Claim Missing Document
Check
Articles

PUSAT SENI KREATIF MANADO: Hybrid Architecture Sulistyawati Gobel; Julianus. A.R. Sondakh; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni merupakan sesuatu yang berhubungan erat dengan manusia, Karena seni tercipta dari kreativitas manusia serta hadir atas kebebasan berekspresi. Setiap individu memiliki jiwa seni dalam diri,. Akan tetapi hal tersebut sering terabaikan membuat bakat dan keahlian tersebut tidak berkembang, atau bahkan bisa hilang karena tidak tersalurkan dengan baik. banyak pelaku pelaku seni kreatif yang mengekspresikan dirinya belum tepat pada tempatnya. Kota Manado membutuhkan sebuah wadah yang dapat mendorong para pelaku seni untuk bisa menyalurkan,dan mengembangkan sisi kreatif mereka, dalam menghasilkan suatu karya. Sekaligus menciptakan lingkungan dimana ada sense of place, yaitu adanya keragaman, dan kesempatan untuk berkembang, menciptakan sebuah wadah yang dapat memberi kesan bahwa, kreatifitas dan karya seni mereka di apresiasi,dan diterima disini. Pusat Seni Kreatif Manado dengan penerapan Hybrid Architecture hadir untuk menjawab segala kebutuhan warga kota, khususnya para pelaku seni. Adanya perpaduan antara Seni dan Kreatif membuat objek rancangan ini berbeda dari yang lain. Dimana pelaku seni/seniman dapat dengan bebas mengekspresikan dirinya, namun tidak mengesampingkan ruang luar yang berperan untuk menstimulasi ide ide kreatif. Kata Kunci : Manado, Pusat Seni Kreatif, Hybrid Architecture.
Partisipasi Masyarakat Pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata di Kecamatan Likupang Timur Graseila Iyong; Ingerid Moniaga; Johansen Mandey
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 10 No. 1 (2021): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v10i1.34456

Abstract

East Likupang District is designated as a Special Economic Zone (SEZ) for Tourism according to Government Regulation Number 84 of 2019 concerning the Likupang Special Economic Zone. However, the problem is that the citizen does not actively participate in the development process. The purpose of this study is to identify citizen participation and to analyze the relationship between the factors that influence citizen participation in the Tourism Special Economic Zone (SEZ) in East Likupang District. The analytical method used is the likert scale analysis and the chi square test. Likert scale analysis with manual calculations uses a formula to measure the opinion of each respondent about citizen participation in the development stage and the forms of participation given. Meanwhile, the chi square test is used to analyze the relationship between the factors that influence citizen participation with the help of SPSS. The results showed that the citizen was involved in the development stages from planning, implementation, monitoring to evaluation. However, the participation given is still not good in the aspects of involvement in meetings, giving ideas, energy, expertise and materials. In the development stage, citizen participation is influenced by external factors in the form of government and community groups but is not influenced by community leaders and internal factors. Meanwhile, forms of citizen participation are influenced by external factors in the form of government, community groups and community leaders as well as internal factors such as age and marital status but not influenced by gender, education level and type of work Keyword: Citizen Participation; Tourism SEZ; Likert Scale; Chi Square
PROSPEK TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) SAMPAH REGIONAL MAMITARANG Humayroh S. A. Ladjolo Ladjolo; Judy O. Waani; Johansen C. Mandey
SPASIAL Vol. 11 No. 1 (2023): Volume 11 no.1 2023
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara merencanakan pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Regional Mamitarang dengan sistem lahan urug yang berlokasi di Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara. Berdasarkan fenomena yang ada, masyarakat yang bermukim di sekitar TPA Mamitarang menolak pembangunan TPA tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ukuran dari masyarakat tentang kemampuan dan kemauan mereka dalam tingkat kepuasan maksimum agar dilibatkan dalam suatu perencanaan untuk dapat menentukan rencana yang diinginkan berdasarkan kemauan dan kemampuannya dalam kepuasan maksimum. Tahap analisa dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif preferensi dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan masyarakat yang tinggal bersinggungan dengan TPA Mamitarang tidak memiliki kemauan untuk mendukung TPA Mamitarang sebagai Tempat Pemrosesan Akhir sampah dengan presentase indikator jenis produk/jasa layanan (23%), kualitas dan kuantitas (22%), utilitas pengguna (22%) dan perilaku pengguna (22%) sehingga perlu memprioritaskan indikator dengan presentase paling tinggi karena memungkinkan atau lebih berpeluang untuk menjadi positif yang dalam hal ini terkait pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap TPA Sampah Regional Mamitarang dengan dengan kajian rekomendasi yaitu program sosialiasi, kemudian dapat menunjang indikator dengan presentase di bawahnya karena saling terkait. Selain itu analisa kemampuan masyarakat menunjukan hasil bahwa masyarakat cenderung tidak mampu sehingga Pemerintah perlu memfasilitasi dan mendorong masyarakat dalam pengelolaan sampah yang dihasilkan agar dapat bernilai ekonomis. Alternatif lain adalah dengan tidak memaksakan masyarakat yang tinggal bersinggungan dengan TPA atau pembebasan iuran retribusi sampah sebagai kompensasi. Kata Kunci : Prospek; TPA Regional, Sampah, Prasarana.
AQUATIC CENTER DI MINAHASA UTARA. High Tech Arsitektur Brando H. Macarau; Alvin J. Tinangon; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24063

