Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava) Untuk Menginaktifkan Viral Nervous Necrosis (VNN) Pada Ikan Kerapu Bebek (Epinephelus fuscoguttatus) Amelia, Nita; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 1, No 1 (2012): Journal Of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1475.016 KB)

Abstract

Permasalahan yang sering dihadapi pembudidaya ikan kerapu adalah infeksi Viral Nervous Necrosis (VNN) yang dapat menyebabkan kematian 100%, terutama pada stadia larva. Antibiotik dalam penanggulangan penyakit VNN menyebabkan residu dan resistensi pada ikan, sehingga perlu alternatif herbal salah satunya dengan penggunaan ekstrak daun jambu biji yang mengandung flavonoid. Flavonoid adalah senyawa bioaktif yang akan mengubah reaksi tubuh terhadap senyawa lain sehingga dapat bersifat sebagai antivirus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas penggunaan ekstrak daun jambu biji dalam menginaktifkan VNN dengan melihat 1. Hasil PCR ikan kerapu sebelum dan setelah diinjeksikan VNN dan ekstrak daun jambu biji. 2. Gejala klinis ikan kerapu yang terinfeksi VNN. 3. Histopatologi organ yang terinfeksi VNN. 4. Rata-rata waktu kematian ikan kerapu. 5. Tingkat mortalitas dan kelulushidupan ikan kerapu. 6. Kelayakan kualitas air untuk budidaya ikan kerapu. Metode yang digunakan eksperimental, disain Rancangan Acak Kelompok. Delapan puluh ekor ikan kerapu dibagi dalam 4 kelompok, masing-masing kelompok berisi 4 keranjang basket dan setiap keranjang basket berisi 5 ekor ikan. Ikan kontrol hanya diinjeksi VNN 0,1 ml/ekor. Perlakuan 1 ikan diinjeksi virus 0,1 ml/ekor dan ekstrak daun jambu biji 0,1 ml/ekor dengan konsentrasi 1000 µg/ml. Perlakuan 2 ikan diinjeksi virus 0,1 ml/ ekor dan ekstrak daun jambu biji 0,1 ml/ ekor dengan konsentrasi 100 µg/ml. Perlakuan 3 ikan diinjeksi virus 0,1 ml/ ekor dan ekstrak daun jambu biji 0,1 ml/ ekor dengan 10 µg/ml. Pengamatan deskriptif meliputi, hasil PCR, gejala klinis, histopatologi dan kualitas air. Perhitungan data meliputi, rata-rata waktu kematian, mortalitas dan kelulushidupan ikan kerapu. Hasil PCR sebelum penginjeksian, negatif ikan kerapu tidak terinfeksi VNN dan setelah diinjeksi VNN dan ekstrak daun jambu biji hasil PCR positif terinfeksi VNN. Gejala klinis ikan kerapu yang terinfeksi VNN adalah berenang memutar, berdiam diri di dasar, warna tubuh lebih gelap. Histopatologi menunjukkan adanya inclusi body (sel mengalami nekrosis), hipertropy (sel mengalami pembesaran) dan vacuola (ruang-ruang kosong). Rata-rata waktu kematian ikan kontrol 132,7 jam, perlakuan 1 87,5 jam, perlakuan 2 114,8 dan perlakuan 3 98,1 jam. Tingkat mortalitas pada ikan kontrol 85%, perlakuan 1 80%, perlakuan 2 85% dan perlakuan 3 75%. Kelulushidupan pada ikan kontrol 15%, perlakuan 1 20%, perlakuan 2 15% dan perlakuan 3 25%. Kualitas air untuk budidaya dapat dikatakan layak untuk budidaya. Hasil PCR, histopatologi, rata-rata waktu kematian, mortalitas dan kelangsungan hidup menunjukan bahwa ekstrak daun jambu biji tidak efektif karena konsentrasi, dosis dan metode ekstrak daun jambu biji tidak tepat untuk menginaktifkan VNN.
Aplikasi Vaksin Dna Koi Herpes Virus (Khv) Melalui Metode Perendaman Dengan Dosis Yang Berbeda Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio) Chairunnisa, Sekar Ayu; Prayitno, Slamet Budi; -, Sarjito; Santika, Ayi; Nuryati, Sri
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 2 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1457.163 KB)

