Articles
Factors Predicting Reading in Indonesian Adolescents
Arumsari, Chysanti;
Jap, Bernard Amadeus Jaya;
Tiatri, Sri;
Jap, Tjibeng
Makara Human Behavior Studies in Asia Vol. 23, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The current study investigates predictors of reading abilities of adolescents in Standard Indonesian (SI). Reading predictors typically signify, with some degree of error, essential cognitive skills needed for individuals to read effectively. This is crucial since it forms a key part of the initial steps to assess or identify reading-related language impairments such as dyslexia. In addition to measures of reading itself and nonverbal intelligence, the present research examines six empirically motivated potential predictors of reading and decoding: phonological awareness; phonological short-term memory; verbal and semantic fluency; rapid automated naming (RAN); motor control; familial risk; and, self-reported factors. The results show that RAN is a dominant predictor among the other factors that were considered in adolescent SI speakers. The results also show strong support for the notion that the importance of RAN increases as children age. Moreover, it is consistent with previous studies that have argued that RAN is a vital predictor of reading development in transparent orthographies.
Apakah Welas Diri dan Keberhargaan Diri Kontinjen Berperan dalam Kinerja Akademik pada Remaja?
Felicia;
Tiatri, Sri;
Iriani R. Dewi, Fransisca
Psyche 165 Journal Vol. 16 (2023) No. 4
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35134/jpsy165.v16i4.295
Academic performance is a learning result that is measured by examination score. A few studies show that Academic Performance is influenced by contingent self-worth. But there is no study that examines if academic performance can be influenced by self-compassion and appearance contingent self-worth. Self-compassion directly influences someone’s ability to evaluate themselves. Appearance contingent self-worth is when someone puts their self-worth in their appearance. This study is conducted to examine the influence of self-compassion and appearance contingent self-worth toward academic performance of junior high school and senior high school students in X school located at North Jakarta. This study uses quantitative methods. Participants were 115 students aged 12 to 18 Junior High School and Senior High School students. Data was collected by questionnaire and examination score. Data collection for variables of academic performance is by math final exam score. Data collection techniques for variables of self-compassion and self-worth contingent on the perception of appearance is a questionnaire whose details are based on self-worth scale and self-compassion scale. The scale used in this study uses a rating scale that is Likert. The result of this study is that self-compassion and appearance contingent self-worth influence academic performance by 7.8%. This research found that self-compassion has positive and significant influence to academic performance. Appearance contingent self-worth has negative and significant influence to academic performance. The next research might include students' perfectionist tendencies and its influences to academic performance.
PENERAPAN MILIEU TEACHING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BAHASA EKSPRESIF PADA ANAK YANG MENGALAMI KETERLAMBATAN BAHASA
Merdiasi, Danella;
Tiatri, Sri;
Dewi, Fransisca I.R.
Inspiratif Pendidikan Vol 6 No 2 (2017): Jurnal Inspiratif Pendidikan
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/ip.v6i2.5766
This study aims to determine the implementation of milieu teaching in improving the ability of expressive language in children who experience language delays. One of the early language interventions used was milieu teaching. Milieu teaching is a naturalistic intervention approach that uses conversational-based strategies to improve language and communication skills in children. Participants in this study amounted to 1 child of a 4-year-old male who experienced language delays and is currently studying in Kindergarten. This research is an experimental research with research design that is single subject design. In this research design, there will be three sessions, namely baseline 1, intervention phase, and baseline 2 stages in order to find out whether or not there is an increase in each session. Data analysis techniques used are visual data analysis techniques based on the results of observation data. Based on the calculation, it is known that there is an improvement of expressive language in children who experience language delay through the application of milieu teaching.
