Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

The Influence of Palm Oil Empty Fruit Bunches (TKKS) and NPK Addition on The Growth of Robusta Coffee Seedlings (Coffea canephora L.) Eva Rosdiana; Amanda, Zenitasari; Setyoko, Ujang; Fandyka Yufriza Ali
Jurnal Riset Perkebunan Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Riset Perkebunan (JRP)
Publisher : Jurusan Budidaya Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jrp.6.1.18-24.2025

Abstract

Coffee is one of Indonesia's prominent tree commodity plants. In both generative and vegetative propagation, one crucial consideration is the choice of growing media rich in macro and micro nutrients. This study aims to investigate the effect of different ratios of palm oil empty fruit bunch (TKKS) and the addition of NPK fertilizer on the growth of robusta coffee seedlings. The research was conducted from January to May 2024 at the Innovation Garden, State Polytechnic of Jember. This study employed a factorial Randomized Complete Block Design (RCBD) with 2 factors, each having 3 treatment levels. The first factor was the growing media ratio: T1 = Top Soil : TKKS : Sand (1:1:1), T2 = Top Soil : TKKS : Sand (2:1:1), T3 = Top Soil : TKKS : Sand (1:2:1). The second factor was NPK fertilizer application: N1 (1 gram NPK/polybag), N2 (1.5 grams NPK/polybag), N3 (2 grams NPK/polybag). These combinations resulted in 9 treatment groups, each replicated 3 times, totaling 27 experimental units. Data were analyzed using ANOVA, followed by Tukey’s HSD test at a 5% significance level (p < 0.05), using SPSS version 25. The results showed that the T3 growing media (1:2:1) significantly increased seedling height by 18.7%, stem diameter by 15.2%, leaf number by 17.4%, and root length by 22.5% compared to T1 (p < 0.05). Application of 1.5 g NPK/polybag (N2) increased seedling height by 12.3% (p < 0.05) and root length by 19.8% (p < 0.01) compared to N1. A significant interaction (p < 0.05) was observed between T3 media and 1.5 g NPK/polybag, specifically enhancing root length, indicating a synergistic effect on root development.
Test of Level of Likes on Fermentation Length and Physical Quality Characteristics of Robusta Coffee After Storage Eva Rosdiana; Jayana Erliana; Fandyka Yufriza Ali; Setyoko, Ujang; Devina Cinantya Anindita
Jurnal Riset Perkebunan Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal Riset Perkebunan (JRP)
Publisher : Jurusan Budidaya Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jrp.5.2.88-93.2024

Abstract

One of the stages in the wet processing of coffee that can affect its flavor is fermentation. Fermentation is the process of removing the mucilage layer that still adheres to the coffee beans, which results in a distinctive coffee aroma and reduces caffeine content, especially in robusta coffee. After the fermentation process, packaging and storage are carried out. Storage is the stage where raw coffee beans are kept to maintain their quality until the next process. This study aims to determine the effect of fermentation duration on panelists' preference levels and the impact of storage duration on the physical quality characteristics of robusta coffee. This research employs both quantitative and qualitative descriptive methods. The results show that storage duration does not affect the physical quality characteristics of robusta coffee beans. The moisture content parameter after storage was found to be 12.2%, the density parameter averaged 0.691 gr/ml, and the defect value parameter fell into grade 3. The study also shows that different fermentation durations do not significantly affect the panelists' preference levels, with an average score of 3-4,1.
