Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Manajemen Pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) di Kabupaten Karawang Ibrahim Muhammad Abdul Nur; Suryawan Murtiadi; Syahril Taufik
SAINSTECH: JURNAL PENELITIAN DAN PENGKAJIAN SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 34 No 4 (2024): Sainstech : Jurnal Penelitian dan Pengkajian Sains dan Teknologi
Publisher : Institut Sains dan Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37277/stch.v34i4.2263

Abstract

Pertumbuhan penduduk yang tinggi khususnya di lingkungan pemukiman kumuh, memberikan dampak yang serius terhadap penurunan kualitas air bersih dan sanitasi yang menunjukkan permasalahan dalam sarana dan prasarana air limbah, khususnya air limbah domestik. Air limbah domestik atau rumah tangga yang tidak diolah secara benar dapat menyebabkan berbagai macam masalah bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALDT) mengumpulkan dan mengolah air limbah dengan dari pekarangan masing-masing rumah tangga ke saluran pengumpul menuju ke bangunan pengolahan air limbah sebelum dibuang ke selokan atau sungai. Tinjauan yang dilakukan terbatas pada manajemen risiko pengelolaan SPALDT di kabupaten Karawang. Konsep pengujian yang dipakai adalah dengan pendekatan teknik wawancara, pengisian kuesioner dan penilaian Analytical Hierarchy Process (AHP). Berdasarkan hasil analisis evaluasi tingkat risiko yang sudah dilakukan, maka faktor risiko yang paling dominan yakni: Pada sistem pelayanan yang kurang efisien, Lokasi tempat tinggal pekerja jauh dari lokasi proyek, Adanya tukang tidak bisa membaca gambar, Akses distribusi material yang kurang memadai, Kurangnya pemahaman masyarakat desa mengelola proyek, Adanya penolakan dari pihak setempat, Pengelolaan keuangan yang kurang baik, Kenaikan harga material selama masa pelaksanaan, Kesalahan dalam mengestimasi dan merencanakan anggaran biaya untuk material, dan Terjadi keterlambatan jadwal proyek berpengaruh pada biaya proyek. Meningkatnya biaya untuk faktor-faktor nonteknis dengan nilai frekuensi x impact adalah 16. Evaluasi kriteria variabel risiko yang paling dominan secara signifikan terhadap evaluasi keberhasilan proyek SPALD-T adalah Risiko Personal sebesar 77,8% serta Risiko Fisik dan Non Fisik sebesar 49,8% Kata Kunci: Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALDT), Faktor Manajemen Risiko, Analytical Hierarchy Process (AHP).
Pavement Condition Index (PCI) Analysis In Measuring Road Damage Levels and Its Effect on Vehicle Speed in Lembar-Sekotong-Lombok Barat Road Segment Haryati, Norma Widya; Mahendra, Made Mahendra; Murtiadi, Suryawan
SITEKIN: Jurnal Sains, Teknologi dan Industri Vol 20, No 2 (2023): June 2023
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sitekin.v20i2.21254

Abstract

As a means of transportation, the position and role of the road network in essence concern the livelihoods of many people to maintain the sustainability and service quality of these roads. If the road section is damaged, it will have a significant impact on the condition of the traffic flow. Many road damages occur due to the high use of the road which causes a high volume of vehicles, overloaded vehicles, rainwater runoff or poor drainage systems and others. The Sheet-Sekotong-Pelangan road section is a provincial road section located in West Lombok Regency, NTB. This road segment has been damaged in several road segments and disrupted traffic flow so it requires handling. In this regard, the purpose of this study is to determine the level of road damage using the Pavement Condition Index (PCI) method and to determine the effect on vehicle speed and to find recommendations that are appropriate to the level of road damage. This study includes a visual survey to determine the condition of road damage and vehicle speed. The analysis used to determine the effect of road damage on vehicle speed is Simple Linear Regression. The results of the analysis show that the R square value is 0.893, which means that road damage has an influence on vehicle speed of 89.3%. Regression model y (vehicle speed) = 9.012 + 0.581x (PCI), which means that if the PCI 9.012 variable increases by 1 unit or 1%, the vehicle speed will increase by 0.581 units or by 58.1%. The lower the PCI value, the slower the vehicle speed will be. Conversely, the greater the PCI value, the faster the vehicle speed.
