Claim Missing Document
Check
Articles

PERBANDINGAN ANTARA KOMBINASI CROSSBODY STRETCHING DAN MOBILIZATON WITH MOVEMENT DENGAN KOMBINASI SLEEPER EXERCISE DAN MOBILIZATON WITH MOVEMENT DALAM MENINGKATAN ROM BAHU PADA KASUS GLENOHUMERAL INTERNAL ROTATION DEFICIT Rizki Novrianti; Dewa Putu Purwa Samatra; Sugijanto Sugijanto; Luh Putu Ratna Sundari; I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti; I Made Krisna Dinata
Sport and Fitness Journal Vol 8 No 2 (2020): Volume 8, No. 2, Mei 2020
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.563 KB) | DOI: 10.24843/spj.2020.v08.i02.p10

Abstract

Pendahuluan: Glenohumeral internal rotation deficit adalah suatu kondisi di mana internal rotasi bahu lebih kecil dibandingkan eksternal rotasi. Hal ini terjadi akibat adanya positional fault pada caput humerus yang mengalami antroposisi di mana posisi caput lebih ke arah superior pada fosa glenoid. Tujuan Penelitian: untuk membuktikan apakah kombinasi crossbody stretching dan mobilization with movement lebih baik daripada kombinasi sleepr exercise dan mobilization with movement dalam meningkatkan lingkup gerak sendi bahu dengan glenohumeral internal rotation deficit. Metode: Penelitian ini adalah penelitian uji klinis (clinical trial), yaitu penelitian dengan rancangan eksperimental pre test –post test group design. Jumlah sampel Kelompok I sebanyak 14 orang pasien diberikan intervensi dengan kombinasi crossbody stretching dan mobilization with movement sebanyak 3 kali seminggu selama 2 minggu, kemudian pada Kelompok II sebanyak 14 orang pasien diberikan kombinasi sleeper exercise dan mobilization with movement juga dilakukan sebanyak 3 kali seminggu selama 2 minggu. Pengukuran peningkatan nilai ROM bahu menggunakan goniometer. Hasil : 1) Terdapat peningkatan nilai ROM bahu pada Kelompok I, mean pre 45,00±7,766, dan post 73,71±6,799. Hasil t-test related menunjukkan nilai p = 0,0001 (p<0,05). (2) Terdapat peningkatan nilai ROM bahu pada Kelompok II, mean pre 47,29±29,076, dan post 76,71±11,652. Hasil t-test related menunjukkan nilai p = 0,0001 (p<0,05). (3) Tidak adanya perbedaan yang signifikan pada Kelompok I dan Kelompok II. Dilihat dari uji homogenitas, nilai p > 0,05 maka hasil uji komparasi menggunakan nilai mean post-post dengan independent t-test yang menunjukkan nilai p=0,413 (p>0,05).
WOBBLE BOARD EXERCISE DAN ISOMETRIC EXERCISE LEBIH BAIK DARI PADA WOBBLE BOARD EXERCISE DAN CALF RAISE EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN STABILITAS FUNGSIONAL ANKLE PADA CHRONIC ANKLE SPRAIN Dio Septiyan Helmi; I Made Muliarta; Wahyuddin Wahyuddin; Luh Putu Ratna Sundari; I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti; I Made Krisna Dinata
Sport and Fitness Journal Vol 8 No 1 (2020): Volume 8, No. 1, Januari 2020
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.534 KB) | DOI: 10.24843/spj.2020.v08.i01.p09

