Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PROFILE OF MATHEMATICAL BELIEF OF HIGH-ABILITY STUDENTS AT MAN KOTA PALU IN SOLVING PROBABILITY PROBLEMS I Luh Fika; Pathuddin Pathuddin; Mubarik Mubarik; Rahma Nasir
Prima: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 10 No. 1 (2026): PRIMA : Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/prima.v10i1.15205

Abstract

Keyakinan matematis merupakan aspek afektif penting yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam memahami konsep dan memecahkan masalah matematika. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, melibatkan satu siswa kelas sebelas tahun ajaran 2025/2026 yang direkomendasikan memiliki kemampuan matematika tinggi berdasarkan nilai rapor dan rekomendasi guru. Data dikumpulkan melalui tes tertulis dan wawancara semi-terstruktur, kemudian dianalisis berdasarkan indikator keyakinan matematis dalam pembelajaran dan pemecahan masalah probabilitas. Teknik pengumpulan data meliputi tes tertulis tentang masalah probabilitas dan wawancara semi-terstruktur yang fokus pada keyakinan matematis dalam pembelajaran matematika dan pemecahan masalah probabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berkemampuan tinggi memiliki keyakinan positif terhadap matematika, mampu memahami masalah dengan baik, merancang strategi pemecahan masalah secara sistematis, melaksanakan rencana dengan percaya diri, akurat, dan presisi, serta meninjau jawaban mereka untuk memastikan kebenarannya. Keyakinan ini tercermin dalam kepercayaan diri, motivasi belajar, dan keterampilan berpikir reflektif mereka, yang mendukung keberhasilan mereka dalam memecahkan masalah kemungkinan. 
MATHEMATICAL BELIEFS IN SOLVING STATISTICS PROBLEMS: A CASE STUDY OF INTROVERTED STUDENTS AT A STATE ISLAMIC SENIOR HIGH SCHOOL Elisa Setyaningrum; Pathuddin Pathuddin; Mubarik Mubarik; Rahma Nasir
Prima: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 10 No. 1 (2026): PRIMA : Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/prima.v10i1.15243

Abstract

This study aims to describe the mathematical beliefs of an introverted student in solving statistics problems. The research was conducted at a State Islamic Senior High School in Palu City using a qualitative descriptive approach. The subject was a male student with an introverted personality and high mathematical ability, identified through the Eysenck Personality Inventory (EPI) and categorized as high-ability based on Arikunto’s classification. Data were collected through a statistics problem solving test and semi-structured interviews, then analyzed using the Miles and Huberman model, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings, analyzed through five aspects of mathematical belief, indicate that the introverted student demonstrated positive mathematical beliefs throughout the statistical problem-solving process. He was able to understand problems thoroughly, plan steps systematically, carry out solutions independently and carefully, and review his answers reflectively. These five aspects were reflected in his beliefs about the importance of understanding problem, following solution steps, facing difficult problems, interpreting word problems, and persevering in effort. He relied more on independent thinking than social interaction, preferred structured and logical approaches, and was diligent in verifying his answers.
Cerdas Tapi Cemas: Studi Faktor Penyebab Math Anxiety pada Siswa Perempuan Berkemampuan Tinggi Putri Dwi Yanti Oktavia; Mubarik Mubarik; Sukayasa Sukayasa; Bakri M
Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako Vol. 13 No. 3 (2026): Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako (JEPMT)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/jepmt.v13i3.4789

Abstract

Kecemasan matematika sering didefinisikan sebagai perasaan cemas yang dialami seseorang saat berinteraksi dengan matematika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kecemasan matematika pada siswi dengan mengacu pada empat indikator, yaitu somatik, kognitif, afektif, dan pengetahuan matematika. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner kecemasan matematika dan pedoman wawancara. Teknik analisis data yang digunakan mengacu pada teknik analisis data dari Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan matematika pada siswi disebabkan oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor eksternal meliputi pengalaman negatif dalam belajar matematika dan tekanan sosial dari lingkungan sekitar. Sementara itu, faktor internal melibatkan persepsi terhadap matematika, kurangnya rasa percaya diri, rasa takut melakukan kesalahan, dan ketakutan akan penilaian orang lain. Oleh karena itu, perlu diterapkan strategi pembelajaran yang dapat mengurangi kecemasan matematika dan meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam belajar matematika.
Analisis Penyelesaian Soal HOTS Bangun Datar Ditinjau Dari Adversity Quotient Annisa Aulia; Sukayasa Sukayasa; Bakri M; Mubarik Mubarik
Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako Vol. 13 No. 3 (2026): Jurnal Elektronik Pendidikan Matematika Tadulako (JEPMT)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/jepmt.v13i3.4790

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap tiga subjek yang dipilih berdasarkan tipe Adversity Quotient (AQ) mereka, dengan teknik pengumpulan data melalui tes tertulis serta wawancara semiterstruktur yang dianalisis melalui tahap kondensasi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek tipe climber memiliki pemahaman masalah yang baik, mampu berpikir logis, bekerja secara mandiri, serta teliti dalam perhitungan maupun pengecekan ulang, bahkan aktif mencari strategi alternatif saat menghadapi kendala. Sementara itu, subjek tipe camper memahami masalah namun kurang konsisten dalam mencatat dan merencanakan strategi, serta cenderung mencari bantuan pihak lain ketika kesulitan karena kurangnya rasa percaya diri dan kemandirian meskipun memiliki potensi berpikir tingkat tinggi. Di sisi lain, subjek tipe quitter tidak mencatat informasi penting, tidak memiliki strategi pemecahan masalah, dan sangat mudah menyerah sehingga memerlukan bimbingan lebih lanjut dalam memahami persoalan serta mengembangkan keterampilan berpikir kritis.
Profile of Junior High School Students' Mathematical Abstraction in Forming the Concept of Triangles Febrina Hajiroh; Rita Lefrida; Muh Rizal; Mubarik Mubarik
JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Vol. 10, No. 2: November 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/kontinu.10.2.296-314