METODE BAYES UNTUK PEMILIHAN PANJANG TIANG PANCANG BETON BERDASARKAN ANALISIS RISIKO PADA JEMBATAN BANYUMULEK LOMBOK BARAT: Bayesian Method for Length Selection of Concrete Pile-Foundation Based on Risk Analysis of Banyumulek Bridge Lombok Barat Waluyo, Budi; Sulistiyono, Heri; Murtiadi, Suryawan
Spektrum Sipil Vol 3 No 2 (2016): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan Banyumulek di jalur bypass Mataram-Bandara Internasional Lombok memiliki panjang 120 meter terbagi menjadi 3 bentang @ 40 meter. Pondasi jembatan terdiri 4 kelompok tiang pancang diameter 50 centimeter dengan masing-masing kelompok terdiri atas 27 tiang sehingga total 108 tiang. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko kontraktor dalam pemilihan panjang tiang saat pelaksanaan akibat terbatasnya data tanah yang hanya berupa empat titik borlog. Data yang dikumpulkan berupa data penyelidikan tanah dan data perencanaan jembatan. Data pelaksanaan pekerjaan sejenis diperlukan sebagai pembanding dalam analisis. Identifikasi risiko kerugian kontraktor dilakukan dengan memperhitungkan kemungkinan pemilihan panjang tiang pada rentang 16 - 20m. Pengukuran dan penilaian probabilitas dilakukan melalui expert judgement hasil wawancara para pakar. Pengambilan keputusan berdasarkan minimum risiko dengan Bayesian Theory untuk probabilitas kondisional meliputi Prior Analysis dan Posterior Analysis. Hasil penelitian menunjukkan perhitungan minimum risiko yang terjadi pada masing-masing panjang tiang 20 m, 19 m, 18 m, 17 m, dan 16 m berturut-turut adalah Rp.115.793, Rp.892.654, Rp.1.268.410, Rp.2.187.331 dan Rp.1.431.105. Risiko minimum terdapat pada pemilihan panjang tiang 20 m sebesar Rp.115.793,- pertiang. Disarankan besarnya risiko kerugian ini diperhitungkan dalam anggaran pelaksanaan. Hasil penelitian membuktikan bahwa metode Bayes dapat digunakan dalam analisis pemilihan panjang tiang dengan minimnya data penyelidikan tanah.
PEMILIHAN PENANGANAN KEAMANAN STRUKTUR JEMBATAN DENGAN METODE AHP (STUDI KASUS JEMBATAN SULIN – LOMBOK BARAT): Selection of Bridge Structure Safety Treatment using AHP Methode (Case Study of Sulin Bridge – West Lombok) Aryanto, Bagus Prabowo; Murtiadi, Suryawan; Sulistiyono, Heri
Spektrum Sipil Vol 3 No 2 (2016): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan Sulin terletak di Kokok Sulin Desa Kuripan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, dibangun dalam dua tahun anggaran yaitu 2010 dan 2011. Selama beroperasi, telah terjadi dua kali luapan banjir pada lokasi jembatan tersebut, yaitu pada tahun 2013 dan tahun 2015. Kejadian banjir yang pertama mengakibatkan genangan air setinggi + 1.50 meter. Sedangkan kejadian banjir yang kedua, genangan air mencapai 1,00 meter. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur jembatan. Untuk itu perlu dilakukan penanganan yang paling tepat untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan pada struktur jembatan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan untuk memilih alternatif penanganan terbaik dengan metode AHP. Tiga kriteria dalam studi ini meliputi waktu pelaksanaan, keamanan kerja dan biaya. Adapun alternatif penanganan meliputi peninggian elevasi jembatan, penambahan bentang jembatan dan normalisasi alur sungai. Kuesioner sejumlah 9 exemplar berisi 12 pertanyaan yang mengandung unsur-unsur dalam kriteria tersebut, jawaban dari tiap pertanyaan berupa angka sesuai dengan skala Saaty. Hasil menunjukkan bahwa berdasarkan seluruh kriteria, alternatif peninggian elevasi jembatan memiliki bobot 41.8 %, alternatif penambahan bentang jembatan dengan bobot 34.7 %, sedangkan alternatif normalisasi alur sungai memiliki bobot 23.5 %. Berdasarkan hasil pembobotan tersebut, alternatif peninggian elevasi jembatan dipilih sebagai solusi alternatif penanganan yang paling tepat untuk menjaga keamanan struktur Jembatan Sulin.
