Claim Missing Document
Check
Articles

Penegakan Hukum Izin Pemanfaatan Hutan Produksi Di Desa Selelos Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara Muhazzir, Ahmad; Khair, Abdul; Johny Koynja, Johannes
Jurnal Diskresi Vol. 2 No. 2 (2023): Jurnal Diskresi
Publisher : Bagian Hukum Tata Negara Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/diskresi.v2i2.3677

Abstract

Penelitian ini menjadi dasar untuk menganalisa pengaturan penegakan hukum dalam pemberian izin pemanfaatan hutan produksi serta kendala dalam pelaksanaan. Penelitian ini bersifat empiris dianalisis secara deskriptif-preskriptif dalam bentuk kualitatif. Hasil penelitian ini yang berkenaan dengan pelaksanaan pengaturan izin diatur dalam 2 peraturan yang mengakibatkan pembagian tidak sama terhadap setiap subjek dan terbukti dari fakta dilapangan menggunakan cara pembagiannya berdasarkan peraturan lama yaitu 15 hektar per kepala keluarga adapun kendalanya adalah bahwa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan belum mengatur jenis tanaman yang bisa ditanam di hutan produksi tersebut, kurangnya aparat penegakan hukum dan sarana fasilitas serta kesadaran hukum masyarakat masih kurang.
Modifikasi Pemberian Tawas Berupa Larutan untuk Penurunan Kekeruhan Air di Desa Sungai Rangas Hambuku Khair, Abdul; Noraida, Noraida
Poltekita: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023): Oktober - Desember
Publisher : Pusat Penelitian & Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/pjpm.v4i4.2804

Abstract

As many as 89.3% of people in Sungai Rangas Hambuku Village still use river water for daily purposes. Turbidity measurements in 2021 amounted to 56 Nephelometric Turbidity Units (NTU) and in 2023 amounted to 53 NTU. This turbidity value has exceeded the maximum level allowed for water for hygiene and sanitation purposes of <3 NTU. Training on how to reduce the level of turbidity using alum has been provided in 2021, but the community has difficulty applying alum in a solid dosage form. The purpose of this activity is to train participants in administering alum to water taken from the river with modifications in the form of a solution preparation. The implementation method is pre-test, provision of training materials and demonstrations, post-test, and follow-up on the application of alum application to reduce water turbidity. Activity location in Sungai Rangas Village The duration of the activity is 6 months. The target number is 50 housewives.  The results of the activity showed that participants had increased their knowledge from a score of 41 to 76 to 71 to 100, participants were able to carry out the practice of making a 2% alum solution preparation, participants were able to carry out the practice of reducing the level of water turbidity using alum solution preparation, and participants were able to apply the results of the training in their respective homes.
The Role of the Palangka Raya City Government in Promoting the Halal Economic Ecosystem Wendy Wiraganti, Risna; Syarifuddin; Khair, Abdul; Patrajaya, Rafik
Jurnal Ilmu Hukum Tambun Bungai Vol 10 No 1 (2025): June 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Tambun Bungai Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61394/jihtb.v10i1.499

Abstract

This study examines the strategic role of the Palangka Raya City Government and the awareness level of business actors in developing a halal economic ecosystem in Central Kalimantan. Using a qualitative approach through literature studies, interviews, and observations, this research is based on the Sustainability Governance Theory to analyze the continuity of regulations in supporting the halal economy, as well as the Fraud Pentagon Theory (Crowe Howarth, 2012) to identify obstacles in the implementation of halal certification based on five elements: pressure, opportunity, rationalization, capability, and arrogance. The halal economic ecosystem in Central Kalimantan is influenced by two main factors. First, government intervention remains dominant due to the low independent initiative of business actors in obtaining halal certification. Second, medium-sized business actors are more aware of halal certification as both a legal obligation (juridical imperative) and a strategic investment to enhance competitiveness. From the perspective of the Fraud Pentagon Theory, pressure arises from regulatory demands and market preferences, while weak opportunity in supervision creates loopholes for the circulation of uncertified products. Medium-sized businesses have a higher level of rationalization regarding halal certification compared to micro and small enterprises, as they view it as a quality assurance and business investment. Capability is a challenge for UMKM with limited resources, whereas arrogance is observed among business actors who consider certification unnecessary. This study explores the impact of low business awareness, limited policy support, and restricted access to halal certification within the framework of the Five Pentagon Assets. The deficit in human capital is reflected in the lack of understanding among business actors, while the constraints in financial and social capital are evident in the lack of incentives and regulatory support. The sustainability of halal certification depends on strengthening these five assets through policy harmonization, optimizing awareness, and increasing the independence of business actors in consistently meeting halal standards. Keywords : Halal Ecosystem, Government Role, Halal Certification.
UPAYA PENGEMBANGAN HOME INDUSTRY OLEH PEMERINTAH DAERAH KOTA PALANGKA RAYA Habibi, Mustafha; Khair, Abdul; Ihsan, Reza Noor
Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum (JISYAKU) Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum (JISYAKU)
Publisher : Sharia Faculty of State Islamic Institute (IAIN) Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/jisyaku.v3i1.7595

