Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Literature Review: Pemanfaatan Pesan Singkat dalam Promosi Kesehatan pada Penderita Hipertensi: Indonesia Hendrita, Noni; Susanti, Devi; Hartawan, Lia Ananda; Khasanah, Widya Nur; Hadiatma, Rusman; Hernandha, Laticia; Damayanti, Sri; Nuraini, Rahma
Jurnal Kesehatan Holistic Vol. 5 No. 1 (2021): Vol 5 No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Holistic Volume 5/Nomor 1/Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan RS Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.458 KB) | DOI: 10.33377/jkh.v5i1.86

Abstract

WHO pada tahun 2015 melakukan penelitian menunjukkan sekitar 1,13 miliar orang di dunia menyandang hipertensi, yang artinya 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi. Perawat berperan dalam menerapkan teknologi seperti pesan singkat promosi kesehatan dalam pelayanan kesehatan, untuk mencegah peningkatan angka kejadian hipertensi dalam masyarakat. Pada penderita hipertensi, tujuan dari dilakukannya literature review yaitu untuk mengetahui hasil pemanfaatan pesan singkat dalam promosi kesehatan. Metode penelusuran yang digunakan dalam penulisan artikel ini yaitu literature review. Hasil dari pembahasan sepuluh jurnal literatur adalah penggunaan pesan singkat yang terbukti efektif untuk memantau dan mengontrol kepatuhan pengobatan pasien hipertensi dalam jarak jauh. Pesan singkat promosi kesehatan ditunjukkan untuk memantau perubahan pengendalian hipertensi yang lebih baik dan memiliki potensi kuat untuk membawa inovasi yang lebih besar dalam manajemen perawat dalam pemanfaatan layanan kesehatan.
PENYULUHAN KEJADIAN HIPERMETROPIA PADA SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI 102 PALEMBANG Susanti, Devi; Fakhruddin, M; Melvani, Rizcita Prilia; Novianti, Leni
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 2 (2024): Vol. 1 No. 2 Edisi April 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i2.106

Abstract

Hipermetropia merupakan satu kelainan refraksi hipermetropia terjadi akibat bentuk kornea atau lensa mata yang tidak normal, . Hampir 90% penderita hipermetropia berada di negara berkembang. Hipermetropia merupakan salah satu penyebab penurunan tajam penglihatan pada anak-anak. Tujuanpenelitian :untuk mengetahuideterminankejadian hipermetropia pada siswa SDN 102 Palembang. Metode: Desain penelitian yang digunakan yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitiandilakukan di SDN 102 Palembang pada Agustus 2023. Subjek penelitian siswa SDN 102 Palembang kelas 1 sampai kelas 6 yang menggunakan kacamata dan terdiagnosa miopia. Sampel berjumlah 40 orang.Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil :Responden denganriwayat keturunan miopia sebesar 67.5%, jenis kelamin perempuan sebesar 60%, dan responden dengan kebiasaan membaca dengan posisi tiduran sebesar 70%. Hasil uji chi square riwayat keturunan p value= 0.001 <0.05, kebiasaan membacap value= 0.001 <0.05, jenis kelamin p value= 0.192 >0.05 dan p value= 0.090 >0.05. variabel yang berhubungan dengan kejadian hipermetropia yaitu riwayat keturunan dan kebiasaan membaca.Saran :untuk peneliti selanjutnya guna mengkaji lebih dalam terkait pengaruh keturunan dalam mempengaruhi kejadian hipermetropia
ANALISIS KEBUTUHAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN (SDMK) DI KLINIK LKC DOMPET DHUAFA (DD) PALEMBANG Fatimah, Mustika; Anisah; Harry Wahyudhy Utama; Miko; Devi Susanti
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 1 No. 3 (2024): Vol. 1 No. 3 Edisi Juli 2024
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v1i3.158