Abstract

The purpose of this research was to determine fish clinical signs of KHV-infected and determine effectiveness of KHV DNA vaccine with immersion method to prevent koi herpes virus (KHV) infection. This research was conducted in National Center for Freshwater Aquaculture Development (BBPBAT) Sukabumi, from October 2012 to Februari 2013. The fish samples used were carp seed free KHV with size 3 – 5 cm as many as 450 animals. Five (5) treatments and 3 replications were administered in this research. The treatment were, without vaccine, vaccine at dose of 104, 105, 106, and 107 CFU/ml. Vaccination technique used was vaccination through immersion method. One of the vaccine that has been developed was KHV DNA vaccine. Eksperimental fishes were maintain for 30 days past vaccination, and then challenged with KHV and observed for 21 days. The variables measured were clinical signs and survival rate. The results of this research indicated that non vaccinated fish (A), vaccinated fish at 104(B) and 105(C). demonstered clinical signs of KHV-infected fish, while vaccinated fish at 106(D) and 107(D) visibly normal. This results indicated that vaccination using KHV DNA vaccines at 106 and 107 CFU/ml could prevent eksperimental fish from KHV-infection. PCR results showed that fish with treatments A, B and C positive infected KHV, while treatment D and E negative KHV. Survival rate (SR) at treatment A (15,56%), B (50,00%), C (53,33%), D (78,89%) and E (83,33%). For prevention of KHV, dose vaccine DNA KHV 106 and 107 CFU/ml could be used. This results supported by survival rate from treatment D (78,89%) and E (83,33%) higher than treatment A, B and C.
Pengaruh Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata) Terhadap Profil Darah Dan Kelulushidupan Ikan Mas (Cyprinus carpio) Yang Diinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila Nurjannah, R. Dewi Dharina; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, Sarjito; Lusiastuti, Angela Mariana
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.473 KB)

Abstract

Carp is a freshwater species that is easily cultivated. One of the constraints in cultivating carps (C. carpio) is diseases that ultimately caused mass mortality. The disease that generally affects carp is Motile Aeromonas Septicemia (MAS) caused by Aeromonas hydrophila. Soursop leaves is one of the herbs that can be used as an ingredient to control fish diseases because it contains chemicals that acts bacteriocide. The purpose of this research was to determine the influence and the best dose of soursop leaf extract in feed to the blood profile and survival of carp infected by A. hydrophila. The treatments of this research were addition of soursop leaf extract on feed with 4 different dosages and 3 replicates. The treatments were A (0 g/kg diet), B (5 g/kg diet), C (10 g/kg diet) and D (15 g/kg diet). The result showed that soursop leaf extract in feed of treatment B (5 g/kg diet) significantly different (P0.05) on total erythrocyte (0.83×106 cells/mm3), differential leukocyte include the percentage of monocytes (7.67%), neutrophils (8.67%), lymphocytes (83.67%), phagocytic activity (37%) and survival rate (50%). It can be conclude that soursop leaf extract at dosage 5g/kg was able to stimulate immune response of carp, it was characterized by an increased total leukocytes of carp infected by A. hydrophila.
PENGARUH PADAT TEBAR BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH LELE (Clarias gariepinus) DALAM MEDIA BIOFLOK Hermawan, Teguh Eko Suryo Agil; Sudaryono, Agung; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.98 KB)

