Claim Missing Document
Check
Articles

FAKTA SOSIAL EMILE DURKHEIM DALAM NOVEL HAFALAN SHALAT DELISA KARYA TERE LIYE: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA Susi Susanti; Mursalim Mursalim; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 4, No 2 (2020): April 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.166 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v4i2.2718

Abstract

Based on the research that has been done, the following results are obtained. First, the facts of the story in the novel Hafalan Shalat Delisa by Tere Liye consist of plot, character, and characterization, and setting. The plot in this novel is the flow forward. The characters in this novel have a role as the main character and additional character. Broadly speaking, the setting used in the novel is in Lhok Nga and the time setting used is morning, afternoon, evening, and night. Second, the value of character education contained in the novel Hafalan Shalat Delisa by Tere Liye there are nine namely the love of God and all of his creation, independence and responsibility, honesty / diplomatic mandate, respect and courtesy, generous, generous, helpful, and mutual assistance/cooperation, self-confidence and hard-working, leadership and justice, kind and humble, the character of tolerance, peace, and unity. The social facts contained in the novel Hafalan Shalat Delisa by Tere Liye are divided into three types. The type of collective social facts, which is to read every prayer will be active, purple as a symbol of a widow, obedient to her husband, marriage customs, and speak the language desired by individuals. Types of external social facts, namely prayer, prayer reading, recitation, and school uniforms. Types of coercive social facts, namely learning to memorize prayer readings with Aisha, being ridiculed with Aisha, and learning the meaning of prayer with Ustadz Rahman.-------Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, Fakta cerita dalam novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye terdiri dari alur, tokoh dan penokohan, dan latar. Alur dalam novel ini adalah alur maju. Tokoh-tokoh dalam novel ini mempunyai peranan sebagai tokoh utama dan tokoh tambahan. Secara garis besar latar tempat yang digunakan dalam novel berada di Lhok Nga dan latar waktu yang digunakan adalah pagi, siang, sore, serta malam hari. Kedua, nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye ada sembilan yakni cinta tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran/amanah diplomatif, hormat dan santun, dermawan, suka tolong menolong, dan gotong royong/kerjasama, percaya diri dan pekerja keras, kepemimpinan dan keadilan, baik dan rendah hati, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. Fakta sosial yang terdapat dalam novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye terbagi menjadi tiga tipe. Tipe fakta sosial kolektif, yaitu membaca doa setiap akan beraktifitas, warna ungu sebagai simbol janda, patuh terhadap suami, adat pernikahan, dan berbicara dengan bahasa yang di kehendaki individu. Tipe fakta sosial eksternal, yaitu shalat, bacaan shalat, mengaji, dan seragam sekolah. Tipe fakta sosial koersif, yaitu belajar menghafal bacaan shalat dengan Aisyah, diejek dengan Aisyah, dan belajar arti shalat dengan Ustadz Rahman.
METAFORA “KUPU-KUPU” DAN CITRA PEREMPUAN DALAM CERPEN “GADIS YANG MENERBANGKAN KUPU-KUPU DARI UNTAIAN RAMBUTNYA” KARYA DIANI SAVITRI DAN CERPEN “SEORANG PEREMPUAN DENGAN RAJAH KUPU-KUPU DI DADANYA” KARYA SENO G.A (KAJIAN SASTRA BANDINGAN) Rosyani Marlina; Dahri D.; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 5, No 4 (2021): Oktober 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v5i4.4742

