Claim Missing Document
Check
Articles

Rasionalitas RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN RAWAT JALAN DIARE AKUT BALITA DI RS X TAHUN 2022 Az Zahra, Fatima; Aprilia, Citra Ayu; Zulfa, Fajriati; Harfiani, Erna
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 3 (2025): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyebab kematian nomor dua pada balita adalah diare. Pemberian antibiotik pada diare harus sesuai dengan indikasi. Resistensi antibiotik dapat terjadi jika penggunaan antibiotik tidak rasional. Hal ini akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan sehingga pengendalian resistensi antibiotik harus dilakukan oleh berbagai pihak seperti pemerintah, masyarakat, tenaga kesehatan, dan rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien balita rawat jalan yang mengalami diare akut di RS X tahun 2022. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan desain penelitian potong lintang. Data berasal dari rekam medis yang diambil dalam satu waktu. Sebanyak 16 pasien balita dijadikan sampel yang dipilih menggunakan teknik total sampling yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian ini adalah penggunaan 17 antibiotik pada pasien balita rawat jalan yang mengalami diare akut di RS X tahun 2022 76,4% tidak rasional dan 23,6% rasional. Obat yang paling banyak diberikan adalah Sefiksim sebagai terapi empiris. Hasil pengelompokkan rasionalitas antibiotik berdasarkan metode Gyssens adalah sebanyak 5 antibiotik tergolong kategori V (tidak ada indikasi), 1 antibiotik kategori IVa (terdapat antibiotik lain yang lebih efektif), 7 antibiotik kategori IIa (dosis tidak tepat), dan 4 antibiotik kategori 0 (penggunaan antibiotik rasional). Pedoman penggunaan antibiotik berdasarkan pola bakteri dan pengawasan terhadap penggunaan antibiotik di RS X merupakan salah satu cara untuk mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak rasional sehingga dapat mengendalikan resistensi antibiotik. Kata kunci: diare, metode gyssens, rasionalitas antibiotik DOI : 10.35990/mk.v8n3.p230-241
Factors Associated with Delayed 2-Month Sputum Smear Conversion in MDR-TB Patients Treated with All-Oral Regimen at Persahabatan Hospital Sitinjak, Sahat Anugerah Immanuel; Harfiani, Erna; Tjang, Yanto Sandy; Muktamiroh, Hikmah; Sutarto, Riyadi
Respiratory Science Vol. 6 No. 1 (2025): Respiratory Science
Publisher : Indonesian Society of Respirology (ISR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36497/respirsci.v6i1.183

Abstract

Background: The emergence of multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) presents significant challenges in achieving treatment success. Sputum conversion time, an essential indicator of treatment progress, varies among patients and may be influenced by demographic and clinical factors. This study aimed to identify factors associated with sputum conversion time in MDR-TB patients treated with all-oral regimens at Persahabatan Hospital during the 2021–2022 period. Method: This retrospective cohort study analyzed data from 154 MDR-TB patients treated with all-oral regimens at Persahabatan Hospital. Patients were categorized by sputum conversion time (≤2 months or >2 months). Independent variables included age, sex, diabetes mellitus, anemia, previous TB treatment, pulmonary cavitation, education level, marital status, and initial sputum AFB results. Inclusion criteria were primary pulmonary MDR-TB patients confirmed via sputum culture, aged ≥20 years, and treated per Indonesian national guidelines. Logistic regression analyses identified significant factors. Results: Among the nine factors studied, four significantly influenced sputum conversion time: elderly age, anemia, pulmonary cavitation, and initial sputum AFB results. Older age (≥60 years) was protective against delayed conversion, while anemia, pulmonary cavitation, and higher initial sputum AFB results were associated with prolonged conversion times. Conclusion: Factors such as anemia, pulmonary cavitation, and initial sputum results are associated with delayed sputum conversion, with elderly age as a protective factor against delayed sputum conversion.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS BIAYA TERAPI KOMBINASI OBAT ANTIDIABETIK METFORMIN-GLIMEPIRIDE DAN ACARBOSE-GLIMEPIRIDE Tresnawati, Nden Ajeng; Hany Yusmaini; Mila Citrawati; Erna Harfiani
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 20 No. 1 (2024): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol20.iss1.art9

