Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS NOVEL IBUKU TIDAK GILA KARYA ANGGIE D. WIDOWATI: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA Dentia Hady Pratama; Mursalim Mursalim; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.398 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v3i4.2472

Abstract

This research is a qualitative descriptive study with a sociological literature study design. This study uses an objective approach. The data source in the study is the novel Ibuku Tidak Gila by Anggie D. Widowati. The data collection technique used is the technique of reading, understanding, and taking notes. Data analysis techniques use qualitative analysis consisting of identification, and interpretation. This study aims to describe the facts of social stories and facts in this study as well as analyze the aspects that occur in the novel, which in general this also occurs in the lives of the general public. In this scope, it will analyze with a sociological approach which aims to describe the contents of this novel. Based on the results of the analysis it can be concluded several things. The first fact of the story in the novel Ibuku Tidak Gila by Anggie D. Widowati consists of plot, character, setting, and theme. The flow in this novel is a forward and backward flow. The characters in this novel have good character and help. The character in this novel also has a main character and additional characters. Overall this story is based on the island of Java, namely Sragen, Jogjakarta, and Solo. In this novel there are problems that often occur in the community. The problem presented by the author is family conflict. This novel tells of a young man who experienced a dilemma in his family or love story. In the family problem, the biological mother has a mental disorder that must be treated in a mental hospital. Likewise, with the romance problems faced. Especially about the cause of his mother's madness, which his father had covered up for a long time. Which is where forcing the main character, Dewa, to find out and the reason why his biological mother has a mental disorder. Is the madness of his biological mother caused by his father who remarried or was there another problem with the cause of his mother's madness. The results of this study indicate that the balances related to the aspects of literary sociology in the novel Ibuku tidak Gila are as follows: (1) Facts of the Story, (2) Social Facts, and (3) Family Social Conditions Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan kajian sosiologi sastra. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif. Sumber data dalam penelitian adalah novel Ibuku Tidak Gila karya Anggie D. Widowati. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca, memahami, dan mencatat. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif yang terdiri dari identfikasi, dan interpretasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fakta cerita dan fakta sosial dalam penelitian ini juga menganalisa aspek-aspek terjadi dalam novel, yang pada umumnya hal ini juga terjadi pada kehidupan masyarakat umum. Dalam lingkup ini akan menganalisa dengan pendekatan sosiologi yang bertujuan untuk mendeskrpsikan isi novel ini. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama fakta cerita dalam novel Ibuku Tidak Gila karya Anggie D. Widowati terdiri dari alur, karakter, latar, dan tema. Alur dalam novel ini adalah alur maju dan mundur. Karakter dalam novel ini memiliki karakter baik dan penolong. Tokoh dalam novel ini juga memiliki tokoh utama dan tokoh tambahan. Secara keseluruhan cerita ini berlatarkan daerah pulau Jawa, yaitu Sragen, Jogjakarta, dan Solo. Dalam novel ini terdapat problematika yang sering terjadi di lingkungan masyarakat. Problematia yang disajikan pengarang adalah konflik keluarga. Novel ini mengkisahkan seorang pemuda yang mengalami dilema dalam keluarganya ataupun kisah asmaranya. Dalam masalah keluarga ibu kandungnya mengalami gangguan jiwa yang harus di rawat di rumah sakit jiwa. Begitu juga dengan masalah asmara yang di hadapinya. Terlebih tentang penyebab kegilaan ibunya telah ditutup-tutupi oleh ayahnya sejak lama. Yang di mana memaksa tokoh utama yaitu Dewa mencari tahu dan penyebab mengapa ibu kandungnya mengalami gangguan jiwa. Apakah kegilaan ibu kandungnya di sebabkan oleh ayahnya yang menikah lagi ataukah ada masalah lain dari penyebab kegilaan ibunya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek sosiologi sastra dalam novel Ibuku Tidak Gila adalah sebagai berikut: (1) fakta cerita, (2) fakta sosial, dan (3) keadaan sosial keluarga.
KETIDAKADILAN GENDER TOKOH UTAMA PEREMPUAN DALAM NOVEL STAY WITH ME TONIGHT KARYA SOFI MELONI Hasmawati Hasmawati; Dahri D.; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 4, No 3 (2020): Juli 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v4i3.2940

