yohanes Burhan, Asmat Cahyani, Regita Lintang Cahyaningrum, Etika Dewi Cahyono, Anar Catur Sayekti Denni, Febby Febrian Denny Agustiningsih Diah Rahmawati Dwi Novitasari Eko Hermawan Krisiyanto Evi Dayanti Eza Kemal Firdaus Fadlillah Fadlillah Fadlillah, Fadlillah Fandi Gunawan Farah Fildzah Fauziah, Dian Nur febriyanti febriyanti Feti Kumala Dewi Firdaus, Eza Kemal Frengky, Frengky JF Futuh, Muhammad Fathul Gatri Asti Putri HARNITA HARNITA Hasibuan, Verawati Hidu, Asfan La Hikmanti, Arlyana Indri Heri Susanti, Indri Heri Ita Aprilyani Jarod, Muhammad Jerau, Emiliani Elsi Kelvin Angling Kusumo Kharisma Aditama Khoirussalim, Moh Kholiqin, Nur Kisdyanti, Yuniar Melissa Linda Yanti Ma?rifah, Atun Raudotul Ma’rifah, Atun Raudotul Made Suandika Mariah Ulfah Maryadi, Adi Mawuntu, Jordan Herling Turang Meliana, Vanessa Febri Muhammad Galih Widyanto Mulyaningsih, Amalia Erna Muntasir, Eva Muris, Theresia Uci Ikayun Murniati - Murniati . Murniati Murniati Murniati Murniati Muti, Refa Teja Nailli, Yuris Tri Ningrum, Ema Wahyu Nisha, Zuhrotun Noor Yunida Triana Novaliyanto, Sakhfa Syesar Nurjanah, Putri Aulia Permata, Pramudya Putra Pramesti Dewi Pratiwi, Syavira Salsabilah Putri Nola Puspitasari, Nevalia Kinanda Ririn Isma Sundari Rohmah, Ayu Nurita Sandi Saputra Sasmitha, Anggraeny Rara Savitri, Annistia Intan Septian Mixrova Sebayang Setianingsih, Sitti Setyawati, Martyarini Budi Setyo, Tri Panji Sofia Nanda Arista Suci Khasanah Sufyan, Muhammad Ali Suhendro , Anton Surtiningsih SURTININGSIH, SURTININGSIH Suryani, Roro Lintang Susanto, Amin Susilawati, Evawani Syabilla Afifuddin Suat Syahputra, Yoga Tanjung, Ar-Rahman Utami, Firda Aulia Putri Vian Putria Isma Wibowo, Tophan Heri Wijayanti, Indri Yantoro , Awal Tunis Yantoro, Awal Tunis Yazid Muhammad Fardan Yudha, Magenda Bisma Yulianto, Dwi Agus