Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI BAKTERI VIBRIO YANG BERASOSIASI DENGAN PENYAKIT BAKTERIAL PADA KEPITING BAKAU (Scylla serrata) YANG BERASAL DARI REMBANG Ashofa, Eni Ashfa; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.466 KB)

Abstract

Kendala produksi kepiting bakau adalah masih menggantungkan populasi kepiting bakau dari alam untuk perikanan tangkap dan  budidaya sehingga tidak ada kontrol kesehatan bagi kultivan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bakteri vibrio yang menginfeksi kepiting bakau dan mengetahui gejala klinis akibat infeksi bakteri. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksploratif. Sampling dilakukan pada 30 ekor kepiting sampel kemudian dipilih 6 kepiting yang memiliki gejala klinis terserang penyakit bacterial untuk diisolasi. Gejala klinis sampel kepiting yaitu karapas berwarna gelap, bercak merah, bercak hitam dan bercak coklat pada ventral, dan luka. Isolasi dilakukan dengan spread plate method yaitu menggoreskan hasil dilusi organ target (hepatopankreas, insang, luka, dan hemolymph) ke media Thiosulphate Citrate Bile Salt. Isolasi didapatkan 18 isolat bakteri kemudian dipilih 5 isolat yaitu SJR5, SJR9, SJR10, SJR16, SJR17. Bakteri terpilih kemudian dilakukan uji postulat Koch pada 9 kepiting sehat dengan penyuntikan 0,2 ml bakteri terpilih dengan dosis 108 CFU/ml dan dilakukan pengamatan gejala klinis dan kelulushidupan setiap 15 menit. Hasil uji postulat Koch menunjukan kepiting uji pasca infeksi bakteri SJR9, SJR10, SJR16, dan SJR17 mengalami kematian 100% selama 105 menit dan kepiting uji yang diinfeksi bakteri SJR5 mengalami kematian 100% selama 90 menit. Hasil karakterisasi morfologi dan biokimia menunjukan bahwa Vibrio alginolitycus (SJR5), Vibrio parahaemolitycus (SJR9), Vibrio ichthyonteri (SJR10), Vibrio harveyi (SJR16) dan Vibrio salmonicida (SJR17)  merupakan true pathogen yang mengakibatkan kematian kepiting bakau pada lingkungan yang baik. The problem of mud crab production is the availability of mud crab population in nature for capture fisheries and aquaculture, up to know there are no control of mud crab health. The aims of study were to find  the species of vibrio that infected mud crabs, and to know the clinical symptomps due to vibrio bacterial infection. Explorative method was used in this research. 30 mud crabs of selected were sampled and 6 mud crabs were selected which have clinical symptomps bacterial disease. The clinical symptomps mud crab disease was darken carapace, rust spot, black and brown discoloration, and wounds. The bacteria were isolated by spread plate method with spreading dilution of heptopancreas, gills, wounds, and hemolymph on Thiosulphate Citrate Bile Salt medium. It was found 18 bacterial isolates then selected 5 isolate namely SJR5, SJR9, SJR10, SJR16, and SJR17. The selected bacteria followed by postulate Koch trial in 9 mud crabs with injection 0.2 ml bacteria 108 CFU/ml and monitoring clinical symptomps and survival rate every 15 minutes. Postulat Koch’s test showed that mud crab post infection isolate bacteria SJR9, SJR10, SJR16, and SJR17 suffered 100% mortality within 105 minutes and mud crabs which infected bacteria SJR5 experienced 100% mortality in 90 minutes. The results of morphological and biochemical characteristics of bacteria showed Vibrio alginolitycus (SJR5), Vibrio parahaemolitycus (SJR9), Vibrio ichthyonteri (SJR10), Vibrio harveyi (SJR16) and Vibrio salmonicida (SJR17) were true pathogenic bacteria that viruilend to mud crabs.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN HISTOLOGI GINJAL IKAN LELE (Clarias gariepinus) YANG DIINFEKSI BAKTERI “Edwardsiella tarda” Sari, Dian Ratna; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.115 KB)

