Claim Missing Document
Check
Articles

FAKTOR YANG MEMENGARUHI EKSPRESI EMOSI ANAK DENGAN INDIKASI DISLEKSIA YANG MENJALANI TERAPI SENI EKSPRESIF Irene, Joe; Mar’at, Samsunuwiyati; Tiatri, Sri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.7541.2020

Abstract

Limited reading and writing abilities in children with dyslexia make it difficult for them to succeed academically when given a typical learning method. In addition to difficulties in the academic field, children with dyslexia also experience difficulties in their psychosocial functioning. Emotional problems become "secondary handicaps" which often occur in children with dyslexia and will cause psychological disorders if not treated early. Children who show indications of dyslexia need to be given appropriate emotional guidance to obtain the emotional competence needed to enable them to express emotions in a healthy manner. Interventions in the form of expressive art therapy were given to six participants; children aged 8 to 9 years who were diagnosed with dyslexia. Each participant has received six art therapy sessions and completed the Emotion Expression Scale for Children (EESC) measuring instrument as the pretest and posttest. The purpose of this study is to explore factors that influenced the effectiveness of expressive art therapy results on emotional expression in children with dyslexia. This paper will focus on analyzing the interview results from six participants and their main caregiver. Data collection was carried out qualitatively through individual interviews. The results of the qualitative thematic analysis showed that increasing EESC scores on participants can be explained by two main factors. First, emotion coaching received from the environment. Second, the social judgement perceived by the participants. Differences in comorbidities, cultures, and conditions of participants during interventions might influence the results of this study. Keterbatasan kemampuan membaca dan menulis pada anak dengan disleksia membuat mereka sulit untuk berhasil secara akademis ketika diberikan metode belajar yang tipikal. Selain kesulitan di bidang akademik, anak-anak dengan disleksia juga mengalami kesulitan dalam fungsi psikososial mereka. Permasalahan emosional menjadi “secondary handicap” yang seringkali muncul pada anak dengan disleksia dan akan menyebabkan gangguan psikologis jika tidak ditangani sejak dini. Anak disleksia perlu diberikan bimbingan emosional yang tepat untuk memperoleh kompetensi emosional yang diperlukan agar mereka mampu mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat. Dalam riset ini, intervensi berupa terapi seni ekspresif telah diberikan terhadap enam partisipan, yaitu anak berusia 8 hingga 9 tahun yang terdiagnosis disleksia. Setiap partisipan telah melakukan enam sesi terapi seni dan menyelesaikan alat ukur Emotion Expression Scale for Children (EESC) sebagai pretest, juga posttest. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi faktor yang memengaruhi efektivitas terapi seni ekspresif terhadap ekspresi emosi pada anak dengan disleksia. Penelitian ini akan berfokus menganalisis hasil wawancara dengan keenam partisipan dan pengasuh utama mereka. Pengambilan data dilakukan secara kualitatif melalui metode wawancara individual. Hasil analisis tematik kualitatif menunjukkan bahwa peningkatan skor EESC pada partisipan dapat dipengaruhi oleh dua faktor utama. Pertama, pengajaran emosi yang diterima dari lingkungan. Kedua, penilaian lingkungan sosial yang dipersepsikan oleh partisipan. Perbedaan dalam komorbiditas, budaya, dan kondisi partisipan selama intervensi juga dapat menjadi faktor yang memengaruhi hasil penelitian ini.
STRATEGI PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMPUTER UNTUK ASESMEN HYBRID KEMAMPUAN MEMBACA SISWA SEKOLAH DASAR DI DAERAH TERPENCIL Beng, Jap Tji; Arisandi, Desi; Arumsari, Chysanti; Tiatri, Sri
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.226 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v1i1.1906

