Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN GEOEKOLOGI DAERAH KEPESISIRAN LOMBOK BARAT UNTUK PENGEMBANGAN WISATA PANTAI Djati Mardiatno
Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.13230

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi dan mengklasifikasi satuan geoekologi daerah kepesisiran dan memetakan satuan-satuan geoekologi daerah kepesisiran di daerah Lombok Barat; (2) mengetahui karakteristik satuan geoekologi daerah kepesisiran Lombok Barat; dan (3) mengetahui tipe geoekologi dan fungsi masing-masing tipe geoekologi daerah kepesisiran di daerah Lombok Barat untuk menentukan altenatif pengembangan dan pengelolaan kawasan kepesisiran. Metode penelitian menggunakan metode survey dengan penentuan sampel secara purposif. Satuan analisis yang digunakan adalah satuan geoekologi yang dinilai potensi dan kendala masing-masing untuk dikembangkan kegiatan wisata tertentu. Penilaian potensi menggunanakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Oppurtunity, dan Threat) untuk menentukan klasifikasi tipe geoekologi tiap lokasi. Klasifikasi tipe geoekologi untuk satuan geoekologi A memiliki peluang jenis kegiatan wisata 6 macam, tipe B jenis kegiatan 4 s.d 5 macam, dan tipe C jenis kegiatan wisata 3 macam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk kawasan kepesisiran Lombok Barat terdiri atas 7 satuan geoekologi yaitu satuan geoekologi lepas pantai, gisik, dataran alluvial pantai, dataran alluvial, lembah antar bukit, lereng kaki perbukitan, dan perbukitan denudasional. Berdasarkan identifikasi terhadap 18 titik pengamatan, tipe geoekologi A merupakan tipe geoekologi yang dominan (10 lokasi), diikuti oleh tipe C (6 lokasi), dan tipe B (2 lokasi). Kondisi fisik di kawasan kepesisiran di Lombok Barat sangat menunjang untuk pengembangan wisata. Upaya pemantauan dan pengendalian perlu dilakukan pada lokasi dengan tipe geoekologi A. Lokasi yang potensial tetapi belum berkembang perlu dikembangkan dengan meningkatkan sarana pendukung yang memadai.
PENDEKATAN SEL SEDIMEN MENGGUNAICAN CITRA PENGINDERAAN JAUH SEBAGAI DASAR PENATAAN RUANG WILAYAH PESISIR (STUDI KASUS DI PESISIR UTARA PROPINSI JAWA TENGAH) Nurul Khakhim; Dulbahri Dulbahri; Djati Mardiatno; Valentina Arminah
Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.455 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13291

