Claim Missing Document
Check
Articles

Pelestarian Kaulinan Barudak melalui Kajian Nilai-Nilai Kearifan Lokal Permainan Pérépét Jéngkol Annisa, Auliya Ayu; Permana, Faisal Rahmat; Nasution, Lucy Martiati; Karyono, Tri
Journal of Education Research Vol. 5 No. 4 (2024)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/jer.v5i4.1804

Abstract

Artikel ini berjudul pelestarian kaulinan barudak melalui kajian nilai-nilai kearifan lokal permainan pérépét jéngkol. Penelitian ini bertujuan untuk melestarikan kaulinan  barudak melalui kajian nilai-nilai kearifan lokal permainan pérépét jéngkol. Kaulinan pérépét jéngkol merupakan permainan anak khas Jawa Barat yang memiliki nilai kearifan lokal (local genius). Paradigma yang dilakukan pada penelitian ini adalah paradigma kualitatif dengan menggunakan metode tinjauan literatur dan deskriptif berbasis fenomenologis. Temuan pada penelitian ini antara lain yaitu, struktur pada kakawihan pérépét jéngkol adalah AA, pelestarian kaulinan pérépét jéngkol dilakukan dengan culture knowledge, kaulinan pérépét jéngkol mengandung nilai kearifan lokal yang meliputi nilai agama, nilai pendidikan, nilai sosial, dan nilai hiburan.
PERUBAHAN LANSKAP KREATIF DAN DIALOG ETIKA DALAM FOTOGRAFI: PENGARUH KECERDASAN BUATAN Ronald, Regina Octavia; Karyono, Tri
specta Vol 8, No 1 (2024): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v8i1.11334

Abstract

Kemajuan teknologi dari digital sampai kecerdasan buatan memberikan dampak perubahan pada kultur penciptaan visual fotografi.  Mesin generator gambar yang menghasilkan imaji yang realis dikenal sebagai promptografi disandingkan sebagai penciptaan fotografi. Metodologi penelitian  dilakukan dengan pendekatan kualitatif, pengumpulan data melalui observasi secara digital dan lapangan, dilengkapi dengan data dari diskusi grup terpumpun (FGD) dari para fotografer di Kota Bandung (n=8). Artikel ini berfokus pada analisis persepsi dan pengalaman dalam menyikapi fenomena kecerdasan buatan dalam penciptaan visual, serta bagaimana toleransi para fotografer dalam penyandingan karya visual hasil generator gambar dengan karya yang dihasilkan secara fotografis. Hasil analisis ini mengungkap perubahan dalam pendekatan kreatif fotografer seiring dengan imersi kecerdasan buatan dan memberikan kontribusi terhadap proses kreatif fotografi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan. Simpulan artikel adalah teknologi kecerdasan buatan telah membentuk lanskap kreatif dalam fotografi dan seni visual, membuka peluang dan dialog etika yang perlu dipertimbangkan oleh seorang pengkarya fotografi. Creative Landscape Changes and Ethical Dialogue in Photography: The Influence of Artificial Intelligence. The advancement of technology, from digital to artificial intelligence, has impacted the cultural landscape of visual photography creation. Image-generating machines producing realistic imagery, known as promptography, are juxtaposed with traditional photography. The research methodology employed a qualitative approach, gathering data through digital and field observations, supplemented by focus group discussions (FGD) involving photographers in Bandung City (n=8). This article focuses on analyzing perceptions and experiences regarding the phenomenon of artificial intelligence in visual creation, as well as photographers' tolerance towards juxtaposing images generated by machines with traditionally produced photographic works. The analysis reveals changes in photographers' creative approaches with the immersion of artificial intelligence, contributing to the creative process of photography. The conclusion highlights that artificial intelligence technology has shaped the creative landscape in photography and visual arts, opening opportunities and ethical dialogues that photographers need to consider.
Evaluation of the Teaching Industry Program in Developing the Entrepreneurial Spirit of Graphic Design Students Pertiwi, Annisa; Masunah, Juju; Prawira, Nanang Ganda; Karyono, Tri
JTP - Jurnal Teknologi Pendidikan Vol. 26 No. 3 (2024): Jurnal Teknologi Pendidikan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/jtp.v26i3.51384