Abstract

Pendahuluan: Sprain ankle kronis merupakan overstretch pada ligamen compleks lateral ankle pada gerak inversi dan plantar fleksi. Sprain ankle kronis menyebabkan instabilitas ankle, yang disertai dengan reaksi penurunan kekuatan otot ankle karena perubahan aktivasi otot. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan efektifitas wobble board exercise dan isometric exercise dengan wobble board exercise dan calf raise exercise terhadap peningkatkan stabilitas fungsional ankle pada penderita chronic ankle sprain. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan quasi experimental dengan rancangan pre test and post test two group design. Dalam penelitian ini 9 responden diberikan wobble board exercise dan isometric exercise selama 6 minggu dengan frekuensi latihan 2 kali seminggu, dan 9 responden diberikan wobble board exercise dan calf raise exercise selama 6 minggu frekuensi latihan 2 kali seminggu. Alat ukur yang digunakan adalah balance error scoring system (BESS).. Hasil: Hasil analisis statistik parametrik dengan paired sample t-test, menunjukkan kedua kelompok perlakuan secara signifikan dapat meningkatkan stabilitas ankle. Rerata nilai BESS sebelum perlakuan pada Kelompok I dengan rerata 30,00±2,784 dan sesudah perlakuan dengan rerata 11,67±0,866 dengan nilai p= 0,001 (p< 0,05), dan sebelum perlakuan pada Kelompok II 31,67±3,162 dan Sesudah Perlakuan dengan nilai 16,67±2,828 dengan nilai p= 0,001 (p< 0,05). Uji rerata nilai BESS post Kelompok I dan post Kelompok II dengan Independent sample t-test diantara kedua kelompok signifikan dapat meningkatkan stabilitas ankle dengan nilai Kelompok I 11,67±0,866, dan kelompok II 16,67±2,828 dan p= 0,001 (p<0,005). Rerata selisih nilai BESS pada Kelompok I 18,33±2,398 dan pada Kelompok II 15,00±1,323 sebesar 3,33 dengan nilai p= 0,001 (p<0,005} menunjukkan adanya perbedaan dalam meningkatkan stabilitas fungsional ankle. Simpulan pada penelitian adalah wobble board exercise dan isometrick exercise lebih efektif meningkatan stabilitas fungsional ankle pada penderita chronic ankle sprain daripada wobble board exercise dan calf raise exercise.
PEMBERIAN LATIHAN TAMBAHAN ZIG-ZAG RUN LEBIH BAIK DARIPADA PEMBERIAN LATIHAN TAMBAHAN SHUTTLE RUN DALAM MENINGKATKAN KELINCAHAN PADA PROGRAM LATIHAN DI AKADEMI OPEL FUTSAL LAMONGAN Muhamad Baidhowi Primadi; I Nyoman Adiputra; I Made Krisna Dinata; Nyoman Mangku Karmaya; Anak Agung Sagung Sawitri; I Gusti Ayu Widianti
Sport and Fitness Journal Vol 9 No 1 (2021): Volume 9, No. 1, Januari 2021
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2021.v09.i01.p05

Abstract

Kelincahan berhubungan dengan keefektifan gerakan yang dilakukan. Bentuk latihan kelincahan adalah zig-zag run dan shuttle run. Tujuan pada penelitian untuk membuktikan pemberian latihan tambahan zig-zag run lebih baik daripada shuttle run dalam meningkatkan kelincahan pemain di Akademi Futsal Opel Lamongan. Penelitian dengan jenis quasi experiment menggunakan pretest and posttest control group design. Subjek penelitian berjumlah 18 pemain di Akademi Futsal Opel Lamongan dan terbagi dalam tiga kelompok perlakuan yang berbeda. Kelompok I diberikan penambahan latihan zig-zag run Kelompok II diberikan penambahan latihan shuttle run dan Kelompok III Kelompok Kontrol dengan hanya mendapatkan latihan dari akademi. Frekuensi latihan 3 kali seminggu selama 7 minggu dengan waktu penambahan latihan 8 menit setiap pertemuan. Pengukuran tingkat kelincahan menggunakan Illinois Agility Run Test. Hasil penelitian pada ketiga kelompok didapatkan rerata kelincahan sebelum zig-zag run adalah 18,34±0,66 detik dan selisih sebelum dan sesudah 3,43±0,20 detik. Rerata kelincahan shuttle run 17,79±0,83 detik dan selisih 2,55±0,31 detik. Rerata kelincahan Kelompok Kontrol 17,89±1,68 detik dan selisih 1,37±0,67 detik. Uji beda rerata peningkatan kelincahan pada Kelompok I, II dan III menggunakan one way ANOVA pada data selisih pre dan posttest ketiga kelompok menunjukkan bahwa p = 0,000 (p < 0,05) antara Kelompok I dengan III, p = 0,002 (p < 0,05) antara Kelompok II dengan III, dan p = 0,023 (p < 0,05) pada Kelompok I dengan II. Kesimpulannya adalah pemberian latihan tambahan zig-zag run lebih baik daripada pemberian latihan tambahan shuttle run dalam meningkatkan kelincahan pada program pelatihan di Akademi Futsal Opel Lamongan. Kata kunci : Zig-zag run, shuttle run, kelincahan, futsal, illinois agility run test.
HIGH INTENSITY INTERVAL TRAINING LEBIH BAIK DARIPADA FARTLEK TRAINING TERHADAP PENINGKATAN VO2max DAN LACTATE THRESHOLD PADA ATLET BOLA TANGAN KOTA SURABAYA Ainul Ghurri; I Putu Gede Adiatmika; I Putu Adiartha Griadhi; Luh Putu Ratna Sundari; Susy Purnawati; I Made Krisna Dinata
Sport and Fitness Journal Vol 8 No 3 (2020): Volume 8, No. 3, September 2020
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2020.v08.i03.p01