Abstract

 The use of computer technology has become an inseparable part of every learning activity, including its use as an assessment aid in the field of education. Reading Bahasa Indonesia is a basic skill that needs to be mastered by elementary school students, but in reality the development of the reading skill of each student is not the same. Reading assessment is needed primarily to identify reading difficulties as early as possible, so that appropriate interventions can be made, which enable a student to follow the knowledge development of their peer group. At the beginning of this study, the reading skill assessment material developed was paper and pencil based. Calibration of measuring instruments used in the assessment is carried out continuously and carefully. In the next stage, to facilitate the assessment process, three prototypes of computer technology application -based assessment were developed: (a) online server-based assessment, (b) stand-alone computer-based assessment, and (c) hybrid assessment with interactive scoring using paper and pencil. All three types of prototypes are tested and evaluated in different conditions and environments. The trial results show that the prototype hybrid assessment is most suitable for use in elementary schools in remote locations. This hybrid assessment has been implemented in three remote elementary schools: one in Karanganyar, and two in Salatiga. All three elementary schools have minimal internet networks, and limited teacher and student computer literacy. The results of the application in the three remote locations show that for the assessment of remote area elementary school students, using hybrid computer technology is the most appropriate. Other findings indicate that the application of hybrid assessment is a faster, easier, and more economical method, compared to the paper and pencil method ABSTRAK: Pemanfaatan teknologi komputer sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap kegiatan pembelajaran,termasuk penggunaannya sebagai alat bantu asesmen di bidang pendidikan. Membaca dalam Bahasa Indonesiamerupakan kemampuan dasar yang perlu dikuasai siswa Sekolah Dasar, namun kenyatannya perkembangankemampuan membaca tiap siswa tidak sama. Asesmen membaca diperlukan terutama untuk mengidentifikasikesulitan membaca sedini mungkin, agar dapat dilakukan intervensi yang tepat, yang memungkinkan seorang siswamampu mengikuti perkembangan pengetahuan untuk kelompok sebayanya. Pada awal penelitian ini, materiasesmen kemampuan membaca yang dikembangkan adalah berbasis kertas dan pensil. Kalibrasi alat-alat ukuryang digunakan dalam asesmen dilakukan secara berkelanjutan dan hati-hati. Pada tahap selanjutnya, gunamempermudah proses asesmen, tiga prototype asesmen berbasis aplikasi teknologi komputer dikembangkan: (a)asesmen berbasis online server, (b) asesmen berbasis komputer stand-alone, dan (c) asesmen hybrid denganskoring interaktif menggunakan kertas dan pensil. Ketiga jenis prototype diuji dan dievaluasi dalam kondisi danlingkungan yang berbeda-beda. Hasil ujicoba menunjukkan prototype asesmen hybrid paling sesuai diterapkan diSekolah Dasar di lokasi terpencil. Asesmen hybrid ini telah diterapkan di tiga Sekolah Dasar daerah terpencil:satu di Karanganyar, dan dua di Salatiga. Ketiga Sekolah Dasar tersebut memiliki jaringan internet yang minim,dan literasi komputer guru dan siswa yang terbatas. Hasil penerapan di tiga lokasi terpencil itu menunjukkanbahwa untuk asesmen siswa Sekolah Dasar daerah terpencil, yang paling sesuai adalah pemanfaatan teknologikomputer secara hybrid. Temuan lain menunjukkan bahwa penerapan asesmen hybrid merupakan metode yanglebih cepat, lebih mudah, dan lebih ekonomis, dibandingkan dengan metode kertas dan pensil.
PERAN PENGETAHUAN AWAL TENTANG ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DAN EFIKASI GURU TERHADAP SIKAP GURU PADA PENDIDIKAN INKLUSIF Dewi, Tita Tri Utami; Tiatri, Sri; Mularsih, Heni
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.2972.2021

