Claim Missing Document
Check
Articles

The Effect of Dietary Gout Education on Dietary Gout Adherence in the Elderly at Pulo Sepang Village Susanti, Devi; Herlitawati, Herlitawati; Hidayat, Taufik
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 2 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i2.11526

Abstract

Asam urat adalah kondisi peradangan sendi yang paling umum di seluruh dunia. Risiko kejadian asam urat meningkat seiring bertambahnya usia sehingga penyakit ini banyak ditemukan pada populasi lansia. Tindakan pencegahan terhadap memburuknya asam urat memerlukan pengetahuan dan informasi yang tepat tentang pola makan pasien asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan diit asam urat terhadap kepatuhan diit asam urat. Desain penelitian menggunakan pendekatan pra-eksperimental dengan desain one-group pre-post-test. Sampel berjumlah 36 responden dengan teknik total sampling. Intervensi yang diberikan adalah edukasi diit asam urat yang diberikan kepada pasien asam urat. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kepatuhan diet asam urat yang terdiri dari 24 pernyataan. Pertama, diukur sebelum responden diberikan edukasi tentang diit asam urat. Kedua, diukur pada saat pelaksanaan (setelah responden mendapat edukasi pada bulan sebelumnya). Data dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan kepatuhan diit asam urat pada lansia di Desa Pulo Sepang sebelum dan sesudah diberikan intervensi (p-value = 0,000; α<0,05). Pengetahuan yang baik tentang diit asam urat dapat meningkatkan kepatuhan penderita asam urat dalam menjalani diit asam urat. Edukasi mengenai pola makan asam urat merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan pasien mengenai makanan yang sebaiknya dikurangi atau bahkan dihindari dalam kehidupan sehari-hari.
HUBUNGAN ANTARA VITAMIN A DAN PENCAHAYAAN TERHADAP TERJADINYA ASTIGMAT Susanti, Devi
JURNAL KESEHATAN TERAPAN Vol 8 No 2 (2021): Jurnal Kesehatan Terapan
Publisher : LPPM Universitas Kader Bangsa Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.142 KB)

Abstract

Background :Astigmat optically is a refractive condition in which a point object is generated as a baying point by an optical system. While astigmat according to the conditions and the literal is within the optical system is not "dot-shaped". Factors related to the occurrence of patients Astigmat is, Descendants, Lighting, Pattern Food Vitamins A, Generation / Age, Visibility, Work, And Ultraviolet On Sun. Objective:Due to cost and time constraints. The authors simply take Vitamin A and lighting on the incidence Astigmat. Methode:This research method using analytic survey with cross sectional approach with a population of 37 respondents, the number of samples taken from the total population. Results of univariate, bivariate and staitsik chi-square test showed no significant correlation between vitamin A with the astigmat with p value 0.000 <0.05, there is a significant relationship between exposure to the astigmat with p value 0,000 <0,05. Suggestion:It is suggested to the leadership determine the policy to develop health services, especially to astigmat as well as in providing a detailed explanation. Keywords: Occurrence Astigmat,Vitamin A, lighting
Hubungan Antara Aktivitas Jarak Dekat Dan Aktivitas Di Luar Ruangan Dengan Kejadian Myopia Di Optik Dia Baturaja Susanti, Devi
JURNAL KESEHATAN TERAPAN Vol 9 No 1 (2022): Jurnal Kesehatan Terapan
Publisher : LPPM Universitas Kader Bangsa Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.249 KB) | DOI: 10.54816/jk.v9i1.469