PROMOSI KESEHATAN TENTANG PENCEGAHAN PENULARAN HIV/AIDS PADA REMAJA DI MAN RUKOH BANDA ACEH Ulfa Husna Dhirah; Eva Rosdiana
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 5, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) belakangan ini telah menjadi masalah global yang melanda dunia karena dalam waktu relatif cepat terjadi peningkatan jumlah penderita yang melanda di berbagai negara. Di samping itu belum diketemukannya obat/vaksin yang efektif terhadap AIDS, telah menyebabkan timbulnya keresahan dan keprihatinan di seluruh dunia. Salah satu upaya untuk menanggulangi kasus HIV/AIDS pada remaja yang bisa dilakukan adalah melalui promosi kesehatan di sekolah- sekolah untuk meningkatkan pengetahuan siswa-siswi). Upaya promosi kesehatan yang telah dilaksanakan untuk mencegah penularan HIV/AIDS pada remaja menggunakan media poster. Metode promosi kesehatan yang digunakan yaitu penyuluhan dikelas. Materi yang disampaikan yaitu cara penularan, cara pencegahan, pengobatan dan peluang kesembuhan serta mitos-mitos tentang HIV/AIDS yang beredar di masyarakat.Kata Kunci : Promosi Kesehatan, HIV-AIDSAIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) has recently become a global problem that has hit the world because in a relatively short time there has been an increase in the number of sufferers in various countries. In addition, the absence of an effective drug/vaccine against AIDS has caused anxiety and concern throughout the world. One effort to overcome HIV/AIDS cases in adolescents that can be done is through health promotion in schools to increase students' knowledge. Health promotion efforts that have been implemented to prevent the transmission of HIV/AIDS to adolescents use poster media. The health promotion method used is classroom counseling. The material presented includes methods of transmission, prevention methods, treatment and opportunities for recovery as well as myths about HIV/AIDS circulating in society.Keywords: Health Promotion, HIV-AIDS
DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK MENGGUNAKAN TES DENVER II DI PAUD Al BINA KOTA BANDA ACEH TAHUN 2022 Eva Rosdiana; Sinda Nurul Israh; Syarfina Rezeki
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 4, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa kanak-kanak merupakan masa dimana tejadinya pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Normalnya pada masa ini anak-anak terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan bertambahnya usia. Namun pada beberapa kasus terdapat banyak anak-anak yang tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagaimana mestinya. Untuk itu orang tua perlu melakukan pemeriksaan atau screening terhadap pertumbuhan setiap anaknya. Salah satu screening yang dapat dilakukan untuk mengetahui apakah perkembangan anak normal atau tidak adalah menggunakan Denver Developmental Screening Test (DDST). Dalam perkembangannya, DDST mengalami beberapa kali revisi. Revisi terakhir adalah Denver II yang merupakan hasil revisi dan standardisasi dari DDST dan DDSTR (Revised Denver Developmental Screening Test). Perbedaan Denver II dengan pendahulunya terletak pada item-item test, bentuk, interpretasi, dan rujukan. Tujuan pengabdian masyarakat yang dilakukan ini adalah untuk melakukan deteksi dini perkembangan anak dengan menggunakan DDST. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tanggal 07 Juni 2022. Sasaran nya adalah anak-anak usia 1-6 tahun di Paud Albina yang berjumlah 25 orang. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa prodi S-1 Ilmu Gizi. Pelaksanaan kegiatan berjalan lancar dan telah diperoleh hasil dari pemeriksaan DDST yang menunjukkan seluruh anak mengalami perkembangan sesuai dengan usianya. Kata Kunci : Perkembangan Anak, DDSTChildhood is a time of rapid growth and development. Normally at this time children continue to experience growth and development according to age. But in some cases there are many children who do not experience growth and development as seen. For that parents need to do an examination or screening of the growth of each child. One of the screenings that can be done to find out whether a child's development is normal or not is to use the Denver Developmental Screening Test (DDST). In its development, DDST underwent several revisions. The last revision is Denver II which is the result of revision and standardization of DDST and DDSTR (Revised Denver Developmental Screening Test). The difference between Denver II and its predecessor lies in the test items, form, interpretation, and reference. The purpose of this community service is to carry out early detection of child development using DDST. The activity was carried out on June 7, 2022. The target was 25 children aged 1-6 years in Paud Albina who returned. This activity involves students of the Undergraduate Nutrition Science study program. The implementation of the activity went smoothly and the results of the DDST examination showed that all children had developed according to their age.Keywords: Child Development, DDST 
