Claim Missing Document
Check
Articles

Characteristic Study of Biodiesel from Used Cooking Oil using Nipah Skin Ash as a Heterogeneous Catalyst Zainuddin Ginting; Rizka Mulyawan; Meriatna Meriatna; Tata Tirani; Asnadia Asnadia; Luthfi Mughni Anisa Haryono
IJFAC (Indonesian Journal of Fundamental and Applied Chemistry) Vol 8, No 1 (2023): February 2023
Publisher : IJFAC (Indonesian Journal of Fundamental and Applied Chemistry)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24845/ijfac.v8.i1.34

Abstract

One type of renewable alternative energy that has great potential to be developed is biodiesel. Biodiesel is a fuel consisting of a mixture of mono-alkyl esters of long-chain fatty acids made from renewable sources such as vegetable oils or animal fats. Such as vegetable oils or animal fats. One of the vegetable oil products that can be used as feedstock for biodiesel production is used cooking oil. Used cooking oil is used oil. The purpose of this research is to study the characteristics of the effect of catalyst mass, the ratio of used cooking oil mole to methanol mole, and the effect of adding THF 1:1 co-solvent on the purity of biodiesel using heterogeneous catalyst ash derived from Nipah fruit skin calcined at 500°C for 4 hours. The process variables were transesterification reaction time 60, 90, 120, and 150 minutes, a mole ratio of methanol to oil 1:19, 1:21, and 1:23 with the addition of THF: methanol v/v 1:1 co-solvent. Biodiesel properties such as density, viscosity, moisture content, and acid number were evaluated and compared with the Indonesian National Standard (SNI). The characteristics of biodiesel were obtained with a density of 860.2 Kg/m3 and a viscosity of 2.37 mm2/s. They contained 44.14% Palmitic acid and 43.04% Octadecenoic acid (oleic), following the Indonesian National Standard (SNI). The maximum yield obtained was 93.3598% using a mole ratio of oil: methanol 1:23 at 60°C for 120 minutes, TFT 1:1, and 3% catalyst mass. The results obtained in this study indicate that heterogeneous catalysts made from kapok skin can be used to produce biodiesel. Adding TFT co-solvent can increase biodiesel production and methyl ester yield so that high purity is obtained.
KINETIKA HIDROLISA KULIT PISANG AWAK (MUSA PARADISIACA VAR. AWAK) MENJADI GLUKOSA MENGGUNAKAN KATALIS ASAM SULFAT Putri Sara Fhariza; Azhari Azhari; Zainuddin Ginting; Lukman Hakim; Meriatna Meriatna
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 1 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - April 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i1.9535

Abstract

Kulit pisang awak merupakan limbah bahan buangan yang cukup banyak jumlahnya. Salah satu kandungan dalam kulit pisang awak adalah pati yang mengandung karbohidrat yang dapat dikonversi menjadi glukosa dengan proses hidrolisis. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan glukosa dari kulit pisang awak dan menganalisa pengaruh suhu dan waktu hidrolisa serta menghitung kinetika reaksi hidrolisa tersebut. Proses hidrolisis kulit pisang awak menggunakan katalis H2SO4 dilakukan dalam labu hidrolisis dengan variasi suhu 70, 80, dan 90 14℃">  dan waktu 10, 15, 20, 25, 40, dan 50 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar glukosa paling tinggi diperoleh 40% dengan jumlah 9,176 gr, yield paling tinggi sebesar 91,76%, konversi glukosa yang paling tinggi sebesar 82,58%, hasil ini diperoleh pada waktu hidrolisa 50 menit dan suhu 90 14℃"> . Kinetika reaksi hidrolisis kulit pisang awak menggunakan katalis H2SO4 mengikuti  reaksi orde satu,  pengaruh suhu terhadap konstanta kecepatan reaksi mengikuti persamaan Arhenius dengan nilai konstanta kecepatan reaksi untuk masing-masing temperatur 70, 80 dan 90 14℃">  berturut-turut adalah 0,0141, 0,0286 dan 0,0372 menit-1 dengan energi aktivasi sebesar 50.416,096 kJ/mol.
Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang Raja Sebagai Bahan Pembuatan Glukosa Menggunakan Katalis Asam Sulfat Zulfida Najla Azni; Jalaluddin Jalaluddin; Eddy Kurniawan; Zainuddin Ginting; Masrullita Masrullita
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 1 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - April 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i1.8648

