Claim Missing Document
Check
Articles

FORMULATION OF EYESHADOW CREAM COMBINATION OF EXTRACT SPISSUM BUTTERFLY PEA FLOWER (Clitoria ternatea L.) WITH SECANG WOOD (Caesalpinia sappan L.) AS A NATURAL COLOR Dini Agustina Yuniaty; Deni Rahmat; Rahmaniar Rachmat
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 3 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i3.827

Abstract

Eye shadow is one of the decorative cosmetic that contains color that is applied to the eyelids. Eye shadows were generally blue, pink, dark red, silver, green, and brown. Natural dyes are derived from plants, animals, and microorganisms. Butterfly pea flower (Clitoria ternatea L.) and secang wood (Caesalpinia sappan L.) are plants that contain natural dyes that can be used as dyes. The two plants were removed by maceration in 70% ethanol. Eye shadow preparation using a combination of extract spissum of  butterfly pea flower and secang wood produces eye shadow with a purple color in 3 formulations, namely F3 extract spissum butterfly pea flower and secang wood (3:2), F4 extract spissum butterfly pea flower and secang wood (2:3), F5 extract spissum butterfly pea flower and secang wood (1:4). In the hedonic test, there was no significant difference >0.05% among F3, F4, and F5. Thus, the results of the irritation test showed that the eye shadow cream preparation produced an irritation index of 1.00, namely, mild irritation. Keywords: Eye shadow, butterfly pea flower, Secang wood.
SOLID EYELINER FORMULATION CONTAIN CLITORIA TERNATE L. EXTRACT IN PH ACID AND ALKALI AND IN VIVO IRRITATION TEST Linawaty Lee; Ratna Djamil; Deni Rahmat
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 3 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i3.828

Abstract

Clitoria ternatea flowers contain blue anthocyanin that has potential as natural coloring. The purpose of this study was to obtain an eyeliner product containing natural coloring that is safe, stable, and can replace hazardous chemicals. Clitoria ternatea flowers were extracted by kinetic maceration with 70% ethanol. The obtained extract was subjected to standard quality tests, phytochemical screening, and determination of total anthocyanin content and antioxidant activity (DPPH assay). Eyeliner-containing extracts were prepared in three pH variations (acidic, neutral, and alkaline). These three types of eyeliner preparations were subjected to an irritation test on shaved male albino white rabbit skin. stability test using the cycle test method, hardness, break point, and melting point were also performed. The results showed that Clitoria ternatea extract contains 0.2187% anthocyanin, has an antioxidant activity IC50 of104.7 µg/mL, and is free of heavy metals. The eyeliner contained Clitoria ternatea extract was dark blue when applied to the skin. Eyeliner preparations were stable in three stability cycle tests. The irritation test on the male albino rabbit skin showed no irritation. Clitorial ternatea extract can be used as natural coloring in eyeliner preparation. Keywords: Butterfly pea, Clitoria ternatea L., Anthocyanin, Antioxidant, Eyeliner.
Formulasi Nanopartikel Ekstrak Temu Lawak Berbasis Kitosan Sebagai Antijerawat . Syarmalina; Deny Wirawan; Deni Rahmat
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v3i2.79

Abstract

Kurkumin dalam ekstrak temulawak memiliki khasiat sebagai antiacne karena dapat menghambat salah satu bakteri penyebab jerawat yakni Propionibacterium acne. Tujuan penelitian ini adalah untuk memformulasi nanopartikel dari ekstrak temulawak. Ekstrak temulawak dan nanopartikelnya ditentukan nilai diameter daya hambat terhadap bakteri Propionibacterium acne. Pembuatan nanopartikel menggunakan kitosan dengan metode gelasi ionik. Nanopartikel yang terbentuk dikarakteristik ukuran partikel, zeta potensial dan morfologinya. Hasil menunjukkan bahwa nanopartikel mempunyai aktivitas antibakteri lebih besar daripada ekstrak temulawak. Nanopartikel mempunyai ukuran partikel 62,6±16,3 nm, zeta potensial -44,84±7,93 mV dan bentuk speris. Dengan demikian nanopartikel ekstrak temulawak mempunyai potensi yang lebih besar untuk dikembangkan menjadi sediaan antiacne daripada ekstrak temulawak.
PERBANDINGAN AKTIVITAS TABIR SURYA DAN ANTIOKSIDAN : EKSTRAK ETANOL 70% DAN 96% DARI RIMPANG BANGLE (Zingiber montanum (J.Koenig) Link ex A.,): COMPARISON OF SUNSCREEN AND ANTIOXIDANT ACTIVITIES: 70% AND 96% ETHANOL EXTRACT FROM BANGLE (Zingiber montanum (J.Koenig) Link ex A.,) RHIZOME Nur Aji; Shirly Kumala; Esti Mumpuni; Deni Rahmat
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i2.557

