Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK DAUN CEREMAI (Phyllanthus acidus [L] skeels) TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN HISTOPATOLOGI GINJAL IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) YANG DIINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila Cahyaningrum, Ditha; Sarjito, -; Haditomo, Alfabetian Harjuno Condro
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.751 KB)

Abstract

Ikan patin (Pangasius hypophthalmus) adalah salah satu komoditas ikan air tawar ekonomis penting. Pengembangan budidaya melalui sistem intensifikasi dapat memperbesar peluang terjangkitnya penyakit bakteri. Salah satu penyakit bakteri yang menyerang yaitu Aeromonas hydrophila. Penggunaan antibiotik untuk mengobati ikan dapat meningkatkan resistensi, sehingga diperlukan obat alternatif untuk mengobati dari daun ceremai (Phyllanthus acidus[L] skeels) yang mengandung flavonoid, tanin dan saponin sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman dan dosis terbaik ekstrak daun ceremai terhadap kelulushidupan serta histopatologi ikan patin yang di infeksi bakteri A. Hydrophila. Ikan uji di injeksi bakteri A. Hydrophila sebanyak 0,1mL dengan konsentrasi 107 CFU/mL secara intramuskular. Setelah menunjukkan gejala klinis berupa peradangan yang kemudian menjadi luka (ulcer) di bekas suntikan dan haemorage pada sirip dubur, ikan patin direndam dalam ekstrak daun ceremai selama 15 menit. Hasil pengamatan diperoleh nilai kelulushidupan tertinggi terdapat pada perlakuan C sebesar 60%, diikuti oleh perlakuan D sebesar 43,33%, perlakuan B sebesar 6,67%  dan pada perlakuan A sebesar 3,33%. Penggunaan ekstrak daun ceremai terbukti berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan patin yang di infeksi bakteri A. hydrophila. Pada pengamatan  histopatologi diperoleh adanya kelainan pada organ ginjal seperti adanya nekrosis, degenerasi vakuola dan kongesti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun ceremai mampu  menyembuhkan  ikan patin yang di infeksi bakteri A. hydrophila, dimana dosis terbaik terdapat pada perlakuan C (1500 ppm) dengan nilai kelulushidupan tertinggi sebesar 60%. Catfish (Pangasius hypophthalmus) is one of freshwater fish commodity that has economic value. Intensification system can increase of chances contracting bacterial disease. One of bacterial disease that formed by Aeromonas hydrophila. Utilization of antibiotics for treat a fish againts to increase resistance, necessitating alternative medicine to treat it from ceremai leaf (Phyllanthus acidus [L] Skeels) that containing flavonoids, tannins and saponins as a antibacterial. The purpose of this study is to determine the effect of immersion and the best dose of ceremai leaf extract againts survival and histopathological of catfish that in A. hydrophila bacterial infections. Fish injection test in bacteria A. hydrophila as 0,1mL with concentration 107 CFU / mL intramuscularly. After was showed clinical symptoms inflammation that become wound (ulcer) at the injection site and haemorage in anal fin, than all of catfishis had immersion session with is ceremai leaf extract for 15 minutes. The Observations showed that the highest survival rate is in treatment C at 60%, followed by treatment D 43.33%, amounting to 6.67% B treatment and the treatment A of 3.33%. The utilization of ceremai leaf extracts proved significantly effect (P<0,05) on the survival of catfish infected bacteria A. hydrophila. From histopathological observations acquired abnormalities in internal organs such as necrosis, degeneration vacuoles, congestion. In kidney the results showed that ceremai leaf extract is able to heal catfish that was infected by A. hydrophila, and had best dose in treatment C (1500 ppm) with the highest survival rate of 60%.
PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) UNTUK PENANGGULANGAN PENYAKIT BAKTERI (Vibrio harveyi) PADA UDANG WINDU Pratama, Pungki Nanda; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.277 KB)

Abstract

Penyakit bakterial merupakan kendala yang menyebabkan penurunan produksi seperti halnya vibriosis. Vibriosis merupakan penyebab kematian utama pada larva, post larva, juvenil, remaja dan udang dewasa hampir mendekati 100%. Salah satu jenis vibrio yang sering menyebabkan kematian pada udang windu adalah Vibrio harveyi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak daun binahong (A. cordifolia) dan mengetahui dosis terbaik terhadap kelulushidupan dan histopatologi udang windu yang diinfeksi V. harveyi. Penginfeksian V. harveyi sebanyak 0,1 mL dengan dosis 105 CFU/ml pada bagian intramuskular.Pada penelitian ini digunakan konsentrasi ekstrak daun binahong dengan dosis perlakuan  0 ppm, 600 ppm, 800 ppm dan 1000 ppm, kemudian dilakukan perendaman (dipping) selama 8 menit. Dari treatment perendaman ekstrak binahong memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan dan histopatologi hepatopankreas udang windu. Treatment A (600 ppm) merupakan dosis terbaik untuk mengobati udang windu yang terinfeksi V. harveyi. Bacterial disease is the one problems causes a decreasing production like as vibriosis. Vibriosis is the main problem cause mortality in larvae, post-larvae, juvenile, and adult stages of shrimp close to 100%. Vibrio harveyi is one of species from genus vibrio which often causes mortality in black tiger shrimp. The aim of this resaerch to determine the effect of utiliztion of binahong leaf extracts (A. cordifolia) and determine the best dose to survival and histopathological of tiger shrimp it was infected by V. harveyi. V. harveyi injection as much as 0.1 mL with a dose of 105 CFU / ml in the intramuscular tissue. The research used concentration of Binahong leaf extract in four treatment were 0 ppm, 600 ppm, 800 ppm, and 1000 ppm, then carried to immersion treatment during 8 minutes. Based from immersion of binahong extract has significant effect on survival and hepatopancreas histopathology of Tiger shrimp. Treatment A (600ppm) is the best dose to cure V. harveyi infection in tiger shrimp.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) TERHADAP MORTALITAS DAN HISTOLOGI HATI IKAN MAS (Cyprinus carpio) YANG DIINFEKSI BAKTERI Aeromonas caviae Salikin, Rusydina Qamarul; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.535 KB)

