Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

CUSTOMARY SANCTIONS FOR NON-PRAYING INDIVIDUALS IN LIMA PULUH KOTA: A SADD AL-DZARIAH PERSPECTIVE ON STRENGTHENING SOCIAL NORMS Desembri, Desembri; Busyro, Busyro; Ikhwan, Ikhwan
Al Ushuliy: Jurnal Mahasiswa Syariah dan Hukum Vol 3, No 2 (2024)
Publisher : UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/alushuliy.v3i2.13034

Abstract

This article examines the implementation and impact of social sanctions imposed on deceased individuals who did not perform prayers in Nagari Andaleh, Lima Puluh Kota Regency. In Islam, performing funeral prayers is a collective obligation for Muslims. However, in Nagari Andaleh, a unique policy is practiced: funeral prayers are withheld for those who never observed daily prayers during their lives. This practice is rooted in the local interpretation of Islamic teachings. Using the Sadd al-Dzariah approach, this study explores how these sanctions influence religious awareness and social cohesion within the community. Employing an ethnographic research method, the study integrates field observations, in-depth interviews, documentation, and juridical and sociological analyses. The findings reveal that these sanctions act as both informal law enforcement and a strategic effort to reinforce religious values and collective consciousness. The article provides an in-depth analysis of the social, psychological, and spiritual implications of this policy, offering valuable insights into the evolving interplay between religion, culture, and community identity in Nagari Andaleh. This study not only highlights the local community's innovative approach to addressing religious obligations but also sheds light on its broader impact on shaping behavior and sustaining religious norms.
TINJAUAN ‘URF TERHADAP TRADISI MANGGADAIKAN ANAK KARENA TA IMPOK PALAPA NDAYANG OLEH MASYARAKAT MUARA KANDIS PUNGGASAN Insani, Silvi Sri; Zulfan, Zulfan; Ikhwan, Ikhwan
al-Rasῑkh: Jurnal Hukum Islam Vol. 13 No. 1 (2024): July
Publisher : Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda'wah Bangil Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/rasikh.v13i1.1653

Abstract

This research was conducted to examine the tradition of pawning children because of the ta impok palapa ndayang by the Muara Kandis Punggasan community. This tradition is a hereditary custom where children who have impok palapa ndayang will be pawned to the bako. This habit is believed by the community to protect children from bad things and maintain family harmony. This research aims to describe the process of implementing this tradition in Muara Kandis Punggasan and review the perspective of Islamic law ('urf) towards this custom. The research method used is qualitative with a descriptive approach. Data was collected through observation, interviews and documentation studies with informants consisting of communities directly involved in this traditional practice as well as local traditional leaders. The results of the research show that the process of implementing the tradition of pawning children involves several stages, including selecting the child who will be impok palapa ndayang, accepting the pawn by the bako, handing over the child, and redeeming the pawn. This tradition is carried out with the belief that if it is not implemented, it can have negative consequences for the family.
INDONESIAN CONSTITUTIONAL LAW, THE CONSTITUTION IN ISLAMIC LAW, AND CONSTITUTIONALISM Asasriwarni, Asasriwarni; Matondang, Ikhwan; Ali, Azizah
AS-SAIS (JURNAL HUKUM TATA NEGARA/SIYASAH) Vol 9, No 2 (2025): AS-SAIS : Jurnal Hukum Tata Negara / Siyasah
Publisher : Hukum tata Negara/Siyasah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/as-sais.v9i2.19083

Abstract

In governing the state, government, and society through legal norms in the Republic of Indonesia, Pancasila is a fundamental norm. The 1945 Constitution of the Republic of Indonesia has undergone four stages of change throughout history, namely the 1945 Constitution, the process of constitutional change in Indonesia's history, and several instances where political forces have been used to interpret it. Both work together to create a good governance system that benefits all citizens. Therefore, a grand design must be formulated to ensure that legislation has a clear direction and accelerates the realization of a welfare state. Policies determine the legal rules that should apply in various aspects of social and state life. The research objective is to understand the existence of law and power to regulate life as the foundational principle of the state. The method used is a normative research approach through a historical perspective, employing library research. Indonesia is not a country that fully adheres to Islamic law, but it is a legal state where all policies, whether currently in effect or future, are based on law. The abundance of positive law influenced by Islamic law is partly due to Indonesia having the largest Muslim population in the world.
Janda dalam Melaksanakan Fungsi Keluarga di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang Muharramah, Shinta; Ikhwan, Ikhwan
Jurnal Perspektif Vol 7 No 1 (2024): Jurnal Perspektif: Jurnal Kajian Sosiologi dan Pendidikan, Universitas Negeri Pad
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/perspektif.v7i1.756