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PEMBERIAN MP-ASI YANG TEPAT DAN SESUAI BAGI IBU YANG MEMILIKI ANAK USIA 6-12 BULAN DI DESA LAMBADA LHOK ACEH BESAR TAHUN 2020 Eva Rosdiana; Mira Abdullah; Febri Yusnanda
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak MP-ASI merupakan makanan pendamping Air Susu Ibu yang berperan penting untuk menunjang kebutuhan nutrisi bagi anak terutama usia 6-24 bulan. MP-ASI yang tepat dan sesuai dapat membantu pertumbuhan anak menjadi optimal karena anak mendapatkan nutrisi yang tepat sesuai dengan usianya. Namun sebaliknya MP-ASI yang kurang tepat akan mempengaruhi status Gizi Pada anak. Sehingga anak- anak yang tidak mendapatkan MP-ASI yang tepat cenderung mengalami gizi buruk dan stunting. Beberapa penelitian juga menyatakan bahwa keadaan kurang gizi dapat disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya kebiasaan pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) yang tidak tepat. Desa Lambada Lhok merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas Baitussalam yang merupakan wilayah dengan kasus stunting tinggi di Aceh. Tujuan pengabdian ini adalah untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu tentang pemberian MP-ASI yang tepat agar bayi mendapatkan nutrisi yang sesuai untuk pertumbuhannya serta dapat mencegah dari kejadian gizi buruk dan stunting. Sebelum diberikan pendidikan kesehatan pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI yang tepat dan sesuai hanya 30,6%, namun setelah diberikan pendidikan kesehatan pengetahuan ibu mengenai pemberian MP-ASI yang tepat meningkat menjadi 80%. Kata Kunci : Pendidikan Kesehatan, MP-ASI Yang Tepat
PROMOSI KESEHATAN MELALUI MEDIA MASSA UB ONTV DENGAN TEMA “CEGAH INFEKSI MENULAR SEKSUAL DENGAN SAY NO TO FREE SEKS” Eva Rosdiana; Nana Afridayanti; Mira Abdullah
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan penyakit infeksi menular yang terjadi akibat penularan virus, bakteri dan jamur melalui hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan yang bukan suami istri. Penyakit ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual baik secara anal maupun oral, baik sesama jenis maupun berlawanan jenis. Dewasa ini penyakit IMS semakin merebak di masyarakat khususnya kalangan remaja. Sebagian besar remaja telah terlibat dalam pergaulan bebas yang menjerat mereka ke dalam infeksi menular seksual. Pergaulan bebas sendiri bermakna menjalin hubungan pertemanan antara lawan jenis secara bebas tanpa mematuhi norma dan aturan agama. Pergaulan bebas merupakan tindakan yang menyimpang dan melewati batas, karena pergaulan bebas merupakan pintu masuk ke dalam perilaku seks bebas pada remaja yang menyebabkan sebagian besar remaja menderita penyakit IMS. Perilaku seks bebas sendiri adalah perilaku seksual yang di lakukan karena adanya dorongan hasrat dan nafsu seksual baik sesama jenis maupun lawan jenis yang dilakukan pada pasangan yang belum memiliki ikatan nikah secara sah. Bentuk-bentuk dari perilaku ini dapat beraneka ragam dimulai dari tingkatan paling rendah seperti berciuman, berpelukan hingga ketingkatan paling tinggi yaitu melakukan hubungan layaknya suami istri.  Perilaku seks bebas selain memberikan dampak psikologis pada remaja ternyata juga memberikan dampak fisik yang sangat berbahaya bagi kesehatan remaja yaitu penyakit IMS. Adapun jenis penyakit IMS yang dapat ditularkan melalui perilaku seks bebas diantaranya penyakit gonorhoe, sifilis, kandiloma akuminata, klamidia, kutil kelamin, infeksi jamur (candida), herpes simplex, hepatitis B bahkan yang lebih berbahaya lagi yaitu HIV-AIDS. Upaya yang dilakukan agar tidak terjadinya Infeksi Menular Seksual (IMS) maka satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah dengan tidak melakukan perilaku seks bebas. Namun yang menjadi tantangan saat ini adalah apakah kita mampu untuk menghindari diri agar tidak terjerumus ke dalam perilaku seks bebas. Salah satu cara yang bisa dilakukan agar generasi bangsa dapat terhindar dari perilaku seks bebas adalah dengan memberikan pendidikan dan penyulusan kesehatan tentang bahaya seks bebas. Untuk itu perlu dilakukan promosi kesehatan kepada masyarakat khususnya remaja agar dapat mencegah penyakit IMS dengan tidak melakukan perilaku seks secara bebas serta menghindari pergaulan bebas pada remaja.  