Abstract

Atlet bola tangan putra Kota Surabaya memiliki daya tahan yang rendah. Hal ini mengakibatkan nilai VO2max dan lactate threshold yang rendah sehingga berpengaruh terhadap kualitas permainan dan prestasi tim, keadaan ini memerlukan intervensi latihan fisik yang tepat. High intensity interval training (HIIT) merupakan latihan dengan waktu singkat menggunakan intensitas tinggi yang diselingi pemulihan aktif. Fartlek training adalah latihan dengan waktu yang konstan dengan beban mendekati batas kelelahan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan HIIT lebih baik daripada fartlek training dalam meningkatkan VO2max dan lactate threshold. Jenis penelitian true experimental dengan rancangan pretest and posttest two group desain. Subjek adalah atlet bola tangan Kota Surabaya sebanyak 22 orang yang dibagi dengan diberikan HIIT untuk Kelompok I lalu fartlek training pada Kelompok II, periode latihan 3 kali dalam seminggu selama 6 minggu latihan. VO2max diukur dengan Cooper VO2max Test dan lactate threshold menggunakan Heart Deflection Point. Hasil penelitian didapatkan rerata VO2max sebelum HIIT 42,38±1,07 ml/kg/menit, sesudah HIIT 45,86±1,10 ml/kg/menit. Rerata VO2max sebelum fartlek 42,33±1,04 ml/kg/menit, sesudah fartlek 44,27±1,66 ml/kg/menit. Rerata lactate threshold sebelum HIIT 176,61±0,99 x/menit, sesudah HIIT 194,69±1,11 x/menit. Rerata lactate threshold sebelum fartlek 176,92±1,08 x/menit, sesudah fartlek menjadi 187,43±1,59 x/menit. Uji beda peningkatan VO2max dan lactate threshold pada Kelompok I dan Kelompok II dengan independent t-test. Hasil menunjukan bahwa ke dua Kelompok p=0,000 (p<0,05). Disimpulkan dua Kelompok ini sama-sama memberi efek peningkatan (p<0,05) dan Kelompok I lebih meningkatkan VO2max dan lactate threshold daripada Kelompok II. Saran untuk pelatih agar melakukan monitoring dan evaluasi serta memberikan pelatihan yang benar agar dapat meningkatkan performa dan peningkatan prestasi atlet.
EFEKTIVITAS BAL-A-VIS X (BALANCE, AUDITORY, VISION EXERCISE) DAN BRAIN GYM DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOORDINASI TANGAN DAN MATA PADA ANAK USIA PRASEKOLAH Herista Novia Widanti; Luh Made Indah Sri Handari Adiputra; Muhammad Irfan; Ni Made Swasti Wulanyani; Ni Nyoman Ayu Dewi; I Made Krisna Dinata
Sport and Fitness Journal Vol 8 No 1 (2020): Volume 8, No. 1, Januari 2020
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.238 KB)

