Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Jurnal Agripet

Kualitas Semen Beku Sapi Limousin setelah Thawing Menggunakan Air Dingin dengan Lama Waktu yang Berbeda Aulia Puspita Anugra Yekti; Rheta Eva Ramadhani Setiawan; Achadiah Rachmawati; Trinil Susilawati
Jurnal Agripet Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i1.23331

Abstract

ABSTRACT. Keberhasilan inseminasi buatan dipengaruhi oleh kualitas semen atau motilitas spermatozoa post thawing. Inseminator menggunakan air dingin (28oC) untuk thawing semen beku sedangkan SNI menyarankan thawing semen beku dengan air hangat (37oC) selama 30 detik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama dan suhu thawing pada semen beku sapi Limousin terhadap kualitas semen serta mengetahui perlakuan terbaik dari penelitian ini. Materi yang digunakan adalah 50 straw semen beku sapi Limousin yang diproduksi oleh BBIB Singosari. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan 5 perlakuan dan 10 ulangan. Variabel yang diamati adalah Motilitas Individu spermatozoa, Viabilitas spermatozoa, Abnormalitas spermatozoa, Konsentrasi dan Total Motilitas Spermatozoa. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam Analysis of Variance (ANOVA) dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) kemudian diuji dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) jika terdapat perbedaan nyata. Selanjutnya diuji Chi square untuk variabel motilitas individu, konsentrasi dan total spermatozoa dan dibandingkan dengan SNI untuk semen beku. Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa thawing pada suhu 28C dengan lama waktu 60 detik berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap viabilitas dan berpengaruh nyata (P0,05) pada motilitas individu dan total spermatozoa motil. Sedangkan, konsentrasi dan abnormalitas spermatozoa memberikan hasil tidak berpengaruh nyata (P0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah thawing dengan air dingin (suhu 28C) selama 60 detik memberikan kualitas semen terbaik setelah thawing.(Quality of Post Thawing Frozen Semen on Limousin Bull Using Cold Water with Different Durations)ABSTRAK. The quality of post-thawing semen influences the success factor of artificial insemination (AI). Inseminators usually used tap water (28C) to thaw the frozen semen, while Indonesian National Standard used warm water (37C) for 30 seconds. This study aims to determine the effect of thawing duration on the frozen semen quality of Limousin Bull and also to know the best treatment between the five treatments of this experiment. The material used in this study was 50 straws of frozen semen produced by Artificial Insemination Center Singosari. The method was an experiment method with five treatments and ten replications. the variables observed were individual motility, sperm viability, sperm abnormality, concentration, and total motile of sperm. The data obtained were analyzed statistically using Analysis of Variance (ANOVA) of Randomized Block Design (RBD) and then using Duncan Multiple Range Test if there is a difference. Then using Chi-Square Test for individual motility, concentration, and total motile of sperm and compared with the Indonesian National Standard of frozen semen. The results show that a temperature of 28C with a duration of 60 seconds is highly significant (P0,01) to viability and significant (P0,05) to individual motility and total motile of sperm. While, the concentration and abnormality of sperm give no significant effect (P0,05). In conclusion, the temperature and duration of thawing at 28C for 60 seconds show the best quality of post-thawing semen.
Evaluation The Success of Artificial Insemination Using Frozen Sexed Semen Based on Different Estrus Characters Putri Utami; Muhammad Zainul Hanif; Aulia Puspita Anugra Yekti; Rizki Prafitri; Asri Nurul Huda; Kuswati Kuswati; Kusmartono Kusmartono; Trinil Susilawati
Jurnal Agripet Vol 22, No 2 (2022): Volume 22, No. 2, Oktober 2022
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v22i2.23423