Abstract

Intensifikasi budidaya membawa dampak yang kurang baik terhadap kelestarian dan kesehatan lingkungan yang berupa penurunan kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar berbeda terhadap produktifitas, pertumbuhan, rasio konversi pakan (FCR) dan kelulushidupan benih lele (C. gariepinus) dalam media bioflok. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah padat tebar berbeda dalam media bioflok A (1500/m3), B (1000/m3), dan C (500/m3). Hewan uji menggunakan benih lele  (Clarias gariepinus) dengan bobot rata-rata individu sebesar 1,24±0,1 g. Benih lele dipelihara dalam kolam terpal berdiameter 100 cm dengan volume air ±800 L selama 42 hari dan pemberian pakan 4% dari berat biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar berbeda dalam media bioflok berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan, produktifitas dan efisiensi pakan namun tidak berbeda nyata terhadap kelulushidupan benih lele. Laju pertumbuhan spesifik yang dicapai pada perlakuan A, B, dan C berturut-turut adalah 3.508±0.011; 3.554±0.031; dan 3.868±0.014%/hari. Produktifitas lele pada perlakuan A, B dan C berturut-turut adalah 6405.967±39.4; 4380.389±72.4; dan 2588.656±19.2 (g/m2). Rasio konversi pakan yang dicapai berturut-turut adalah 0.939±0.011; 0.926±0.014; dan 0.841±0.008. Nilai kelulushidupan lele berkisar antara 91.389-91.833%. Perbedaan padat penebaran tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan, namun memberi pengaruh nyata terhadap produktifitas, laju pertumbuhan spesifik dan rasio konversi pakan. The intensification of farming has unfavorable impact on the sustainability and environmental health in the form of environmental quality degradation. This study aims to determine the effect of different stocking densities on growth, productivity, Food Conversion Ratio (FCR) and survival rate of catfish seeds (C. gariepinus) in bioflok technology. This study used a completely random design with 3 treatments and 3 replications. The treatments tested were different stocking densities in bioflok technology which are A (1500/m3), B (1000/m3), and C (500/m3). Animal trials using catfish seed (C. gariepinus) with an average individual weight of 1.24±0.1 g. Catfish seeds reared in ponds diameter of 100 cm with a volume of 800 L of water for 42 days and feeding 4% of the weight of biomass. The result of the study showed that different stocking densities in biofloc technology have a significant effect (P<0.05) on productivity, growth and Food Conversion Ratio but did not significantly affect the survival rate of catfish seed. Specific growth rate achieved in treatment A, B, and C, were, 3,508±0.011; 3,554±0.031, and 3,868±0.014 %/day. Productivity catfish on treatment A, B and C, respectively, 6405.967±39.4; 4380,389±72.4, and 2588,656±19.2 (g/m2), respectively food conversion ratio of treatment A, B, and C were 0.939±0.011; 0.926±0.014, and 0.841±0.008. Catfish survival values ranged between 91.389-91.833%. The different densities had no significant effect on survival rate, but had a significant effects on productivity, specific growth rate, and food conversion ratio.
IDENTIFIKASI BAKTERI VIBRIO YANG BERASOSIASI DENGAN PENYAKIT BAKTERIAL PADA KEPITING BAKAU (Scylla serrata) YANG BERASAL DARI REMBANG Ashofa, Eni Ashfa; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.466 KB)

Abstract

Kendala produksi kepiting bakau adalah masih menggantungkan populasi kepiting bakau dari alam untuk perikanan tangkap dan  budidaya sehingga tidak ada kontrol kesehatan bagi kultivan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bakteri vibrio yang menginfeksi kepiting bakau dan mengetahui gejala klinis akibat infeksi bakteri. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksploratif. Sampling dilakukan pada 30 ekor kepiting sampel kemudian dipilih 6 kepiting yang memiliki gejala klinis terserang penyakit bacterial untuk diisolasi. Gejala klinis sampel kepiting yaitu karapas berwarna gelap, bercak merah, bercak hitam dan bercak coklat pada ventral, dan luka. Isolasi dilakukan dengan spread plate method yaitu menggoreskan hasil dilusi organ target (hepatopankreas, insang, luka, dan hemolymph) ke media Thiosulphate Citrate Bile Salt. Isolasi didapatkan 18 isolat bakteri kemudian dipilih 5 isolat yaitu SJR5, SJR9, SJR10, SJR16, SJR17. Bakteri terpilih kemudian dilakukan uji postulat Koch pada 9 kepiting sehat dengan penyuntikan 0,2 ml bakteri terpilih dengan dosis 108 CFU/ml dan dilakukan pengamatan gejala klinis dan kelulushidupan setiap 15 menit. Hasil uji postulat Koch menunjukan kepiting uji pasca infeksi bakteri SJR9, SJR10, SJR16, dan SJR17 mengalami kematian 100% selama 105 menit dan kepiting uji yang diinfeksi bakteri SJR5 mengalami kematian 100% selama 90 menit. Hasil karakterisasi morfologi dan biokimia menunjukan bahwa Vibrio alginolitycus (SJR5), Vibrio parahaemolitycus (SJR9), Vibrio ichthyonteri (SJR10), Vibrio harveyi (SJR16) dan Vibrio salmonicida (SJR17)  merupakan true pathogen yang mengakibatkan kematian kepiting bakau pada lingkungan yang baik. The problem of mud crab production is the availability of mud crab population in nature for capture fisheries and aquaculture, up to know there are no control of mud crab health. The aims of study were to find  the species of vibrio that infected mud crabs, and to know the clinical symptomps due to vibrio bacterial infection. Explorative method was used in this research. 30 mud crabs of selected were sampled and 6 mud crabs were selected which have clinical symptomps bacterial disease. The clinical symptomps mud crab disease was darken carapace, rust spot, black and brown discoloration, and wounds. The bacteria were isolated by spread plate method with spreading dilution of heptopancreas, gills, wounds, and hemolymph on Thiosulphate Citrate Bile Salt medium. It was found 18 bacterial isolates then selected 5 isolate namely SJR5, SJR9, SJR10, SJR16, and SJR17. The selected bacteria followed by postulate Koch trial in 9 mud crabs with injection 0.2 ml bacteria 108 CFU/ml and monitoring clinical symptomps and survival rate every 15 minutes. Postulat Koch’s test showed that mud crab post infection isolate bacteria SJR9, SJR10, SJR16, and SJR17 suffered 100% mortality within 105 minutes and mud crabs which infected bacteria SJR5 experienced 100% mortality in 90 minutes. The results of morphological and biochemical characteristics of bacteria showed Vibrio alginolitycus (SJR5), Vibrio parahaemolitycus (SJR9), Vibrio ichthyonteri (SJR10), Vibrio harveyi (SJR16) and Vibrio salmonicida (SJR17) were true pathogenic bacteria that viruilend to mud crabs.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN HISTOLOGI GINJAL IKAN LELE (Clarias gariepinus) YANG DIINFEKSI BAKTERI “Edwardsiella tarda” Sari, Dian Ratna; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.115 KB)