Abstract

Olahraga merupakan bagian dari budaya kehidupan yang telah lama dianggap sebagai cara yang tepat untuk meningkatkan kesehatan baik sehat jasmani maupun rohani. Di samping itu, olahraga dalam kegiatan manusia sangat penting karena melalui olahraga dapat dibentuk manusia yang mempunyai watak kepribadian, disiplin dan sportivitas yang pada akhirnya membentuk manusia yang berkualitas. Yang akan dibahas lebih dalam pada perancangan ini yaitu mengenai olahraga renang, di mana hal ini juga didukung baik dari segi peraturan hokum dan pemerintahan Dalam perancangan Sport Center, tema yang diangkat adalah High Tech Architecture. Istilah High tech disini merujuk pada penggunaan sistem teknologi yang digunakan pada suatu bangunan. Arsitektur High tech menggabungkan elemen-elemen dari industri berteknologi tinggi dan sistem teknologi ke dalam desain bangunan yang mencakup struktur dan material yang maju dan mutakhir, sistem mekanikal dan elektrikal yang otomatis serta merepresentasikan bangunan yang bercitra High tech. Kata Kunci : Aquatic Center, Olahraga, Renang, Arsitektur High Tech
CONVENTION HALL DI MINAHASA TENGGARA. Arsitektur Kontemporer Apfia C. Sambuaga; Vicky Makarau; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25045

Abstract

Pertemuan secara langsung merupakan hal yang sudah jarang terjadi dalam dunia yang berkembang, disebabkan oleh teknologi yang semakin canggih dan tidak tersedianya banguna khusus di beberapa tempat, dalam hal ini untuk daerah Minahasa Tenggara yang terletak di Provinsi Sulawei Utara. Daerah ini belum mengutamakan gedung pertemuan seperti Convention Hall yang merupakan satu peluang dalam meningkatkan segala perkembangan yang ada di daerah tersebut yang dapat berdampak baik secara nasional maupun internasional jika memiliki keinginan dan peluang yang besar, dimana yang seharusnya dapat meningkatkan segala perekonomian suatu daerah baik dalam bidang ekonomi, politik dan lain sebagainya sehingga diperlukan Convention Hall . Convention Hall yang memiliki fungsi baik untuk suatu daerah juga dipadukan dengan penerapan tema Arsitektur kontemporer sehingga menciptakan lingkungan yang lebih kekinian, yang nantinya pengguna tetap merasakan perkembangan lewat penerapan Arsitektur Kontemporer pada Convention Hall, dimana penerapan prinsip-prinsip Arsitektur Kontemporer seperti penggunaan material yang lebih baru ataupun permainan warna yang saat ini sangat berpengaruh dalam aspek keindahan, serta penggunaan suatu struktur bagi bangunan, juga bangunan yang memperlihatkan keindahan alam yang belum banyak diperhatikan oleh masyarakat, yang seharusnya dapat berpengaruh baik bagi lingkungan. Kata Kunci: Minahasa Tenggara, Convention Hall, Arsitektur Kontemporer
ISLAMIC CENTER DI KOTA MANADO. Arsitektur Metafora Rafiq Adam; Rachmat Prijadi; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25055