Abstract

ABSTRACT. Knowledge of farmers about estrus detection is one of the factors that affect fixed-time artificial insemination (AI). This study aims to evaluate the success rate of AI using Y sexing frozen semen based on the estrus character of cattle. Forty-five Limousin Crossed Cows involved in this research with a Body Condition Score of 3-5 (1-9 scale), 1.8-7 years old. Y sexing frozen semen is produced by the Singosari Center for Artificial Insemination using Percoll's Gradient Density Centrifugation method. Observation of estrus character was done before insemination with the deep insemination technique of AI. Artificial insemination was carried out using double doses at the 2nd and 8th hours after estrus. Rheinbio vitamins as BioATP+ are injected after AI. The results showed that the Conception Rate and Pregnancy Rate based on the estrus character was higher as indicated by the red colour of the vulva was 17.78% and 22.22%; very swollen vulva was 20% and 22.22%; abundant cervical mucus was 15.56% and 17.78%, and vaginal temperatures ranging from 38.0-38.5oC was 13.33% and 20%. In conclusion, the low percentage of pregnancy in this study was caused by various factors, mainly the genetic quality, early embryonic efficacy, maintenance management especially feed, and there were cows that experienced reproductive disorders.(Evaluasi keberhasilan inseminasi buatan menggunakan semen beku sexing berdasarkan karakter estrus yang berbeda)ABSTRAK. Pengetahuan peternak mengenai deteksi estrus merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap ketepatan waktu inseminasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan IB menggunakan semen sexing Y berdasarkan karakter estrus ternak. Akseptor yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 45 ekor Sapi Persilangan Limousin dengan BCS 3-5 dan umur berkisar antara 1,8-7 tahun. Semen beku sexing Y merupakan hasil produksi Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari menggunakan metode Sentrifugasi Densitas Gradien Percoll (SGDP). Pengamatan karakter estrus dilakukan sebelum inseminasi. Inseminasi Buatan dilakukan dengan menggunakan double dosis pada jam ke-2 dan jam ke-8 dengan teknik deep insemination. Vitamin Rheinbio sebagai BioATP+ diinjeksikan setelah IB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan kebuntingan ditinjau dari nilai conception rate (CR) dan pregnancy rate (PR) berdasarkan karakter estrus ternak lebih tinggi ditunjukkan pada kondisi warna vulva merah merata yaitu 17,78% dan 22,22%; vulva yang sangat bengkak yaitu 20% dan 22,22%; banyak mengeluarkan lendir servik yaitu 15,56% dan 17,78%, serta suhu vagina yang berkisar antara 38,0-38,5oC yaitu 13,33% dan 20%. Persentase kebuntingan yang rendah pada penelitian ini disebabkan oleh berbagai faktor, utamanya kualitas genetik ternak, kematian embrio dini, manajemen pemeliharaan khususnya pakan, dan terdapat ternak yang mengalami gangguan reproduksi.
Perbedaan Keberhasilan Inseminasi Buatan Menggunakan Metode Dosis Tunggal dan Ganda pada Sapi Madura Khairul Rasyad; Aulia Puspita Anugra Yekti; Kuswati Kuswati; Trinil Susilawati
Jurnal Agripet Vol 22, No 2 (2022): Volume 22, No. 2, Oktober 2022
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v22i2.24532

Abstract

ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keberhasilan IB menggunakan metode dosis tunggal dan ganda pada sapi Madura. Penelitian menggunakan 25 ekor dengan metode IB dosis tunggal dan 25 ekor dengan metode IB dosis ganda. IB menggunakan semen beku sapi Madura yang diproduksi oleh Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Malang. Teknik deposisi semen adalah 4+ (deep insemination) yaitu pada posisi cornua uteri selanjutnya dilakukan IB dosis tunggal (jam ke-8 setelah menunjukkan tanda-tanda berahi) dan IB dosis ganda (jam ke-2 dan ke-8 setelah menunjukkan tanda-tanda berahi). Akseptor diinjeksi dengan Bio ATP+ merek Rheinbio 10 ml per ekor dan pemberian pakan konsentrat merek Novo NC62 1 kg per ekor per hari selama tujuh hari setelah IB. Variabel penelitian meliputi Non Return Rate (NRR), Conception Rate (CR), dan Service Per Conception (S/C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa IB dosis tunggal menghasilkan nilai NRR 1 sebesar 92%, NRR 2 sebesar 80%, CR sebesar 60%, dan S/C sebesar 1,71. Sedangkan pada IB dosis ganda menghasilkan nilai NRR 1 sebesar 92%, NRR 2 sebesar 84%, CR sebesar 68%, dan S/C sebesar 1,53. Kesimpulan penelitian adalah nilai NRR, CR, dan S/C pada sapi Madura dengan IB dosis ganda lebih baik daripada dengan IB dosis tunggal, dan IB dosis ganda dapat meningkatkan conception rate pada sapi Madura.(The success different of artificial insemination using single and double dosage methodof Madura cows)ABSTRAK. This study aims to evaluate the success of AI using methods single and double dosage plus in Madura cows. The study used 25 Madura cow using the AI method single dosage and 25 Madura cow using the AI method double dosage. AI uses frozen semen from Madura cows produced by the Singosari Center for Artificial Insemination. The semen deposition technique is 4+ (deep insemination) in the cornua uteri position then AI implemented with a single dosage (8th hours after showing signs of estrus) and double dosage (2nd and 8th hours after showing signs of estrus). The acceptors were injected with 10 ml of "Rheinbio'' brand Bio ATP+ per cow and 1 kg of concentrate "Novo NC62" brand per cow per day was given for seven days after IB. Research variables include Non Return Rate (NRR), Conception Rate (CR), and Service Per Conception (S/C). The results showed that AI of single dosage had value NRR 1 of 92%, NRR 2 of 80%, CR of 60%, and S/C of 1.71. While AI of double dosage had value NRR 1 of 92%, NRR 2 of 84%, CR of 68%, and S/C of 1.53. In conclusion, the value of NRR, CR, and S/C in Madura cows with AI double dosage was better than AI single dosage, and AI double dosage could increase the conception rate in Madura cows.
Karakter Motilitas Spermatozoa Hasil Sexing pada Sapi Peranakan Ongole dengan Volume Awal yang Berbeda Rifai Mustofa; Aulia Puspita Anugra Yekti; Aryogi Aryogi; Dicky Pamungkas; Rizki Prafitri; Asri Nurul Huda; Kuswati Kuswati; Trinil Susilawati
Jurnal Agripet Vol 20, No 2 (2020): Volume 20, No. 2, Oktober 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i2.16932

