Claim Missing Document
Check
Articles

Pandangan Orang Tua Terhadap Penentuan Batas Usia Minimal dan Maksimal Pernikahan pada Perempuan di Kelurahan Lok Bahu Dini, Rahma; Sofyan, Akhmad
QONUN: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-undangan Vol 5 No 2 (2021)
Publisher : FASYA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.996 KB) | DOI: 10.21093/qj.v5i2.4040

Abstract

Differences in parents' views on determining the minimum and maximum age limits for marriage for women in Lok Bahu Village.Parents have different views on determining the minimum age limit for marriage for women in terms of the level of education they have. The minimum age limit set by parents is 17-19 years and the maximum age is 28-30 years. The minimum age limit for marriage is regulated in Law Number 16 of 2019 concerning Marriage, which is to be 19 years old for both men and women. Based on this, the researchers formulated the problem of how the views of parents with low and high education on determining the minimum and maximum age limits for marriage for women in Lok Bahu Village and what factors influence parents in determining the minimum and maximum age limits for marriage for women in Lok Bahu. This study uses empirical legal research, namely research obtained from experience, discoveries, and observations made to obtain field data. The qualitative data analysis technique used in this study uses data analysis techniques according to Miles and Huberman including, collecting data, reducing data, presenting data and drawing conclusions from the data obtained. Thus, it is hoped that the community will prioritize the level of education first before marrying off their daughters.
Tinjauan Maqashid Syariah Terhadap Strategi Mediator Pengadilan Agama Penajam Dalam Upaya Perdamaian Konflik Rumah Tangga Sofyan, Akhmad
QONUN: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-undangan Vol 7 No 2 (2023)
Publisher : FASYA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/qj.v5i1.9193

Abstract

Berdasarkan pengamatan peneliti, mediator Pengadilan Agama Penajam tergolong berhasil dalam penyelesaian perkara cerai dan dapat diukur dengan angka. Di tahun 2021 Pengadilan Agama di Penajam mendapatkan juara nasional dalam kategori mediasi terbaik. Kemudian, hal tersebut masih bertahan di tahun 2022 skor keberhasilan mediasi di Pengadilan Agama Penajam tergolong tinggi. Pada data tahun 2021, tingkat keberhasilan mediasi di Pengadilan Agama Penajam mencapai 70%. Pada 65 perkara yang dimediasi, 46 dinyatakan berhasil. Peneliti ingin mengetahui Bagaimana strategi mediator Pengadilan Agama Penajam dalam upaya perdamaian konflik rumah tangga serta bagaimana tinjauan maqashid syariah terhadap strategi mediator tersebut dalam perdamaian konflik rumah tangga. Jenis penelitian ini adalah penelitian empiris-normatif dengan analisis deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini menggunakan dua sumber data, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun untuk analisis data menggunakan beberapa tahapan, yakni Pengumpulan data (data collection), Pengurangan data (data reduction), Penyajian data (data display), serta Kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini adalah adalah dalam upaya perdamaian konflik rumah tangga mediator mempunyai beberapa strategi yang diterapkan, yakni 1) Pendekatan agama. 2) mediator menilai dangkalnya suatu konflik. 3), Memahami sifat para pihak. 4) Pendekatan dengan menggunakan fasilitas di ruang mediasi. 5) Pendekatan keluarga. 6) Pendekatan psikologis. Dan 6) pendekatan secara kaukus. Adapun menurut konsep maqashid syariah, strategi yang dilakukan oleh mediator dalam perdamaian konflik telah sesuai dengan tujuan maqashid syariah yakni Hifdz al din, Hifdz Al-Nafs dan Hifdz al-Aql.
Pasemon Sebagai Bahasa Kritik Dalam Seni Pertunjukan Masyarakat Madura Sofyan, Akhmad; Hidayatullah, Panakajaya; Badrudin, Ali
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 2 (2020): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.306