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (DM) is one of the cardiometabolic diseases with the highest prevalence worldwide, including Indonesia. The increasing number of type 2 DMs is known to have become an economic burden on Indonesia's health sector. There are several options for treating type 2 DM, either with monotherapy or in combination. At present, metformin, sulfonylurea, and acarbose have become common drugs in the treatment of type 2 DM. Variations in antidiabetic drugs will cause differences in therapy cost and effectiveness.Objective: The purpose of this study is to analyze the cost-effectiveness of the combination therapy of metformin-glimepiride and acarbose-glimepiride antidiabetic drugs in patients with type 2 DM at RSUD Sumedang in 2021 based on the hospital's perspective.Method: This study collected data by documenting medical records and patient costs from January to December 2021 using a cross-sectional design on 60 samples.Results: Findings from the statistical analysis showed that the combination of metformin and glimepiride did not make a difference in GDS (mean difference 10.70 mg/dL-1; p-value = 0.457). The average total direct medical costs of the acarbose-glimepiride group were higher than that of the metformin-glimepiride group, and there was a significant difference between the average costs of the antidiabetic drugs (p-value = 0.000).Conclusion: The combination of metformin-glimepiride therapy is more cost-effective than acarbose-glimepiride, with an ACER value of metformin-glimepiride Rp. 3,037.48.Keywords: Acarbose, cost effectiveness analysis, glimepiride, metformin, type 2 DM Intisari Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan salah satu penyakit kardiometabolik dengan prevalensi tertinggi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Peningkatan jumlah DM tipe 2 diketahui telah menjadi beban ekonomi bagi sektor kesehatan di Indonesia. Terdapat beberapa pilihan terapi dalam pengobatan DM tipe 2 baik secara monoterapi maupun kombinasi beberapa obat. Saat ini obat metformin, sulfonilurea, dan acarbose telah menjadi obat umum dalam pengobatan DM tipe 2 di Indonesia. Variasi terapi obat antidiabetik akan menyebabkan adanya perbedaan biaya dan efektivitas terapi. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menentukan efektivitas biaya terapi kombinasi obat antidiabetik metformin-glimepirid dan acarbose-glimepirid pada pasien DM tipe 2 Instalasi Rawat Jalan di RSUD Sumedang Tahun 2021 berdasarkan perspektif rumah sakit.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi potong-lintang pada 60 sampel dengan pengambilan data dilakukan secara dokumentasi terhadap data rekam medis dan biaya pasien periode Januari-Desember 2021. Hasil: Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna selisih GDS pada kombinasi metformin-glimepirid dan acarbose-glimepirid (rata-rata perbedaan 10,70 mg/dL-1; nilai-p=0.457). Rata-rata total biaya langsung medis kelompok acarbose-glimepirid lebih tinggi dibandingkan metformin-glimepirid serta terdapat perbedaan bermakna rata-rata biaya obat antidiabetik (nilai-p=0.000).Kesimpulan: Kombinasi terapi metformin-glimepirid lebih cost-effective dibandingkan acarbose-glimepirid dengan nilai ACER metformin-glimepirid Rp. 3.037,48.Kata Kunci: Acarbose, analisis efektivitas biaya, DM tipe 2, glimepirid, metfotmin
The Effect of Moringa Leaf Extract Administration on Sperm Morphology and Blood Glucose Reduction in Alloxan-Induced Sprague Dawley Rats Wahab, Dinda Nuraini Hanifah; Hasanah, Uswatun; Harfiani, Erna; Thadeus, Maria Selvester
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 18 No. 1 (2025): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v1i1.37286

