Claim Missing Document
Check
Articles

GALERI SENI TRADISIONAL DI MANADO. Implementasi Arsitektur Mimesis Magdalena P. Lumintang; Ricky M. S. Lakat; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30999

Abstract

Seni merupakan salah satu aset yang dimiliki Negara Indonesia, termasuk seni di Sulawesi Utara. Saat ini, wadah untuk menampung karya seni di Sulawesi Utara masih kurang, sehingga banyak karya seni yang belum tereksplor. Banyak kegiatan seni atau pameran-pameran karya seni masih dilaksanakan di gedung seperti mall. Karena itu, perlu dirancang sebuah gedung dengan tujuan untuk memfasilitasi semua karya seni yang terdapat di Sulawesi Utara. Gedung yang dimaksud adalah Galeri Seni Tradisional yang akan dirancang di Kota Manado yang adalah pusat kota Sulawesi Utara. Metode yang digunakan adalah Glass Box untuk mempermudah proses perancangan agar tersistematis dan terstruktur. Perancangan ini menerapkan tema Arsitektur Mimesis dengan mengambil makna dari Bhinneka Tunggal Ikha sebagai ide konsep pada bentuk bangunan. Ruang-ruang dalam bangunan dan ruang luar didesain berdasarkan fungsi dengan mengoptimalkan penggunaan lahan serta mengikuti keadaan tanah sehingga objek yang dirancang memiliki nilai seni dan dapat dinikmati oleh seniman bahkan penikmat seni.Kata Kunci: Galeri Seni Tradisional, Glass Box, Arsitektur Mimesis, Bhinneka Tunggal Ikha
MUSEUM VULKANOLOGI DI KOTA MANADO, Mimetic Architecture Axel D. J. Pangkey; Octavianus H. A. Rogi; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34565

Abstract

Museum Vulkanologi di kota Manado merupakan sarana publik yang mana sebagai wadah menampung informasi dan edukasi seputar masalah geografi khususnya vulkanologi di lingkup daerah Sulawesi Utara. Tidak hanya edukasi, Museum Vulkanologi di kota Manado juga memiliki sarana rekreasi sehingga bersifat edutainment. Daerah Sulawesi Utara memiliki potensi fenomena alam yang besar dikarenakan terletak dalam wilayah cicin api pasifik dan merupakan salah satu provinsi yang memiliki gunung api terbanyak di Indonesia. Fenomena yang besar namun fasilitas yang minim membuat kehadiran Museum Vulkanologi sangat dibutuhkan. Objek bertema Mimetic Architecture ini memungkinkan membantu pengunjung dalam hal mudah mempelajari karena meminjam bentukan alam, serta dapat menyokong kebutuhan dan fungsi di dalam bangunan. Metode yang digunakan teridiri dari tahap-tahap pengumpulan data, dengan beberapa langkah yaitu studi literatur, observasi, studi komparasi, analisa, sintesa, dan desain hasil akhir. Museum Vulkanoligi di Kota Manado di harapkan dapat menjadi destinasi rekreasi dan dapat menolong dalam hal pendistribusian informasi dan ilmu pengetahuan dibidangnya.Kata Kunci : Pusat Rehabilitasi, NAPZA, Healing Environment, Arsitektur
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN GEREJA PANTEKOSTA DI INDONESIA (GPdI) di MANADO, Arsitektur Simbolis Cindy R. Salangka; Veronica A. Kumurur; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34634