Abstract

Keberadaan bakteri E. tarda yang menyerang ikan lele dumbo dalam kegiatan budidaya merupakan masalah yang serius karena ikan ini memiliki nilai ekonomis tinggi. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan menggunakan bahan alami, seperti bawang putih yang memiliki sifat antibakteri. Bawang putih adalah salah satu tanaman alami yang mengandung bahan-bahan aktif senyawa sulfur seperti aliin, allicin, disulfida, trisulfida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak bawang putih sebagai antibakteri E. tarda, mengetahui pengaruh perendaman ekstrak bawang putih terhadap kelulushidupan ikan lele dumbo yang diinfeksi bakteri E. tarda, mengetahui kelainan histologi ginjal ikan lele dumbo yang diinfeksi bakteri E. tarda, sertamengetahui dosis yang terbaik dari ekstrak bawang putih dalam penelitian ini.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu perlakuan A (dosis 0 ppm), B (dosis 1000 ppm), C (dosis 2000 ppm) dan D (dosis 3000 ppm). Ikan lele yang digunakan sebanyak 120 ekor dengan ukuran rata-rata 9,07±0,21 cm selanjutnya diinfeksi bakteri E. tarda dengan kepadatan 107 CFU/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji sensitivitas ekstrak bawang putih mampu memberikan efektivitas antibakteri secara in vitro. Perendaman ekstrak bawang putih berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan lele yang diinfeksi bakteri E. tarda. Nilai kelulushidupan terendah hingga tertinggi dimulai pada perlakuan A sebanyak 13,13%, B sebesar 56,67%, D sebesar 56,67% dan C sebanyak 76,67%. Kelainan jaringan yang terjadi pada organ ginjal yaitu kongesti, nekrosis dan degenerasi vakuola. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konsentrasi terbaik ekstrak bawang putih untuk mengurangi infeksi E. tarda adalah dosis 2000 ppm. The existence of E. tarda was a serious problem in Catfish farming, that caused  high economic losses in aquaculture. One of the effort to solve this case was the use of  natural ingredient, such as garlic extract which has antibacterial substances. Garlic is a natural plant which contains active ingredients such as sulfur compound, aliin, allicin, disulphide and trisulfida as antibacterial substances. The aims of this research were to determine the ability of garlic extract as an antibacterial of E. tarda, the soaking effect of garlic extract toward survival rate of catfish infected by E. tarda, to observe the abnormalities of liver and kidney in histologically and to determine the best dose of garlic extract to cope E. tarda.  This reasearch used experimental method using a completely randomized design with  4 treatments and 3 repetitions. These treatments were  A (0 ppm), B (1000 ppm), C (2000 ppm) and D (3000 ppm). The Catfish used were 120 fish, around 9,07±0,21 cm in size, then they were infected by E. tarda with dose 107 CFU/mL. The result of this research showed that on antibacterial sensitivity test of garlic extract was able to make an antibacterial effect from in vitro test. The soaking of garlic extract showed a significant effect (P<0.05) toward survival rate of Catfish infected by E. tarda. The lowest to higest of survival rate were treatment A (13.13%), B (56.67%), D (56.67%) and C (76.67%). The observation of histology in kidney showed congestion, necrosis and vacuola degeneration. From that research it can be concluded that the best garlic extract concentrations to reduce E. tarda infection was 2000 ppm.
AGENSIA PENYEBAB PENYAKIT BAKTERI PADA KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) YANG BERASAL DARI DEMAK Burhan, Muhammad; Sarjito, -; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.891 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis yang disebabkan penyakit bakterial, jenis bakteri yang menginfeksi kepiting bakau dan mengetahui agensia penyebab penyakit bakterial yang bersifat pathogen pada kepiting bakau (S. paramamosain) yang berasal dari Demak. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling pada 20 ekor kepiting bakau dengan panjang karapas 10,53±1,2 cm. Berdasarkan gejala klinis terdapat 5 kepiting yang terinfeksi oleh penyakit bakterial. Isolasi bakteri menggunakan metode pour plate dengan pengenceran 10-1 sampai 10-5 pada luka, insang, hepatopankreas kemudian ditanam sebanyak 1 ml ke cawan petri. Isolasi dari haemolymph diambil sebanyak 0,1 ml kemudian ditanam pada media Zobell, GSP, dan TCBS. Uji postulat Koch dilakukan terhadap keenam isolat terpilih pada 9 ekor kepiting dengan dosis 108 CFU/ml sebanyak 0,2 ml pada kaki renang. Pengamatan gejala klinis dan kematian dilakukan selama 168 jam setelah peyuntikkan. Karakterisasi agensia penyebab penyakit dilakukan secara morfologi dan biokimia. Hasil penelitian menunjukkan gejala klinis yang terdeteksi antara lain adanya luka dan warna coklat kemerahan (melanosis) pada karapas, karapas berwarna gelap, bagian abdomen menghitam, terdapat bintik putih. Berdasarkan uji postulat Koch keenam isolat tersebut dapat menyebabkan kematian 100% terhadap kepiting uji. Hasil karakterisasi secara morfologi dan biokimia keenam isolat agensia penyebab penyakit adalah Vibrio parahaemolyticus (SJ.D 2), V. alginolyticus (SJ.D 4), V. ordalii (SJ.D 9), V. harveyi (SJ.D 12), Aeromonas hydrophila (SJ.D 16) dan Pseudomonas aeruginosa (SJ.D 17). Keenam isolat bakteri bersifat pathogen karena mampu menyebabkan kematian dikondisi kepiting yang dipelihara pada kualitas air yang baik. The aims of this research for to know clinical sign was caused by bacterial disease, type of bacteria that are infected mud crabs and discovering causative agent of bacterial disease in the mud crab (S. paramamosain) from Demak. The sampling method used purposive sampling in 20 mud crabs with length of carapace approximately 10,53±1,2 cm. Based from clinical sign there are 5 mud crabs was suspected with infected by bacterial disease. The methode of bacterial isolated  used pour plate methode with dilution 101 up to 105 from ulcher, gill, hepatopancreas then planted as much as 1 ml in petridish. Isolation of haemolymph was taken as much as 1 ml then planted in Zobell, GSP and TCBS medium. Postulate Koch test conducted on the six selected isolate at 9 crabs with a dose of 108 CFU/ml as much as 0,2 ml in the swimming legs. Observation of clinical sign and mortality conducted for 168 hours after have been injected. Characterization of causative agent bacterial disease conducted by morfology and biochemical test. The result of this research showed that the clinical sign were detected lesion and red color (melanisation) in the carapace, dark color in the carapace, darkside in abdominal, there are white spot in some part. Based postulate Koch test from 6 isolate concluded that caused 100% mortality in mud crab testing. The resulted of characterization morfology and biochemical test from 6 isolate causative agent is  Vibrio parahaemolyticus (SJ.D 2), V. alginolyticus (SJ.D 4), V. ordalii (SJ.D 9),  V. harveyi (SJ.D 12), Aeromonas hydrophila (SJ.D 16) and Pseudomonas aeruginosa (SJ.D 17). The six bacterial isolate is a pathogen caused mortality in the mud crab with good water quality.
PENGARUH SISTEM BIOFILTER AKUAPONIK TERHADAP PROFIL DARAH, HISTOLOGI ORGAN HATI DAN KELULUSHIDUPAN PADA IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepenus) Muhammad, Fandy Malik; Hastuti, Sri; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.768 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh system biofilter akuaponik terhadap profil darah, histologi hati, dan kelulushidupan ikan lele dumbo. Perlakuan yang digunakan menggunakan media tanpa biofilter akuaponik dan biofilter akuaponik.  Ikan uji yang di gunakan lele dumbo yang berukuran 7-9 cm dengan kepadatan 200 ekor/m2 pada kolam terpal berukuran 2x1x1 m2. Selama pemeliharan ikan diberi pakan pelet dengan metode pemberian secara at satiation, sebanyak dua kali pada pagi dan malam hari. Pemeliharan ikan dilakukan  hingga ikan mencapai ukuran konsumsi dan pengukuran terhadap kondisi kualitas air yang terdiri dari suhu, pH, oksigen terlarut, selama 2 minggu sekali dan total ammonia, nitrit, nitrat dilakukan pada awal,tengah, dan akhir penelitian. Pada akhir pemeliharaan dilakukan perhitungan profil darah yang terdiri dari eritrosit, leukosit, trombosit, hematokrit, hemoglobin, differensiasi leukosit (granulosit. Limfosit, dan monosit), SGOT, SGPT, bilirubin darah, glukosa darah, Kemudian histologi hati beserta kelulushidupan ikan lele dumbo.  Data di analisa dengan deskriptif dan uji t. Hasil penelitian memperlihatkan perbaikan nilai eritrosit, hemoglobin dan hematokrit masing-masing sebesar (0,99±0,36) juta sel/ul menjadi (1.74±0,71) juta sel/ul( 3,73±1,33) gr/dl menjadi (6,17±2,85) gr/dl, dan (12,56±4,07) menjadi (22,51±10,40) %. sel/ul. Nilai  leukosit yaitu dari (15,35±6,86) ribu sel/ul menjadi (42,8±31,62)  ribu sel/ul., nilai SGOT yaitu (62,67±9,71) U/L menjadi (53,67±18,6) U/L. sedangkan nilai trombosit, granulosit, monosit, limfosit dan SGPT, bilirubin darah, dan glukosa darah kedua perlakuan tidak menunjukkan adanya perbedaan. Hasil pengamatan histologi hati ikan lele dumbo mengalami perubahan struktur hati menjadi lebih baik dengan penerapan biofilter akuaponik. Hasil kelulushidupan ikan lele dumbo mengalami peningkatan (86,08 ±2,40) % menjadi (92,17±1,88)%.  The aim of this research  was to asses the effect of application biofilter aquaponic pond on the blood of profile, histology of heart, and survival rate. Two treatments used systems without and with applied biofiltration aquaponic pond. African Catfish used with length of  7-9 cm in size were reared on the pond of (2x1x1) m2 with a density 200 fish/m2. During the rearing of fish fed with pellets by the method of ad satiation, twice a day at noon and at night. Rearing the fish was done until size of consumption and carried out measurements of water quality conditions of temperature, pH, dissolved oxygen during once 2 weeks and ammonia total, nitrit, nitrat at first, middle and end of research. At the end of the rearing, blood profile consisting of erythrocytes, leukocytes, platelets, hemoglobin, hematocrit, different leukocytes (granulocytes, limfocytes,and monocytes), SGOT, SGPT, blood bilirubin, and blood glucose. And then histologi of heart and survival rate of African catfish. Data were analyzed descriptively and T test. The results showed changes in erythrocytes, hemoglobin and hematocrit values, each for (0.99±0.36) to (1.74±0.71) million cells / ul, ( 3.73±1.33) gr/dl to (6.17±2.85) gr/dl,and (12.56±4.07) % to (22.51±10.40) %, leukocyte count from (15.35± 6.86) thousand cells / ul to (42.8±31.62) thousand cells / ul., SGOT (62.67±9.71) to (53.67±18.6) U/L, and   platelets, granulocytes, monocytes, limfocytes, SGPT, blood of bilirubin, and blood of glukocuse haven’t showed significant of value between two treatments. results from observation of heart tissue catfishes  indicated better than  with biofilter aquaponic system. Results of survival rate were improvement of  (86.08 ±2.40) % to (92.17±1.88)%.
PENGARUH PERENDAMAN BERBAGAI DOSIS EKSTRAK DAUN JERUJU TERHADAP KELULUSHIDUPAN Scylla serrata YANG DIINFEKSI Vibrio harveyi Ardiantami, Agatya Sara; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.337 KB)