Abstract

ABSTRAK Wilayah pesisir adalah wilayah peralihan antara darat dan taut. Terdapat banyak sekali amberdaya alam yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, sehiagga perkernbangan wilayah pesisir emakin pesat dan kondisi ini menyebabkan konflik antara berbagai kepentingan manusia di ,ilayah tersebut. Diperlukan pengaturan ruang di wilayah pesisir untuk mengatasi konflik antar epentingan tersebut dengan menggunakan suatu pendekatan yang mempertimbangkan hubungan etiap sumberdaya dalam ekosistem wilayah pesisir dan dengan tetap memperhatikan ekosistem ersebut secara menyeluruh. Pendekatan tersebut adalah pendekatan set sedimen (sediment cell). iel sedimen adalah satuan panjang pantai yang mempunyai keseragaman kondisi fisik dengan carakieristik dinamika sedimen detain wilayah pergerakannya tidak mengganggu keseimbangan iondisi pantai yang berdekatan. Pendekatan set sedimen untuk perencanaan tats ruang pada winsipnya adalah bahwa satu unit pengelolaan adalah panjang pantai dengan karakteristik tertentu yang berkaitan dengan proses alami dan penggunaan lahan pesisir. Tujuan dart penelitian ini edalah menentukan batas set sedimen di wilayah pesisir utara Propinsi Jawa Tengah sebagai dasar penataan ruang pesisir di wilayah tersebut. Metode yang digunakan untuk menentukan sel sedimen adalah dengan interpretasi citra Landsat ETM+ tahun 2002 dan pengukuran lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di wilayah pesisir utara Propinsi Jawa Tengah terdapat 6 sel sedimen, dimana dap sel sedimen tersebut mempunyai keseragaman kondisifisik dengan karalaeristik dinamika sedimen yang berbeda dengan sedimen set lainnya. Sel sedimen-sel sedimen tersebut meliputi : Sel sedimen 1 yang dimulai dari Muara Sungai Cisanggarung sampai sebelah timur Muara Sungai Pemali, Sel sedimen 2 yang dimulai dart sebelah Timur Sungai Pemali sampai Muara Sungai Bodri, Sel sedimen 3 yang dimulai dart Muara sungai Bodri sampai Muara Sungai Wulan, Sel Sedimen 4 yang dimulai dan muara Sungai Wulan sampai pesisir utara Kabupaten Jepara, Set sedimen 5 yang dimulai dart pesisir utara Kabupaten Pea sampai Muara Sungai Kalioso Rembang, dan Sel sedimen 6 yang dimulai dart muara Sungai Kalioso sampai pesisir utara Kabupaten Rembang, Tap-flap sel sedimen dapat digunakan sebagai dasar pengaturan peruntukan ruang kegiatan pembangunan dengan memperhatikan perilaku sedimen dengan menvusun matrik keserasian kegiatan pembangunan di wilayah pesisir.
Analisis Gerakan Massa untuk Evaluasi Kerusakan Saluran Induk Kalibawang Kabupaten Kulonprogo Deasy Arisanty; Djati Mardiatno; Jamulya Jamulya
Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.533 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13342

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk menganalisis karakteristik gerakan massa pada setiap bentuk lahan di Saluran Induk Kalibawang, terutama pada jenis, properti, jumlah dan distribusi spasial berdasarkan aspek morfologi dan morfogenesis, 2) untuk menganalisis faktor penyebab dan faktor pemicu untuk setiap gerakan massa di Saluran Induk Kalibawang, 3) untuk mengevaluasi jenis kerusakan di Saluran Induk Kalibawang untuk setiap gerakan massa berdasarkan morphoarrangement. Penelitian ini menggunakan metode survei ini sedangkan tipe bentuk lahan yang digunakan untuk menentukan sampel. Analisis kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk analisis data. Kedua aspek morfologi dan morfogenesis digunakan untuk akuisisi data. Data morfologi terdiri dari stepness lereng, bentuk lereng, dan kembali kelas lief (topografi). Data morfogenesis terdiri dari tekstur tanah, solum tanah, drainase tanah, indeks cole, pelapukan batuan, stratigrafi batuan, sendi pada batuan dasar, rembesan, penggunaan lahan dan pengelolaan lahan. Akhirnya, morphoarragement yang digunakan untuk menganalisis saluran distribusi kerusakan. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada empat jenis dari geneses dari bentang alam, yaitu bentuk lahan denudasional, bentuk lahan solutif, bentuk lahan struktural dan bentuk lahan fluvial. Jenis-jenis gerakan massa di daerah penelitian adalah geser rotasi, slide translasi, creep dan jatuh. Ada 18 peristiwa slide rotasi dan 4 peristiwa slide translasi dalam bentuk lahan denud ational dengan pola tersebar. Ada 9 peristiwa merinding dalam bentuk lahan struktural dengan pola tersebar. Akumulasi bahan dari jenis slide rotasi dapat menghancurkan saluran dinding, dan ditemukan 6 peristiwa kerusakan dalam bentuk lahan denudasional. Merinding menyebabkan retakan pada saluran dinding, di mana ia ditemukan 9 peristiwa retak dalam bentuk lahan struktural. Bahan berkualitas tinggi dan perbaikan intensif kerusakan melibatkan partisipasi masyarakat dapat mencegah kerusakan pada Saluran Induk Kalibawang. ABSTRACT The aims of this research are  1) to analyze mass movement characteristics on each landform in Saluran Induk Kalibawang, especially on its type, property, amount and spatial distribution based on morphology and morphogenesis aspects, 2) to analyze the causal factor and the triggering factor for every mass movement in Saluran Induk Kalibawang, 3) to evaluate type of damage in Saluran Induk Kalibawang for every mass movement based on morphoarrangement. This  study  used  survey  method  while  the  landform  type  is  used  to determine the samples. The qualitative and quantitative analyses are used for data analysis.  Both  morphological  and  morphogenesis  aspects  are  used  for  data acquisition. Morphology data consist of slope stepness, slope form, and re lief class (topography). Morphogenesis data consist of soil textures, soil solum, soil drainage, cole index, rock weathering, rock stratigraphy, the joints on the bedrock, the seepage, the land use and  land management. Finally, the morphoarragement is used to analyze damage channel distribution. This research shows that there are four types of the geneses of landforms, i.e. the denudational landform, the solutional  landform, the structural landform and the fluvial landform. The types of mass movements in the research area are rotational  slide,  translational  slide,  creep  and  fall. There  are  18  events  of rotational slides and 4 events of translational slides within denud ational landform with dispersed pattern. There are 9 events of creeps within structural landform with dispersed pattern. The material accumulation of the type rotational slides can destroy wall channel, and it is found 6 events of damage within the denudational landform. Creeps cause cracks on wall channel, where it is found 9 events of cracking  within  structural  landform. High  quality  material  and  the  intensive repair of damages involving the community participation can prevent damages on Saluran Induk Kalibawang.
Kajian Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen, Karbon Tersimpan, dan Kebutuhan Air di Kota Yogyakarta Kelik Eko Susanto; Muhammad Aris Marfa'i; Djati Mardiatno
Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1292.475 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13348