Abstract

In inclusive education, children with special needs (ABK) should get educational services together with normal children. However, inclusive education services that occur in Indonesia are still experiencing obstacles. Previous research has found that the problems are the lack of knowledge of teachers about children with special needs, the lack of teacher skills in dealing with children with special needs, and teachers' attitudes towards children with special needs. Current research intended to analyse the attitude of inclusive education teachers. The measurement of knowledge is developed by researchers using prior knowledge theory. In measuring teacher efficacy, we use the Teacher Efficacy for Inclusive Practices (TEIP) measurement. Teacher attitudes towards inclusive education was measured by the Multidimensional Attitudes Toward Inclusive Education Scale (MATIES). The participants were 60 teachers from state primary school, and incusive private primary school in Bogor Regency. Participants were recruited by convenience sampling technique. The research method uses correlational quantitative methods. The results showed that the knowledge and efficacy of teachers together did not provide a significant contribution to the attitude of teachers in inclusive education. Partially, knowledge about children with special needs has no effect on teachers' attitudes on inclusive education. However, independently, only teacher efficacy contributed significantly to teachers' attitudes regarding inclusive education. bersama dengan anak yang normal. Namun, pelayanan pendidikan inklusif yang terjadi di Indonesia masih mengalami hambatan. Penelitian terdahulu menemukan bahwa hambatan yang terjadi selama ini adalah kurangnya pengetahuan guru tentang anak berkebutuhan khusus, minimnya keterampilan guru dalam menangani ABK, dan sikap guru terhadap ABK yang dilihat masih memandang sebelah mata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pengetahuan awal tentang ABK dan efikasi guru terhadap sikap guru pendidikan inklusif. Pengukuran pengetahuan dikembangkan oleh peneliti dengan menggunakan teori prior knowledge. Untuk pengukuran efikasi guru, digunakan alat ukur The Teacher Efficacy for Inclusive Practices (TEIP). Pengukuran sikap guru terhadap pendidikan inklusif menggunakan alat ukur The Multidimensional attitudes toward inclusive education scale (MATIES). Partisipan berjumlah 60 guru dari SDN dan SD Swasta Inklusi di Kabupaten Bogor, yang terpilih dengan teknik sampling convenience. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dan efikasi guru secara bersama-sama tidak memberikan sumbangan yang signifikan terhadap sikap guru pendidikan inklusif. Secara parsial, pengetahuan mengenai anak berkebutuhan khusus tidak memberikan pengaruh terhadap sikap guru pada pendidikan inklusi. Namun secara independen hanya efikasi guru yang memberikan sumbangan yang signifikan terhadap sikap guru mengenai pendidikan inklusif. 
PENJAJAKAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN PENGETAHUAN DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Jap, Tji Beng; Lusiana, Fenny; Larasati, Kirey; Tiatri, Sri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.10002.2021

Abstract

Knowledge Management System (KMS) is a learning solution that is known to be effective in various educational contexts in the era of information and communication technology. One educational context that is expected to benefit from is Vocational High Schools (SMK). In this education, the most learned things are skills. It is not yet known, what kind of Knowledge Management System suits the learning needs of students in SMK. This study aims to explore the needs of vocational students associated with the application of the Knowledge Management System. Research participants are 1.600 vocational students in 5 cities of Indonesia (83 students from Pontianak, 304 students from Manado, 177 students from Belitung, 238 students from Yogyakarta, and 798 students from Salatiga) Data collection was carried out through surveys and interviews. The results showed that 100% of students stated that KMS was needed in their learning system. Most students 63% (996 students) need a KMS that includes all knowledge, both related and unrelated to their field of expertise. The results of this research can be valuable information for the development of KMS in SMK in Indonesia. Sistem Manajemen Pengetahuan atau Knowledge Management System (KMS) adalah salah satu solusi belajar yang diketahui efektif diterapkan dalam berbagai konteks pendidikan di era teknologi informasi dan komunikasi. Salah satu konteks pendidikan yang diperkirakan akan mendapatkan manfaat adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dalam pendidikan ini, hal yang paling banyak dipelajari adalah keterampilan. Belum diketahui Sistem Manajemen Pengetahuan seperti apa yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran para siswa di SMK. Penelitian ini bertujuan menjajaki kebutuhan siswa SMK yang terkait dengan penerapan Sistem Manajemen Pengetahuan. Partisipan penelitian adalah 1.600 siswa SMK di 5 kota Indonesia (83 Siswa Pontianak, 304 Siswa Manado, 177 Siswa Belitung, 238 Siswa Yogyakarta, dan 798 Siswa Salatiga). Pengambilan data dilaksanakan melalui survei dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100% siswa menyatakan bahwa KMS diperlukan dalam sistem pembelajaran mereka. Sebagian besar siswa 63% (996 Siswa) memerlukan KMS yang mencakup seluruh pengetahuan, baik yang terkait maupun yang tidak terkait dengan bidang keahlian mereka. Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi yang berharga bagi pengembangan KMS di SMK di Indonesia.
HUBUNGAN RELIGIUSITAS DAN REGULASI EMOSI SISWA SEKOLAH DASAR Angelia, Mikha; Tiatri, Sri; Heng, Pamela Hendra
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.8252.2020