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) adalah salah satu komoditas perikanan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Adanya serangan penyakit pada budidaya ikan mas seperti bakteri A. caviae, dapat menyebabkan kerugian ekonomi dalam budidaya. Banyak upaya yang dilakukan untuk mencegah dan mengobati serangan bakteri A. caviae, salah satunya menggunakan fitofarmaka ekstrak daun binahong. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak daun binahong (A. cordifolia) serta mengetahui dosis yang terbaik terhadap kematian dan histologi ikan mas yang diinfeksi bakteri A. caviae. Ikan  mas (C. carpio) yang digunakan sebanyak 96 ekor  kemudian disuntik bakteri A. caviae dengan kepadatan 107 CFU/mL secara intramuskular. Pelarut yang digunakan dalam ekstrak binahong menggunakan aquades. Perendaman dengan ekstrak daun binahong dilakukan setelah 2 hari pasca penyuntikan. Nilai rata-rata mortalitas tertinggi hingga terendah berturut-turut yaitu 83,86% (perlakuan A), 68,86% (perlakuan B), 57% (perlakuan C) dan 55,78% (perlakuan D). Perendaman dengan ekstrak daun binahong menunjukkan hasil yang berpengaruh nyata (P<0,05) hal ini terbukti dari semakin tingggi dosis ekstrak yang digunakan, semakin rendah kematian pada ikan mas. Hasil pengamatan gambaran histopatologi diperoleh adanya kerusakan berupa nekrosi, degenerasi dan melanomakrofag pada organ hati. Oleh karena itu perendaman ekstrak daun binahong mampu memberikan efek penyembuhan terhadap ikan mas yang diinfeksi bakteri A. caviae. Carp (Cyprinus carpio) is one of the freshwater aquaculture commodities which have high economic value. Bacterial Disease caused by Aeromonas caviae often infected Carp culture. Many efforts made to prevent infection by A. caviae bacteria, one of which used phytopharmaca binahong leaf extract. This aims of this research to determine the effect of the use of binahong ( A. cordifolia ) leaf extract and determine the effective dose on mortality and histology of carp was  infected by bacteria A. caviae. Carp ( C. carpio ) were used as much as 96 fish and that was injected by bacteria A. caviae with density 107 CFU / mL intramuscularly. Solvents used in binahong extract using distilled water. Soaking with leaf extract binahong done after 2 days post- injection. The results showed the average value of the highest to the lowest mortality in a row that the 83.86 % (treatment A), 68.86 % (treatment B), 57 % (treatment C) and 55.78 % (treatment D). Soaking with binahong leaf extract showed a significant effect ( P<0.05 ) on mortality. The results of histological observation of the liver and kidneys showed damage in the form of necrosis, degeneration and melanomacrofag in the liver. Soaking binahong leaf extract at a dose that has been able to provide a cure for carp infected bacteria A. caviae.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN JERUJU (Acanthus ilicifolius) TERHADAP PROFIL DARAH IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) Agung, Lukman Anugrah; Prayitno, Slamet Budi; -, Sarjito
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 1 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.964 KB)