Abstract

Rimpang Zingiber montanum memiliki potensi sebagai antioksidan dan tabir surya. Pelarut etanol merupakan pelarut yang diijinkan dalam pembuatan ekstrak untuk bahan obat tradisional. Etanol 70% dan 96% lazim digunakan dalam proses ekstraksi namun belum diketahui bagaimana pengaruh kedua konsentrasi etanol terhadap kandungan senyawa aktif dan aktivitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan karakteristik,  aktivitas antioksidan, dan tabir surya dari ekstrak Z. montanum yang dimaserasi dengan pelarut etanol 70% dan 96%. Penelitian ini menggunakan metode komparatif kuantitatif. Penelitian dibagi dalam tiga tahap, yaitu :  uji parameter ekstrak, aktivitas antioksidan, dan tabir surya. Data aktivitas antioksidan dan tabir surya antara ekstrak Z. montanum dengan pelarut etanol 70 dan 96% dilakukan uji banding dengan t-tes. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak, kadar fenol total, dan kadar kurkuminoid total dari ekstrak etanol 96% memiliki nilai yang lebih tinggi. Aktivitas antioksidan walaupun memiliki aktivitas sangat kuat, kedua ekstrak berbeda signifikan (t hitung > t tabel)  antara ekstrak etanol 70%  memiliki nilai konsentrasi hambatan 50% (IC50) 11,25 µg/mL, sedangkan ekstrak etanol 96%  sebesar 11,67 µg/mL. Aktivitas tabir surya kedua ekstrak tidak berbeda secara signifikan (t hitung < t tabel)  dengan nilai SPF tertinggi pada konsentrasi 100 µg/mL dengan kategori daya proteksi tinggi. Semua parameter ekstrak menunjukkan ekstrak etanol 96% memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak etanol 70%. Aktivitas antioksidan kedua ekstrak memiliki nilai yang berbeda signifikan, walaupun keduanya memiliki aktivitas sangat kuat. Sedangkan aktivitas tabir surya keduanya tidak berbeda signifikan. Kata kunci : Zingiber montanum, Antioksidan, Tabir Surya, Etanol 70%, Etanol 96%
NANOPARTIKEL GELASI IONIK EKSTRAK KULIT BATANG POHON TIN (Ficus carica L.): IONIC GELATED NANOPARTICLES EXTRACT OF TIN TREE BARK (Ficus carica L.) Linda Fitriyani; Rachmaniar Rahmat; Deni Rahmat
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v9i1.678

Abstract

Ekstrak bahan alami, seperti ekstrak dari kulit batang pohon tin (Ficus carica L), mengandung metabolit sekunder yang memiliki sifat polar. Diketahui bahwa bioavailabilitas ekstrak bahan alami cenderung rendah, sehingga sulit untuk menembus membran sel yang terdiri dari lapisan lipid. Penelitian nanopartikel gelasi ionik ekstrak kulit batang pohon tin (Ficus carica L) untuk penghantaran obat dalam menembus lapisan epidermis kulit belum pernah dilakukan penelitian. Sehingga akan dilakukan penelitian nanopartikel gelasi ionik ekstrak kulit batang pohon tin (Ficus carica L). Nanopartikel dibuat dengan menggunakan metode gelasi ionik, di mana tetesan cairan diinisiasi dalam fase minyak atau organik. Proses ini melibatkan pencampuran dua fase cair, yaitu fase yang mengandung kitosan dan fase yang mengandung anion multivalen. Simplisia kulit batang pohon tin (Ficus carica L) memiliki kandungan metabolit sekunder golongan flavonoid, tanin, fenol dan triterpenoid, hal ini menunjukan bahwa benar kulit batang pohon tin (Ficus carica L) dapat digunakan juga dalam pengobatan dan ekstrak kulit batang pohon tin (Ficus carica L) dapat dibuat dalam sediaan nanopartikel sebagai bentuk modofikasi dalam penghantaran obatnya dengan metode gelasi ionik.  Kata kunci : nanopartikel, gelasi ionik, ficus carica
FORMULATION OF EYESHADOW CREAM COMBINATION OF EXTRACT SPISSUM BUTTERFLY PEA FLOWER (Clitoria ternatea L.) WITH SECANG WOOD (Caesalpinia sappan L.) AS A NATURAL COLOR Dini Agustina Yuniaty; Deni Rahmat; Rahmaniar Rachmat
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 3 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i3.827