Abstract

Kepiting bakau (Scylla serrata) menjadi salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Akan tetapi, tingkat permintaan tidak berbanding lurus dengan tingkat produksi. Salah satu kendala yang dihadapi adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Salah satu penyakit bakterial yang sering menginfeksi kepiting bakau adalah vibriosis. Upaya pengobatan yang dilakukan masih menggunakan bahan kimia seperti antibiotic, padahal penggunaan antibiotik dapat menimbulkan dampak negatif, yaitu resistensi bakteri patogen dan residu yang dapat mencemari lingkungan. Alternatif pengobatan selain menggunakan antibiotik, yaitu menggunakan bahan alami yang bersifat antibakterial, seperti tumbuhan jeruju (A. ilicifolius). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman ekstrak daun jeruju terhadap kelulushidupan, pertumbuhan dan gejala klinis kepiting bakau yang diinfeksi V. harveyi. Kepiting bakau yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 48 ekor dengan rata-rata bobot tubuh, yaitu 41.81+0.56 gram. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Semua kepiting disuntik dengan bakteri V. harveyi dengan tingkat kepadatan 106 CFU/ml dan direndam dengan ekstrak daun jeruju dengan dosis 0 ppm (perlakuan A), 400 ppm (perlakuan B), 600 ppm (perlakuan C) dan 800 ppm (perlakuan D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis yang terlihat pada kepiting bakau, yaitu gerakan pasif, kaki-kaki merenggang, kaki renang berwarna merah, melanosis pada karapas (menghitam dan bercak coklat). Persentase kelulushidupan pada perlakuan B, C dan D mencapai 100%, sedangkan perlakuan A, yaitu 83.33%. Kualitas air pada media pemeliharaan menunjukkan masih didalam kisaran yang layak untuk kehidupan kepiting bakau. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman ekstrak daun jeruju menunjukkan hasil tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan kepiting bakau. Mud crab (Scylla serrata) became one of fishery commodity which have a high-economic value. But, the demand rate not propotional with production level. One of an obstacle that be faced was disease that caused by bacterial. One of a bacterial disease that often infection mud crab was vibriosis. Medical eforts an usual conducted still using chemical matter like an antibiotic, in fact, the using of antibiotic can appear negative impacts were pathogen bacterial become resistent and residue can be soiled to environment. Medical alternative besides using antibiotic was using a natural matter which have an antibacterial characteristic was jeruju plant (A. ilicifolius). This research was aimed to know the effect of jeruju leaf extract immersion to survival rate, growth and clinical signs on mud crab that infected by V. harveyi. Mud crab that using in this research amount 48 crab with body weight average was 41.81+0.56 gram. This research was using completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. All crabs injected by V. harveyi with density 106 CFU/ml and immersed with jeruju leaf extract with dose 0 ppm (treatment A), 400 ppm (treatment B), 600 ppm (treatment C) and 800 ppm (treatment D). The results showed that the Clinical signs on mud crab were passive motion, distantly-spaced leg, red-colour on swim leg, melanosys on carapace (blackened and brown spot). Percentage of SR on treatments B, C, D reaches 100%, but treatment A was 83.33%. Water quality on maintaince media showed that still in feasible range for mud crab life. Based on the results of this research was concluded that the submersion with jeruju leaf extract showed not significant effect on survival rate of mud crab.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) PADA PAKAN TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN PROFIL DARAH LELE DUMBO (Clarias gariepinus) YANG DIINFEKSI Aeromonas caviae Kurniawan, Adhi; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.176 KB)