Abstract

Pendahuluan: Semua aktivitas motorik, membutuhkan koordinasi tangan-mata yang baik. Membantu mengoptimalkan koordinasi tangan-mata akan meningkatkan keterampilan kognitif dan motorik yang penting untuk proses belajar anak. Tujuan penelitian: untuk mengetahui perbedaan efektivitas bal-a-vis-x dan metode brain gym dalam meningkatkan koordinasi tangan-mata pada anak prasekolah. Metode: Subjek penelitian terdiri dari 24 anak prasekolah, laki – laki dan perempuan, usia 5-6 tahun. Dibagi menjadi 2 kelompok, Kelompok I terdiri dari 12 orang dengan metode bal-a-vis-x dan Kelompok II terdiri dari 12 orang dengan metode brain gym. Latihan diberikan selama 6 minggu, 3 sesi per minggu. Menggunakan purdue pegboard test sebagai instrumen pengukuran dengan 4 nilai sub-test yang dievaluasi yaitu Dominant hand (DH), Non-dominant hand (NDH), Both hand (BH) dan Assembly (ASS). Hasil: Pada Kelompok I, terjadi peningkatan skor pada sub-test DH, NDH, BH dan ASS dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05), yang berarti bal-a-vis-x efektif untuk meningkatkan koordinasi tangan dan mata pada anak prasekolah. Sedangkan pada Kelompok II, terjadi peningkatan skor pada sub-test DH, BH dan ASS dengan nilai p = 0,001 dan NDH dengan nilai p = 0,002 (p < 0,05), yang berarti brain gym efektif untuk meningkatkan koordinasi tangan dan mata pada anak prasekolah. Terdapat perbedaan bermakna antara Kelompok I dan Kelompok II setelah diberikan latihan yaitu pada sub-test DH nilai p = 0,035, NDH nilai p = 0,029, BH nilai p = 0,012 dan ASS nilai p = 0,044 (p < 0,05), yang berarti ada perbedaan efektivitas antara bal-a-vis x dan brain gym dalam meningkatkan kemampuan koordinasi tangan dan mata pada anak prasekolah. Simpulan: Bal-A-Vis X dan brain gym efektif untuk meningkatkan koordinasi tangan-mata pada anak usia prasekolah.
PEMBERIAN LATIHAN VIRTUAL REALITY LEBIH BAIK DARIPADA LATIHAN KONVENSIONAL TERHADAP PENINGKATAN FUNGSIONAL TANGAN PADA PASIEN PASCA STROKE Muhammad Ruslan Nuryanto; DW.Pt.Gde Purwa Samatra; M. Irfan; I Made Krisna Dinata; Anak Agung Sagung Sawitri; Sugijanto -
Sport and Fitness Journal Volume 7, No.1, Januari 2019
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.129 KB) | DOI: 10.24843/spj.2019.v07.i01.p10

Abstract

ABSTRACTBackground: Stroke is a problem of neurologist brain who causes occurrence of neurologist deficit such as a weakness of upper extremity. For instance, limited of hand functional and movement because of abnormality tonus that occur instability muscle. Methods: The purpose of this research was to knew effect of additional virtual reality exercise better than conventional exercise to enhancement of functional hand for Stroke patience. This research is experimental study which used a Randomize Control pre-post test design. The first category is 6 samples be given Virtual reality Exercise with Sensor Leap Motion Controller during 30 minutes. And the second category is 6 samples be given conventional exercise during 30 minutes. The times of research for 4 weeks under the supervision of Physiotherapist to do well. Measurement test of hand functional with used of Wolf Motor Function Test instrument. Results: The result of this research showed to the first category occur of ability improvement of hand in the amount of 14,21% and be obtained value p=0,027, which one p<0,05. The second category occur of ability improvement of hand in the amount of 8.47% and be obtained value p=0,001, which one p<0,025. Meanwhile, the different of ability improvement of hand on both categories showed there is a significant different (value p=0,007, which is p=<0,005). The conclusion of this result that Virtual reality Exercise with Sensor Leap Motion Controller better than conventional exercise to enhancement of functional hand for Stroke patience.Keywords: Stroke, ability of hand functional, Exercise of Virtual reality, Conventional exercise, Wolf Motor Function Test.
HATHA YOGA TRAINING HAS SIMILAR EFFECTS WITH TAI CHI TRAINING IN DECREASING BLOOD PRESSURE IN PRE-ELDERLY WITH GRADE I HYPERTENSION Elisabeth Matrona Sintia Pareira; I Dewa Putu Sutjana; Wahyuddin Wahyuddin; Nyoman Adiputra; I Made Krisna Dinata; I Gusti Ayu Widianti
Sport and Fitness Journal Vol 10 No 1 (2022): Volume 10, No. 1, January 2022
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2022.v10.i01.p02