Abstract

ABSTRAK Ikan kerapu termasuk salah satu komoditas perikanan laut bernilai ekonomis penting. Ikan kerapu macan memiliki beberapa keunggulan diantaranya nilai gizi yang tinggi dan pertumbuhan yang lebih cepat daripada ikan kerapu jenis lain. Salah satu permasalahan dalam budidaya ikan kerapu macan adalah serangan penyakit. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya penyakit ialah meningkatkan imunitas ikan. Daun jeruju (Acanthus ilicifolius) merupakan bahan herbal yang diduga mampu meningkatkan imunitas ikan kerapu macan. Peningkatan imunitas ikan dapat diketahui dengan memeriksa profil darahnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun jeruju (Acanthus ilicifolius) terhadap profil darah ikan kerapu macan meliputi jumlah eritrosit, jumlah leukosit, diferensial leukosit dan aktivitas fagositosis. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan  Acak Lengkap  (RAL)  dengan  4  perlakuan  dan  3  ulangan. Dosis ekstrak daun jeruju yang digunakan adalah: perlakuan A (0 gr/kg); perlakuan B (5 gr/kg); perlakuan C (10 gr/kg); dan perlakuan D  (15  gr/kg). Pemberian ekstrak daun jeruju melalui pakan dilakukan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun jeruju berpengaruh nyata terhadap jumlah eritrosit (P<0,05) dan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah leukosit (P<0,01) namun tidak berpengaruh nyata terhadap diferensial leukosit dan aktivitas fagositosis ikan kerapu macan (P>0,05). ABSTRACT Grouper is one of economically commodity fish. Tiger grouper has several advantages including high nutritional value and rapid growth than other types of grouper. One of the problems in the tiger grouper culture  is a disease. One way to prevent the disease is to improve the immunity of fish, Jeruju leaf extracts is one of the herbal material which can increased fish imunity. Increased of fish immunity can be detected by examining of blood profile. The purpose of this experiment is determine the effect of jeruju leaf extract  (Acanthus ilicifolius) on the blood profile of tiger grouper i.e. : number of erythrocyte, leukocyte, differential leukocyte, and phagocyty activity. The design of the experiment is a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. Jeruju (acanthus ilicifolius) leaf extracts were mixed with the artificial feed at concentrations of 0 g/kg ,5 g/kg, 10g/kg and 15 g/kg and  had been fed to grouper for 14 days period. The results showed that administration of jeruju leaf extract significantly effect on the number of erythrocytes (P<0.05) and highly significant effect on  the number of leukocytes (P <0.01) but no significant effect (P>0,05) on differential leukocyte, and phagocyty activity of tiger grouper.
IDENTIFIKASI AGENSIA PENYEBAB VIBRIOSIS PADA PENGGEMUKAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI PEMALANG Feriandika, Ferdian Bagus; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.373 KB)

Abstract

Vibriosis adalah problem utama pada pembesaran krustasea khususnya pada pembesaran kepiting bakau. Penelitian ini bertujuan mengetahui gejala klinis kepiting bakau yang terserang vibriosis dan mengetahui agensia penyebab vibriosis pada kepiting bakau. Metode pada penelitian ini adalah metode eksploratif dan metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Isolasi bakteri menggunakan media Thiosulphate Citrate Bile Salt Agar (TCBSA). Organ yang diisolasi yaitu hepatopankreas, insang, hemolymph dan luka pada karapas. Isolat dilakukan seleksi berdasarkan morfologi koloni untuk dilakukan uji postulat koch.  Penyuntikan dilakukan pada ruas kaki ke lima dengan kepadatan bakteri 108 CFU/mL dan dosis 0,1 mL. Identifikasi bakteri dilakukan dengan kriteria uji biokimia dan morfologi bakteri. Hasil penelitian menunjukan bahwa gejala klinis kepiting bakau yang terserang vibriosis adalah terdapat bercak merah pada karapas, luka pada capit dan abdomen serta kondisi kepiting yang lemah. Hasil isolasi didapatkan 19 isolat bakteri. Seleksi bedasarkan morfologi koloni bakteri didapatkan 5 isolat bakteri (SJP2, SJP3, SJP7, SJP10 dan SJP15) untuk dilakukan uji postulat koch. Hasil uji postulat koch menunjukan 5 isolat bakteri bersifat patogen terhadap kepiting bakau. Bakteri dari 5 isolat mengakibatkan kematian 100% dalam waktu kurang dari 12 jam. Agensia penyebab vibriosis pada kepiting bakau di Pemalang adalah Vibrio harveyi (SJP2), Vibrio cholerae (SJP3), Vibrio parahaemolyticus (SJP7), Vibrio alginolyticus (SJP10) dan Vibrio fischeri (SJP15). Vibriosis is a main problems in crustacean farming esspecialy  in an on growing mud crab (Scylla serrata). The aims of this research were to determine the clinical sign of mud crab that was infected by vibriosis and to  know bacterial agent of vibriosis in mud crabs. The method in this research was exploratory using purposive sampling method. The bacterial culture media used in the isolation was Thiosulphate Citrate Bile Salt Agar (TCBSA) medium. The bacterial isolates were spread on to TCBS medium for 24 hours. Isolat were guined from hepatopancreas, gills, hemolymph and injured carapace of the moribund mud crabs. The selected isolates were recultured in zobell liquid medium. The on colony morphology for postulates koch's test. The bacterial was injected on fift segments of swimming feet with bacterial density of 108 CFU/mL and 0.1 mL. Identification of bacteria carried by biochemical and morphological criteria of the bacterial test. The results showed that the clinical sign of mud crab was infected vibriosis, there are  red spots on the carapace, wounds in the abdomen, claws and crab weak conditions. From the moribund was obtained 19 isolates. Based on bacterial colony morphology it were obtained 5 colonies namely SJP2, SJP3, SJP7, SJP10 and SJP15 for  postulates koch's. The postulates koch's results showed that 5 isolates were pathogenic for mud crabs. The Bacteria from 5 isolates caused 100% mortality in less than 12 hours, based  this results bacterial  agents caused vibriosis in mud crabs cultur in Pemalang was  Vibrio harveyi (SJP2), Vibrio cholerae (SJP3), Vibrio parahaemolyticus (SJP7), Vibrio alginolyticus (SJP10) and Vibrio fischeri (SJP15).
SENSITIVITAS BAKTERI YANG BERASOSIASI DENGAN PENYAKIT IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) TERHADAP BERBAGAI MACAM OBAT IKAN YANG BEREDAR DI KABUPATEN PATI Suwarno, Yelliana Fatmawati; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.477 KB)