Abstract

Peneltian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana janda dalam melaksanakan fungsi keluarga, serta memetakan fungsi-fungsi apa saja yang terlaksana di dalam keluarga janda tersebut. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena di Nagari Koto Tangah pada tahun 2015- 2022 jumlah janda mengalami peningkatan, sehingga fungsi dalam keluarga tidak dapat terlaksana dengan baik karena hanya satu orang tua saja yang melaksanakannya. Namun di Nagari Koto Tangah ada 14 janda yang dapat melaksanakan fungsi keluarga dengan baik. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Struktural Fungsional yang dikembangkan oleh Talcott Parsons. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus. Teknik pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah 14 informan. Dengan kriteria 7 janda cerai hidup dan 7 janda cerai mati. Dalam pengumpulan data dilakukan secara observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Lokasi penelitian di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa janda dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga secara keseluruhan berjalan dengan baik. Dimana fungsi keluarga yang terlaksana yaitu pertama, fungsi sosialisasi, dimana janda dalam pembentukkan karakter dan kepribadian pada anak dapat terlaksana dengan baik. Kedua, fungsi afeksi, dalam pemberian kasih sayang janda melakukan pendekatan dengan cara mendekatkan diri untuk bercerita atau curhat dengan anaknya. Ketiga, fungsi perlindungan, dalam melaksanakannya tidak terkendala, karena beberapa janda dibantu oleh keluaraga dan saudaranya. Keempat, fungsi ekonomi, dapat terlaksana meskipun pada awal perpishan janda sedikit terkandala karena beberapa dari janda ada yang tidak bekerja pada saat masih bersama.
IMPLEMENTASI HUKUM ISLAM DALAM PEMBATASAN PELAKSANAAN SENI MUSIK ORGEN TUNGGAL PADA PESTA PERKAWINAN DI MASYARAKAT NAGARI SULIT AIR KABUPATEN SOLOK Afiqah, Siti Salma; Ikhwan, Ikhwan; Zulfan, Zulfan
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 13 No 02 (2025): Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/am.v13i02.7067

Abstract

Penelitian ini bermaksud mengkaji bagaimana pandangan Islam terhadap budaya seni musik orgen dalam acara perkawinan dan bagaimana proses dan faktor pembatasan budaya orgen dalam pesta perkawinan pada masyarakat Nagari Sulit Air Kabupaten Solok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun metode yang digunakan adalah metode Etnografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Dalam ajaran Islam, tidak ada dalil yang secara tegas mengharamkan musik, sehingga musik dianggap mubah selama tidak mengandung unsur-unsur negatif yang mendorong perbuatan maksiat. Dengan demikian, penggunaan kesenian orgen sebagai hiburan dalam acara perkawinan diperbolehkan dan bahkan dianjurkan dalam Islam sebagai bagian dari perayaan perkawinan. Namun, perubahan pelaksanaan orgen belakangan ini sering kali mengandung unsur-unsur negatif, sehingga tentu mengubah ketentuan hukum yang sebelumnya mubah menjadi haram. Berbeda dengan masyarakat Nagari Sulit Air dalam mengadakan orgen pada pesta perkawinan masih memperhatikan dan mematuhi ketentuan-ketentuan yang disyariatkan dalam Islam agar tidak keluar dari batas-batas yang diperbolehkan
The Contribution of Islamic Law as One of the Sources of National Law in the Formation and Development of Agrarian Law in Indonesia Gantika, Naldi; Asasriwarni, Asasriwarni; Ikhwan, Ikhwan
The Future of Education Journal Vol 4 No 8 (2025): #2
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v4i8.1185

Abstract

The development of National Strategic Projects (NSP) requires a substantial amount of land. However, the land acquisition process in Indonesia often encounters the complexity of legal pluralism, particularly in regions where customary law remains deeply rooted, such as West Sumatra, Jambi, and Riau. In West Sumatra, communal and sacred ulayat rights pose significant challenges to the implementation of land acquisition under Law No. 2 of 2012. Similarly, in Jambi and Riau, various forms of customary land rights remain fundamental to local decision-making, which often diverges from state law. This study examines the dynamics of interaction between state law and customary law in NSP land acquisition through a comparative approach. The findings reveal that disharmony between these two legal systems can trigger agrarian conflicts and social resistance, potentially obstructing development. Nevertheless, legal pluralism also provides opportunities for negotiation, adaptation, and the creation of more inclusive models of legal harmonization. This study emphasizes the importance of participatory and responsive approaches in national agrarian policy to ensure that NSP development proceeds in a just manner while respecting local wisdom.
Hukum Perdata Islam dan Hukum Perdata Indonesia: Penelitian Septrina, Nazmi; Asasriwarni, Asasriwarni; Ikhwan, Ikhwan
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4564

