Claim Missing Document
Check
Articles

Bahasa dan kebenaran dalam diskursus digital: Perspektif validity claim Habermas Triyoga, Anwar Ibrahim; Hanum, Irma Surayya; Khasri, M. Rodinal Khair; Putra, Surya Adinata
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22724

Abstract

Penyebaran hoaks yang cepat melalui platform digital telah menjadi tantangan signifikan terhadap validitas kebenaran dalam diskursus daring. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat 1.923 konten hoaks sepanjang tahun 2024, dengan peningkatan yang menonjol selama periode pemilu. Survei nasional oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan bahwa 24,7% hoaks tersebut bersifat politis, yang menegaskan dominasi misinformasi politik di ranah digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana bahasa dalam ruang digital memengaruhi konstruksi kebenaran dan validitas intersubjektif dengan merujuk pada teori klaim validitas Jürgen Habermas. Penelitian ini menggunakan metode perbandingan artikel, yaitu dengan menelaah dan membandingkan sejumlah studi terdahulu mengenai komunikasi digital, hoaks, dan demokrasi deliberatif, sehingga diperoleh gambaran persamaan, perbedaan, serta kecenderungan temuan yang relevan. Analisis difokuskan pada bagaimana setiap artikel mengidentifikasi klaim kebenaran, validitas normatif, serta relevansi informasi dalam diskursus digital. Temuan menunjukkan bahwa meskipun ada variasi dalam pendekatan penelitian, mayoritas artikel menegaskan bahwa diskursus digital sering kali gagal memenuhi kondisi ideal komunikasi rasional Habermas akibat bias algoritmik dan keterbatasan keterbukaan. Hal ini berimplikasi pada melemahnya konsensus dan rasionalitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan literasi digital kritis sangat penting untuk memungkinkan individu menilai klaim kebenaran secara lebih efektif, mengurangi penyebaran hoaks, serta meningkatkan validitas diskursus digital.
BANDINGAN NILAI BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT LUTUNG KASARUNG DAN SUNDARA KANDA Agustini, Aulia; Dahlan, Dahri; Hanum, Irma Surayya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 6, No 1 (2022): Januari 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i1.5276