Abstract

Intensifikasi budidaya ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) dapat memicu timbulnya penyakit bakterial.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui agensia penyebab penyakit bakterial serta sensitivitasnya terhadap berbagai macam obat ikan yang beredar di pasaran.  Penelitian ini dilakukan dengan metode eksploratif dengan pengambilan sampel secara purposive random sampling.  Isolasi bakteri menggunakan media TSA, GSP, dan TCBS dengan metode streak pada luka, hati dan ginjal ikan.  Identifikasi bakteri dilakukan dengan kriteria uji biokimia dan morfologi bakteri.  Uji sensitivitas obat dilakukan secara in vitro.  Obat beredar yang digunakan yaitu; obat B™ dan C™ dengan dosis 2,5 µl, 5 µl dan 7,5 µl; obat A™ dengan dosis 6 µl, 12 µl dan 18 µl; serta obat D™ dengan dosis 2 µl, 4 µl, dan 6µl.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis lele dumbo yang terserang bakteri terlihat dengan ciri – ciri  warna badan kuning, sirip geripis, terdapat luka (borok), dan warna tubuh pucat.  Hasil isolasi diperoleh 37 isolat bakteri. Seleksi berdasarkan morfologi koloni bakteri didapatkan 10 isolat bakteri untuk dilakukan uji selanjutnya.  Agensia penyebab penyakit pada ikan  lele dumbo dari Pati adalah Vibrio logei (LNH 5.2), V. fischeri (LNL 2.8), V.  furnishi (LNL 7.3), V. vulnificus (LNL 4.5), Aeromonas caviae (LNL 5.13), A. hydrophilla (LJ 3 dan LT 3), A. salmonisida (LTG 10 10’5) dan Edwardsiella ictaluri (LJ 5 dan LNH 8.17).  Hasil dari uji sensitivitas menunjukkan bakteri tersebut resisten terhadap A™, B™, C™ dan D™.  Hal ini berarti bahwa kesepuluh agensia penyebab penyakit bakteri pada ikan lele tidak sensitif terhadap obat beredar. Bacterial disease in catfish (Clarias gariepinus) due to intensification of aquaculture.  The aims of this study were to determine the agent which causing bacterial diseases and their sensitivity against common fish medicine.  The method used on this study was explorative with purposive random sampling.  Bacterial isolation using TSA, GSP and TCBS with streak method on wound, liver and kidney of fish.  Bacterial identification was performed using biochemical test qualification and the bacterial morphology.  Sensitivity test for common fish medicine was conducted through in vitro.  Common fish medicines which used were B™and C™ using  2,5 µl, 5 µl and 7,5 µl of dose; A™  using 6 µl, 12 µl and 18 µl of dose; and dusing 2 µl, 4 µl and 6µl of dose.  The material used 30 samples with lenght, then samples have baeter (15 – 24 cm) from Pati, Central Java.  The results showed that bacteria isolation obtained 37 isolates.  By morphological characters of bacterial colony was obtained 10 bacterial isolates which were selected for the further test.  Bacterial agents which  causing disease on catfish originated from Pati were Vibrio logei (LNH 5.2), V. fischeri (LNL 2.8), V. furnishi (LNL 7.3), V.  vulnificus (LNL 4.5), Aeromonas caviae (LNL 5.13), A. hydrophilla (3 LJ and LT 3), A. salmonisida (LTG 10 10'5) and Edwardsiella ictaluri (LJ 5 and LNH 8.17).  Mean while the sensitivity tests showed that all bacterias were not sensitive againts A™, B™,C™ and D™.
PATOGENISITAS DAN SENSITIVITAS AGENSIA PENYEBAB PENYAKIT BAKTERIAL PADA IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) TERHADAP BERBAGAI MACAM OBAT BEREDAR Yanti, Nuri Nia; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.958 KB)