Abstract

Ikan lele dumbo (C. gariepinus) adalah ikan yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Salah satu kendala dalam budidaya lele dumbo adalah serangan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemiae) yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas sp. Penyakit ini sangat ganas, khususnya pada ikan lele. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia) terhadap kelulushidupan lele dumbo yang diinfeksi Aeromonas caviae. Hewan uji yang digunakan adalah lele dumbo berukuran 10±0,12 cm dan bobot 25±0,1 gr. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan 4 perlakuan yaitu perlakuan A (tanpa pemberian ekstrak daun binahong), B (2,5%), C (5%), dan D (7,5%) dengan pemberian pakan selama 14 hari. Uji tantang dilakukan dengan menyuntikkan suspensi A. caviae dengan dosis 1,5x108 sel/mm3 sebanyak 0,1 mL secara intramuskular. Pengamatan dilakukan selama 9 hari pasca infeksi yang meliputi kelulushidupan, gejala klinis, dan profil darah lele dumbo. Hasil pengamatan total eritrosit hari ke-3 pasca infeksi mengalami penurunan disemua perlakuan dibandingkan hari ke-0. Hari ke-6 sampai hari ke-9 pasca infeksi total eritrosit mengalami kenaikan. Total leukosit hari ke-3 dan hari ke-6 pasca infeksi mengalami penurunan disemua perlakuan. Kadar hematokrit hari ke-3 dan hari ke-6 pasca infeksi mengalami penurunan disemua perlakuan dibandingkan hari ke-0. Hasil penelitian menunjukkan gejala klinis ikan lele yang terserang A. caviae diantaranya respon pakan menurun, berenang tidak normal, timbul luka disertai pendarahan dibagian penyuntikan. Pemberian ekstrak daun binahong pada lele dumbo tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan lele dumbo pasca infeksi A. caviae. Dalam penelitian ini dosis ekstrak daun binahong yang ditambahkan pada pakan kurang efektif sebagai immunostimulan lele dumbo setelah infeksi A. caviae. The Catfish (C. gariepinus) is one of most freshwater fish for Indonesian people, especially in Java. One of the problems of intensive catfish culture is disease caused by Motyle Aeromonas Septicemia (MAS). This disease known very pathogenic, especially for catfish. The aim of this research was to investigate the effect of Anredera cordifolia leaf extract toward hematology and survival rate of C. gariepinus infected by Aeromonas caviae. The tested fish C. gariepinus average weight was 25±0,1 g. This research was conducted with 4 (four) treatments namely, A (treatment with no leaf extract A. cordifolia), B (2,5% leaf extract), C (5% leaf extract), and D (7,5% leaf extract) respectively. The challenge test was done by injecting of 0,1 ml A. caviae suspensions with dosage of 108 cell/mm3 intra-muscularly. Observation was performed for 9 days after infection. The parameter observed were survival rate, clinical symptoms, and hematology. The observation demonstrated that erythrocyte at all treatment 3 days after infection were decrease at all treatment. Erythrocyte for 6 days to 9 days after infection increase all treatment. Leuchocyte level 3 days and 6 days after infection was decreases in all treatment similarly. Hematokrit level 3 days to 6 days after infection also decrease at treatment,  respectively clinical symptoms observation infected catfish showed swam abnormally, injured and haemorhagic on the skin along with damaged on the body. Immersion with A. cordifolia extract leaf past infection indicated that they were not significantly different on C. gariepinus survival rate. Therefore the dosage of A. cordifolia leaf extract is not effective to protect C. gariepinus from A. caviae infection.
Pengaruh Penggunaan Ekstrak Daun Jeruju (Acanthus Ilicifolius) Dengan Dosis Berbeda Terhadap Gambaran Darah, Gejala Klinis Dan Kelulushidupan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Yang Diinfeksi Aeromonas hydrophila Ziyadaturrohmah, Siti; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, Sarjito; Hidayati, Nurul; Saptiani, Gina
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.27 KB)

Abstract

Aeromonas hydrophila is a causative agent of Haemoragic Septicemia on Clarias gariepinus. The aim of this research was to investigate the effect of Acanthus ilicifolius leaf extract toward survival rate of C. gariepinus infected by A. hydrophila. Tested fish C. gariepinus 10-12 cm and weight ±25 gr. This reasearch was conducted by 4(four) treatments namely, A (treatment with no leaf ectract A. ilicifolius), B (300 ppm), C (500 ppm), and D (700) 30 minutes immersion. The challenge test was done by injecting 0,1 mL A. hydrophila suspensions with dosage 108 cell/mm3 intra-muscular by experiment fishes. Observation was performed for 5 days after infection such as blood profile, clinical symptoms, and survival rate of C. gariepinus. The results of blood profile after the infection showed that hematokrit of A, B, C, and D treatments was 17,33%, 14,67%, 15,00%, 19,67% respectively. Percentage of the highest erythrocyte was at D treatment 1,79x106 sel/mm3, B 1,72 x106 sel/mm3, A 1,64x106 sel/mm3, C 1,52x106 sel/mm3. Percentage of the highest leuchocyte was at C treatment 5,43x104 sel/mm3, D 3,11x104 sel/mm3, B 2,63x104 sel/mm3, and A 2,32x104 sel/mm3. The result showed that clinical symptoms of A. hydrophila infected fish swam abnormally, injured and haemoragic on the skin along with damaged on the body. Immersion with A. ilicifolius extract leaf past infection indicated that they were not significantly different on C. gariepinus survival rate. Therefore the dosage of A. ilicifolius leaf extract did not sufficient to protect C. gariepinus from A. hydrophila infection.
ANALISA PROSPEK BISNIS BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN BANDENG (Chanos chanos) DI KECAMATAN TUGU KOTA SEMARANG Wijaya, David Panca; Elfitasari, Tita; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.593 KB)

