Rudhi Pribadi
Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Jl. H. Prof. Sudarto, SH, Tembalang Semarang, Indonesia. 50275.

Published : 80 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Penilaian Kondisi Kesehatan Ekosistem Mangrove di Ayau dan Ayau Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat Rudhi Pribadi; IW Eka Dharmawan; Aditya Sukma Bahari
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 37, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.58 KB) | DOI: 10.20884/1.mib.2020.37.2.1206

Abstract

Despite their rather universal distribution in tropical inter-tidal coastal area, mangrove has been identified driven by some physical, chemical and biological factors which might vary one to another site. Muddy waters, sufficient freshwater supply, high tidal inundation were few factors that commonly correlated with an ideal mangrove growth. Ayau Islands, a group of several small islands in the Raja Ampat Islands regency West Papua, however, could be an example of how mangrove was closely interconnected to another tropical coastal ecosystem. The purpose of the study has assessed the health of mangrove ecosystems in Ayau and Ayau Islands. A purposive sampling method was applied for this study, two stations were designated in Kanober Island and one station in Dorekar Island. Three replication sampling plots of 10m x 10m has lied on each station and data were collected following a mangrove monitoring manual.  The result showed at least eight major species, two minor species and 23 association of mangrove components were found in the study site. In general the vegetation in a good condition with a high canopy cover.
Pemberdayaan Masyarakat terhadap Ekowisata Mangrove di Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang Ahmad Ziddan Dhiya Ulhaq; Rudhi Pribadi; Ria Azizah Tri Nuraini
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33852

Abstract

Pariwisata berkelanjutan atau ekowisata salah satu industri yang sangat aktif dan menjadi garda depan pembangunan ekonomi suatu negara. Salah satu ekosistem yang berada di wilayah pesisir yang dijadikan sebagai obyek ekowisata adalah ekosistem mangrove. Adanya ekowisata mangrove terdapat fungsi atau manfaat bagi masyarakat pesisir, baik segi ekonomi, ekologi dan sosiologi. Kawasan Mangrove di Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang berpotensi dijadikannya Kawasan ekowisata yang bisa membantu kegiatan masyarakat dalam sehari-hari. Melihat pengelolaan dan pemahaman masyarakat terhadap potensi ekowisata mangrove di Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang akan membantu Kawasan ekosistem mangrove masih terjaga dan terkelola dengan baik. Berbagai manfaat akan didapatkan oleh potensi ekowisata mangrove dengan adanya faktor pengelolaan dan pemahaman dari masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pemahaman masyarakat mengenai pengembangan potensi ekowisata mangrove dan mengetahui bentuk-bentuk kegiatan berbasis konservasi yang ada sebegai bentuk pemahaman masyarakat dalam potensi ekowisata di Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan analisis SWOT sebagai analisis lanjutan yang dilakukan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling dilakukan di bulan November-Desember 2021 di Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Berdasarkan hasil penelitian kombinasi eksternal dan internal menempati kuadran I (memberikan strategi khusus dari kekuatan dan peluang), mendapatkan berbagai tanggapan dari masyarakat dengan hasil tersendiri. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa masyarakat Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang merespon secara sangat positif dan telah memahami mengenai transformasi ekosistem mangrove dijadikan sebagai ekowisata mangrove sebesar 90% adanya pendampingan lebih dari pihak terkait. Masyrakat Mangunharjo telah memiliki beberapa kegiatan sebagai tindakan konservasi dengan peluang yang ada.A Sustainable tourism or ecotourism is one of the most active industries and is at the forefront of the country's economic development. One of the ecosystems of coastal areas used as objects of ecotourism is the ecosystem of mangroves. The existence of mangrove ecotourism has a function or benefit to coastal communities both in terms of economics, ecology, and sociology. The mangrove area in Mangunharjo, Tugu District, Semarang City can be used as an ecotourism area that can help people in daily activities. Observing the management and community understanding of the potential of mangrove ecotourism in Mangunharjo, Tugu District, Semarang City will help maintain and manage the mangrove ecosystem in good condition. Various benefits will be derived from the potential of ecotourism in the mangroves, taking into account management factors and understanding from the community. The purpose of this study was to determine the community's understanding of the development of mangrove ecotourism potential and to find out the existing forms of conservation activities as a form of community understanding of the potential of ecotourism in Mangunharjo, Tugu District, Semarang City. The method used in this study is descriptive qualitative with SWOT analysis as a follow-up analysis. The sample was taken using a purposeful sampling method, which was conducted in November-December 2021 in Mangunharjo, Tugu District, Semarang city. According to the results of the study, the combination of external and internal occupies Quadrant I (providing for a special strategy of strengths and opportunities), receiving various responses from the community with its results. Based on the results of the analysis, it can be concluded that the people of Mangunharjo, Tugu District, Semarang City reacted very positively and understood about the transformation of mangrove ecosystems into mangrove ecotourism by 90% with more assistance from stakeholders. The Mangunharjo community has carried out several activities as a conservation measure with available capacity.
Strategi Pengelolaan Kawasan Pesisir di Pasar Banggi Kabupaten Rembang dengan Pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) Bambang Argo Wibowo; Azis Nur Bambang; Rudhi Pribadi; Indradi Setiyanto; Kukuh Eko Prihantoko; Himawan Arif Sutanto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.12381