Abstract

Kebutuhan pangan nasional mengharapkan ketersediaan ikan gurami (Osphronemus gouramy) pada tahun 2015 sebanyak 26,005 ton. Hal ini mendorong para pembudidaya untuk mengoptimalkan hasil produksi ikan gurami. Namun seiring dengan berjalannya kegiatan budidaya, muncul banyak kendala yang dapat menurunkan hasil produksi, salah satunya ialah serangan penyakit bakteri. Untuk menanggulangi penyakit bakteri tersebut dilakukan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan beredar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui agensia penyebab penyakit bakteri yang menginfeksi ikan  gurami, mengetahui sensitivitasnya terhadap tiga macam obat beredar dan gejala klinis ikan gurami pasca penyuntikan bakteri melalui uji patogenisitas. Isolasi dilakukan pada 10 ekor ikan sampel yang berasal dari Banjarnegara pada hati, ginjal, mata dan luka pada media TSA (Tryptone Soy Agar). Dosis obat yang digunakan pada uji sensitivitas sesuai dengan anjuran dalam kemasan, sedangkan kepadatan bakteri yang digunakan pada uji patogenisitas yaitu 108 CFU/ml sebanyak 0,1 ml. Hasil isolasi diperoleh 21 isolat (NF 1, NF 2, NF 3, NF 4, NF 5, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 11, NF 12, NF 13, NF 14, NF 15, NF 16, NF 17, NF 18, NF 20, NF  21, BSJ 6, BSJ 14), kemudian berdasarkan karakter morfologi dilakukan uji sensitivitas 11 isolat terhadap obat uji. Hasil uji sensitivitas isolat NF 1, NF 2, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 11, NF 12, BSJ 6 dan BSJ 14 sensitive terhadap obat C, kecuali NF 16 bersifat resistence. Sedangkan terhadap obat A dan B isolat NF1, NF2, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 12, NF 16 dan BSJ 6 bersifat resistence, kecuali NF 11 bersifat intermediate. Uji biokimia 6 isolat didapatkan bakteri Aeromonas hydrophilla (NF 6 dan NF 8), Enterobacter agglomerans (NF 11 dan BSJ 6), Staphylococcus aureus (NF 16) dan Aeromonas jandaei (BSJ 14), yang kemudian dilakukan uji patogenisitas. Hasil uji patogenisitas ditunjukkan dengan kemunculan gejala klinis berupa borok pada tubuh (A. hydrophilla), tubuh menghitam/gelap (E. agglomerans), exopthalmia/mata menonjol (S. aureus), sedangkan A.jandei tidak ditemukan gejala klinis spesifik. National food’s requirement expect, the availability of gouramy (Osphronemus gouramy), were increased 26.005 ton in 2015. Those requirement encourage fish farmer to optimize gouramy production. In the same time there are many problems that can decrease gouramy production, one of them is a diseases caused by pathogenic bacteria. Treatment, for that usually use artificial medicine that sold in the market. The purpose of this research was to know the causative agents of bacterial disease that infected gouramy and to know bacterial sensitivity to three commercial medicines and to know clinical sign of gouramy that bacteria injection by patogenisity. There were ten moribund fish’s taken from Banjarnegara with target organ were liver, kidney, eye and wound. Bacteria from those organs were isolated on TSA (Tryptone Soy Agar) Media. Medicine dosage for sensitivity as recommended in the package, and bacterial’s density for patogenisity was 108 CFU/mL : 0,1 mL. Isolation of 4 organs revealed. Eleven isolate were selected for sensitivity test out of using twenty one isolates, (NF 1, NF 2, NF 3, NF 4, NF 5, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 11, NF 12, NF 13, NF 14, NF 15, NF 16, NF 17, NF 18, NF 20, NF 21, BSJ 6 dan BSJ 14).  Three commercial medicine A, B, and C, were exposed to those eleven isolates. Sensitivity test revealed that all 11 isolates (NF 1, NF 2, NF 6, NF 7, NF 8, NF 9, NF 11, NF 12, BSJ and BSJ 14) sensitive to medicine C. Only isolate NF 16 was resistence. To medicine A and B, while others resistence. moreover isolates NF 11 was intermediate. Marphology and biochemical test of 6 isolates revealed that there were : Aeromonas hydrophilla (NF 6 and NF 8), Enterobacter agglomerans (NF 11 dan BSJ 6), Staphylococcus aureus (NF 16) and Aeromonas jandaei (BSJ 14). Patogenisity test confirmed 6 bacteria were pathogenisc with clinical signs as follows : ulcer on body (A. hydrophylla), exopthalmia (S. aureus), blackenedat on body (E. agglomerans) and no specific clinical sign (A. jandaei).
PENGARUH SALINITAS TERHADAP INFEKSI Infectious myonecrosis virus (IMNV) PADA UDANG VANAME Litopenaeus vannamei (Boone,1931) Umiliana, Mita; Sarjito, -; Desrina, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.567 KB)