Abstract

AbstractIncreased blood sugar levels can be triggered by increased intake or insulin resistance, leading to increased oxidative stress that affects sperm quality during spermatogenesis. Moringa oleifera, rich in antioxidants, has been proven effective in improving sperm quality through several studies. This study aims to evaluate the influence of moringa leaf extract on sperm morphology and the reduction of blood sugar levels in Sprague Dawley white rats (Rattus norvegicus) induced by alloxan. Fasting blood sugar tests showed that rats induced with alloxan without moringa leaf extract had the highest blood sugar levels among the groups. In contrast, the negative control and treatment groups with moringa leaf extract successfully maintained blood sugar levels at normal levels. Normal sperm morphology reached 94.5% in the treatment group with the highest dose of moringa leaf extract. The results of the study indicate a significant relationship between blood sugar levels and sperm morphology in alloxan-induced white rats after the administration of moringa leaf extract. Moringa oleifera has the potential to be a therapeutic intervention to improve sperm quality and control blood sugar levels in hyperglycemic conditions.AbstrakPeningkatan kadar gula darah dapat dipicu oleh peningkatan asupan atau resistensi insulin menyebabkan peningkatan stres oksidatif yang mempengaruhi kualitas sperma selama spermatogenesis. Tanaman kelor (Moringa oleifera), tumbuhan yang kaya akan antioksidan, telah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas sperma melalui beberapa penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak daun kelor terhadap morfologi sperma dan pengurangan kadar gula darah pada tikus putih Sprague Dawley (Rattus norvegicus) yang diinduksi aloksan. Uji gula darah puasa menunjukkan bahwa tikus yang diinduksi aloksan tanpa perlakuan ekstrak daun kelor memiliki kadar gula darah tertinggi di antara kelompok-kelompok lainnya. Sebaliknya, kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan dengan ekstrak daun kelor berhasil menjaga kadar gula darah pada tingkat normal. Morfologi sperma normal mencapai 94,5% pada kelompok perlakuan dengan dosis 400 mg/kgBB ekstrak daun kelor. Kesimpulan yang didapatkan pada penelitian ini berkaitan dengan temuan hubungan signifikan antara kadar gula darah dan morfologi sperma pada tikus putih yang diinduksi aloksan setelah pemberian ekstrak daun kelor. Tanaman kelor (Moringa oleifera) memiliki potensi sebagai intervensi terapeutik untuk meningkatkan kualitas sperma dan mengendalikan kadar gula darah dalam kondisi hiperglikemia. 
The Effect of Muntingia calabura L. Leaf Extract Administration on Blood Glucose Levels and Sperm Motility and Viability in Streptozotocin-Induced Mice Pritasari, Ilham Arzy Diana; Hasanah, Uswatun; Harfiani, Erna; Nurcita, Boenga
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 19 No. 1 (2026): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v19i1.43915

Abstract

Increased reactive oxygen species levels, a result of antioxidant imbalance in diabetic, can affect metabolism and cellular respiration, especially spermatogenesis that affects sperm quality. Muntingia calabura has proven to be effective as an antidiabetic and rich antioxidant through several studies. This study aims to analyse the effectiveness of Muntingia leaf extract on blood sugar levels, sperm motility, and viability in mice induced by streptozotocin. A diabetic animal model was developed with repeated low doses of streptozotocin. The group  was divided into 5 groups, which are the negative control, positive control, and three extract groups (100, 150, 200 mg/kg). Blood sugar tests showed that the positive control group, mice induced with streptozotocin without Muntingia leaf extract, had the highest blood sugar levels. Treatment groups with Muntingia leaf extract had different results, those groups successfully reduced blood sugar levels to normal levels. The highest dose, 200 mg/kg, of Muntingia leaf extract reached 85.9% normal sperm motility and 82.9% sperm viability. The ANOVA test result showed a significant relationship between blood sugar levels with sperm motility and viability in streptozotocin-induced mice after Muntingia leaf extract administration. Muntingia leaf extract has the potential to reduce blood sugar levels in hypergly-cemic conditions and to improve sperm motility and viability.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TERAPI RANITIDINE DAN OMEPRAZOLE TERHADAP LAMA RAWAT INAP PASIEN DISPEPSIA Nabilah, Ayi; Harfiani, Erna; Hasanah, Uswatun; Yusmaini, Hany
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 22 No 03 (2023): Jurnal Ilmiah Kesehatan terbitan Desember Volume 22 Nomor 03 Tahun 2023
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikes.v22i03.2972