Abstract

The creative industry in the hospitality sector faces a huge challenge to innovate in the digital era. The entrepreneurial competence of vocational students is important to meet the needs of the dynamic world of work. This study aims to evaluate the implementation of the Teaching Industry program in developing the entrepreneurial skills of students of the Diploma Program in Graphic Design, Widyatama University through a case study at the Malaka Hotel Bandung for the 2022–2024 period. This Teaching Industry program is designed using the Work-Based Learning approach  to provide real work experience, Experiential Learning for hands-on learning, Collaborative Learning to train teamwork, and Project-Based Learning to complete tasks in the field of digital marketing, such as content planning, graphic design, photography, videography, and social media management. This study uses a mixed method, with a qualitative approach through interviews, observations, and document analysis (logbook, internship report, work presentation, and performance evaluation), as well as a quantitative approach through questionnaires and evaluation of supervisors. The results of the study showed the development of student entrepreneurship indicators, namely: 1) leadership collaboration and teamwork (88%), 2) motivation and confidence in achievement (82%), 3) initiative and courage to take risks (76%), and 4) independence and responsibility (70%). Overall, the program recorded a 79% success rate. Of the 17 students who participated, 3 of them were successfully recommended as contract employees, including 1 student who was recruited as a member of the Malacca Hotel Digital Marketing team. This program is effective in improving digital marketing technical skills as well as teamwork, leadership, and project management skills relevant to the needs of the creative industry.
PREFERENSI DIGITAL AUDIO WORKSTATION (DAW) DAN PENGARUHNYA TERHADAP GAYA ESTETIKA MAHASISWA MINAT STUDI MUSIK TEKNOLOGI Jaohari, Enry Johan; Karyono, Tri; Sukmayadi, Yudi; Purwanto, Andrian
Jurnal Citra Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Citra Pendidikan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jcp.v5i2.5425

Abstract

AbstractThis study explores the preference for Digital Audio Workstation (DAW) and its influence on the musical aesthetics of students majoring in Music Technology. Employing a qualitative descriptive approach with a practice-based research framework, the research involved active students at the Music Study Program, School of Art and Design Education, Universitas Pendidikan Indonesia. Data were collected through open-ended questionnaires, semi-structured interviews, and documentation of students’ digital music works. The findings reveal that DAW selection is influenced by a combination of technical, pedagogical, and creative factors, with Studio One being the most preferred. The features most utilized by students include mixing effects, MIDI sequencing, and preset plugins. Approximately one-third of the students acknowledged that DAW significantly impacted the structure and aesthetic style of their works, while others emphasized personal identity over technological influence. These results indicate that DAWs act not only as production tools but also as mediators of musical thought and expression. The study suggests the necessity of pedagogical frameworks that encourage both technical proficiency and critical reflection in digital music education. The findings also highlight the need for curriculum development that provides students with diverse DAW platforms to support artistic exploration and identity formation. Key Words DAW, music technology, musical aesthetics, digital creativity, music education AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi preferensi penggunaan Digital Audio Workstation (DAW) dan pengaruhnya terhadap estetika musikal mahasiswa aktif Program Studi Musik yang mengambil Minat Studi Musik Teknologi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan kerangka practice-based research. Data dikumpulkan melalui angket terbuka, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi karya musik digital mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan DAW dipengaruhi oleh kombinasi faktor teknis, pedagogis, dan kreatif, dengan Studio One menjadi platform yang paling dominan. Fitur yang paling sering digunakan mahasiswa meliputi efek mixing, editor MIDI, dan preset plugin. Sekitar sepertiga mahasiswa mengakui bahwa DAW berkontribusi signifikan dalam membentuk struktur dan gaya estetika karya mereka, sedangkan sebagian besar lainnya menilai bahwa identitas musikal pribadi lebih berpengaruh. Temuan ini menunjukkan bahwa DAW berperan tidak hanya sebagai alat produksi, tetapi juga sebagai mediator dalam berpikir dan mengekspresikan ide musikal. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan kurikulum musik digital yang menyeimbangkan penguasaan teknis dengan refleksi kritis terhadap penggunaan teknologi. Kata Kunci DAW, teknologi musik, estetika musikal, kreativitas digital, Pendidikan musik.
From Agrarian Ritual to Cultural Performance: The Social Representation and Educational Values of Kungkurung Music among the Dayak Meratus Najamudin, Muhammad; Sukmayadi, Yudi; Masunah, Juju; Karyono, Tri; Nugroho, Dedy Ari
Journal of Social Work and Science Education Vol. 7 No. 1 (2026): Journal of Social Work and Science Education
Publisher : Yayasan Sembilan Pemuda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52690/jswse.v7i1.1354