HUBUNGAN DIMENSI KOMUNIKASI KELUARGA DENGAN PENGGUNAAN PONSEL PINTAR BERMASALAH PADA MAHASISWA SELAMA MASA PANDEMI COVID-19
Putri, Monica Tri;
Tiatri, Sri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i3.18749.2022
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara dimensi komunikasi keluarga dengan penggunaan ponsel pintar yang bermasalah (PSU) pada mahasiswa selama masa pandemi COVID-19. Komunikasi keluarga terbagi menjadi dua dimensi, yaitu dimensi orientasi diskusi dan dimensi orientasi konformitas. Penelitian ini melibatkan 202 mahasiswa aktif yang melakukan pembelajaran secara daring, bertempat tinggal di Provinsi DKI Jakarta, tinggal bersama salah satu atau kedua orang tua, dan memiliki sekurang-kurangnya satu buah smartphone. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif noneksperimental yang menggunakan uji korelasi Pearson. Alat ukur yang digunakan adalah alat ukur The Revised Family Communication Pattern Instrument (RFCP) yang dikembangkan oleh Ritchie dan Fitzpatrick (1990) dan Smartphone Addiction Inventory-Short Form (SPAI-SF) yang dikembangkan oleh Lin et al. (2016). Diperoleh hasil uji korelasi antara dimensi orientasi diskusi dengan PSU, yaitu r (200) = 0.33 dan p < .001 serta hasil uji korelasi antara dimensi konformitas dengan PSU, yaitu r (200) = 0.45 dan p < .001. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif dan signifikan antara kedua dimensi komunikasi keluarga dengan penggunaan ponsel pintar yang bermasalah. ABSTRACTThe purpose of this study is to examine the correlation of the dimension of family communication and problematic smartphone use (PSU) in college student during pandemic COVID-19. Family communication consist of two dimensions, which are conversation orientation and conformity orientation. This study involved 202 active college students who are learning remotely, living in DKI Jakarta Province, living with one or two parents, and having at least one smartphone. This is a quantitative nonexperimental research which is using Pearson Correlation to examine the correlation between two variables. The Revised Family Communication Pattern Instrument (RFCP) developed by Ritchie and Fitzpatrick (1990) and Smartphone Addiction Inventory-Short Form developed by Lin et al. (2016) are used as measuring instrument. The analysis results reveal that the correlation between conversational orientation and PSU is r (200) = 0.33 and p < .001 and the correlation between conformity orientation and PSU is r (200) = 0.45 and p < .001. These results show that there is positive and significant correlation between the dimensions of family communication and problematic smartphone use.
HUBUNGAN ANTARA KECANDUAN GAME ONLINE MOBILE LEGENDS DAN KECEMASAN INTERAKSI SOSIAL SISWA SMP XYZ JAKARTA
Panatra, Valeria;
Tiatri, Sri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.21242.2024
Game online adalah salah satu bentuk permainan yang terhubung melalui jaringan internet. Game Mobile Legends Online adalah game arena pertempuran multipemain online yang dapat dimainkan di ponsel. Fenomena kecemasan interaksi sosial siswa SMP XYZ Jakarta menjadi dasar penelitian. Kecemasan interaksi sosial muncul dari perasaan tidak nyaman dan malu yang dapat dilihat dengan adanya kekakuan. Tujuan penelitian yang dilakukan berguna untuk mengetahui keterikatan antara kecanduan Game Mobile Legends dan Kecemasan Interaksi Sosial pada siswa-siswi SMP XYZ Jakarta. Penelitian ini masuk kategori non-probability sampling, metode Purpossive Sampling dengan kriteria inklusi. Kuesioner terdiri dari 21 pertanyaan GAS dan 20 pertanyaan SIAS yang akan disebarkan melalui Google Form, kemudian diolah menggunakan SPSS 26. Hipotesis penelitian ini diterima, terdapat hubungan yang positif antara kecanduan game online mobile legends dan kecemasan interaksi sosial. Orang tua, tenaga pendidik, dan pemangku kewenangan diharapkan dapat memberikan perhatian lebih terkait kebijakan waktu bermain game, serta memperbanyak waktu untuk berinteraksi terhadap anak lebih intens.
KREATIVITAS PADA MAHASISWA: APAKAH DIPENGARUHI OLEH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DAN CREATIVE SELF-EFFICACY?