Abstract

The increase of life expectancy theis more complex health problem is which suffered by the elderly. The problem in health which is often occurred that is instability of blood pressure which dominated by hypertension. One of methods to decrease high blood pressure is by increasing physical activity. Physical activity reduces the risk of hypertention by decreasing resistance of blood pressure and surpressing the activity in sympathetic nerves system and renin-angiotensin system. This research aims to discover Hatha Yoga training and Tai Chi traning in decreasing blood pressure in pre-elderly with grade I hypertension in Banjar Batu, Mengwi sub-distict, Badung Regency. This research used experimental design with pre test and post test two group design. Group I was given Hatha Yoga and Group II was given Tai Chi. The sample in this research is 20 people (man and woman) who suffered grade I hypertension and aged in 45-49 years old. The training was done in 3 times a week for 6 weeks. The result of the research shows that the decrease of blood pressure is shown Group I in systole is 5,60±1,43 mmHg and diastole is 4,00±1,94 mmHg, with value p=0,00. In Group II, there is a decrease in systole blood pressure is 4,90±0,99 mmHg and diastole 4,30±2,05 mmHg, with value p=0,00. There is no significant difference in the decrease of blood pressure between Group I and Group II with blood pressure in systole is p=0,378 (p>0,05) and in diastole is p=0,805 (p>0,05). The conclusion is that Hatha Yoga training is as goof as Tai Chi training in decreasing blood pressure in pre-elderly with mild hypertention. Keywords: Hatha Yoga; Tai Chi; Pre Elderly; Grade I Hypertension
LATIHAN HIGH-INTENSITY INTERVAL TRAINING RASIO WORK-TOREST 2:1 SAMA BAIKNYA DENGAN 1:1 DALAM MENINGKATKAN DAYA TAHAN KARDIORESPIRASI PADA PELARI KOMUNITAS Leandra Erdina Usmany; I Made Krisna Dinata; S. Indra Lesmana; J Alex Pangkahila; Luh Made Indah Sri Handari Adiputra; I Putu Adiartha Griadhi
Sport and Fitness Journal Vol 8 No 1 (2020): Volume 8, No. 1, Januari 2020
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.086 KB) | DOI: 10.24843/spj.2020.v08.i01.p02

Abstract

Pendahuluan: Performa seorang pelari dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya daya tahan kardiorespirasi. High-intensity interval training (HIIT) telah diusulkan sebagai strategi latihan yang menghemat waktu untuk meningkatkan daya tahan kardiorespirasi (VO2max). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan pengaruh HIIT rasio work-to-rest 2:1 dengan 1:1 dalam meningkatkan daya tahan kardiorespirasi pada pelari komunitas. Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan berupa randomized pre and post test group design, teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Sampel penelitian berjumlah 22 orang usia 20-30 tahun. VO2max diukur dengan menggunakan 1,5 mile run test / tes lari 2,4 km. Hasil: . Hasil analisis uji t tidak berpasangan setelah intervensi pada kedua kelompok diperoleh nilai p = 0,579 (p > 0,05) yang berarti tidak ada perbedaan yang bermakna pada intervensi HIIT rasio work-to-rest 2:1 dibandingkan dengan HIIT rasio work-to-rest 1:1 terhadap peningkatan daya tahan kardiorespirasi pada pelari komunitas. Simpulan : HIIT 1:1 sama baiknya dengan 2:1 dalam meningkatkan daya tahan kardiorespirasi. Latihan HIIT dengan rasio work-to-rest 1:1 dan 2:1 dapat digunakan sebagai strategi latihan untuk meningkatkan daya tahan kardiorespirasi (VO2max).
Kursi Lantai dan Penataan Layout Meningkatkan Work Engagement dan Produktivitas Pekerja Pembuatan Atap Alang-Alang I Kadek Dwi Arta Saputra; Susy Purnawati; Ida Bagus Alit Swamardika; Luh Made Indah Sri Handari Adiputra; I Gusti Ngurah Priambadi; I Made Krisna Dinata
Jurnal Ergonomi Indonesia (The Indonesian Journal of Ergonomic) Vol 6 No 1 (2020): Volume 6 No 1 Juni 2020
Publisher : Program Studi Magister Ergonomi Fisiologi Kerja Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar Bekerjasama dengan Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JEI.2020.v06.i01.p01