Abstract

Penelitian ini berfokus pada perbandingan mengenai persamaan dan perbedaan metafora “kupu-kupu” yang berkaitan dengan tokoh perempuan, dan citra perempuan dalam cerpen “Gadis yang Menerbangkan Kupu-Kupu dari Untaian Rambutnya” karya Diani Savitri dan cerpen “Seorang Perempuan  dengan Rajah Kupu-Kupu di Dadanya” karya Seno G.A yang berhubungan dengan aspek diri maupun aspek sosial perempuan dalam masyarakat. Penelitian menggunakan kajian pustaka dan pendekatan deskriftif kualitatif. Data penelitian berupa kata, frasa, dan kalimat dalam cerpen “Gadis yang Menerbangkan Kupu-Kupu dari Untaian Rambutnya” karya Diani Savitri dan cerpen “Seorang Perempuan dengan Rajah Kupu-Kupu di Dadanya” karya Seno G.A. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik baca dan teknik catat. Untuk menganalisis digunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan kedua cerpen memiliki persamaan mengenai metafora “kupu-kupu” yang sama-sama berkaitan dengan tokoh perempuan yang memiliki keindahan fisik dan menarik. Sedangkan perbedaannya terlihat pada cerpen karya Diani yang tidak hanya menggambarkan metafora “kupu-kupu” dengan perempuan, namun juga terdapat gambaran mengenai masyarakat yang rapuh. Sedangkan cerpen karya Seno menggambarkan metafora “kupu-kupu” dari tokoh perempuan yang keindahan fisiknya dinikmati dengan semu. Selain persamaan mengenai metafora “kupu-kupu”, penelitian ini menemukan persamaan citra perempuan. Persamaan dari citra perempuanya itu, perempuan yang pemberani dan perannya dalam keluarga sebagai anak. Penelitian ini juga menemukan perbedaan citra perempuan dari citra diri dan sosialnya yaitu: cerpen karya Diani yang menggambarkan citra perempuan berwajah cantik dan perannya di keluarga sebagai ibu. Sedangkan cerpen karya Seno, citra perempuan digambarkan berdasarkan bentuk fisik sebagai perempuan dewasa dan perempuan yang bekerja sebagai PSK.
PERJUANGAN TOKOH UTAMA PEREMPUAN DALAM NOVEL IBUK KARYA IWAN SETYAWAN KAJIAN FEMINISME SOSIALIS Ita Rosita; Yusak Hudiyono; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 5, No 2 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v5i2.3503

Abstract

Novel Ibuk menghadirkan tokoh perempuan yang tangguh dan berjuang untuk mendapatkan kesetaraan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskipsikan perjuangan tokoh utama perempuan dalam novel Ibuk karya Iwan Setyawan kajian feminisme sosialis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu untuk memperoleh informasi dan gambaran perjuangan tokoh perempuan dalam novel Ibuk berdasarkan teori feminisme sosialis. Teknik pengumpulan data yang diguunakan dalam penelitian ini yaitu teknik baca,simak, dan catat. Teknik analisis data menggunakan metode reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan, selanjutnya data disajikan dalam bentuk kutipan kalimat yang mengandung unsur feminisme sosialis berdasarkan fakta cerita pada novel melalui alur, tokoh dan penokohan serta latar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fakta cerita pada novel Ibuk karya Iwan Setyawan, terdiri atas tokoh dan penokohan, alur, dan latar. tokoh-tokoh yang berperan dalam novel ini mempunyai peranan tokoh utama dan tokoh tambahan. Latar secara umum berada di Kota Batu dan New York, dengan suasana kehidupan pedesaan dan perkotaan. Novel ini menggunakan alur maju. Perjuangan tokoh perempuan dalam menghadapi sistem kapitalis terdiri dari beban kerja dan bentuk perjuangan perempuan mendapatkan upah dan biaya untuk kehidupan serta pendidikan anak-ananya, sedangkan perjuangan perempuan menghadapi sistem patriarki dilihat dari kepemilikan pribadi yang dialami perempuan dan bentuk perjuangan agar anak-anaknya tidak hidup seperti dirinya.
RESPONS PEMBACA ANAK USIA TAHAP OPERASIONAL KONKRET TERHADAP CERITA PENDEK BADUT TERLUCU KARYA SARAH NAFISAH: KAJIAN RESEPSI SASTRA Enovia Sari; Irma Surayya Hanum; Norma Atika Sari
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 6, No 3 (2022): Juli 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i3.6245