Abstract

This study aim to determine priorities in the management of coastal areas in Pasar Banggi, Rembang Regency. Analytical Hierarchy Process (AHP) used to prioritise coastal area management strategy. A total of 15 people were taken as a sample of respondents using purposive sampling consisting of fishermen, coastal community leaders, the Department of Fisheries and Marine Affairs, the Department of Culture and Tourism, the Department of Environment and Academics. The results show that in managing the coastal area at Pasar Banggi, Rembang Regency, the main factor that must be considered is the environment (Ecology) with the most important aspects including mangrove ecosystems, coral reefs, and fish resources. While overall (overall) shows that the priority scale of criteria and alternative management of coastal areas in Pasar Banggi, Rembang Regency with AHP in order of priority is Silvofishery, Ecotourism and Artisanal Fisheries. Thus, the Silvofishery development strategy becomes a top priority in the management of coastal areas in Pasar Banggi, Rembang Regency. Silvofishery is fish farming in the mangrove ecosystem area without having to convert or damage the mangrove ecosystem so that the sustainability of the mangrove ecosystem is maintained.  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prioritas dalam pengelolaan Kawasan pesisir di Pasar Banggi Kabupaten Rembang. Analysis Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menentukan prioritas dalam pengelolaan kawasan. Sebanyak 15 orang diambil sebagai sampel responden dengan menggunakan purposive sampling yang terdiri dari nelayan, tokoh masyarakat pesisir, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup dan Akademisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mengelola Kawasan pesisir di Pasar Banggi Kabupaten Rembang faktor utama yang harus diperhatikan adalah lingkungan (Ekologi) dengan aspek yang paling penting diantaranya ekosistem mangrove, terumbu karang, dan sumberdaya ikan. Sedangkan secara secara keseluruhan (overall) menunjukkan bahwa skala prioritas kriteria dan alternatif pengelolaan wilayah pesisir di Pasar Banggi Kabupaten Rembang dengan AHP dengan urutan prioritas adalah Silvofishery, Ecotourism dan Artisanal Fisheries. Dengan demikian strategi pengembangan Silvofishery menjadi prioritas utama di dalam pengelolaan wilayah pesisir di Pasar Banggi Kabupaten Rembang. Silvofishery merupakan budidaya ikan di Kawasan ekosistem mangrove tanpa harus mengkonversi atau merusak ekosistem mangrove sehingga keberlanjutan ekosistem mangrove tetap terjaga.
Struktur Komposisi Dan Simpanan Karbon Di Sedimen Hutan Mangrove Pandansari, Kaliwlingi, Brebes Frans Alexander Nainggolan; Rudhi Pribadi; Agus Trianto
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.33393