Abstract

Keberadaan bakteri E. tarda yang menyerang ikan lele dumbo dalam kegiatan budidaya merupakan masalah yang serius karena ikan ini memiliki nilai ekonomis tinggi. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan menggunakan bahan alami, seperti bawang putih yang memiliki sifat antibakteri. Bawang putih adalah salah satu tanaman alami yang mengandung bahan-bahan aktif senyawa sulfur seperti aliin, allicin, disulfida, trisulfida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak bawang putih sebagai antibakteri E. tarda, mengetahui pengaruh perendaman ekstrak bawang putih terhadap kelulushidupan ikan lele dumbo yang diinfeksi bakteri E. tarda, mengetahui kelainan histologi ginjal ikan lele dumbo yang diinfeksi bakteri E. tarda, sertamengetahui dosis yang terbaik dari ekstrak bawang putih dalam penelitian ini.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu perlakuan A (dosis 0 ppm), B (dosis 1000 ppm), C (dosis 2000 ppm) dan D (dosis 3000 ppm). Ikan lele yang digunakan sebanyak 120 ekor dengan ukuran rata-rata 9,07±0,21 cm selanjutnya diinfeksi bakteri E. tarda dengan kepadatan 107 CFU/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji sensitivitas ekstrak bawang putih mampu memberikan efektivitas antibakteri secara in vitro. Perendaman ekstrak bawang putih berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan lele yang diinfeksi bakteri E. tarda. Nilai kelulushidupan terendah hingga tertinggi dimulai pada perlakuan A sebanyak 13,13%, B sebesar 56,67%, D sebesar 56,67% dan C sebanyak 76,67%. Kelainan jaringan yang terjadi pada organ ginjal yaitu kongesti, nekrosis dan degenerasi vakuola. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konsentrasi terbaik ekstrak bawang putih untuk mengurangi infeksi E. tarda adalah dosis 2000 ppm. The existence of E. tarda was a serious problem in Catfish farming, that caused  high economic losses in aquaculture. One of the effort to solve this case was the use of  natural ingredient, such as garlic extract which has antibacterial substances. Garlic is a natural plant which contains active ingredients such as sulfur compound, aliin, allicin, disulphide and trisulfida as antibacterial substances. The aims of this research were to determine the ability of garlic extract as an antibacterial of E. tarda, the soaking effect of garlic extract toward survival rate of catfish infected by E. tarda, to observe the abnormalities of liver and kidney in histologically and to determine the best dose of garlic extract to cope E. tarda.  This reasearch used experimental method using a completely randomized design with  4 treatments and 3 repetitions. These treatments were  A (0 ppm), B (1000 ppm), C (2000 ppm) and D (3000 ppm). The Catfish used were 120 fish, around 9,07±0,21 cm in size, then they were infected by E. tarda with dose 107 CFU/mL. The result of this research showed that on antibacterial sensitivity test of garlic extract was able to make an antibacterial effect from in vitro test. The soaking of garlic extract showed a significant effect (P<0.05) toward survival rate of Catfish infected by E. tarda. The lowest to higest of survival rate were treatment A (13.13%), B (56.67%), D (56.67%) and C (76.67%). The observation of histology in kidney showed congestion, necrosis and vacuola degeneration. From that research it can be concluded that the best garlic extract concentrations to reduce E. tarda infection was 2000 ppm.
PENGARUH PERENDAMAN BERBAGAI DOSIS EKSTRAK DAUN JERUJU TERHADAP KELULUSHIDUPAN Scylla serrata YANG DIINFEKSI Vibrio harveyi Ardiantami, Agatya Sara; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.337 KB)

