Claim Missing Document
Check
Articles

Waktu Penutupan Epifisis Tulang Radius dan Ulna Bagian Distal Tiara Mayang Pratiwi Lio; Toetik Koesbardiati; Ahmad Yudianto; Rosy Setiawati
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 19 No. 1 (2017): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.302 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v19i1.2017.55-67

Abstract

AbstrakIdentifikasi usia forensik bertujuan untuk menentukan dengan cara yang paling akurat usia kronologis seseorang yang tidak diketahui atau diragukan keasliannya terlibat dalam proses hokum. Salah satu metode yang digunakan adalah untuk menilai penutupan epifisis pada tulang melalui pemeriksaan radiologi. Masalah utama penggunaan metode ini berhubungan dengan relevansi dan representatif populasi referensi yang tersedia karna dipengaruhi oleh genetik dan gizi maka di perlukan data yang dapat mewakili setiap populasi. Pemeriksaan radiologi tulang pergelangan tangan dari 68 pasien laki-laki usia 11-30 tahun dan 22 pasien perempuan usia 13-28 tahun di RSUD.Dr.Soetomo, Surabaya selama periode januari-april 2016 , dilakukan untuk menentukan waktu penutupan epifisis dari tulang radius dan ulna bagian distal. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif cross-sectional. Kesimpulan dari penelitian ini pada laki-laki pada usia ≥17 sebagian besar tulang radius dan ulna bagian distal mengalami penutupan epifisis yang telah lengkap dan pada perempuan usia ≥16 sebagian besar tulang radius dan ulna bagian distal mengalami penutupan epifisis yang telah lengkap.Kata kunci—Usia ; Penutupan epifisis ; Radius dan Ulna distal ; Laki-laki ; Perempuan
Estimasi Tinggi Badan Berdasarkan Ukuran Kepala pada Ras Mongoloid di Pandean, Surabaya Azizatul Haq Larasati; Toetik Koesbardiati; Ahmad Yudianto
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol. 20 No. 2 (2018): JURNAL BIOSAINS PASCASARJANA
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.296 KB) | DOI: 10.20473/jbp.v20i2.2018.107-119

Abstract

AbstrakTinggi badan adalah salah satu parameter yang sangat penting dalam identifikasi individu. Tidak setiap kasus forensik ditemukan tulang panjang, sehingga perlu merumuskan bagian tulang kepala untuk mengestimasi tinggi badan. Saat ini belum ada penelitian tentang estimasi tinggi badan berdasarkan ukuran kepala pada ras Mongoloid di Surabaya. Rancangan penelitian ini menggunakan cross sectional analitic. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan paling dominan di antara ukuran kepala, termasuk panjang kepala maksimum (g-op), lebar kepala maksimum (eu-eu), lingkar kepala (on-op), lebar mandibula (go-go), dan tinggi morfologi wajah (n-gn) dengan tinggi badan pada laki-laki dan perempuan ras Mongoloid di Pandean, Surabaya.Besar sampel penelitian ini adalah sebesar total populasi yang memenuhi kriteria, yakni laki-laki usia 25-40 tahun sebanyak 42 orang, dan perempuan 25- 40 tahun sebanyak 45 orang. Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan kriteria: Ras Mongoloid, berdiri tegak, bersedia menandatangani informed consent. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok laki-laki variabel tinggi morfologi wajah mempunyai hubungan paling dominan dengan tinggi badan dengan R2 sebesar 0,206 dan kelompok perempuan variabel lingkar kepala mempunyai hubungan paling dominan dengan tinggi badan dengan R2 sebesar 0,218. Dihasilkan formula regresi estimasi tinggi badan berdasarkan setiap variabel ukuran kepala pada kelompok laki-laki dan kelompok perempuan usia 25-40 tahun ras Mongoloid di Pandean, Surabaya..  Kata kunci—estimasi, kepala, tinggi badan
Pemberdayaan Dikalangan Calon Pekerja Migran Dalam Rangka Pencegahan Penyakit Menular di Desa Benculuk, Kecamatan Celuring, Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur Toetik Koesbardiati; Sri Endah Kinasih; Delta Bayu Murti; Rachmah Ida; Irfan Wahyudi
Jejaring Administrasi Publik Vol. 13 No. 1 (2021): Jejaring Administrasi Publik
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.096 KB) | DOI: 10.20473/jap.v13i1.29359

