Claim Missing Document
Check
Articles

Kandungan Logam Berat pada Residu Insinerator Limbah Medis dan Pengendalian Risiko Kesehatan Lingkungannya Nasir, Mohammad; Joko, Tri; Budiyono, Budiyono
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i4.58625

Abstract

Pengolahan limbah medis rumah sakit melalui insinerator masih menjadi tantangan di negara berkembang, termasuk Indonesia, karena dapat memengaruhi kesehatan dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan logam berat dalam residu insinerator limbah medis, serta mengidentifikasi risiko kesehatan yang terkait. Metode yang digunakan adalah tinjauan sistematik terhadap 21 artikel yang relevan, yang mencakup analisis kandungan logam berat dalam bottom ash dan fly ash dari insinerator. Penemuan menunjukkan bahwa residu ini mengandung elemen toksik potensial (PTEs) seperti arsenik, kadmium, timbal, dan merkuri, dengan konsentrasi yang seringkali melebihi batas baku mutu yang ditetapkan. Pembuangan residu secara landfill berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan dan risiko kesehatan bagi masyarakat sekitar. Implikasi dari penelitian ini menekankan perlunya pengendalian yang lebih baik terhadap limbah insinerator, termasuk pengembangan teknik pengolahan yang ramah lingkungan dan peningkatan kesadaran bagi petugas. Penelitian ini juga merekomendasikan penguatan regulasi dan metode pemantauan untuk mengurangi dampak negatif dari limbah medis, serta perlunya studi lebih lanjut mengenai teknik ekstraksi logam berat yang efisien dan penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam pengelolaan limbah medis.
Apakah Dana IPO dan Reputasi Underwriter Mempengaruhi Kesuksesan IPO? Turnip, Cornelius Saryadi; Tri Joko
Jurnal Ekonomi Bisnis, Manajemen dan Akuntansi (Jebma) Vol. 3 No. 3 (2023): Artikel Riset Volume 3 Issue 3, November 2023
Publisher : Yayasan Cita Cendikiawan Al Kharizmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/jebma.v3i3.2927

Abstract

Investor harus mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi underpricing perusahaan. Terutama faktor yang memperlemah ekomomi. Dampaknya investor mendapatkan keuntungan dari kegiatan IPO perusahaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dana IPO, reputasi underwriter, reputasi auditor, dan Tujuan penggunana dana IPO terhadap underpricing di BEI sebelum dan saat krisis. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif. Pengumpulan data diambil dari laporan prospektus 322 perusahaan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Dana IPO dan reputasi underwriter berpengaruh negatif terhadap underpricing. Sedangkan, reputasi dan tujuan penggunaan dana IPO tidak berpengaruh terhadap underpricing. Dana IPO dan reputasi underwriter meningkatkan underpricing perusahaan ketika melakukan IPO.
Respiratory and Neurological Health Effects of Chromium and PM Exposure among Troso Woven Fabric Workers: A Cross Sectional Study in Jepara Darundiati, Yusniar Hanani; Joko, Tri; Setiani, Onny; Raharjo, Mursid; Nurjazuli, Nurjazuli; Rahman, Muhammad Auliya
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 23 No. 4 (2025): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v23i4.371

Abstract

The Troso weaving industry in Jepara, Indonesia, is a traditional craft sector that relies on synthetic dyes and manual production, thereby exposing workers to chromium (Cr) and particulate matter (PM2.5 and PM10) with potential respiratory and neurological risks. This study aimed to analyze their association with respiratory and neurological disorders among workers. A cross-sectional design was applied involving 101 weaving workers from four production sites. Environmental sampling measured Cr concentrations in wastewater and PM2.5/PM10 in the ambient air, while worker characteristics and health complaints were assessed using the ECSC-87 and Q18 questionnaire. Data were analyzed using chi-square tests and odds ratios. Cr concentrations in wastewater ranged from <0.010 to 0.104 mg/L, remaining below the effluent quality standard of 1.0 mg/L but confirming the continuous use of chromium-based dyes discharged without treatment. Average PM2.5 and PM10 levels were 108.75 µg/m³ and 117.75 µg/m³, both exceeding national air quality standards (55 and 75 µg/m³). Bivariate analysis showed that respiratory disorders were significantly associated with exposure duration ≥40 hours/week (OR=7.333; p=0.0001) and working period >5 years (OR=20.935; p=0.0001), whereas dye type, dyeing frequency, and PPE use were not significant. Neurological disorders were significantly associated with exposure duration (p=0.001), working period (p=0.001), type of dye (p=0.0001), frequency of dyeing (p=0.018), and PPE use (p=0.0001). Environmental monitoring confirmed elevated PM levels and chromium-based dye use, while statistical analysis showed that prolonged exposure and long working periods associated with respiratory disorders, and neurological disorders were linked to multiple occupational factors.
Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Demak Hariyanti, Fika; Raharjo, Mursid; Joko, Tri
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 7 No 2 (2023): Volume 7 No 2 Oktober 2023
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/judika.v7i2.21403