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini menggunakan objek cerita rakyat Lutung Kasarung dan Sundara Kanda. Kedua cerita tersebut merupakan dua kisah yang berasal dari budaya Sunda dan India. Penggunaan objek yang memiliki budaya yang berbeda dapat memberikan hasil penelitian yang luas dalam perihal nilai budaya yang tergambar di dalam karya sastra. Penelitian ini bertujuan mendeksripsikan fakta cerita, nilai budaya, persamaan dan perbedaan nilai budaya di dalam cerita rakyat Lutung Kasarung dan Sundara Kanda. Data dan sumber data didapatkan dari buku cerita rakyat Lutung Kasarung dan Kitab Ramayana. Data penelitian dikumpulkan dengan cara membaca, dan mencatat kata atau  kalimat. Data  dianalisis dengan teknik reduksi, penyajian data dan simpulan. Digunakan pula teknik analisis hermeneutika Hasan Hanafi untuk menafsirkan data secara khusus dan rinci. Hasil dari bandingan yang dilakukan ditemukan keterkaitan kedua cerita rakyat berdasarkan nilai budaya. Nilai budaya yang didapat adalah berdasarkan nilai kerohanian yang berdasarkan dharma ajaran agama Hindu. Kedua cerita rakyat memiliki tema dan motif cerita yang sama. Sehingga, menimbulkan kemiripan fakta cerita dan juga kemiripan nilai budaya. Nilai budaya yang didapatkan, yakni (1) hubungan manusia dengan Tuhan, (2) hubungan manusia dengan makhluk lainnya, dan (3) hubungan manusia dengan alam. Perbandingan nilai budaya tersebut dilakukan berdasarkan ketentuan nilai yang tidak berubah terhadap objek. Sehingga dari ketiga varian nilai budaya yang ada didapatkan perbedaan nilai budaya. Berdasarkan  bandingan nilai budaya cerita rakyat  Luntung Kasarung dan Cerita Rakyat Sundara Kanda maka ditemukan bahwa nilai budaya sunda dan india memiliki kemiripan.Kata kunci: bandingan, cerita rakyat luntung kasarung, cerita rakyat sundara kanda,  nilai budaya ABSTRACTThis research uses the object is folklore of Lutung Kasarung and Sundara Kanda. The two folklores are two stories originating from Sundanese and Indian. The use of objects that have different cultures can provide broad research results regarding cultural values depicted in literary works. This research  aims to describe the facts of the story, cultural values, similarities and differences in cultural values in the folklore of Lutung Kasarung and Sundara Kanda. Data and data sources were obtained from the folklore book of Lutung Kasarung and Ramayana Book. The research data were collected by reading and recording words or sentences. Data were analyzed using reduction techniques, data presentation and conclusions. Hasan Hanafi's hermeneutic analysis technique is also used to interpret the data specifically and in detail. The results of the comparisons were found to be related to the two folklores based on cultural values. The cultural values obtained are based on spiritual values based on the dharma teachings of Hinduism. Both folklores have the same theme and story motif. Thus, it raises similarities in story facts and also similarities in cultural values. The cultural values obtained are (1) human relations with god, (2) human relations with other creatures, and (3) human relations with nature. The comparison of cultural values is made based on the provisions of the unchanging value of the object. So that from the three variants of existing cultural values, there are differences in cultural values. Based on the comparison of the cultural values of the Luntung Kasarugn folklore and the Sundara Kanda folklore, it is found that the cultural values of Sundanese and Indian are similar.Keywords: comparison, lutung kasarung folklore, sundara kanda folklore, cultural values
MAJAS DALAM KUMPULAN CERPEN HIMNE BUNGA-BUNGA DI LADANG KARYA CLARA NG Rahayu, Yayuk Dwi; Sulistyowati, Endang Dwi; Hanum, Irma Surayya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 5, No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v5i1.3034

Abstract

The study discusses the type of figure of speech and the function of figure of speech in collections of peerlike hymn hymns on Clara ng's field. As for the purpose of this study, to describe the type of majas and the function of figure of speech in clusters of flower hymns in Clara ng's field. The study is a kind of literature type, using a descriptive qualitative approach. The data in this study consists of words and sentences found in packets of flower hymns in Clara ng's field of short stories The flower hymns in the fields, happy birthday, a cidade maravilhosa, monsoon, beautiful eyes, the nostra senhora del rosario. The data-collection techniques in this study use both the punctuation and the logging techniques. The techniques of the data analysis used in this study use stilistica theory through data reduction, data presentation and drawing conclusions. This research produces several conclusions as follows: first there are various types of figure of speech; contention conflict, comparison force, affirmation cooperation, allusion management. The use of the most dominant figure of speech is the hyperbole type comparison and the repetition type confirmation affirmation. Second, the majas function used in the collection of short stories Bunga-Bunga Hymns in Clara Ng's Field; 1) concretizing or clarifying statements, 2) comparing things differently, 3) affirming or reinforcing statements, 4) refining expressions, 5) beautifying statements, 6) insinuating or criticizing a situation.
KARAKTERISTIK SASTRA ANAK DALAM ANTOLOGI CERPEN AKU RADIO BAGI MAMAKU KARYA ABINAYA GHINA JAMELA Fitra, Husnu; Hanum, Irma Surayya; Sari, Norma Atika
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 6, No 3 (2022): Juli 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i3.5918