Abstract

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Gereja Pantekosta Di Indonesia  (GPdI) adalah tempat menimbah ilmu dan memperdalam alkitab untuk jemaat GPdI di Sulawsesi Utara bahkan di Indonesia. GPdI menduduki ranking ke 3 sebagai jemaat terbesar di Indonesia, hal ini menjadi alasan bahwa sumber daya manusia dalam menunjang pelayanan di lingkungan GPdI harus berkualitas. Sekolah Alkitab merupakan salah satu realisasinya sebagai wadah pelatihan non-formal dan Sekolah Tinggi Alkitab sebagai wadah pendidikan formal yang didalamnya mengajarkan kekristenan berdasarkan sumber yang murni yaitu Alkitab sesuai doktrin GPdI. Selain itu didalamnya terdapat pengajaran mengenai musik gereja, pengemabalaan dan penginjilan dengan tujuan melahirkan hamba-hamba TUHAN yang siap melayani gereja dan jemaat untuk perluasan pemberitaan Injil Kristus di Indonesia. Namun wadah pendidikan GPdI saat ini yang ada di Sulawesi Utara belum memenuhi standar untuk bangunan pendidikan, itu bisa dilihat dari  fasilitas yang kurang memadai serta kurangnya kapasitas asrama, ruang kuliah yang terbatas dan fasilitas pendukung lainnya.  Pantecostal Center dan Kantor Majelis Daerah GPdI Sulut berada di Kota Manado, sehingga Pusat Pendidikan dan Pelatihan menggunakan lokasi pada area Pantecostal Center Buha. Rancangan bangunan Pusat Pendidikan dan Pelatihan GPdI ini menggunakan tema arsitektur simbolis, dimana pada tapak hingga selubung bangunan menerapkan  simbol-simbol GPdI dan simbol Kekristenan.Kata Kunci: GPdI, Sekolah Tinggi Alkitab, Kristen, Simbolisme
HOTEL DAN PUSAT KONVENSI DI JAYAPURA, Arsitektur Semiotik Yosua J. A. Nada; Julianus A. R. Sondakh; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34688