Abstract

Rendahnya Pekerja Migran Indonesia (PMI) sebenarnya berkorelasi lurus dengan rendahnya tingkat pendidikan formal mereka. Rata-rata pendidikan formal sebanyak 68%  lulusan SD dan SMP. Pengetahuan PMI terkait dengan penularan penyakit yang disebabkan adanya pola-pola interaksi sangatlah rendah. Penyakit menular pada PMI terkait dengan pola-pola interkasi banyak dilakukan di negara tujuan. Hal ini tentunya  berdampak pada penyebaran penyakit menular pada PMI purna penempatan yang semakin meningkat bahkan menyebarluas bukan hanya di daerah pengiriman saja tetapi ke wilayah-wilayah yang bukan pengiriman PMI.WHO dari Komisi Migrasi dan Kesehatan menyampaikan adanya kerentanan para migran terkait dengan hak, perawatan kesehatan sebagai hak asasi manusia. Komisi ini memberikan rekomendasi menuju Global Health dengan misi migrasi sehat. Untuk merespon situasi ini maka studi ini membahas tentang pemberdayaan dikalangan  calon pekerja migran dalam rangka pencegahan penyakit menular  desa Benculuk, kecamatan Celuring, kabupaten Banyuwangi Jawa Timur ini diharapkan memberikan kontribusi untuk calon PMI terkait dengan pola-pola interaksi dan berperilaku sesuai standard kesehatan  dengan sesama migran, majikan maupun warga negara tujuan. Apabila ketika dalam pola-pola interaksi dan berperilaku tidak sesuai standard kesehatan maka akan berdampak penularan penyakit.  Pemberdayaan ini dilakukan di Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Desa Benculuk Kecamatan Cluring Banyuwangi  Provinsi Jawa Timur. Penentuan lokasi penelitian  ditentukan secara purposive di kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten dari tujuh kabupaten di Jawa Timur pengirim pekerja migran ke luar negeri. Pengumpulan data meliputi  observation  dan indepth interview. Informan yang dipilih adalah individu-individu yang memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang permasalahan yang diteliti. Terakhir adalah analisa data  yaitu data yang terkumpul kemudian diklasifikasikan dan diindentifikasikan berdasarkan tema kemudian dianalisa.Hasil studi ini menunjukkan bahwa calon PMI belum memiliki pengetahuan tentang penyakit menular yang disebabkan oleh interaksi yang tidak tepat. Interkasi yang tepat akan mencegah terjadinya penularan penyakit. Apalagi informasi penularan penyakit tidak disampaikan pada pelaksanaan Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP) dan tidak didukung dengan menggunakan media pengajaran seperti video, simulasi dan hanya menggunakan metode ceramah. Demikian materi yang disampaikan tidak sesuai dengan modul pegangan instruktur. Dengan adanya pemberdayaan dikalangan calon PMI terkait dengan bahaya penyakit menular perlu adanya kiat-kiat untuk menghindarinya dengan membatasi interaksi di negara tujuan.
SISA RANGKA TENTARA JEPANG DARI PERANG DUN lA II Dl BIAK (The Japan Soldier Bones Remains from World War II in Biak Island) Toetik Koesbardiati; Delta Bayu Murti
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5113.855 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i1.7