Abstract

Mangrove memiliki peranan penting baik secara fisik, ekonomi maupun ekologi. Salah satu fungsi ekologi tersebut adalah sebagai penyimpan karbon di alam. Upaya perlindungan dan pelestarian mangrove membutuhkan data sebagai acuan pembuatan kebijakan pengelolaan mangrove yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi dan struktur vegetasi mangrove serta mengetahui stok karbon sedimen di Hutan Mangrove Pandansari, Kabupaten Brebes. Penentuan lokasi ditetapkan berdasarkan tahun penanaman mangrove hasil program rehabilitasi, yaitu tahun penanaman 2005, 2008, 2011, 2014 dan 2017. Pengambilan data vegetasi dilakukan dengan metode purposive sampling dengan setiap stasiun dipasang plot berukuran 10 x 10 m. Pengambilan sampel sedimen karbon menggunakan bor gambut pada tiga kedalaman, yaitu 5 – 10 cm, 72,5 – 77,5 cm dan 197,5 – 202,5 cm.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Hutan Mangrove Pandansari ditemukan tiga jenis mangrove, yaitu Rhizophora mucronata, Avicennia marina dan A. alba. Secara umum, vegetasi mangrove di lokasi penelitian memiliki nilai kerapatan >1.500 ind/ha yang didominasi oleh R. mucronata. Nilai Indeks Keanekaragaman (H’) dan Keseragaman (J’) mangrove di lokasi penelitian termasuk dalam kategori rendah. Stok karbon sedimen secara berturut-turut di stasiun 1 – 5 sebesar 1053,53 ton/ha, 747,63 ton/ha, 381,67 ton/ha, 612,11 ton/ha dan 798 ton/ha. Berdasarkan hasil tersebut, semakin tua usia pohon tidak mempengaruhi jumlah stok karbon yang disimpan di sedimen. Kedalaman 197,5–202,5 cm menjadi kedalaman yang paling banyak menyimpan karbon. Mangrove is one type of dicotyledonous vegetation found in coastal areas, and is influenced by tides. Mangroves have an important role both physically, economically and ecologically. One of these ecological functions is to store carbon in nature. Efforts to protect and conserve mangroves require data as a reference for making sustainable mangrove management policies. This study aims to determine the composition and structure of mangrove vegetation and to determine the carbon stock of sediments in the Pandansari Mangrove Forest, Brebes. The research location was determined based on the year of planting of mangroves as a result of the rehabilitation program, namely the planting years of 2005, 2008, 2011, 2014 and 2017. Vegetation data was collected by purposive sampling method with each station installed a plot measuring 10 x 10 m. Carbon sediment samples were taken using peat drills at three depths, namely 5 – 10 cm, 72.5 – 77.5 cm and 197.5 – 202.5 cm. The results showed that in the Pandansari Mangrove Forest, three types of mangroves were found, namely Rhizophora mucronata, Avicennia marina and A. alba. In general, the mangrove vegetation at the study site had a density value of > 1,500 ind/ha which was dominated by R. mucronata. The value of the Diversity Index (H') and Uniformity (J') of the mangroves at the study site was included in the low category. Sedimentary carbon stocks at stations 2005, 2008, 2011, 2014 and 2017 were 1053.53 tons/ha, 747.63 tons/ha, 381.67 tons/ha, 612.11 tons/ha and 798 tons/ha, respectively. Based on these results, the older the tree age does not affect the amount of carbon stock stored in the sediment. The depth of 197.5–202.5 cm is the depth that stores the most carbon. 
Kandungan Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Biologis Ekstrak Daun Rhizophora apiculata Asal Perairan Teluk Awur, Jepara Mirsa Septiana Mutik; Mada Triandala Sibero; Widianingsih Widianingsih; Subagiyo Subagiyo; Rudhi Pribadi; Dwi Haryanti; Ambariyanto Ambariyanto; Retno Murwani
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.14287

Abstract

Rhizophora apiculata is a type of mangrove that has the ability to adapt to extreme environmental conditions such as temperature, low oxygen levels, and high salinity. This adaptability affects the production of secondary metabolites. Information about the antibacterial activity of this mangrove against MDR (Multi-Drug Resistant) bacteria is still very limited. The content of secondary metabolites produced by mangrove R. apiculata is also expected to affect antioxidant activity against free radicals. The purposes of this study were to examine the presence of bioactive compounds by phytochemical tests and to evaluate the antibacterial activity against MDR bacteria such as Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Bacillus cereus, and Bacillus subtilis; and antioxidants property of R. Apiculata leaves that were collected from Teluk Awur, Jepara. The leaves were extracted using the multilevel maceration method with solvent sequence n-hexane, ethyl acetate and methanol. Metabolite finger printing using TLC method was carried out to detect the presence of alkaloids, flavonoids, saponins, phenolics, quinones, steroids, and triterpenoids. The antibacterial test was carried out using agar well diffusion method while the antioxidant test was carried out using the DPPH method. The results of the phytochemical test showed that there were groups of alkaloids and steroids in the n-hexane solvent; alkaloids, phenolics, and steroids in ethyl acetate solvent; as well as alkaloids, flavonoids, phenolics, and saponins in methanol solvents. The results of this study indicate that R. apiculata from Teluk Awur Coastal Waters, Jepara had no potential as an antibacterial against MDR (Multi-Drug Resistant) bacteria, however the methanol extract has the potential to be used as an antioxidant with an IC50 value of 85.999 ppm. The bioautography showed that compounds from the phenol group, flavonoids, triterpenoids and b-carotene pigments acted as antioxidant agents in the leaf extract of R. apiculata.   Rhizophora apiculata merupakan salah satu jenis mangrove yang memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan ekstrem seperti suhu, kadar oksigen rendah dan salinitas tinggi. Kemampuan beradaptasi tersebut mempengaruhi produksi matabolit sekunder. Informasi mengenai kemampuan aktivitas antibakteri mangrove jenis ini melawan bakteri MDR (Multi Drug Resistent) masih sangat terbatas. Kandungan metabolit sekunder yang dihasilkan mangrove R. apiculata ini juga diharapkan dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan melawan radikal bebas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kandungan senyawa bioaktif serta aktivitas biologis berupa antibakteri melawan bakteri MDR Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Bacillus cereus dan Bacillus subtilis; dan antioksidan dari ekstrak daun mangrove R. apiculata asal perairan Teluk Awur, Jepara. Sampel diekstraksi menggunakan 3 pelarut berbeda (n-heksana, etil asetat dan metanol) dengan metode maserasi bertingkat. Analisis metabolit sidik jari dilakukan menggunakan plat KLT untuk mengetahui kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, fenolik, kuinon, steroid dan triterpenoid. Uji antibakteri dilakukan menggunakan metode sumuran sedangkan uji antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH. Hasil uji fitokimia menunjukkan terdapat golongan senyawa alkaloid dan steroid pada pelarut n-heksana; alkaloid, fenolik dan steroid pada pelarut etil asetat; serta alkaloid, flavonoid, fenolik dan saponin pada pelarut metanol. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa R. apiculata asal perairan Teluk Awur, Jepara tidak potensial sebagai antibakteri melawan bakteri MDR (Multi Drug Resistent), akan tetapi ekstrak metanol potensial digunakan sebagai antioksidan dengan nilai IC50 85,999 ppm. Tahapan bioautografi menunjukkan bahwa senyawa dari golongan fenol, flavonoid, triterpenoid dan pigmen b-karoten berperan sebagai agen antioksidan pada ekstrak daun R. apiculata.
Konektivitas Mangrove dan Terumbu Karang Berdasarkan Komunitas Ikan Karang (Studi Kasus: Raja Ampat dan Maluku Tenggara) Rahmayani Kurnia Ain; Rudhi Pribadi; Yaya Ihya Ulumuddin
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i3.42879