Abstract

Emotional regulation is an individual’s ability to regulate emotions. Individual regulate his/her emotion to be able to control his/her life. In practice, the ability of emotional regulation can be influenced by various factors. One of the factors that can influence the process of emotional regulation is the level of religiosity. In this study, researchers aimed to be able to see the relationship of students’ religiosity on emotional regelation possessed by students. This study involved 319 elementary school students in SD X. Participants were given a set of assessments to measure the level of religiosity and emotional regulation. Religiosity is measured by using the Dimension Religiosity Scale to measure preoccupation, conviction, emotional involvement, and guidance. To measure emotional regulation, researchers used the Emotion Regulation Questionnaire for Children and Adolescent (ERQ-CA) to measure the level of cognitive reappraisal and expressive suppression possessed by students. Data was analysised using correlation test  in SPSS version 23. From the results of the correlation test conducted found that there is a significant relationship between the variables of religiosity and emotional regulation (r = 0.248, with p < 0.05). This shows that if the level of religiosity students have is high, the ability of students to regulate emotions will be better. Regulasi emosi adalah suatu kemampuan individu dalam mengatur emosi. Setiap orang melakukan regulasi emosi untuk dapat mengendalikan hidupnya. Dalam praktiknya, kemampuan regulasi emosi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi proses regulasi emosi adalah tingkat religiusitas yang dimiliki individu tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti bertujuan mengkaji hubungan antara religiusitas siswa dengan regulasi emosi yang dimiliki oleh siswa. Penelitian ini melibatkan 319 siswa-siswi Sekolah Dasar di sekolah X. Partisipan diberikan satu set asesmen untuk mengukur tingkat religiusitas dan regulasi emosi. Religiusitas diukur dengan menggunakan Dimension Religiousity Scale untuk mengukur preoccupation, conviction, emotional involvement, dan guidance. Untuk mengukur regulasi emosi, peneliti menggunakan Emotion Regulation Questionnaire for Children and Adolescent (ERQ-CA) untuk mengukur tingkat kemampuan cognitive reappraisal dan expressive suppression yang dimiliki oleh siswa. Analisis data menggunakan uji korelasi dengan menggunakan SPSS versi 23. Dari hasil uji korelasi yang dilakukan, didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara variabe religiusitas dan regulasi emosi (r = 0,248, p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa makin tinggi tingkat religiusitas yang dimiliki siswa, maka makin tinggi pula kemampuan siswa dalam meregulasi emosi.
EFEKTIVITAS PELATIHAN “MATH AND ME” BERLANDASKAN PRINSIP ATTRIBUTIONAL FEEDBACK DALAM MENINGKATKAN KONSEP DIRI AKADEMIS Monica Gunawan; Sri Tiatri; Sesilia Monika
Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan Vol 8, No 2 (2016): Provitae
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.275 KB) | DOI: 10.24912/provitae.v8i2.216