Abstract

Demam Berdarah masih menjadi penyakit endemis di Indonesia serta sering menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa (KLB) dengan angka kematian yang tinggi. Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk aedes betina dan saat ini masih menjadi masalah kesehatan yang belum dapat diatasi sepenuhnya. Tujuan penelitian adalah menganalisis faktor yang berhubungan dengan kejadian demam berdarah dengue di Kabupaten Demak. Desain penelitian menggunakan analisis kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Demak Provinsi Jawa Tengah Indonesia pada bulan Januari-Desember 2022. Populasi penelitian adalah pasien yang melakukan periksa di pelayanan kesehatan Kabupaten Demak. Sampel penelitian adalah pasien yang mendapatkan diagnose demam berdarah sejumlah 100 responden. Tekhnik pengumpulan data yaitu observasional dan menggunakan data sekunder. Variabel bebas penelitian adalah umur, jenis kelamin, riwayat demam, nyeri kepala, dan mual atau muntah sedangkan variable terikat adalah kejadian demam berdarah dengue. Data dianalisis dengan uji chi square menggunakan SPSS 23. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan umur (p=0,046), jenis kelamin (p=0,009), riwayat demam (p=0,004), nyeri kepala (p=0,031), dan mual atau muntah (p=0,000) terhadap kejadian demam berdarah dengue. Simpulan adalah perilaku manusia yang menyebabkan terjadinya dan tersebarnya kasus DBD adalah kebiasaan masyarakat yang kurang menjaga kebersihan lingkungan. Untuk mendukung penegakan diagnose pasti demam berdarah dengue dan kesembuhan pasien, maka perlu dilakukan upaya baik secara pribadi maupun kelompok untuk meningkatkan tanggapan cepat berobat.
LITERATURE REVIEW: KUALITAS UDARA DALAM RUANG SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN SICK BUILDING SYNDROME Oktavia, Widya Ayu; Setiani, Onny; Joko, Tri; Sulistiyani, Sulistiyani; Suhartono, Suhartono
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 13, No 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmki.13.3.2025.267-280

Abstract

Indoor air quality is a crucial aspect of creating a healthy and productive work environment. Decreased air quality has the potential to cause various health problems in building occupants. One of the health problems that is often associated with poor indoor air quality is Sick Building Syndrome (SBS). This study aims to synthesize findings from various studies to provide a comprehensive understanding of environmental risk factors that contribute to the occurrence of SBS. This study is a literature review to review the results of previous studies related to indoor air quality and sick building syndrome. The search database used in searching for this article comes from national and international journals. The selection of articles is based on inclusion criteria, including publication within the last 10 years, a cross-sectional study design, and discussion of indoor air quality in relation to the occurrence of SBS. The results of the review of 10 articles showed that the factors that trigger the onset of sick building syndrome symptoms include temperature, humidity, lighting, particulates (PM2.5 and PM10), air flow rate, ventilation systems, and exposure to chemical contaminants. Environmental management as an effort to overcome the occurrence of sick building syndrome includes improving the ventilation system, controlling temperature and humidity, managing chemical contaminants, controlling particulates, and improving lighting. SBS symptoms are influenced by several environmental factors that can affect worker health and productivity. Therefore, environmental management is needed as a way to overcome the occurrence of SBS.
Hubungan Riwayat Penyakit Infeksi dengan Kejadian Stunting (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Kabupaten Brebes) Fitria, Ida; Joko, Tri; Raharjo, Mursid
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 3 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i3.5310