Abstract

This study explores the transformation of Kungkurung music among the Dayak Meratus community in Piani Village, Tapin Regency, South Kalimantan, from its origin as an agrarian ritual toward a contemporary form of cultural performance. Employing a qualitative ethnographic approach, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation to reveal the symbolic, social, and pedagogical dimensions of Kungkurung. The findings demonstrate that Kungkurung functions as a medium of collective identity formation and ecological spirituality, reflecting Pierre Bourdieu’s concept of habitus and Merriam’s tripartite framework of music as concept, behavior, and sound. The shift from ritual to public performance exemplifies Jeff Todd Titon’s idea of “continuity in change,” indicating that the community’s adaptation preserves traditional meanings while embracing new socio-cultural contexts. Ethnopedagogically, Kungkurung embodies four educational values collectively, discipline, spirituality, and ecological harmony that sustain intergenerational transmission of cultural wisdom. The study concludes that Kungkurung represents not merely a musical expression but an evolving pedagogical system that integrates art, environment, and social cohesion, thus contributing to cultural sustainability and character education rooted in local wisdom.
Pendampingan Perancangan Produksi Film Dokumenter Penghijauan Desa Pasir Biru, Sumedang Sebagai Branding Kampus Merdeka Nafsika, Salsa Solli; Soeteja, Zakarias S; Karyono, Tri; Nugraheni, Trianti; Sukanta, Sukanta; Warsana, Dedi; Defrizaldi, Defrizaldi; Winarti, Jihan
Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 3 (2025): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrokreatif.11.3.603-615