Abstract

Ikan karang selama hidupnya dapat mendiami satu habitat saja atau melakukan migrasi ke ekosistem di sekitarnya. Faktor tersebut membuat terjadinya interaksi antara ikan karang dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Pendekatan bentang laut (seascape ecology) masih belum banyak dilakukan mengingat pendekatan ini penting untuk mengetahui kelimpahan ikan yang berada di sekitar area terumbu karang, sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pengelolaan kawasan pesisir. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur bentang laut (seascape), interaksinya dengan ikan karang, dan menilai tingkat konektivitas dari keduanya di Raja Ampat dan Maluku Tenggara. Metode penelitian yang digunakan yaitu pengolahan dan analisis data spasial dan statistika menggunakan software QGIS 3.14 dan RStudio versi 2.0.4. Hasil penelitian dari analisis data statistika menggunakan analisis korelasi dan regresi diperoleh bahwa kelimpahan Ikan Lutjanidae pada Pulau Kei Kecil, Maluku Tenggara memiliki konektivitas dengan nilai regresi tertinggi yang dijelaskan oleh metrik Distance to Mangrove (DistM) dengan nilai koefisien korelasi sebesar -0,88; R2 0,7777; dan nilai AIC (Akaike Information Criterion) 18,01. Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan yang diperoleh adalah matriks Distance to Mangrove (DistM) menjadi matriks yang memiliki hubungan erat dengan Ikan Lutjanidae yang dapat mempengaruhi kelimpahan Ikan Lutjanidae di lokasi penelitian.   Reef fish, during their lifetime, can inhabit only one habitat or migrate to the surrounding ecosystem. These factors make the interaction between reef fish with mangrove ecosystems and coral reefs. However, the seascape ecology approach is still not widely used, considering that it is important to determine the abundance of fish around coral reef areas, so that it can be used as a guideline in the management of coastal areas. Therefore, this study aims to determine the structure of the seascape, its interaction with reef fish, and assess the level of connectivity of both in Raja Ampat and Southeast Maluku. The research method used is the processing and analysis of spatial and statistical data using software QGIS 3.14 and RStudio 2.0.4. The results of statistical data analysis using correlation and regression analysis showed that the abundance of Lutjanidae on Kei Kecil Island, Southeast Maluku had connectivity with the highest regression value described by the Distance to Mangrove (DistM) metric and has a correlation coefficient value of -0.88; R2 0.7777; and the AIC (Akaike Information Criterion) score of 18,01112. Based on the results of the study, the conclusion obtained is that the Distance to Mangrove (DistM) metric is a metric that has a close relationship with Lutjanidae fish which can affect the abundance of Lutjanidae fish in the research location.
Estimasi Stok Karbon Mangrove Pasca Rehabilitasi di Desa Kaliwlingi, Brebes Menggunakan Citra Sentinel-2 Lovensia Zukruff Albasit; Rudhi Pribadi; Rini Pramesti
Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i4.31734