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang masih menjadi perhatian serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Brebes. Penyakit infeksi dan kualitas air minum diduga berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan riwayat penyakit infeksi dan kualitas air minum dengan kejadian stunting pada balita usia 24–59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Kabupaten Brebes. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 70 balita yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pengukuran antropometri, serta pemeriksaan laboratorium kandungan Coliform pada air minum. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat penyakit diare, sumber air minum, pengolahan air minum, serta kandungan Coliform dengan kejadian stunting, sedangkan riwayat ISPA, kecacingan, TBC, dan penyimpanan air minum tidak berhubungan signifikan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa sumber air minum merupakan faktor paling dominan yang berpengaruh terhadap kejadian stunting. Temuan ini mengimplikasikan bahwa upaya penurunan stunting tidak cukup hanya dengan intervensi gizi, tetapi harus diintegrasikan dengan program penyediaan air minum yang layak, pengawasan kualitas air secara berkala, serta pengendalian penyakit infeksi, khususnya diare. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas air minum dan pencegahan penyakit infeksi, khususnya diare, sangat penting dalam upaya penurunan stunting.
Characteristics of soil salinity and its impact on rice yield of coastal rice fields in West Aceh Junita, Dewi; Kurniasih, Budiastuti; Putra, Eka Tarwaca Susila; Joko, Tri; Pazi, Ahmad Mustapha Mohamad
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 13 No. 2 (2026)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2026.132.10115

Abstract

Increasing soil salinity led to a decline in rice yield, particularly in the coastal areas of West Aceh affected by the 2004 tsunami. This study aimed to examine the characteristics of soil salinity in the coastal rice fields of West Aceh during the rainy and dry growing seasons, and to evaluate its impact on rice yield. Soil sampling was conducted using purposive sampling during two growing seasons: the dry growing season (April-September 2024) and the rainy growing season (October 2024-March 2025). Clustering analysis showed that three clusters (sodic and saline-sodic) formed during the dry season, while two clusters (sodic and non-saline non-sodic) formed during the rainy season. The Suak Pante Breuh site changed cluster membership, being sodic in the dry season and non-saline non-sodic in the rainy season. Among all soil chemical properties, soil electrical conductivity (EC) and sodium adsorption ratio (SAR) showed the strongest negative correlations with rice yield, particularly during the dry growing season (r = -0.55; r = -0.50). This study found that rice yield was more affected by salinity than by sodicity. This was illustrated in the Suak Timah 5 site, which was classified as sodic during the rainy season but showed similar rice yields to non-saline and non-sodic sites. In contrast, during the dry season, this site was classified as saline–sodic and recorded lower rice yields than other locations that were classified as sodic.
Analisis implementasi program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) pilar 1 Suryanti, Ratna; Joko, Tri; Darundiati, Yusniar Hanani; Sulistiyani, Sulistiyani; Nurjazuli, Nurjazuli
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2942