Abstract

Repatriation of the skeletal remains of Japanese soldiers who died during World War II in Indonesia has been conducted since 2009. In 2013 repatriation activities carried out in Biak, West Papua. The purpose of repatriation in 2013 is to identify the human remains that assumed as Japanese soldier. Identification methods follow the protocol of forensic anthropology. The results indicate the identification of mixing between the Japanese soldiers with local residents. Furthermore, we found also subadult human remains. Individualization analysis showed pathological conditions of bone, that also assumed suffered infectious disease (yaws or syphilis). AbstrakRepatriasi sisa rangka tentara Jepang yang tawas selama Perang Dunia II di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 2009. Di tahun 2013 kegiatan repatriasi dilakukan di Biak, Papua Barat. Tujuan repatriasi tahun 2013 ini adalah mengidentifikasi temuan sisa-sisa rangka yang diduga sebagai tentara Jepang. Metoda identifikasi sisa rangka mengikuti protokol ke~a dalam antropologi forensik. Hasil identifikasi mengindikasikan tercampumya sisa rangka tentara Jepang dengan penduduk lokal dan adanya sisa rangka anak-anak. Analisis individualisasi menunjukkan kondisi patologis tulang, yang diduga efek dari infeksi penyakit yaws atau sifilis.
THE DENTAL MODIFICATIONS IN ANCIENT UNTIL PRESENT INDONESIA A CHRONOLOGICAL EVIDENCE OF INDONESIAN RACIAL IDENTITY Rusyad Adi Suriyanto; Toetik Koesbardiati; Delta Bayu Murti
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.45 KB) | DOI: 10.24832/papua.v3i2.81

Abstract

Sejarah migrasi di Asia Tenggara telah menjadi subjek banyak spekulasi dengan memanfaatkan ciri-ciri morfologis rangka dan gigi manusia, perbandingan-perbandingan dan persebaran linguistic dan cultural, perbandingan-perbandingan genetika manusia, filogeni dan DNA kuno hewan-hewan dan tanaman-tanaman dan koevolusi bahasa dan genetika manusia. Menurutpola migrasi di Indonesia ini, kami telah mencoba juga untuk membangun hipotesis tentang sejaah rasial dan penghunian Kepulauan Indonesia sejak Neolitik sampai sekarang dari bukti modifikasi-modifikasi gigi yangpernah ditemmukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan modifikasi-midifikasi gigi yang pernah dilakukan di Indonesia berdasarkan bukti-bukti paleoantropologis-arkeologis. Di samping itu, penelitian ini juga telah menginvestigasi dan menunjukkan identitas rasial penduduk Indonesia dari Neolitik sampai sekarang. Bahan penelitian meliputi gigi-geligi tengkorak manusia dewasa yang berasal dari beberapa situs paleoantropologis-arkeologis di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi dan Papua, serta sampel gigi-geligi permanen isolatif populasi Bali modern. Metode-metode yang digunakan adalah metode deskriptif komparatif visual, dan penelusuran sumber-sumber pustaka arkeologis dan etnografis klasik. Sumber-sumber etnografis Indonesia yang terkait dengna modifikasi-modifikasi gigi juga telah dihadirkan. Bukti-bukti ini telah diupayakan untuk menunjukkan kontinuitas modifikasi-modifikasi gigi di Indonesia. Fungsi-fungsi modifikasi gigi telah diupayakan untuk ditampilkan, baik yang terkait dengan ritus inisiasi maupun estetika. Para peneliti bermaksud untuk mengeksploitasi bahwa modifikasi-modifikasi gigi ini terkait dengan migrasi dan kronologi persebaran ras-ras manusia di Asia Tenggara ke Kepulauan Indonesia dan penghuniannya dari 4000 tahun yang lalu sampai sekarang. Ras-ras manusia ini adalah Australomelanesoid dan Mongoloid yang merupakan populasi-populasi utama yang menghuni kawasan ini.
PROFIL PROGNASI WAJAH BEBERAPA POPULASI DUNIA [Prognation Profile of World Population Faces] Toetik Koesbardiati
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4040.504 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.210