Abstract

This study aims to describe the profile of junior high school students' mathematical abstraction in forming the concept of triangles in terms of high, medium, and low levels of mathematical ability, based on the stages of RBC+C, namely recognizing, building-with, constructing, and consolidation. This study uses a descriptive qualitative approach with three seventh-grade students as subjects, one student each with high, medium, and low mathematical ability, selected based on the results of a mathematical ability test. Data were collected through triangle abstraction assignments and interviews, then analyzed using the Miles and Huberman model which includes data condensation, data presentation, and drawing and verifying conclusions. The results showed that students with high mathematical ability were able to pass all stages of RBC+C optimally, students with medium ability were able to reach all stages but not optimally, while students with low ability experienced limitations in almost all stages of mathematical abstraction, especially in the aspects of building-with, constructing, and consolidation. Thus, the level of students' mathematical ability significantly influences the quality of the mathematical abstraction process in forming the concept of triangles.
Analysis of the Pseudo-Thinking Process of Field-Dependent 8th-Grade Students at SMP Negeri 2 Palu in Solving Pythagorean Theorem Problems wianita selviani; Mubarik Mubarik; Pathuddin Pathuddin; Alfisyahra Alfisyahra
JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Vol. 10, No. 2: November 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/kontinu.10.2.327-344

Abstract

The occurrence of pseudo-thinking processes in mathematics learning remains prevalent, as many students solve problems by relying on memorized procedures rather than understanding the underlying concepts. While previous research has largely focused on error analysis or general problem-solving abilities, studies specifically examining pseudo-thinking processes among field-dependent students when solving Pythagorean theorem problems remain limited. This study aims to analyze the pseudo-thinking processes of eighth-grade students at SMP Negeri 2 Palu specifically those with a field-dependent cognitive style while solving Pythagorean theorem problems, by examining the relationship between cognitive style characteristics and pseudo-thinking processes. A descriptive qualitative approach was employed. Data were collected from a single student, purposively selected to represent the field-dependent cognitive style, using the Group Embedded Figures Test (GEFT), a Pythagorean theorem problem-solving test, and semi-structured interviews. Data analysis followed the interactive model proposed by Miles, Huberman, and Saldaña, comprising data condensation, data display, and conclusion drawing/verification. The results indicate that the field-dependent student exhibited "correct pseudo-thinking" during the planning and execution stages of the solution. This was characterized by the use of procedures based on prior learning experiences and provided examples, lacking support from deep conceptual understanding. However, during the review stage, the subject was able to verify the solution, meaning the characteristics of pseudo-thinking were no longer present. These findings demonstrate that cognitive style plays a role in shaping students' thinking processes during mathematical problem-solving and provide a basis for teachers to design instruction that accounts for students' cognitive style characteristics to enhance conceptual understanding.. Keywords: Pseudothinking, Cognitive Style, Field-Dependent, Pythagorean Theorem.
Profil Lapisan Pemahaman Konsep Bilangan Berpangkat Berdasarkan Teori Pirie-Kieren Ditinjau dari Kemampuan Matematis Wanda Yunisa Balqis; Mubarik Mubarik; Pathuddin Pathuddin; I Nyoman Murdiana
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) Vol. 6 No. 3 (2026): Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 2026 (3)
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jppi.v6i3.4983

Abstract

Pemahaman konsep sangat penting dalam pembelajaran matematika. Namun, kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa banyak siswa SMP Negeri 14 Palu masih kesulitan memahami konsep yang berkaitan dengan materi bilangan berpangkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi tentang profil lapisan pemahaman konsep bilangan berpangkat berdasarkan teori Pirie-Kieren ditinjau dari kemampuan matematis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilaksanakan di SMP Negeri 14 Palu dengan subjek penelitian yang terdiri 2 siswa kelas VIII yang mewakili kemampuan matematis tinggi dan kemampuan matematis sedang. Data dikumpulkan melalui tes pemahaman konsep dan wawancara semi terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan matematis tinggi mampu mencapai seluruh lapisan pemahaman teori Pirie-Kieren, mulai dari Primitive Knowing hingga Inventising. Siswa tersebut mampu memahami konsep bilangan berpangkat, menggunakan sifat-sifat bilangan berpangkat dengan tepat, serta menjelaskan alasan penggunaan konsep dalam menyelesaikan soal. Sementara itu, siswa dengan kemampuan matematis sedang hanya mencapai lapisan Primitive Knowing, Image Making dan Image Having. Siswa mampu memahami konsep dasar bilangan berpangkat, tetapi masih mengalami kesulitan dalam mengenali sifat-sifat bilangan berpangkat dan menjelaskan konsep secara lebih mendalan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan matematis mempengaruhi perkembangan pemahaman konsep bilangan berpangkat siswa, sehingga pembelajaran matematika harus dirancang agar siswa tidak hanya menguasai prosedur tetapi juga memperoleh pemahaman konseptual yang lebih mendalam hingga mereka dapat mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan lebih banyak subjek dengan tingkat kemampuan matematis yang berbeda serta materi yang lebih beragam untuk memperluas kajian mengenai perkembangan lapisan pemahaman siswa berdasarkan teori Pirie-Kieren.