Abstract

Kepiting bakau (Scylla serrata) menjadi salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Akan tetapi, tingkat permintaan tidak berbanding lurus dengan tingkat produksi. Salah satu kendala yang dihadapi adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Salah satu penyakit bakterial yang sering menginfeksi kepiting bakau adalah vibriosis. Upaya pengobatan yang dilakukan masih menggunakan bahan kimia seperti antibiotic, padahal penggunaan antibiotik dapat menimbulkan dampak negatif, yaitu resistensi bakteri patogen dan residu yang dapat mencemari lingkungan. Alternatif pengobatan selain menggunakan antibiotik, yaitu menggunakan bahan alami yang bersifat antibakterial, seperti tumbuhan jeruju (A. ilicifolius). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman ekstrak daun jeruju terhadap kelulushidupan, pertumbuhan dan gejala klinis kepiting bakau yang diinfeksi V. harveyi. Kepiting bakau yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 48 ekor dengan rata-rata bobot tubuh, yaitu 41.81+0.56 gram. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Semua kepiting disuntik dengan bakteri V. harveyi dengan tingkat kepadatan 106 CFU/ml dan direndam dengan ekstrak daun jeruju dengan dosis 0 ppm (perlakuan A), 400 ppm (perlakuan B), 600 ppm (perlakuan C) dan 800 ppm (perlakuan D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis yang terlihat pada kepiting bakau, yaitu gerakan pasif, kaki-kaki merenggang, kaki renang berwarna merah, melanosis pada karapas (menghitam dan bercak coklat). Persentase kelulushidupan pada perlakuan B, C dan D mencapai 100%, sedangkan perlakuan A, yaitu 83.33%. Kualitas air pada media pemeliharaan menunjukkan masih didalam kisaran yang layak untuk kehidupan kepiting bakau. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman ekstrak daun jeruju menunjukkan hasil tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan kepiting bakau. Mud crab (Scylla serrata) became one of fishery commodity which have a high-economic value. But, the demand rate not propotional with production level. One of an obstacle that be faced was disease that caused by bacterial. One of a bacterial disease that often infection mud crab was vibriosis. Medical eforts an usual conducted still using chemical matter like an antibiotic, in fact, the using of antibiotic can appear negative impacts were pathogen bacterial become resistent and residue can be soiled to environment. Medical alternative besides using antibiotic was using a natural matter which have an antibacterial characteristic was jeruju plant (A. ilicifolius). This research was aimed to know the effect of jeruju leaf extract immersion to survival rate, growth and clinical signs on mud crab that infected by V. harveyi. Mud crab that using in this research amount 48 crab with body weight average was 41.81+0.56 gram. This research was using completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. All crabs injected by V. harveyi with density 106 CFU/ml and immersed with jeruju leaf extract with dose 0 ppm (treatment A), 400 ppm (treatment B), 600 ppm (treatment C) and 800 ppm (treatment D). The results showed that the Clinical signs on mud crab were passive motion, distantly-spaced leg, red-colour on swim leg, melanosys on carapace (blackened and brown spot). Percentage of SR on treatments B, C, D reaches 100%, but treatment A was 83.33%. Water quality on maintaince media showed that still in feasible range for mud crab life. Based on the results of this research was concluded that the submersion with jeruju leaf extract showed not significant effect on survival rate of mud crab.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) PADA PAKAN TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN PROFIL DARAH LELE DUMBO (Clarias gariepinus) YANG DIINFEKSI Aeromonas caviae Kurniawan, Adhi; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.176 KB)