Kata Kunci : Infeksi Menular Seksual, Promosi Kesehatan, Pergaulan bebasSexually Transmitted Infections (STIs) are infectious infectious diseases that occur due to transmission of viruses, bacteria and fungi through sexual intercourse by non-husband and wife partners. This disease can be transmitted through oral and anal intercourse, both same-sex and opposite-sex. Currently, STIs are increasingly spreading in society, especially among teenagers. Most of the teens have engaged in promiscuity that ensnares them into sexually transmitted infections. Promiscuity itself means establishing friendships between the opposite sex freely without complying with religious norms and rules. Promiscuity is an act that deviates and crosses boundaries, because promiscuity is the entrance to free sex behavior in adolescents which causes most teenagers to suffer from STIs. Free sex behavior itself is sexual behavior that is carried out because of the encouragement of sexual desire and lust both of the same sex and the opposite sex which is carried out on couples who do not have a legal marriage bond. The forms of this behavior can vary starting from the lowest level such as kissing, hugging to the highest level of having relationships like husband and wife. Free sex behavior in addition to having a psychological impact on adolescents, it also has a very dangerous physical impact on adolescent health, namely STDs. The types of STIs that can be transmitted through free sex include gonorrhea, syphilis, candidoma acuminata, chlamydia, genital warts, fungal infections (candida), herpes simplex, hepatitis B and even more dangerous, namely HIV-AIDS. Efforts are being made to prevent Sexually Transmitted Infections (STIs) from occurring, the only way that can be done is not to engage in free sex. But the challenge now is whether we are able to avoid ourselves so as not to fall into free sex behavior. One way that can be done so that the nation's generation can avoid free sex behavior is to provide education and health counseling about the dangers of free sex. For this reason, it is necessary to promote health to the community, especially adolescents so that they can prevent STIs by not engaging in sexual behavior freely and avoiding promiscuity in adolescents.Keywords: Sexually Transmitted Infections, Health Promotion, Promiscuity
EDUKASI KESEHATAN PADA LANSIA DI DESA TIBANG KECAMATAN SYIAH KUALA KOTA BANDA ACEH Eva Rosdiana; Desita Ria Yusian TB; Sahbainur Rezeki; Alfitri Wahyuni; Finaul Asyura; Periskila Dina Kali Kulla
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 6, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lansia merupakan penduduk yang beresiko mengalami berbagai gangguan kesehatan karena menurunnya status kesehatan lansia disebabkan dengan bertambahnya usia. Sehingga lansia memerlukan pemeriksaan dan pemantauan secara rutin. Namun Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2023 jumlah lansia di kota Banda Aceh yang melakukan skrining kesehatan menurun menjadi 97,2% dari data tahun sebelumnya  yaitu 98,15%. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah memberikan pengetahuan ke pada lansia tentang kesehatan pada lansia dan juga pentingnya melakukan pemeriksaan dan pemantauan kesehatan pada lansia yang dapat dilakukan di posyandu lansia desa Tibang. Kegiatan ini di laksanakan pada tanggal 10 Oktober 2024 dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang yang terdiri dari perangkat desa, kader posyandu, lansia dan pendamping (keluarga). Kegiatan pengabdian ini berjalan dengan sukses dan mendapatkan perhatian yang baik dari seluruh peserta sekaligus mendapatkan apresiasi dari perangkat desa. Kesimpulannya pelaksanaan edukasi kesehatan ini dapat memberikan tambahan pengetahuan ke pada peserta dan meningkatkan minat peserta untuk melakukan pemeriksaan dan pemantauan kesehatan secara rutin ke pada lansia.Kata Kunci: Lansia, Pemantauan KesehatanThe elderly are a population at risk of experiencing various health problems due to the decline in the health status of the elderly due to increasing age. So the elderly need regular examination and monitoring. However, based on data obtained in 2023, the number of elderly people in the city of Banda Aceh who underwent health screening decreased to 97.2% from the previous year's data, namely 98.15%. The aim of this service activity is to provide knowledge to the elderly about the health of the elderly and also the importance of carrying out health checks and monitoring of the elderly which can be carried out at the Posyandu for the elderly in Tibang village. This activity was carried out on October 10 2024 with a total of 30 participants consisting of village officials, posyandu cadres, elderly people and companions (families). This service activity was successful and received good attention from all participants as well as appreciation from village officials. In conclusion, the implementation of this health education can provide additional knowledge to participants and increase participants' interest in carrying out routine health checks and monitoring for the elderly.Keywords: Elderly, Health Monitoring