Abstract

Perkembangan globalisasi di masa kini,  tidak hanya mencakup pertumbuhan penduduk dan juga ekonomi yang meningkat, selain itu ada pula perkembangan  pada  aktivitas  manusia yang semakin beragam dan kompleks. Dengan kebutuhan mansusia pada saranan prasarana yang dapat menunjang aktivitas tersebut, berupa bangunan yang mampu mengefisienkan aktivitas penggunanya. Bangunan yang dimaksud ialah tempat penginapan atau hotel dan  convention  center atau pusat konvensi. Kota Jayapura sebagai Ibukota Provinsi Papua mempunyai  peran cukup penting sebagai pusat pemerintahan, pusat jasa dan perdagangan serta pusat pelayanan berbagai fasilitas dimana Kota Jayapura masih minim akan  tempat  pertemuan  atau  konvensi serta hotel yang mampu menunjang kegiatan pertemuan tersebut,Oleh sebab itu bangunan pusat konvensi dengan kapasitas ribuan orang dan hotel yang dapat menjadi akomodasi bagi tamu yang datang, tentu saja sangat dibutuhkan untuk menunjang perkembangan Kota Jayapura dan juga bangunan tersebut harus mampu menunjukan idenditas dimana bagunan itu berada. Dengan penerapan konsep arsitektur semiotik  tentunya  dapat  menjadi solusi pada bagunan agar bisa menunjukan idenditas baik daerah atau pun warga Papua. Kata Kunci : Kota Jayapura, Hotel, Pusat Konvensi, Arsitektur Semiotik.
GELANGGANG OLAHRAGA DI TAHUNA KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE: Arsitektur Neo Vernakular Otniel Ch. I. Takasiliang; Pingkan P. Egam; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 2 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 2, April 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Olahraga merupakan salah satu kegiatan yang diminati masyarakat dari berbagai latar belakang yang berbeda dan dengan rentang usia yang cukup beragam. Masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe khususnya yang berada di kecamatan Tahuna cenderung menjadikan olahraga sebagai kegiatan rekreatif, namun adapun kelompok masyarakat yang menjadikan olahraga sebagai kegiatan yang dapat mendatangkan prestasi. Cabang olahraga futsal, voli, bulutangkis, basket, dan tinju dinilai sebagai cabang olahraga yang diminati masyarakat di Tahuna. Tingginya minat masyarakat dalam kegiatan berolahraga nyatanya tidak sebanding dengan banyaknya fasilitas yang dapat mewadahi kegiatan tersebut. Minimnya fasilitas seperti Gelanggang Olahraga yang memadai menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe khususnya di Tahuna. Selain dapat mewadahi dan memfasilitasi minat masyarakat serta mengembangkan dan melatih potensi generasi muda untuk menjadi atlet-atlet kebanggaan daerah, Gelanggang Olahraga juga diperlukan keberadaannya untuk menunjang kegiatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang nantinya akan diadakan di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Dengan didukung tema arsitektur Neo Vernakular, perancangan Gelanggang Olahraga di Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, diharapkan dapat memperkenalkan unsur-unsur kearifan lokal yang dipadu dengan unsur-unsur modern kepada setiap penggunanya sehingga melalui objek ini, unsur kedaerahan dan kearifan lokal tetap terjaga dan tidak terlupakan oleh karena tergerus dengan era globalisasi. Penerapan tema ini dinilai menjadi salah satu langkah dalam menunjang pariwisata daerah karena melalui objek ini pengunjung dapat menikmati keindahan arsitekturalnya sekaligus kebudayaan setempat yang tertuang dalam berbagai aspek bangunan. Kata Kunci: Tahuna, Gelanggang, Olahraga, Kearifan Lokal, Modern, Neo Vernakular
PUSAT BUDAYA MALUKU UTARA DI JAILOLO HALMAHERA BARAT: Arsitektur Regionalisme Chrisye Giop; Johannes Van Rate; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 3 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 3, Juli 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maluku pada awalnya merujuk pada keempat pusat kesultanan di Maluku Utara, yaitu Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Suatu bentuk konfederasi tertentu dari keempat kerajaan tersebut yang kemungkinan besar muncul pada abad ke-14, disebut Moloku Kie Raha atau “Empat Gunung Maluku”. Selanjutnya saat ini provinsi Maluku Utara terdiri dar 7 Kabupaten dan 2 Kota yang didalamnya didiami oleh 26 Suku Adat. Dengan kekayaan dari masing-masing suku yang memiliki ke-khas-an budaya sendiri menjadikan Maluku Utara menjadi daerah yang kaya bukan hanya dari segi parawisata namun juga budaya, oleh karena itu untuk terus dapat menjaga , memelihara, bahkan melestarikan kepada generasi muda Objek Pusat Budaya Maluku Utara dibutuhkan kehadirannya. Kehidupan masyarakat daerah Maluku Utara yang sebelumnya sangat lekat dengan budaya daerahnya sendiri, secara perlahan mulai meninggalkan kebiasaan tersebut dan bersikap seolah-olah meninggalkan budaya daerah sendiri karena beranggapan bahwa budaya daerah adalah budaya yang kuno. Belajar serta melestarikan budaya daerahsendiri sebagai bentuk apresiasi dan tanggung jawab agar budaya yang sejak dulu dilestarikan dapat tetap di kenal oleh generasi muda saat ini bahkan hingga generasi yang akan datang, hal ini menjadi penting karena budaya menyangkut dengan identitas sebuah daerah dan masyarakat daerah itu sendiri. Pusat Budaya Maluku Utara yang akan di hadirkan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan rasa untuk ingin belajar serta melestarikan budaya daerah sendiri sebagai bentuk apresiasi dan tanggung jawab agar budaya yang sejak dulu dilestarikan dapat tetap di kenal oleh generasi muda saat ini bahkanhingga generasi yang akan datang dengan penggunaan Arsitektur Regionalisme dalam perancangan sebagai bentuk usaha untuk menghasilkan rancangan yang memperhatikan karakteristik regional yang berkaitan budaya, iklim dan teknologi pada saat itu, serta perpaduan masa lampau dan masa kini demi bangunan lestari. Kata Kunci: Pusat Budaya, Maluku Utara, Arsitektur Regionalisme
Kajian Luasan Dan Sebaran Lahan Potensial Perumahan Kawasan Perkotaan Di Kabupaten Minahasa Utara [Studi Kasus: Kecamatan Kalawat, Airmadidi, Kauditan] Bokau, Devanya Deviani Ruth; Rondonuwu, Dwight M.; Mandey, Johansen C.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 13 No. 1 (2024): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v13i1.57391

