Claim Missing Document
Check
Articles

Simpanan Karbon pada Padang Lamun di Perairan Pulau Poteran Madura Jawa Timur Wita Kristianty Sirait; Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih
Journal of Tropical Marine Science Vol 5 No 1 (2022): Journal of Tropical Marine Science
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.642 KB) | DOI: 10.33019/jour.trop.mar.sci.v5i1.2617

Abstract

Blue carbon is a carbon stored in the coastal ecosystem such as mangrove ecosystems, seagrass beds and brackish/salty swamps. Seagrass ecosystems can absorb and drain large amounts of carbon from the atmosphere and deposited to tissues or sediments for a long time. The aim of this study was to determine the type, percentage of seagrass cover and carbon stocks in seagrass beds on Poteran Waters. The study was conducted in January - March 2019. Sampling was done by purposive sampling method. Carbon deposit in seagrasses was calculated using the loss on ignition (LOI) method. Seagrass species found on Poteran Island were 7 species, namely Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea serrulata, Cymodocea rotundata and Halodule uninervis, Halophila ovalis and Syringodium isoetifolium. Cymodocea serrulata had the highest density value with value 336 ind/m2 and the highest seagrass cover value was 20.45% by Cymodocea rotundata. The value of biomass under the substrate (4.24 dw.m-2 - 400.5 dw.m-2) is more than the value of biomass on the substrate (2.43 dw.m-2 - 54.52 dw.m-2). Carbon values under the substrate (1.52 gC.m-2 - 141.09 gC.m-2) and above the substrate (0.71 gC.m-2 - 5.83 gC.m-2). The carbon value in the two station was not normally distributed but did not have a significant carbon comparison value using the Mann Whitney U-Test analysis test.
Struktur Komunitas Fitoplankton di Perairan Pantai Megaproyek PLTU Batang, Jawa Tengah Febriana Banun Fitrianti; Raden Ario; Widianingsih Widianingsih
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.31697

Abstract

Adanya aktivitas pembangunan Megaproyek PLTU Batang diduga akan menurunkan kualitas lingkungan perairan khususnya di sekitar Megaproyek PLTU Batang. Salah satu organisme penting bagi ekosistem perairan adalah fitoplankton yang memaninkan perairan dalam produktivitas primer. Fitoplankton adalah mikro organisme autotrof yang dapat dijadikan sebagai indikator kualitas perairan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui struktur komunitas fitoplankton di Perairan Pantai Megaproyek PLTU Batang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif sedangkan penentuan stasiun digunakan metode purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 periode waktu pada November 2020 – Februari 2021 di 3 stasiun.  Letak stasiun menjorok ke arah laut yaitu dengan stasiun 1 merupakan perairan paling dekat dengan Megaproyek PLTU Batang, stasiun 2 berada di perairan antara Megaproyek PLTU Batang dengan laut dan untuk stasiun 3 berada di laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 19 genus fitoplankton berasal dari 2 kelas yaitu 15 genus dari kelas Bacillariophyceae dan 4 genus dari Dinophyceae. Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 2.581-10.137 sel/L dengan indeks keanekaragaman 1,61-2,59 tergolong sedang. Indeks keseragaman berkisar antara 0,67-0,99 menunjukkan persebaran merata dan tingkat dominansi rendah. Kandungan nitrat berkisar antara 0,28-0,71 mg/L sedangkan kandungan fosfat berkisar antara 0.08 – 0.74 mg/L sehingga kandungan nitrat dan fosfat di Perairan Pantai Megaproyek PLTU Batang berada di atas baku mutu air laut untuk biota laut. The existence of the Batang PLTU Megaproject development activity is expected to reduce the quality of the aquatic environment, especially around the Batang PLTU Megaproject. One of the important organisms for aquatic ecosystems is phytoplankton. Phytoplankton is an autotrophic organism that can be used as an indicator of water quality. The purpose of this study was to determine the composition, abundance, and community structure of phytoplankton in the Coastal Waters of the Batang PLTU Megaproject. The research method used was descriptive exploratory method while the determination of the station used purposive sampling method. Sampling was carried out for 3 time periods in November 2020 - February 2021 at 3 stations. The location of the stations protrudes towards the sea, with station 1 being the waters closest to the Batang PLTU Megaproject, station 2 being in the waters between the Batang PLTU Megaproject and the sea and for station 3 be at sea. The results showed that there were 19 genera of phytoplankton from 2 classes, namely 15 genera from the Bacillariophyceae class and 4 genera from Dinophyceae. The abundance of phytoplankton ranged from 2,581-10,137 cells/L with a diversity index of 1.61-2.59 classified as moderate. The uniformity index ranged from 0.67-0.99 indicating an even distribution and a low level of dominance. The nitrate content range from 0.28 to 0.71 mg/L while the phosphate content range from 0.08 to 0.74 mg/L so that the nitrate and phosphate content in the Coastal Waters of the Batang PLTU Megaproject is above the sea level for marine biota.
Asosiasi Gastropoda dengan Lamun di Perairan Teluk Awur dan Pulau Panjang, Jepara Aldi Rivaldy Maulana; Widianingsih Widianingsih; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.30801