Abstract

Pisang adalah salah satu bahan makanan yang sangat potensial dijadikan produksi berbagai makanan. Hasil panennya melimpah di Indonesia, begitu pula dengan limbah kulit pisang yang dihasilkan. Limbah kulit pisang merupakan salah satu bahan yang tinggi karbohidrat sehingga berpotensi tinggi untuk diolah menjadi berbagai produk, salah satunya glukosa melalui proses hidrolisis. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan glukosa dari limbah kulit pisang raja dan mempelajari pengaruh konsentrasi katalis asam sulfat pada reaksi hidrolisis kulit pisang terhadap hasil glukosa yang diperoleh. Selanjutnya kulit pisang raja di hidrolisis menggunakan larutan H2SO4 dengan konsentrasi 0.5 M dan 1 M. Waktu yang digunakan yaitu 45 menit,60 menit, 75 menit dan 90 menit dalam berbagai suhu operasi yaitu 80oC, 90oC dan 100oC. Setelah dianalisis kandungan glukosanya menggunakan refraktrometer didapatkan glukosa tertinggi yaitu sebesar 30.4% pada suhu 100oC, waktu 90 menit dengan konsentrasi asam sulfat sebesar 1 M. Dengan yield tertinggi sebesar 78% dan konversi sebesar 76% pada suhu, waktu dan konsentrasi yang tebesar dari penelitian ini. Sehingga diketahui bahwa semakin tinggi suhu, semakin lama waktu hidrolisis dan semakin besar konsentrasi katalis yang digunakan maka semakin besar kadar glukosa, persentase yield dan konversi yang dihasilkan.
PEMANFAATAN ENERGI MATAHARI MENJADI ENERGI LISTRIK KAPASITAS 1300 WATTUNTUK BEBAN RUMAH TANGGA DI KOTA MEDAN Muhammad Fadlan Siregar; Budhi Santri Kusuma; Zainuddin Ginting
Prosiding Seminar Nasional Teknik UISU (SEMNASTEK) SEMNASTEK UISU 2023
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1103.451 KB)

Abstract

Matahari adalah suatu bola dari awan gas dengan suhu yang amat sangat panas, matahari merupakan sumber energi yang luar biasa yang setiap hari di setiap negara di dunia terbit di timur dan terbenam di barat, kita menggunakan matahari untuk mendefinisikan hari,perkembangan teknologi energi surya yang terjangkau, tidak habis, dan bersih akan memberikan keuntungan jangka panjang yang besar. Perkembangan ini akan meningkatkan keamanan energi, Untuk mendapatkan keluaran energi listrik yang maksimum maka permukaan modul surya harus selalu mengarah ke matahari.Perencanaan PLTS biasanya dilakukan melalui langkah perhitungan untuk tiap komponen yang dibutuhkan. Perencanaan dimulai dengan mengetahui terlebih dahulu besarnya daya peralatan listrik konsumen dan lama waktu pemakaian untuk mengetahui besarnya energi listrik. Selanjutnya melakukan perhitungan besaran kapasitas tiap komponen PLTS yang mencakup Inverter (jika bebannya arus bolak-balik), Bank Baterai, Battery/Solar Charge Controller, dan Panel Surya.Obyek penelitian yang diambil rumah tangga dengan daya 1300 VA. Metode pengambilan data berupa observasi untuk mengetahui daya dan lama waktu pemakaian tiap alat listrik yang digunakan.
PEMANFAATAN LIMBAH PADAT SEREH WANGI SEBAGAI BAHAN BAKU BIOARANG UNTUK PERBAIKAN TANAH Syamsul Bahri; Khairul Anshar; Adi Setiawan; Zainuddin Ginting
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Panrita Abdi - April 2023
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v7i2.18864