Abstract

The face is one of the major variables in determining the biological characteristics of a population in the identification effort of human skeletal remains. This is not only important in the field of forensic anthropology but also the field of bioarchaeology. The purpose of this study is to describe the variation of facial angle in some of the world population. The method applied is anthropometry. The study material is the skull of nine world populations of Europe, North Africa, Subsahara Africa, South America, Inuit, Australomelanesia, Indonesia, Polynesia and China. The results showed that among the population tested, Australomelanesoid, Polynesian, Indonesian and African Subsahara populations had a prognathic face both on the even face, as well as the alveolar and facial projection. In contrast, the population groups of China, Europe, Inuit and North Africa are population groups that have faces of orthognath.  ABSTRAKWajah adalah salah satu variabel utama dalam menentukan ciri biologis suatu populasi pada usaha identifikasi sisa rangka manusia. Hal ini tidak hanya panting dalam bidang antropologi forensik tetapi juga bidang bioarkeologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan variasi sudut wajah pada beberapa populasi dunia. Metode yang diterapkan adalah antropometri. Bahan penelitian adalah tengkorak dari sembilan populasi dunia yaitu populasi Eropa, Afrika Utara, Afrika Subsahara, Amerika Selatan, Inuit, Australomelanesia, Indonesia, Polinesia dan China. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara populasi yang diuji, populasi Australomelanesoid, Polinesia, Indonesia dan Afrika Subsahara memiliki wajah yang prognath baik pada bagian wajah genap, maupun bagian alveolar serta proyeksi wajah. Sebaliknya kelompok populasi China, Eropa, Inuit dan Afrika Utara adalah kelompok populasi yang memiliki wajah orthognath.
ENAMEL HIPOPLASIA PADA TENGKORAK MANUSIA PRASEJARAH DARI SITUS MELOLO, SUMBA, NUSA TENGGARA TIMUR (Hypoplasia Enamels in Human Skull Preparation from Melolo Site, Sumba, East Nusa Tenggara) Desytri Ayu Herina; Toetik Koesbardiati
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.425 KB) | DOI: 10.24832/papua.v10i1.238

Abstract

Cultural changes that occur during the Neolithic final transition to the beginning of the metal age are slowly providing consequences for the health problems of a population. Lifestyle changes that occurred during the transition resulted in the emergence of growth stress that must be faced by the population living in transition. Causes of developmental stress are unequal living conditions, nutritional stress, illness, dietary changes, and increased population density. Stress of growth period experienced by individuals can be recorded on bones and teeth as a pathology. Therefore, bones and teeth are part of the body that has plastic and dynamic characteristic. The pathology that can be recorded on the teeth as an indicator of stress is Enamel Hipoplasia (EH). The purpose of this study is to describe the emergence of EH on the remaining order of human prehistori from Melolo site. The emergence of EH is identified macroscopically and uses photography methods with Alternative Light Source UV light tehnologi for documentation. EH on the remaining human skeletal order of Melolo has a pattern of horizontal or horizontal grooves called Linier Enamel Hipoplasia (LEH). EH with the LEH pattern is owned by 3 individuals from Melolo as a response from the development of transitional life from the late Neolithic era to the beginning of the metal age with the pattern of agriculture. Abstrak Perubahan budaya yang terjadi pada masa transisi akhir neolitik menuju awal zaman logam secara perlahan memberikan konsekwensi terhadap munculnya masalah kesehatan suatu populasi. Perubahan gaya hidup yang terjadi pada masa transisi mengakibatkan munculnya stres masa pertumbuhan yang harus dihadapi oleh populasi yang hidup pada masa itu. Penyebab munculnya stres masa pertumbuhan adalah ketidakseimbangan kondisi lingkungan tempat tinggal, tekanan gizi, kemunculan penyakit, perubahan pola diet, dan peningkatan jumlah kepadatan populasi. Stres masa pertumbuhan yang dialami oleh individu dapat terekam pada tulang dan gigi sebagai suatu patologi karena tulang dan gigi merupakan bagian tubuh yang plastis dan dinamis. Patologi yang dapat terekam pada gigi sebagai indikator terjadinya stres adalah Enamel Hipoplasia (EH). Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemunculan EH pada sisa rangka manusia prehistori dari situs Melolo. Kemunculan EH diidentifikasi secara makroskopis menggunakan metode fotografi dengan tehnik Alternative Light Source sinar UV untuk dokumentasi. EH pada sisa rangka manusia prehistori dari Melolo berjenis lekuk mendatar atau horizontal yang disebut Linier Enamel Hipoplasia (LEH). EH berjenis LEH yang ditemukan pada tiga individu dari Melolo timbul sebagai respon terhadap perkembangan kehidupan pada masa transisi dari zaman akhir neolitik menuju awal zaman logam yang bercorak agrikultur.
KERANGKA MANUSIA DARI SITUS GUA JAUHARLIN 1, KOTA BARU, KALIMANTAN SELATAN [THE HUMAN SKELETON FROM GUA JAUHARLIN 1, KOTA BARU, KALIMANTAN SELATAN] Delta Bayu Murti; Eko Herwanto; Nia Marniati Etie Fajari; Ulce Oktrivia; Gregorius Dwi Kuswanta; Muhammad Wishnu Wibisono; Toetik Koesbardiati
Naditira Widya Vol 14 No 2 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 2 OKTOBER 2020
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v14i2.423