Abstract

Dispepsia merupakan gangguan saluran pencernaan atas yang sering dikeluhkan oleh berbagai kalangan masyarakat. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Dispepsia dan Infeksi Helicobacter pylori merekomendasikan tata laksana awal dispepsia salah satunya adalah obat antisekresi asam lambung. Obat antisekresi asam lambung yang paling sering digunakan pada pasien dispepsia rawat inap yaitu omeprazole dan ranitidine. Mekanisme obat yang berbeda menyebabkan efektivitas obat yang berbeda pula yang memengaruhi lama rawat inap pasien. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan terapi omeprazole dan ranitidine terhadap lama rawat inap pasien dispepsia dewasa. Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif – analitik observasional dengan pendekatan potong lintang terhadap pasien dispepsia di RSUD dr. Dradjat Prawiranegara Serang. Penelitian dilakukan pada 64 pasien yang memenuhi kriteria dan diperoleh hasil rata-rata lama rawat inap pasien dispepsia dengan terapi omeprazole adalah 1,91 (±0,893) hari. Sedangkan, rata-rata lama rawat inap pasien dispepsia dengan terapi ranitidine adalah 2,16 (±1,194) hari. Hasil analisis bivariat perbandingan lama rawat inap terhadap kedua kelompok menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna/signifikan dengan nilai p>0,05 (p-value=0,542). Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna lama rawat inap pasien dispepsia yang diberikan terapi omeprazole dengan ranitidine di RSUD dr. Dradjat Prawiranegara Serang.
Faktor Apa Yang Mempengaruhi Rendahnya Tingkat Pengobatan Tuberkulosis di Lagoa Jakarta? Harfiani, Erna; ., Mashoedojo; Nurhakim, Althaf Dhaifullah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 12 No 3 (2020): JIKM Vol. 12, Edisi 3, Agustus 2020
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v12i3.80

Abstract

Latar belakang: Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit menular dengan penyebab bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat mengenai segala usia dan mempengaruhi semua organ Organ yang sering diserang yaitu paru-paru. Pada tahun 2016, dilakukan upaya pengobatan terhadap 55.503 pasien TB paru BTA positif di DKI Jakarta, dengan tingkat keberhasilan pengobatan terendah ditemukan di Jakarta Utara (3,99%). Oleh karena itu, penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan faktor yang mempengaruhi rendahnya tingkat keberhasilan pengobatan TB paru di Puskesmas Lagoa. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dan purposive sampling dengan sampel merupakan pasien dengan tuberkulosis paru yang telah menjalani perawatan lengkap di Puskesmas Lagoa di Jakarta Utara sebanyak 64 orang secara total sampling tahun 2017. Data diambil menggunakan kuesioner yang sudah divalidasi. Sampel merupakan pasien dengan riwayat pengobatan TB paru di Puskesmas Lagoa, berusia minimal 15 tahun, telah menyelesaikan program pengobatan selama 6 bulan di Puskesmas Lagoa, TB paru yang tinggal di wilayah kerja dari Puskesmas Lagoa. Data dianalisis menggunakan regresi logistik Hasil: Ditemukan hubungan yang signifikan antara usia, jenis kelamin, ketersediaan obat, dukungan supervisor pengobatan, dan dukungan petugas terhadap tingkat keberhasilan pengobatan penyakit TB (OR = 7,031; 95% CI 1.051-47.018). Kesimpulan: Faktor yang mempengaruhi rendahnya tingkat pengobatan penyakit TB paru adalah usia, jenis kelamin, ketersediaan obat, dukungan supervisor dan dukungan petugas dengan jenis kelamin sebagai faktor yang paling signifikan di Puskesmas Lagoa pada 2017. What Factors Affect Low Rates of Tuberculosis Treatment in Lagoa Jakarta? Abstract Background: Tuberculosis is an infectious disease with the cause of mycobacterium tuberculosis bacteria. This disease can affect all ages and affect all organs which the lungs are the most infected organ. In 2016, treatment efforts were made against 55,503 positive BTA pulmonary TB patients in DKI Jakarta, with the lowest treatment success rate found in North Jakarta (3.99%). Therefore, this research is aimed at obtaining factors that affect the low success rate of pulmonary TB treatment in Lagoa Health Center. Methods: This study used a cross-sectional method and purposive sampling with a sample of 64 patients with pulmonary tuberculosis who had undergone complete treatment at the Lagoa Public Health Center in North Jakarta in 2017. Data were taken using a validated questionnaire. Sample were patients with a history of pulmonary TB treatment at Puskesmas Lagoa, aged at least 15 years, had completed a 6 month treatment program at Lagoa Health Center, pulmonary TB living in the working area of Lagoa Health Center. Data analyzed using logistic regression Results: There was a significant relationship between age, sex, drug availability, treatment supervisor support, and staff support to the success rate of TB treatment (OR = 7.031; 95% CI 1.051-47.018). Conclusion: Factors affecting low rates of treatment of pulmonary TB are age, gender, drugs availability, supervisor support and support of officers. Gender is the most significant factors at Lagoa Health Center in 2017
Metformin Effectiveness in Reducing Mortality among Covid-19 Patients with Type 2 Diabetes Mellitus at a Tertiary Hospital in Indonesia Zihono, Yudivaniel; Yusmaini, Hany; Hasanah, Uswatun; Harfiani, Erna; Mokoagow, Md Ikhsan; Budiman, Dicky
Folia Medica Indonesiana Vol. 59, No. 3
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Highlights: 1. As there is a scarcity of publications on the use of metformin for COVID-19 in Indonesia, the findings of this present study may contribute more insight to the existing body of research and provide data specific to the Southeast Asian population. 2. This study revealed a decreased mortality rate associated with metformin use in diabetic patients with mild to moderate COVID-19 infection. 3. This study suggests that diabetic patients may continue metformin treatment during a COVID-19 infection as the medication has sustained therapeutic effects. Abstract COVID-19 patients with comorbidities, such as type 2 diabetes (T2DM), have a higher mortality rate compared to those without any comorbidities. T2DM patients usually receive metformin as their first-line treatment. However, the effectiveness of metformin in reducing mortality rates still requires further analysis. The objective of this study was to analyze the effectiveness of metformin in reducing mortality rates among COVID-19 patients with T2DM. An analytic observational design with a retrospective cohort approach was used in this study. Samples were acquired from hospitalized COVID-19 patients with T2DM medical records at Fatmawati Central General Hospital, Jakarta, Indonesia, throughout 2020–2021. The samples were collected using a purposive sampling technique and analyzed using Chi-square test (p<0.05; RR<1). This study comprised 137 samples, with 56 samples receiving metformin and 81 not receiving metformin. The mortality rate in the sample group that received metformin was lower (19.6%) compared to the group that was not given the medication (38.3%). The Chi-square test results indicated a statistically significant relationship between metformin treatment and a lower mortality rate among COVID-19-contracted individuals with T2DM (p=0.020; RR=0.513). Therefore, this study concludes that the administration of metformin treatment reduces mortality among COVID-19 patients with T2DM.
Uji Indeks Glikemik Pangan Fungsional Kefir Susu Kambing dengan Penambahan Madu Randu ( Ceiba Pentandra ) Serli Marlina; Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi; Utami Wahyuningsih; Erna Harfiani; Angga Hardiansyah
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.43816