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya pelaku usaha rumahan yang mengalami penurunan penjualan dan sulitnya pemasaran masa covid-19. Peran pemerintah daerah Kota Palangka Raya melalui Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian sangat penting dalam pengembangan usaha yang terjadi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penelitian ini difokuskan pada peran dan pelaksanaan pemerintah daerah dalam pengembangan home industry melalui DPUKMP Kota Palangka Raya. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Subjek penelitian ini Kabid UMKM, Kasi Pengembangan UMKM, dan Kasi Pemberdayaan Industri. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DPUKMP Kota Palangka Raya melaksanakan program pengembangan usaha melalui pelathan seperti pemasaran digital, manajemen usaha dan keterampilan serta bantuan langsung tunai (BLT), peralatan usaha, sertifikasi merk dan halal. Meskipun telah dilakukan berbagai program, pemerintah daerah belum maksimal dalam pengembangan usaha ini disebabkan oleh sumber daya manusia dan anggaran yang terbatas serta penurunan penjualan bagi pelaku usaha. Pemanfaatan media sosial merupakan solusi untuk melakukan strategi pemasaran dan kerja sama dengan pihak swasta dalam bentuk bantuan sosial serta merekrut pegawai negeri sipil yang memiliki keahlian diberbagai bidang usaha.
Penurunan Kekeruhan Air Menggunakan Larutan Tawas di Desa Sungai Batang Ilir Khair, Abdul; Noraida
JPEMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026): JPEMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/adc.v4i2.1390

Abstract

Sebagian besar masyarakat di Desa Sungai Batang Ilir memperoleh air untuk keperluan hygiene dan sanitasinya sehari-hari dari air sungai yang melintas di desa tersebut. Diketahui tingkat kekeruhan air (57,8 NTU) melebihi standar yang ditetapkan (lebih dari 3 NTU) sedangkan pH air (7,1) sudah sesuai standar. Ada masyarakat mengolah air sungai yang keruh menggunakan tawas, namun dosis tawas yang digunakan dan cara pengolahan yang dilakukan belum sesuai. Hal tersebut mengakibatkan rasa air menjadi asam, sepat, bahkan terkadang air tidak berubah menjadi jernih. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di desa ini ditujukan untuk melatih masyarakat membuat larutan tawas dan menurunkan tingkat kekeruhan air sungai untuk keperluannya sehari-hari. Lama waktu seluruh kegiatan adalah 6 bulan dengan melibatkan Sanitarian Puskesmas Martapura Barat. Jumlah sasaran sebanyak 10 ibu rumah tangga. Kegiatan utama berupa pemberian materi dan pelatihan tentang cara pengolahan air sungai menggunakan larutan tawas. Hasil kegiatan menunjukkan nilai pretest berkisar antara 23,5 hingga 58,8 dan nilai posttest berkisar antara 94,1 sampai 100. Hal ini berarti kontribusi kegiatan pelatihan berkisar antara 41% sampai 75% dari tingkat pengetahuan dan pemahaman awal. Peserta telah mampu mempraktikan dengan benar cara membuat larutan tawas dan cara menurunkan tingkat kekeruhan air sungai.
Hubungan Sumber dan Kualitas Air Minum dengan Diare di Puskesmas Pulang Pisau Camelia, Nor; Khair, Abdul; Noraida
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v4i2.1663

Abstract

Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama pada balita dan erat kaitannya dengan faktor lingkungan, khususnya kualitas air minum. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara sumber dan kualitas mikrobiologi air minum dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pulang Pisau. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case-control. Sampel terdiri dari 28 balita (14 kasus dan 14 kontrol) yang dipilih dengan rasio 1:1 dan dilakukan matching berdasarkan umur, jenis kelamin, dan pendidikan orang tua. Data kejadian diare diperoleh dari register Puskesmas dan diverifikasi melalui wawancara. Sumber air minum diidentifikasi melalui observasi langsung, sedangkan kualitas mikrobiologi diperiksa menggunakan sanitarian kit untuk mendeteksi keberadaan Escherichia coli. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 0,05 serta perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sumber air non-PDAM berhubungan signifikan dengan kejadian diare (OR = 6,25; p < 0,05). Selain itu, air minum yang terkontaminasi E. coli juga berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko diare (OR = 6,60; p < 0,05). Disimpulkan bahwa sumber dan kualitas mikrobiologi air minum merupakan faktor risiko penting terhadap kejadian diare pada balita. Peningkatan pengawasan kualitas air minum dan edukasi pengolahan air sebelum konsumsi diperlukan sebagai upaya pencegahan.