Abstract

Islamic Center marupakan tempat atau wadah dimana seluruh kegiatan yang berlandaskan keislaman dilakukan dan dikembangkan. Banyaknya umat muslim yang ada  di Kota Manado, Sulawesi Utara. sehingga Masalah yang timbul adalah tidak adanya tempat yang sesuai guna mengakomodir fasilitas yang dibutuhkan dalam membantu perkembangan dari masyarakat muslim yang ada. Selain itu juga masalah yang timbul adalah bagaimana merancang bangunan Islam terpusat yang bisa menyatukan berbagai kegiatan dan silaturahmi antar sesama umat muslim dengan penerapan tema Arsitektur Metafora  pada perancangan. Islamic Center bukan hanya sekedar tempat berkumpulnya berbagai komunitas umat muslim, tetapi juga sebagai sarana yang bisa mempererat nilai ukhuwah dan merupakan bagian dari bentuk toleransi yang ada di kota Manado. Tujuan dan sasaran perancangan terciptanya Islamic Center di Kota manado dimana objek ini nantinya menjadi sarana masyarakat muslim kota Manado dalam mendukung dan mengembangkan  berbagai kegiatan Islam kedepannya dengan penerapan bangunan berdasarkan tema Arsitektur Metafora. Metode perancangan menggunakan metode Glass Box berdasarkan pendekatan tipologi objek, pendekatan tematik, dan pendekatan tapak dan lingkungan yang kemudian dilakukan pengambilan data, kemudian dianalisis, konsep, hasil perancangan.Hasil perancangan berupa desain Site Plan, Lay Out, Tampak Tapak, Potongan Tapak, Tampak Bangunan, Potongan Bangunan, Utilitas Bangunan, Utilitas Tapak, Perspektif, Interior dan eksterior bangunan, Struktur bangunan, detail Struktur dan Utilitas yang mengacu pada tema perancangan Arsitektur metafora.Kata kunci: Islamic Center Di Kota Manado, Arsitektur Metafora
MUSIC CENTER DI MANADO. Arsitektur Semiotik Ramond C. Moningka; Alvin J. Tinangon; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25550

Abstract

Perkembangan dunia pada masa kini memberikan dampak pada bidang music, dimana pelaku di bidang musik semakin banyak bermunculan. Di Indonesia sendiri khususnya Kota Manado memiliki peminat maupun penikmat musik yang cukup banyak dan telah membuat berbagai kegiatan musik, mulai dari event skala kecil sampai besar, regional hingga nasional. Di kota Manado sendiri belum memiliki fasilitas pertunjukan musik yang mampu mewadahi antusiasme penikmat musik dan hiburan baik konser dari kelompok musik lokal maupun dari luar yang akan melaksanakan konser di Manado. Fasilitas hiburan musik di kota Manado biasanya terdapat di kafe-kafe ataupun menggunakan halaman parkiran mall, diadakan pertunjukan live music lengkap dengan panggung, penataan lampu dan sound system yang megah ataupun diadakan di gedung-gedung konvensi yang belum memenuhi standar akustik sebuah ruang pagelaran musik. Melihat permasalahan diatas, maka diperlukan sebuah wadah yang dapat memfasilitasi segala kegiatan bermusik di Kota Manado secara maksimal. Namun penghadiran Music Center Di Manado ini perlu memiliki suatu “nilai lebih” sebagai suatu karya arsitektural sehingga tidak terkesan asal-asalan. Maka dari itu terpilih tema dalam perancangan Music Center ini adalah Arsitektur Semiotik yang dibangun melalui perwujudan konsep desainKata Kunci :    Music Center, Manado, Arsitektur Semiotik
KANTOR SEWA DI MANADO. Arsitektur Bangunan Hijau Jonathan B. Angkouw; Jefrey I. Kindangen; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.29490

Abstract

Perekonomian kota Manado dalam beberapa tahun terakhir telah mengalami peningkatan yang signifikan yang terdorong dari pemenuhan dan permintaan masyarakat kota. Hal ini mendorong semakin banyak individu atau sekelompok orang mengembangkan suatu peluang usaha yang menciptakan lapangan kerja dan hasil produk dari usaha tersebut. Usaha ini memiliki suatu badan atau bidang terorganisir disebut Perusahaan yang memerlukan tempat untuk menjalankan proses bisnis dan kegiatan mereka, yaitu perkantoran.  Tujuan dari perancangan ini adalah merancang suatu ruang atau wadah yang mampu memenuhi kegiatan dan aktivitas Perusahaan atau Pengguna kantor sewa. Selain itu butuh diterapkan suatu konsep tematik yang mampu menganalisis bagian-bagian perancangan dari kantor sewa guna membuat objek rancang perkantoran semakin efektif dan efisien. Dari tujuan itu diperlukan juga proses perancangan yang tepat agar supaya dalam meneliti dan menyimpulkan konsep perancangan mampu menghadirkan penerapan konsep yang tematis dan pemecahan masalah arsitektural dengan benar. Dengan menerapkan metode Glass box oleh Christopher Alexander dalam bukunya The Phenomenon of Life yang menjelaskan bahwa metode ini menggunakan pemikiran yang rasional secara objektif dan tersistematis dalam menelaah suatu hal. Metode ini menolak pemahaman yang tidak logis dan tidak rasional. Perancangan kantor sewa di kota Manado ini menerapkan konsep tematik arsitektur bangunan hijau dimana dalam hasil perancangannya menjabarkan beberapa hal seperti kebutuhan ruangan kantor yang ada disesuaikan dengan ketetapan dan regulasi sehingga semua kebutuhan secara primer maupun penunjang disediakan dalam kantor. Ada juga dalam implementasi desain, ruang kantor dibuat seefisien mungkin dalam penggunaan ruang, sirkulasi, utilitas dalam hal penghawaan dan pencahayaan. Dengan implementasi Arsitektur Bangunan hijau dalam perancangan, mampu mewujudkan sebuah desain kantor sewa yang baik, efisien, efektif, ramah lingkungan, dan menjawab setiap kebutuhan alami pengguna Kantor sewa. Kata kunci: Manado, Kantor, Arsitektur Bangunan Hijau.
GEDUNG PERTUNJUKAN DI MANADO Arsitektur Etnomatematika Jerry C. Poli; Jefrey I. Kindangen; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30171