Abstract

This service is a support activity for exchange students program “pertukaran Mahasiswa Merdeka” (PMM) from various provinces through environmental campaigns using artistic video content to deal with the impact of infrastructure development and accessibility that affects changes in airflow and heat distribution. This environmental impact is the main focus for independent exchange student participants in realizing social contribution programs through reforestation activities in desa Pasir Biru Rancakalong Sumedang.  Through this reforestation program, we aim to increase environmental awareness, educate the public about the importance of protecting ecosystems, and reduce the impact of climate change resulting from National Infrastructure Development. So it is hoped that environmental campaigns through documentary films can inspire and motivate the wider community to participate in environmental conservation efforts. The research method uses a Base Research Design based on Documentary Film Production in the Reforesting Program involving research targets and community service targets  student of the Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) programs as the development of aesthetic skills in creating documentary films, service partners from the Department of Environment and Forestry (DLHK) , plant seed cultivation entrepreneurs, village governance, and all elements of society. The output of this service is in the form of a sustainable impact felt by the community and a documentary film from the development of artistic production design through video content to elaborate the brand image of the Kampus Merdeka Program in the environmental and temperature revitalization campaign in the area. 
INOVASI KONTEMPORER DALAM SENI PERTUNJUKAN: TEKNOLOGI MAPPING DAN HOLOGRAPHIC PADA TARI KOLOSAL KESAH CAHAYA Rani Tiara FL; Tri Karyono; Ayo Sunaryo
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengkaji penerapan teknologi projection mapping dan holographic dalam pertunjukan tari kolosal Kesah Cahaya serta kontribusinya terhadap pembentukan estetika pertunjukan kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan observasi partisipatif, data dikumpulkan melalui pengamatan proses kreatif serta dokumentasi pertunjukan. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi teknologi visual digital memperluas ruang representasi panggung dan memperkuat penyampaian narasi melalui efek visual yang imersif. Visualization mapping membantu membangun transisi suasana dan struktur dramaturgi, sedangkan holografi menghadirkan elemen simbolik yang memperkaya imajinasi visual penonton. Kolaborasi teknologi dan koreografi tersebut menciptakan karakter visual yang dinamis serta menunjukkan kecenderungan estetis seni pertunjukan kontemporer. Temuan ini menegaskan bahwa pemanfaatan inovasi digital memiliki peran strategis dalam pengembangan karya tari kolosal di era modern.
TARI SEBAGAI TREN DIGITAL DI TIKTOK: ANALISIS GERAK, PARTISIPASI PENGGUNA, DAN LITERASI TEKNOLOGI KREATOR Zahrah Luthfi Kholifah; Tri Karyono; Ayo Sunaryo
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan platform digital seperti TikTok telah mengubah cara masyarakat memproduksi, membagikan, dan memaknai tarian sebagai bentuk ekspresi budaya modern. Fenomena ini menunjukkan pergeseran bahwa tarian tidak hanya tampil sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai tren digital yang dibentuk oleh kreativitas kreator dan partisipasi pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tarian berkembang sebagai tren di TikTok melalui kajian terhadap pola gerak, bentuk keterlibatan pengguna, serta literasi teknologi yang dimiliki kreator konten tari. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan memanfaatkan data daring, termasuk analisis konten video, komentar pengguna, serta simulated interview yang disusun berdasarkan pola umum strategi kreator tari di TikTok. Data dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi karakteristik gerak, dinamika interaksi digital, dan kompetensi teknologi yang muncul dalam proses produksi konten tari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren tarian di TikTok terbentuk melalui gerak yang sederhana, repetitif, dan mudah direplikasi, sehingga mendorong partisipasi pengguna secara luas. Kreator juga memanfaatkan fitur digital seperti sinkronisasi musik, efek visual, dan teknik penyuntingan dasar untuk meningkatkan daya tarik konten. Temuan ini menegaskan bahwa literasi teknologi menjadi aspek penting dalam keberhasilan kreator dalam membangun identitas digital dan mempertahankan keterlibatan audiens. Penelitian menyimpulkan bahwa TikTok tidak hanya menjadi ruang penyebaran tarian populer, tetapi juga ekosistem pembelajaran digital yang mendorong kolaborasi, kreativitas, dan adaptasi teknologi dalam praktik seni tari. Implikasi penelitian ini mengarah pada pentingnya integrasi literasi digital dalam pendidikan seni agar peserta didik mampu merespons perkembangan budaya digital secara kritis dan produktif. ABSTRACT DANCE AS A DIGITAL TREND ON TIKTOK: AN ANALYSIS OF MOVEMENT, USER PARTICIPATION, AND CREATOR TECHNOLOGY LITERACY, DECEMBER 2025. The development of digital platforms such as TikTok has changed the way people produce, share, and interpret dance as a form of modern cultural expression. This phenomenon shows a shift in which dance is not only presented as a performing art, but also as a digital trend shaped by the creativity of creators and user participation. This study aims to analyze how dance has developed as a trend on TikTok by examining movement patterns, forms of user engagement, and the technological literacy of dance content creators. The study uses a qualitative approach utilizing online data, including video content analysis, user comments, and simulated interviews based on common patterns in the strategies of dance creators on TikTok. The data is analyzed thematically to identify movement characteristics, digital interaction dynamics, and technological competencies that emerge in the dance content production process. The results show that dance trends on TikTok are formed through simple, repetitive, and easily replicable movements, thereby encouraging widespread user participation. Creators also utilize digital features such as music synchronization, visual effects, and basic editing techniques to enhance the appeal of their content. These findings confirm that technological literacy is an important aspect of creators' success in building a digital identity and maintaining audience engagement. The study concludes that TikTok is not only a space for spreading popular dances, but also a digital learning ecosystem that encourages collaboration, creativity, and technological adaptation in dance practice. The implications of this study point to the importance of integrating digital literacy into arts education so that students are able to respond to developments in digital culture critically and productively. Keywords: Technology Literacy, Dance, TikTok, Digital Trends.
Pengembangan Video Pembelajaran Digital Bonang Gamelan Degung Berbasis Media Development Life Cycle (MDLC) Muqri, Al; Karyono, Tri; Sunaryo, Ayo; Karwati, Uus; Latifah, Diah
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia Vol 6 No 1 (2026): JPTI - Januari 2026
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpti.758