Abstract

Udang vaname L. vannamei (Boone, 1931) merupakan salah satu produk perikanan yang diharapkan mampu menghasilkan devisa bagi negara. Produksi komoditas udang pada tahun 2014 mencapai 699.000 ton dan akan ditingkatkan menjadi 755.000 ton pada tahun 2015, dimana sekitar 70% dari target produksi tersebut adalah udang vaname. Akan tetapi, budidaya udang vanname secara intensif menimbulkan resiko terjangkit penyakit yang lebih tinggi. Sekitar 40% dari produksi udang hilang akibat infeksi penyakit, terutama penyakit yang disebabkan oleh serangan virus. Salah satu virus yang mengancam budidaya udang di dunia termasuk di Indonesia adalah Infectious myonecrosis virus (IMNV). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh salinitas terhadap infeksi IMNV pada udang vaname serta mengkaji salinitas terbaik untuk pemeliharaan udang vaname yang diinfeksi IMNV. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen mengunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Udang uji yang digunakan berukuran berat ±2 g. Udang dipelihara dalam media bervolume 30 L pada akuarium yang berukuran 60 cm x 30 cm x 30 cm dengan salinitas media A 15 ppt, B 20 ppt, C 25 ppt, D 30 ppt dan tanpa infeksi 30 ppt. Udang uji dipelihara selama 24 hari, yaitu 7 hari aklimatisasi, 3 hari proses infeksi dan 14 hari pascainfeksi. Proses infeksi IMNV pada udang uji dilakukan melalui karkas. Setiap perlakuan diberi pakan 10% dari total biomassa. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan salinitas memberikan pengaruh terhadap perkembangan infeksi IMNV pada udang vaname. Salinitas memperlambat kemunculan gejala klinis. Mortalitas tertinggi pada perlakuan A (46,67%), kemudian perlakuan B (40,00%), perlakuan C (33,33%) dan terendah perlakuan D (23,33%), sedangkan perlakuan tanpa infeksi tidak mengalami kematian. Salinitas optimum untuk pemeliharaan udang vaname adalah 30 ppt.White shrimp L. vannamei (Boone,1931) is the one of fishery products are expected to generate income for the country. Shrimp commodity production in 2014 reached 699,000 tons and will be increased to 755,000 tons in 2015, of which approximately 70% of the production target is white shrimp. However, intensive cultivation of vannamei shrimp pose a risk of disease is higher. Approximately 40% of the shrimp production is lost due to infectious diseases, especially diseases caused by virus attacks. One virus that threatens shrimp farming in the world, including in Indonesia is Infectious myonecrosis virus (IMNV). This research was aimed to know the effect of salinity on the clinical symptoms and mortality of white shrimp infected by Infectious  myonecrosis  virus  (IMNV).  The  research  was conducted with experimental method by using the completely randomized design with 5 treatments and 3 replications. Shrimp test used heavy sized ±2 g. Shrimp maintained in media volume 30 L at the aquarium measuring 60 cm x 30 cm x 30 cm with a medium salinity of 15 ppt, B 20 ppt, C 25 ppt, D 30 ppt and without infection 30 ppt. Test shrimp reared for 24 days, it was 7 days of acclimatization, 3 day process of infection and 14 days after infection. IMNV infection process on shrimp test performed carcass. Each treatment was fed 10% of the total biomass. The results showed that the difference in salinity influence on the development of infection IMNV in shrimp. Salinity slow the appearance of clinical symptoms. The highest mortality in treatment A (46.67%), then treatment B (40.00%), treatment C (33.33%) and the lowest was treatment D (23.33%), whereas no infection treatment did not experience death. The optimum salinity for shrimp vaname maintenance is 30 ppt.
KARAKTERISASI AGENSIA PENYEBAB VIBRIOSIS DAN GAMBARAN HISTOLOGI IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DARI KARAMBA JARING APUNG TELUK HURUN LAMPUNG Hastari, Indah Febry; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.372 KB)