Abstract

Background: Environmental sanitation is a crucial factor influencing public health. However, open defecation (ODS) remains common and has the potential to pollute the environment and increase the risk of environmentally transmitted diseases. The Community-Based Total Sanitation (CTS) program is a government effort to encourage community behavior change through five sanitation pillars, one of which is Stopping Open Defecation (SBS). However, SBS achievement in Muara Wis District, Kutai Kartanegara Regency, remains low, and not all villages in the area have achieved SBS status. Purpose: To analyze the implementation of the community-based total sanitation program, pillar 1. Method: This study used an observational, analytical, and cross-sectional design. This study focused on the implementation of STBM Pillar 1, namely bus stops for open defecation prevention, in seven villages (Enggelam, Lebak Cilong, Lebak Mantan, Melintang, Muara Enggelam, and Sebemban) in Muara Wis District, Kutai Kartanegara, from October 2025 to February 2026. A total of 2,944 households in Muara Wis District, with 110 respondents randomly selected using the Slovin formula, were sampled. Data were collected through questionnaires and field observations, then analyzed univariately for frequencies and bivariately using the chi-square test with p < 0.05. Results: Most families had implemented open defecation prevention (71.8%). The bivariate analysis also found a significant relationship between the availability of vacant land (p = 0.001), clean water (p = 0.001), toilets (p = 0.001), and level of knowledge about STBM with open defecation behavior. Meanwhile, attitudes toward the implementation of STBM (Open Defecation-Free Zones) did not show a significant relationship (p = 0.930). Conclusion: The availability of vacant land, clean water, toilets, and the level of information are significantly associated with the practice of open defecation. Efforts to increase access to sanitation facilities, provide clean water, and educate the community about health need to be strengthened to support the successful implementation of Pillar 1 of STBM and achieve sustainable open defecation-free villages. Suggestion: Communities and the government are expected to find alternative solutions to the limited land available for sanitation facilities, such as utilizing appropriate technology in building family toilets, implementing simple air treatment methods both individually and communally, and building healthy toilets that are appropriate to the geographical conditions of the environment.   Keywords: Community-Based Total Sanitation; Environmental Sanitation; Open Defecation.   Pendahuluan: Sanitasi lingkungan merupakan faktor krusial yang memengaruhi tingkat kesehatan masyarakat. Namun, praktik buang air besar sembarangan (BABS) masih sering terjadi dan berpotensi mencemari lingkungan serta meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan. Program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) merupakan upaya pemerintah untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui lima pilar sanitasi, salah satunya stop buang air besar sembarangan (SBS). Namun, capaian SBS di Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara masih rendah dan seluruh desa di wilayah tersebut belum berstatus SBS. Tujuan: Untuk menganalisis implementasi program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) pilar 1. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik cross-sectional. Fokus penelitian adalah pelaksanaan STBM Pilar 1 stop buang air besar sembarangan di 7 desa (Enggelam, Lebak Cilong, Lebak Mantan, Melintang, Muara Enggelam, dan Sebemban), Kecamatan Muara Wis, Kutai Kartanegara, pada Oktober 2025 - Februari 2026. Sebanyak 2,944 kepala keluarga di Kecamatan Muara Wis, 110 responden dipilih secara acak dengan rumus Slovin. Demikian pula, data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi lapangan, kemudian dianalisis secara univariat untuk frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan p < 0.05. Hasil: Mayoritas keluarga telah menerapkan pencegahan buang air besar di tempat terbuka (71.8%). Analisis bivariat juga menemukan hubungan yang signifikan antara ketersediaan lahan kosong (p = 0.001), air bersih (p = 0.001), toilet (p = 0.001), dan tingkat pengetahuan tentang STBM dengan perilaku buang air besar keluarga. Sementara itu, sikap terhadap penerapan STBM tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p = 0.930). Simpulan: Faktor ketersediaan lahan kosong, ketersediaan air bersih, ketersediaan jamban, dan tingkat pengetahuan berhubungan signifikan terhadap praktik BABS. Upaya peningkatan akses sarana sanitasi, penyediaan air bersih, serta edukasi kesehatan masyarakat perlu diperkuat untuk mendukung keberhasilan implementasi STBM Pilar 1 dan pencapaian desa stop buang air besar sembarangan secara berkelanjutan. Saran: Masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat mencari alternatif solusi atas keterbatasan lahan untuk pembangunan sarana sanitasi, seperti memanfaatkan teknologi tepat guna dalam pembangunan jamban keluarga, melakukan pengolahan air secara sederhana baik secara individu maupun komunal, serta membangun jamban sehat yang sesuai dengan kondisi geografis lingkungan.   Kata Kunci: Buang Air Besar Sembarangan; Sanitasi Lingkungan; Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
The Potential of Rhizophagus intraradices, Bacillus thuringiensis Bt BMKP and Silica for Anthracnose Disease Control in Shallot Amallia, Rizky; Suryanti, Suryanti; Joko, Tri
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 38, No 2 (2023): October
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/carakatani.v38i2.76536

Abstract

Anthracnose caused by Colletotrichum gloeosporioides is a prevalent disease that poses a significant threat to shallot production in Indonesia. To mitigate this issue, the use of biological agents presents an alternative for disease control, reducing the inherent risks associated with the use of chemical pesticides. Therefore, this study aimed to determine the potentiality and mechanism of the biological agents (Rhizophagus intraradices and Bacillus thuringiensis) combined with silica. These agents were evaluated both individually and in combination to suppress the development of anthracnose in Tajuk variety shallot. The study was conducted in the laboratory and greenhouse, arranged in a completely randomized design with six treatments and three replications. The ability to suppress pathogenic fungi was determined based on in vitro antagonism tests of B. thuringiensis, disease severity, area under disease progress curve (AUDPC), plant height, number of leaves, number of tillers and the percentage of mycorrhizal fungal infections. Furthermore, the mycorrhizal infection on plant roots was observed using staining methods. The results showed that the Bt BMKP isolate was included in the B. thuringiensis strain RC9 group with the capacity to inhibit C. gloeosporioides in vitro by 18.88%. The combination treatment of R. intraradices, B. thuringiensis and silica reduced infection from anthracnose by 15.52% compared with control. These three treatments also significantly increased the agronomic performance of shallot up to six weeks after planting compared to control and other treatments.
Urban Heat Islands, Rising Temperatures, and Their Impacts on Global Public Health: A Narrative Review Lalu Muhammad Fikri Wardana; Muhammad Addin Rizaldi; Tri Joko; Nurjazuli Nurjazuli
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 17 No 2 (2025): JIKM Vol. 17, Issue 2, May 2025
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v17i2.742