Abstract

Prospek budidaya pembesaran ikan bandeng di Tugu memiliki potensi yang baik karena permintaan pasar yang selalu meningkat. Penelitian ini menggunakan dua sampel POKDAKAN yaitu Mina Barokah dan Mina Usaha Mandiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek finansial pembesaran ikan bandeng (Chanos chanos) dan prospek bisnis pembesaran ikan bandeng (Chanos chanos) di Kecamatan Tugu Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dan metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah metode wawancara dan distribusi kuisioner. Metode analisis data yang digunakan adalah NPV, IRR, B/C Ratio, Payback Period, SWOT, Uji Validitas dan Uji Realibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kekuatan tertinggi adalah manajemen budidaya dan potensi lahan, faktor kelemahan tertinggi adalah strategi bisnis dan keterbatasan dana, faktor peluang tertinggi adalah sumber daya manusia dan manajemen budidaya, faktor ancaman tertinggi adalah kualitas benih ikan bandeng dan harga jual yang fluktuatif. Kesimpulan yang diperoleh bahwa prospek bisnis pembesaran ikan bandeng dengan menggunakan sistem ekstensif plus menempati kuadran I yang berarti kondisi budidaya ikan bandeng berada pada kondisi yang baik sehingga sangat diharapkan untuk dikembangkan lagi. Sedangkan untuk aspek ekonomi POKDAKAN Mina Barokah menghasilkan nilai NPV Rp. 92.048.895,00, IRR 24%, B/C Ratio 2.35, Payback Periode 0,82 dengan jumlah siklus 1-3 kali/tahun dan POKDAKAN Mina Usaha Mandiri Menghasilkan nilai NPV Rp. 441.656.142,00, B/C Ratio 4, Payback Periode 1 dengan jumlah siklus 1-3 kali/tahun. Berdasarkan nilai tersebut maka kedua POKDAKAN dikategorikan layak untuk dikembangkan lagi.There is a good prospect for milkfish rearing in Tugu with the increasing market demands. This study using two sample fish farmers group, Mina Barokah and Mina Usaha Mandiri. The aim of this study is to analyse the financial aspects and business prospects of milkfish (Chanos chanos) rearing in District Tugu Semarang. The method used in this study is case study where interviews and questionnaires distribution were carried out. Data analysis method used were NPV, IRR, B/C Ratio, Payback Period, SWOT, validity and reliability test. The results showed that the highest strength factors are fish farming management and the land potential, the highest weakness factors are the utilization of funds and lack of funds, the highest opportunities are human resources and aquaculture management, the highest threat factors are seed quality and fluctuation selling prices. It is concluded that the prospect for fish rearing business occupy quadrant 1, which means the business is in a good condition and can be expected to develop more. For the economic aspect  Fish farmers group Mina Barokah  produce values NPV Rp 92.048.895,00, IRR 24%, B/C Ratio 2.35 and Payback Periode 0,82 while Mina Usaha Mandiri produce values NPV Rp. 441.656.142,00, B/C Ratio 4 and Payback Periode 1, with the total production 1-3 times/year. Based on the value, both of the fish farmers group business are categorized as worth to develop more.
PENGARUH KONSENTRASI KONSORSIUM BAKTERI K7, K8 DAN K9 TERHADAP STATUS KESEHATAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) Raharja, Edward; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.38 KB)

Abstract

E. cottonii berperan sebagai penyumbang utama produksi perikanan. Salah satu faktor penghambat produksi adalah penyakit ice-ice. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri patogen terhadap thallus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis rumput laut (E. cottonii) yang terinfeksi konsorsium bakteri dan Mengetahui pengaruh tingkat konsentrasi bakteri penyebab timbulnya penyakit ice-ice pada rumput laut (E. cottonii). Metode pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuannya dengan konsorsium bakteri K7,K8 dan K9 yang sama dan konsentrasi yang berbeda yaitu A (106 CFU/ml), B (107 CFU/ml), C (108 CFU/ml), dan D (tanpa inokulasi/kontrol).  E. cottonii bobot 1-1,5 gram dan panjang  5 cm dipelihara dalam botol kaca yang diisi air laut steril 200 ml selama 9 hari. Kondisi suhu 28°C, salinitas 30 ‰, dan pH 7. Pemeliharaan menggunakan shaker kecepatan 100 rpm. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi konsorsium K7, K8 dan K9 yang berbeda berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap nilai pertumbuhan mutlak E. cottonii. Gejala klinis yang ditimbulkan adalah munculnya spot putih yang kemudian akan bertambah panjang dan mengakibatkan thallus patah. Bakteri konsorsium yang menyebabkan gejala klinis tersebut adalah Corynebacterium sp., Baccilus sp., dan Alteromonas sp.. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa konsorsium bakteri K7, K8 dan K9 dengan konsentrasi 106 CFU/ml sudah mampu menimbulkan gejala klinis terhadap rumput laut uji. E. cottonii is one of a major contributor to the fisheries production. One of the inhibiting production factor is due to ice-ice disease. It is caused by several bacterial pathogens against seaweed thallus. The purposes of this research were to discover the clinical signs of seaweed (E. cottonii) that infected by bacterial consortium and the effect of the concentration levels of disease-causing bacteria ice-ice on seaweed (E. cottonii). The method in this study using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. Treatments were exposure of bacterial consortium K7, K8 and K9 at different concentrations namely A (106 CFU / ml), B (107 CFU / ml), C (108 CFU / ml), and D (without inoculation / control) to E. cottonii at 1-1,5 gram and 5 cm long was preserved in a glass jar filled with 200 ml of sterile sea water for 9 days. Bioecological condition was kept at 28 ° C, salinity 30 ‰, and pH 7 by using shaker at 100 rpm. The results showed that concentrations of a consortium of K7, K8 and K9 significantly different (P <0.05) to the absolute growth of E. cottonii. Clinical signs were ebserved by the appearance of white spots at the edge of thallus and spread up to along the thallus and end up with the broken thallus. Consortium of bacteria that cause the clinical signs were Corynebacterium sp., Baccilus sp., And Alteromonas sp.. Based on the results above it can be concluded that the bacterial consortium K7, K8 and K9 with a concentration of 106 CFU / ml are already capable of causing the clinical sign of ice-ice to seaweed experimental.
KARAKTERISASI BAKTERI DAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI PADA IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) YANG TERSERANG PENYAKIT “MATA BELO” Latifah, Anisa Dwiaryani; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1057.198 KB)