Abstract

Mangrove sebagai ekosistem karbon biru berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim namun di sisi lain keberadaannya terancam oleh konversi lahan. Rehabilitasi mangrove telah banyak dilakukan dan untuk mengelolanya secara berkelanjutan stok karbon mangrove perlu diketahui untuk kebutuhan pasar karbon. Pesisir Kota Brebes menjadi salah satu daerah yang berhasil merehabilitasi kawasan hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi stok karbon mangrove pasca rehabilitasi di Desa Kaliwlingi, Brebes berdasarkan perbedaan tahun tanam, yakni 2005, 2008, 2011, 2014 dan 2017. Penelitian lapangan dilakukan pada 21–23 November 2020. Metode terdiri dari survei lapangan, perhitungan allometrik dan pengolahan citra Sentinel-2. Survei lapangan dilakukan guna mengetahui komposisi spesies dan diameter setinggi dada (DBH) tiap tegakan mangrove. Rumus allometrik spesies-spesifik digunakan untuk menghitung biomassa mangrove yang kemudian dikonversi menjadi nilai stok karbon di tiap lahan rehabilitasi. Citra Sentinel-2 ditransformasi dengan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), selanjutnya dilakukan analisis regresi antara nilai NDVI dan stok karbon untuk mendapatkan model pendugaan stok karbon menggunakan citra satelit. Terdapat tiga spesies mangrove yang ditemukan, yaitu Rhizophora mucronata, Avicennia alba dan Avicennia marina. Hasil menunjukkan bahwa stok karbon mangrove tahun tanam 2005, 2008, 2011, 2014 dan 2017 secara berturut-turut adalah 80,69 tonC/ha, 95,08 tonC/ha, 104,19 tonC/ha, 175,13 tonC/ha dan 137,35 tonC/ha. Hasil analisis regresi antara nilai NDVI dan stok karbon mangrove menunjukkan koefisien determinasi yang sangat rendah (R2 = 0,06), sehingga model tidak dapat digunakan untuk menduga stok karbon mangrove. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan stok karbon seiring dengan semakin tua lahan mangrove. Spesies A. marina berkontribusi besar untuk perolehan stok karbon mangrove yang lebih tinggi dibandingkan R. mucronata.   Mangrove as blue carbon ecosystem has a significant role in mitigating climate change which existence is threatened by land conversion. Mangrove rehabilitation has been widely done and requires sustainable management by knowing the carbon stock as a call for carbon market. The coastal area of Brebes is one of the regions that has successfully rehabilitated mangrove forest area. This research aims to estimate post-rehabilitation mangrove carbon stock in Kaliwlingi, Brebes based on different planting years, i.e. 2005, 2008, 2011, 2014 dan 2017. A field research was conducted on November 21st – 23rd 2020. The method involved field survey, allometric calculation and Sentinel-2 processing. A field survey was conducted to collect the diameter at breast height (DBH) of each stand and species composition. Species-specific allometric equations were used to calculate mangrove biomass, subsequently converted into carbon stock in each rehabilitated area. Sentinel-2 imagery was transformed using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Regression analysis was performed between NDVI value and carbon stock to obtain the estimation model for mangrove carbon stock using satellite imagery. There are three species found, namely Rhizophora mucronata, Avicennia alba and Avicennia marina. The result shows carbon stock in plantation of 2005, 2008, 2011, 2014 and 2017 are 80.69 tonC/ha, 95.08 tonC/ha, 104.19 tonC/ha, 175.13 tonC/ha and 137.35 tonC /ha respectively. Regression analysis of NDVI and carbon stock shows a very poor coefficient of determination (R2 = 0.06), therefore the model is incompatible for estimating carbon stock. In this research, mangrove carbon stock is not increasing with plantation age. A. marina has huge contribution for a higher carbon stock compared to R. mucronata.
Kelimpahan Bivalvia di Muara Sungai Tuntang Morodemak Berdasarkan Kandungan Bahan Organik dan Fraksi Sedimen Mutiara Mega Septiningtyas; Endang Supriyantini; Rudhi Pribadi
Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i4.34045