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan: a) memperkirakan kenaikan muka laut dan daerah dampak penggenangannya, b) menghitung kerentanan pesisir yang didasarkan pada kondisi fisik dan sosial-ekonomi, dan c) memperkirakan tingkat risiko peng­ge­nangan  yang didasarkan pada kerentanan pesisir dan tingkat pengge­nangan, dan memperkirakan infrastruktur yang berada pada daerah pengge­na­ngan. Penelitian ini difokuskan pada skenario kenaikan muka laut yang di­tu­runkan dari data pasang surut pelabuhan Tanjung Mas Semarang, stasiun pasang surut terdekat dengan perairan Demak. Komponen pasang surut yang dibutuhkan dalam perhitungan kenaikan muka laut dihitung menggunakan metode British Admiralty. Daerah potensi genangan diturunkan dari titik tinggi Peta RBI meng­gunakan teknik interpolasi Spline with Barriers untuk menghasilkan model per­mukaan digital (DEM). DEM tersebut bermanfaat dalam membedakan posisi ke­ting­gian lahan dari rerata muka laut. Teknik Iterasi digunakan untuk menentukan daerah potensi genangan dengan memanfaatkan data DEM pada proses sebe­lumnya. Bersamaan dengan penentuan daerah genangan juga dihitung nilai ke­ren­tanan pesisir yang menunjuk pada kelemahan internal dari proses-proses eksternal yang merusak. Kerentanan tersebut diturunkan dari kerentanan fisik dan keren­tanan sosial-ekonomi. Interaksi antara tingkat kerentanan pesisir dan tingkat peng­ge­nangan akan menghasilkan tingkat risiko pesisir. Tingkat risiko tinggi di­hasilkan dari kerentanan tinggi dengan tingkat penggenangan yang juga tinggi. Se­baliknya, tingkat risiko rendah dihasilkan dari kerentanan rendah dengan tingkat penggenangan yang rendah pula.Seluruh proses mengindikasikan bahwa selama 1999-2009 pesisir Demak telah mengalami kenaikan sebesar 0.72 mm/tahun pada kenaikan muka laut statis dan 7,9 mm/tahun pada kenaikan muka laut relatif. Peningkatan muka laut tersebut menggenangi area seluas 26,83 km² di 8 desa pada kenaikan air 60,1 cm, 41,74 km² di 16 desa pada kenaikan air 82,8 cm dan 55,58 km² di 16 desa pada kenaikan 94,1 cm.  Berdasarkan skenario kenaikan muka laut tahun 2010-2050, ditemukan bah­wa jumlah desa dengan risiko tinggi semakin meningkat dari tahun ke tahun dalam setiap skenarionya. Hal yang sama juga dialami oleh infrastuktur yang terdapat di dataran rendah. Jumlah infrastruktur yang terkena dampak semakin meningkat dari tahun ke tahun dalam setiap skenario yang digunakan. ABSTRACT This study aims to: a) estimates of sea level rise and regional impacts penggenangannya, b) calculate the vulnerability of the coast which is based on the physical conditions and socio-economic, and c) estimate the level of risk that is based on the vulnerability of flooding and coastal inundation level, and estimate the infrastructure in the region of inundation.  This study focuses on sea level rise scenarios are derived from the tidal data port of Tanjung Mas Semarang, tidal station nearest to the waters of Demak. Tidal components required in the calculation of sea level rise calculated using the method of the British Admiralty. Potential inundation areas derived from the high point of RBI Map using Spline interpolation technique with Barriers to produce a digital surface model (DEM). DEM is useful in distinguishing the position of land from the mean height of sea surface. Iteration techniques are used to determine the potential inundation areas using DEM data on the previous process. Simultaneously with the determination of inundation areas also calculated the value of coastal vulnerability refers to the internal weakness of the external processes that damage. Vulnerability is derived from the physical vulnerability and socio-economic vulnerability. The interaction between level and level of vulnerability of coastal inundation will result in the level of coastal risk. High risk levels resulting from a high vulnerability to flooding are also high level. Conversely, low risk levels resulting from low susceptibility to low levels of water inundation as well. The whole process indicates that during 1999-2009 the coastal Demak has experienced an increase of 0.72 mm per year on static sea level rise and 7.9 mm / year in relative sea level rise. Increased sea level is flooded an area of 26.83 km² in eight villages on the water rise 60.1 cm, 41.74 km² in 16 villages on the water rise 82.8 cm and 55.58 km² in 16 villages on the rise of 94.1 cm . Based on the scenario of sea level rise in 2010-2050, found that the number of villages with high risk increasing from year to year in each scenario. The same was experienced by the infrastructure contained in the lowlands. The number of affected infrastructure increasing from year to year within each scenario that is used. 
Evaluasi Efektivitas Rencana Tata Ruang dalam Mengurangi Risiko Kekeringan di Kawasan Karst dengan Analisis Berbasis Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus : Rencana Tata Ruang Kawasan Koridor Yogyakarta-Sadeng) Hogy Prima Valeda; Bakti Setiawan; Djati Mardiatno
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3868.178 KB) | DOI: 10.22146/mgi.15616