Abstract

Mata belo adalah salah satu penyakit yang menyerang budidaya ikan gurami. Penelitian ini bertujuan mengetahui gejala klinis dan karakterisasi bakteri serta gambaran histopatologi ginjal, hati dan mata pada ikan gurami yang terserang penyakit “mata belo”. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksploratif, sedangkan metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Ikan gurami yang digunakan untuk isolasi dan histopatologi berukuran 16,8±3,4 cm sebanyak 7 ekor. Organ yang diisolasi yaitu ginjal, hati, mata, geripis dan luka. Isolasi bakteri menggunakan media Tryptic Soy Agar (TSA) dan Glutamate Starch Phenile (GSP). Isolat dipilih dengan melakukan seleksi berdasarkan morfologi koloni untuk uji reinfeksi. Ikan gurami yang digunakan sebagai ikan uji untuk uji reinfeksi berukuran 7 – 9  cm sebanyak 10 ekor per akuarium. Penyuntikan dilakukan dengan kepadatan bakteri 108 CFU/mL dan dosis 0,1 mL. Identifikasi bakteri dengan uji biokimia dan morfologi bakteri. Organ yang diamati saat uji histopatologi yaitu ginjal, hati dan mata. Hasil penelitian menunjukkan gejala klinis seperti exopthalmia, ekor geripis, luka pada tubuh dan hemorrhagic pada insang. Hasil isolasi didapatkan 28 isolat bakteri. Seleksi berdasar morfologi koloni bakteri didapatkan 7 isolat bakteri (NG01, NG06, NG07, NG11, NG13, NG15 dan NG14) untuk uji reinfeksi. Hasil uji reinfeksi menunjukkan bahwa 7 isolat bakteri mengakibatkan tingkat kematian ikan uji yang beragam yaitu 96,67%; 80,00%; 63,33%; 60,00%; 53,33%; 50,00%; 46,67%. Bakteri yang menyebabkan penyakit “mata belo” adalah bakteri Aeromonas hydrophila, sedangkan bakteri yang berasosiasi dengan penyakit “mata belo” adalah Staphylococcus aureus, Plesiomonas sigeloides, Escherichia vulneris dan Bacillus mycoides. Hasil pengamatan histopatologi ditemukan kelainan yaitu kongesti, nekrosis dan degenerasi pada ginjal, kongesti, melanomakrofag dan degenerasi pada hati serta nekrosis pada mata. Mata belo is one of the fish diseases that infect the culture of gouramy. The aim of this study to determine the clinical sign of the disease and to know histopathology characterization of kidney, liver and eye. The method in this research used sampling method with purposive sampling method. The gouramy samples to used isolation and histopathology have length 16.8±3.4 cm. Isolation of bacteria using media Tryptic Soy Agar (TSA) and Glutamate Starch Phenile (GSP). Isolated organs are kidneys, liver, eye, and wound. Isolates selected based on colony morphology for reinfection test. Gouramy samples for reinfection test have length 7 – 9 cm. The density of injection 108 CFU bacteria/mL with dose 0.1 mL. Identification of bacteria based from biochemical and morphological criteria. Histopathology organs were kidneys, liver and eye. The results of the clinical sign was a exopthalmia and hemorrhagic in the gills. Results obtained 28 isolates of bacterial isolation. The isolat was selected 7 isolates (NG01, NG06, NG07, NG11, NG13, NG15 and NG14) to reinfection test. The test results showed that mortality in 7 isolates were 96.67%; 80.00%; 63.33%; 60.00%; 53.33%; 50.00%; 46.67%. The bacteria was caused on “mata belo” is Aeromonas hydrophila, while the bacteria was associated on “mata belo” are Aeromonas hydrophila, Staphylococcus aureus, Plesiomonas sigeloides, Escherichia vulneris and Bacillus mycoides. Histopathology results were congestion, necrosis and degeneration of the kidneys, while in the liver was congested, melanomacrofag, degeneration and necrosis at the eye.