Abstract

Penelitian di situs Gua Jauharlin 1 telah dilakukan selama dua tahun, pada 2018 dan 2019. Pada tahun kedua diperoleh temuan kerangka manusia. Kondisinya hampir lengkap, tanpa bagian kaki, dan diberi kode GJL 1.1. Akan tetapi, di dekat cranium GJL 1.1, ditemukan sepasang tulang kaki manusia yang diduga milik individu GJL 1.1. Tujuan penelitian ini adalah menentukan identitas rangka GJL 1.1 berkaitan dengan data individu dan analisis konteks kuburnya. Penelitian ini menggunakan metode analisis makroskopis untuk data individu GJL 1.1, serta pendekatan arkeotanatologi untuk analisis konteks kuburnya. Analisis makroskopis menghasilkan informasi profil biologis GJL 1.11, yang mengindikasikan individu berjenis kelamin laki-laki, umur 26,9-42,5 tahun, tinggi badan 155,1 cm–165 cm, dan memiliki afiliasi dengan populasi Asia. Aktivitas mengunyah sirih pinang terindikasi berdasarkan fitur warna kuning kecoklatan pada permukaan labial dan buccal gigi individu GJL 1.1. Hasil analisis arkeotanatologi menunjukkan arsitektur kubur peletakan-penimbunan mayat GJL 1.1, serta tipe kubur yang bersifat primer. Hasil uji short tandem repeat combined deoxyribonucleic acid index system (STR CODIS) dengan menggunakan sampel dari sepasang tulang kaki dan rangka GJL 1.1, menunjukkan bahwa keduanya adalah individu yang berbeda. The two-season researches in Gua Jauharlin 1 site were carried out in 2018 and 2019. A human skeleton, sans its lower limbs, was discovered during the second season of excavation and coded GJL 1.1. However, a pair of human leg bones were found close to the cranium of GJL 1.1, which was suggested to belong to the individual of GJL 1.1. The research objective was to determine the identity of the GJL 1.1 in association with its individual attribute and the analysis of its burial context. This study uses a macroscopic analysis method to obtain individual data of GJL 1.1, as well as an archeothanatology approach to analyse the burial context. The macroscopic analysis yielded information on the biological profile of GJL 1.11 suggesting the individual is male, aged 26.9-42.5 years, height 155.1-165 cm, and has an affiliation with the Asian population. The brownish-yellow stain on the labial and buccal surface of human teeth of GJL 1.1 indicate betel nut chewing. The result of archeothanatological analysis suggests the architecture of the burial of GJL 1.1 with regard to laying-covering corpses and a primary burial. The results of the short tandem repeat combined deoxyribonucleic acid index system (STR CODIS) test, using samples from a pair of leg bones and the GJL 1.1 skeleton, indicate that the two came from different individuals.
Strategy Handling of Stunting Based on the Guidebook for Toddler Development in Bondowoso Regency, East Java Lucy Dyah Hendrawati; Toetik Koesbardiati; Myrtati Dyah Artaria
Biokultur Vol. 11 No. 1 (2022): Cultural Diversities and Society's Behaviors
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bk.v11i1.32242

Abstract

Stunting is a form of growth faltering due to the accumulation of insufficient nutrition that lasts for a long time starting from pregnancy until the age of 24 months. Data from the Bondowoso District Health Office, there are 24.16% or as many as 620 stunting toddlers at the Pujer Health Center in 2020. This number is the highest number of stunting cases in Bondowoso, and the stunting locus village in 2021 is in Alassumur Village, Pujer District. The purpose of this community service is to find out what factors are related to the incidence of stunting and to make a guidebook for toddler growth and development which is intended for health workers, posyandu cadres, and mothers of toddlers. The method used in this community service program is by measuring and interviewing. Measurements were made using anthropometric measurements including height or body length, weight, head circumference, arm circumference, triceps fat thickness, and subscapular fat thickness. Subjects were 128 children, the results showed that 22% or 28 children had stunting or short nutritional status and 13% or 16 children had very short nutritional status. The results of community service that have been carried out show that there are still stunting cases, the main cause being the high cases of early marriage and poor sanitation.
VARIASI GENETIK LOCI STR CODIS (THO1,TPOX) MANUSIA GILIMANUK (PULAU BALI) Toetik Koesbardiati; Ahmad Yudianto; Delta Bayu Murti; Rusyad Adi Suriyanto
Berkala Arkeologi Vol 33 No 2 (2013)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.717 KB) | DOI: 10.30883/jba.v33i2.11