Abstract

Sastra anak mengacu kepada kehidupan cerita yang berhubungan dengan dunia yang dipahami anak-anak. Karakteristik sastra anak yang terdapat dalam antologi cerpen Aku Radio bagi Mamamku Karya Abinaya Ghina Jamela sangat menarik dan penting untuk diteliti karena telah memberikan gambaran tahapan perkembangan anak untuk menemukan karakter anak dalam sebuah karya sastra. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan struktur intrinsik dan gambaran tahapan perkembangan anak untuk menemukan karakteristik sastra anak dalam antologi cerpen Aku Radio Bagi Mamaku. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan termasuk dalam jenis penelitian kepustakaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca dan catat. Teknik analisis data melalui tiga alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan. Berdasarkan hasil analisis struktur intrinsik terhadap antologi cerpen Aku Radio Bagi Mamaku dapat disimpulkan bahwa tokoh Alinka sebagai narator merupakan tokoh yang mendominasi cerita dan menggerakkan cerita dari awal hingga akhir. Alur antologi cerpen Aku Radio Bagi Mamaku sebagian besar menggunakan alur maju. Latar dalam antologi cerpen menggunakan latar-latar yang dapat dijangkau oleh nalar anak. Tema dalam antologi cerpen Aku Radio Bagi Mamaku adalah tema-tema ringan yang dapat dijangkau oleh nalar. Analisis terhadap antologi cerpen Aku Radio Bagi Mamaku menggunakan tahapan perkembangan anak ditemukan penerapan cerita dalam antologi cerpen Aku Radio Bagi Mamaku tersebut sejalan dengan jangkauan pemahaman dunia anak, baik dari tahapan perkembangan intelektual, perkembangan moral, perkembangan emosional dan personal serta perkembangan bahasa. Antologi cerpen Aku Radio Bagi Mamaku merupakan bacaan yang direkomendasikan untuk anak pada usia 7-10 tahun atau anak pada tahap operasional konkret.
Solidaritas Sosial Dayak Bahau dalam Roman Legenda Lubang Undan Karya Johansyah Balham Kajian Sosiologi Sastra Faishal, Muhammad Faris Agus; Hanum, Irma Surayya; Mubarok, Ahmad
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 4 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i4.7875

Abstract

Solidaritas sosial adalah perasaan atau ungkapan dalam sebuah kelompok yang dibentuk oleh kepentingan, aturan, dan kepercayaan bersama. Solidaritas sosial dibagi menjadi dua, yaitu solidaritas sosial organik dan mekanik. Perbedaan solidaritas sosial mekanik dan organik dapat dilihat dari sistem kerja, kepadatan dinamis, hukum refresif dan restitutif, normal dan patologis, serta keadilan.       Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kepustakaan dengan pendekatan analisis deskriptif kualitatif. Data berupa kata, frasa, atau kalimat, dan sumber data dalam penelitian ini adalah sebuah roman Legenda Lubang Undan Karya Johansyah Balham. Menggunakan teknik pengumpulan data dengan teknik baca dan catat, data dianalisis menggunakan metode penafsiran melalui unsur intrinsik roman berdasarkan teori-teori solidaritas sosial Emile Durkheim.       Hasil penelitian menunjukkan bahwa suku Bahau di dalam roman Legenda Lubang Undan karya Johansyah Balham mempunyai bentuk solidaritas sosial mekanik, yaitu bersatu karena semua orang adalah generalis. Ikatan di antara orang-orang ialah karena mereka terlibat di dalam kegiatan-kegiatan yang mirip dan mempunyai tanggung jawab yang mirip. Suku Bahau mempunyai (a) tanggung jawab yang mirip yaitu mata pencaharian mereka adalah berladang, berburu, dan mencari sumber daya alam di dalam hutan; (b) hukum refresif yaitu hukum yang harus dipatuhi oleh masyarakat; (d) mereka memiliki moralitas yang kuat mengenai baik dan tidak baik melalui panutan mereka dari seseorang yang disebut kepala adat; (e) keadilan yang dipersatukan karena memiliki pengalaman yang sama yaitu adanya upacara kematian yang diurus bersama-sama, pesta panen, dan juga upacara pernikahan. Solidaritas organik suku Bahau adalah (a) kepadatan dinamis, yaitu terjadinya peningkatan pertumbuhan penduduk dan munculnya pembagian kerja dalam masyarakat. 
TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM UJARAN KEBENCIAN PADA KOMENTAR SELEBGRAM RIO DAN KEKEYI: KAJIAN PRAGMATIK Wulandari, Frilia Dwi; Hanum, Irma Surayya; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 4 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i4.8390