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian antropologi seni yang membahas perihal pasemon sebagai bahasa kritik dalam seni pertunjukan masyarakat Madura. Secara komprehensif menelaah tentang klasifikasi model pasemon sebagai bahasa kritik dalam seni pertunjukan masyarakat Madura ditinjau secara semiotik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pasemon dalam seni pertunjukan terbagi atas 3 model yakni Model Papareghân/paparèkan; Model sindiran langsung; dan Model penokohan; Model Paparèkan merupakan model kritik yang disampaikan melalui bentuk pantun tradisional berbahasa Madura baik secara langsung maupun melalui kèjhungan(nyanyian). Paparèkan digunakan untuk mengkritik lawan main dalam pertunjukan, maupun untuk mengkritik fenomena sosial masyarakat. Model sindiran langsung, merupakan moda kritik yang diucapkan secara langung dengan kalimat yang lugas oleh aktor/pelawak di atas panggung. Umumnya sindiran diucapkan dengan gaya humor. Sindiran langsung digunakan untuk mengkritik penonton, tuan rumah, situasi sosial maupun perilaku masyarakat hari ini. Model penokohan, adalah moda kritik
Permissibility of Advance Payment in Online Sales: An Analysis Studi of Fiqh Muamalah Atiqah, Nur; Hervina, Hervina; Sofyan, Akhmad; Bah, Robiah
Ghaly: Journal of Islamic Economic Law Vol 2 No 1 (2024): Ghaly: Journal of Islamic Economic Law
Publisher : Islamic Economic Law Study Program, Faculty of Sharia Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Islamic State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/ghaly.v2i1.6205

Abstract

This article discusses online buying and selling, especially contracts. The author found several consumers who carried out the buying and selling. This research aims to find out the practice of paying at the beginning of a transaction in online buying and selling and how Fikih Muamalah reviews this practice. Type of normative, empirical research with qualitative descriptive analysis. The respondents of this research were 21 consumers who made payments in advance for online buying and selling in the Loa Janan Ilir sub-district. The data collection techniques used by the author are observation, interviews, and documentation. The data analysis technique used is data management from interviews, documentation, and literature using qualitative descriptive analysis patterns.The results of this research obtained: first, the practice of payment at the beginning of transactions in online buying and selling in the community in Loa Janan Ilir sub-district is carried out by buyers ordering goods in the online shop application and stating the specifications of the desired goods and making payment immediately in advance according to the stated price. In the visual depiction, it is to be noted that the total cost encompasses not only the item's price but also the shipping charges. Furthermore, it must be noted that the dispatch of the goods in question will be deferred for several days before their shipment. Second, people in Loa Janan Ilir often buy and sell online using greeting contracts. Where payment must be made immediately for something that is still pending. This is permitted by some scholars as long as it does not conflict with Sharia law‟ applicable. However, some scholars do not allow this buying and selling because it is considered detrimental to one party. The seller must state in detail the details of the goods being sold to avoid elements of fraud.
Implementation of Khiyar Ta'yin in Online Flash Sale Product Purchase Transactions Hikmah, Saripatul; Fillah, Muchammad Machbub; Sofyan, Akhmad
Ghaly: Journal of Islamic Economic Law Vol 1 No 2 (2023): Ghaly: Journal of Islamic Economic Law
Publisher : Islamic Economic Law Study Program, Faculty of Sharia Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Islamic State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/ghaly.v1i2.6221

Abstract

The khiyar right that provides specific information related to similar products but different in quality is khiyar ta'yin. In practice, in purchasing flash sale products in the TikTok Shop marketplace, there are comments and testimonial columns contain various consumer experiences related to the products they have previously purchased, in the comments and testimonial columns there are also reviews related to product information both in terms of quality and so on, but many consumers who use testimonials and comments as a reference feel cheated in terms of product quality because it does not match the contents of the information provided in the testimonial reviews and comments on the TikTok Shop marketplace. With the formulation of the problem, namely first, how is the implementation of khiyar ta'yin in online flash sale product purchase transactions on the TikTok Shop marketplace according to the review of muamalah fiqh, second, how do Sharia Faculty students view testimonials and user comments as a reference in finding product information to be purchased. The purpose of the research is to find out the implementation of khiyar ta'yin in online flash sale product purchase transactions on the TikTok Shop marketplace according to muamalah fiqh review, and to find out the views of Sharia Faculty students on testimonials and user comments as a reference in finding product information to be purchased by consumers.This research uses qualitative research with an empirical normative approach, with primary data sources, namely the results of interviews with 20 students of the Faculty of Sharia UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda and secondary data consisting of the book of Fikih Muamalah, Kitab Bulughul Maram, and Kitab tafsir Ibn Kathir, journals, scientific articles, and other scientific works. The data were obtained from observations, interviews, and documentation, then the author analysed the data with descriptive qualitative methods.The results showed that the implementation of khiyar ta'yin in flash sale product purchase transactions on the TikTok Shop marketplace is not fully in accordance with fiqh muamalah because traders and buyers do not know about khiyar ta'yin so that the form of implementation of khiyar ta'yin carried out by sellers and buyers occurs by itself with business ethics to achieve benefits in the form of an element of willingness between traders and . and from the results of the interview there are still several cases of consumers who feel cheated, so from this product description, testimonials and comments there is still an element of gharar in it and can cause mafsadah to other consumers, And from the results of the interviews there are still several cases of consumers who feel cheated, so departing from this product description, testimonials and comments there is still an element of gharar in it and can cause mafsadah to other consumers.
Kyai and His Family’s Criticism and Praise toward Santri at Pesantren Badrudin, Ali; Sofyan, Akhmad; Salikin, Hairus; Muta'allim; Wijaya, Roma
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 31 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v31i2.10940