Abstract

Workers making reeds roofs work with a working posture sitting on the floor with a slightly bent back. Intervention by giving floor chairs as a base during work as well as structuring the production process layout. This study aims to improve work engagement and productivity of workers making reeds roofs in Gianyar. The research design used was experimental with randomized pre-posttest control group design involving 16 randomly selected research samples. The subjects in this study were divided into two groups: the control group were workers who worked as usual and the treatment group were workers who worked using floor chairs and structuring the production process layout. Work engagement was recorded using the UWES 17 questionnaire and productivity was recorded from the number of Imperata roofs produced. Data analysis used parametric tests with a value of ? 0.05 for normally distributed data and non-parametric tests for data that were not normally distributed. The results showed a significant difference in work engagement and productivity (p<0.05). In the control group the mean score of work engagement was 50.75 and the productivity was 0.067. Whereas in the treatment group the average score of work engagement was 71.12 and productivity was 0.015. Giving floor chairs and structuring the layout of the production process is proven to increase work engagement by 40.13% and increase productivity by 34.60%. It can be concluded that the application of ergonomics in the form of providing floor chairs and structuring the layout of the production process is proven to increase work engagement and work productivity in workers making reeds roofs.
Sikap Kerja Duduk-Berdiri Bergantian Menurunkan Kelelahan, Keluhan Muskuloskeletal Serta Meningkatkan Produktivitas Kerja Penyetrika Wanita di Rumah Tangga I Made Krisna Dinata; Nyoman Adiputra; I Putu Gede Adiatmika
Jurnal Ergonomi Indonesia (The Indonesian Journal of Ergonomic) Vol 1 No 1 (2015): Volume 1 No 1 Juni 2015
Publisher : Program Studi Magister Ergonomi Fisiologi Kerja Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar Bekerjasama dengan Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JEI.2015.v01.i01.p04