Abstract

Previous research showed that attributional feedback could enhance academic self-concept in targeted subject. However, research in Indonesia about intervention to academic self-concept is still limited (Wahyuningsih, 2010) and had been done with special need participants (Tarmidi & Akbar-Hawidi, 2009). This research aimed to test the effectiveness of “Math and Me” training based on attributional feedback in enhancing academic self-concept, especially on mathematic subject among grade 7 student at Junior High School. The participants of this research were 3 students in grade 7 with low score of academic self-concept. The research design was one group pretest-posttest design. Pretest-posttest conducted on academic self-concept scores. Based on data analysis, academic self-concept scores significantly enhance after training. Participants also show more positive attitude, such as more open and actively involved in the mathematic learning processes. The result indicates that “Math and Me” training based on attributional feedback is effective in enhancing academic self-concept, especially on mathematic subject among grade 7 student at junior high school.Keywords: "Math and Me” training with attributional feedback, academic self-concept
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS PENGAJARAN MEMBANGUN MODEL MENTAL BACAAN BAGI GURU SEKOLAH DASAR Sri Tiatri; Jap Tji Beng; Claudia Fiscarina; Hartinah Dinata
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.11348.2021

Abstract

Building Mental Models Teaching during reading is beneficial to improve students' reading and thinking skills. However, this teaching was not popular because the implementation was complicated. Efforts to develop learning models to build mental models for teachers are continuously being pursued. This study examines the factors that can affect the effectiveness of teacher training. Data is collected through documentation of the entire training process, starting from preparation, implementation, and completion. Interviews and in-depth observations were held in this in-house training process. Participants of this in-house training are a group of primary school teachers in Salatiga (10 teachers) and Tanjungpandan (10 teachers). The results show, there are 5 factors that need to be considered to achieve the effectiveness of in-house training of building mental models: (a) principal support, (b) association with certification, (c) training implementation time, (d) teachers' prior knowledge, (e) teacher habits when teaching in classroom, especially regarding assessment. Based on the evaluation of this training, the material presented was considered quite easy by the teacher. However, there is a tendency that teachers' habits in assessment affect the learning to build mental models that are carried out. There are habits that have the potential to interfere with the freedom of thought that are being developed. Based on the results of this study, it is hoped that the teaching carried out by the teacher can encourage students to think independently, not solely focusing on academic achievement. Pengajaran Membangun Model Mental saat membaca bermanfaat meningkatkan kemampuan membaca dan berpikir siswa. Namun pengajaran ini tidak populer karena pelaksanaannya yang tidak sederhana. Upaya mengembangkan model pembelajaran membangun model mental bagi para guru terus diupayakan. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas pelatihan guru. Data dikumpulkan melalui dokumentasi seluruh proses pelatihan, mulai dari persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian. Wawancara dan observasi mendalam dilaksanakan dalam proses in house training. Partisipan in house training dalam penelitian ini adalah kelompok guru SD di Salatiga (10 guru) dan Tanjungpandan (10 guru). Hasil penelitian menunjukkan 5 faktor yang perlu dipertimbangkan untuk mencapai keefektifan in house training pembelajaran membangun model mental: (a) dukungan kepala sekolah, (b) pengaitan dengan sertifikasi, (c) waktu pelaksanaan pelatihan, (d) pengetahuan awal para guru, (e) kebiasaan guru dalam pengajaran di kelas, khususnya mengenai penilaian. Berdasarkan evaluasi terhadap pelatihan ini, materi yang disampaikan dianggap cukup mudah oleh guru. Namun ada kecenderungan bahwa kebiasaan guru dalam penilaian mempengaruhi pembelajaran membangun model mental yang dilaksanakan.  Ada kebiasaan yang berpotensi mengganggu kemerdekaan berpikir yang sedang dikembangkan. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan pengajaran yang dilakukan guru dapat mendorong siswa untuk merdeka berpikir, tidak semata-mata berfokus pada prestasi akademik saja.
KECEMASAN MAHASISWA SELAMA PEMBELAJARAN JARAK JAUH PADA MASA PANDEMI COVID-19 Hartinah Dinata; Sri Tiatri; Pamela Hendra Heng
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.11786.2021