Abstract

Gastropoda adalah salah satu biota yang dapat berasosiasi dengan lamun. Kondisi padang lamun pada kedua lokasi akan mempengaruhi tingkat kerapatan dan kelimpahan biota yang berada di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerapatan lamun yang berbeda dan kelimpahan gastropoda serta hubungan antara tingkat kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan gastropoda. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan Mei dan Agustus 2020 di Perairan Teluk Awur dan Pulau Panjang, Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yang bersifat deskriptif berdasarkan 3 kerapatan yang berbeda, yaitu kerapatan jarang, sedang, dan padat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 jenis lamun di Perairan Teluk Awur dan 5 jenis lamun di Perairan Pulau Panjang, yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hempricii, Cymodocea serrulata dan Cymodocea rotundata dan Halophila ovalis. Kelimpahan gastropoda di kerapatan lamun jarang, sedang, dan padat di Teluk Awur adalah 67,5 ind/m², 97 ind/m² dan 10,5 ind/m², sedangkan kelimpahan gastropoda di kerapatan lamun jarang, sedang, dan padat di Pulau Panjang adalah 96 ind/m², 97,5 ind/m² dan 336,5 ind/m². Berdasarkan hasil regeresi menunjukkan antara kelimpahan gastropoda dengan kerapatan lamun terdapat korelasi yang erat, sehingga semakin tinggi kerapatan lamun akan diikuti oleh tingginya kelimpahan gastropoda. Seagrass beds are one of the marine ecosystems located in coastal areas and have an important role in the waters. Gastropods are one of the biota associated with seagrass beds. The conditions of the seagrass beds in both locations will affect the density and abundance of biota in the waters. This study aims to determine the different levels of seagrass density and abundance of gastropods and the relationship between different seagrass density levels and the abundance of gastropods. This research was carried out in May and August 2020 in the waters of Teluk Awur and Panjang Island, Jepara. The method used in this research is a descriptive case study based on 3 different densities, namely rare, medium, and dense. The research steps taken were sampling, identification, data analysis and data evaluation. The results showed that there were 4 types of seagrass in Teluk Awur  waters and 5 types of seagrass in Panjang Island waters, namely Enhalus acoroides, Thalassia hempricii, Cymodocea serrulata and Cymodocea rotundata and Halophila ovalis. The abundance of gastropods in the rare, medium, and dense seagrass density in Awur 67,5 ind/m², 97 ind/m² dan 10,5 ind/m², while the abundance of gastropods in the rare, medium and dense seagrass density in Panjang Island was 96 ind/m², 97,5 ind/m² dan 336,5 ind/m². Based on the regression results, there is a strong correlation between gastropod abundance and seagrass density, so that the higher the seagrass density will be followed by the higher gastropod abundance. 
Perbedaan Lama Fotoperiode Terhadap Total Lipid Kultur Mikroalga Chlorella vulgaris Hendrik Surya Bahar; Ali Djunaedi; Widianingsih Widianingsih
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.32211