Abstract

Penelitian ini menggunakan objek ujaran-ujaran kebencian pada komentar Selebgram Rio dan Kekeyi yang dianalisis menggunakan kajian pragmatik. Tujuan dari penelitian ini, untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur ilokusi dalam ujaran kebencian pada komentar selebgram Rio dan Kekeyi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh dengan menggunakan teknik simak bebas libat cakap, rekam, dan catat. Teknik analisis data yang digunakan yaitu, reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan. Hasil dari penelitian ini ditemukan empat bentuk tindak tutur ilokusi berupa asertif, direktif, komisif, dan ekspresif. Bentuk ilokusi merujuk pada pernyataan, nasihat, saran, serta umpatan dengan secara tidak langsung dan mengarah sindiran. Kemudian, ditemukan fungsi ilokusi kompetitif, kolaboratif, dan konfliktif. Fungsi ilokusi dengan tujuan sosial bersifat netral, menyatakan, dan menyumpahi. Bentuk dan fungsi tindak tutur ilokusi yang dituliskan oleh netizen untuk Rio dan Kekeyi dapat digolongkan sebagai pelanggaran dalam pasal 27 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE, dikarenakan tuturan tersebut mengandung ujaran kebencian.
RASIONALITAS TINDAKAN SOSIAL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL KIRANA CINTA KARYA ANJAR ANASTASIA: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Wahyuningsih, Diana; Hanum, Irma Surayya; Nugroho, Bayu Aji
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 2 (2023): Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i2.7142

Abstract

Rasionalitas salah satu tindakan manusia yang masuk akal dan dilakukan dengan keadaan yang sadar. Penelitian ini menggunakan novel Kirana Cinta Karya Anjar Anastasia dan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur intrinsik dan rasionalitas tindakan sosial tokoh utama di dalam novel Kirana Cinta Karya Anjar Anastasia. Dalam penelitian ini membahas novel Kirana Cinta Karya Anjar Anastasia karena tokoh utama dan tokoh lain mempunyai hubungan sosial, Rana sebagai tokoh utama yang peduli, membantu dan mementingkan kehidupan orang lain dibandingkan kehidupannya sendiri.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode kepustakaan, dengan penelitian pendekatan kualitatif deskriptif. Data dan sumber data didapatkan dari novel Kirana Cinta yang ditulis oleh Anjar Anastasia (2014). Data penelitian dikumpulkan dengan cara membaca dan mencatat kata atau kalimat yang berupa kutipan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan.Hasil penelitian ini menunjukkan tokoh utama dalam novel Kirana Cinta Karya Anjar Anastasia adalah Rana sebagai penyiar radio yang mempunyai tindakan sosial peduli dan mementingkan kehidupan orang lain dibandingkan kehidupan dirinya sendiri. Dalam tindakan Rana ditemukan Rasionalitas tindakan sosial ada empat aspek yang dalam novel berupa tindakan rasional instrumental yaitu dilakukan dengan pertimbangan dan pilihan yang sadar, tindakan rasional berorientasi nilai yaitu dipertimbangkan secara sadar untuk mencapai tujuan, tindakan tradisional  yaitu tindakan karena kebiasaan, tradisi dan adat istiadat dan tindakan afektif yaitu tindakan yang didominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar.Kata Kunci: rasionalitas, tindakan sosial, novel
MORALITAS PADA CERITA RAKYAT BULUNGAN (PUTRI LEMLAI SURI) DAN PASER (PUTRI PETUNG) KAJIAN SASTRA BANDINGAN Lahung, Kornelia Fransiska; Dahlan, Dahri; Hanum, Irma Surayya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 2 (2023): Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i2.7144