Abstract

Eye shadow is one of the decorative cosmetic that contains color that is applied to the eyelids. Eye shadows were generally blue, pink, dark red, silver, green, and brown. Natural dyes are derived from plants, animals, and microorganisms. Butterfly pea flower (Clitoria ternatea L.) and secang wood (Caesalpinia sappan L.) are plants that contain natural dyes that can be used as dyes. The two plants were removed by maceration in 70% ethanol. Eye shadow preparation using a combination of extract spissum of  butterfly pea flower and secang wood produces eye shadow with a purple color in 3 formulations, namely F3 extract spissum butterfly pea flower and secang wood (3:2), F4 extract spissum butterfly pea flower and secang wood (2:3), F5 extract spissum butterfly pea flower and secang wood (1:4). In the hedonic test, there was no significant difference >0.05% among F3, F4, and F5. Thus, the results of the irritation test showed that the eye shadow cream preparation produced an irritation index of 1.00, namely, mild irritation. Keywords: Eye shadow, butterfly pea flower, Secang wood.
SOLID EYELINER FORMULATION CONTAIN CLITORIA TERNATE L. EXTRACT IN PH ACID AND ALKALI AND IN VIVO IRRITATION TEST Linawaty Lee; Ratna Djamil; Deni Rahmat
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 3 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i3.828

Abstract

Clitoria ternatea flowers contain blue anthocyanin that has potential as natural coloring. The purpose of this study was to obtain an eyeliner product containing natural coloring that is safe, stable, and can replace hazardous chemicals. Clitoria ternatea flowers were extracted by kinetic maceration with 70% ethanol. The obtained extract was subjected to standard quality tests, phytochemical screening, and determination of total anthocyanin content and antioxidant activity (DPPH assay). Eyeliner-containing extracts were prepared in three pH variations (acidic, neutral, and alkaline). These three types of eyeliner preparations were subjected to an irritation test on shaved male albino white rabbit skin. stability test using the cycle test method, hardness, break point, and melting point were also performed. The results showed that Clitoria ternatea extract contains 0.2187% anthocyanin, has an antioxidant activity IC50 of104.7 µg/mL, and is free of heavy metals. The eyeliner contained Clitoria ternatea extract was dark blue when applied to the skin. Eyeliner preparations were stable in three stability cycle tests. The irritation test on the male albino rabbit skin showed no irritation. Clitorial ternatea extract can be used as natural coloring in eyeliner preparation. Keywords: Butterfly pea, Clitoria ternatea L., Anthocyanin, Antioxidant, Eyeliner.
PREPARASI DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL KITOSAN MENGANDUNG ANTIGEN INTI HEPATITIS B (HBcAg) DARI Escherichia coli BL21 (DE3) M. Ikhwan Setiawan; Chaidir; Deni Rahmat; Asrul Muhamad Fuad
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 9 No 1 (2024): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v9i1.368

Abstract

Hepatitis B Core Antigen (HBcAg) adalah antigen struktural dari virus hepatitis B yang berpotensi menjadi senyawa aktif dalam vaksin hepatitis B. Dalam penelitian ini, HBcAg dihasilkan melalui biosintesis protein rekombinan dari Escherichia coli BL21 (DE3). Selanjutnya nanopartikel HBcAg disiapkan dengan metode gelasi ionik menggunakan crosslinker kitosan (CHI) dan natrium tripolifosfat (STPP). Analisis menggunakan Particle Scanning Analyzer menunjukkan bahwa nanopartikel terkecil sebesar 126,4 nm diperoleh dari perbandingan 2:1 kombinasi kitosan 0,1% dan STPP 0,1%, sementara kombinasi 5:3 menghasilkan keseragaman nanopartikel terbaik dengan indeks polidispersi 0,319. Stabilitas nanofluida terbaik diperoleh dari kombinasi 2:1 kitosan 0,15% dan STPP 0,1% dengan nilai zeta-potensial 22,2 mV. Efisiensi penangkapan tertinggi sebesar 94,26% diperoleh pada rasio 4:3 CHI:STPP. Uji pelepasan antigen in vitro menunjukkan bahwa pelepasan protein dari struktur nanopartikel lebih rendah dalam larutan asam dibandingkan dalam larutan basa
Formulasi Tablet Nanopartikel Ekstrak Terstandar Daun Pulai (Alstonia scholaris (L). R. BR) sebagai Antidiabetes Risma Marisi Tambunan; Deni Rahmat; Jenifer Sara Silalahi
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 3 No. 4 (2016): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v3i4.117