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ketidakadilan gender di dalam sebuah karya sastra, yaitu novel berjudul Stay with Me Tonight Karya Sofi Meloni. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode kepustakaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural. Dalam penelitian ini untuk mendapatkan data atau kutipan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu teknik baca dan teknik catat. Hasil penelitian pertama, struktur faktual dalam novel Stay with Me Tonight Karya Sofi Meloni meliputi alur, tokoh dan penokohan, serta latar. Alur yang terdapat dalam novel ini adalah alur campuran. Tokoh-tokoh dalam novel ini adalah Ayu sebagai tokoh utama perempuan dan Benny Kurniawan sebagai tokoh utama laki-laki. Sedangkan tokoh tambahan yaitu ibu, Baron, Ditto, Yuana, dan Rio. Latar dalam novel ini sebagian besar berada di Jakarta. Kedua, ketidakadilan gender pada tokoh utama perempuan (Ayu) yaitu (1) marginalisasi dialami oleh Ayu digambarkan sebagai PSK. (2) subordinasi dialami Ayu yang dianggap tidak penting oleh Benny. (3) pandangan stereotipe dialami Ayu yang dipaksa untuk berdandan dan dianggap tidak penting hanya sebagai pemuas nafsu. (4) kekerasan yang dialami Ayu salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan adalah pelacuran, bentuk pelacuran yang dialami Ayu dijual oleh ayah tirinya di sebuah bar. (5) beban kerja yang dialami Ayu harus menanggung untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tokoh Ayu yang mengalami kesulitan ekonomi memaksa dirinya harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. ABSTRACT This research aimed to analyze gender injustice in a literary work, a novel entitled Stay with Me Tonight by Sofi Meloni. This research was qualitative research with the method of library research. This research used structural approach. The research used reading and note taking technique to obtain data and quote in this research. The firstresultof this research showed that factual structure in Stay with Me Tonight novel by Sofi Meloni includes plot, character and characterization and setting. The plot was mixed plot (combination between progressive and flashback plot). The characters were Ayu as main female character and Benny Kurniawan as main male character. There were also additional characters; Mother, Baron, Ditto, Yuana and Rio. Setting of this novel was mostly in Jakarta. Thesecond result of this research showed that there was gender injustice experienced my main female character (Ayu) which were: (1) marginalization experienced by Ayu as she was described as a prostitute. (2) subordination experienced by Ayu as she was considered not important by Benny. (3) stereotype experienced by Ayu as she was forced to put make and dress up and considered not important only as person to satisfy man’s lust. (4) violence experienced by Ayu to become a prostitute, the form of violence was she was sold by her step father in a bar. (5) Ayu had to be responsible to fulfill her needs, Ayu character experienced economic difficulties forcing her to have part time work to live.
ANALISIS NOVEL TANAH SURGA MERAH KARYA ARAFAT NUR: SEBUAH KAJIAN HEGEMONI GRAMSCI Muhamad Suhar; Yusak Hudiyono; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.399 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v3i4.2368