Abstract

Chlorella vulgaris merupakan salah satu mikroalga yang mengandung lipid, oleh karena itu mikroalga C. vulgaris dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan fungsional dalam meningkatkan kesehatan. Pertumbuhan mikroalga dipengaruhi oleh berbagai macam faktor lingkungan salah satunya adalah cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fotoperiode terbaik guna meningkatkan pertumbuhan dan kandungan total lipid pada C. vulgaris. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratoris. Mikroalga C. vulgaris dikultivasi dengan 4 perlakuan siklus fotoperiode (terang:gelap) yang berbeda yaitu A (4 : 20), B (8 : 16), C (12 : 12) dan D ( 24 : 0). Penelitian ini menggunakan pupuk walne. Suhu air pada penelitian ini berkisar antara 18-21°C. Salinitas berkisar antara 29-32 ppt, kisaran pH pada penelitian ini antara 7,3-8,0. Pertumbuhan C. vulgaris diamati selama 9 hari kemudian dipanen untuk perhitungan biomassanya. Biomassa basah hasil kultivasi dikeringkan dan dilakukan uji kadar air. Total lipid ditentukan secara gravimetrik. Biomassa disoxhletasi menggunakan n-heksan. Fraksi lipid dan n-heksan dipisahkan dengan distilator, berat ekstraknya terhitung sebagai kandungan total lipid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan fotoperiode berpengaruh secara nyata (p<0,05) terhadap kepadatan sel mikroalga dan  kandungan total lipidnya C. vulgaris. Perlakuan D memiliki hasil kepadatan tertinggi sebesar 1.131x104 sel/mL. Perlakuan C memiliki hasil kandungan total lipid tertinggi dengan total 17%. Perlakuan A memperoleh hasil terendah dengan kepadatan sebesar 638x104 (sel/mL)  dan kandungan total lipid 8,7%.Chlorella vulgaris is one of the microalgae containing lipids, therefore the microalgae C. vulgaris can be used as a source of functional food to improve health. Microalgae growth is influenced by various environmental factors, one of which is light. This study aims to determine the best photoperiod to increase growth and total lipid content of C. vulgaris. The method used is a laboratory experiment. Microalgae C. vulgaris was cultivated with 4 different photoperiod (light:dark) cycle treatments, namely A (4 : 20), B (8 : 16), C (12 : 12) and D (24 : 0). This research uses walne fertilizer. During the study, water quality measurements were carried out. The water temperature in this study ranged from 18-21°C. Salinity ranged from 29-32 ppt, the pH range in this study was between 7.3-8.0. The growth of C. vulgaris was observed for 9 days and then harvested for biomass calculation. The wet biomass from the cultivation was dried and the moisture content was tested. Total lipid was determined gravimetrically. Biomass was disoxhletated using n-hexane. The lipid fraction and n-hexane were separated by distillation, the weight of the extract was calculated as the total lipid content. The results showed that the photoperiod treatment had a significant (p<0.05) effect on the cell density of C. vulgaris microalgae and also significantly (p<0.05) on the total lipid content. Treatment D had the highest density of 1,131 x 104 cells/mL. Treatment C had the highest total lipid content with a total of 17%. Treatment A obtained the lowest yield with a density of 638 x 104 (cells/mL) and a total lipid content of 8.7%.
Kandungan Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Biologis Ekstrak Daun Rhizophora apiculata Asal Perairan Teluk Awur, Jepara Mirsa Septiana Mutik; Mada Triandala Sibero; Widianingsih Widianingsih; Subagiyo Subagiyo; Rudhi Pribadi; Dwi Haryanti; Ambariyanto Ambariyanto; Retno Murwani
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.14287