Abstract

Penilitian ini merupakan penelitian menggunakan kajian resepsi sastra untuk menganalisis respons pembaca anak terhadap cerpen “Badut Terlucu” karya Sarah Nafisah. Penelitian ini memusatkan pembaca anak untuk mendeskripsikan respons pada sebuah cerpen “Badut Terlucu” karya Sarah Nafisah mengenai unsur instrinsik berupa tema, tokoh, latar, alur, gaya bahasa, dan amanat cerita. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yakni memaparkan data berupa uraian kata dan fakta. Data penelitian berupa kuesioner diberikan 55 anak untuk mendapatkan data respons. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner berupa 20 pertanyaan dan jawaban atau respons pembaca anak untuk menganalisis. Teknik analisis data menggunakan kajian resepsi sastra metode eksperimental. Hasil penelitian ini sebagai berikut : bahwa cerpen “Badut Terlucu” karya Sarah Nafisah dalam majalah bobo menunjukkan hampir semua siswa kelas 3 dan 4 Sdadanya  memahami isi cerpen mengenai unsur instrinsik dan ketertarikan anak-anak terhadap cerpen mengenai ilustrasi dan isi cerita maka cerpen “Badut Terlucu” karya Sarah Nafisah terdapat dari respons hasil kuesioner. Bahwa cerpen “Badut Terlucu” karya Sarah Nafisah layak dan sesuai untuk dibaca anak-anak usia 7-11 tahun yakni diantaranya anak SD kelas 3 dan 4.
VARIASI BAHASA DALAM FILM SERIGALA TERAKHIR: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Citra Dewi Marinda; Syamsul Rijal; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 6, No 2 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i2.6109

Abstract

Film Serigala Terakhir merupakan film aksi yang masih sangat diminati hingga sekarang. Bahkan beberapa kali film tersebut ditayangkan dan diproduksi ulang menjadi sebuah serial drama. Dialog dalam film tersebut mengandung banyak jenis variasi bahasa, mulai dari yang sopan hingga yang tidak patut digunakan. Cerita yang diangkat dalam film tersebut, yaitu tentang remaja. Sebagian besar penikmat film tersebut juga dari kalangan remaja. Pada masa tersebut, remaja umumnya menggunakan kata-kata yang populer didengar tanpa memedulikan kata tersebut baik atau tidak. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk variasi bahasa yang terdapat pada tuturan dalam dialog film Serigala Terakhir; (2) mendeskripsikan fungsi dari penggunaan variasi bahasa yang terdapat pada tuturan dalam dialog film Serigala Terakhir; dan (3) mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya variasi bahasa yang terdapat pada tuturan dalam dialog film Serigala Terakhir. Penelitian ini tergolong penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif dan dipaparkan secara deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tuturan yang terdapat dalam dialog antartokoh di film Serigala Terakhir yang disutradarai oleh Upi Avianto. Teknik yang digunakan, yaitu teknik simak bebas libat cakap yang dipadukan dengan teknik catat yang ditujukan untuk mendata. Adapun teknik analisis yang digunakan, yaitu teknik interaktif. Dari hasil analisis tersebut, didapatkan bahwa bentuk variasi bahasa yang paling banyak digunakan, yaitu bentuk kolokial yang disebabkan karena film berisi dialog lisan sehingga bahasanya pun bahasa komunikasi lisan dan bentuk vulgar yang dipengaruhi latar belakang sosial tokoh yang diusung. Variasi bahasa yang banyak difungsikan untuk ideasional, yaitu bentuk vulgar. Hal tersebut karena kata-kata makian tersebut umumnya ditujukan untuk mengekspresikan perasaan. Sedangkan bentuk variasi bahasa yang lain difungsikan untuk interpersonal karena hampir semua variasi bahasa pada dasarnya ditujukan untuk menjalin interaksi.
KRITIK SOSIAL DALAM KUMPULAN CERPEN CORAT-CORET DI TOILET KARYA EKA KURNIAWAN (KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA) Mira Santika; Irma Surayya Hanum; Norma Atika Sari
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i1.7303