Abstract

This study aims to describe facts of story, ideological formations, and hegemony found in Arafat Nur's Tanah Surga Merah novel. Operational definitions in this study use three variables, that is the facts of story, the formation of ideology, and hegemony according to Antonio Gramsci. This research is a qualitative research with descriptive method based on the design of literature sociology. The data source in this study is Arafat Nur's Tanah Surga Merah novel. The data collection technique used is the technique of reading and recording. Qualitative analysis techniques that consist of three activities, that is: data reduction, data presentation, and conclusion. Based on the results of the analysis it can be concluded several things. First, the story facts in the Tanah Surga Merah novel by Arafat Nur consist of plot, character, and background. The plot in this novel is an chronological plot. The characters in this novel have roles as main characters and additional figures. Broadly speaking the background contained in the novel is in Aceh. The time of storytelling that happened was when Murad returned to his homeland, when Murad was wanted by the ruling party in the Aceh region, and when Murad became an escape in his pursuit as a fugitive. While the social setting that occurs in the novel is a society that is obedient and under the full power of the ruling party in its territory. The ideological formation contained in the novel is authoritarianism represented by full power held by the authorities, feudalism represented by the red party apparatus, and socialism represented by opponents of power who care about society. The hegemony that occurs in the realm of political society is illustrated through conflicts between parties and party apparatus against opponents of power and society. In the area of civil society, it is portrayed through the influence that the authorities have invested in the people of Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fakta cerita, formasi ideologi, dan hegemoni yang terdapat di dalam novel Tanah Surga Merah karya Arafat Nur. Definisi operasional dalam penelitian ini menggunakan tiga variabel, yaitu fakta cerita, formasi ideologi, dan hegemoni menurut Antonio Gramsci. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif berdasarkan rancangan kajian sosiologi sastra. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Tanah Surga Merah karya Arafat Nur. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik baca dan catat. Teknik analisis kualitatif yang terdiri dari tiga alur kegiatan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, fakta cerita dalam novel Tanah Surga Merah karya Arafat Nur terdiri atas alur, tokoh-penokohan, dan latar. Alur dalam novel ini adalah alur maju. Tokoh-tokoh dalam novel ini mempunyai peranan sebagai tokoh utama maupun tokoh tambahan. Secara garis besar latar yang terdapat dalam novel berada di Aceh. Waktu penceritaan yang terjadi adalah ketika Murad kembali menuju tanah kelahirannya, ketika Murad buronan partai yang berkuasa di wilayah Aceh, dan saat Murad menjadi pelarian dalam pengejarannya sebagai buronan. Sedangkan latar sosial yang terjadi di dalam novel adalah masyarakat yang patuh dan di bawah kuasa penuh partai yang berkuasa di wilayahnya. Formasi ideologi yang terdapat di dalam novel adalah otoritarianisme yang diwakili oleh kekuasaan penuh yang dipegang oleh penguasa, feodalisme yang diwakili oleh aparatur partai merah, dan sosialisme yang diwakili oleh para penentang kekuasaan yang peduli terhadap masyarakat. Hegemoni yang terjadi dalam wilayah masyarakat politik digambarkan melalui konflik antara partai dan aparatur partai terhadap penentang kekuasaan dan masyarakat. Dalam wilayah masyarakat sipil digambarkan melalui pengaruh yang ditanamkan penguasa terhadap masyarakat Aceh.
PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA PADA SISWA KELAS III SDN 011 SEBULU KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK Sofyan Hadi; Syamsul Rijal; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.762 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v3i3.2014

Abstract

The development of a person’s second language is strongly influenced by the way in which the stages of his acquisition, through formal or informal activities. Based on this, problems are formulated to determine lexicon acquisition, phonology, and factors that influence second language acquisition. This research was included in the field research using a qualitative approach which was described descriptively. The data source in this research is Yudika Adya Tama, Wahyu Almira Dika, Ludfia, Anjani, Moh. Farid, and Ikrima Faiz Hafidz. The data source is based third-grade elementary school students 011 Sebulu as Kutai Kartanegara district which only had two languages. The results of the research indicate that data sources have been able to mention several second language lexicons. However, in terms of the acquisition of phonology, several lexicons (Indonesian language or English language) were found whose pronunciation still received transfers from the first language. As for the factors that influence the second language acquisition of third-grade elementary school students 011 Sebulu are (a) motivational factors, (b) age factors, (c) formal presentation factors, (d) first language factors, and (e) environmental factors. Perkembangan bahasa kedua (B2) seseorang sangat dipengaruhi oleh cara pada tahapan pemerolehannya, baik melalui kegiatan formal maupun informal. Berdasarkan hal tersebut, dirumuskan masalah untuk mengetahui pemerolehan leksikon, fonologi, dan faktor-faktor yang memengaruhi pemerolehan bahasa kedua (B2). Penelitian ini termasuk dalam penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang dipaparkan secara deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah Yudika Adya Tama, Wahyu Almira Dika, Ludfia, Anjani, Moh. Farid, dan Ikrima Faiz Hafidz. Sumber data berdasarkan siswa kelas III SDN 011 Sebulu Kabupaten Kutai Kartanegara yang hanya memperoleh dua bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber data telah dapat menyebutkan beberapa leksikon bahasa kedua (B2). Namun, dari segi pemerolehan fonologi ditemukan beberapa leksikon (bahasa Indonesia atau pun bahasa Inggris) yang pengucapannya masih mendapatkan transfer dari bahasa pertama (B1). Adapun faktor-faktor yang memengaruhi pemerolehan bahasa kedua pada siswa kelas III SDN 011 Sebulu adalah (a) faktor motivasi, (b) faktor usia, (c) faktor penyajian formal, (d) faktor bahasa pertama, dan (e) faktor lingkungan.
FAKTA SOSIAL EMILE DURKHEIM DALAM NOVEL HAFALAN SHALAT DELISA KARYA TERE LIYE: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA Susi Susanti; Mursalim Mursalim; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 4, No 2 (2020): April 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.166 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v4i2.2718