Abstract

The waste from the distillation of citronella oil in KM 6 Village, Simpang Keuramat District, has yet to be appropriately utilized. The distillation business can process 1.6-2 tons of fragrant lemongrass leaves in a day. If the oil content of fragrant lemongrass leaves is 0.5%-1.5%, then the waste produced can reach 1.5-2 tons in a day. Debris that has accumulated is usually burned openly. The smoke from this combustion process has an impact on air pollution. In addition, ash from burning also pollutes river water. This service aims to reduce air and river water pollution from the wrong waste treatment process by utilizing the waste as biochar. This biochar will then be used to increase soil nutrients. To ensure biochar quality, combustion is carried out through a pyrolysis process so that the charcoal produced is more significant and produces liquid smoke as a by-product. This service activity is implemented by providing counseling and demonstrations demonstrating the process of processing citronella waste into biochar so that the resulting biochar product can benefit the surrounding community and be safe for the environment. The community understood the importance of good waste management from discussions and demonstrations at this service activity. All participants understood the procedures for managing biomass waste, especially citronella waste, into biochar with 80% understanding.  ---  Limbah hasil penyulingan minyak sereh wangi di Desa KM 6 Kecamatan Simpang Keuramat sampai saat ini masih belum mampu diberdayakan dengan baik. Dalam sehari usaha penyulingan tersebut mampu mengolah daun sereh wangi sebanyak 1,6-2 ton, jika kadungan minyak pada daun sereh wangi adalah 0,5%-1,5% maka dalam sehari limbah yang dihasilkan mampu mecapai 1,5-2 ton. Limbah yang telah menumpuk biasanya dibakar secara terbuka. Asap dari proses pembakaran ini berdampak pada pencemaran udara.  Selain itu abu dari hasil pembakaran juga mencemari air sungai. Pengabdian ini bertujuan untuk mengurangi pencemaran udara dan pencemaran air sungai dari proses pengolahan limbah yang salah dengan memanfaatkan limbah tersebut sebagai bioarang. Bioarang ini selajutnya akan digunakan untuk meningkatkan unsur hara tanah. Untuk menjamin kualitas bioarang pembakaran dilakukan melalui proses pirolisis sehingga jumlah bioarang yang dihasilkan lebih banyak dan juga menghasilkan asap cair sebagai produk sampingan. Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan memberikan penyuluhan dan demonstrasi proses pengolahan limbah sereh wangi menjadi bioarang, sehingga produk bioarang yang dihasilkan dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan aman bagi lingkungan. Dari penyuluhan dan demontrasi pada kegiatan pengabdian ini masyarakat memahami pentingnya pengelolaan limbah dengan baik dan semua peserta telah mengerti tatacara mengelola limbah biomassa khususnya sereh wangi menjadi biorang dengan penguasaan ≥80%.
PEMANFAATAN PRODUK SAMPING DARI PROSES PIROLISIS PADA LIMBAH PADAT HASIL PENYULINGAN MINYAK NILAM UNTUK PEMBUATAN BRIKET BIOARANG Zainuddin Ginting; Faisal Faisal; Syamsul Bahri; Zulnazri Zulnazri; Sulhatun Sulhatun; Mutiara Pujana Pujana
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11672