Abstract

ABSTRAK. Sexing spermatozoa bertujuan untuk mengatur jenis kelamin sesuai harapan. Salah satu metode sexing adalah dengan menggunakan Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berbagai parameter motilitas menggunakan Computer-assisted Sperm Analysis dan proporsi spermatozoa X dan Y menggunakan metode Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll dengan volume awal yang berbeda. Penelitian dilakukan di Loka Penelitian Sapi Potong Grati, Pasuruan, pada bulan Januari sampai Maret 2020. Materi yang digunakan adalah Semen Sapi Peranakan Ongole berumur 5 tahun dan bobot badan 700 kg sebanyak 3 ekor, motilitas masa 2+ dan motilitas individu 70%. Metode yang digunakan adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan volume saat sexing yaitu P1= 1 ml, P2= 1,5 ml dan P3= 2 ml dengan ulangan 11 kali. Ulangan juga berfungsi sebagai kelompok (block). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan sexing dan pendinginan hingga 5oC persentase motilitas adalah P1:71,02+10,08 %; P2: 79,63+8,65 % dan P3: 83,38+6,67 %, sedangkan motilitas progresif pada P1: 47,68+8,71%; P2: 59,61+7,26 % dan P3: 62,21+6,74%. Curvilinear Velocity (VCL) pada P1: 50,97,73 m/s, P2: 55,25,03 m/s dan P3: 53,25,97%. Straight-line Velocity (VSL) pada P1: 20,88,19 m/s; P2: 21,66,02 m/s; P3: 22,15,77 m/s, sedangkan Average Path Velocity (VAP) pada P1: 30,27,82 m/s; P2: 32,56,14 m/s dan P3 : 31,56,18 m/s. Linearity (LIN) pada P1: 40,212,26%;P2: 39,110,31%;P3: 39,87,25%. Straightness (STR) pada P1: 67,211,20%; P2: 65,710,06%;P3: 67,27,92% sedangkan Wobble (WOB) pada P1: 599,49%; P2: 58,88,63% dan P3: 59,17,74%. Kesimpulan dari penelitian adalah motilitas dan motilitas progresif spermatozoa pada sampel dengan volume awal 2 ml lebih baik dibandingkan dengan sampel dengan volume awal 1 ml dan 1,5 ml.(Characteristics of Sexing Spermatozoa Motility in Ongole Cattle with Different Initial Volume) ABSTRACT. Sperm sexing is a technique of sorting a specific type of sperm cell to fertilize the egg cell. One of the sexing methods that can be used for spermatozoa sexing is percoll gradient density centrifugation. This research aims to find out various motility parameters using Computer-assisted Sperm Analysis and the proportion of spermatozoa X and Y using density gradient centrifugation method percoll with different initial volume. The study was conducted at Grati Beef Cattle Research Station, Pasuruan, from January to March 2020. Materials of the study were Semen of 3 Filial Ongole Cattles, aged 5 years, with 700 kg body weight, mass motility 2+, and individual motility 70%. The method used was experimental using a Randomized Group Design with 3 treatment volume when sexing i.e. T0= 1 ml, T1= 1.5 ml dan T2= 2 ml with repetition 11 times. The repetition also functions as groups (blocks). The results showed that after sexing and cooling up to 5oC, the percentage of motility is T0:71.02+10.08 %; T1: 79.63+8,65 % and T2: 83.38+6.67 %. Progressive motility on T0: 47.68+8.71%; T1: 59.61+7.26 % and T2: 62.21+6.74%. Curvilinear Velocity (VCL) on T0: 50.97.73 m/s, T1: 55.25.03 m/s and T2: 53.25.97%. Straight-line Velocity (VSL) on T0: 20.88.19 m/s; T1: 21.66.02 m/s; T2: 22.15.77 m/s. The Average Path Velocity (VAP) on T0: 30.27.82 m/s; T1: 32.56.14 m/s and T2 : 31.56.18 m/s. Linearity (LIN) on T0: 40.212.26%; T1: 39.110.31%;T2: 39.87.25%. Straightness (STR) on T0: 67.211.20%; T1: 65.710.06%; T2: 67.27.92%. Wobble (WOB) on T0: 599.49%; T1: 58.88.63% and T2: 59.17.74%. The conclusion of the study is the motility and progressive motility of spermatozoa in samples with an initial volume of 2 ml is better than samples with an initial volume of 1 ml and 1.5 ml.
Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan Menggunakan Semen Beku Sexing pada Bangsa Sapi yang Berbeda Wiranto Wiranto; Kuswati Kuswati; Rizki Prafitri; Asri Nurul Huda; Aulia Puspita Anugra Yekti; Trinil Susilawati
Jurnal Agripet Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i1.15811