Abstract

Abstrak Kabupaten Minahasa Utara terletak pada jalur penghubung dua kota besar yang memiliki potensi terjadinya urbanisasi akibat letak geografisnya. Hal ini didukung dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Minahasa Utara tahun 2013-2033 yang menyatakan bahwa Kecamatan Kalawat, Kecamatan Airmadidi, dan Kecamatan Kauditan ditetapkan sebagai Kawasan Siap Bangun (KASIBA) dan Lingkungan Siap Bangun (LISIBA) yang diperuntukan untuk pembangunan perumahan berskala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menghitung sebaran dan luasan yang dapat mencukupi sampai 20 tahun mendatang. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan teknik overlay dengan bantuan aplikasi software ArcGIS, melakukan pembobotan sesuai dengan kriteria lahan peruntukan perumahan. Berdasarkan identifikasi dan analisis maka diperoleh sebaran dan luas lahan potensial pengembangan perumahan keseluruhan seluas 16.130 Ha. Hasil tersebut menunjukan kapasitas lahan untuk peruntukan perumahan di wilayah penelitian pada tahun 2044 masih belum memadai untuk memenuhi kebutuhan perumahan yang ada. Kata kunci: Daya Dukung, Lahan Potensial, Perumahan. Abstract North Minahasa Regency is located on the connecting route between two big cities that have the potential for urbanization due to its geographical location. This is supported in the 2013-2033 Regional Spatial Plan of North Minahasa Regency which states that Kalawat Sub-district, Airmadidi Sub-district, and Kauditan Sub-district are designated as Ready to Build Areas (KASIBA) and Ready to Build Neighborhoods (LISIBA) intended for large-scale housing development. This study aims to identify and calculate the distribution and area that can be sufficient for the next 20 years. The analysis method in this study uses overlay techniques with the help of ArcGIS software applications, weighting according to the criteria for housing allocation land. Based on the identification and analysis, the distribution and area of potential housing development land totals 16,130 hectares. These results show that the capacity of land for housing designation in the study area in 2044 is still inadequate to meet existing housing needs. Keyword: Supportability, Potential Land, Housing.
The Community Partnership Program to Enhance High School Students' Understanding of Climate Change and Global Warming Concerns in Manado City: (Community Partnership Program to Enhance High School Students' Understanding of Climate Change and Global Warming Concerns in Manado City) Kindangen, Jefrey I.; Mandey, Johansen; Kalalo, Loudy
Vivabio: Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol. 6 No. 3 (2024): VIVABIO: Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/vivabio.v6i3.58084

Abstract

Climate change and global warming affect all nations on Earth. We must vigorously raise community understanding and concern about this issue because human actions cause all climate change and global warming. Young people, especially high school students, lack complete information about climate change and global warming, which inhibits their prevention efforts. We can teach high school pupils about climate change and global warming and how to mitigate and prevent it. A clear understanding and positive everyday behaviour are the first steps to changing attitudes. We must properly convey the issues these partners, especially high school students, confront through counselling and assistance. Students of SMU Fr. Don Bosco Manado and SMUN 9 Manado are working to address climate change and global warming. Campaign delivery includes lectures, leaflet distribution, and conversations. Despite repeated exposure to this issue, they find the offered material and examples engaging and unique. They found the information beneficial, surprised by its impact, starting to increase awareness to do practical things, and wanting to become environmental ambassadors. ABSTYRAK Efek perubahan iklim dan pemanasan global menjadi isu mendunia dan merupakan persoalan terkini seluruh bangsa yang mendiami bumi. Kesadaran dan kepedulian terhadap masalah ini perlu dikampanyekan secara masif kepada masyarakat luas, karena seluruh penyebab perubahan iklim dan pemanasan global adalah akibat kegiatan manusia. Masalah yang dihadapi kaum muda sekarang initerutama siswa SMU adalah belum terpadunya pengetahuan akan efek perubahan iklim dan pemanasan global secara komprehensif sehingga mereka bisa menjadi agen terhadap kesadaran akan pencegahannya. Siswa SMU dapat diberikan penjelasan dan dilatih untuk mengetahui dengan benar kegiatan apa saja yang dapat menyebabkan masalah yang dimaksud dan bagaimana untuk mereduksi bahkan mencegah masalah perubahan iklim dan pemanasan global terjadi. Hal yang paling dasar adalah perubahan sikap dengan mengetahui dengan jelas dan merubah perilaku yang baik untuk tindakan sehari-hari. Masalah yang dihadapi oleh mitra ini khususnya siswa SMU perlu diberikan penjelasan secara jelas dan runtut dalam bentuk penyuluhan dan pendampingan yang baik. Siswa SMU Fr. Don Bosco Manado dan SMUN 9 Manado telah dilibatkan dalam upaya kepedulian dan turut serta dalam menanggulangi efek perubahan iklim dan pemanasan global yang menjadi isu aktual terkini. Materi kampanye dilakukan dalam bentuk ceramah, penyebaran leaflet dan diskusi. Walaupun mereka sering mendengar tentang hal ini akan tetapi beberapa hal yang didapati bahwa materi beserta contoh yang disampaikan sangat menarik bagi mereka dan merupakan hal yang baru. Kesan mereka terhadap materi yang disampaikan adalah: sangat berguna, mengejutkan dampak yang bisa terjadi, mulai timbul kesadaran untuk melakukan hal-hal yang praktis yang dapat mereka kerjakan, dan diharapkan mereka menjadi duta lingkungan.
Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat bagi Pengembang Perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah dalam Membangun Perumahan yang Murah, Nyaman dan Hemat Energi: (The Empowerment of Community Partnerships for Low-Income Community Housing Developers in Building Low Cost, Comfortable and Energy-Efficient Housing) Kindangen, Jefrey I.; Mandey, Johansen; Tangkuman, Stenly; Marbangun, Laksamana; Liem, Cindy; Takaliuang, Adnan
Vivabio: Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol. 6 No. 3 (2024): VIVABIO: Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/vivabio.v6i3.58397