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai indeks glikemik dan beban glikemik dari produk kefir susu kambing dengan penambahan madu randu ( Ceiba Pentandra ). Desain penelitian yang digunakan adalah true experimental dengan desain crossover ( non-randomized ) dengan dua perlakuan. Perlakuan pertama yaitu pemberian makanan standar ( glukosa murni ) sementara untuk perlakuan kedua yaitu pemberian makanan uji ( kefir susu kambing dengan penambahan madu randu ( Ceiba Pentandra ) ) yang dilakukan pada waktu yang berbeda. Pengujian produk ini melibatkan 8 orang panelis tidak terlatih.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kefir madu randu  memiliki indeks glikemik kategori  rendah 53,98 ± 42,26   dengan beban glikemik kategori rendah pula ( 1,27 ) dalam sajian 100 ml. Terdapat perbedaan yang signifikan antara kefir madu dengan makanan standar ( p=0,018 ). Kefir madu randu ini cenderung dapat mengontrol kestabilan dan mengurangi lonjakan pada glukosa darah sehingga cukup aman dikonsumsi untuk penderita diabetes.
Potensi Kefir Susu Kambing dengan Penambahan Madu Randu dalam Mencegah Stress Oksidatif pada Tikus Diabetes : Potential of Randu Honey Kefir to Prevent Oxidative Stress in Diabetic Rats Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi; Avliya Quratul Marjan; Erna Harfiani; Indra Kusuma; Utami Wahyuningsih; Chika Nur Fikriana; Amelia Luthfiyah Mulyadewi
Amerta Nutrition Vol. 9 No. 1SP (2025): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 5th Amerta Nutrition Conferenc
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v9i1SP.2025.31-40