Abstract

Daun Pulai (Alstonia scholaris (L). R. BR) merupakan salah satu jenis tumbuhan yang telah diketahui berkhasiat sebagai antidiabetes. Ekstraksi daun pulai dilakukan secara maserasi kinetik dengan etanol 70% dan dipekatkan sehingga didapatkan ekstrak kental. Ekstrak kental diubah menjadi nanopartikel dengan metode gelasi ionik. Nanopartikel ekstrak kering kemudian diformulasikan menjadi sediaan tablet dengan metode cetak langsung menggunakan 35% avicel PH 102. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan adanya kandungan alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid/triterpenoid, kumarin, kuinon dan minyak atsiri. Hasil evaluasi nanopartikel didapatkan ukuran partikel rata-rata 186,93 nm, zeta potensial -68,85 mV dan bentuk partikel hasil pengeringan yang sferis. Hasil evaluasi sediaan tablet menunjukkan bobot rata-rata 501,8 mg dan waktu hancur 13,26 menit. Hasil uji penghambatan terhadap enzim α-glukosidase secara in vitro pada konsentrasi 225 µg/mL menunjukkan % penghambatan pada ekstrak kental, ekstrak kering dan sediaan tablet berturut-turut adalah 92,09 %, 85,90 %, dan 75,83 % sedangkan akarbose dan kuersetin menunjukkan % penghambatan sebesar 95,21 % dan 89,67 %. Dapat disimpulkan bahwa tablet yang mengandung ekstrak nanopartikel dapat mempunyai efek antidiabets. Kata kunci: Daun pulai; Alstonia scholaris (L). R. BR; ekstrak etanol; nanopartikel; α- glukosidase ABSTRACT Pulai leaves (Alstonia scholaris (L). R. BR) is one of plants which has an antidiabetic effect. Extraction was carried by maceration kinetic with 70% ethanol and the resulting extract was concentrated by rotary evaporator to obtain a thick extract and was then changed into nanoparticles using ionic gelation method. The dried nanoparticles were formulated into tablet with direct compression method using 35% avicel PH 102. Phytochemical screening showed both extract and nanoparticles contains alkaloid, flavonoid, saponins, tannins, steroid/triterpenoids, coumarins, quinones and essential oils. The evaluation of nanoparticles demonstrated particle size of 186.93 nm, zeta potential of -68.85 mV and spherical shape of dried particles. The evaluation tablets showed an average weight of 501.8 mg and disintegration time of 13.26 minutes. Based on the result of activity of α-glucosidase inhibition in vitro, the persentage (%) of inhibition of the extract, the nanoparticles and the tablets at concentrations of 225 mg/mL are 92.09, 85.90, and 75.83%, respectively while acarbose and quercetin showed 95.21% and 89.67 % of inhibition, respectively. It could be concluded that the tablets of nanoparticles containing extract show an antidiabetic effect. Key words: Pulai leaves; Alstonia scholaris; nanoparticles; α-glukosidase
Pembuatan Nanopartikel Berbasis Kitosan dari Infus Daun Sirsak (Annona Muricata LINN) sebagai Antioksidan Yesi Desmiaty; Deni Rahmat; Nilam Sari Maulidina
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 3 No. 4 (2016): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v3i4.119

Abstract

Daun Sirsak (Annona muricata Linn), Annonaceae telah diketahui memiliki kemampuan meredam radikal bebas yang kuat dan bisa dikembangkan menjadi sediaan farmasi antioksidan. Pembentukan nanopartikel dari ekstrak akan meningkatkan stabilitas, kemampuan mukoadhesif dan penetrasi ekstrak sehingga dapat meningkatkan efektifitasnya. Pembuatan nanopartikel dilakukan dengan melarutkan kitosan dalam larutan asam asetat glasial 1%, dan dicampurkan dengan infus daun sirsak. Suspensi nanopartikel ekstrak daun sirsak dikeringkan dengan menggunakan alat pengering semprot. Hasil evaluasi nanopartikel ekstrak diperoleh ukuran partikel 131,23 ± 1,81%, indeks polidispersitas 0,3 – 0,4; padatan total 0,47 %, warna coklat muda, bau khas ekstrak, rasa pahit, sifat serbuk halus, higroskopis, kadar air 6.86 ± 0,88%. Pemeriksaan aktivitas antioksidan pada nanopartikel ekstrak daun sirsak dengan menggunakan metode peredaman radikal bebas DPPH menunjukkan aktivitas antioksidan kuat dengan nilai 1C50 sebesar 80,98 bpj. Kata kunci : daun sirsak, Annona muricata Linn., DPPH, antioksidan, nanopartikel, kitosan