Abstract

Background: The Urban Heat Island (UHI) phenomenon, caused by rapid urbanization and changes in surface characteristics, significantly impacts public health, particularly in densely populated urban areas. UHI leads to higher temperatures in urban regions compared to rural areas, especially during heatwaves, which are further exacerbated by climate change. Method: The method employed in this systematic review involves utilizing secondary data from articles published in international journals. The search was conducted using databases such as Google Scholar, Science Direct, and PubMed, focusing on articles from the last five years (2020-2024). Results: This review identified 20 relevant articles highlighting various health issues related to UHI, including cardiovascular disorders, respiratory problems, mental health issues, and increased mortality rates, particularly among the elderly and populations with pre-existing health conditions. Conclusion: These findings emphasize the urgent need for urban planning strategies to mitigate UHI effects, such as increasing green spaces and improving urban infrastructure to protect public health. Keywords: Public health, Temperature increase, Urban heat island.
Co-Authors - Suhartono Abdullah, Jilan Tsani Achmadi Priyatmojo Adi, Bayu Kusuma Aditya, Vanessa Rizky Agus Bintara Birawida Ahmad Mustapha Mohamad Pazi, Ahmad Mustapha Mohamad Ahmad Zaerozi Amallia, Rizky Ani Widiastuti, Ani Annisa Aulia Nurrohmah Anugrah Febrino Balwa Arif Wibowo Arlyna Budi Pustika Asma Afifah Astorina, Nikie Azmi Umi Anisyah Bariyadi Rifai Bella Arieza Andriyana Bibit Nasrokhatun Diniah Budi Waloyo Budiyono Budiyono Burhanuddin Thohir Candra Rulyana Charles foeh Foeh Choirul Luluk Fatimah Cornelius Saryadi Turnip Delima Kurnia Sari Devita Nur Aprilia Dewi Junita Dwimartina, Fina Dyah Agustin Catur Putri Eka Luvita Sari Eka Tarwaca Susila Putra Eko Handoyo Elisa Maharani Elzha Af’idatul Himmah Ernawati, Amanda Luky Farida Sugiester S. Fianti andua Fitria, Ida Hanan Lanang Dangiran Hariyanti, Fika Harper, Stephen Haryudi Okta Sofiyanto Hidayanty, Healthy Ijaz ul haq Ilma, Hurin Nabila Aghnia Intan Aulia Putri Irawati, Roosdiana Jalaluddin Abdul Malek, Jalaluddin Abdul Jayawarsa, A.A. Ketut Karroghi, Silmi Aziza Kurniasih, Budiastuti Lalu Muhammad Fikri Wardana Lisa Okta Permatasari Maulida Khairunnisa McCann, Honour C. Muhammad Addin Rizaldi Mursid Rahardjo Mursid Raharjo Mustafiroh Kasanah Nabilah Nurhidayanti Ngazis, Muhammad Niki Astorina Yunita Dewanti Nikie Astorina Yunita Dewanti Nila Himayati Nilna Fasyya Salsabila Noor Zahrotul Muniroh Nur Endah Wahyuningsih Nur Fajria Safarina, Ismi Nurjazuli Nurjazuli Nurjazuli Nurjazuli Nurjazuli Oktavia, Widya Ayu Onny Setiani Pratiwi, Annisa Hasta Purnomo Purnomo Puteri Inandin Nabiha Putri, Novi Hervianti Qorina Sabila Fa&#039;iza Rahman, Muhammad Auliya Rahmi Nur Alifiani Restu Andri Setiyanto Riska Triafryani Putri Rozi, Choirul Ruba, Yohanes Emanuel S. Russeng, Syamsiar Sahiledengle, Biniyam Salahuddin, Nurul Syahriani Santya Nareswari Saraswati, Vivian Thea Savitri Rachmawati Septanti, Elza Muthia Shofa Rakhmatika Shrestha, Akina Sinta Nugraheni Dewi Siti Nurkhayati Siti Subandiyah Slamet Wardoyo Suhartono Sukri Palutturi SULISTIYANI SULISTIYANI Sundari, Dini Suriah Suriah Suryanti Suryanti, Ratna Tati Suharti Triwidodo Arwiyanto Turnip, Cornelius Saryadi Ulfah Rahmawati Vinidia Pertiwi Wahiduddin Wahiduddin Wibowo, Eko Prasetyo Wisanggeni, Gen Adi Woldesenbet, Biruk Yuni Pradilla Fitri Yusniar Hanani Danudianti Yusniar Hanani Darundiati