Abstract

Ikan lele dumbo (C. gariepinus) adalah ikan yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Salah satu kendala dalam budidaya lele dumbo adalah serangan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemiae) yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas sp. Penyakit ini sangat ganas, khususnya pada ikan lele. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia) terhadap kelulushidupan lele dumbo yang diinfeksi Aeromonas caviae. Hewan uji yang digunakan adalah lele dumbo berukuran 10±0,12 cm dan bobot 25±0,1 gr. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan 4 perlakuan yaitu perlakuan A (tanpa pemberian ekstrak daun binahong), B (2,5%), C (5%), dan D (7,5%) dengan pemberian pakan selama 14 hari. Uji tantang dilakukan dengan menyuntikkan suspensi A. caviae dengan dosis 1,5x108 sel/mm3 sebanyak 0,1 mL secara intramuskular. Pengamatan dilakukan selama 9 hari pasca infeksi yang meliputi kelulushidupan, gejala klinis, dan profil darah lele dumbo. Hasil pengamatan total eritrosit hari ke-3 pasca infeksi mengalami penurunan disemua perlakuan dibandingkan hari ke-0. Hari ke-6 sampai hari ke-9 pasca infeksi total eritrosit mengalami kenaikan. Total leukosit hari ke-3 dan hari ke-6 pasca infeksi mengalami penurunan disemua perlakuan. Kadar hematokrit hari ke-3 dan hari ke-6 pasca infeksi mengalami penurunan disemua perlakuan dibandingkan hari ke-0. Hasil penelitian menunjukkan gejala klinis ikan lele yang terserang A. caviae diantaranya respon pakan menurun, berenang tidak normal, timbul luka disertai pendarahan dibagian penyuntikan. Pemberian ekstrak daun binahong pada lele dumbo tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan lele dumbo pasca infeksi A. caviae. Dalam penelitian ini dosis ekstrak daun binahong yang ditambahkan pada pakan kurang efektif sebagai immunostimulan lele dumbo setelah infeksi A. caviae. The Catfish (C. gariepinus) is one of most freshwater fish for Indonesian people, especially in Java. One of the problems of intensive catfish culture is disease caused by Motyle Aeromonas Septicemia (MAS). This disease known very pathogenic, especially for catfish. The aim of this research was to investigate the effect of Anredera cordifolia leaf extract toward hematology and survival rate of C. gariepinus infected by Aeromonas caviae. The tested fish C. gariepinus average weight was 25±0,1 g. This research was conducted with 4 (four) treatments namely, A (treatment with no leaf extract A. cordifolia), B (2,5% leaf extract), C (5% leaf extract), and D (7,5% leaf extract) respectively. The challenge test was done by injecting of 0,1 ml A. caviae suspensions with dosage of 108 cell/mm3 intra-muscularly. Observation was performed for 9 days after infection. The parameter observed were survival rate, clinical symptoms, and hematology. The observation demonstrated that erythrocyte at all treatment 3 days after infection were decrease at all treatment. Erythrocyte for 6 days to 9 days after infection increase all treatment. Leuchocyte level 3 days and 6 days after infection was decreases in all treatment similarly. Hematokrit level 3 days to 6 days after infection also decrease at treatment,  respectively clinical symptoms observation infected catfish showed swam abnormally, injured and haemorhagic on the skin along with damaged on the body. Immersion with A. cordifolia extract leaf past infection indicated that they were not significantly different on C. gariepinus survival rate. Therefore the dosage of A. cordifolia leaf extract is not effective to protect C. gariepinus from A. caviae infection.
Potensi Chlorella sp. sebagai Imunostimulan untuk Pencegahan Penyakit Bercak Putih (White Spot Syndrome Virus) pada Udang Windu (Penaeus Monodon) Ermantianingrum, Aulia Ayu; Sari, Rohita; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 1, No 1 (2012): Journal Of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.31 KB)