Abstract

Rhizophora apiculata is a type of mangrove that has the ability to adapt to extreme environmental conditions such as temperature, low oxygen levels, and high salinity. This adaptability affects the production of secondary metabolites. Information about the antibacterial activity of this mangrove against MDR (Multi-Drug Resistant) bacteria is still very limited. The content of secondary metabolites produced by mangrove R. apiculata is also expected to affect antioxidant activity against free radicals. The purposes of this study were to examine the presence of bioactive compounds by phytochemical tests and to evaluate the antibacterial activity against MDR bacteria such as Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Bacillus cereus, and Bacillus subtilis; and antioxidants property of R. Apiculata leaves that were collected from Teluk Awur, Jepara. The leaves were extracted using the multilevel maceration method with solvent sequence n-hexane, ethyl acetate and methanol. Metabolite finger printing using TLC method was carried out to detect the presence of alkaloids, flavonoids, saponins, phenolics, quinones, steroids, and triterpenoids. The antibacterial test was carried out using agar well diffusion method while the antioxidant test was carried out using the DPPH method. The results of the phytochemical test showed that there were groups of alkaloids and steroids in the n-hexane solvent; alkaloids, phenolics, and steroids in ethyl acetate solvent; as well as alkaloids, flavonoids, phenolics, and saponins in methanol solvents. The results of this study indicate that R. apiculata from Teluk Awur Coastal Waters, Jepara had no potential as an antibacterial against MDR (Multi-Drug Resistant) bacteria, however the methanol extract has the potential to be used as an antioxidant with an IC50 value of 85.999 ppm. The bioautography showed that compounds from the phenol group, flavonoids, triterpenoids and b-carotene pigments acted as antioxidant agents in the leaf extract of R. apiculata.   Rhizophora apiculata merupakan salah satu jenis mangrove yang memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan ekstrem seperti suhu, kadar oksigen rendah dan salinitas tinggi. Kemampuan beradaptasi tersebut mempengaruhi produksi matabolit sekunder. Informasi mengenai kemampuan aktivitas antibakteri mangrove jenis ini melawan bakteri MDR (Multi Drug Resistent) masih sangat terbatas. Kandungan metabolit sekunder yang dihasilkan mangrove R. apiculata ini juga diharapkan dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan melawan radikal bebas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kandungan senyawa bioaktif serta aktivitas biologis berupa antibakteri melawan bakteri MDR Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Bacillus cereus dan Bacillus subtilis; dan antioksidan dari ekstrak daun mangrove R. apiculata asal perairan Teluk Awur, Jepara. Sampel diekstraksi menggunakan 3 pelarut berbeda (n-heksana, etil asetat dan metanol) dengan metode maserasi bertingkat. Analisis metabolit sidik jari dilakukan menggunakan plat KLT untuk mengetahui kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, fenolik, kuinon, steroid dan triterpenoid. Uji antibakteri dilakukan menggunakan metode sumuran sedangkan uji antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH. Hasil uji fitokimia menunjukkan terdapat golongan senyawa alkaloid dan steroid pada pelarut n-heksana; alkaloid, fenolik dan steroid pada pelarut etil asetat; serta alkaloid, flavonoid, fenolik dan saponin pada pelarut metanol. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa R. apiculata asal perairan Teluk Awur, Jepara tidak potensial sebagai antibakteri melawan bakteri MDR (Multi Drug Resistent), akan tetapi ekstrak metanol potensial digunakan sebagai antioksidan dengan nilai IC50 85,999 ppm. Tahapan bioautografi menunjukkan bahwa senyawa dari golongan fenol, flavonoid, triterpenoid dan pigmen b-karoten berperan sebagai agen antioksidan pada ekstrak daun R. apiculata.
Karakteristik Mikroplastik pada Sedimen dan Air laut di Muara Sungai Wulan Demak Nando Arta Gusti Pamungkas; Retno Hartati; Sri Redjeki; Ita Riniatsih; Jusup Suprijanto; Edy Supriyo; Widianingsih Widianingsih
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.14923