Abstract

The role of developers is crucial in addressing the housing requirements of low-income communities; they have made an effort to construct basic houses at a reasonable cost. The majority of low-cost houses in North Sulawesi are equipped with zinc or metal roofs, which frequently result in the residents experiencing excessive heating and discomfort. The Community Partnership Empowerment team has installed roof ventilation and incorporated radiative insulation technology in this activity, utilising recycled cardboard. These two technologies have the potential to substantially reduce the temperature of the attic and the room, as indicated by the research findings. The initial phase entails the identification of the needs of novice home builders, the dissemination of information regarding roof ventilation and radiative insulation technology, the provision of training to builders, the construction of houses that incorporate these technologies, the provision of marketing support to developers, and the conduct of evaluations only after production. The outcomes of each of these stages have been documented, including the misconception that the construction of a comfortable and energy-efficient low-cost house will necessitate a substantial outlay. Consequently, the team disseminated the information through technology applications that did not necessitate substantial expenditures during the dissemination phase. The contractors were instructed by the team on the installation of roof radiative insulation, the production of radiative insulation panels, and the installation of roof vents. The subsequent phase involves the construction of a high-quality, energy-efficient, and cost-effective residence. The primary consumers of low-cost houses are the majority of daily employees from government offices, the TNI, and the National Police, as well as a limited number of civil servants. Consequently, we are committed to improving our marketing initiatives by concentrating on the following: preserving the company's brand, guaranteeing the quality of the homes we sell, collaborating with the appropriate agencies of the Ministry of PUPR, and facilitating infrastructure in residential areas through government subsidies, banks, and other related elements. Once the marketed products have been constructed, we evaluate this program. The program's objective is to make a substantial contribution to the mitigation of climate change by reducing carbon emissions. It ensures the comfort and energy efficiency of residents in a cost-effective residence by prioritising their material and non-material well-being. ABSTRAK Dalam memenuhi kebutuhan perumahan terutama untuk masyarakat berpenghasilan rendah, peranpengembang sangat penting; telah berupaya untuk membangun rumah sederhana dengan harga yangterjangkau. Kebanyakan rumah sederhana di Sulawesi Utara dibangun dengan atap seng atau metal, inisering menjadi penyebab pemanasan yang berlebihan yang menimbulkan ketidaknyamanan penghunirumah. Dalam kegiatan ini tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat telah memperkenalkan teknologiinsulasi radiatif yang terbuat dari kardus bekas dan pemasangan ventilasi atap. Berdasarkan hasilpenelitian, kedua teknologi ini dapat menurunkan suhu loteng dan suhu ruangan secara signifikan. Tahappertama dilakukan identifikasi kebutuhan para pengembang rumah sederhana, diseminasi pengetahuantentang teknologi insulasi radiatif dan ventilasi atap, pelatihan kepada para tukang, produksi rumahdengan aplikasi teknologi tersebut, pendampingan terhadap pemasaran kepada pengembang dan evaluasiyang baru akan dilakukan setelah produksi. Hasil dari setiap tahapan tersebut telah dicatat yakni:kesalahpahaman bahwa untuk membangun rumah sederhana yang nyaman dan hemat energi akanmembutuhkan biaya yang besar, untuk itu tim melakukan diseminasi berupa aplikasi teknologi dengantidak memerlukan biaya yang besar yang dilakukan pada tahap diseminasi. Para tukang diberi pelatihandalam memasang insulasi radiatif atap serta bagaimana memproduksi panel insulasi radiatif tersebut sertapemasangan ventilasi atap. Tahapan selanjutnya adalah produksi rumah dengan kualitas yang baik yangmurah, nyaman dan hemat energi. Jenis konsumen rumah sederhana paling banyak pegawai harian lepasdari kantor pemerintah, TNI dan Polri dan sebagian kecil PNS/ASN; sehingga dalam upayamengembangkan pemasaran dilakukan secara kontinyu terutama mempertahankan branding perusahaan,kualitas rumah yang dijual, kerjasama dengan pemerintah dengan instansi terkait KemenPUPR termasukpola subsidi pemerintah, infrastruktur kawasan permukiman yang difasilitasi pemerintah, pihak bank, danunsur lain terkait. Evaluasi terhadap program ini dilakukan setelah produk yang dipasarkan terbangun. Iniakan menjadi program yang memberikan kontribusi yang berarti terhadap pengurangan emisi karbonsebagai upaya mitigasi perubahan iklim; untuk kesejahteraan penghuni baik secara matrial maupun nonmaterial yang kenyamanan yang penghematan energi yang digunakan dalam rumah sederhana tersebut.
KARAKTER VISUAL FASADE BANGUNAN BERDASARKAN TEORI HAMID SHIRVANI DAN D.K. CHING (Studi Kasus: Hotel di Kawasan Business on Boulevard Manado) Lintong, Steven; Mandey, Johansen Cruyff; Kalalo, Loudy Moody Barce
JAMBURA Journal of Architecture Vol 7, No 1 (2025): JJoA : Juni 2025
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v7i1.28349