Abstract

Penyakit bakterial yang menyerang ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan salah satu jenis penyakit yang bersifat infeksius. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Vibrio patogen penyebab vibriosis ikan kerapu macan di Karamba Jaring Apung Teluk Hurun Lampung, serta gambaran histologi ikan kerapu yang terinfeksi vibriosis. Sebanyak 6 isolat Vibrio diisolasi dari bagian limpa, ginjal dan luka kerapu macan yang menunjukkan gejala vibriosis, pada medium Thiosulfat Citrat Bile Salt Agar (TCBSA). Materi yang digunakan yaitu 10 ikan kerapu macan sakit berukuran 12-24 cm yang berasal dari Karamba Jaring Apung Teluk Hurun Lampung. Isolasi bakteri menggunakan media TSA dan TCBS dengan metode streak pada limpa, ginjal dan luka ikan. Bakteri dipanen dan disuntikkan terhadap 8 ekor ikan kerapu bebek (C. altivelis) ukuran 7-9 cm. Karakterisasi isolat dilakukan secara morfologi dan biokomia. Uji histologi dilakukan pada ikan yang terinfeksi bakteri vibrio. Hasil penelitiaan menunjukkan bahwa gejala klinis ikan kerapu macan yang terserang histologi adalah haemorhagik pada pangkal sirip ekor, warna hati pucat, kondisi ikan kerapu lemah. Hasil isolasi didapatkan 17 isolat bakteri. Seleksi berdasarkan morfologi koloni bakteri didapatkan 6 bakteri (IN-03, IN-06, IN-11, IN-12, IN-24 dan IN-22) untuk dilakukan uji postulat koch. Hasil uji postulat koch menunjukkan 6 isolat bakteri bersifat patogen dengan prosentase kematiaan tertinggi terdapat pada isolat IN-12 yaitu 75% dalam waktu kurang dari 78 jam. Agensia penyebab vibriosis pada ikan kerapu macan dari Lampung V. alginolyticus, V. fluvialis, V. metschnikovii, V. Vulnificus dan V. logei. Selain itu gambaran histologi yang terjadi yaitu nekrosis pada hati, hiperflasia serta fusi lamella sekunder pada insang, dan infiltrasi leukosit pada limpa.  Bacterial disease that attacks the tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) is one of the infections disease. This study aims to assess the pathogenic Vibrio causes vibriosis tiger grouper in floating net Hurun Bay of Lampung and histology identified grouper vibriosis. A total of 6 isolates of Vibrio isolated from the spleen, kidney and tiger grouper wounds that show symptoms of vibriosis, on Thiosulfate Citrate Medium Bile Salt Agar (TCBSA). The materials used were 10 tiger grouper measuring 12-24 cm from Karamba Floating Net Hurun Bay Lampung. Isolation of bacteria using TSA and TCBS media with methods streak in the spleen kidneys and injured fish. Bacteria were harvested and injected the 8 tailed duck grouper (C. altivelis) size 7-9 cm. Characterization of isolates conducted morphological and biochemical. Histology test performed on fish that are infected bacteria vibrio. The result showed that symptoms clinical tiger grouper infected histology is haemorhagic at the base of the tail fin, the colour of liver pale, the condition of grouper weak. The result obtained 17 isolation isolates bacteria. Selection on the basis of morphological bacteria colonies acquired 6 bacteria (IN-03, IN-06, IN-11, IN-12, IN-24 dan IN-22) to the test postulate koch. The result test postulate koch show 6 isolates bacteria are pathogenic by high prosentase deathly of isolate IN-12 is 75% in less than 78 hours. Causative agent of vibriosis on tiger grouper from Lampung by V. alginolyticus, V. fluvialis, V. metschnikovii, V. Vulnificus and V. logei. Besides an image of histology happened necrosis, which is on the liver hiperflasia which secondary fusi lamella from lamella gills and ilfiltration gills and infiltration leukosit on the gills.
PENGARUH BAKTERI KANDIDAT PROBIOTIK TERHADAP PERUBAHAN KANDUNGAN NUTRIEN C, N, P DAN K MEDIA KULTUR LELE DUMBO (Clarias gariepinus) Pitrianingsih, Chairulina; Suminto, -; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.215 KB)