PROMOSI KESEHATAN TENTANG “FLOUR ALBUS” PADA REMAJA SISWI SMK NEGERI 1 MESJID RAYA KABUPATEN ACEH BESAR Eva Rosdiana; Desi Rosmawi; Mira Abdullah
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Flour Albus atau yang biasa dikenal dengan istilah keputihan adalah cairan yang keluar dari liang vagina selain darah. Keputihan biasanya berwarna putih dan tidak berbau namun dapat berubah baik dari segi warna maupun baunya jika mengalami gangguan atau patologis. Keputihan patologi merupakan gejala gangguan alat kelamin yang di alami oleh wanita yang berupa cairan berwarna putih kekeuningan atau kelabu.Keputihan pada wanita sering dikaitkan dengan pH pada vagina. Selain itu juga dapat disebabkan oleh penggunaan obat-obatn tertentu seperti Pil KB, IUD, penyakit menular serta kurangnya menjaga kebersihan di sekitar organ wanita seperti menggunakan celana dalam yang tidak menyerap keringat, jarang mengganti celana dalam, menggunakan pembilas vagina dan lain sebagainya.Untuk mencegah terjadinya keputihan maka wanita diharapkan untuk selalu menjaga kebersihan daerah kewanitaan, menghindari kondisi yang lembab, tidak menggunakan celana dalam yang ketat dan tidak bergantian pasangan seksual. Namun masih banyak wanita terutama remaja yang tidak tau tentang penyebab terjadinya keputihan. Sehingga pelu untuk dilakukan promosi kesehatan terntang keputihan “ Folur Albus” untuk mencegah terjadinya keputihan. Tujuan promosi kesehatan ini untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang flour albus. Pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan ini dilakukan pada tanggal 03 Januari 2022. Sasaran nya adalah remaja siswi yang berjumlah 25 orang. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa prodi D-III Kebidanan. Pelaksanaan kegiatan berjalan lancar dan remaja siswa mendapatkan pengetahuan tentang flour albus.Kata Kunci: Promosi Kesehatan, Keputihan Flour Albus or commonly known as vaginal discharge is fluid that comes out of the vaginal canal in addition to blood. Vaginal discharge is usually white and odorless but can change in terms of both color and smell if it is disturbed or pathological. Vaginal discharge is a symptom of genital disorders experienced by women in the form of a white or yellowish white liquid. Vaginal discharge in women is often associated with the pH of the vagina. In addition, it can also be caused by the use of certain drugs such as birth control pills, IUDs, infectious diseases and not maintaining cleanliness around the female organs using underwear that does not absorb sweat, rarely changing underwear, using vaginal rinses and so on. vaginal discharge, women are expected to always maintain the cleanliness of the feminine area, avoid humid conditions, do not use tight underwear and do not alternate with partners. However, there are still many women, especially teenagers, who do not know about the causes of vaginal discharge. So it is necessary to carry out health promotion regarding "Folur Albus" vaginal discharge to prevent the occurrence of vaginal discharge. The purpose of this health promotion is to increase adolescent knowledge about flour albus. The implementation of this health promotion activity was carried out on January 3, 2022. The target was students who were carried out 25. This activity involved students of the D-III Midwifery study program. The implementation of activities is smooth and the youth gain knowledge about flour albus.Keywords: Helath Education, Flour Albus
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI UNTUK PENCEGAHAN MASALAH GIZI DI GAMPONG ALUE DEAH TEUNGOH KECAMATAN MEURAXA KOTA BANDA ACEH Faradilla Safitri; Nuzulul Rahmi; Eva Rosdiana; Fauziah Andika
