Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

CENTRAL JAVANESE FOLKLORE THE LEGEND OF GOA KREO IN 3D SHORT ANIMATION. STUDY PROJECT. DEPARTEMENT OF FINE ARTS, FACULTY OF LANGUAGES AND ARTS, SEMARANG STATE UNIVERSITY. Wibawanto, Wandah; Febriyanto, Krisno
Arty: Jurnal Seni Rupa Vol 12 No 3 (2023): Regular
Publisher : Jurusan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/arty.v12i03.75692

Abstract

Indonesia memiliki ragam kekayaan budaya,salah satu wujud dari kebudayaan di Indonesia adalahlegenda cerita rakyat.Banyak sekali cerita rakyat yang ada di indonesia, dan salah satu contoh legendacerita rakyat yang ada di Indonesia adalah kisah legenda asal-usul Goa Kreo.Legenda ini berawal darikisah tentang seorang Sunan Kalijaga yang sedang dalam perjalanan mencari kayu jati untuk dijadikansebagai soko guru Masjid Agung Demak.Namun sangat disayangkan masih banyaknya generasi mudayang belum mengenali cerita rakyat tersebut sedangkan dalam cerita ini memiliki nilai sentimentaltinggi yang dapat diteladani.Maka perlu adanya suatu media yang dapat membatu mengenalkan,menyampaikan pesan-pesan yang terkandung dalam cerita rakyat Legenda Goa Kreo. Proyek studi inibertujuan untuk Menghasilkan rancangan film animasi 3 dimensi Legenda Asal-Usul Goa Kreo yangmengangkat tema kebudayaan daerah dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamya dan jugamempromosikan wisata Goa Kreo melalui film animasi pendek 3 dimensi agar lebih dikenal luas olehMasyarakat. Animasi 3 dimensi dipilih karena 3 dimensi adalah jenis animasi yang paling banyakdiminati pada saat ini.
Branding Produk Kelompok Tani Hutan Cagar Alam Biosfer Merapi Merbabu Wibawanto, Wandah; Prameswari, Nadia Sigi; Athian, Rahman
Arty: Jurnal Seni Rupa Vol 12 No 1 (2023): Regular Issue
Publisher : Jurusan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan cagar biosfer merupakan pengelolaan kawasan yang memadukan kepentingan konservasi keanekaragaman hayati, pengembangan sosial ekonomi masyarakat, dan dukungan logistik untuk mempromosikan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam. Kawasan biosfer Magelang merupakan bagian dari Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh yang di dalamnya terdapat Kelompok Tani Hutan (KTH) yang mengelola hasil alam, salah satu di antaranya adalah "Gubug Lanceng" yang berfokus pada produksi madu lebah Trigona Sp dan Tetragonula biroi. Permasalahan yang dihadapi adalah minimnya pengetahuan tentang visual branding yang meliputi identitas visual, desain kemasan dan pemasaran produk. KTH yang terlibat memiliki beberapa produk olahan hasil alam yang belum memiliki brand, sehingga harga jual produk menjadi rendah dan jangkauan pemasaran yang terbatas. Metode pelaksanaan kegiatan branding produk selanjutnya dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu: 1) Preliminary design; 2) Design development; dan 3) Aplikasi desain pada media branding. Proses branding diintegrasikan dengan kegiatan Dinas Kehutanan wilayah 9 Magelang dan dilakukan secara bertahap dalam 3 kegiatan terstruktur serta menghasilkan branding produk KTH yang memiliki daya jual yang lebih tinggi, hak cipta atas desain identitas visual dan desain kemasan produk KTH.
KAJIAN INTERDISIPLIN: TELAAH SENI RUPA DAN TARI MELALUI TEORI AKULTURASI DAN TEORI MOTIVASI PADA TARI RONGGENG WARAK KARYA TARI SEKAR KEMUNING Puspita, Sovie Kresnadayanti; Wadiyo, Wadiyo; Wibawanto, Wandah
JIAA: Journal of Islamic Art and Architecture Vol 1, No 2: October 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ronggeng Warak merupakan salah satu karya tari dengan penggambaran kolaborasi kebudayaan dan kesenian Kota Semarang yang multikultural. Oleh sebab itu penelitan ini bertujuan untuk mengetahui tanda akulturasi dan motivasi pembuatan karya Tari Ronggeng Warak. Kajian motivasi menggunakan teori ERG Clayton Paul Aldefer yang menyederhanakan teori kebutuhan Abraham Maslow.Penelitian menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Uji keabsahan data menggunakan peningkatan ketekunan dan triangulasi, serta Teknik analisis data melalui cara mengurutkan data secara sistematis yang berawal dari pengumpulan data, reduksi data, penjajian data dan verivikasi.Hasil yang ditemukan dalam Tari Ronggeng Warak adalah penandaan akultursi dari icon Tradisi Dugderan dan Kesenian Gambang Semarang. Warak sebagai ide pembuatan karya merupakan bentuk akulturasi dari ragam etnis, seperti Jawa, Cina, dan Arab secara visualisasinya terlihat pada kostum dan properti tari. Warak dijadikan icon hawa nafsu pada Tradisi Dugderan. Gaya tari Semarangan (salah satu jenis seni dalam Gambang Semarang) dibuat sebagai pijakan pembuatan karya yaitu pada bentuk, iringan, tata rias dan kostum serta properti tari.Motivasi pembuatan karya Tari Ronggeng Warak masuk diantara kebutuhan untuk berhubungan  dan berkembang dalam teori ERG, dan masuk pada Esteem Needs dalam teori kebutuhan Maslow.
Topeng Banjet Abah Pendul: Kajian Seni Pertunjukan Tradisi Karawang Hartono, Rudi; Cahyono, Agus; Wibawanto, Wandah
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 6 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i6.3628