Co-Authors - Aminah - Desrina, - - Istikhanah - Susanti, - - Triyaningsih A. Harjuno Condro Haditomo A. Santoso Adhi Kurniawan Adi Santoso Afifah, Roidah Nur Agatya Sara Ardiantami, Agatya Sara Agil Setya Utomo, Agil Setya Agus Dwi Anggono Agus Pranoto Syah, Agus Pranoto Agus Yulianto Aji, Nisa Pamesty Rahma Alfabetian Condro Haditomo Alfabetian Harjuna Condro Haditomo Alfabetian Harjuno Condro Haditomo Alfia Magfirona Alfiyani, Lina Ali Djunaedi Amalia, Ayu Rizki Amanda Mega Putri, Amanda Mega ANGELA MARIANA LUSIASTUTI Anggoro, Agung Doni Anggun Putriani Situmorang, Anggun Putriani Aninditia Sabdaningsih Anisa Dwiaryani Latifah Annisa Oktafianti Nurlatifah, Annisa Oktafianti Aprilia Dwi Indriani Arifin Arifin Arum Almuaromah, Dita Asep Akmal Aonullah Astri Pujiati Aulia Resty Wijayanti Aulia, Annisa Syahida Ayi Santika Ayu Wulandari Bosma, Roel Bosma, Roel H. Briliani Ayu Wardani Budi Setiawan Buyung Junaidin, Buyung Caesa, Genio Chairulina Pitrianingsih CHONDRORESMI BANOR FAWWAZ Chyntia Arindita Dani Indrarini David Panca Wijaya, David Panca Desrina Desrina Dewi Nurhayati Dhani Mutiari Dian Ratna Sari Dian Wijayanto Diana Chilmawati Diana Chilmawati Diana Rachmawati Dicky Harwanto Ditha Cahyaningrum Ditha Febriana Dewanti Nineung Edward Raharja, Edward Endah Setyowati Eni Ashfa Ashofa Ervia Yudiati Fajar Basuki Famelia Meta Putri Fandy Malik Muhammad, Fandy Malik Fatian, Adella Spextania Ferdian Bagus Feriandika Fifiana Zulaekah Fitriadi, Ren Gina Saptiani Haeruddin Haeruddin Hasna, Salma Khoironnida Hasyim Asyari Ika Puspitasari Indah Febry Hastari Intan Eska Amalia Syahida Istiyanto Samidjan Jery, Jery Johannes Hutabarat Jokosisworo Jokosisworo Kewa, Kristofora Karolina Khuzaimah, Ima Siti Kurniawan Kurniawan Laksono Trisnantoro Lestari Lakhsmi Widowati Lilik Maslukah Lilik Setiyaningsih Linuwih Aluh Prastiti Lukman Anugrah Agung Lukman Lukman Marwenni Siregar, Marwenni Milza Apriliani, Milza Mita Umiliana, Mita Monica Nanda Muchtar muchtar Muhammad Burhan Mukhlisin, Latutik Nailil Muna Nida Qolbi Salma Rochani Noor Alis Setiyadi Nur Aklis Nur Annisa Nuri Nia Yanti, Nuri Nia Nurul Hidayati Ocky Karna Radjasa Panji Yusroni Anwar Prabowo, Anggit Bayu Pramudita Apriliyanti Prayitno, S. Budi Pungki Nanda Pratama Purwanto Purwanto Pusaka, Semerdanta R. Dewi Dharina Nurjannah Rahman, Nuril Endi Rahmawati, Amelia Rahmi Gusti Darma Raynol Simorangkir Rensiga Rintan Bunga Sari Restiana Ariyati Restiana Wisnu Ariyati Rini, Endah Setyo Ristiawan Agung Nugroho Rohita Sari Rosa Amalia Rosalina Safitri Rusydina Qamarul Salikin S. Budi Prayitno Sahala Hutabarat Sarastiti, Siwi Schrama, Johan Sekar Ayu Chairunnisa Seto Windarto Setyo Putro Rahmanto Setyowati, Suryaning Siti Nurjanah Siti Ziyadaturrohmah Siwi Hartanti Slamet B Prayitno slamet budi prayitno Slamet Budi Prayitno Soedibya, Petrus Hary Tjahja Sri Hastuti Sri Hastuti Sri Nurchayati Sri Nuryati Sri Rejeki Subagiyo Subagiyo Subandiyono Subandiyono Subroto Subroto Sulisyaningrum Sulisyaningrum Sumini Sumini, Sumini Suminto , Suminto - Suminto Suminto Suminto Suminto Suminto Suminto Suminto Suminto Suradi Wijaya Saputra Tita Elfitasari Titik Susilowati Tri Mulyadi Trienes, Yoni W. Widiatmoko Wiji Utami, Wiji Wijianto Wijianto Wisnu Widyantoro Wiyadi Yelliana Fatmawati Suwarno Yohanes Kristiawan Artanto