Abstract

Aktivitas manusia yang dilakukan disekitar wilayah Perairan Morodemak akan memberikan sumbangan terbesar terhadap kandungan bahan organik dan akan berpengaruh terhadap kondisi ekologis perairan. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui fraksi sedimen dan kandungan bahan organik serta kelimpahan bivalvia di Muara Sungai Tuntang Morodemak. Metode penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif. Terdapat tiga stasiun dalam pengambilan sampel yang ditentukan secara purposive. Hasil fraksi sedimen didominasi oleh pasir (sand) berkisar antara 99,9%. Kandungan bahan organik sedimen diperoleh rata – rata sebesar 5,8% yang termasuk dalam kriteria rendah. Kelimpahan relatif tertinggi dimiliki spesies Perna viridis sebesar 78,3 ind/m2 dan kelimpahan relatif terendah dimiliki spesies Anadara granosa sebesar 21,7 ind/m2. Nilai indeks keanekaragaman (H’) dan nilai indeks keseragaman (E) tergolong dalam kriteria rendah. Hubungan kandungan bahan organik sedimen dengan kelimpahan bivalvia diperoleh nilai korelasi positif sebesar 0,99. Hal tersebut berarti terdapat hubungan yang sempurna/sangat tinggi, dimana keberadaan bahan organik pada sedimen mendukung keberlangsungan hidup bivalvia. Hubungan fraksi sedimen pasir dengan kelimpahan bivalvia diperoleh nilai korelasi negatif sebesar -0,55. Hal tersebut berarti terdapat hubungan yang rendah/lemah, dimana fraksi sedimen pasir mengalami penurunan maka kelimpahan bivalvia juga akan menurun. Human activities carried out around the Morodemak waters largely contributee to the organic matter content and affects the ecological conditions of the waters. The purpose of this study was to determine the sediment fraction and organic matter content as well as the abundance of bivalves in the Tuntang Morodemak estuary. This research method is descriptive quantitative. There are three stations in the sampling which were determined purposively. The results of the sediment fraction are dominated by sand ranging from 99,9%. The organic matter content of the sediment obtained an average of 5,8% which is included in the low criteria. Perna viridis species has the highest relative abundance of 78.3 ind/m2 and the lowest relative abundance is Anadara granosa species of 21,7 ind/m2. The diversity index value (H') and the uniformity index value (E) are classified as low criteria. The relationship between sediment organic matter content and the abundance of bivalves obtained a positive correlation value of 0,99. This means that there is a perfect/very high relationship, where the presence of organic matter in the sediment supports the survival of bivalves. The relationship between the sand sediment fraction and the abundance of bivalves obtained a negative correlation value of -0,55. This means that there is a low/weak relationship, where the sand sediment fraction decreases, the abundance of bivalves will also decrease.
Konektivitas Mangrove dan Terumbu Karang Berdasarkan Komunitas Ikan Karang (Studi Kasus: Kepulauan Mentawai dan Belitung) Clara Azalia Belinda; Rudhi Pribadi; Yaya Ihya Ulumuddin
Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i4.32346

Abstract

: Mangrove, terumbu karang, dan padang lamun merupakan ekosistem yang saling berkaitan satu sama lain dan memiliki peran penting bagi komunitas biota di laut sebagai habitat yang menyediakan area pemijahan (spawning ground), area asuhan (nursery ground), dan tempat mencari makan (feeding ground). Beberapa jenis ikan karang hanya hidup pada satu habitat saja, namun beberapa jenis ikan karang yang lain dapat berpindah habitat semasa hidupnya, dari satu area ekosistem ke area yang lain, yang disebut dengan migrasi ontogenetik. Adanya aktivitas migrasi tersebut, menyebabkan terjadinya interaksi antara komunitas ikan karang dengan ekosistem pesisir di sekitarnya. Banyak penelitian telah dilakukan berkaitan dengan interaksi ini, ditinjau dari perpindahan nutrien antar ekosistem dan trofik level komunitas ikan karang, namun belum banyak penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan bentang laut (seascape) dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis interaksi antara ekosistem mangrove dan terumbu karang penting dilakukan karena hal tersebut memiliki pengaruh terhadap persebaran ikan dan proses ekologi yang terjadi di dalamnya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk dapat hubungan ekosistem mangrove dan terumbu karang berdasarkan komunitas ikan karang di dalamnya. Data komunitas ikan karang didapatkan dari Laporan Reef Health Monitoring (RHM) LIPI pada tahun 2018. Pembuatan peta struktur bentang laut dilakukan dengan menggabungkan Peta Mangrove Indonesia dengan Peta Terumbu Karang menggunakan software QGIS 3.16. Setelahnya, dilakukan ekstraksi seascape metrics, eksplorasi data metrik, uji korelasi dan regresi linier menggunakan software R Studio. Analisis regresi menghasilkan metriks ikan dan seascape metrics pada kandidat model. Hasil diperoleh konektivitas tertinggi di Kepulauan Mentawai adalah pada class area karang terhadap kelimpahan Siganidae dengan nilai persamaan regresi y=4,76-2,86 dan nilai korelasi R = -0,95 serta nilai koefisien determinan R2 = 0,9. Sedangkan di Perairan Belitung, konektivitas tertinggi adalah pada edge density mangrove terhadap kelimpahan Chaetodontidae dengan persamaan regresi y=3,23-0,14x dan nilai korelasi R = -0,84 serta nilai koefisien determinan R2 = 0,71. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ekosistem mangrove dan terumbu karang memengaruhi kelimpahan ikan karang di kedua lokasi ini. Mangroves, coral reefs, and seagrass beds are ecosystems that interconnected to one another, and each of those ecosystems has crucial function as spawning grounds, nursery grounds, and feeding grounds for many marine biotas, including reef fish community. Some reef fish live only in one habitat for their lives, and some live by moving from one ecosystem to another during their lifetime. The movement of reef fish during the stage of their life is called ontogenetic migration. This ontogenetic activity can create interaction between the coral reef fish to the ecosystems around them. Many studies have shown the biological interaction of reef fish on trophic level of the fish. However, there are still little number of studies that use the seascape approach to examine the connectivity between reef fish to the surrounding ecosystems. Interaction analysis between mangrove ecosystem and coral reef have impact to coral reef fish diversity and to its ecology activities. Therefore, this study aims to analyse the interaction of the reef fish community to the mangrove and coral reef ecosystem, and analyse the connectivity value between these two variables, located in Mentawai and Belitung. The reef fish data was obtained from Reef Health Monitoring Report by LIPI in 2018. Seascape structure mapping was analysed by combining Peta Mangrove Indonesia and the benthic habitat map using QGIS 3.16 software. Statistic analysis was done by extracting the seascape metrics, data exploration, assessing the correlation and linear regression value using R Studio software. The regression analysis assembled the fish and seascape metrics on model candidate table. Result has shown that the highest connectivity value between mangroves and coral reef to coral reefs fish community in Mentawai is the coral reef’s class area to the abundance of Siganidae (y=4,76-2,86x; R = -0,95 and R2 = 0,9). Meanwhile, the highest connectivity value in Belitung is between mangrove’s edge density to the abundance of Chaetodontidae (y=3,23-0,14x ; R = -0,84 and R2 = 0,71). From this study, it can be summarized that the mangrove ecosystem and coral reef affect the coral reef fish abundance.
Estimasi Cadangan Karbon Mangrove Berdasarkan Perbedaan Tahun Tanam Rehabilitasi Mangrove (2005, 2008, 2011, 2014 dan 2017) di Kawasan Ekowisata Mangrove Pandansari, Kabupaten Brebes Yasser Ahmed; Cahyadi Adhe Kurniawan; Ganis Riyan Efendi; Rudhi Pribadi; Frans Alexander Nainggolan; Mohamad Bangkit Gunung Surya Samudra
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.40871