Abstract

Civil law is a branch of law that regulates relationships between individuals in social life. In the Indonesian context, civil law has two main systems that operate side by side: Indonesian civil law, which originates from the Dutch Civil Code (Burgerlijk Wetboek) and national regulations, and Islamic civil law, which originates from the Qur'an, Hadith, ijma', qiyas, and the Compilation of Islamic Law (KHI). Indonesian civil law emphasizes legal certainty, codification, and the principle of secularity, while Islamic civil law prioritizes justice, welfare, and sharia values. Both cover family, marriage, inheritance, and property, but their regulatory mechanisms differ. District Courts are authorized to handle Indonesian civil law cases, while Religious Courts have jurisdiction over Islamic civil cases for Muslims. Thus, this comparison demonstrates that the two legal systems complement each other in legal practice in Indonesia, reflecting the distinctive legal pluralism and providing alternative dispute resolutions tailored to the needs of society.
TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG TRADISI MARAPULAI BASUNTIANG DI DAERAH INDERAPURA PESISIR SELATAN Oktaviani, Novi; Ikhwan, Ikhwan; Zulfan, Zulfan
YUSTISI Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v13i1.22863

Abstract

Tradisi marapulai basuntiang merupakan bagian dari adat pernikahanMasyarakat Minangkabau yang menampilkan pengantin laki-laki mengenakan suntiang, hiasan kepala yang secara umum identik dengan perempuan. Hal ini menimbulkan perdebatan fiqih karena dianggap menyerupai lawan jenis (tasyabbuh), yang dilarang dalam ajaran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hukum pemakaian suntiang oleh marapulai dalam perspektif hukum Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, serta kajian terhadap hadis,konsep ‘urf, niyyah, dan maqashid al-syari’ah, ditemukan bahwa praktik ini tidak termasuk dalam kategori tasyabbuh yang diharamkan. Pemakaian suntiang tidak dimaksudkan untuk menyerupai perempuan, melainkan sebagai simbol tanggung jawab dan penghormatan terhadap adat. Dengan demikian, tradisi ini dapat diterima dalam bingkai syariat selama tidak mengandung unsur niat menyerupai lawan jenis secara identitas. Kata Kunci: marapulai, suntiang, tasyabbuh, hukum Islam, adat Minang
TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG TRADISI MARAPULAI BASUNTIANG DI DAERAH INDERAPURA PESISIR SELATAN Oktaviani, Novi; Ikhwan, Ikhwan; Zulfan, Zulfan
YUSTISI Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v13i1.22863

Abstract

Tradisi marapulai basuntiang merupakan bagian dari adat pernikahanMasyarakat Minangkabau yang menampilkan pengantin laki-laki mengenakan suntiang, hiasan kepala yang secara umum identik dengan perempuan. Hal ini menimbulkan perdebatan fiqih karena dianggap menyerupai lawan jenis (tasyabbuh), yang dilarang dalam ajaran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hukum pemakaian suntiang oleh marapulai dalam perspektif hukum Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, serta kajian terhadap hadis,konsep ‘urf, niyyah, dan maqashid al-syari’ah, ditemukan bahwa praktik ini tidak termasuk dalam kategori tasyabbuh yang diharamkan. Pemakaian suntiang tidak dimaksudkan untuk menyerupai perempuan, melainkan sebagai simbol tanggung jawab dan penghormatan terhadap adat. Dengan demikian, tradisi ini dapat diterima dalam bingkai syariat selama tidak mengandung unsur niat menyerupai lawan jenis secara identitas. Kata Kunci: marapulai, suntiang, tasyabbuh, hukum Islam, adat Minang
The Existence Of The Seumeubeut Tradition In Dayah Thalibul Huda Gampong Bayu Aceh Besar Urwatil Wusqa; Aslam Nur; Matsyah, Ajidar; Ikhwan, Ikhwan
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Pendidikan Vol 13 No 1 (2026): JURNAL SEUNEUBOK LADA (In Progress)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jsnbl.v13i1.13752

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi adaptasi dan mekanisme pertahanan tradisi seumeubeut di Dayah Thalibul Huda agar tetap eksis di tengah arus modernisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif pada kegiatan seumeubeut serta wawancara mendalam dengan pimpinan dayah, Teungku pengajar, santri dan Jamaah serta analisis dokumen internal dayah dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi tradisi ini di dorong oleh tiga faktor utama (1) pengaruh kharisma pimpinan sebagai penjaga legistimasi tradisi, (2) transformasi pendidikan formal tanpa menghilangkan tradisi seumeubeut, dan (3) penguatan ekonomi masyarakat berbasis jamaah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan Dayah Thalibul Huda terletak pada kemampuan menyelaraskan tradisi klasik dengan tuntutan zaman melalui adaptasi struktural.