Abstract

Errata: Kerangka Aset Rumah Tangga Miskin dalam Peristiwa Banjir Pasang Surut di Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan Novi Maulida Ni’mah; Djarot Sadharto; Djati Mardiatno
Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.453 KB) | DOI: 10.22146/mgi.17332

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang penghidupan rumah tangga miskin dalam konteks bencana banjir pasang surut di Kota Pekalongan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui aset dan (2) dampak banjir pasang surut terhadap aset. Penelitian ini menggunakan pendekatan descriptive exploratory dan field research yang dibahas secara deskriptif kualitatif dengan menguraikan aset rumah tangga miskin dan dampak banjir pasang surut terhadap aset. Pemanfaatan aset oleh rumah tangga miskin di Kecamatan Pekalongan Utara dilakukan sesuai mata pencaharian yang dimiliki yaitu sektor pertanian dan perikanan serta sektor industri, perdagangan, dan jasa. Sektor pertanian dan perikanan bergantung pada natural asset yaitu laut, sungai, dan lahan, sedangkan sektor industri, perdagangan, dan jasa bergantung pada physical asset yaitu rumah, alat transportasi, dan alat bekerja. Kerusakan kedua aset tersebut akibat bencana banjir pasang surut telah menghambat peningkatan kesejahteraan hidup.  ABSTRACT This study discusses the livelihoods of poor households in the context of tidal flood in Pekalongan City. The purpose of this study was (1) to know the assets and (2) to determine the impact of tidal flood to assets. This study used descriptive exploratory and field research approach which discussed in qualitative descriptive with outline of assets of poor households and the impact of tidal flood to assets. Utilization of assets by poor households in the Pekalongan Utara District done according owned livelihood that is agriculture and fisheries sectors as well as industry, trade, and services. Agriculture and fisheries rely on the natural assets of the sea, river and land, while the industrial sector, trade, and services depend on the physical asset of a house, transportation, and work tools. Damages to the two assets caused by flood tides have prevented an increase in welfare. 
Pemetaan Risiko Tsunami terhadap Bangunan secara Kuantitatif Totok Wahyu Wibowo; Djati Mardiatno; Sunarto Sunarto
Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2786.581 KB) | DOI: 10.22146/mgi.28044

Abstract

ABSTRAK Tsunami merupakan bencana alam yang sebagian besar kejadiannya dipicu oleh gempabumi dasar laut. Dampak kerugian tsunami terhadap lingkungan pesisir antara lain rusaknya properti, struktur bangunan, infrastruktur dan dapat mengakibatkan gangguan ekonomi. Bencana tsunami memiliki keunikan dibandingkan bencana lainnya, karena memiliki kemungkinan sangat kecil tetapi dengan ancaman yang tinggi. Paradigma Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir yang menekankan bahwa risiko merupakan hal utama dalam penentuan strategi terhadap bencana. Kelurahan Ploso, merupakan salah satu lokasi di Kabupaten Pacitan yang berpotensi terkena bencana tsunami. Pemetaan risiko bangunan dilakukan dengan metode kuantitatif, yang mana disusun atas peta kerentanan dan peta harga bangunan. Papathoma Tsunami Vulnerability 3 (PTVA-3) diadopsi untuk pemetaan kerentanan. Data harga bangunan diperoleh dari kombinasi kerja lapangan dan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil pemetaan risiko menunjukkan bahwa Lingkungan Barehan memiliki risiko kerugian paling tinggi diantara semua lingkungan di Kelurahan Ploso. Hasil ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk penentuan strategi pengurangan risiko bencana di Kelurahan Ploso.ABSTRACT Tsunami is a natural disaster whose occurrences are mostly triggered by submarine earthquakes. The impact of tsunami on coastal environment includes damages to properties, building structures, and infrastructures as well as economic disruptions. Compared to other disasters, tsunamis are deemed unique because they have a very small occurrence probability but with a very high threat. The paradigm of Disaster Risk Reduction (DRR) that has developed in the last few years stresses risk as the primary factor to determine disaster strategies. Ploso Sub-district, an area in Pacitan Regency, is potentially affected by tsunamis. The risk mapping of the buildings in this sub-district was created using a quantitative method based on maps of vulnerability and building’s cost. This research used Papathoma Tsunami Vulnerability 3 (PTVA-3) for vulnerability mapping. The cost of the buildings was obtained from a combination of fieldwork and Geographic Information System (GIS). The results of risk mapping showed that the Barehan Environment had the highest risk of loss among the other environments in Ploso Sub-district. These findings, thereby, can be used as a reference for determining DRR strategy in Ploso Sub-district.
Spatiotemporal Analysis of Marine Debris Existence in Parangtritis Coastal Area, Yogyakarta, Indonesia Djati Mardiatno; Herjuna Wiratama
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 5, No 1 (2021): JFMR VOL 5 NO.1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.005.01.14