Abstract

Ketersediaan bahan bakar minyak bumi yang berasal dari fosil kian menipis seiring dengan bertambahnya populasi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan bioarang yang berasal dari limbah padat pemyulingan minyak nilam dengan temperatur dan waktu karbonisasi yang optimum sehingga diperoleh bioarang dengan nilai kalor yang tinggi. Bioarang adalah arang yang diciptakan dari biomassa. Penelitian pemanfaatan produk samping dari proses pirolisis pada limbah padat hasil penyulingan minyak nilam untuk pembuatan briket bioarang memiliki variabel suhu 300°C, 350°C, 400°C dan berat bahan baku 600 kg, 1200 kg, dan 1800 kg dengan variabel waktu 60, 90 dan 120 menit. Limbah padat yang terlebih dahulu telah dipotong menjadi ukuran yang kecil dan dikeringkan dibawah sinar matahari terlebih dahulu kemudian dimasukkan kedalam alat pirolisis untuk dikarbonisasi sesuai dengan variabel yang telah ditentukan, hasil dari pirolisis kemudian dimasukkan kedalam desikator untuk didinginkan selama 30 menit lalu dilakukan uji kadar air, uji kadar abu, uji kadar zat terbang, uji kadar karbon terikat, uji nilai kalor, uji SEM, dan juga uji laju pembakaran. Adapun hasil penelitian terbaik yang diperoleh adalah pada temperature 350°C dan waktu 120 menit dengan nilai kalor sebesar 5291 kal/g, kadar air sebesar 5,88 %, kadar abu sebesar 6,97 %, kadar zat terbang sebesar 11,28 %, dan kadar karbon terikat sebesar 75,87 %. Sedangkan pada berat bahan baku diperoleh nilai terbaik pada berat 1200 kg dan waktu 120 menit dengan nilai kalor sebesar 5291 kal/g, kadar air sebesar 5,86 %, kadar abu sebesar 6,55%, kadar zat terbang sebesar 10,60 %, dan kadar karbon terikat sebesar 76,93 %. Kalor yang diperoleh menunjukkan bahwa bioarang limbah padat nilam dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif yang dapat diperbaharui.Kata kunci:bioarang dan karakteristik, limbah padat nilam, pirolisis.
PENGARUH PERBANDINGAN MINYAK KEMIRI DAN MINYAK BUNGA LAVENDER TERHADAP SIFAT LILIN AROMATERAPI FORMULASI LILIN AROMATERAPI BERBASIS MINYAK KEMIRI DENGAN PENAMBAHAN MINYAK BUNGA LAVENDER Sulhatun Sulhatun; Sarah Sarah; Masrullita Masrullita; Novi Sylvia; Zainuddin Ginting
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - Mei 2023
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v12i1.11610

Abstract

Minyak kemiri (candlenut oil) yang berarti candle yaitu lilin dan nut yaitu kacang. Sesuai dengan namanya, kemiri juga dapat dijadikan bahan dasar lilin karena kemiri mengandung 55-66% minyak dari berat bijinya. Berbagai penelitian yang berkaitan dengan lilin aromaterapi telah banyak dilakukan terutama dalam memformulasikan essential oil. Namun dalam  memformulasikan minyak kemiri sebagai basis lilin belum pernah dilakukan sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh dari perbedaan formula minyak kemiri dan minyak bunga lavender terhadap basis lilin aromaterapi yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan dengan menimbang soy wax sesuai dengan berat yang sudah ditentukan lalu dilelehkan sempurna. Kemudian, ditambahkan variasi minyak kemiri ( 5,7,10 dan 12 gram ) dan variasi essential lavender oil ( 2, 3, 4 dan 5 gram ) diaduk hingga homogen. Terakhir, dituangkan lilin cair kedalam gelas lilin yang telah dipasangkan sumbu. Pengujian lilin aromaterapi berupa organoleptik, waktu bakar, titik leleh dan kesukaan terhadap aroma. Dari hasil pengujian lilin aromaterapi diperoleh, untuk organoleptik lilin dengan bentuk padat, tidak retak, tidak cacat dan warna yang merata yaitu lilin A1 ( 5 : 2 ), A2 ( 5 : 3 ), A3 ( 5 : 4 ), A4 ( 5 : 5 ), B1 ( 7 : 2 ), B2 ( 7 : 3 ), B3 ( 7 : 4 ), B4 ( 7 : 5 ) dan C1 ( 10 : 2 ). Untuk titik leleh, titik leleh tertinggi yaitu pada formula A1 ( 5 : 2 )  yaitu 44,8⁰C sedangkan titik leleh terendah yaitu formula D4 ( 12 : 5 ) yaitu 38,8⁰C. Untuk waktu bakar, lilin dengan waktu bakar terlama adalah lilin D1 ( 12 : 2)  yaitu 12 jam 10 menit. Sedangkan lilin dengan waktu bakar paling singkat adalah lilin A4  ( 5 : 5 )  yaitu 8 jam 26 menit. Dapat disimpulkan bahwa, berdasarkan hasil dari perbandingan formula lilin, semakin banyak minyak kemiri dan minyak bunga lavender yang digunakan maka tekstur lilin akan semakin lunak dan titik leleh lilin akan semakin rendah begitupula sebaliknya. Dan semakin banyak minyak kemiri dan semakin sedikit minyak bunga lavender yang digunakan maka waktu bakar lilin akan semakin lama. 
PENGARUH SUHU DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP KUALITAS PEKTIN DARI LIMBAH KULIT PEPAYA Eva Diana; Agam Muarif; Ishak Ibrahim; Meriatna Meriatna; Zainudding Ginting
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 3 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i3.9716