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat keberhasilan IB semen beku sexing Y. Penelitian menggunakan 39 sapi Peranakan Ongole dan 77 sapi Persilangan Limousin yang di IB secara double dosis. IB menggunakan semen beku spermatozoa Y dengan metode pemisahan Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll (SGDP) sapi Limousin yang diproduksi oleh Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari. Teknik deposisi semen adalah 4+ yaitu pada posisi cornua uteri selanjutnya dilakukan IB pada jam ke 2 dan ke 8. Untuk akseptor dilakukan penyuntikan BioATP+ dan pemberian pakan konsentrat 3 kg per hari selama 3 hari setelah IB. Variabel penelitian meliputi Non Return Rate (NRR), Service Per Conception (S/C), dan Conception Rate (CR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa IB sapi Peranakan Ongole dan sapi Persilangan Limousin yaitu NRR1 sebesar 82,05% dan 89,61%, nilai NRR2 sebesar 76,92% dan 84,42%, nilai CR sebesar 58,97% dan 74,03%, serta nilai S/C sebesar 1,78% dan 1,46%. Kesimpulan penelitian adalah IB menggunakan semen beku hasil sexing Y sapi Limousin pada sapi persilangan Limousin memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan sapi Peranakan Ongole.(The success rate of artificial insemination using frozen sexing semen of different breed cow)ABSTRACT. This study aimed to evaluate the success rate of AI frozen semen sexing Y. The material in this study used 39 Filial Ongole and 77 Limousin crossbred cattle in AI in double dose. The spermatozoa used were Y frozen semen of Limousin bull with the Percoll Gradient Density Centrifugation (SGDP) separation method produced by the Singosari Center for Artificial Insemination. The semen deposition technique was 4+, which has the position of the cornua uteri (deep Insemination), then AI implemented with a double dose at the 2nd and 8th hours after estrous. The cow acceptor was injected with BioATP+ and feed by 3 kg concentrate per day for three days after AI. Research variables include Non-Return Rate (NRR), Service Per Conception (S/C), and Conception Rate (CR). The results showed that AI of Peranakan Ongol and Limousin crossbred cattle on NRR1, NRR2, CR values, and S/C values respectively was 82.05% and 89.61%; 76.92% and 84.42%; 58.97% and 74.03%; 1.78% and 1.46%. In conclusion, AI using frozen semen from sexing Y Limousin cattle in Limousin crossbred cows had a higher success rate than Filial Ongole cattle.
Kualitas Spermatozoa dan Tudung Akrosom Utuh pada Semen Beku Sapi Friesian Holstein dengan Mutu Genetik yang Berbeda Yekti, Aulia Puspita Anugra; Umamah, Azna Roudlotul Nur; Safa, Firlia; Andriani, Nadya Meyta; Febrianto, Nanang; Susilawati, Trinil
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.29097