Abstract

This research is aimed to identify the marine debris types and their distribution based on morphological characteristic of the coastal area. It was conducted between Pantai Depok and Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Specifically, the morphological identification was carried out to characterize the morphology of the location under study and its relation to the distribution of existing marine debris. This research used survey method, accompanied by systematic sampling techniques. Perpendicular line transects created in 100 meters intervals, accompanied by a 1x1 meter grid for marine debris identification. Descriptive qualitative analysis was done to explain the spatial temporal aspect of marine debris existence. The results of the study were presented in a cross-section morphological description, analysis table, and a map showing the distribution of marine debris along with a description of the type of debris and its density. The results showed that the distribution of marine debris was spatially clustered on the west side, especially on the coast of Depok. This fact reveals that the distribution of marine debris will indirectly follow the coastal morphology, i.e. the amount of debris will increase if it approaches the river mouth. Temporally, the highest amount of marine debris was obtained in March and the lowest was obtained in July. Degradable marine debris is dominated by wood, while non-degradable is dominated by plastics and straws. The greatest amount of marine debris occured during the west season, which indicates that the supply of debris coming from the Opak River, located in the western part of the study area.
KERENTANAN PESISIR PULAU KECIL (STUDI KASUS: PULAU KARIMUNJAWA DAN KEMUJAN) Dzakwan Taufiq Nur Muhammad; Djati Mardiatno
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 6, No 1 (2022): JFMR VOL 6 NO.1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2022.006.01.11

Abstract

Pulau Karimunjawa dan Kemujan merupakan pulau kecil yang berpotensi rentan terhadap dampak perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tingkat kerentanan pesisir terhadap fenomena perubahan iklim. Kerentanan pesisir dipetakan dengan unit analisis tipologi pesisir dan memanfaatkan metode indeks kerentanan pesisir (IKP) yang terdiri dari parameter karakteristik biofisik (geomorfologi, struktur pertahanan pesisir, dan kemiringan lereng gisik / beting gisik), parameter karakteristik tenaga eksternal (ketinggian gelombang signifikan, rentang pasang surut, kenaikan muka air laut relatif, dan perubahan garis pantai), serta parameter karakteristik sosial ekonomi (penggunaan lahan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kerentanan pesisir sangat rendah dengan geomorfologi pesisir bertebing sedang dan kelas kerentanan pesisir rendah dengan geomorfologi pesisir bertebing rendah sebagian besar berada di bagian timur Pulau Karimunjawa, kelas kerentanan pesisir sedang cenderung berada di wilayah kepesisiran yang memiliki penggunaan lahan mangrove, serta kelas kerentanan pesisir tinggi dengan penggunaan lahan perkebunan dan kelas kerentanan pesisir sangat tinggi dengan penggunaan lahan permukiman dan infrastruktur lain cenderung berada di bagian utara Pulau Kemujan.
Misconception Of Run-Up Definition And Its Implication To Tsunami Risk Assessment A Case Study In Pacitan Coastal Area, Indonesia Djati Mardiatno; Suanrto Sunarto; Lies Rahayu W.F; Johann Stotter
Indonesian Journal of Geography Vol 39, No 2 (2007): Indonesian Journal of Geography
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijg.2241