Abstract

Pektin adalah senyawa polisakarida kompleks yang terdapat dalam dinding sel tumbuhan dan dapat ditemukan dalam berbagai jenis tanaman pangan. Pektin banyak digunakan dalam industri makanan, farmasi dan kosmetik sebagai bahan perekat, pengental dan penstabil agar tidak terbentuk endapan. Salah satu tanaman yang memiliki kandungan pektin adalah buah pepaya, pektin terkandung dalam seluruh bagian tanaman pepaya, oleh karena itu peneliti memanfaatkan limbah kulit pepaya yang sudah tidak dimanfaatkan lagi sebagai bahan baku pembuatan pektin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh suhu dan waktu ekstraksi terhadap pektin yang dihasilkan. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya tetapi dengan menggunakan variasi konsentrasi pelarut asam sitrat. Sedangkan pada penelitian ini menggunakan pelarut asam klorida dengan variasi suhu dan waktu ekstraksi.  Variabel bebas yang digunakan pada penelitian ini yaitu suhu 70◦C, 80◦C dan 90◦C dengan waktu 60 menit, 75 menit, 90 menit, 105 menit dan 120 menit. Sedangkan variabel terikat yang digunakan yaitu rendemen, uji kadar air, berat ekivalen, kadar metoksil dan pembuatan permen jeli. Hasil penelitian didapatkan rendemen pektin tertinggi 14,17%, kadar air terendah 4,48%, berat ekivalen terendah 510,20 mg dan kadar metoksil tertinggi 6,63% pada suhu 90oC dengan waktu 120 menit. Pektin yang dihasilkan pada penelitian ini sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia berdasarkan nilai kadar air dan kadar metoksil.
PEMBUATAN BRIKET BIOARANG DARI LIMBAH PADAT HASIL PENYULINGAN MINYAK NILAM TERHADAP BERAT BAHAN BAKU DAN TEMPERATUR PIROLISIS DENGAN METODE PIROLISIS Sri Santika; Zainuddin Ginting; Sulhatun sulhatun; Rizka Nurlaila; Masrullita Masrullita
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 5 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Oktober 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i5.9909

Abstract

Limbah dari hasil penyulingan minyak nilam jumlahnya berkisar 98-98,5%  dari bahan baku. Limbah padat hasil penyulingan  minyak nilam memiliki potensi untuk dijadikan sebagai bahan baku untuk memperoleh bahan bakar alternatif melalui proses pirolisis dan proses pengempaan seperti briket. Briket merupakan material mudah terbakar yang terbentuk dari proses pengempaan atau pemampatan material menjadi bentuk padatan dan digunakan sebagai bahan bakar, dimana briket yang dihasilkan harus memiliki sifat kuat dan saling merekat satu sama lain sehingga briket tidak mudah hancur. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, yang belum pernah dilakukan yaitu pembuatan briket bioarang dengan menggunakan  limbah padat hasil penyulingan minyak nilam terhadap berat bahan baku dan temperatur pirolisis menggunakan metode pirolisis. Pada penelitian ini, diamati pengaruh berat bahan baku dan suhu pirolisis pada pembuatan briket bioarang dari limbah padat hasil penyulingan minyak nilam. Proses pirolisis dilakukan pada berat bahan baku 600 gr, 1200 gr dan 1800 gr serta pada  suhu pirolisis  300 ºC, 350 ºC dan 400 ºC dengan waktu pirolisis 90 menit. Analisa yang dilakukan adalah analisis proksimat dan nilai kalor. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan kadar air briket bioarang yang terbaik terletak pada berat bahan baku 1800 dan suhu 400oC yaitu  5,0%, kadar abu briket bioarang yaitu  3,5%, kadar zat terbang yaitu  8,3% dan kadar karbon terikat yaitu  83,19%, dan nilai kalor sebesar 5.291 kal/g. 
KAJIAN PROSES OZONASI LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT TERHADAP PENURUNAN KADAR TOTAL SUSPENDED SOLID Lailatul Munouwarah; Lukman Hakim; Ishak Ishak; Jalaluddin Jalaluddin; Zainuddin Ginting
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 3 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i3.9281