Abstract

Microplastics are small plastic particles that have the characteristics of easily accumulating in seawater and sediments with a diameter of less than 5 mm. The presence of microplastics in seawater and sediments may have a chain impact on marine ecosystems and humans. The purpose of this study was to determine the characteristics of microplastics in sediment and seawater in the Wulan River Estuary, Demak. Sediment and seawater samples were taken by purposive sampling at five different stations in line with the river mouth on 20 May 2021. Visual identification and counting of microplastics using a microscope, and FTIR (Fourier transform infrared) test. The highest abundance of microplastics was found in Station 2 sediment (400 particles.Kg-1) and Station 1 seawater (99 particles.L-1) which is the end of the Wulan river flow. The diversity of microplastic characteristics in the form of fragments, fibers, pellets and films, the most abundance was fragments of particles in sediment and seawater samples. The color of the microplastic particles is predominantly black and blue, with lesser number of brown, white, red, green, yellow and purple. The microplastic particle size range was found between 1.00-259.06 m. Microplastic pollutants are nitrile, nylon and PTFE (Polytetrafluoroethylene) plastics. The results of this study reveal the sources of anthropogenic pollution in the study area which are not only caused by human activities on land but also from the movement of water in the marine environment.  Mikroplastik adalah partikel plastik kecil yang memiliki karakteristik mudah terakumulasi pada air laut laut dan sedimen dengan ukuran diameter kurang dari 5 mm. Keberadaan mikroplastik pada air laut laut dan sedimen dapat memberikan dampak berantai terhadap ekosistem perair lautan dan manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik mikroplastik pada sedimen dan air laut di Muara Sungai Wulan, Demak. Sampel sedimen dan air laut diambil dengan purpossive sampling di lima stasiun yang berbeda segaris dengan muara sungai pada tanggal 20 Mei 2021. Identifikasi dan penghitungan mikroplastik secara visual menggunakan mikroskop, dan uji FTIR (Fourier transform infrared). Kelimpahan mikroplastik tertinggi ditemukan pada sedimen Stasiun 2 (400 partikel.Kg-1) dan air laut Stasiun 1 (99 partikel.L-1) yang merupakan akhir dari aliran sungai Wulan. Keragaman karakteristik mikroplastik yang berupa fragment, fiber, pellet dan film, partikel fragmen terbanyak di sample sedimen dan air laut. Warna partikel mikroplastik didominasi hitam dan biru, dengan warna coklat, putih, merah, hijau, kuning dan ungu yang lebih sedikit.  Rentang ukuran partikel mikroplastik yang ditemukan antara 1,00-259,06 µm. Polutan mikroplastik berjenis plastik nitrile, nylon dan PTFE (Polytetrafluoroethylene). Hasil penelitian ini mengungkapkan sumber polusi antropogenik di daerah penelitian yang tidak hanya disebabkan oleh aktivitas manusia di darat tetapi juga dari pergerakan air di lingkungan laut.
Flokulasi Mikroalga Nannochloropsis oculata Menggunakan Kitosan dan pengoptimalan pH Emia Sayniri Sembiring; Widianingsih Widianingsih; Endang Supriyantini
Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i4.36241

Abstract

N. oculata merupakan salah satu jenis mikroalga yang memiliki kandungan nutisi yang tinggi seperti karbohidrat, protein, lipid, dan asam amino, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel, sebagai suplemen pakan ternak, dll. N. oculata memiliki ukuran sel yang sangat kecil yakni berkisar 2-8 µm dan sulit mengendap. Faktor tersebut membuat N. oculata menjadi sulit untuk dipanen. Salah satu cara yang efisien untuk pemanenan mikroalga tersebut adalah metode flokulasi dan pengoptimalan pH. Bahan flokulan yang digunakan adalah kitosan. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efektivitas konsentrasi kitosan untuk flokulasi N. oculata. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium, dan rancangan yang digunakan adalah rancangan faktorial dua faktor (Kitosan dan pH). Tahapan pelaksanaan penelitian dimulai dari kultur N. oculata pada wadah toples kaca selama 6 hari, diikuti dengan flokulasi, dan pengumpulan data, dan analisis data. Penelitian menggunakan dua perlakuan, yakni kitosan dan optimalisasi pH. Perlakuan dikelompokkan menjadi tiga konsentrasi diantaranya adalah 15, 20, dan 25 ppm masing-masing 3 kali pengulangan, sedangkan pH akhir yang digunakan adalah 10. Ketika flokulasi berlangsung sampel diambil pada menit ke 0, 20, dan 40 untuk mengukur efisiensi flokulasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa flokulasi N. oculata menggunakan kitosan dan optimalisasi pH merupakan metode yang efektif dan mudah diterapkan, dimana hasil efisiensi flokulasi yang diperoleh telah mendekati 100% yang berarti flokulasi berhasil dilakukan. Rata-rata nilai efisiensi flokulasi sampel konsentrasi kitosan 15 ppm adalah 85,27%, konsentrasi kitosan 20 ppm adalah 99,17%, dan konsentrasi kitosan 25 ppm adalah 99,99%.   N. oculata is one type of microalgae that has high nutrients, involved carbohydrates, protein, lipids and amino acids, so it is widely used as raw material for biodiesel, as a supplement to animal feed, etc. N. oculata has a very small cell size ranging from 2-8 µm and is difficult to settle. These factors make it difficult for N. oculata to be harvested. One of the efficient ways to harvest microalgae is the method of flocculation and pH optimization. The flocculant material used is chitosan. Thus, this study aims to study the effectiveness of chitosan concentration for N. oculata flocculation. The method used was a laboratory experiment, with a two-factor factorial design as the research design. The stages of the research began with the culture of N. oculata in a glass jar for 6 days, followed by flocculation, data collection, and data analysis. This study used two treatments, namely chitosan and pH optimization. The treatments were grouped into three concentrations including 15, 20, 25 ppm and  each with 3 repetitions, while the final pH used was 10. During the flocculation process, samples were taken at 0, 20, and 40 minutes to measure the flocculation efficiency. The results showed that N. oculata flocculation using chitosan and pH optimization were effective and easy to apply methods, where the flocculation efficiency results obtained were close to 100%, which means that the flocculation was successful. The average value of the flocculation efficiency of the 15 ppm chitosan was 85.27%, the 20 ppm chitosan was 99.17%, and the 25 ppm chitosan was 99.99%. 
Analisa Air Tambak Desa Kaliwlingi sebagai Bahan Baku Produksi Garam Konsumsi Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih; Broto Wisnu RTD; Meitri Bella Puspa; Edy Supriyo
Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i4.35353