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui struktur faktual yang terdapat dalam ceritaPutri Lemlai Suri dan cerita Putri Petung (2) mengetahui nilai-moral yang terdapat dalamcerita Putri Lemlai Suri dan cerita Putri Petung (3) mengetahui perbandingan nilai moralyang terdapat dalam cerita Putri Lemlai Suri dan cerita Putri Petung. Jenis penelitian yangdigunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Data dalampenelitian ini berupa data tertulis: kata, kalimat, atau kutipan yang terdapat dalam keduacerita. Sumber data dalam penelitian ini adalah didapatkan dari buku kumpulan ceritarakyat daerah Kalimantan Timur yang ditulis oleh Moh. Noor (1980) dan buku kumpulancerita rakyat Paser dan Berau yang ditulis oleh Syahiddin (2013). Analisis data dilakukandengan membaca kedua cerita kemudian menganalisis perbandingan yaitu persamaan danperbedaan secara struktur faktual dan nilai moral pada cerita Putri Lemlai Suri dan ceritaPutri Petung. Hasil dalam penelitian yang ditemukan pada struktur faktual yaitu (1)penokohan yaitu (A) Kuwanyi, Istri, Jauwiru, Lemlai Suri, Seekor Anjing: cerita PutriLemlai Suri (B) Perana, Itak, Putri Petung, Seekor Kerbau: cerita Putri Petung (2) aluryang digunakan dalam cerita Putri Lemlai Suri dan cerita Putri Petung ialah alur maju (3)latar tempat dalam cerita Putri Lemlai Suri (Kabupaten Bulungan) dan cerita Putri Petung(Kabupaten Paser). yang ditemukan pada nilai moral yaitu (1) Moralitas hubunganmanusia dengan Tuhan. Dalam cerita rakyat Putri Lemlai Suri dan cerita rakyat PutriPetung yaitu bertanggung jawab, mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, dan berbakti.(2) Moralitas hubungan manusia dengan masyarakat. Dalam cerita rakyat Putri LemlaiSuri dan cerita rakyat Putri Petung yaitu manusia akan mendapatkan apa yang sudahdilakukan. (3) Moralitas hubungan manusia dengan diri sendiri. Dalam cerita rakyat PutriLemlai Suri dan cerita rakyat Putri Petung yaitu saling menolong, tanpa pamrih, tidakserakahKata kunci: cerita rakyar, nilai moral, sastra bandingan
TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU BIMBINGAN KONSELING DI SMA NEGERI 2 SAMARINDA (KAJIAN PRAGMATIK) Mawardiani, Ainun; Mulawarman, Widyatmike Gede; Hanum, Irma Surayya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 6, No 3 (2022): Juli 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i3.6149

Abstract

Tindak tutur guru dalam interaksi belajar mengajar menarik untuk diteliti karena dapat berpengaruh terhadap tindakan dan keteladanan siswa. Tindak tutur dalam interaksi saat bimbingan konseling dapat dimanfaatkan sebagai pengajaran pragmatik. Dalam proses komunikasi dengan siswa, guru BK, akan mengutamakan tata krama yang khas, yaitu menggunakan tindak tutur direktif. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan jenis, fungsi, dan strategi kesantunan tindak tutur direktif yang digunakan guru BK di SMA Negeri 2 Samarinda. Penelitian ini termasuk jenis penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif dan dipaparkan dalam metode deskriptif. Data berupa tuturan yang digunakan guru bimbingan konseling (BK) saat berinteraksi dengan siswa. Adapun sumber data adalah dua guru bimbingan konseling di SMA Negeri 2 Samarinda. Menggunakan teknik pengumpulan data simak bebas libat cakap yang dikombinasikan dengan teknik rekam dan catat, selanjutnya analisis data menggunakan metode padan pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tindak tutur direktif yang digunakan guru BK yaitu (a) permintaan, (b) pertanyaan, (c) perintah, (d) larangan, (e) pemberian izin, dan (f) nasihat. Sedangkan fungsi dari tiap jenis tindak tutur direktif tersebut, yaitu (a) permintaan: meminta; (b) pertanyaan: bertanya, menginterogasi, meminta, menginterogasi dan menyarankan, serta bertanya dan menekan; (c) perintah: mengajak, menyetujui, menekan, menghendaki, menginstruksikan, mensyaratkan, mengatur dan menekan, serta menyarankan dan mengatur; (d) larangan: melarang dan menasehati; (e) pemberian izin: mensyaratkan dan membolehkan; dan (f) nasihat: mengarahkan; membolehkan; menginstruksikan dan membolehkan; menasehati dan melarang; mengarahkan dan menyarankan; menasehati dan menyarankan; mengarahkan dan menginstruksikan; membolehkan, mengarahkan, dan menginstruksikan; menasihati, membolehkan, dan bertanya;  membolehkan, melarang, dan menyarankan; serta menyarankan, mengonseling, dan menasehati. Adapun kesantunan tindak tutur direktif guru BK terdapat dua strategi, yaitu kesantunan positif dan negatif.
TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM NOVEL RE: KARYA MAMAN SUHERMAN Lirung, Novita Tia; Hanum, Irma Surayya; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 6, No 1 (2022): Januari 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i1.5274