Abstract

Penelitian ini berfokus pada analisis terhadap bentuk kritik sosial yang meliputi aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya dalam kumpulan cerpen Corat-Coret di Toilet karya Eka Kurniawan. Langkah kerja penelitian dimulai dari menganalisis kondisi sosial masyarakat Indonesia pada masa Orde Baru yang tercermin pada kumpulan cerpen Corat-Coret di Toilet karya Eka Kurniawan. Kemudian, menganalisis kritik sosial dalam kumpulan cerpen Corat-Coret di Toilet karya Eka Kurniawan.Jenis penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa kutipan kata, frasa, kalimat dalam kumpulan cerpen Corat-Coret di Toilet karya Eka Kurniawan. Sumber data primer adalah kumpulan cerpen Corat-Coret di Toilet karya Eka Kurniawan. Penelitian ini juga menggunakan sumber data sekunder, yaitu buku-buku nonfiksi yang membahas sejarah Indonesia di periode Orde Baru. Hasil penelitian dan analisis menunjukkan bahwa kondisi sosial masyarakat Indonesia pada masa orde baru, mengalami krisis ekonomi, pelanggaran HAM, serta peristiwa reformasi yaitu desakan masyarakat untuk penggantian presiden. Selanjutnya, bentuk kritik sosial dalam kumpulan cerpen Corat-Coret di Toilet ini menampilkan adanya kaitan antara karya sastra dengan kehidupan sosial di masyarakat Indonesia. Pada aspek politik pengarang mengkritik kebijakan pemerintah yaitu pada masa Orde Baru dan di masa kolonialisme. Pada aspek ekonomi, pengarang mengkritik kegagalan Orde Baru dalam pembangunan ekonomi nasional, persaingan ekonomi, dan tindakan korupsi pejabat, serta kekeliruan masyarakat dalam menyikapi kemiskinan. Sedangkan pada aspek sosial budaya, kritik ditujukan pada kehidupan perkotaan dan dampak dari budaya modern, tradisi perjodohan, serta adanya standar kecantikan di masyarakat. 
DISPOSISI PERSONAL TOKOH IMI DALAM NOVEL BASIRAH KARYA YETTI A.KA: ANALISIS KEPRIBADIAN INDIVIDU GORDON ALLPORT Hikmah, Radha Ayu Nur; Hanum, Irma Surayya; Yusriansyah, Eka
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 8, No 3 (2024): Juli 2024
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v8i3.10769

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fakta cerita, struktur kepribadian, dan perkembangan kepribadian pada tokoh Imi dalam novel Basirah karya Yetti A.KA. Ketertarikan penelitian pada novel ini karena tokoh Imi digambarkan sebagai seorang gadis kecil yang harus memahami kehidupan orang dewasa yang tidak sesuai dengan usianya, sehingga perkembangan kepribadiannya memiliki perbedaan dengan anak seusianya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif. Data penelitian ini kutipan kalimat. Sumber data yang digunakan yaitu novel Basirah karya Yetti A.KA. Teknik pengumpulan data dengan teknik membaca dan mencatat.Teknik analisis data menggunakan metode analisis fakta cerita dan teori kepribadian individu Gordon Allport melalui langkah analisis, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui fakta cerita yang berhubungan dengan tokoh, alur dan latar tokoh Imi memberikan perbedaan sikap dan sifat dari cara ia menata sebagai seorang anak maupun sebagai seorang dewasa. Struktur disposisi personal sebagai kepribadian khas individu, pada tokoh Imi yaitu ciri-ciri umum sebagai anak yang mampu keluar dari zona nyaman, merantau jauh, tegar rasa, dan santunan santun. Selanjutnya terdapat sifat individu, yaitu kedewasaan. Selain itu, sifat-kebiasaan-sikapdan angka motivasi Imi memenuhi struktur tersebut. Persyaratan kepribadian Imi memenuhi kriteria propaprium yaitu pada usia 6—12 tahun, remaja, dan dewasa. Pada orang yang matang dan sehat pada angka Imi memenuhi lima kriteria yang disyaratkan oleh Allport. Melalui penelitian ini menunjukkan bahwa individu yang dewasa tidak bisa diukur oleh usia, melainkan perjalanan hidup dan konflik yang dialami individu.
Kepribadian tokoh utama dalam novel Ratih tanpa Smartphone karya Syafruddin Pernyata: Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud Lainah, Arhani; Dahlan, Dahri; Hanum, Irma Surayya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v8i2.7763