Pandumpi, Shania Krisan;
Tiatri, Sri;
Beng, Jap Tji
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v7i3.26722.2023
Untuk meningkatkan daya saing bangsa, diperlukan pendidikan tinggi yang mampu menghasilkan individu yangkreatif. Karena itu, menjadi hal yang urgen untuk meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kreativitastersebut. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara penggunaan media sosialdan kreativitas. Namun, penelitian yang mengeksplorasi mengenai mekanisme yang menjelaskan hubungan tersebutmasih terbatas. Creative self-efficacy, atau kepercayaan diri seseorang terkait kapasitasnya untuk menjadi kreatif,dapat menjadi salah satu variabel yang menjelaskan hubungan kedua variabel tersebut. Untuk itu, dilakukan penelitianini yang bertujuan menguji peran creative self-efficacy sebagai mediator dalam peran penggunaan media sosialterhadap kreativitas pada mahasiswa. Metode penelitian ini merupakan kuantitatif non-eksperimental dengan sampel369 mahasiswa perguruan tinggi. Pengambilan data dilakukan dengan metode convenience sampling melaluipenyebaran kuesioner kepada mahasiswa S1 pada suatu fakultas psikologi di Jakarta. Hasil penelitian menunjukkanbahwa penggunaan media sosial berperan positif terhadap kreativitas pada mahasiswa dan dimediasi oleh creativeself-efficacy. Peran mediasi creative self-efficacy bersifat parsial pada peran penggunaan media sosial terhadapkreativitas untuk kegiatan perkuliahan dan bersifat penuh pada ideasi kreatif umum. Disimpulkan bahwa penggunaanmedia sosial untuk memuaskan kebutuhan sosial, kognitif, dan hedonik dapat meningkatkan creative self-efficacy,selanjutnya meningkatkan kreativitas pada mahasiswa. Berdasarkan penelitian ini, disarankan, pengembanganintervensi yang memanfaatkan creative self-efficacy dan penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa untukmeningkatkan kreativitas.
PERAN LITERASI DIGITAL DAN GROWTH MINDSET PADA UJI MODEL PENERIMAAN APLIKASI PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Suryawidjaja, Vincent;
Beng, Jap Tji;
Tiatri, Sri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v7i3.26741.2023
Indonesia akan memasuki masa keemasan pada tahun 2045. Setidaknya terdapat dua hal esensial yang sangat mempengaruhi Indonesia di tahun 2045 yaitu bonus demografi dan kemajuan pesat perkembangan teknologi. Oleh karena itu kualitas tenaga kerja menjadi faktor penting kesuksesan Indonesia di tahun 2045. Untuk mengetahui sejauh mana sebuah teknologi dapat diimplementasikan serta faktor apa saja yang mempengaruhi, diperlukan sebuah model yang komprehensif untuk memotret penerimaan teknologi tersebut sehingga proses transformasi digital dapat dipercepat. Salah satu model penerimaan teknologi yang sudah ada yaitu The Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT). Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengembangkan model penerimaan Teknologi Digital dalam Pembelajaran Kolaboratif melalui Pendekatan UTAUT pada Siswa Sekolah Dasar dan Menengah di Indonesia dengan mempertimbangkan variabel Literasi Digital dan Growth Mindset. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji model menggunakan SEM-PLS. Partisipan penelitian ini berjumlah 298 siswa di jenjang SD hingga SMA pada sekolah-sekolah di daerah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Hasil Penelitian ini menunjukkan signifikansi peran Perfomance Expectancy, Effort Expectancy dan Social Influence terhadap minat siswa menggunakan aplikasi pembelajaran kolaboratif. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa Literasi Digital secara signifikan berkontribusi pada Effort Expectancy siswa sedangkan Growth Mindset berkontribusi signifikan pada Performance Expectancy. Hasil penelitian ini merekomendasikan untuk dapat menyediakan ekosistem pembelajaran kolaboratif yang mengoptimalisasi penggunaan teknologi demi menghasilkan generasi-generasi unggul untuk menyambut Indonesia Emas 2045.
APAKAH PSYCHOLOGICAL CAPITAL DAN WORK ENGAGEMENT MEMBENTUK JOB PERFORMANCE KARYAWAN DI ERA SOCIETY 5.0?