Abstract

Limbah PKS merupakan sumber pencemaaran yang potensial bagi manusia dan lingkungan, sehingga limbah ini perlu diolah agar nantinya aman apabila di buang ke lingkungan. Sejauh ini sudah digunakan beberapa metode untuk pengolahan limbah cair PKS dengan menggunakan metode proses kombinasi anaerobik dan aerobik, teknologi pemisahan membran. Berdasarkan hasil-hasil penelitian tentang pengolahan limbah cair secara ozonasi yang telah dilakukan, ozon terbukti berhasil menurunkan beban organik dalam limbah dengan waktu yang relatif singkat. Teknologi ozonasi ini berkemungkinan dapat menguraikan bahan-bahan pencemar dalam limbah cair pabrik kelapa sawit. Untuk itu perlu dilakukan penelitian kajian proses ozonasi limbah cair pabrik kelapa sawit terhadap penurunan kadar total suspended solid. Tujuan penelitian Untuk mengkaji kemampuan penggunaan proses ozonasi dalam menurunkan kadar TSS terhadap pengaruh waktu ozonasi dan kadar ozon dengan pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit. Proses ozonasi dilakukan selama 20 menit dengan konsistensi ozon 20, 30 dan 40 %. Kemudian diulangi proses ozonasi dengan memvariasikan waktu 30, 40, 50 dan 60 menit. Hasil penelitian menunjukkan kadar ozon tertinggi dihasilkan pada waktu 20 menit dengan konsistensi ozon 40% dengan kadar ozon yang dihasilkan sebesar 0,590 gr/jam, penurunan kadar TSS terbesar didapat pada waktu 60 menit dengan konsistensi ozon 40 % dimana kadar TSS yang didapat yaitu sebesar 267,4 mg/L, Kenaikkan nilai pH tetinggi terdapat pada konsistensi ozon 30% dengan waktu ke 30 dan 40 menit dimana nilai pH yang di peroleh 9,3. Sedangakan untuk nilai pH terendah terdapat pada konsistensi ozon 20% dan 40% dengan waktu 20, 30 dan 40 menit dimana nilai pH yang di peroleh 8,4.Limbah PKS merupakan sumber pencemaaran yang potensial bagi manusia dan lingkungan, sehingga limbah ini perlu diolah agar nantinya aman apabila di buang ke lingkungan. Sejauh ini sudah digunakan beberapa metode untuk pengolahan limbah cair PKS dengan menggunakan metode proses kombinasi anaerobik dan aerobik, teknologi pemisahan membran. Berdasarkan hasil-hasil penelitian tentang pengolahan limbah cair secara ozonasi yang telah dilakukan, ozon terbukti berhasil menurunkan beban organik dalam limbah dengan waktu yang relatif singkat. Teknologi ozonasi ini berkemungkinan dapat menguraikan bahan-bahan pencemar dalam limbah cair pabrik kelapa sawit. Untuk itu perlu dilakukan penelitian kajian proses ozonasi limbah cair pabrik kelapa sawit terhadap penurunan kadar total suspended solid. Tujuan penelitian Untuk mengkaji kemampuan penggunaan proses ozonasi dalam menurunkan kadar TSS terhadap pengaruh waktu ozonasi dan kadar ozon dengan pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit. Proses ozonasi dilakukan selama 20 menit dengan konsistensi ozon 20, 30 dan 40 %. Kemudian diulangi proses ozonasi dengan memvariasikan waktu 30, 40, 50 dan 60 menit. Hasil penelitian menunjukkan kadar ozon tertinggi dihasilkan pada waktu 20 menit dengan konsistensi ozon 40% dengan kadar ozon yang dihasilkan sebesar 0,590 gr/jam, penurunan kadar TSS terbesar didapat pada waktu 60 menit dengan konsistensi ozon 40 % dimana kadar TSS yang didapat yaitu sebesar 267,4 mg/L, Kenaikkan nilai pH tetinggi terdapat pada konsistensi ozon 30% dengan waktu ke 30 dan 40 menit dimana nilai pH yang di peroleh 9,3. Sedangakan untuk nilai pH terendah terdapat pada konsistensi ozon 20% dan 40% dengan waktu 20, 30 dan 40 menit dimana nilai pH yang di peroleh 8,4. Kata Kunci:Limbah Cair PKS, Proses Ozonasi, Total Suspendd Solid, Konsistensi Ozon, pH