EVALUASI MANAJEMEN LALU LINTAS PADA SUATU SIMPANG (STUDI KASUS SIMPANG TANAH HAJI – MATARAM): Evaluation of Traffic Management at a Junction (Case Study: Simpang Tanah Haji - Mataram) Rahayu, Purwestri Widhy; Munawar, Ahmad; Murtiadi, Suryawan
Spektrum Sipil Vol 4 No 1 (2017): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemacetan hampir setiap hari terjadi terutama pada simpang bersinyal. Keadaan ini akan semakin parah pada jam puncak, karena lokasi persimpangan berdekatan dengan permukiman, perkantoran dan pusat perbelanjaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dilakukan penelitian tentang alternatif penanganan kemacetan pada persimpangan jalan di Kota Mataram, yaitu Simpang Tanah Haji. Penelitian ini bertujuan menentukan alternatif penanganan pengaturan lalu lintas dan urutan prioritas penanganannya berdasarkan metode AHP. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif untuk menganalisis kinerja simpang mengacu pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia (1997). Metode kualitatif yang digunakan adalah metode AHP (Analytic Hierarchy Process). AHP adalah metode penilaian dan pembobotan terhadap beberapa kriteria yang mempengaruhi pengambilan keputusan. Tiga usulan penanganan kemacetan meliputi simpang bersinyal, simpang tak bersinyal dan underpass. Hasil analisis dengan AHP menunjukkan bahwa urutan prioritas penanganan kemacetan terbaik adalah Simpang Tak Bersinyal dengan bobot 42,04%, urutan selanjutnya berturut-turut adalah Underpass dan Simpang Bersinyal dengan bobot masing-masing sebesar 32,68% dan 25,29%.
PRIORITAS IMPLEMENTASI GREEN BUILDING BERDASARKAN KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG DI KOTA MATARAM: Priority of Green Building Implementation Based on Building Classification Putra, Pascaghana Jayatri; Murtiadi, Suryawan; Hariyadi, Hariyadi
Spektrum Sipil Vol 4 No 2 (2017): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan berkonsep green building merupakan bangunan ramah lingkungan dengan kriteria tepat guna lahan; efisiensi dan konservasi energi; konservasi air; sumber dan siklus material; kesehatan dan kenyamanan dalam ruang; dan manajemen lingkungan bangunan. Mengimbangi pembangunan bangunan gedung di Kota Mataram yang semakin padat terutama pada wilayah simpul utama kegiatan perkotaan, perlu adanya implementasi green building sebagai upaya pengendalian dampak lingkungan terhadap perkembangan kota sekaligus mencari solusi terhadap berkurangnya ruang terbuka hijau khususnya di Kota Mataram. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan prioritas peruntukan bangunan berdasarkan klasifikasi bangunan gedung sebagai implementasi awal penerapan green building di Kota Mataram. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif-kuantitatif dengan metode AHP (Analytic HierarchyProcess). Enam altenatif peruntukan bangunan yang diteliti yaitu fasilitas hunian; perkantoran; perdagangan dan jasa; wisata dan rekreasi; pelayanan umum (pendidikan dan kesehatan); dan industri.Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa peruntukan bangunan yang menjadi prioritas adalah pelayanan umum (pendidikan dan kesehatan) sebesar 22,3%; urutan selanjutnya adalah perkantoran (17,6%); perdagangan dan jasa (16,6%); wisata dan rekreasi (15,7%); hunian (14,9%); dan industri (12,9%). Hasil ini diharapkan dapat menjadi gambaran dalam penyusunan strategi ke depan dalam implementasi green building di Kota Mataram.