Abstract

ABSTRAK Chlorella sp. merupakan salah satu mikroalga yang berpotensi sebagai imunostimulan untuk meningkatkan sistem pertahanan tubuh udang windu terhadap infeksi penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Chlorella sp. terhadap sistem pertahanan tubuh udang windu. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing terdiri dari 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan yaitu penambahan Chlorella sp. pada pakan dengan perlakuan A (tanpa penambahan Chlorella sp.), perlakuan B (5 gr/kg pakan),  perlakuan C (10 gr/kg pakan), dan perlakuan D (15 gr/kg pakan). Hewan uji yang digunakan adalah udang windu (P. monodon) stadia juvenil dengan bobot rata-rata 5,37±0,3 gram. Parameter yang diamati yaitu total haemocyte count (THC), differential haemocyte count (DHC), dan kelulushidupan udang windu yang diinfeksi WSSV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Chlorella sp. tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap total haemocyte count (THC), differential haemocyte count (DHC), dan kelulushidupan udang windu yang diinfeksi WSSV. Pencegahan penyakit pada udang windu dapat dilakukan dengan pemberian imunostimulan untuk meningkatkan sistem imun, meskipun tidak ada udang windu yang hidup dalam 6 hari setelah diinfeksi WSSV. Kualitas air selama penelitian masih dalam kisaran layak untuk kehidupan udang windu.   ABSTRACT Chlorella sp. is a microalga that has potency as an immunostimulant to increase immune system of black tiger shrimp. The purpose of this research was to find out the effect of Chlorella sp. to increase immune system of black tiger shrimp. The experiment method used in this research was Completely Randomized Design (RAL) with 4 treatments and each of them consists of 3 replication. The treatments were A without addition of Chlorella sp., treatment B, C, and D with addition of Chlorella sp. 5, 10, 15 gram/kg diet respectively. The experiment animals was black tiger shrimps (P. monodon) juvenile with average weight 5,37±0,3 gram. Parameters observed were total haemocyte count (THC), differential haemocyte count (DHC), and survival rate of black tiger shrimp infected by WSSV. The results of research indicated that the addition of Chlorella sp. Within the diets showed no significant effect (P>0,05) on total haemocyte count (THC), differential haemocyte count (DHC), and survival rate of black tiger shrimp. Disease prevention of black tiger shrimp could be done by an administration of immunostimulant to stimulate or increase immune system. However, there was no shrimp was survived within 6 days after challenged with WSSV. The water quality during the research within ideal range for the life of black tiger shrimps.  
Pengaruh Penggunaan Ekstrak Daun Jeruju (Acanthus Ilicifolius) Dengan Dosis Berbeda Terhadap Gambaran Darah, Gejala Klinis Dan Kelulushidupan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Yang Diinfeksi Aeromonas hydrophila Ziyadaturrohmah, Siti; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, Sarjito; Hidayati, Nurul; Saptiani, Gina
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.27 KB)