Abstract

Many routine activities undertaken in the household are repeated every day throughout the year so can potentially cause health problems if not applied theprinciples of ergonomics. From the survey and measurement of domestic workers in several places in Denpasar, we found that the most complained was the process of ironing so it’s a priority to look for a solution. That complaints arise because the process of ironing is in static and monotony position. In addressing this issue , we need a change in attitude of working so that static work posture can be avoided. The use of specially designed chairs can make workers to work with a dynamic working attitude that is alternating sitting-standing posture.This experimental study using teatment by subject design with two periodeintervension  that sitting posture  and alternating sitting-standing  posture. The number of samples studied were 9 people using simple random  sampling technique. The study was conducted in a place that has been designed such as a simulation. Data collection was conducted over three days to sitting posture and three days to alternating sitting-standing posture at 8:00 to 17:00 pm divided into three sessions.In the assessment of workload showed a decrease of 19.72 % working pulse and the reduction of %CVL was 19.80%. Musculoskeletal complaints fell by 13.15%. Pain in the waist and buttocks most complained at work sitting posture (waist 37.04%; buttocks 33.33% ). For fatigue assessment using Bourdon Wiersma Questionnaires obtained 11.79% increase in speed, 42.68% in accuracy, and 13.21% in constancy. There was an increase in productivity by 38.46%, which is associated with reduced workload and duration of work. After statistical tests, obtained all the change that occur significant (p<0.05). Working-time graph showed that workers could work for eight hours continuously.It can be concluded that alternating sitting-standing posture can reduce workload, fatigue,  and musculoskeletal complaints, as well as increase productivity iron women in the household. The results of this research can be used to improve the quality of life of the worker in household.
Co-Authors Adela Nathania adiartha g Adiartha Griadi Agus Frandes Sariaman Ainul Ghurri Anak Agung Gede Eka Septian Utama Ardiyanti, Ni Putu Ari Wibawa Ayu Indriyani Utami Bagus Andika Pramana Bagus Komang Satriyasa Boki Jaleha D A inten Dewa Made Adi Arsika Widja Dewa Putu Gede Purwa Samatra Dio Septiyan Helmi Dito Setiadarma Driansha, Cindy Liora Elisabeth Matrona Sintia Pareira elisabeth yunilan Endah Sulistyowardani Fadma Putri Futi Nurul Destya Gde Ngurah Idraguna Pinatih Gede Dilajaya Robin Gede Eka Juli Prasana Gian Lisuari Adityasiwi Hanik Nuryanti Herista Novia Widanti I Dewa Ayu Agung Diah Sutarini I Dewa Ayu Inten D. P I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti, I Dewa Ayu Inten Dwi I Dewa Ayu Inten Primayanti I Dewa Putu Sutjana I Gde Arya Dharmika Palguna I Gede Eka Juli Prasana I Gede Putu Wahyu Mahendra I Gusti Ayu Inten Heny Pratiwi I Gusti Ayu Widianti I Gusti Ngurah Priambadi I Gusti Ngurah Priambadi, I Gusti Ngurah I Gusti Putu Adietha Chandra Putra I Kadek Dwi Arta Saputra I Ketut Suyasa I Made Ady Wirawan I Made Jawi I Made Muliarta I Made Muliarta I MADE MULIARTA . I Made Niko Winaya I Nyoman Adi Putra I Nyoman Mangku Karmaya I Putu Adiartha Griadhi I Putu Gede Adiatmika I Putu Yudi Pramana I Wayan Sugiritama Ida Ayu Indrani Dewi Purba Ida Ayu Shinta Nadia Utami Ida Bagus A. Swamardika IGN Alit Hendra Wahyudi indah adiputra J. A. Pangkahila Juhanna, Indira Vidiari K tirtayasa Kadek Rina Agustinawati Ketut Laksmi Puspa Dewi Ketut Tirtayasa Kevin Kusuman Krismawati, Luh Dwi Erna Krisna Priya Ponusamy Leandra Erdina Usmany LUH MADE INDAH SRI HANDARI ADIPUTRA Luh Made Indah Sri Handari Adiputra Luh Made Indah Sri Handari Adiputra Luh Putu Ratna Sundari Luh Putu Ratna Sundari Made Hendra Satria Nugraha Made Paramartha Kesuma Made Pasek Ngurah Bagus Made Shanty Wardana Made Shanty Wardana Made Wahyu Cahyadi Manoharan, Thunissha Maria Imaculata Date Mohammad Syahroni Muhamad Baidhowi Primadi Muhammad Irfan Muhammad Irfan Muhammad Ramadhan Muhammad Ruslan Nuryanto Muliarta Ni Eka Dewi Ambarawati Ni Eka Dewi Ambarawati Ni Luh Nopi Andayani Ni Luh Putu Gita Karunia Saraswati Ni Made Linawati Ni Made Suasti Wulanyani Ni Nyoman Arista Febrianti Ni Nyoman Ayu Dewi Ni Nyoman Melani Karang Ni Nyoman Nita Rosani Ni Putu Suci Sukreni Ni Wayan Sintyabudi Kumalapatni Ni Wayan Tianing Nila Wahyuni Nila Wahyuni Nur Basuki Nur Sakinah Nurharta, Desak Made Pratista Sari Mahadevi Nyoman Siska Ananda Pricela Da Costa Purnamsidi, Wilbert Putu Adhika Satria Utama Wicaksana Aji Amertha Putu Satyakumara Upadhana Putu Sinta Diahswari Widyadari Putu Wandari Pranitha Reza Fatchurahman Ria Indah Sari Gaghana Rizki Novrianti S. Indra Lesmana Sagung Ayu Priti Mawar Veda Santi Santoso, Ayu Meylianawati Sawitri, Anak Agung Sagung Sayu Aryantari Putri Thanaya Siringoringo, Daniel Sulung Utama Sueca, I Nyoman Sugianto, Alena Juliani Sugijanto - Susy Purnawati Sutjna, Dewa Putu Tri Juniari, Ni Komang Wahyuddin Wahyuddin, Wahyuddin Wardatun Nugraheni William Abraham S