PERILAKU STRUKTUR BALOK BETON BERONGGA BOLA: Structural Behaviour of Spherical Hollow Concrete Beam Maskimi, Maskimi; Murtiadi, Suryawan; Akmaluddin, Akmaluddin
Spektrum Sipil Vol 5 No 2 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v5i2.121

Abstract

Beton merupakan material bangunan yang sangat populer di dunia konstruksi karena mempunyai kekuatan menahan gaya tekan yang tinggi. Namun beton mempunyai kelemahan yaitu kuat tariknya yang rendah sehingga perlu dikombinasikan dengan baja tulangan. Kelemahan yang lain adalah berat sendirinya yang cukup besar sehingga perlu diupayakan inovasi struktur dengan mengurangi berat sendirinya. Elemen struktur beton bertulang dengan rongga merupakan struktur yang cukup efektif untuk mengurangi berat sendirinya. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Struktur dan Bahan Jurusan Teknik Sipil Universitas Mataram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami perilaku struktur balok beton bertulang berongga bola. Sepuluh balok beton berongga diuji dengan variasi jumlah bola dan posisi bola dalam penampang balok beton bertulang. Jumlah bola terdiri atas lima variasi yaitu sejumlah 1, 3, 5, 7, dan 9 bola menghasilkan rasio volume balok masing-masing sebesar 99%, 98%, 97%, 95% dan 94% terhadap volume balok beton solid. Penampang balok berupa empat persegi panjang dengan lebar, b = 200 mm dan tinggi h = 300 mm serta bentang efektif 3000 mm. Tulangan tarik dipakai 3D13 dan tulangan tekan 2D10 dengan sengkang Ø10-20 mm. Mutu beton adalah fc’ 22 MPa sedangkan tulangan baja dipakai mutu fy = 390 MPa. Untuk pembanding, sebuah balok solid tanpa lobang dengan ukuran dan tulangan yang sama juga diuji sebagai balok standar. Pembebanan statis lentur dilaksanakan mengikuti standar pengujian SNI dengan dua titik pembebanan. Load cell ditempatkan pada tengah bentang dan didistribusikan ke dua titik melalui profil baja. Hidrolik jack kapasitas 50 ton sebagai sumber beban dihubungkan dengan load cell. Pengukuran lendutan vertikal pada bagian tengah bentang dicatat dengan LVDT. Dari pengujian ini didapatkan hubungan beban-lendutan sampai benda uji runtuh. Hasil penelitian menunjukkan pola retak yang terjadi pada seluruh benda uji merupakan ciri retak lentur dengan arah retak yang tegak lurus sumbu penampang. Momen retak yang terjadi tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara balok berlobang dengan tanpa lobang. Momen retak tertinggi terjadi pada balok tanpa lobang sebesar 10,09 MPa sedangkan yang terendah terjadi pada balok dengan lobang 7 bola sebesar 8,42 MPa atau terjadi penurunan sekitar 83%.Rata-rata besarnya momen retak eksperimen ini lebih tinggi sekitar 22% disbanding momen retak teoritis.Hal ini disebabkan karena secara teoritis momen retak hanya ditahan oleh beton saja sedangkan dalam kenyataan hadirnya baja tulangan cukup mempengaruhi kekuatan struktur terhadap momen retak. Besarnya momen ultimit struktur juga tidak terdapat perbedaan yang signifikan, untuk beton tanpa lobang Mu = 47,25 MPa sedangkan yang terlemah pada beton dengan 9 lobang Mu = 44,78 MPa atau hanya terjadi penurunan menjadi 95%. Meskipun terjadi juga penurunan daktilitas pada beton dengan lobang namun besarnya daktilitas masih bisa diterima karena masih ≥2. Dengan demikian direkomendasikan pemakaian balok beton bertulang 9 lobang dengan posisi lobang di bawah garis netral atau di bagian penampang yang menahan momen lentur positip struktur balok.