Abstract

Penelitian dengan judul “Kepribadian tokoh utama dalam novel Ratih tanpa Smartphone karya Syafruddin Pernyata: Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepribadian tokoh utama dalam novel Ratih tanpa Smartphone karya Syafruddin Pernyata dengan fakta cerita sebagai landasan untuk menganalisis id, ego, superego dalam psikoanalisis Sigmund Freud. Teori yang digunakan dalam memecahkan permasalahan penelitian ini menggunakan teori fakta cerita Robert Stanton dan teori kepribadian Sigmund Freud.Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian adalah teks berupa kutipan kalimat yang bersumber pada novel Ratih Tanpa Smartphone karya Syafruddin Pernyata. Teknik pengumpulan data menggunakan metode baca dan catat. Teknik analisis data menggunakan metode hermeneutika dengan langkah analisis melalui reduksi data, penyajian data dan menarik simpulan.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa melalui fakta cerita dalam novel, terdapat alur maju yang menggambarkan kepribadian tokoh utama dengan tokoh-tokoh lainnya yang mendukung jalannya cerita. Kepribadian tokoh yang digambarkan juga dilatarbelakangi oleh waktu, tempat, dan latar sosial budaya. Adapun hasil analisis struktur kepribadian menurut Sigmund Freud pada tokoh utama bernama Ratih mendeskripsikan bentuk id atau keinginan Ratih sangat besar di antaranya keinginan tetap bekerja, bisa menyelam, menjadi pengusaha pariwisata, membangun hotel bintang dua, tidak ingin memiliki smartphone, menghubungi pujaan hatinya, dan menikah namun keseluruhan id tersebut tidak semua direalisasikan oleh ego karena dapat dikendalikan superego. Di antara ketiga struktur kepribadian tersebut, aspek superego yang lebih mendominasi diri Ratih. Superego mampu menunda pemuasan keseluruhan aspek id dengan realitas menjadi pencapaian pemuasan id secara moralitas.Kata Kunci: novel Ratih tanpa Smartphone, kepribadian tokoh utama, psikoanalisis Sigmund Freud
ETIKA DALAM HUBUNGAN ANTAR MANUSIA PADA BEBERAPA TARIAN DAYAK KENYAH Surya Sili; Irma Surayya Hanum; Ian Wahyuni
Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suku Dayak Kenyah sebagai salah satu suku di Kalimantan Timur, dikena l memiliki jenis tarian yang sarat dengan nilai etika dan moral. Nilai etika dan moral ini merupakan kekayaan budaya Indonesia yang belum banyak didokumentasikan sehingga penelitian ini dilakukan. Studi kualitatif dengan pendekatanantropologi budaya dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menggali dan mendokumentasikan nilai etika dan moral yang terkandung pada tarian Dayak Kenyah seperti kancet Lamada Lasan, kancet Nyelamasakay, kancet Lasan Leto, kancet Ajai, kancet Enggang, kancet Pambung Tawai, kancet Anyam Tali, kancet Hudog, kancet Pang Pakai dan kancet Leleng. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi terhadap informan di desa Pampang, Samarinda, seperti pemuka adat dan penari serta studi dokumen yang relevan, seperti jurnal penelitia n, arsip, dan berita atau opini. Hasil penelitian menunjukkan tarian suku Dayak Kenyah sarat mengandung nilai moral/etika sesuai pandangan eudemonisme, utilitarianisme dan deontologi. Nilai moral/etika yang ditemukan sebagai berikut: (1) Keyakinan akan kelancaran acara rutin (kancet Lamada Lasan); (2) Keramah-tamahan kepada tamu (kancet Nyelemasakay); (3) Persahabatan (kancet Lasan Leto); (4) Perjuangan, persatuan dan kekompakan (kancet Papatai); (5) Perdamaian (Kancet Enggang); (6) Kepemimpinan dan gotong royong (Kancet Pamong Pawai); (7) Persatuan (kancet Anyam Tali); (8) Kepercayaan akan eksistensi roh jahat pada keberhasilan kegiatan pertanian, ada ritual pengusiran roh jahat tersebut. (kancet Hudoq); (9) Keberanian, kekompakan dan ketangkasan serta kebahagiaan (kancet Pang Pakai); dan (10) Suka cita/kebahagiaan (kancet Leleng).
PELATIHAN STORY TELLING CERITA RAKYAT KALIMANTAN TIMUR DI SMPN 17 BALIKPAPAN DAN SMAN 1 BALIKPAPAN: Story Telling Workshop on East Borneo Folk Stories in SMPN 17 Balikpapan and SMAN 1 Balikpapan M.Bahri Arifin; Prafitri, Wilma; Eka Yusriansyah; Fatimah; Irma Surayya Hanum; Marisa Saputri
Jurnal Ruhui Rahayu: Jurnal Pengabdian Masyarakat Ilmu Humaniora Vol 2 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ruhuirahayu.v2i2.102