Abstract

Artikel ini membahas pengembangan media pembelajaran digital berbasis video untuk pembelajaran bonang gamelan degung sebagai bagian dari pendidikan seni musik tradisional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan dengan model Media Development Life Cycle (MDLC) yang meliputi tahap concept, design, material collecting, assembly, testing, dan distribution. Luaran penelitian berupa video pembelajaran yang memvisualisasikan teknik dasar permainan bonang, pola tabuhan, serta contoh permainan dalam konteks gamelan degung, dan didistribusikan melalui platform YouTube. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa penerapan model MDLC efektif dalam menghasilkan media pembelajaran yang layak secara teknis, mudah diakses, dan sesuai dengan karakteristik pembelajar generasi digital. Respon guru yang berperan sebagai pelatih serta murid ekstrakurikuler gamelan degung menunjukkan bahwa media ini membantu proses pembelajaran dan latihan, memudahkan pemahaman teknik tabuhan, serta mendukung pembelajaran mandiri. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi pada kajian teknologi pendidikan dan pendidikan seni musik dengan menunjukkan bahwa pengembangan media pembelajaran berbasis video dapat menjadi pendekatan strategis dalam adaptasi pembelajaran musik tradisional di era digital, sekaligus mendukung upaya pelestarian budaya melalui pemanfaatan teknologi.
Transformasi Praktik Seni Tradisi melalui Teknologi Digital: Studi Kontekstual Pembelajaran Musik Angklung pada Mahasiswa Pendikan Guru Sekolah Dasar Firtikasari, Melsya; Karyono, Tri; Andiana, Dinda; Dwimonikawatie, Viranie
Ibtida'i Vol 12 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/ibtidai.v12i2.11733

Abstract

Artikel ini mengkaji integrasi teknologi digital dalam pendidikan seni dengan fokus pada praktik pembelajaran musik angklung sebagai strategi pelestarian dan transformasi seni tradisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif reflektif untuk menganalisis pemanfaatan teknologi digital oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dalam proses pembelajaran seni musik. Data dikaji melalui refleksi pembelajaran, dokumentasi aktivitas, serta analisis penggunaan media digital seperti video pembelajaran, aplikasi komposisi musik, dan platform kolaboratif daring. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi teknologi digital mampu meningkatkan kreativitas mahasiswa, memperdalam pemahaman estetik, serta menguatkan kompetensi pedagogis dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran musik angklung. Selain memperluas akses dan fleksibilitas pembelajaran, teknologi digital juga berperan sebagai sarana adaptif dalam merevitalisasi nilai-nilai budaya lokal agar tetap relevan dengan konteks era digital. Temuan ini menegaskan bahwa sinergi antara seni tradisi dan teknologi digital membuka ruang inovatif bagi keberlanjutan pembelajaran seni berbasis budaya.