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis kualitas spermatozoa dan tudung akrosom utuh semen beku pada pejantan sapi Friesian Holstein (FH) dengan mutu genetik yang berbeda. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan 2 kelompok perlakuan jenis semen beku yang berbeda. Kelompok perlakuan jenis semen beku adalah Sapi FH proven bull (P1) dan sapi FH grade B (P2). Parameter yang diamati meliputi motilitas spermatozoa, konsentrasi spermatozoa, viabilitas spermatozoa, abnormalitas spermatozoa, dan tudung akrosom utuh (TAU) spermatozoa. Data dianalisis menggunakan uji-t untuk mengetahui perbedaan kualitas antar kelompok perlakuan, kemudian dilakukan uji chi-square untuk membandingkan nilai hasil observasi dengan nilai harapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas semen beku pada sapi FH proven bull dan sapi FH grade B tidak berbeda nyata (P0,05). Disimpulkan bahwa perbedaan mutu genetik pada pejantan tidak memengaruhi kualitas spermatozoa semen beku sapi FH.(Sperm quality and intact acrosome cap of Friesian Holstein frozen semen with different genetic qualities)ABSTRACT. This study aimed to determine the quality of spermatozoa and intact acrosome cap of Friesian Holstein bulls with different genetic qualities. This study used observational research with two categories of frozen semen types treatment. The frozen semen consisted of Friesian Holstein Proven Bull (T1) and Friesian Holstein grade B bull (T2). The parameters observed include sperm motility, sperm concentration, sperm viability, sperm abnormality, and intact acrosome cap. Data were analyzed using a t-test to determine the differences in quality between treatments. Then, the chi-square test was used to compare the observed and expected values. The results showed no significant difference (P0.05) in frozen semen quality of Friesian Holstein proven bull and Friesian Holstein grade B bull. In conclusion, the different genetic qualities of bulls did not affect the quality of frozen semen.
Hubungan antara Tingkah Laku Seksual dengan Produksi Spermatozoa Sapi Brahman Sholikah, Nisa'us; Sutomo, Aris; Widiasmoro, Ndaru Pranowo; Wahjuningsih, Sri; Yekti, Aulia Puspita Anugra; Kuswati, Kuswati; Susilawati, Trinil
Jurnal Agripet Vol 18, No 2 (2018): Volume 18, No. 2, Oktober 2018
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v18i2.12036