Abstract

Latar belakang dengan perkembangan zaman yang semakin hari semakin modern, banyak orang melupakan akan segala hal termasuk culture, budaya, ciri khas suatu daerah ataupun efiseiensi dalam pemeliharaan tarian, budaya, pakaian adat. Begitu pula yang ada di Sulawesi utara tidak luput dari pengaruh moderenisme sehingga melupakan culture budaya. juga pementasan seni yang tidak efisien membuat pementasan tidak berkualitas oleh karena itu solusi yang baik adalah membuat sebuah wadah atau objek untuk pertunjukan.Kebutuhan tempat pementasan seni juga untuk membudidayakan adat di daerah melalui opera Theatre.Latar  Belakang Judul ini adalah ketidakadanya bangunan yang berfungsi sebagai pementasan, theatre dan pertunjukan sehingga dalam aspek parawisata sangat di butuhkan bangunan yang berfungsi sebagai tempat pementasan. Dalam aspek bisnis juga untuk acara-acara dengan mempromosikan suatu produk juga membuhtuhkan bangunan yang berfungsi Pertunjukan. Dalam sudut pandang Tema, dengan tema Ethnomathematics (gabungan antara budaya dan matematika) menawarkan bangunan yang bercirikhas adat tradisional daerah Sukawesi Utara. Dalam sudut pandang pemerintahan juga mampu membangkitkan nilai adat yang kuat untuk melestarikan seni dan adat daerah, . Serta memajukan tingkat perekonomian kota sehingga tingkat. Kata Kunci: Gedung Pertunjukan, Arsitektur Etnomatematika
KANTOR SEWA DI MANADO. Arsitektur Parametrik Brilian L. Kaunang; Herry Kapugu; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30865

Abstract

Iklim bisnis yang baik di kota Manado mendorong munculnya kantor sebagai suatu wadah yang bisa menampung kegiatan berbisnis. Disisi lain, belum tersedia wadah yang representative yang bisa menampung kegiatan berbisnis ini. Akibatnya, kegiatan berbisnis sekarang ini dilakukan di tempat yang tidak dirancang khusus sesuai dengan fungsinya sebagai wadah untuk kegiatan berbisnis.Mencermati tendensi yang berkembang sekarang ini, bangunan kantor umumnya dibangun dengan sistem sewa. Hal ini dilakukan untuk merespon dinamika penyewa bangunan. Kemudian setelah meninjau tipologi, bangunan Kantor Sewa umunya dibangunan secara vertikal, agar supaya efisien dan efektif dalam pemanfaatan lahan.Dalam kegiatan perancangan Kantor Sewa, terdapat variable dan parameter yang mesti dipertimbangkan. Maka dari itu, penulis mengangkat tema “Arsitektur Parametrik” sebagai pendekatan perancangan. Arsitektur Parametrik adalah pendekatan yang didasarkan pada proses berpikir algoritmik dan bersifat topologis (saling terhubung) antara variable dan parameter. Penulis menggunakan tema ini karena dinilai lebih integratif.Metode yang penulis gunakan dalam perancangan ini adalah metode perancangan menurut Tim Ginty yang terbagi menjadi 5 langkah. Langkah pertama (permulaan), Langkah kedua (persiapan), Langkah Ketiga (pengajuan usulan), Langkah Keempat (evaluasi) dan Langkah kelima (Tindakan).Hasil perancangan Kantor Sewa ini mengambil bentuk komposit yaitu kotak (sebagai respon tipologi) dan bulat (sebagai respon tapak) yang divariasikan menggunakan teknik parametrik dengan cara mengubah parameter desain melalui penggunaan piranti lunak. Desain bangunan yang apik dengan mengkombinasikan kebutuhan objek, lokasi dan tema.Kata Kunci: Kantor, Sewa, Arsitektur, Parametrik