Abstract

Background: More than 90% of adults with type 2 diabetes are overweight or obese. This condition is known to increase oxidative stress, which contributes to cellular damage and disease complications. As a functional food, kefir has long been recognized for its various health benefits, including anti-inflammatory, antioxidant, and antidiabetic properties. Objectives: This study aimed to analyze the potential of randu honey kefir in preventing oxidative stress in diabetic rats. Methods: This study employed a randomized block design with a 21-day intervention period. A total of 42 male Sprague Dawley rats aged 6–8 weeks were divided into six groups: KS (standard), KN (negative control), K1 (quercetin), K2 (metformin), P1 (randu honey kefir 1.8 mL/200g BW), and P2 (preventive group). Diabetes was induced using streptozotocin at 40 mg/kgBW combined with a high-fat diet. Malondialdehyde (MDA) levels were analyzed using spectrophotometry, while interleukin-6 (IL-6) and tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) levels were measured using ELISA kits. Results: Significant differences (p-value<0.05) were observed in MDA, TNF-α, and IL-6 levels between the P1 and P2 groups compared with the KN group. Randu honey kefir groups showed mean oxidative stress marker levels comparable to those of quercetin and metformin treatments, including MDA (P1: 32.9 ± 29.35 nmol/mL; P2: 23.77 ± 11.63 nmol/mL), TNF-α (P1: 45.37 ± 31.25 pg/mL; P2: 37.81 ± 27.00 pg/mL), and IL-6 (P1: 64.81 ± 21.35 pg/mL; P2: 59.23 ± 14.95 pg/mL). Conclusions: Randu honey kefir intervention demonstrates potential in suppressing oxidative stress in diabetic rats.
Co-Authors ., Mashoedojo Abd. Rasyid Syamsuri Abdul Kolib Adi Sukrisno Agneta Irmarahayu Agus Aulung Aisyah, Ammara Almerveldy Azaria Dohongi Amelia Luthfiyah Mulyadewi Angga Hardiansyah Anisah Anisah Anisah Anisah Aprilia, Citra Ayu Ashfia Desi Rahmalina Aulia Chaerani Aulia Chairani Avliya Quratul Marjan Az Zahra, Fatima Boenga Nurcita Budiman, Dicky Chika Nur Fikriana Citra Ayu Aprilia Dicky Budiman Dinda Nuraini Hanifah Wahab Dohong, Almerveldy Azaria Dwi Arwandi Yogi Saputra Fachri Razi Fajriati Zulfa Hany Yusmaini Ilmi, Ibnu Malkan Bakhrul Ima Maria Indra Kusuma Kartika Putri Amalia Makkiyah, Feda Anisah Manpan Drajat Maria Selvester Thadeus Md Ikhsan Mokoagow Meiskha Bahar Mila Citrawati Mokoagow, Md Ikhsan Muhammad Reiza Muttia Amalia Nabilah, Ayi Nely Jumaliah Nugraha, Yudhi Nugrahayu Widyawardani Nurfitri Bustamam Nurhakim, Althaf Dhaifullah Pasiak, Taufiq Fredrik Primayanti Nurul Ilmi Pritasari, Ilham Arzy Diana Pritha Maya Savitri Putra Sang Fajar El Harry Putra Sang Fajar El Harry Putri Larasati Wibowo Ratna Puspita Ratna Puspita Retno Yulianti Ria Maria Theresa Ryan Herardi Sarmoko Sarmoko Serli Marlina Siska Maydianah Sitinjak, Sahat Anugerah Immanuel Sri Rahayu Sri Wahyuningsih Susanti, Febriyolla Sutarto, Riyadi Taufiq Fredrik Pasiak Taufiq Fredrik Pasiak Taufiq Fredrik Pasiak Taufiq Fredrik Pasiak Taufiq Pasiak Taupan Ichsan Tuarita Theodora Putri Simanjaya Tresnawati, Nden Ajeng Ufi Dewintera Uswatun Hasanah Uswatun Hasanah Uswatun Hasanah Utami Wahyuningsih Utami Wahyuningsih Wahab, Dinda Nuraini Hanifah Wibowo, Muhammad Rizky Widianingsih Widianingsih Yanti Harjono Hadiwiarjo Yanto Sandy Tjang Yudivaniel Zihono Zihono, Yudivaniel