Claim Missing Document
Check
Articles

Nilai-Nilai Pancasila dalam tradisi qiramat Brilliany Dwi Mitry; Hasrul Hasrul; Junaidi Indrawadi; Susi Fitria Dewi
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 3 No. 1 (2023): JECCO: Fifth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v3i1.114

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai Pancasila dalam proses pelaksanaan tradisi Qiramat. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya dugaan bahwa pada pelaksanaan tradisi Qiramat ada nilai-nilai Pancasila didalamnya dan masih kurangnya pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam pelaksanaan tradisi Qiramat oleh masyarakat Sonsang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Pemilihan Informan menggunakan teknik purposive sampling. Jenis data dan sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, sedangkan sumbernya adalah sumber data primer dan sumber data sekunder melalui wawancara dan dokumentasi. Uji keabsahan datanya menggunakan teknik membercheck dan teknik triangulasi sumber. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini yaitu ada beberapa tahap dalam proses pelaksanaan tradisi Qiramat yang dimulai dari tahap persiapan yaitu mengadakan rapat, memberitahu, mempersiapkan pelengkap berqiramat, dan gotong royong. Tahap pelaksanaan yaitu masyarakat turun ke tengah sawah, berdzikir, membaca surah Yasiin, dan berdoa bersama, serta makan bersama. Tahap penutupan yaitu menyiram tanaman padi dengan tujuh jenis ramuan. Nilai-nilai Pancasila dalam tradisi Qiramat adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.
Tradisi mamanggia dalam upacara adat perkawinan Minangkabau Irfan Saputra; Susi Fitria Dewi; Hasrul Hasrul; Nurman S
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 3 No. 1 (2023): JECCO: Fifth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v3i1.135

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi mamanggia dalam upacara adat perkawinan Minangkabau dan menjelaskan pandangan tokoh masyarakat terhadap tradisi mamanggia dalam upacara adat perkawinan Minangkabau di Kelurahan Gunung Sarik Kecamatan Kuranji. Adapun Jenis penelitian adalah kualitatif metode deskriptif. Hasil penelitian data diuraikan dalam bentuk deskripsi, data diperoleh berdasarkan pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Informan pada penelitian ini dipilih berdasarkan teknik purposive sampling. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, display data, dan verifikasi. Validasi data dilakukan dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukan bahwa tradisi mamanggia yang merupakan suatu interaksi seorang penyelenggara acara perkawinan untuk mengundang dan masih terlaksana dengan baik hingga saat ini. Meskipun ada sedikit inovasi dari simbol yang digunakan tetapi tidak menghilangkan makna tradisi mamanggia. Masyarakat dan tokoh masyarakat menyetujui tradisi ini karena mempunyai nilai historis, nilai budaya, dan nilai ekonomis.
Persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan kampanye dan pemungutan suara Nada Elva Susanti; Suryanef Suryanef; Al Rafni; Susi Fitria Dewi
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 3 No. 1 (2023): JECCO: Fifth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v3i1.137

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan kampanye dan pemungutan suara pada pemilihan bupati dan wakil bupati Pesisir Selatan tahun 2020 pada masa pandemi Covid 19 yang berbeda pada pemilihan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh adanya kekhawatiran di tengah masyarakat akan pelaksanaan pilkada di masa pandemi sehingga menimbulkan keberagaman persepsi yang ada dikalangan masyarakat. Jenis Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 99 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan teknik analisis data menggunakan persentase normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan kampanye dan pelaksanaan pemungutan suara tahun 2020 menuai kontroversi dan keberagaman persepsi ditengah masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan hasil pengolahan data bahwa persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan kampanye memiliki persentase 83,9% dan persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan pemungutan suara memiliki persentase 82,0% sehingga berpengaruh dalam pelaksanaan pemilihan bupati dan wakil bupati.
Pergeseran peran mamak kaum ke mamak di luar kaum dalam prosesi pernikahan adat Rahmat Hidayat; Fatmariza Fatmariza; Susi Fitria Dewi; Nurman S
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 3 No. 1 (2023): JECCO: Fifth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v3i1.142