Abstract

Pengelolaan sumber daya manusia kesehatan (SDMK) khususnya perencanaan kebutuhan SDMK selama ini masih bersifat admisistratif dan belum sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan. Dampak kekurangan pemenuhan kebutuhan SDM dapat memberikan efek beban kerja yang tinggi kepada tenaga kerja yang berakibat menurunkan kualitas pelayanan kepada pasien. Sebaliknya dampak kelebihan pemenuhan memberikan ketidakefisienan dalam pengelolaan keuangan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan SDMK Klinik LKC DD Palembang menggunakan Metode Beban Kerja (Workload Indicators Staff Needs, WISN). Penelitian deskriptif obervasional ini dilakukan pada tahun 2020, dengan teknik pengambilan data primer melalui observasi kegiatan pelayanan kesehatan di klinik dan data sekunder dengan melihat surat kontrak kerja semua SDMK klinik dan catatan jumlah kunjungan pasien setiap harinya selama 1 bulan. Data dianalisis dengan Metode WISN untuk menentukan rasio SDMK dan angka kebutuhan SDMK. Hasil analisis rasio SDMK dengan metode WISN di Klinik LKC DD adalah jumlah dokter umum dan perawat poli umum masing-masing kurang 1 (satu) orang dan jumlah bidan berlebih 1 (satu) orang, sedangkan jumlah dokter gigi, perawat poli gigi, dan apoteker/asisten apoteker sudah sesuai. Kekurangan pemenuhan kebutuhan SDM memberikan efek beban kerja yang tinggi kepada tenaga kerja yang berakibat menurunkan kualitas pelayanan kepada pasien sedangkan kelebihan pemenuhan kebutuhan SDM akan menimbulkan ketidakefisienan dalam pengelolaan keuangan.
PENYULUHAN KELAINAN REFRAKSI PADA ASTIGMATISME TERHADAP KEJADIAN PRESBIOPIA DI OPTIK NEDIA KOTA MANNA Susanti, Devi; Leni Novianti; Rizcita Prilia Melvani; M. Fakhruddin
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v2i1.333

Abstract

Kelainan refraksi adalah kondisi yang disebabkan oleh kelainan dalam panjang sumbu (axial length) atau kelainan daya refraksi media. Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi adalah salah satu penyebab yang paling umum dari gangguan penglihatan. Astigmatisme (mata silinder) adalah kondisi di mana kekuatan refraksi kornea atau lensa bervariasi karena perubahan bentuk permukaan sehingga cahaya jatuh di dua titik di depan retina. Kondisi ini menyebabkan penderita harus memutar mata sehingga efek lubang jarum dapat dilihat. Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan antara faktor genetik dan penggunaan gadget terhadap kejadian astigmatisme di Optik Reka Jaya Palembang Tahun 2024. Metode Penelitian : Dalam Penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional dimana variabel independen yaitu faktor genetik dan penggunaan gadget dan variabel dependen yaitu astigmatisme. Hasil Penelitian : Dari data bivariat diperoleh dari 48 responden terdapat 33 responden (68,8%) mengalami astigmatisme dan 15 responden (31,3%) tidak mengalami astigmatisme. Diperoleh 31 responden (64,6%) mengalami astigmatisme berdasarkan faktor genetik sedangkan 17 responden (35,4%) bukan berdasarkan faktor genetik. Diperoleh 32 responden (66,7%) mengalami astigmatisme berdasarkan penggunaan gadget yang buruk sedangkan 16 responden (33,3%) penggunaan gadget yang baik. Kesimpulan : Berdasarkan Analisa data yang dilakukan diperoleh Kesimpulan bahwa ada hubungan yang bermakna antara faktor genetik dan penggunaan gadget secara simultan dengan kejadian astigmatisme. Hasil uji statistik chi-square tentang hubungan faktor genetik dengan kejadian astigmatisme didapatkan nilai p-value 0,006 dan Hasil uji statistik chi-square tentang hubungan penggunaan gadget dengan kejadian astigmatisme didapatkan nilai p-value 0,021.
The Effect of Dietary Gout Education on Dietary Gout Adherence in the Elderly at Pulo Sepang Village Susanti, Devi; Herlitawati, Herlitawati; Hidayat, Taufik
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 2 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i2.11526

Abstract

Asam urat adalah kondisi peradangan sendi yang paling umum di seluruh dunia. Risiko kejadian asam urat meningkat seiring bertambahnya usia sehingga penyakit ini banyak ditemukan pada populasi lansia. Tindakan pencegahan terhadap memburuknya asam urat memerlukan pengetahuan dan informasi yang tepat tentang pola makan pasien asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan diit asam urat terhadap kepatuhan diit asam urat. Desain penelitian menggunakan pendekatan pra-eksperimental dengan desain one-group pre-post-test. Sampel berjumlah 36 responden dengan teknik total sampling. Intervensi yang diberikan adalah edukasi diit asam urat yang diberikan kepada pasien asam urat. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kepatuhan diet asam urat yang terdiri dari 24 pernyataan. Pertama, diukur sebelum responden diberikan edukasi tentang diit asam urat. Kedua, diukur pada saat pelaksanaan (setelah responden mendapat edukasi pada bulan sebelumnya). Data dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan kepatuhan diit asam urat pada lansia di Desa Pulo Sepang sebelum dan sesudah diberikan intervensi (p-value = 0,000; α<0,05). Pengetahuan yang baik tentang diit asam urat dapat meningkatkan kepatuhan penderita asam urat dalam menjalani diit asam urat. Edukasi mengenai pola makan asam urat merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan pasien mengenai makanan yang sebaiknya dikurangi atau bahkan dihindari dalam kehidupan sehari-hari.
HUBUNGAN ANTARA VITAMIN A DAN PENCAHAYAAN TERHADAP TERJADINYA ASTIGMAT Susanti, Devi
JURNAL KESEHATAN TERAPAN Vol 8 No 2 (2021): Jurnal Kesehatan Terapan
Publisher : LPPM Universitas Kader Bangsa Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.142 KB)