Abstract

The COVID-19 pandemic (Coronavirus Disease 2019) is an epidemic that is occurring worldwide and causing a number of psychological reactions and mental health. In response to the outbreak, the government established ‘Pembelajaran Jarak Jauh’ (PJJ). However, PJJ has had a number of negative effects. In addition, students are also prone to experiencing anxiety. There is increasing attention to the mental health of students at the higher education due to the COVID-19 situation. This study aims to determine the impact of the COVID-19 pandemic on student mental health, especially anxiety among students in Indonesia. The study was conducted using an online survey, with an anxiety scale from the DASS (Depression Anxiety Stress Scale), and a questionnaire related to the anxiety. The participants were 166 active undergraduate (S-1) students who were doing PJJ. The results showed that most students experienced extremely severe level of anxiety (44%). The anxiety that students experience might come from the COVID-19 pandemic situation, and the PJJ situation. Most of the students were worried that they would be infected by COVID-19 (83.13%). In addition, students also experience anxiety about the PJJ activities. They feel more anxious about carrying out academic activities compared to the period before the pandemic (76.5%). In addition, there are several conditions that affect student anxiety, such as: (a) feeling bored and less enthusiastic about online learning activities (78.31%); (b) the signal is bad, the quota runs out (68.67%), and (c) there is a lot of disturbance to the surrounding environment when online classes (67.47%). This state of academic anxiety is considered disturbing for students. Pandemi COVID-19 (Coronavirus Disease 2019) merupakan epidemi yang terjadi di seluruh dunia dan menyebabkan sejumlah reaksi psikologis dan kesehatan mental. Dalam menanggapi adanya wabah yang sedang merebak, pemerintah menetapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Namun demikian, PJJ menyebabkan sejumlah dampak negatif. Selain itu, mahasiswa juga rentan mengalami kecemasan. Terjadi peningkatan perhatian terhadap kesehatan mental siswa pada tingkat pendidikan tinggi karena situasi COVID-19. Penelitian ini berusaha mengetahui dampak pandemi COVID-19 pada kesehatan mental mahasiswa, khususnya kecemasan pada mahasiswa di Indonesia. Penelitian dilakukan menggunakan online survey, dengan skala kecemasan dari DASS (Depression Anxiety Stress Scale), dan survey terkait kecemasan yang mahasiswa rasakan yang diciptakan peneliti. Partisipan berjumlah 166 mahasiswa aktif Strata 1 (S-1) yang sedang melakukan PJJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mengalami kecemasan dengan tingkat sangat parah (44%). Kecemasan yang dialami siswa dapat berasal dari situasi pandemi COVID-19 dan situasi PJJ. Sebagian besar mahasiswa cemas akan terjangkit COVID-19 (83,13%). Selain itu, mahasiswa juga mengalami kecemasan mengenai kegiatan PJJ yang berlangsung. Mereka merasa lebih cemas dalam menjalankan kegiatan akademik dibandingkan dengan masa sebelum pandemi (76,5%). Selain itu, terdapat beberapa kondisi yang mempengaruhi kecemasan mahasiswa, seperti: (a) perasaan bosan dan kurang antusias mengenai kegiatan belajar online (78,31%); (b) sinyal buruk, kuota habis (68,67%), dan (c) banyaknya gangguan lingkungan sekitar ketika sedang kelas online (67,47%). Keadaan kecemasan akademik ini dianggap mengganggu bagi mahasiswa.
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN PRESTASI AKADEMIK DENGAN JOB PERFORMANCE PADA MAHASISWA AKTIF ORGANISASI KEMAHASISWAAN Talissa Carmelia; Sri Tiatri; Erik Wijaya
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.918