Abstract

It is assumed that Mongoloid’s migration came from western and northern part of Indonesia in various waves of migration. The migrant population then mixed with initial inhabitants, which are Australomelanesoid. The wave of migration moved further to the eastern Indonesia and mixed with migrant that entered from east (Papua). Some researches show that the concentration of mixture (hybridization) of migration was around Wallace’s line. Gilimanuk is one of prehistoric site that yields Neolithic human remains. It is assumed that Gilimanuk can give worthy information about human variation at that time. The aim of the research is to describe the human genetic variation at site of Gilimanuk. The material is DNA (deoxyribonucleic acid) has been extracted from many piece of bone of Gilimanuk’s human remains. We used STR (short tandem repeat) two loci (THO1 and TPOX) to gain human genetic variation. The result show all of sample yields band with different allele. This evidence confirms that they have a genetic affinity is not the same, or their genes from several population.
Co-Authors Achmad Yudianto Ahmad Faiz Muhammad Noer Ahmad Yudianto Ali Akbar Maulana Anak Agung Putu Santiasa Putra Azizatul Haq Larasati Bagaskara Adhinugroho Bayoghanta Maulana Mahardika Bayu Praharsena Biandro Wisnuyana Bimo Aksono Bimo Aksono Christrijogo Soemartono Waloejo Daud, Normadiah Delita Bayu Murti Delta Bayu Murti Delta Bayu Murti Desytri Ayu Herina DINAR ADRIATY Eko Herwanto Eko Herwanto Etty Indriati Etty Indriati Evi Susanti Ferry Adhi Dharma Firdaus Dimitra Arsyrahman Gregorius Dwi Kuswanta Gregorius Dwi Kuswanta Gunadi Kasnowihardjo Gunadi Kasnowihardjo Hendrawati, Lucy Dyah Ika Zulkafika Mahmudah Indah Asikin Nurani Indah Asikin Nurani, Indah Asikin INDROPO AGUSNI Irfan Wahyudi Irfan Wahyudi ISWAHYUDI ISWAHYUDI Iswahyudi Iswahyudi Liestianingsih Dwi Dayanti Mareta Bakale Bakoil Mas'udah, Siti Mas'udah, Siti Monika Teguh Mudaim, Syarifah Muhammad Ranau Alejandro Muhammad Wishnu Wibisono Muhammad Wishnu Wibisono Myrtati Dyah Artaria nfn Suhendra Nia Marniati Etie Fajari Nia Marniati Etie Fajari Nuraini Fauziah Oetomo, Dede Olivia Pristiany, Liza Pudjio Santoso Purnama, Anton Roy Qurnia Andayani Rachmah Ida Ramadhiansyah, Dimas Ratih Puspa RATNA WAHYUNI Ratna Wahyuni Rizky Nur Andrian Rizky Sugianto Putri Romadhona, Mochamad Kevin Rusyad Adi Suriyanto Rusyad Adi Suryanto Santoso, Pudjio Sa’diyah, Kamila Sa’diyah, Kamilah Septi Ariadi Setiawati, Rosy SHINZO IZUMI Shinzo Izumi Shrimarti Rukmini Devy Singgih, Doddy S. Sri Endah Kinasih Stefanus Supriyanto Suhanti, Indah Sutinah Sutinah Sutinah Syafarani, Yavrina Tiara Mayang Pratiwi Lio Tiara Mayang Pratiwi Lio Tri Joko Sri Haryono Ulce Oktrivia Ulce Oktrivia W., Christrijogo Sumartono Wibowo, Nimas Wirawan, Hendra Yunita Furinawati, Yunita Yusuf Bilal Abdillah