Abstract

Background :Astigmat optically is a refractive condition in which a point object is generated as a baying point by an optical system. While astigmat according to the conditions and the literal is within the optical system is not "dot-shaped". Factors related to the occurrence of patients Astigmat is, Descendants, Lighting, Pattern Food Vitamins A, Generation / Age, Visibility, Work, And Ultraviolet On Sun. Objective:Due to cost and time constraints. The authors simply take Vitamin A and lighting on the incidence Astigmat. Methode:This research method using analytic survey with cross sectional approach with a population of 37 respondents, the number of samples taken from the total population. Results of univariate, bivariate and staitsik chi-square test showed no significant correlation between vitamin A with the astigmat with p value 0.000 <0.05, there is a significant relationship between exposure to the astigmat with p value 0,000 <0,05. Suggestion:It is suggested to the leadership determine the policy to develop health services, especially to astigmat as well as in providing a detailed explanation. Keywords: Occurrence Astigmat,Vitamin A, lighting
Hubungan Antara Aktivitas Jarak Dekat Dan Aktivitas Di Luar Ruangan Dengan Kejadian Myopia Di Optik Dia Baturaja Susanti, Devi
JURNAL KESEHATAN TERAPAN Vol 9 No 1 (2022): Jurnal Kesehatan Terapan
Publisher : LPPM Universitas Kader Bangsa Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.249 KB) | DOI: 10.54816/jk.v9i1.469

Abstract

Myopia atau yang lebih sering disebut dengan istilah rabun jauh adalah kondisi gangguan penglihatan berupa gangguan refraksi, dimana saat melihat objek dekat individu dapat melihat dengan jelas, tetapi saat melihat objek yang jauh tampak kabur. Jenis penelitian ini merupakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dari penelitian ini terdiri dari 58 orang responden. Didapatkan 17 responden (29,31%) yang aktivitas melihat dekatnya < 5 jam terdapat 9 orang (21,95%) yang myopia dan 8 orang (47,06%) yang tidak myopia (normal). Selanjutnya, responden dengan aktivitas melihat dekat 5 – 10 jam ada 14 orang (34,15%) yang mengalami myopia dan 8 orang (47,06%) yang tidak myopia (normal). Terakhir, responden dengan aktivitas melihat dekat > 10 jam ada 18 orang (43,90%) yang mengalami myopia dan hanya 1 orang (5,88%) yang tidak myopia (normal). Kemudian untuk faktor aktivitas di luar ruangan, dari 42 responden (72,41%) yang aktivitas di luar ruangannya < 3 jam terdapat 35 orang (85,37%) yang myopia dan 7 orang (41,18%) yang tidak myopia (normal). Sedangkan, responden dengan aktivitas melihat dekat > 3 jam ada 6 orang (14,63%) yang mengalami myopia dan 10 orang (58,82%) yang tidak myopia (normal). Hasil uji hubungan aktivitas jarak dekat dengan miopia didapatkan p value ,015, dan aktivitas di luar ruangan dengan miopia didapatkan p value ,001. Kata kunci: aktivitas jarak dekat, aktivitas di luar ruangan, myopia
PENYUKUHAN ANTARA FAKTOR KETURUNAN DAN FAKTOR LINGKUNGAN KEJADIAN MIOPIA Susanti, Devi; Leni Novianti; Rizcita Prilia Melvani; M Fakhruddin
Jurnal Pengabdian Indonesia (JPI) Vol. 1 No. 2 (2025): Vol. 1 No. 2 Edisi Juli 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/jpi.v1i2.1074