Abstract

Artikel ini membahas mengenai tahapan pembayaran Ninik Mamak dalam perkawinan adat, faktor penyebab terjadinya pembayaran mamak, serta dampak pembayaran Ninik Mamak terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat di Nagari Mungka. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi metode dan sumber. Data yang diperoleh selama penelitian dianalisis dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukan tahapan pembayaran niniak mamak dalam pernikahan adat yaitu biaya mamak dan mamak yang dipakai jasanya seperti biaya rokok dan makan mamak ditanggung oleh pihak keluarga yang membawa mamak dan uang saku untuk mamak. Kurangnya perhatian mamak terhadap pendidikan keagamaan anak kamanakan dan kurang bertanggung jawab terhadap pendidikan keagamaan anak kamanakannya. Serta faktor sosial yaitu kurangnya sosialisasi mamak terhadap mamak-mamak yang lain serta kepada anak kamanakannya dalam pengetahuan tentang adat istiadat.
Peranan Jamaah Suluk Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dalam membangun nilai-nilai religius pada masyarakat Sonia Fantika Suri; Isnarmi Isnarmi; Nurman S; Susi Fitria Dewi
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 3 No. 1 (2023): JECCO: Fifth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v3i1.147

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana peranan jamaah suluk Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dalam meningkatkan relijiusitas masyarakat, bagaimana pandangan masyarakat terhadap jamaah suluk, dan implikasi peran jamaah suluk dalam membangun nilai-nilai religius pada masyarakat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Informan dalam penelitian ini ditentukan secara purposive sampling. Sumber data dalam penelitian terdiri dari sumber data primer dan sekunder yang dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data melalui ketekunan pengamatan, member check, dan triangulasi. Teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan yang dilakukan jamaah suluk pada masyarakat melalui kegiatan agama dan sosial yaitu, membina agama di dalam kehidupan masyarakat, memberikan pendidikan agama di dalam keluarga dan memberikan keteladanan mengenai akhlak yang baik di dalam kehidupan sosial masyarakat; Pandangan masyarakat mengenai ajaran suluk sangat positif, karena suluk mengutamakan agama; Pada umumnya masyarakat berpandangan positif terhadap jamaah suluk karena kehidupan relijius peserta jamaah suluk menunjukan perubahan kearah yang lebih baik. Selain itu, masyarakat juga memiliki pandangan positif terhadap kegiatan yang dilakukan jamaah suluk, serta mendukung kegiatan tersebut karena dipandang sangat bermanfaat. Adapun pengaruh yang dirasakan masyarakat terkait pembangunan nilai- nilai religius dari peranan yang dilakukan jamaah suluk berupa perubahan ke arah yang lebih baik dalam hal ibadah dan akhlak.
Nilai gotong royong dan tolong-menolong masyarakat adat dalam acara batagak kudo-kudo Mutia Afwinda; Nurman S; Ideal Putra; Susi Fitria Dewi
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 3 No. 1 (2023): JECCO: Fifth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v3i1.155

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan acara batagak kudo-kudo rumah di nagari Kayu Tanam Kabupaten Padang Pariaman dan menganalisis bentuk-bentuk perubahan nilai gotong royong dan tolong menolong masyarakat dalam acara batagak kudo-kudo rumah. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Penetapan infoman dilakukan dengan teknik purpose sampling. Teknik dan alat pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Alat yang digunakan Handphone, alat perekam suara, dan kamera. Uji keabsahan data menggunakan ketekunan pengamatan, member check, dan teknik triangulasi. Teknik analisis data yaitu melalui cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada pelaksanaan acara batagak kudo-kudo rumah terdapat rangkaian atau proses yang memilik nilai gotong royong dan tolong menolong pada setiap prosesnya. Pada setiap proses juga memiliki implementasi nilai kebersamaan. Prosesi Batagak kudo-kudo rumah mengalami pergeseran dan perubahan nilai gotong royong dan tolong menolong masyarakat hal ini disebabkan oleh dua faktor yakni internal dan eksternal. Pertama faktor internal yaitu masyarakat tidak lagi melaksanakan acara batagak kudo-kudo rumah. kedua faktor eksternal yaitu adanya sistem upah dan gaji sehingga masyarakat tidak lagi membutuhkan waktu yang lama selama proses acara.
Media sosial dan pengaruhnya terhadap partisipasi politik pemilih pemula pada Pilkada Dimaz Oktama Andriyendi; Nurman S; Susi Fitria Dewi
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 3 No. 1 (2023): JECCO: Fifth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v3i1.172