Abstract

Kecerdasan emosional adalah kemampuan menerapkan daya dan kepekaan emosi. Prestasi akademik adalah hasil proses belajar. Job performance adalah penilaian dan evaluasi tugas. Belum ada penelitian mengenai hubungan antara kecerdasan emosi, prestasi akademik, dan job performance pada konteks organisasi kemahasiswaan di Indonesia sehingga tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan ketiga variabel di organisasi kemahasiswaan. Penelitian ini melibatkan 284 mahasiswa yang terlibat di organisasi kemahasiswaan (DPM dan BEM). Hasil penelitian ini menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan job performance ditinjau dari diri sendiri (r=0,338, p=0,013) tetapi tidak ada hubungan ditinjau dari rekan kerja (r = 0,080, p = 0,177), maupun dari ketua (r= -0,108, p= 0,069). Kedua, ada hubungan antara prestasi akademik dengan job performance ditinjau dari ketua organisasi kemahasiswaan (r = 0,147; p= 0,00), tetapi tidak ada hubungan jika ditinjau dari diri sendiri (r= -0,013, p = 0,830), maupun rekan kerja (r= 0,056, p= 0,352). Ketiga, tidak terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dan prestasi akademik pada mahasiswa yang terlibat di organisasi kemahasiswaan (r= -0,13, p= 0,83).
GAMBARAN MBKM ASISTENSI MENGAJAR DI SMP X KOTA TANGERANG Peter Stefanus; Valeria Panatra; Maulana Prasetya; Sri Tiatri
PROSIDING SERINA Vol. 2 No. 1 (2022): PROSIDING SERINA IV 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.879 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v2i1.19623