Co-Authors A M Syam abdullah, humaira Absa, Munzir Adi Setiawan Adrin, Prista Agam Muarif Agus Salim Ahmad Fikri Amiratul Husna Angga Tri Agusna PA Armadani, Wika Arnawan Hasibuan Asnadia Asnadia Asran Asran Aulia, Muhammad Rifki Aulia, Sekar Aurora, Tassa Azhari Azhari Budhi Santri Kusuma Budhi Santri Kusuma Chairina Chairina Chalisna Wildani Dahliana Abdullah Dede Ibrahim Muthawali Desi Sri Pasca Sari Sembiring, Desi Sri Pasca Sari Devia Ayu Setyowati Dinda Robiatul Al Qory Eddy Kurniawan Effendi, Mulia Efri Marnelisa Eva Diana Faisal Faisal Faisal Faisal Faisal Faisal Faisal Faisal Fatiha Lubis, Rabitha Canny fatimah Fatimah Fazira, Zetta Feni Lestari Berutu Ferri Safriwardy Fibarzi, Wiza Ulfa Fioza Ozly Erian Fitra Rahmatika Fuji Maharani Furqan, Muhammad Alif Gultom, Togu Sahat Martua Gusti Indah Sari Hanie, Nawardah Harahap, Handoyo Harahap, Nurul Aulia Hermawan, Yuda Hesni, Yuli Hijjrah, Nur Hijratul Izzati humairah, syarifah siti Husnul Chatimah, Husnul I Ibrahim Ibrahim Muthawali, Dede Ibrahim, Ishak Ishak Ibrahim Ishak Ishak Ishak Ishak Ishak, I Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jasmani Jasmani Kamar, Iqbal Kartika Kartika Khairul Anshar Kuniawan, Eddy Kurniawan, Eddi Lailatul Munouwarah Laksono Trisnantoro Leni Maulinda, Leni Lukman Hakim Lukman Hakim Luthfi Mughni Anisa Haryono M Muhammad Mahaziva Putri Maghfirah Tambunan Mahdayani Sinaga, Citra Puspita Masrullita Masrullita Masrullita Masrullita Masrullita Masrullita, Masrullita Meriatna Meriatna Misbahul Jannah Muhammad Muhammad Abrar Muhammad Fadlan Siregar Muhammad Ilyas Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad, Muhammad Mulyatun Mulyatun Mulyawan, Rizka Mutawali, Dede Ibrahim Muthawali, Dede Ibrahim Muthmainnah Muthmainnah Mutiara Pujana Pujana Nabila Hamnasia Nadira Diandra Nasrul ZA Novi Sylvia Nur rizqi Fattah Lubis Nurdiah, Ika Nurhabiah Nurhabiah Nurlaila, Rizka Nurmalita Nurmalita Oktaviani oktaviani Pane, Yunita panjaitan, Ira wardani Prasatia, Ridha Purwoko, Agus Putri Nurjannah Putri Sara Fhariza Rahma Yanti Ramadhan, Cindia Rauzatul Jannah Z Retwan, M.Alif Alzahy Ridha Gebrina Rizki Rika Santi S. Tumangger Rini Meiyanti Riskina, Shafira Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizka Nurlaila Rizky, Audry Azilla Rizkya Faradaiza Rozanna Dewi S Maliki Salimuddin Salimuddin Santri Kusuma, Budhi Saragih, Tamara Habibi Sarah Sarah Seriani Annisa Setiawaty, Sri Shella Vanesa Shintia Clarita Shrestha, Ashish Sitanggang, Evi Dahliani Siti Nurjannah Sri Santika Sry Wahyuni Damanik Sulhatun Sulhatun Suryadi Suryadi Suryati Suryati Suryati Syahfitri, Ajeng Syamsul Bahri Syamsul Bahri Syamsul Bahri Tampubolon, Heriansyah Tata Tirani Tri Agusna PA, Angga Ulfa, Raudhatul Vania, Sherryl Wiyani, Sri Yani, Firda Tirta yanti, eva Yuda Hermawan Zetta Fazira Zulfida Najla Azni Zulmiardi, Zulmiardi Zulnazri, Z