STRATEGI PERENCANAAN INFRASTRUKTUR MENUJU KOTA TANPA KUMUH (Studi Kasus: Program Kotaku 2019 Gerung Selatan Kabupaten Lombok Barat): Infrastructure Planning Strategy toward City Without Slums (Case Study: 2019 Kotaku Programme of South Gerung, West Lombok Regency) Kurniawan, Nanda; Murtiadi, Suryawan; Agustawijaya, Didi Supriyadi
Spektrum Sipil Vol 5 No 1 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gerung Selatan ditetapkan sebagai kelurahan berdasarkan Perda Kabupaten Lombok Barat Nomor 2 Tahun 2012. Kelurahan ini terdiri atas Lingkungan Perigi, Tanjung Gunung, Dodokan, Menang dan Reyan. Luas wilayahnya 15 km2 dengan jumlah penduduk sebesar 12.563 jiwa dengan mayoritas profesi sebagai petani. Masalah yang muncul kemudian ketika Gerung Selatan masuk sebagai ibukota Kabupaten Lombok Barat adalah pesatnya pembangunan di wilayah tersebut. Kepadatan huniannya semakin tinggi yang berdampak pada berkurangnya ruang terbuka, keterbatasan lahan, sanitasi, persampahan dan ketersediaan air bersih. Selain masalah fisik, masalah non fisik seperti sosial dan ekonomipun terus bermunculan. Untuk menjaga kota tersebut sebagai ibukota Kabupaten Lombok Barat dibutuhkan strategi pembangunan dalam kawasan permukiman yang terencana, sistematis dan berkelanjutan. Penelitian ini difokuskan pada dua lingkungan yang dianggap kumuh yaitu Lingkungan Perigi dan Menang. Data primer pada penelitian ini diperoleh melalui pengamatan langsung ke lokasi untuk mendapatkan informasi dan permasalahan lapangan. Wawancara dilakukan dengan bentuk dan daftar pertanyaan serta penentuan jumlah dan kedudukan responden yang ditentukan berdasarkan kebutuhan. Data sekunder berupa peta RTRW Kabupaten Lombok Barat, data eksisting kawasan, Perda yang terkait dengan perumahan dan permukiman, dan data dari BPS yang berupa statistik kondisi dan penduduk setempat. Pengukuran kondisi lapangan menggunakan panduan Dirjen Cipta Karya (2015). Empat kategori kekumuhan ditetapkan dalam panduan ini yaitu: tidak kumuh (0%-24%), kumuh ringan (25%-50%), kumuh sedang (51%-75%) dan kumuh berat (76%-100%). Masing-masing kategori diberi penilaian berturut-turut 0, 1, 3, dan 5 untuk tidak kumuh, kumuh ringan, kumuh sedang dan kumuh berat. Kekumuhan ditentukan berdasarkan 7 (tujuh) faktor fisik yang meliputi kondisi rumah, jalan, air bersih, drainase, air limbah, persampahan dan proteksi kebakaran. Faktor non fisik berupa sosial dan ekonomi juga menjadi acuan dalam penilaian ini. Strategi penanganan kawasan kumuh dilakukan dengan metode analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan Lingkungan Perigi dan Menang mempunyai nilai masing-masing 56% dan 66% menunjukkan keduanya masuk kriteria kawasan kumuh sedang. Analisis SWOT menghasilkan pola penanganan berada pada kuadran II dengan koordinat SW=+1,57 dan OT=+4,33.Tiga strategi dirumuskan untuk diimplementasikan berturut-turut pada tahun 2017, 2018, dan bebas kumuh pada tahun 2019. Konsep terbaik penanganan kawasan ini adalah dengan mendukung dan mengikuti program Pemerintah Daerah untuk mengentaskan kawasan kumuh yang selaras dengan program (100-0-100) dari Pemerintah Pusat menuju Program Kotaku 2019. Penanganan dirumuskan meliputi program kependudukan, pengembangan perumahan dan permukiman, serta pengembangan sarana dan prasarana lingkungan. Kondisi prasarana dan sarana yang kurang memadai akan berdampak pada menurunnya fungsi‐fungsi lingkungan perumahan terutama menyangkut fungsi sosial dan ekonomi.
ANALISIS RISIKO PRESERVASI JALAN SP. TOHPATI – TAMPAK SIRING – ISTANA PRESIDEN, KABUPATEN GIANYAR, PROVINSI BALI: Risk Analysis of Preservation Road Sp. Tohpati - Tampak Siring – Istana Presiden, Gianyar District, Bali Widyantari, I Gusti Ayu; Agustawijaya, Didi Supriadi; Murtiadi, Suryawan
Spektrum Sipil Vol 5 No 2 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v5i2.124

Abstract

Proyek Preservasi Jalan Sp. Tohpati – Tampak Siring – Istana Presiden, Kabupaten Gianyar dilaksanakan untuk mengurangi kemacetan, mempersingkat waktu tempuh dan memperlancar arus lalu lintas terutama dari kota Denpasar menuju Kabupaten Gianyar khususnya yang menuju ke Istana Presiden. Berbagai risiko dapat terjadi selama masa pelaksanaan konstruksi proyek ini. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi, analisis, mitigasi dan pengalokasian risiko, sehingga dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh pihak yang terkait untuk mengatasi dampak negatif yang terjadi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif dilakukan menggunakan metode survey menggunakan kuesioner. Analisis risiko dengan metode kuantitatif dari hasil pengelompokan risiko-risiko dominan. Risiko-risiko dominan yang didapat dianalisis menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP) untuk memeringkat risiko-risiko dominan berdasarkan kebutuhan penanganan sedini mungkin. Hasil penelitian menunjukkan dari 11 (sebelas) sumber risiko diperoleh tingkat penerimaan risiko (risk acceptability) untuk unacceptable, undesirable, acceptable, dan negligible dengan persentase masing-masing 11,76%, 16,18%, 47,06% dan 25,00%. Risiko yang terindentifikasi dengan hasil penilaian risiko terbesar adalah kurangnya jumlah tenaga kerja proyek yang berkualitas dan kompeten sehingga kualitas pekerjaan kurang baik, adanya pekerja yang tidak menggunakan alat keselamatan kerja pada saat bekerja, dan kelelahan akibat banyaknya pekerjaan yang dilakukan pada malam hari (pekerjaan pengaspalan). Hasil pembobotan dan rangking prioritas dengan urutan dari terbesar adalah risiko proyek, teknis, keselamatan, manusia, ekonomi dan keuangan, dan terakhir risiko politik/regulasi. Dengan demikian, risiko-risiko yang menjadi prioritas untuk dikelola secara efektif dan efisien. Pihak kontraktor adalah pihak yang paling banyak bertanggung jawab terhadap risiko-risiko yang terjadi.