Abstract

The communication system in pesantren tends to be figurative. Kyai and his family often use figurative patterns to convey criticism and praise to Santri. This study describes the form, type, and function of criticism and praise of kyai and his family to santri. The theory used to explore criticism and praise is a descriptive and socio-pragmatic theory with the ethnographic method of communication. This research is qualitative. The method used in data collection is the participant observation method. The researchers observed conversations between kyai and their families with the santri, especially those involving criticism and praise. We conducted interviews with koai, pesantren families, and santri equipped with recording and note-taking techniques. The collected data was then reduced and classified based on categories. Subsequently, we transcribed the data in orthographic form and translated it into Indonesian. The results showed that there were two categories of speech in the pesantren environment, namely criticism, and praise; (1) The form of criticism of kyai and his family to santri are reprimands, command, satire, advice, and praise; (2) The forms of praise are motivation, praise, and reprimand. In the motivation and praise, speakers always use subtle, figurative, and direct sentences, while in the reprimand, speakers always praise the interlocutor by criticizing a third person.
Dinamika penerapan prinsip kerja sama dalam dialog tokoh novel Hujan karya Tere Liye: Analisis pragmatik wacana fiksi Awalia Romadhona, Nora; Sofyan, Akhmad; Dewi, Agustina
Jurnal Genre (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) Vol. 7 No. 1 (2025): JURNAL GENRE: (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jg.v7i1.12792

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya pematuhan prinsip kerja sama dalam percakapan antartokoh pada novel Hujan karya Tere Liye. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk prinsip kerja sama dalam percakapan antartokoh pada novel Hujan karya Tere Liye. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membaca, menyimak, dan mencatat. Teknik analisis data dalam penelitian ini mencakup reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam dialog antartokoh pada novel Hujan karya Tere Liye ditemukan empat bentuk maksim, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Secara keseluruhan, terdapat 73 kutipan percakapan dalam novel yang menerapkan prinsip kerja sama, dengan rincian 24 tuturan memenuhi maksim kuantitas, 15 tuturan memenuhi maksim kualitas, 17 tuturan memenuhi maksim relevansi, dan 12 tuturan memenuhi maksim cara. Prinsip kerja sama dalam novel Hujan karya Tere Liye berfungsi sebagai piranti strategis untuk membangun karakterisasi tokoh dan mengembangkan alur cerita. Dominasi maksim kuantitas menunjukkan bahwa dialog dalam novel ini cenderung informatif dan efisien, membantu pembaca memahami konteks naratif dengan lebih jelas. Kepatuhan terhadap maksim kualitas mencerminkan kejujuran dan keterbukaan yang menjadi tema sentral dalam novel, sementara penerapan maksim relevansi berperan dalam menciptakan koherensi alur cerita.
Bentuk dan Fungsi Gaya Bahasa pada Poster Dakwah Karya Muslim Designer Community di Facebook Santuso, NFN; Sofyan, Akhmad
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 4 No. 2 (2022): Linguistic Studies
Publisher : LP2M IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v4i2.4325

Abstract

Poster dakwah karya MDC mengandung keunikan tinggi karena bukan sekadar desain grafis, tetapi juga memuat berbagai gaya bahasa di dalamnya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan manfaat gaya bahasa pada poster dakwah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Tahap pengumpulan data menggunakan metode simak, sedangkan tahap analisis data menggunakan metode padan dan metode agih. Berdasarkan hasil penelitian, bentuk gaya bahasa yang digunakan pada poster dakwah terdiri atas 20 macam yaitu aliterasi, asonansi, anastrof, asindeton, kiasmus, paradoks, litotes, tautologi, perifrasis, eufemisme, erotesis, koreksio, hiperbola, simile, metafora, personifikasi, alusi, sinekdoke, metonimia, dan paronomasia. Fungsi dan manfaat gaya bahasa tersebut ialah menciptakan efek bahasa yang indah dan unik, memberikan penekanan, mempermudah menjelaskan sesuatu, memberikan sugesti yang kuat, menghasilkan makna yang lebih halus, menjaga kesopanan, memerintah secara implisit, memuliakan pihak lain, menghemat ruang dalam poster, memperkuat ekspresi emosi, dan sekadar berjenaka.   
PERSEPSI KEPALA KUA KOTA SAMARINDA TERHADAP KEDUDUKAN WALI NIKAH BAGI ANAK HASIL NIKAH SIRI DALAM TINJAUAN MAQASHID SYARIAH Ashary, Sayyidil Haqqy; Sofyan, Akhmad
Mitsaq: Islamic Family Law Journal Vol 2 No 2 (2024): MITSAQ, VOLUME 2 NOMOR 2, 2024
Publisher : Fasya UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/jm.v2i2.6534