Abstract

Myopia atau yang lebih sering disebut dengan istilah rabun jauh adalah kondisi gangguan penglihatan berupa gangguan refraksi, dimana saat melihat objek dekat individu dapat melihat dengan jelas, tetapi saat melihat objek yang jauh tampak kabur. Jenis penelitian ini merupakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dari penelitian ini terdiri dari 58 orang responden. Didapatkan 17 responden (29,31%) yang aktivitas melihat dekatnya < 5 jam terdapat 9 orang (21,95%) yang myopia dan 8 orang (47,06%) yang tidak myopia (normal). Selanjutnya, responden dengan aktivitas melihat dekat 5 – 10 jam ada 14 orang (34,15%) yang mengalami myopia dan 8 orang (47,06%) yang tidak myopia (normal). Terakhir, responden dengan aktivitas melihat dekat > 10 jam ada 18 orang (43,90%) yang mengalami myopia dan hanya 1 orang (5,88%) yang tidak myopia (normal). Kemudian untuk faktor aktivitas di luar ruangan, dari 42 responden (72,41%) yang aktivitas di luar ruangannya < 3 jam terdapat 35 orang (85,37%) yang myopia dan 7 orang (41,18%) yang tidak myopia (normal). Sedangkan, responden dengan aktivitas melihat dekat > 3 jam ada 6 orang (14,63%) yang mengalami myopia dan 10 orang (58,82%) yang tidak myopia (normal). Hasil uji hubungan aktivitas jarak dekat dengan miopia didapatkan p value ,015, dan aktivitas di luar ruangan dengan miopia didapatkan p value ,001. Kata kunci: aktivitas jarak dekat, aktivitas di luar ruangan, myopia
PENYUKUHAN ANTARA FAKTOR KETURUNAN DAN FAKTOR LINGKUNGAN KEJADIAN MIOPIA Susanti, Devi; Leni Novianti; Rizcita Prilia Melvani; M Fakhruddin
Jurnal Pengabdian Indonesia (JPI) Vol. 1 No. 2 (2025): Vol. 1 No. 2 Edisi Juli 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/jpi.v1i2.1074

Abstract

Salah satu alat indra manusia yang paling penting adalah mata, yang menerima rangsangan cahaya dan mengubahnya menjadi impuls listrik, yang kemudian diterjemahkan ke otak. Mata tidak selalu berfungsi dengan baik. Salah satu gangguan organik yang dapat terjadi pada mata adalah kelainan refraksi. Kondisi yang dikenal sebagai miopia menyebabkan sistem akomodasi berkurang karena sinar sejajar dibiaskan di depan retina. Terlalu lama terlibat dalam aktivitas jarak dekat, seperti membaca buku, melihat layar laptop atau komputer, dan bermain game, dapat menyebabkan miopia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 responden, 17—atau 56,7 persen—berjenis kelamin perempuan; usia mereka berkisar antara 18 dan 25 tahun; frekuensi waktu aktifitas dekat mereka, yang berkisar antara 2 dan 10 jam per hari; frekuensi jarak pemeriksaan 12 responden atau 40 persen, yang berkisar antara 0,5 tahun dan 1 tahun. Frekuensi kenaikan derajat miopia mulai 0,25 D hingga 2,25 D. .Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa jumlah waktu yang relatif lama digunakan untuk melihat jarak dekat dapat mempengaruhi derajat kenaikan miopia. Kenaikan derajat miopia yang terjadi dan yang terbanyak adalah sebesar 0,50 D dan 0,75 D.
Effectiveness of Palm Sugar and Cinnamon Herbal Tea on Blood Sugar Levels Patients with Type 2 Diabetes Mellitus: An Experimental Study in the Community Devi Susanti; Arpina Fajarnita; Herlitawati, Herlitawati; Taufik Hidayat
Jurnal EduHealth Vol. 16 No. 04 (2025): Jurnal EduHealt, Edition October-December , 2025
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (DM) is a global health problem with increasing prevalence. Controlling blood sugar levels through herbal interventions has become a popular alternative due to its accessibility, relative affordability, and minimal side effects. Palm sugar has a low glycemic index, while cinnamon contains active compounds that can improve insulin sensitivity. The purpose of this study was to determine the effectiveness of palm sugar and cinnamon herbal tea on blood sugar levels in patients with type 2 Diabetes Mellitus. This study used a quasi-experimental design with a pre-post test approach in one treatment group conducted in Babussalam District, Southeast Aceh Regency. A total of 40 respondents diagnosed with type 2 DM were divided into an intervention group (n=20) given palm sugar and cinnamon herbal tea, and a control group (n=20) who only received dietary education. The intervention was given for 14 days at a dose of one glass per day. Fasting blood sugar levels were measured before and after the intervention. Data were analyzed using paired t-tests and independent t-tests. The majority of respondents were aged 45-60 years (65%), female (60%), and had a family history of type 2 diabetes (55%). The intervention group experienced a significant decrease in fasting blood sugar levels of 32.8 mg/dL (from 182.5±21.3 mg/dL to 149.7±18.5 mg/dL; p<0.001), while the control group only experienced a decrease of 6.3 mg/dL (p=0.087). Comparison between the two groups showed a significant difference (p<0.01).
Prosedur Pemeriksaan Radiografi Lumbosacral Dengan Kasus LBP (Low Back Pain) Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang Tahun 2025 Pramita, Rensalia; Utama, Harry Wahyudhy; Susanti, Devi; Utami, Muslimah Putri
Jurnal Berita Kesehatan Vol 18 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v18i2.314