PERILAKU STRUKTUR BATANG TEKAN TRUSS BAJA RINGAN DENGAN PERKUATAN BAMBU: Structural Behavior of Lightweight Steel Truss Compression Member with Bamboo Strengthening Ardiansyah, Ardiansyah; Akmaluddin, Akmaluddin; Murtiadi, Suryawan
Spektrum Sipil Vol 5 No 1 (2018): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konstruksi kuda-kuda umumnya dari bahan kayu atau baja konvensional, namun sejalan perkembangan teknologi dibidang konstruksi tidak dipungkiri kuda-kuda berbahan kayu telah banyak digantikan dengan kuda-kuda dari bahan baja ringan (cold formed steel). Salah satu keunggulan bahan baja ringan adalah mudah dalam perakitan dan pelaksanaan. Dalam praktiknya, sering dijumpai kegagalan rangka atap baja ringan, salah satu penyebabnya terdapat batang tekan yang mengalami tekuk akibat pembebanan yang tidak sesuai atau berlebihan. Bahaya tekuk (buckling) menjadi kelemahan tersendiri dari rangka baja ringan. Kombinasi material baja ringan dengan kayu merupakan hal baru yang diterapkan belakangan ini dengan maksud menutupi salah satu kelemahan elemen baja ringan. Dalam penelitian ini, dilakukan pengujian terhadap elemen dan struktur rangka kuda-kuda baja ringan C.75.75 tanpa dan dengan perkuatan bambu petung. Selanjutnya kapasitas beban hasil eksperimen dibandingkan dengan teori Euler dan permodelan software SAP 2000 Versi 14. Uji tekan elemen dilakukan terhadap 8 benda uji yang terdiri dari 4 buah tanpa perkuatan dan 4 buah dengan perkuatan. Masing-masing empat benda uji tersebut memiliki variasi panjang berturut-turut 400 mm, 600 mm, 800 mm dan 1000 mm. Pengujian struktur dilakukan terhadap 2 rangka kuda-kuda bentang 2400 mm dengan variasi tanpa perkuatan dan dengan perkuatan pada batang tekan. Beban terpusat dilakukan pada 3 titik buhul bagian atas kuda-kuda. Hasil uji tekan (compression test) elemen C.75.75 setelah diberi perkuatan bambu petung pada variasi panjang elemen (L) 400 mm, 600 mm, 800 mm dan 1000 mm mengalami peningkatan kapasitas tekuk (buckling capacity) masing - masing sebesar, 1,223, 1,320, 1,381 dan 1,421 dengan peningkatan kapasitas rata-rata 33,60%, sedangkan pada pengujian struktur kuda-kuda bentang 2400 mm terjadi peningkatan kapasitas dari 15,805 KN menjadi 22,585 KN atau sebesar 42,90% setelah diberi perkuatan dengan bambu petung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan perkuatan batang tekan pada konstruksi kuda-kuda mempunyai peran yang besar dalam meningkatkan kapasitas menahan beban. Sehingga perkuatan bambu ini dapat dipertimbangkan untuk diaplikasikan pada konstruksi bangunan.