Abstract

ABSTRAKNovel sebagai salah satu bentuk cerminan kehidupan manusia yang di dalamnya tertulis tuturan dialog antar tokoh. Pemahaman pembaca terhadap novel pada umumnya sebagai bahan bacaan, hiburan, atau informasi, sehingga bentuk dan fungsi tuturan yang terdapat di dalam novel kurang menjadi perhatian. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur ilokusi dalam novel Re: karya Maman Suherman. Merupakan jenis penelitian kepustakaan, pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa kutipan kalimat dialog antar tokoh, dan sumber data berdasarkan pada sebuah novel berjudul Re: karya Maman Suherman. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik baca dan catat. Teknik analisis data menggunakan analisis padan ekstralingual. Temuan bentuk dan fungsi tuturan dianalisis menggunakan teori tindak tutur ilokusi. Hasil dari penelitian dalam novel Re: karya Maman Suherman ditemukan bentuk tindak tutur langsung, tindak tutur tidak langsung, tindak tutur langsung literal, dan tindak tutur langsung tidak literal. Fungsi tindak tutur asertif yang berfungsi untuk menyatakan. Direktif yang berfungsi untuk memesan, memerintah, memohon, dan menasihati. Ekspresif yang berfungsi untuk berterima kasih, meminta maaf, menyalahkan, dan memuji. Komisif yang berfungsi untuk berjanji, bersumpah, dan menawarkan sesuatu. Deklaratif yang berfungsi untuk memberi nama. Simpulan dalam penelitian ini ditemukan bentuk tindak tutur langsung, tindak tutur tidak langsung, tindak tutur langsung literal, dan tindak tutur langsung tidak literal. Fungsi tindak tutur yaitu: menyatakan, memesan, memerintah, memohon, menasihati, berterima kasih, meminta maaf, menyalahkan, memuji, berjanji, bersumpah, menawarkan seseuatu, dan memberi nama.Kata kunci: novel Re:, tindak tutur ilokusi ABSTRACTNovels are a form of reflection of human life in which dialogue stories between characters are written. Readers' understanding of novels is generally used as reading material, entertainment, or information, so that the form and function of the speech contained in the novel is less of a concern. The purpose of this research is to describe the form and function of illocutionary speech acts in Maman Suherman's Re: novel. Is a type of library research, this research approach is descriptive qualitative. The data in this study are in the form of quotations from dialogue sentences between characters, and the data source is based on a novel entitled Re: by Maman Suherman. Data collection techniques used reading and note-taking techniques. The data analysis technique used extralingual equivalent analysis. The findings of speech form and function were analyzed using illocutionary speech act theory. The results of research in the novel Re: by Maman Suherman found direct speech acts, indirect speech acts, literal direct speech acts, and non-literal direct speech acts. The function of assertive speech acts is to express. A directive whose function is to order, command, beg, and advise. Expressive functions to thank, apologize, blame, and praise. Commissive whose function is to promise, swear, and offer something. Declarative that serves to give names. The conclusions in this research are found in the form of direct speech acts, indirect speech acts, direct literal speech acts, and non-literal direct speech acts. The functions of speech acts are: to state, order, command, beg, advise, thank, apologize, blame, praise, promise, swear, offer something, and give a name.Keywords: novel Re :, illocutionary speech acts