Abstract

Nyeri punggung bawah (Low Back Pain/LBP) umumnya dirasakan di area pinggang antara tulang rusuk bagian bawah dan daerah gluteal, sering disertai nyeri yang menjalar ke punggung. Gangguan neuromuskuloskeletal seperti perubahan pada otot, saraf, vertebra, dan diskus intervertebralis sering menjadi penyebabnya. Penelitian ini bertujuan menggambarkan temuan radiograf dan protokol pemeriksaan vertebrae lumbosacral pada kasus LBP di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang pada bulan Mei 2025. Populasi penelitian adalah pasien yang menjalani pemeriksaan lumbosacral. Sampel pada kasus ini adalah Ny. Id yang melakukan pemeriksaan lumbosacral pada pasien Low Back Pain (LBP) yang datang ke Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei pada tahun 2025. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengambil kesimpulan. Hasil pemeriksaan radiograf menunjukkan dextroscoliosis ringan, instabilitas lumbal, spondyloarthrosis lumbalis, serta penyempitan sela diskus pada segmen L5–S1, yang mendukung adanya perubahan degeneratif sebagai faktor penyebab LBP. Protokol pemeriksaan di instalasi tersebut meliputi proyeksi anteroposterior dan lateral, eksposi 77 kV mAs 16 untuk AP dan 80 kV mAs 25 untuk lateral, FFD 100–150 cm, ukuran film 14×17 inci, serta batas pemeriksaan dari umbilikus hingga simpisis pubis, pasien diposisikan berdiri untuk memaksimalkan visualisasi pergeseran tulang belakang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pentingnya ketelitian teknis dan interpretatif radiografer serta penerapan standar keselamatan pasien untuk meminimalkan kesalahan pemeriksaan dan meningkatkan akurasi diagnostik. Penelitian ini di harapkan untuk menjadi referensi dan menjadi lanjutan dengan sampel lebih besar disarankan untuk memvalidasi temuan. Implementasi rekomendasi ini dapat meningkatkan mutu layanan radiologi di rumah Sakit atau fasilitas kesehatan lainnya.
PENYULUHAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MIOPIA TINGGI Devi Susanti; Leni Novianti; Rizcita Prilia Melvani; M Fakhruddin; M. Hanafiah
Jurnal Pengabdian Indonesia (JPI) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/jpi.v2i1.1409

Abstract

Studi yang dikerjakan oleh Holden menemukan bahwa prevalensi miopia global adalah 22,9% dan miopia tinggi 2,7% pada tahun 2000. Dalam dekade berikutnya, prevalensi miopia meningkat menjadi 28,3% dan miopia tinggi naik menjadi 4,0% pada tahun 2010. Prediksi untuk tahun 2050 menyatakan bahwa prevalensi miopia akan mencapai 49,8% dan miopia tinggi akan mencapai 9,8%. Selain itu, data dari WHO pada tahun 2010 mencatat bahwa prevalensi miopia global adalah 27% dan miopia tinggi adalah 2,8%. Berbagai faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya miopia pada pasien meliputi genetik dan pola hidup Miopia merupakan sebuah kelainan refraksi di mana, ketika mata tidak berakomodasi, sinar-sinar sejajar dari objek tertentu difokuskan bukan pada retina, melainkan di depannya.Tinjauan Pustaka: miopia merupakan sebuah kelainan refraksi di mana, ketika mata tidak berakomodasi, sinar-sinar sejajar dari objek tertentu difokuskan bukan pada retina, melainkan di depannya. Metode Penelitian: Dalam penelitian ini, metode deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel dari penelitian ini sebanyak 56 responden. Hasil Penelitian : Setelah dianalisa dengan uji statistik chi-square dimana P = 0,05 diperoleh P Value =0,006 < 0,05 dan diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara faktor genetik dengan kejadian miopia tinggi di Optik Global Palembang. Setelah dianalisa dengan uji statistik chi-square dimana P = 0,05 diperoleh P Value = 0,03 < 0,05 dan diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara pola hidup dengan kejadian miopia tinggi di Optik Global Palembang. Kesimpulan : berdasarkan hasil dari uji chi square terdapat ada hubungan antara faktor genetik dan pola hidup terhadap terjadinya miopia tinggi pada pasien di Optik Global Palembang.
FAKTOR GENETIK DAN POLA HIDUP SEBAGAI DETERMINAN MIOPIA TINGGI DI OPTIK GLOBAL PALEMBANG Susanti, Devi; Al Yahya Putra, M Fakhruddin; Hanafiah, M Tri
Babul Ilmi Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan Vol 17, No 2 (2025): Babul Ilmi Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36729/bi.v17i2.1527