Abstract

Ekosistem mangrove sangat rentan terhadap kerusakan yang ditimbulkan baik oleh bencana alam maupun karena ulah manusia. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi ekosistem mangrove adalah dengan melakukan rehabilitasi mangrove. Hal ini cukup penting dilakukan mengingat ekosistem mangrove sangat baik dalam proses penyerapan gas CO2 diudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar hutan mangrove di pesisir Desa Kaliwlingi mampu menyerap karbon dari udara berdasarkan tahun tanam rehabilitasi mangrove. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2021 dengan menggunakan metode deskriptif. Metode pengambilan data karbon mangrove mengacu pada panduan pengukuran dan penghitungan cadangan karbon dari Standar Nasional Indonesia (SNI 7724:2011) tahun 2011. Pengambilan data karbon meliputi karbon atas permukaan (above ground), bawah permukaan (below ground) dan sedimen.  Perhitungan nilai kandungan biomassa berdasarkan rumus allometrik tiap spesies dan uji laboratorium untuk sampel sedimen. Nilai total estimasi cadangan karbon atas permukaan (above ground) dan bawah (below ground) yaitu sebesar 660,38 ton/ha dan 417,93 ton/ha, sedangkan untuk estimasi cadangan karbon berdasarkan spesies mangrove yang didominasi oleh Rhizophora mucronata yaitu sebesar 312,075 ton/ha. Nilai total kandungan karbon pada sedimen paling tinggi sebesar 289,08 ton/ha pada stasiun tanam 2005 dan kedalaman 5-10 cm memiliki nilai total karbon paling tinggi sebesar 335,23 ton/ha.  Mangrove ecosystems are very vulnerable to damage caused by both natural and human-made disasters. One of the activities that can be done to improve the condition of the mangrove ecosystem is to carry out mangrove rehabilitation. This is quite important considering that the mangrove ecosystem is very good at absorbing CO2 gas in the air. This study aims to determine how much mangrove forest on the coast of Kaliwlingi Village can absorb carbon from the air based on the planting year of mangrove rehabilitation. This research was conducted in January 2021 using a descriptive method. Method of mangrove carbon data collection refers to the guideline for measuring and calculating carbon stocks from the Indonesian National Standard (SNI 7724:2011) in 2011. Carbon data collection includes above ground (above ground), below ground (below ground), and sediment. The calculation of the value of the biomass content is based on the allometric formula for each species and laboratory tests for sediment samples. The total value of the estimated above-ground and below-ground carbon stocks is 660.38 tons/ha and 417.93 tons/ha, while the estimated carbon stocks are based on mangrove species dominated by Rhizophora mucronata are 312.075 tons. /Ha. The highest total value of carbon content in sediments was 289.08 tons/ha at the 2005 planting station and a depth of 5-10 cm had the highest total carbon value of 335.23 tons/ha.
Co-Authors Abdul Rohman Zaky Abdul Rohman Zaky Abidin Nur II Achmad Muhajir Adi Santoso Adi Santoso Aditya Gandhi Pratama Aditya Gandhi Pratama Aditya Sukma Bahari Afirman Karyono Agus Indarjo Agus Sabdono Agus Trianto Agus, Elsa Lusia Ahmad Ziddan Dhiya Ulhaq Ain, Rahmayani Kurnia Aini, Firly Nur Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ambariyanto Ambariyanto Amin Yunita Nur Annisa Amrullah Rosadi Andreas Ricky Hermawan Anindya Wirasatriya Annisa, Amin Yunita Nur Aris Ismanto Arumning T. Fauziah Ashari, Adi Aulia, Zahra Safira Aurora Hanifa Azis Nur Bambang Azis Nur Bambang Bambang Argo Wibowo Baskoro Rochaddi Bima Agung Saputra Bintang Septiarani Cahyadi Adhe Kurniawan Cahyadi Adhe Kurniawan Chrisna Adhi Suryono Chrisna Adi Suryono Christy, Yonanda Alodea Clara Azalia Belinda Delianis Pringgenies Denny Nugroho Sugianto Desyandri Desyandri Dewi Vidya Nuur Isrotunnisaa Nuarita Pratiwi, Dewi Vidya Nuur Isrotunnisaa Diah Permata Wijayanti Dwi Haryanti Eldita Amalia Elsa Lusia Agus Endang Supriyantini Ervia Yudiati Faishal Widiaputra Nugraha Fajri Fajri Fajri Fajri Frans Alexander Nainggolan Frans Alexander Nainggolan Ganis Riyan Efendi Ghea Ken Joandani Joandani Hadi Endrawati Hanik Rahmawati, Hanik Hermin Pancasakti Kusumaningrum Heryoso Setiyono Himawan Arif Sutanto Huda, Abiyani Choirul Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Ilham Kuncahyo Ilham Kuncahyo, Ilham Imam Mishbach Indradi Setiyanto Irawan Saputro Irawan Waluyo Jati Irfan Fuady Irma Kusumadewi Irwani Irwani Ita Riniatsih Ita Widowati Itsna Yuni H IW Eka Dharmawan Janson Hans Pietersz Jelita Rahma Hidayati Jihadi, Muhammad Shulhan Joandani, Ghea Ken Joandani Johannes Hutabarat Käll, Sofia Kharis Setiawan Kiuk, Yosni Kresnasari, Dewi Kukuh Eko Prihantoko Lilik Maslukah Lita Tyesta Addy Listya Wardhani Lovensia Zukruff Albasit M. Amanun Tharieq Mada Triandala Sibero Maharani, Galung Dhiva Mardliyah, Riani Max Rudolf Muskananfola Michael Abbey Mirsa Septiana Mutik Mohamad Bangkit Gunung Surya Samudra Mostafa Imhmed Ighwerb Muhamad Irfan Cahyo Putro Muhamad Rizky Mauludin Muhammad Abdul Chafid Muhammad Abdul Chafid Muhammad Faisal Rachmansyah Muhammad Helmi Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muksin Purnama Mutiara Mega Septiningtyas Naitkakin, Egidius Ni’amillah Ni’amillah Niharul Annas Ningrum, Marsella Ivon Citra Nirwani Nirwani Nirwani Soenardjo Ni’amillah Ni’amillah Nugroho Agus D Nur Cahyo Widianto Nur Taufiq S.P.J. Petrus Subardjo Pitaloka, Maria Dyah Ayu Pramudya, Herning Purnama, Muksin Putri Novianingrum, Milka Putriningtias, Andika Putro, Muhamad Irfan Cahyo Raden Ario Radich Arief Nugroho Rahadiya, Ardaffa Firdausy Rahmayani Kurnia Ain Reny Yesiana Retno Hartati Retno Murwani Retno W. Astuti Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Riani Mardliyah Rini Pramesti Rizkiyani, Hasna Moraina Rosadi, Amrullah Santri, Bellatris Saputra, Bima Agung Satrioajie, Widhya Nugroho Setyani, Wilis Ari Sitanggang, Wanri Soares, Daniel Candido Da Costa Sri Redjeki Sri Redjeki Subagiyo Subagiyo Sugeng Widada Suryono Suryono Susanto, AB. Suyadi Suyadi Tarida Tarida Tarida, Tarida Tony Hadibarata, Tony Vita Fitriana Mayasari Wiarta, Rinto Wibowo, Krisna Prasetyo Widianingsih Widianingsih Widianto, Nur Cahyo Wilis Ari Setyani Wilis Ari Setyati Windy Indra Ardiansyah Windy Indra Ardiansyah Wiwid Andriyani Lestariningsih Yasser Ahmed Yaya Ihya Ulumuddin Yaya Ihya Ulumuddin Yesaya Putra Pamungkas Yonanda Alodea Christy