Abstract

Penelitian ini mengkaji bentuk dan penyajian seni pertunjukan Topeng Banjet Abah Pendul, kelompok Sinar Pusaka Warna, yang berkembang di Kabupaten Karawang. Sebagai salah satu seni tradisi lokal, Topeng Banjet memiliki fungsi tidak hanya sebagai hiburan rakyat, tetapi juga sebagai media ekspresi budaya, kritik sosial, serta identitas kultural masyarakat Karawang. Fokus penelitian ini diarahkan pada aspek bentuk pertunjukan, yang meliputi struktur dramatik, pola penyajian lakon, penggunaan musik pengiring, gerak tari, dan peran tokoh; serta aspek penyajian yang mencerminkan gaya khas Abah Pendul dalam menjaga keotentikan tradisi sekaligus menyesuaikan dengan konteks penonton masa kini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif analitis dengan pendekatan etnografi seni. Data diperoleh melalui observasi langsung pertunjukan, wawancara mendalam dengan seniman dan penonton, serta studi dokumentasi. Analisis dilakukan dengan menekankan pada interaksi antara elemen estetika dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap penyajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pertunjukan Topeng Banjet Abah Pendul menampilkan struktur naratif yang sederhana namun kaya makna simbolis. Penyajiannya mengedepankan improvisasi dialog, humor lokal, dan kritik sosial yang aktual, sehingga tetap relevan bagi masyarakat Karawang. Estetika pertunjukan dibangun melalui perpaduan musik tradisi, karakterisasi tokoh, dan dinamika interaksi dengan penonton. Temuan ini menegaskan bahwa Topeng Banjet tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rakyat, tetapi juga sebagai representasi ekologi budaya lokal yang terus hidup melalui kepemimpinan artistik kelompok Sinar Pusaka Warna Abah Pendul.
Bantengan Art and Ideology: The Independent Banteng Dance as a Spirit of Freedom Belinda Dewi Regina; Suharto Suharto; Wandah Wibawanto
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.37483

Abstract

Bantengan art, as part of East Javanese traditional culture, not only functions as entertainment, but also as a medium for social and ideological expression that is full of symbolic meaning. This research aims to analyze the relationship between Bantengan art and the ideology of freedom, with a focus on the Merdeka Banteng Dance as a representation of the spirit of freedom. The Merdeka Bantengan. Dance, one of the important elements in this art, is often associated with the spirit of resistance and freedom. This research uses a qualitative approach. Data was collected through participant observation, in-depth interviews with artists and cultural figures, as well as studying related literature. The analysis was carried out using thematic analysis and semiology methods to understand the symbolism contained in dance movements, costumes and music. The research results show that the Merdeka Bantengan Dance reflects the ideology of freedom through the use of the Bantengan symbol as a representation of strength and resistance to oppression. Through cultural and ideological meaning, the Merdeka Banteng Dance becomes a means of communication and expression of the spirit of freedom that is rooted in Bantengan art. This research provides new insight into how traditional art can function as a mirror of ideology and become a means of social expression in society.   Kesenian Bantengan, sebagai bagian dari budaya tradisional Jawa Timur, tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media ekspresi sosial dan ideologis yang sarat makna simbolis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kesenian Bantengan dengan ideologi kebebasan, dengan fokus pada Tari Banteng Merdeka sebagai representasi spirit kebebasan. Tari Banteng Merdeka, salah satu elemen penting dalam kesenian ini, sering diasosiasikan dengan semangat perlawanan dan kebebasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan para pelaku kesenian dan budayawan, serta studi literatur terkait. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode analisis tematik dan semiologi untuk memahami simbolisme yang terkandung dalam gerakan tari, kostum, dan musik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Banteng Merdeka merefleksikan ideologi kebebasan melalui penggunaan simbol banteng sebagai representasi kekuatan dan perlawanan terhadap penindasan. Melalui pemaknaan budaya dan ideologis, Tari Banteng Merdeka menjadi sarana komunikasi dan ekspresi dari semangat kebebasan yang mengakar dalam kesenian Bantengan. Penelitian ini memberikan wawasan baru mengenai bagaimana seni tradisional dapat berfungsi sebagai cermin ideologi dan menjadi alat ekspresi sosial dalam masyarakat.