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 5, No 2 (2023): OKTOBER 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makanan pendamping ASI (MP-ASI) merupakan makanan atau minuman yang mengandung zat gizi yang diberikan pada bayi atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain ASI. Pemberian MP-ASI yang tepat sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak dan mencegah anak dari masalah gizi. Kenyataan di lapangan masih banyak ibu yang memberikan MP-ASI pada bayinya secara tidak tepat baik dari segi pengolahan makanan dan cara pemberiannya, hal ini dapat berisiko tidak baik bagi bayinya. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk memberikan pendidikan kesehatan (edukasi) tentang MP-ASI dan menumbuhkan kesadaran orangtua bayi dalam ketepatan pemberian MP-ASI untuk mecegah masalah gizi. Media yang digunakan berupa brosur, sedangkan metode yang digunakan secara wawancara. Kesimpulan dalam kegiatan ini yaitu sasaran objek MP-ASI pada bayi 6-12 bulan. Berdasarkan hasil dari kegiatan diatas diharapkan menumbuhkan kesadaran orangtua untuk mengetahui MP-ASI yang tepat. Kata Kunci : MP-ASI, Gizi, Pendidikan KesehatanComplementary breast milk food (MP-ASI) is food or drink containing nutrients given to babies or children aged 6-24 months to meet nutritional needs other than breast milk. Providing proper MP-ASI is very important for children's growth and development and preventing children from nutritional problems. The reality in the field is that there are still many mothers who give MP-ASI to their babies incorrectly, both in terms of food processing and the way it is given, this could pose a risk that is not good for their babies. The aim of this community service is to provide health education (education) about MP- ASI and raise awareness of parents of babies regarding the accuracy of providing MP-ASI to prevent nutritional problems. The media used was brochures, while the method used was interviews. The conclusion in this activity is that the target object is MP-ASI for babies 6- 12 months. Based on the results of the above activities, it is hoped that parents will increase awareness of knowing the right MP-ASI Keywords: MP-ASI, Nutrition, Health Education
PEMANFAATAN BIJI KETUMBAR SEBAGAI SALAH SATU PILIHAN PENGOBATAN LUKA Rulia Meilina; Eva Rosdiana; Shabainur Rezeki; Meutia Faradhiba
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biji ketumbar memiliki aktivitas antioksidan, antidiabetes, hepatoprotektif, antibakteri, dan antijamur dan dan dapat digunakan pada proses penyembuhan luka. Luka dapat berupa cedera atau kerusakan pada jaringan hidup normal yang disebabkan karena kecelakaan, benturan, sayatan, maupun operasi atau dampak lainnya seperti beberapa penyakit kronis. . Kandungan Flavonoid pada biji ketumbar dapat mempercepat proses penyembuhan luka karena memiliki aktivitas antimikroba dan astringen, yang memiliki peran dalam penyusutan luka dan peningkatan laju epitelisasi. Biji ketumbar juga mengandung tanin yang berkhasiat sebagai astringen yang mampu menciutkan luka, menghentikan pendarahan dan mengurangi peradangan, meningkatkan pembentukan fibroblas dan pembuluh darah baru yang berfungsi sebagai transportasi pasokan makanan dan oksigen yang dibutuhkan oleh sel-sel yang sedang dalam perbaikan sehingga dapat mempercepat penyembuhan luka. Kegiatan Sosialisasi  dilaksanakan secara live menggunakan media televisi UB On TV dan Youtube UB On TV.  Peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah seluruh penonton siaran UB On TV 57 UHF. Hasil dari kegiatan ini adalah peserta paham dalam memanfaatkan biji ketumbar sebagai pengobatan luka berdasarkan hasil dari pengisian google form oleh peserta.Kata Kunci: Biji ketumbar, Luka, peradangan.Coriandrum sativum seeds have antioxidant, antidiabetic, hepatoprotective, antibacterial, and antifungal activities and can be used in the wound healing process. Wounds can be in the form of injury or damage to normal living tissue caused by accidents, impacts, incisions, or surgery or other impacts such as some chronic diseases. . The content of flavonoids in Coriandrum sativum seeds can accelerate the wound healing process because it has antimicrobial and astringent activity, which has a role in wound shrinkage and increasing the rate of epithelialization. Coriandrum sativum seeds also contain tannins which are efficacious as astringents that are able to shrink wounds, stop bleeding and reduce inflammation, increase the formation of fibroblasts and new blood vessels that function as transportation of food and oxygen supplies needed by cells that are under repair so as to accelerate wound healing. . Socialization activities are carried out live using UB On TV television media and UB On TV Youtube. Participants who take part in this activity are all viewers of UB On TV 57 UHF broadcast. The result of this activity is that participants understand the use of Coriandrum sativum seeds as a wound treatment based on the results of filling out google forms by participants. Keywords: Coriandrum sativum, Wounds, Inflammation