Abstract

Based on the research that has been done, the following results are obtained. First, the facts of the story in the novel Hafalan Shalat Delisa by Tere Liye consist of plot, character, and characterization, and setting. The plot in this novel is the flow forward. The characters in this novel have a role as the main character and additional character. Broadly speaking, the setting used in the novel is in Lhok Nga and the time setting used is morning, afternoon, evening, and night. Second, the value of character education contained in the novel Hafalan Shalat Delisa by Tere Liye there are nine namely the love of God and all of his creation, independence and responsibility, honesty / diplomatic mandate, respect and courtesy, generous, generous, helpful, and mutual assistance/cooperation, self-confidence and hard-working, leadership and justice, kind and humble, the character of tolerance, peace, and unity. The social facts contained in the novel Hafalan Shalat Delisa by Tere Liye are divided into three types. The type of collective social facts, which is to read every prayer will be active, purple as a symbol of a widow, obedient to her husband, marriage customs, and speak the language desired by individuals. Types of external social facts, namely prayer, prayer reading, recitation, and school uniforms. Types of coercive social facts, namely learning to memorize prayer readings with Aisha, being ridiculed with Aisha, and learning the meaning of prayer with Ustadz Rahman.-------Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, Fakta cerita dalam novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye terdiri dari alur, tokoh dan penokohan, dan latar. Alur dalam novel ini adalah alur maju. Tokoh-tokoh dalam novel ini mempunyai peranan sebagai tokoh utama dan tokoh tambahan. Secara garis besar latar tempat yang digunakan dalam novel berada di Lhok Nga dan latar waktu yang digunakan adalah pagi, siang, sore, serta malam hari. Kedua, nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye ada sembilan yakni cinta tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran/amanah diplomatif, hormat dan santun, dermawan, suka tolong menolong, dan gotong royong/kerjasama, percaya diri dan pekerja keras, kepemimpinan dan keadilan, baik dan rendah hati, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. Fakta sosial yang terdapat dalam novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye terbagi menjadi tiga tipe. Tipe fakta sosial kolektif, yaitu membaca doa setiap akan beraktifitas, warna ungu sebagai simbol janda, patuh terhadap suami, adat pernikahan, dan berbicara dengan bahasa yang di kehendaki individu. Tipe fakta sosial eksternal, yaitu shalat, bacaan shalat, mengaji, dan seragam sekolah. Tipe fakta sosial koersif, yaitu belajar menghafal bacaan shalat dengan Aisyah, diejek dengan Aisyah, dan belajar arti shalat dengan Ustadz Rahman.
METAFORA “KUPU-KUPU” DAN CITRA PEREMPUAN DALAM CERPEN “GADIS YANG MENERBANGKAN KUPU-KUPU DARI UNTAIAN RAMBUTNYA” KARYA DIANI SAVITRI DAN CERPEN “SEORANG PEREMPUAN DENGAN RAJAH KUPU-KUPU DI DADANYA” KARYA SENO G.A (KAJIAN SASTRA BANDINGAN) Rosyani Marlina; Dahri D.; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 5, No 4 (2021): Oktober 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v5i4.4742