Abstract

MBKM Asistensi Mengajar adalah salah satu kegiatan yang dirancang oleh Kemendikbudristek, memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang tertarik dalam dunia pendidikan. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan MBKM Asistensi Mengajar (AM) yang dilaksanakan oleh 3 mahasiswa program studi psikologi univeritas J di SMP X Kota Tangerang. Metode pengumpulan data adalah melalui wawancara, observasi, dan focus group disccusion. Hasil analisis terhadap pelaksanaan program MBKM AM menunjukkan adanya 4 kategori kegiatan yang dialami mahasiswa, yaitu: (a) membantu pelaksanaan pembelajaran khususnya dalam kaitan dengan pelajaran Bimbingan dan konseling; (b) mendampingi siswa berkebutuhan khusus dalam proses belajar; (c) membantu pelaksanaan administrasi terkait kehadiran, ataupun masalah yang dialami siswa; dan (d) membantu pelaksanaan kegiatan khusus dari sekolah. Berdasarkan hasil kajian terhadap pelaksanaan program MBKM AM ini, maka direkomendasikan agar kurikulum pendidikan psikologi jenjang S1 dapat memperkuat kompetensi mahasiswa terutama dalam pelaksanaan konseling dan pendampingan terhadap siswa berkebutuhan khusus.
Co-Authors Afendi, Jelien Afsyari, Belva Andriona, Joan Andy Surya Putra, Andy Surya Angela, Felice Angelia, Mikha Anisa Husnul Khotimah Ansika Cecilia, Fausta Anugrah, Chitta Aprilia Putri, Sherly Amanda Aprillia, Aginta Arumsari, Chysanti Audy, Ervina Aufa, Rahmatul Aulia, Nazwa Rahma Aulia, Shafira Anggun Aurelia, Verena Ayesha Desfitrianie Azzahra, Cintya Syarah Azzuhruf, Naura Reisya Bellany, Miranda Bunarwan, Elga Adhi Caroline, Gabriella Dinna Claudia Fiscarina Darmawan, Natalia W. Davira S, Carelene Denilson, Hody Desi Arisandi Dewi, Fransisca I.R. Dewi, Tita Tri Utami Dhiyaashafa, Keisya Azzura Dinatha, Vienchenzia Oeyta Dwitama Duarsa, Naraya Kinastrian Siniddhikara Edo, Gavriella Ceacilia Christie Ratu Erik Wijaya Ery Dewayani Fatiha, Salsabila Zahrani Febriani, Oki Kartika FELICIA Fransisca I. R. Dewi Gaby Sie, Madeline Graciela, Evelyn Gregorio, Keanen Handayani, Ani Hannandira, Rosa Hanuna, Fatimah Harsoyo, Tania Talitha Hartinah Dinata Heni Mularsih Hervanny Zisli Hutagaol, Alice Shizuka Indriani, Chelsea Irene, Joe Iriani R. Dewi, Fransisca Jap Tji Beng Jap, Bernard Amadeus Jaya Jauharah, Hasna Johan, Hani Rahmawati Juliana, Sarah Gracyntia Junisah, Bunga Ayu Kurnia, Angelica Nathania Larasati, Kirey Latupono, Sania Alikha Rahmadira Lawrence, Valerie Lie, Audrey Felicia Liesera, Novita Limbor, Ellen Gabriel Lunzaga, Ele Lusiana, Fenny Mahmud, Tiara Nailah Mar'at, Samsunuwiyati Mar’at, Samsunuwijati Mar’at, Samsunuwiyati Margareta Margareth Natalia Maulana Prasetya Meccabelfa, Nesha Mei Ie Merdiasi, Danella Michelle Friscilia Monica Gunawan Naomi Soetikno, Naomi Naomi Sutikno, Naomi Napouling, Debby Nathashia, Kyara Nichlah, Naila Hullatun Nisa, Adilatun Nivia, Nivia Norita Margareth Berta, Norita Margareth Nugraheni, Angelia Prasastha Widi Nurkholiza, Rahmiyana Oeyta, Vienchenzia Pamela Hendra Heng Panatra, Valeria Pandumpi, Shania Krisan Pertama Henerges, Anakita Peter Stefanus Prasetyo, Sylvia Rosiana Putri, Arsy Febrianti Putri, Handyta Tiara Putri, Herviana Haruko Tadia Putri, Latifah Liwanti Putri, Monica Tri Putri, Najwa Nabila Rigusha Putri, Nurfathiyyah Farida Putriadi, Harvi Wahyu Rahmad Endarto, Urip Rahmadani, Putri Alifia Rahmah Hastuti Rahmiyana Nurkholizah Riana Sahrani Romansza, Hana Kameliana Safarizkyra, Taqya Adisty Salsabila, Tasya Mulia Sania Alikha Rahmadira Latupono Santi Yudhistira Saputra, Mikhael Adam Saraswati, Laksmiari Sefira, Fasia Meta Shalisha, Gabriella Shalsa Dea Purnama Shantya Viratama, Dwi Nurmatin Sharon, Michelle Silitonga, Listra Chatalia Silky Goswara Simon, Sevilla Soemiarti Patmonodewo Stephanie Stephanie Sucitra, Eric Sugeng Astanggo Susanto, Jessica Elena Sutarman, Merryn Oktavia Sutiawan, Sutiawan Suzanna Juwita, Suzanna Syarif, Shavira Hasanah Putri A. Syarifah Najmah Khairiyyah Talissa Carmelia Tarigan, Julia Rostaulina Tasya Mulia Salsabila Tji Beng, Jap Tucunan, Byosvelma Michelle Blessya Valeria Panatra Vebiyan, Amanda Diva Veren, Karissa Vincent Suryawidjaja Virenna, Rachel Virginia, Clarisa Wasino Wasino Widiastuti, Niken Wijaya, Angeline Carolina Wijaya, Odilia Angeline Jofan Wijaya, Yohannes Yulindasari, Adelia Yulinta, Helpani Yuniawati, Elisa Ika Zahra Shafira Zahra, Maryam ZAHRO, TIARA Zheng, Margareta