Gregorio, Keanen;
Beng, Jap Tji;
Tiatri, Sri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v7i3.26770.2023
Globalisasi menjadikan tenaga kerja sebagai sebuah komoditas, artinya semua aspek dalam tenaga kerja, baik kemampuan, kognitif, otak, dan otot dapat diperjualbelikan. Pengalaman konsumen menjadi fokus yang utama pada era Society 5.0. Oleh sebab itu, seorang karyawan perlu meningkatkan kinerja pekerjaannya agar dapat memberikan pengalaman konsumen yang terbaik. Demi mempersiapkan karyawan dalam menghadapi era Society 5.0, diperlukan suatu sumber daya pribadi yang baik. Salah satu sumber daya pribadi tersebut adalah psychological capital atau modal psikologis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana modal psikologis dan keterikatan kerja membentuk kinerja pekerjaan karyawan di Era Society 5.0. Dengan mengetahui bagaimana modal psikologis dan kinerja pekerjaan dalam pembentukan kinerja pekerjaan, perusahaan dapat menciptakan program-program yang dapat meningkatkan modal psikologis dan keterikatan kerja sehingga kinerja pekerjaan karyawan dapat ditingkatkan. Metode pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian untuk mengukur variabel modal psikologis, kinerja pekerjaan, dan keterikatan kerja. Ketiga variabel tersebut diukur melalui kuesioner daring yang dibagikan oleh Peneliti. Penelitian ini dilakukan pada karyawan sales di perusahaan yang bersifat for-profit sehingga dapat memberikan perspektif yang berbeda mengenai variabel modal psikologis, kinerja pekerjaan, dan keterikatan kerja pada karyawan. Dalam penelitian ini juga ditambahkan Key Performance Indicator (KPI) agar kinerja pekerjaan yang diukur menjadi lebih objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara modal psikologis dan keterikatan kerja, begitu juga antara keterikatan kerja dan kinerja pekerjaan.
The Relationship between Emotional Intelligence and Internet Addiction among Junior High School Adolescents in Tangerang and Jakarta
Graciela, Evelyn;
Tiatri, Sri
International Journal of Education, Information Technology, and Others Vol 6 No 4 (2023): International Journal of Education, information technology and others (IJEIT)
Publisher : Peneliti.net
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.5281/zenodo.10447216
In the 2020s, the internet has increasingly facilitated access, leading to a rise in its usage frequency. Adolescents often struggle to control their internet usage. Emotional intelligence is one factor that can help regulate internet use. When adolescents reach the age of 18-21, it is found that those already addicted find it difficult to change their behavior. Therefore, efforts and understanding are needed regarding adolescents in their earlier years, specifically, those aged 12-15. This research aims to examine the relationship between emotional intelligence and internet addiction. The study adopts a quantitative correlational method, involving 150 students aged 12-15 from X Junior High School in Tangerang and X Junior High School in Jakarta. Measurements include tools for assessing emotional intelligence and internet addiction. The results indicate a negative correlation between emotional intelligence and internet addiction, meaning that higher emotional intelligence is associated with lower internet addiction. Based on the findings, to prevent internet addiction, emotional intelligence needs to be enhanced, although the results also show an inverse relationship.
Strengthening digital citizenship behavior to reduce cyberbullying through learning outcome mediation
Yuniawati, Elisa Ika;
Tiatri, Sri;
Beng, Jap Tji
ENLIGHTEN: Jurnal Bimbingan Konseling Islam Vol 7 No 2 (2024): July-December
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32505/enlighten.v7i2.9530
Internet use that does not pay attention to digital ethics can lead to an increase in negative online behaviors such as cyberbullying among students. Cyberbullying behavior as a negative online behavior has a very serious impact not only on individual psychology but also learning outcomes so that it requires strategies and programs that can be used to prevent and reduce these impacts. Digital Citizenship is a concept of positive behavior when using the internet that contains ethics, responsibility, and utilizing the internet appropriately. In addition to digital citizenship behavior, learning outcomes also play a role in reducing negative online cyberbullying behavior. This study aims to examine the role of digital citizenship behavior on negative online cyberbullying behavior with learning outcomes as a mediator. In this study using a quantitative approach, surveys were distributed to 353 participants consisting of grade 1 to 3 junior high school students aged 11 to 16 years with male and female gender at two public junior high schools in Bali. The results showed that there was a role of digital citizenship toward cyberbullying, but learning outcomes did not mediate the relationship between digital citizenship and cyberbullying.