Abstract

Penelitian ini berfokus pada perbandingan mengenai persamaan dan perbedaan metafora “kupu-kupu” yang berkaitan dengan tokoh perempuan, dan citra perempuan dalam cerpen “Gadis yang Menerbangkan Kupu-Kupu dari Untaian Rambutnya” karya Diani Savitri dan cerpen “Seorang Perempuan  dengan Rajah Kupu-Kupu di Dadanya” karya Seno G.A yang berhubungan dengan aspek diri maupun aspek sosial perempuan dalam masyarakat. Penelitian menggunakan kajian pustaka dan pendekatan deskriftif kualitatif. Data penelitian berupa kata, frasa, dan kalimat dalam cerpen “Gadis yang Menerbangkan Kupu-Kupu dari Untaian Rambutnya” karya Diani Savitri dan cerpen “Seorang Perempuan dengan Rajah Kupu-Kupu di Dadanya” karya Seno G.A. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik baca dan teknik catat. Untuk menganalisis digunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan kedua cerpen memiliki persamaan mengenai metafora “kupu-kupu” yang sama-sama berkaitan dengan tokoh perempuan yang memiliki keindahan fisik dan menarik. Sedangkan perbedaannya terlihat pada cerpen karya Diani yang tidak hanya menggambarkan metafora “kupu-kupu” dengan perempuan, namun juga terdapat gambaran mengenai masyarakat yang rapuh. Sedangkan cerpen karya Seno menggambarkan metafora “kupu-kupu” dari tokoh perempuan yang keindahan fisiknya dinikmati dengan semu. Selain persamaan mengenai metafora “kupu-kupu”, penelitian ini menemukan persamaan citra perempuan. Persamaan dari citra perempuanya itu, perempuan yang pemberani dan perannya dalam keluarga sebagai anak. Penelitian ini juga menemukan perbedaan citra perempuan dari citra diri dan sosialnya yaitu: cerpen karya Diani yang menggambarkan citra perempuan berwajah cantik dan perannya di keluarga sebagai ibu. Sedangkan cerpen karya Seno, citra perempuan digambarkan berdasarkan bentuk fisik sebagai perempuan dewasa dan perempuan yang bekerja sebagai PSK.
NILAI BUDAYA DALAM LEGENDA LIANG AYAH DI KALIMANTAN TENGAH: KAJIAN FOLKLOR Winda Oktovina Desy; Mursalim Mursalim; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 4, No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.675 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v4i1.2508

Abstract

Folk stories have cultural values that are used by the community as a picture of actions in everyday life. This study aims to find out the cultural values contained in the legend of the father-in-law so that it can be used as learning in life. This research was included in the field research using qualitative descriptive research. The source of data in this study was an informant named Kasman. The cultural value of human relations with God is manifested in the form of wara and karma ceremonies. The cultural value of human relations with nature is manifested in the form of riverside villages, hunting, and using plants. The cultural value of human relations with society is manifested in the form of joint learning, ceremony invitations, the search for spouses, togetherness in ceremonies. The cultural value of human and other human relationships is manifested in the form of cooperation, affection, friendship, respect, and cultural values of human relations with oneself manifested in the form of intelligence, responsibility, worry, and not thinking.
PERJUANGAN TOKOH UTAMA PEREMPUAN DALAM NOVEL IBUK KARYA IWAN SETYAWAN KAJIAN FEMINISME SOSIALIS Ita Rosita; Yusak Hudiyono; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 5, No 2 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v5i2.3503

Abstract

Novel Ibuk menghadirkan tokoh perempuan yang tangguh dan berjuang untuk mendapatkan kesetaraan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskipsikan perjuangan tokoh utama perempuan dalam novel Ibuk karya Iwan Setyawan kajian feminisme sosialis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu untuk memperoleh informasi dan gambaran perjuangan tokoh perempuan dalam novel Ibuk berdasarkan teori feminisme sosialis. Teknik pengumpulan data yang diguunakan dalam penelitian ini yaitu teknik baca,simak, dan catat. Teknik analisis data menggunakan metode reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan, selanjutnya data disajikan dalam bentuk kutipan kalimat yang mengandung unsur feminisme sosialis berdasarkan fakta cerita pada novel melalui alur, tokoh dan penokohan serta latar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fakta cerita pada novel Ibuk karya Iwan Setyawan, terdiri atas tokoh dan penokohan, alur, dan latar. tokoh-tokoh yang berperan dalam novel ini mempunyai peranan tokoh utama dan tokoh tambahan. Latar secara umum berada di Kota Batu dan New York, dengan suasana kehidupan pedesaan dan perkotaan. Novel ini menggunakan alur maju. Perjuangan tokoh perempuan dalam menghadapi sistem kapitalis terdiri dari beban kerja dan bentuk perjuangan perempuan mendapatkan upah dan biaya untuk kehidupan serta pendidikan anak-ananya, sedangkan perjuangan perempuan menghadapi sistem patriarki dilihat dari kepemilikan pribadi yang dialami perempuan dan bentuk perjuangan agar anak-anaknya tidak hidup seperti dirinya.
RESPONS PEMBACA ANAK USIA TAHAP OPERASIONAL KONKRET TERHADAP CERITA PENDEK BADUT TERLUCU KARYA SARAH NAFISAH: KAJIAN RESEPSI SASTRA Enovia Sari; Irma Surayya Hanum; Norma Atika Sari
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 6, No 3 (2022): Juli 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i3.6245