Abstract

Aeromonas hydrophila is a causative agent of Haemoragic Septicemia on Clarias gariepinus. The aim of this research was to investigate the effect of Acanthus ilicifolius leaf extract toward survival rate of C. gariepinus infected by A. hydrophila. Tested fish C. gariepinus 10-12 cm and weight ±25 gr. This reasearch was conducted by 4(four) treatments namely, A (treatment with no leaf ectract A. ilicifolius), B (300 ppm), C (500 ppm), and D (700) 30 minutes immersion. The challenge test was done by injecting 0,1 mL A. hydrophila suspensions with dosage 108 cell/mm3 intra-muscular by experiment fishes. Observation was performed for 5 days after infection such as blood profile, clinical symptoms, and survival rate of C. gariepinus. The results of blood profile after the infection showed that hematokrit of A, B, C, and D treatments was 17,33%, 14,67%, 15,00%, 19,67% respectively. Percentage of the highest erythrocyte was at D treatment 1,79x106 sel/mm3, B 1,72 x106 sel/mm3, A 1,64x106 sel/mm3, C 1,52x106 sel/mm3. Percentage of the highest leuchocyte was at C treatment 5,43x104 sel/mm3, D 3,11x104 sel/mm3, B 2,63x104 sel/mm3, and A 2,32x104 sel/mm3. The result showed that clinical symptoms of A. hydrophila infected fish swam abnormally, injured and haemoragic on the skin along with damaged on the body. Immersion with A. ilicifolius extract leaf past infection indicated that they were not significantly different on C. gariepinus survival rate. Therefore the dosage of A. ilicifolius leaf extract did not sufficient to protect C. gariepinus from A. hydrophila infection.
Co-Authors - Aminah - Desrina, - - Istikhanah - Susanti, - - Triyaningsih Adhi Kurniawan Agatya Sara Ardiantami, Agatya Sara Agil Setya Utomo, Agil Setya Agung Sudaryono Agus Sabdono Agustina Agustina Agustina Alfabetian Condro Haditomo Alfabetian Harjuna Condro Haditomo Alfabetian Harjuno Condro Haditomo Amanda Mega Putri, Amanda Mega Ambaryanto Ambaryanto Amelia Rimadhani ANGELA MARIANA LUSIASTUTI Anggun Putriani Situmorang, Anggun Putriani Aninditia Sabdaningsih Anisa Dwiaryani Latifah Annisa Amalia Awanis Aprilia Dwi Indriani Ardulanisa, Ridha Arif, Gunarso Arifianto Heraedi Asep Akmal Aonullah Asriyana, . Aulia Ayu Ermantianingrum Aulia Resty Wijayanti Ayi Santika Ayu Wulandari Azis Nur Bambang Bagus Oktori Sutrisno cahyadi, jimmy Chyntia Arindita Dani Indrarini Desrina Desrina Desrina, - - Devitha Tri Utami Dewi Nurhayati Dian Ratna Sari Didik Wahju Hendro Tjahjo Edward Raharja, Edward Endah Setyowati Eni Ashfa Ashofa Fajar Purnama, Muhammad Ferdian Bagus Feriandika Fifiana Zulaekah fikih rosalina pratiwi Frida Purwanti Gina Saptiani Gina Saptiani Haditomo, A.H. Condro Hardyta Noviar Rahma Hariyadi, Putut Hasna, Salma Khoironnida Hendrawan, Andika Luky Setiyo Ida Ayu Putu Sri Widnyani Ikhsan Pratama Indah Febry Hastari Intan Eska Amalia Syahida Johannes Hutabarat Kamil, Mia Rahmah Khaerani, Laela Rizki Kurniawan Kurniawan Kusuma, Winanda Adi Laksono Trisnantoro Lestari Lakhsmi Widowati Linuwih Aluh Prastiti Lukman Anugrah Agung Lusi Dianti Marwenni Siregar, Marwenni Max Rudolf Muskananfola Mohammad Saleh Lubis Monica Nanda Muhammad Fajar Purnama Nailil Muna Nida Qolbi Salma Rochani Nita Amelia Nur Annisa Nuri Nia Yanti, Nuri Nia Nurmanita Rismaningsih Nurul Hidayati Ocky Karna Radjasa Peppy Dewi Fitriyanti Pinandoyo Pinandoyo Pramudita Apriliyanti Pricilia, Shella Pujiono Wahyu Purnomo Pungki Nanda Pratama Purnama, Muhammad Putut Har Riyadi R. Dewi Dharina Nurjannah Restiana Wisnu Ariyati Rismaningsih, Nurmanita Ristiawan Agung Nugroho Rohita Sari Rosa Amalia Rusda, Yusrotul Rusydina Qamarul Salikin Sahala Hutabarat Samsul Rizal Sapto P Putro Sarah, Humidah Sarjito - Sekar Ayu Chairunnisa Seto Windarto Shiddieqi, Hasbi Ash Siti Nurjanah Siti Ziyadaturrohmah Solly Aryza Sri Nuryati Sri Rejeki Subandiyono Subandiyono Subhan Subhan Sulisyaningrum Sulisyaningrum Sumbung, Sepri Suryanti Suryanto, Damang Sutrisno Anggoro Syakuri, Hamdan Teguh Eko Suryo Agil Hermawan Tristiana Yuniarti Triwulandari, Atita Utari, Viola Indah Vivi Endar Herawati Widiana, Giacinta Risti Windarto, Seto Yelliana Fatmawati Suwarno Yohanes Kristiawan Artanto YS Darmanto Yunia Dharmastuti Widyaningsih Yusuf Kamlasi Zairin Zain