Abstract

Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh dari media sosial terhadap partisipasi politik pemilih pemula pada pilkada Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun 2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Kuantitatif dengan jenis penelitian Ex-post Facto. Adapun responden dalam penelitian adalah pemilih pemula yang memiliki rentan usia 17-23 tahun berdomisili di Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebanyak 98 orang dengan tingkat kesalahan 10% serta diambil menggunakan teknik Simple Random Sampling. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa pengaruh media sosial terhadap partisipasi politik pemilih pemula memiliki nilai Adjust R Square 0.306 yang artinya pengaruh variabel media sosial terhadap partisipasi politik pemilih pemula sebesar 31%. Dalam hal ini media sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi politik pemilih pemula pada pilkada Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Studi perubahan persepsi masyarakat tentang uang japuik Salsabila Salsabila; Nurman S; Ideal Putra; Susi Fitria Dewi
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 3 No. 1 (2023): JECCO: Fifth Edition
Publisher : Departemen Ilmu Sosial Politik Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v3i1.110

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan persepsi masyarakat tentang uang japuik dan menganalisis hal-hal yang dapat berpengaruh pada persepsi masyarakat di Nagari Gadur terhadap uang japuik. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Informan penelitian diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Uji keabsahan dari data penelitian menggunakan ketekunan pengamatan, selanjutnya member chek dan dilanjuti teknik triangulasi. Teknik analisis data penelitian melalui reduksi data, selanjutnya penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terjadi perubahan persepsi masyarakat terhadap proses pelaksanaan perkawinan dimana beberapa tahapan perkawinan bajapuik tidak dilaksanakan karena perubahan nilai tanggung jawab mamak, orang tua, kaum kerabat dan sumando terhadap uang japuik dalam perkawinan dilihat dari perluasan partisipan. Selanjutnya perubahan persepsi dilihat dari sisi besaran uang japuik dahulu diukur dari status keturunan sidi, bagindo, sutan sekarang sudah dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Faktor yang mendorong terjadinya perubahan persepsi terhadap uang japuik dalam perkawinan di Nagari Gadur yaitu faktor ekonomi dan sosial.
DISFUNGSI KESENIAN GAMAD DAN BALANSE MADAM DI SUMATERA BARAT Febri Yulika; Susi Fitria Dewi; Jelly Jelly; Yetty Oktayanty
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 23, No 2 (2021): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v23i2.3667