Abstract

Penilitian ini merupakan penelitian menggunakan kajian resepsi sastra untuk menganalisis respons pembaca anak terhadap cerpen “Badut Terlucu” karya Sarah Nafisah. Penelitian ini memusatkan pembaca anak untuk mendeskripsikan respons pada sebuah cerpen “Badut Terlucu” karya Sarah Nafisah mengenai unsur instrinsik berupa tema, tokoh, latar, alur, gaya bahasa, dan amanat cerita. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yakni memaparkan data berupa uraian kata dan fakta. Data penelitian berupa kuesioner diberikan 55 anak untuk mendapatkan data respons. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner berupa 20 pertanyaan dan jawaban atau respons pembaca anak untuk menganalisis. Teknik analisis data menggunakan kajian resepsi sastra metode eksperimental. Hasil penelitian ini sebagai berikut : bahwa cerpen “Badut Terlucu” karya Sarah Nafisah dalam majalah bobo menunjukkan hampir semua siswa kelas 3 dan 4 Sdadanya  memahami isi cerpen mengenai unsur instrinsik dan ketertarikan anak-anak terhadap cerpen mengenai ilustrasi dan isi cerita maka cerpen “Badut Terlucu” karya Sarah Nafisah terdapat dari respons hasil kuesioner. Bahwa cerpen “Badut Terlucu” karya Sarah Nafisah layak dan sesuai untuk dibaca anak-anak usia 7-11 tahun yakni diantaranya anak SD kelas 3 dan 4.
VARIASI BAHASA DALAM FILM SERIGALA TERAKHIR: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Citra Dewi Marinda; Syamsul Rijal; Irma Surayya Hanum
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 6, No 2 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i2.6109

Abstract

Film Serigala Terakhir merupakan film aksi yang masih sangat diminati hingga sekarang. Bahkan beberapa kali film tersebut ditayangkan dan diproduksi ulang menjadi sebuah serial drama. Dialog dalam film tersebut mengandung banyak jenis variasi bahasa, mulai dari yang sopan hingga yang tidak patut digunakan. Cerita yang diangkat dalam film tersebut, yaitu tentang remaja. Sebagian besar penikmat film tersebut juga dari kalangan remaja. Pada masa tersebut, remaja umumnya menggunakan kata-kata yang populer didengar tanpa memedulikan kata tersebut baik atau tidak. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan bentuk variasi bahasa yang terdapat pada tuturan dalam dialog film Serigala Terakhir; (2) mendeskripsikan fungsi dari penggunaan variasi bahasa yang terdapat pada tuturan dalam dialog film Serigala Terakhir; dan (3) mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya variasi bahasa yang terdapat pada tuturan dalam dialog film Serigala Terakhir. Penelitian ini tergolong penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif dan dipaparkan secara deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tuturan yang terdapat dalam dialog antartokoh di film Serigala Terakhir yang disutradarai oleh Upi Avianto. Teknik yang digunakan, yaitu teknik simak bebas libat cakap yang dipadukan dengan teknik catat yang ditujukan untuk mendata. Adapun teknik analisis yang digunakan, yaitu teknik interaktif. Dari hasil analisis tersebut, didapatkan bahwa bentuk variasi bahasa yang paling banyak digunakan, yaitu bentuk kolokial yang disebabkan karena film berisi dialog lisan sehingga bahasanya pun bahasa komunikasi lisan dan bentuk vulgar yang dipengaruhi latar belakang sosial tokoh yang diusung. Variasi bahasa yang banyak difungsikan untuk ideasional, yaitu bentuk vulgar. Hal tersebut karena kata-kata makian tersebut umumnya ditujukan untuk mengekspresikan perasaan. Sedangkan bentuk variasi bahasa yang lain difungsikan untuk interpersonal karena hampir semua variasi bahasa pada dasarnya ditujukan untuk menjalin interaksi.