Abstract

Pemberian bakteri kandidat probiotik melalui media kultur dapat mempengaruhi kandungan nutrien karbon organik (C), Nitrogen, Phospat, Kalium, pertumbuhan dan kelulushidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bakteri probiotik terhadap perubahan kandungan nutrien C, N, P, K, pertumbuhan dan kelulushidupan. Penelitian ini menggunakan kultivan lele ukuran 6 ± 0,5 cm dengan rata-rata 2,11 ± 0,5 gr. Kultivan dipelihara dalam baskom bervolume 25 L yang berisi air 20 L dengan kepadatan 20 ekor atau 1 ekor/1 L. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 (empat) perlakuan 3 (tiga) kali ulangan; perlakuan A (kepadatan bakteri 105 sel/mL), B (kepadatan bakteri 106 sel/mL), C (kepadatan bakteri 107 sel/mL), dan D (kepadatan bakteri 108 sel/mL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan A (105 sel/mL) memberikan perubahan kandungan karbon organik terendah, dan perlakuan C (107 sel/mL) memberikan selisih perubahan kandungan N, P, K, pertumbuhan dan kelulushidupan tertinggi (P<0,05), yaitu kandungan karbon organik (42,02 ± 0,61), N (37,28 ± 0,37), P (80,37 ± 1,96), K (49,50 ± 0,72), SGR (2,58 ± 0,30) dan SR (91,67 + 2,89). Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan bakteri probiotik melalui media kultur lele dengan kepadatan 107 dapat meningkatkan kandungan N, P, K, pertumbuhan dan kelulushidupan, namun masih belum dapat menurunkan kandungan karbon organic dalam media kultur lele dumbo (C. gariepinus).  The addition of probiotic bacteria candidates in culture medium able to affect nurient content of the carbon organic (C), N, P, K, growth and Survival Rate. The aim of this research for find out the effect of the addition of probiotic bacteria againts the changes of nutrient content C, N, P, K, growth and Survival Rate of Clarias gariepinus. This research was used Clarias gariepinus seeds with length average of 6 ± 0,5 cm and weight average of 2,11 ± 0,5 gr. The Clarias gariepinus seeds was cultured in the plastic basket of 25 L with total water volume 20 L.  This research was carried out a completely randomized design with the four treatments and three  replication. Those treatments were A (bacterial density 105 sel/mL), B (bacterial density 106 sel/mL), C (bacterial density 107 sel/mL) and D (bacterial density 108 sel/mL). The research result shown that the treatment A(105 sel/mL) gave the lowest results , and the treatment C (107 sel/mL) gave the highest N, P, K content, growth and survival (P<0,05), carbon organic content (42,02 ± 0,61), N (37,28 ± 0,37), P (80,37 ± 1,96), K (49,50 ± 0,72), SGR (2,58 ± 0,30) dan SR (91,67 + 2,89). Based on the result, it can be concluded that the use of probiotic bacteria through cat fish as medium with the density of 107 can increase the content of N, P, K, growth, survival rate, but it still has not been able to decrease the carbon organic in the African catfish culture medium (C. gariepinus).
Co-Authors - Aminah - Desrina, - - Istikhanah - Susanti, - - Triyaningsih A. Harjuno Condro Haditomo A. Santoso Adhi Kurniawan Adi Santoso Afifah, Roidah Nur Agatya Sara Ardiantami, Agatya Sara Agil Setya Utomo, Agil Setya Agus Dwi Anggono Agus Pranoto Syah, Agus Pranoto Agus Yulianto Aji, Nisa Pamesty Rahma Alfabetian Condro Haditomo Alfabetian Harjuna Condro Haditomo Alfabetian Harjuno Condro Haditomo Alfia Magfirona Alfiyani, Lina Ali Djunaedi Amalia, Ayu Rizki Amanda Mega Putri, Amanda Mega ANGELA MARIANA LUSIASTUTI Anggoro, Agung Doni Anggun Putriani Situmorang, Anggun Putriani Aninditia Sabdaningsih Anisa Dwiaryani Latifah Annisa Oktafianti Nurlatifah, Annisa Oktafianti Aprilia Dwi Indriani Arifin Arifin Arum Almuaromah, Dita Asep Akmal Aonullah Astri Pujiati Aulia Resty Wijayanti Aulia, Annisa Syahida Ayi Santika Ayu Wulandari Bosma, Roel Bosma, Roel H. Briliani Ayu Wardani Budi Setiawan Buyung Junaidin, Buyung Caesa, Genio Chairulina Pitrianingsih CHONDRORESMI BANOR FAWWAZ Chyntia Arindita Dani Indrarini David Panca Wijaya, David Panca Desrina Desrina Dewi Nurhayati Dhani Mutiari Dian Ratna Sari Dian Wijayanto Diana Chilmawati Diana Chilmawati Diana Rachmawati Dicky Harwanto Ditha Cahyaningrum Ditha Febriana Dewanti Nineung Edward Raharja, Edward Endah Setyowati Eni Ashfa Ashofa Ervia Yudiati Fajar Basuki Famelia Meta Putri Fandy Malik Muhammad, Fandy Malik Fatian, Adella Spextania Ferdian Bagus Feriandika Fifiana Zulaekah Fitriadi, Ren Gina Saptiani Haeruddin Haeruddin Hasna, Salma Khoironnida Hasyim Asyari Ika Puspitasari Indah Febry Hastari Intan Eska Amalia Syahida Istiyanto Samidjan Jery, Jery Johannes Hutabarat Jokosisworo Jokosisworo Kewa, Kristofora Karolina Khuzaimah, Ima Siti Kurniawan Kurniawan Laksono Trisnantoro Lestari Lakhsmi Widowati Lilik Maslukah Lilik Setiyaningsih Linuwih Aluh Prastiti Lukman Anugrah Agung Lukman Lukman Marwenni Siregar, Marwenni Milza Apriliani, Milza Mita Umiliana, Mita Monica Nanda Muchtar muchtar Muhammad Burhan Mukhlisin, Latutik Nailil Muna Nida Qolbi Salma Rochani Noor Alis Setiyadi Nur Aklis Nur Annisa Nuri Nia Yanti, Nuri Nia Nurul Hidayati Ocky Karna Radjasa Panji Yusroni Anwar Prabowo, Anggit Bayu Pramudita Apriliyanti Prayitno, S. Budi Pungki Nanda Pratama Purwanto Purwanto Pusaka, Semerdanta R. Dewi Dharina Nurjannah Rahman, Nuril Endi Rahmawati, Amelia Rahmi Gusti Darma Raynol Simorangkir Rensiga Rintan Bunga Sari Restiana Ariyati Restiana Wisnu Ariyati Rini, Endah Setyo Ristiawan Agung Nugroho Rohita Sari Rosa Amalia Rosalina Safitri Rusydina Qamarul Salikin S. Budi Prayitno Sahala Hutabarat Sarastiti, Siwi Schrama, Johan Sekar Ayu Chairunnisa Seto Windarto Setyo Putro Rahmanto Setyowati, Suryaning Siti Nurjanah Siti Ziyadaturrohmah Siwi Hartanti Slamet B Prayitno Slamet Budi Prayitno slamet budi prayitno Soedibya, Petrus Hary Tjahja Sri Hastuti Sri Hastuti Sri Nurchayati Sri Nuryati Sri Rejeki Subagiyo Subagiyo Subandiyono Subandiyono Subroto Subroto Sulisyaningrum Sulisyaningrum Sumini Sumini, Sumini Suminto , Suminto - Suminto Suminto Suminto Suminto Suminto Suminto Suminto Suminto Suradi Wijaya Saputra Tita Elfitasari Titik Susilowati Tri Mulyadi Trienes, Yoni W. Widiatmoko Wiji Utami, Wiji Wijianto Wijianto Wisnu Widyantoro Wiyadi Yelliana Fatmawati Suwarno Yohanes Kristiawan Artanto