Abstract

Latar Belakang: Miopia tinggi merupakan gangguan refraksi yang dapat menurunkan kualitas penglihatan dan berdampak pada aktivitas sehari-hari. Faktor genetik dan pola hidup diduga berperan penting dalam kejadian miopia tinggi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor genetik dan pola hidup dengan miopia tinggi pada pasien di Optik Global Palembang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 56 responden yang datang ke Optik Global Palembang pada periode Mei–Juli 2025. Variabel dependen adalah miopia tinggi, sedangkan variabel independen meliputi faktor genetik dan pola hidup. Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui frekuensi masing-masing variabel, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 67,9% responden mengalami miopia tinggi. Sebanyak 71,4% responden memiliki faktor genetik, dan 71,4% memiliki pola hidup buruk. Analisis bivariat menunjukkan hubungan yang signifikan antara faktor genetik dengan miopia tinggi (p = 0,004) dan antara pola hidup dengan miopia tinggi (p = 0,005). Saran: Upaya pencegahan miopia tinggi sebaiknya dilakukan melalui edukasi keluarga mengenai riwayat genetik, serta promosi pola hidup sehat, termasuk pembatasan durasi aktivitas jarak dekat, pengaturan jarak baca, dan peningkatan aktivitas luar ruangan untuk menurunkan risiko progresivitas miopia. Kata Kunci: Miopia tinggi, Faktor genetik, Pola hidup, Cross-sectional.
Analysis of Sport Tourism Potential in Pasir Kencana Beach, Pekalongan City Susanti, Devi; Raharjo, Agus
Journal of Physical Education and Sports Vol. 14 No. 4 (2025): Desember tahun 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jpes.v14i4.30907

Abstract

This research analyzes the potential for sport tourism in Pantai Pasir Kencana, located in Pekalongan City, Central Java, Indonesia. The objectives include: (1) identifying the current conditions of sport tourism facilities and infrastructure; (2) examining the challenges and limitations in the development process; and (3) mapping potential through a SWOT analysis framework. The study employs a qualitative descriptive method, involving data collection through observation, interviews, and documentation. Data validity was ensured through triangulation. The findings reveal that while infrastructure renovation has enhanced the area's appeal, many sport-specific facilities remain underdeveloped. Furthermore, its growth is hindered by a lack of promotional efforts, limited organized sports events, and weak stakeholder collaboration. Despite these, the site holds strong potential due to its location, cultural assets, and visitor interest. Recommendations include strategic planning, community engagement, and enhancement of sport-related infrastructure to foster sustainable sport tourism
Peningkatan Literasi Bahasa Anak Usia Dini Melalui Metode Bermain Peran Pada Usia 5-6 Tahun Susanti, Devi; Herwina, Herwina; Rahmah, Rahmah
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.36941

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah metode bermain peran dapat meningkatkan kemampuan literasi bahasa anak usia 5–6 tahun di RA Baiturrahman, Kecamatan Kandis. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya tingkat perkembangan literasi bahasa anak, yang ditunjukkan oleh data awal sebesar 37,13%, dengan kategori belum berkembang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian berjumlah 17 anak. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi, dengan analisis data melalui teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bermain peran mampu meningkatkan kemampuan literasi bahasa anak. Pada siklus I, aktivitas guru dalam pelaksanaan metode bermain peran memperoleh skor 84,1% (kategori cukup baik), meningkat pada siklus II menjadi 85,1% (kategori baik). Aktivitas anak juga meningkat, dari 78,8% (kategori baik) pada siklus I menjadi 103,2% pada siklus II. Kemampuan literasi anak juga menunjukkan peningkatan signifikan: dari data awal 37,13%, menjadi 50,6% pada siklus I pertemuan pertama, 54,6% pada pertemuan kedua, 66,8% pada siklus II pertemuan pertama, dan mencapai 96,7% pada pertemuan kedua, dengan kategori berkembang sesuai harapan.Disarankan agar guru secara konsisten menerapkan metode bermain peran dalam proses pembelajaran untuk mendorong perkembangan bahasa anak secara menyenangkan dan aktif. Metode ini terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan literasi bahasa anak usia dini melalui interaksi sosial dan pengalaman bermain yang bermakna.