Abstract

Salah satu alat indra manusia yang paling penting adalah mata, yang menerima rangsangan cahaya dan mengubahnya menjadi impuls listrik, yang kemudian diterjemahkan ke otak. Mata tidak selalu berfungsi dengan baik. Salah satu gangguan organik yang dapat terjadi pada mata adalah kelainan refraksi. Kondisi yang dikenal sebagai miopia menyebabkan sistem akomodasi berkurang karena sinar sejajar dibiaskan di depan retina. Terlalu lama terlibat dalam aktivitas jarak dekat, seperti membaca buku, melihat layar laptop atau komputer, dan bermain game, dapat menyebabkan miopia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 responden, 17—atau 56,7 persen—berjenis kelamin perempuan; usia mereka berkisar antara 18 dan 25 tahun; frekuensi waktu aktifitas dekat mereka, yang berkisar antara 2 dan 10 jam per hari; frekuensi jarak pemeriksaan 12 responden atau 40 persen, yang berkisar antara 0,5 tahun dan 1 tahun. Frekuensi kenaikan derajat miopia mulai 0,25 D hingga 2,25 D. .Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa jumlah waktu yang relatif lama digunakan untuk melihat jarak dekat dapat mempengaruhi derajat kenaikan miopia. Kenaikan derajat miopia yang terjadi dan yang terbanyak adalah sebesar 0,50 D dan 0,75 D.
Effectiveness of Palm Sugar and Cinnamon Herbal Tea on Blood Sugar Levels Patients with Type 2 Diabetes Mellitus: An Experimental Study in the Community Devi Susanti; Arpina Fajarnita; Herlitawati, Herlitawati; Taufik Hidayat
Jurnal EduHealth Vol. 16 No. 04 (2025): Jurnal EduHealt, Edition October-December , 2025
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (DM) is a global health problem with increasing prevalence. Controlling blood sugar levels through herbal interventions has become a popular alternative due to its accessibility, relative affordability, and minimal side effects. Palm sugar has a low glycemic index, while cinnamon contains active compounds that can improve insulin sensitivity. The purpose of this study was to determine the effectiveness of palm sugar and cinnamon herbal tea on blood sugar levels in patients with type 2 Diabetes Mellitus. This study used a quasi-experimental design with a pre-post test approach in one treatment group conducted in Babussalam District, Southeast Aceh Regency. A total of 40 respondents diagnosed with type 2 DM were divided into an intervention group (n=20) given palm sugar and cinnamon herbal tea, and a control group (n=20) who only received dietary education. The intervention was given for 14 days at a dose of one glass per day. Fasting blood sugar levels were measured before and after the intervention. Data were analyzed using paired t-tests and independent t-tests. The majority of respondents were aged 45-60 years (65%), female (60%), and had a family history of type 2 diabetes (55%). The intervention group experienced a significant decrease in fasting blood sugar levels of 32.8 mg/dL (from 182.5±21.3 mg/dL to 149.7±18.5 mg/dL; p<0.001), while the control group only experienced a decrease of 6.3 mg/dL (p=0.087). Comparison between the two groups showed a significant difference (p<0.01).
Prosedur Pemeriksaan Radiografi Lumbosacral Dengan Kasus LBP (Low Back Pain) Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang Tahun 2025 Pramita, Rensalia; Utama, Harry Wahyudhy; Susanti, Devi; Utami, Muslimah Putri
Jurnal Berita Kesehatan Vol 18 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58294/jbk.v18i2.314

Abstract

Nyeri punggung bawah (Low Back Pain/LBP) umumnya dirasakan di area pinggang antara tulang rusuk bagian bawah dan daerah gluteal, sering disertai nyeri yang menjalar ke punggung. Gangguan neuromuskuloskeletal seperti perubahan pada otot, saraf, vertebra, dan diskus intervertebralis sering menjadi penyebabnya. Penelitian ini bertujuan menggambarkan temuan radiograf dan protokol pemeriksaan vertebrae lumbosacral pada kasus LBP di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang pada bulan Mei 2025. Populasi penelitian adalah pasien yang menjalani pemeriksaan lumbosacral. Sampel pada kasus ini adalah Ny. Id yang melakukan pemeriksaan lumbosacral pada pasien Low Back Pain (LBP) yang datang ke Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei pada tahun 2025. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengambil kesimpulan. Hasil pemeriksaan radiograf menunjukkan dextroscoliosis ringan, instabilitas lumbal, spondyloarthrosis lumbalis, serta penyempitan sela diskus pada segmen L5–S1, yang mendukung adanya perubahan degeneratif sebagai faktor penyebab LBP. Protokol pemeriksaan di instalasi tersebut meliputi proyeksi anteroposterior dan lateral, eksposi 77 kV mAs 16 untuk AP dan 80 kV mAs 25 untuk lateral, FFD 100–150 cm, ukuran film 14×17 inci, serta batas pemeriksaan dari umbilikus hingga simpisis pubis, pasien diposisikan berdiri untuk memaksimalkan visualisasi pergeseran tulang belakang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pentingnya ketelitian teknis dan interpretatif radiografer serta penerapan standar keselamatan pasien untuk meminimalkan kesalahan pemeriksaan dan meningkatkan akurasi diagnostik. Penelitian ini di harapkan untuk menjadi referensi dan menjadi lanjutan dengan sampel lebih besar disarankan untuk memvalidasi temuan. Implementasi rekomendasi ini dapat meningkatkan mutu layanan radiologi di rumah Sakit atau fasilitas kesehatan lainnya.