Abstract

ABSTRAK. Pejantan untuk program inseminasi buatan adalah pejantan unggul yang diseleksi berdasarkan libido dan produksi spermatozoa. Penelitian bertujuan untuk menganalisa hubungan antara tingkah laku seksual dengan produksi spermatozoa sapi Brahman. Materi penelitian adalah 3 pejantan sapi Brahman yang ditampung menggunakan vagina buatan. Metode penelitian adalah observasional dengan mengamati waktu reaksi dan lama ejakulasi. Observasi laboratorium dengan mengamati volume, konsentrasi, dan motilitas individu untuk menghitung total spermatozoa (TS) dan total spermatozoa motil (TSM). Pengamatan dilakukan sebanyak 10 ulangan. Data dianalisa secara deskriptif serta hubungan antara tingkah laku seksual dan produksi spermatozoa dihitung dengan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat variasi tingkah laku seksual dan produksi spermatozoa pada sapi Brahman. Individu Cipta mempunyai waktu reaksi dan lama ejakulasi paling singkat serta produksi spermatozoa paling rendah. Hubungan signifikan antara waktu reaksi dengan TS serta TSM pada individu Bizzyard dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 14 % dan 20%. Hubungan sangat signifikan antara lama ejakulasi dengan TS serta TSM pada individu Cipta dengan R2 sebesar 46% dan 58%. Kesimpulan penelitian adalah terdapat hubungan antara tingkah laku seksual dengan produksi spermatozoa pada sapi Brahman, dengan koefisien korelasi (r) tertinggi sebesar 0,72 dan R2 sebesar 58% antara lama ejakulasi dan total spermatozoa motil pada individu Cipta.(The relationship between sexual behavior and semen production in Brahman bulls)ABSTRACT. Bulls for artificial insemination must be selected based on libido and sperm production. The study aimed to analyze the relationship between sexual behavior with sperm production on Brahman bulls. The material was 3 Brahman bulls collected using artificial vagina. The method was observational by observing reaction time and ejaculation duration. Laboratory observations by observing volume, concentration, and motility to calculate total sperm (TS) and total motile sperm counts (TMSC). Observations were replicated 10 times. The data were analyzed descriptively, the relationship between behavior and sperm production was examined using Pearson correlation. The results showed that there were variations in sexual behavior and sperm production in each bull. Cipta have the shortest reaction time and ejaculation duration and the lowest sperm production. A significant relationship between reaction time and TS and TMSC in Bizzyard with coefficient of determination (R2) of 14% and 20%. A very significant between ejaculation duration with TS and TMSC in Cipta with R2 of 46% and 58%. In conclusion, there was a relationship between sexual behavior and sperm production in Brahman bulls, with the highest correlation coefficient (r) of 0.72 and R2 of 58% between ejaculation duration and the total motile sperm counts in Cipta.
Co-Authors Achadiah Rachmawati Adelina Ari Hamiyanti Ahmad Budi Purnawan Ahmad Salim Ali mahfud Ali Mahfud Alifian Ibnu Ansori Amalia, Anny Andriani, Nadya Meyta Andriawan Soni Hantoro Ardyah Ramadhina Irsanti Putri Aris Sutomo Aryogi Aryogi Asri Nurul Huda Asri Nurul Huda Aziz, Achmad Fadhli Azmi, Dandy Ulul Bayuardhi, Muhammad Chusnul Hanim Dandy Prasetyo Dedi Muhammad Deny Sulistyowati Dian Ratnawati Dicky Pamungkas Dwi Susan Setiyani Erin Ayu Octaviani Errico Errico Faizal Andri fakhri alfi annashru Febrianto, Nanang Firdaus, Amir Gatot Ciptadi Hanief Eko Sulistyo Hermanto Hisyam Ryandhika Kusuma Ika Fitri Puspitasari Ika Nurjannah Irvan Mardi Ismail Hasan, Ismail Jois Harsah Joko Riyanto Khairul Rasyad Kurniaesa, Titah Ulya Kusmartono Kusmartono Kuswati , Kuswati Kuswati Kuswati Kuswati Lukman Affandhy Sunarto Luqman Affandhy M. Nur Ihsan Mashudi , Mashudi Mashudi Moch Saifudin Muchamad Luthfi Muhammad Ade Salim Muhammad Agus Tahar Muhammad Azharil Faris Muhammad Dikman Muhammad Nur Ihsan Muhammad Zainul Hanif Muhammad Zainul Hanif Nafis, Fardha Ad Durrun Nanang Febrianto Nareswara Hapsari Ndaru Pranowo Widiasmoro Nisa, Dhinda Choirun Nisa’us Sholikah Nolasco da costa Nursahida Ramadhani Nurul Isnaini Nurul Layla Nuryadi Nuryadi Poespitasari Hazanah Ndaru Pramudhita, Anggita Dian Priyo Sugeng Winarto Putri Utami Putri Utami Putri Utami Putri Utami, Putri Rahmawati, Nanda Ayu Ramadhani, Anisa Ravenska Ravenska Rheta Eva Ramadhani Setiawan Rifai Mustofa Ristrushana, Nurma Angelita Rizki Prafitri Rizki Prafitri Safa, Firlia Safitri, Brilla Ismaya Setiawan, Raka ShikhMaidin, Mashitah Sitiadira Aulia Aldini Sri Wahjuningsih Sri Wahjuningsih Sulistyo, Hanief Eko Sulistyowati, Deny Sutomo, Aris Syah, Habib Asshidiq Trinil Susilawati Trinil Susilawati Trinil Susilowati Umamah, Azna Roudlotul Nur Wahjuningsih , Sri Wahyudi, Aditiya Widiasmoro, Ndaru Pranowo Willy Saputra Saputra Tatulus Wiranto Wiranto Yadi Malda