Abstract

Hamid Shirvani emphasizes the importance of combining contemporary elements with local cultural and historical heritage in architectural design. This is reflected in his work, which often combines modern ideas with traditional elements, creating a harmony between the past and the present in building design. In addition, Shirvani also highlights the importance of social, cultural and economic context in sustainable urban design. Francis D.K. Ching in a famous theory states that it is important to understand the basic principles of formation, space and sequence in architectural design. Through his in-depth approach to the basic elements of architecture, Ching championed concepts such as scale, proportion, negative and positive space, and spatial organization in architectural design. He also highlighted the importance of the use of form, texture and lighting in creating meaningful and functional buildings. This research aims to analyze the visual character of building facades that function as 3 and 4 Star Hotels in the Business on Boulevard area of Manado City, which is located between the junction of Taman/Patung Piere Tendean and Sario Bridge/River. The hotels are Lion hotel, Quality hotel, Big Fish hotel, Four Points hotel and Ibis hotel. This research will focus on the components and architectural composition of the facade design that reflects the desired identity, image and visual character to meet operational needs as a hotel and at the same time attract market interest in the context of business in the area. The research method used is qualitative by involving direct observation of Hotel buildings that are already operating in the research location, as well as interviews with industry players and related stakeholders. From the research results, it was found that Hamid Shirvani's Theory and the rules of D.K. Ching were clearly visualized in the 5 research objects. Most of the components and compositions have been applied to the building facade elements. In general, it can be concluded that the visual character of the building facade in the 5 hotels that became the research sample is very strong and dominantly applies the theory of Hamid Shirvani and D.K. Ching both from the component elements and the composition elements.  Keywords: building, facade, visual character