Abstract

This article aims to build the similar understanding of run-up concept and to review the "map of t,'}iinami risk analysis in Pacitan" released by Balai Pengkajian Dinamika Pantai (BPDP)-BPPT Indonesia. We also propose similar understanding of risk definition related to the natural hazards, such as tsunami. The investigation used comparison method between 2 maps, i.e. tsunami risk map by BPDP and our tsunami risk map. Based on the comparison result, we found a misconception of rim-up in the tsunami risk map produced by BPDP. There is no differentiation between run-up and water-height over the land. It should be revised to avoid it from the incorrect rim-up definition. We also found if it was also mentioned as a "map of t.\imami risk analysis" while the analysis result was not performed in that map. Therefore, it is necessGlY to understand the run-up concept and risk concept first prior to map those phenomena.
Co-Authors Ahmad Fauzan Adzima Ahmad Maryudi Airawati, Maria Nooza Alimuddin, Askiyamin Amelia Fitri Ardiati, Aulia Syifa Arry Retnowati Arysandi, Safira Arum Bakti Setiawan Baru, Maria Theresia Firmina Bevaola Kusumasari Christanto, Nugroho Dandun Wacono Deasy Arisanty Denni Susanto Despry Nur Annisa Despry Nur Annisa Dewi Haryani Susilastuti, Dewi Haryani Dian Pertiwi Dina Ruslanjari Djarot Sadharto Djarot Sadharto Dulbahri Dulbahri Dwi Wahyu Arifudiin Najib Dyah Rahmawati Hizbaron Dzakwan Taufiq Nur Muhammad Dzakwan Taufiq Nur Muhammad Eka Wulandari Eko Haryono Evita Hanie Pangaribowo Faiq, Muhammad Faridah Faridah Febriani, Yenni Ferry Dwi Cahyadi Gerarda Orbita Ida Cahyandari Hafiz Fatah Nur Aditya Hairil Adzulyatno Hadini Hanifa, Syifa Hardhoni, Wildhan Dayu Hartono Hartono Hastiwi, Antika Heni Herjuna Wiratama Hizbaron, Dyah Rahmawati Hogy Prima Valeda Ibnu Fauzi Ilham satria Jamulya Jamulya Jayawarsa, A.A. Ketut Johann Stotter Junun Sartohadi Kartini Ali Kelik Eko Susanto Laksono Trisnantoro Lies Rahayu W.F M. Anggri Setiawan M. Anggri Setiawan M. Anggri Setiawan M. Ngainul Malawani Mahron, Hayu Nur Malawani, Mukhamad Ngainul Mar'ath, Sitti Khafifatul Marfai, Muhamad Aris Maria Nooza Airawati Maria Theresia Firmina Baru Maulida Rahmi Mohammad Pramono Hadi Muh Aris Marfai Muh Aris Marfai Muhammad Anggri Setiawan Muhammad Aris Marfa'i Muhammad Budi Muhammad Fauzan Ramadhan Muhammad Rizky Shidiq Nugraha Muhammad, Dzakwan Taufiq Nur Muharram, Fajrun Wahidil Mukhamad Ngainul Malawani Mutaqin, Bachtiar W. Mutaqin, Bachtiar Wahyu Muta’ali, Lutfi Nehren, Udo Nisaa', Ratri Ma'rifatun Noorhadi Rahardjo Novian Andri Akhirianto NURUL HIDAYAH Nurul Khakhim Nurul Khakhim Nurul Khakhim Nurul Khakim Nurwihastuti, Dwi Wahyuni Nuswantara, Galang Riswanda Oktomi Wijaya Pamungkas, Bagus Purboyo, Alvian Aji Rahma, Ayu Dyah Rahmi, Maulida Ratri Ma'rifatun Nisaa' Rhosadi , Iwan Rini Rachmawati Safinatunnajah, Safinatunnajah Samodra, Guruh Saragi, Andes Sari, Nila Puspita Satyaningrum, Aghnia Candra Setiawan, M. Anggri Setiawan, Muhammad Anggri Setiawan, Nicky Sri Rum Giyarsih Suanrto Sunarto Sudrajat Sudrajat Suhendro, Indranova Sunarno Sunarno Sunarto Sunarto Suratman Suratman Suratman Suratman Suratman Worosuprojo Syafitri, Dyah Rina Tiara Handayani Tilova, Ulfa Della Nova Tjahyanityasa, Wanda Fitri Toto Cahyono Totok Wahyu Wibowo Tri Wahyuni, Yubaidah Valentina Arminah W, Lies Rahayu Wildhan Dayu Hardhoni Wiratama, Herjuna Yuli Widyaningsih