Abstract

Gamad music and Balanse Madam dance are no longer popular among the people of West Sumatra. This art was created by an art movement from Nias who lived in the city of Padang in the early 18th century. Balanse Madam art was popular in the 1960s to 1980s. The specialty of this art is that it adopted the music and dance of the Portuguese who loved to party when they traded spices on the West Sumatra coast in the 18th century. The Balanse madam dance was later imitated by Nias workers who later adapted it to the values of the people of West Sumatra. The music that accompanies the Balanse Madam dance is Gamad music (Inter-Regional Music Association) combining various musical instruments of various ethnicities living in the city of Padang such as Minangkabau, Medan and Malay regional music. However, this art, both Gamad music and Balanse Madam dance, are no longer alive in society. Various factors, both internal and external, have caused this art to be rarely performed. As for this article, it will be analyzed using the concept of dysfunction. As for this article, it will be analyzed using the concept of dysfunction.  AbstrakMusik Gamad dan Tari Balanse Madam sudah tidak populer lagi di kalangan masyarakat Sumatera Barat. Kesenian ini diciptakan oleh sebuah gerakan seni dari Nias yang bermukim di kota Padang pada awal abad ke-18. Seni Balanse Madam populer pada tahun 1960 hingga 1980-an. Keistimewaan kesenian ini adalah mengadopsi musik dan tarian bangsa Portugis yang gemar berpesta saat berdagang rempah-rempah di pesisir Sumatera Barat pada abad ke-18. Tari Balanse Madam ini kemudian ditiru oleh para pekerja Nias yang kemudian disesuaikan dengan nilai-nilai masyarakat Sumatera Barat. Musik yang mengiringi tari Balanse Madam adalah musik Gamad yang memadukan berbagai alat musik dari berbagai etnis yang tinggal di kota Padang seperti musik daerah Minangkabau, Medan dan melayu. Namun kesenian ini, baik musik Gamad maupun tari Balanse Madam, sudah tidak hidup lagi di masyarakat. Berbagai faktor baik internal maupun eksternal menyebabkan kesenian ini jarang dipentaskan. Adapun artikel ini dianalisis dengan menggunakan konsep disfungsi.  
Oral tradition in the study of ulayat land disputes in West Sumatra Dewi, Susi Fitria
Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 12, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Land is a society's potent symbol of wealth, social power, and culture. A long time ago, when extensive jungles and forests still abounded, there were probably no serious conflicts over land ownership. Groups were free to roam about and to open up land to extend their farming area in accordance to their needs. Groups in society marked the land they had cultivated to proclaim their ownership. These marks could be very simple and could simply be a tree, a big stone, or a piece of iron hammered into the soil, or they used the physical condition of the land itself such as rivers, lakes, hills etcetera as borders to distinguish their land from that of others. Minangkabau traditional society never recorded these borders in writing on paper, leaves, or stones or any other means as many peoples in other parts of the world do. Rather, they deemed it sufficient to use natural symbols to demarcate the important agreements they had made between them orally.
Co-Authors Afdol Tasmara Afdol Tasmara Afifa Rifki, Aufi Afiko, Dinang Akmal, Eko Al Rafni Aldri Frinaldi Alvin Gumelar Hanevi Andes Hulfareza Andri Maijar Andriani Andriani Angraini, Nosy Mutia Arieska Dwi Asmil Arisman Trisno Audia, Yevi Ayla Fandhini Azwar Ananda Beska, Prima Indrata Brilliany Dwi Mitry Debi Lizarman Deby Andrila Delmira Syafrini Deno Arifianto Dimaz Oktama Andriyendi Dwi Fitri Rima Yoli Ega Dwi Sandrika Eka Vidya Putra Erianjoni Erianjoni Erlina Pantja Sulistijaningtijas Ersya, Muhammad Prima Ersya, Muhammad Prima Fadli Ilham Fadli Nofratama Fatmariza Fatmariza Febri Yulika Fitri, Aida Gebri Jasman Gustiva Yelviani Hafizhah Hamim Nasution Hanika Gusti Sani Hanuzral, Muhammad Hasibuan, Huwaida Afra Hasrul Hasrul, Hasrul Hasrul Piliang Henni Muchtar Hermanita, Reva Putri Hidayah, Yayuk Hikma Damayanti Hutabarat, Wildan Yusran Ideal Putra Ifijalia Nofila Indah Rahayu Putri Indrawadi, Junaidi Irfan Saputra Irwan Hamdi Irwan Hamdi Irwan Irwan Irwan Irwan Isnarmi Moeis Jandrea Putri, Yunda Jelly Jelly Joni, Erian Julio, Axnes Junaidi Irwandi Junita, Upik Khairani Khairani Khairani Khairani Lely Suryani Nasution Lisa Suhaimar Lisna Waty Ritonga Luthfi, Zaky Farid M. Yusuf Siregar Mardhatillah, Ummi Maria Montessori Marlina, Tika Indra Mesy Maisara Milleniya, Lola Fitri Monda Resta, Nova Monica Tiara Muhammad Ramez Mutia Afwinda Mutia Eka Masputri Mutia Shandy Nada Elva Susanti Nasution, Hafizhah Hamim Nazhifah, Suci Naurah Ningsih, Wella Ayu Nora. AN, Desri Nosy Mutia Angraini Nurjannah Nurjannah Nurman Nurman Nurman S Nurman S Nursaid, Imral Ofianto, Ofianto Oftayanti, Nala Oktaviani, Revi Paluvi, Mutiara Gita Pohan, Mukmin Pratama Putra, Dava Purnama, Tetti Eka Putra, Tommy Pratama Putri Novita Sari Putri Yanti, Putri Putri, Nadia Dwi Rahman, Khawarizmi Rahmat, Afdhalur Rahmi Fauzia Ramadhani, Riska Putri Recy Harviani Zurwanty Restu Diannisa Restu Syahputra Sinaga Rika Febriani Riky Pratama Susilo Riri Trinanda Ririn Oktavia Rivad, Muhammad Rizka Morina Rozani, Devi Sakti, Reza Ginandha Salsabila Salsabila Sandra, Jerli Novia Santia, Windi Saputri, Rahmawati Sari, Yesi Fitria Sayuti, Aldimas Rakasi Servasius Balok Sihombing, Radot Maruli T Sinta Nurjulaiha Siska Pratama Siti Rahmi Sonia Fantika Suri Sri Bunga Oktavia SRI RAHAYU Sri Rahayu Suhono Suhono, Suhono Suryanef Suryanef Susi Karmila Syafri Anwar Syahdina Ahbal Syamsuddin Anas Tama, Deva Alfian Tiara, Monica Tristiadina, Arini Ulpa, Fadilla utami, anis Wirdanengsih, Wirdanengsih Yessica Pratama Naibaho Yetty Oktayanty Yudiana Nofriani Yulia Almira Yulista, Maghfira Yuni Kartika, Yuni Yunita Rozalinda Yurni Suasti Yurni Suasti Yusnanik Bakhtiar Zahara, Nurul Husna Zatalini, Rinia Zhalsa Oktavilia