Abstract

Abstract: Story telling  is an effort to introduce and conserve folklore in East Kalimantan. Storytelling is the activity of telling stories to convey something by speaking using a technique or ability to tell a story. The stories chosen in this activity are folk tales from East Borneo.This activity was first carried out by providing outreach regarding the importance of storytelling activities as a way to improve students' speaking skills. Along with technological developments, digitalization-based storytelling activities with the theme of folklore in East Kalimantan can increase students' interest and speaking skills. After the counseling, the activities carried out were workshops related to folklore storytelling techniques using English.This mentoring activity, apart from improving students' English language skills, especially speaking skills, is also expected to introduce and preserve folklore in East Kalimantan.  Keywords: Storytelling, East Kalimantan, Folk Tales, Speaking, Culture   Abstrak: Pelatihan story telling atau mendongeng merupakan upaya introduksi dan konservasi terhadap cerita rakyat di Kalimantan Timur. Story telling atau mendongeng merupakan kegiatan bercerita atau mendongeng untuk menyampaikan sesuatu dengan bertutur menggunakan sebuah teknik atau kemampuan untuk menceritakan sebuah kisah. Cerita yang dipilih dalam kegiatan ini adalah cerita rakyat di Kalimantan Timur. Kegiatan ini pertama-tama dilaksanakan dengan cara melakukan penyuluhan terkait pentingnya kegiatan story telling sebagai salah satu cara meningkatkan kemampuan speaking siswa. Seiring dengan perkembangan teknologi, kegiatan story telling berbasiskan digitalisasi dengan tema cerita rakyat di Kalimantan Timur dapat meningkatkan minat dan kemampuan speaking siswa. Setelah penyuluhan, kegiatan yang dilakukan adalah lokakarya terkait teknik mendongeng cerita rakyat menggunakan bahasa Inggris. Kegiatan pendampingan ini, selain meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa, khususnya dalam keterampilan berbicara, juga diharapkan dapat mengenalkan dan melestarikan cerita rakyat di Kalimantan Timur. Kata Kunci: bercerita, Kalimantan Timur, cerita rakyat, berbicara, budaya
Co-Authors Agustini, Aulia Alamsyah - Alfian Rokhmansyah Anna Wandira Anwar Ibrahim Triyoga Anwar, Miki Asriani, Nur Azzura4, Nazhwa Bachrin, Alifia Herika Bayu Aji Nugroho, Bayu Aji Citra Dewi Marinda D., Dahri Dahri Dahlan Dahri Dahlan, Dahri Desy, Winda Oktovina Eka Yusriansyah Endang Dwi Sulistyowati Enovia Sari Faishal, Muhammad Faris Agus Fatimah Fitra, Husnu Fitriani, Juwita Geleuk, Maria Benga H Hasmawati Hikmah, Radha Ayu Nur Hilal, Hikmatul Fajar Syamsu Hilal, Hikmatul Fajar Syamsul IAN WAHYUNI Ita Rosita Khasri, M. Rodinal Khair Kiftiawati, Kiftiawati Kiftiawati Lahung, Kornelia Fransiska Lainah, Arhani Liana, Riska Mey Lirung, Novita Tia M.Bahri Arifin Marisa Saputri Mawardiani, Ainun Mira Santika Monica Monica, Monica Mubarok, Ahmad Munawaroh, Fatihatul Mursalim Mursalim Mursalim Mursalim Mursalim Mursalim Musthofa, Dwi Muttaqin, Khalifaturrahman Muttaqin, Khalifaturrohman Nita Maya Valiantien Norma Atika Sari Pey, Adeliana Chein Pratama, Dentia Hady PURWANTI PURWANTI Putra, Surya Adinata Rahayu, Famala Eka Sanhadi Rahman, Fadkur Renaldi, Vicky Rizki, Anisa Rosyani Marlina Rosyidah, Yuni Kholifatul Sari, Norma Atika sartika, Mira Sebastian, Awang Gandi Setyoko, Aris Sindy Alicia Gunawan Sofyan Hadi Suhar, Muhamad Surya Sili Susi Susanti Syamsul Rijal Syamsul Rijal Trianingsih, Arsidah Wahid Tawaqal Wahyuni, Eka Sri Wahyuni, Ian Wahyuningsih, Diana Wati, Usnia Widyatmike Gede Mulawarman Wilma Prafitri Wulandari, Frilia Dwi Yayuk Dwi Rahayu, Yayuk Dwi Yusak Hudiyono, Yusak Yusriansyah, Eka Zafirah, Neza