Abstract

Pernikahan siri tentunya akan berdampak kepada anak yang mereka lahirkan. Artikel ini membahas tentang persepsi Kepala KUA terhadap kedudukan wali nikah bagi anak hasil nikah siri dalam tinjauan Maqashid Syariah. Merupakan penelitian kualitatif, sifatnya deskriptif, menggunakan pendekatan empris normatif. Subjek penelitian yaitu Kepala KUA dan pelaku nikah siri di Samarinda. Hasil kajian, persepsi Kepala KUA terbagi menjadi dua, pertama menyatakan bahwa orang tua dari anak hasil nikah siri dapat menjadi wali karena pencatatan pernikahan adalah syarat administrasi, bukan syarat sahnya perkawinan. Pendapat kedua, pencatatan perkawinan itu bagian dari syarat keabsahannya perkawinan secara hukum agama dan negara sehingga ayahnya tidak boleh menjadi wali kecuali jika ayahnya telah melakukan sidang isbat nikah dengan ibunya. Adapun terhadap dua Persepsi yang ada bahwa persepsi pertama lebih diunggulkan karena termasuk pada maqashid dharuriyat yang mana melihat status wali jika sah secara syariat sudah cukup untuk menjadi wali dengan mempertimbangkan jika pernikahan anak hasil pernikahan siri ini ditunda, akan berakibat terjadinya nikah siri yang mengakibatkan terhalangnya maqashid syariah yakni menjaga keturunan. Sedangkan pada pendapat kedua lebih masuk kepada maqashid hajiyah karena bagi anak hasil nikah siri harus menunggu putusan isbat nikah kedua orang tuanya agar bisa menjadi wali dan mengurus administrasi pendaftaran nikah di KUA.
TINJAUAN HUKUM KELUARGA TERHADAP FENOMENA KEKHAWATIRAN PARA JANDA UNTUK MENIKAH KEMBALI Aqiqa, Ikfini Haula; Sofyan, Akhmad
Mitsaq: Islamic Family Law Journal Vol 2 No 1 (2024): MITSAQ VOLUME 2, NOMOR 1, 2024
Publisher : Fasya UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/jm.v2i1.7142

Abstract

Pertimbangan dari para janda yang khawatir untuk menikah kembali, sering muncul dan dihubungkan dengan adanya kekhawatiran dalam menghadapi situasi yang pernah terjadi yaitu kegagalan pada pernikahan sebelumnya, yang wanita khawatirkan adalah pikiran-pikiran apakah kebahagiaan yang mereka inginkan dapat tercapai setelah menikah kembali. Maka dari kasus tersebut dapat dipahami bahwa masih banyak para janda yang khawatir untuk menikah kembali padahal menikah kembali ini telah diatur dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris normatif dengan analisis deksriptif kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data adalah dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang peneliti gunakan ialah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa: 1) faktor yang melatarbelakangi kekhawatiran para janda untuk menikah kembali didasari oleh faktor internal dan eksternal. 2) Tinjauan hukum keluarga terhadap fenomena kekhawatiran para janda untuk menikah kembali sebagai berikut ini: bagi wanita janda yang memilih tidak menikah karena khawatir akan rasa trauma atau kesulitan dalam hal emosional itu hukumnya makruh. Selanjutnya bagi wanita janda yang memilih tidak menikah kembali sehingga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan biologisnya secara sah, maka hukumnya wajib menikah kembali. Selanjutnya bagi wanita janda yang memilih untuk tidak menikah lagi dan menjadi orang tua tunggal yang hanya fokus mencari nafkah untuk anak-anaknya, maka hukum untuk menikah kembali ialah mubah. Adapun bagi wanita janda yang tidak mendapat izin dari anak-anaknya sehingga tidak menikah kembali itu hukumnya mubah. Selanjutnya hukum dari faktor stigma sosial yang ada di masyarakat untuk menikah kembali ialah sunnah.