Abstract

Desa Kaliwlingi Kabupaten Brebes merupakan  daerah  yang  berperan penting  sebagai  produsen garam rebus, yaitu garam yang diproduksi dengan cara merebus air laut dan garam konsumsi di Jawa Tengah. Namun informasi mengenai kandungan bahan organik dan indeks pencemaran kaitannya dengan baku mutu air laut di tambak sebagai bahan baku garam rebus di lokasi tersebut masih terbatas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan padatan terlarut, kadar salinitas, pH, dan suhu  di  beberapa tambak Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes yang digunakan sebagai bahan baku garam konsumsi dan  membandingkannya dengan baku mutu bahan baku air laut garam. Metode deskriptif diterapkan dalam penelitian ini dengan materi berupa sampel air  tambak  di  Desa Kaliwlingi yang diukur in situ pada  kedalaman  1  meter sebagai sumber data total padatan terlarut (TDS), suhu, salinitas dan pH.  Data kemuddian dianalisis   secara kualitatif  dengan indeks   pencemaran   dengan   metode   STORET   yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Hasil penelitian mendapatkan kandungan TDS air bahan baku garam sebesar 1109-1692  mg/L, pH 7.6-8.7, kadar salinitas 16,9-19 Be pada rentang suhu 29.7-33.  Kondisi  tambak Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes tergolong  perairan yang tercemar sedang dikarenakan hampir seluruh parameter yang diujikan melewati batas baku mutu air laut untuk pembuatan garam konsumsi dan melewati indeks STORET dengan skor perairan -12.  Untuk itu perlu dilakukan perlakuan untuk meningkatkan mutu air laut bahan baku garam konsumsi antara lain dengan membuat kolam sedimentasi dan kolam tandon untuk mendapatkan bahan baku yang lebih baikKaliwlingi Village, Brebes Regency is an area that plays an important role as a producer of boiled and table salt in Central Java Province. However, information regarding the content of organic matter and the pollution index in relation to the quality standards of sea water in ponds as raw material for table salt is still limited. The purpose of this study was to determine the content of dissolved solids, salinity levels, pH, and temperature in several ponds of Kaliwlingi Village, Brebes Regency which were used as raw material for salt production and to compare them with the quality standard of raw salt seawater. The descriptive method was applied in this study with the material of samples of pond water in Kaliwlingi Village which were measured in situ at a depth of 1 meter as a data source for total dissolved solids (TDS), pH, temperature, and salinity. The data was then analyzed qualitatively using a pollution index of STORET method through the Decree of the State Minister of the Environment number 115 of 2003 and the Decree of the Minister of the Environment No. 51 of 2004 concerning guidelines for determining the status of sea water quality for consumption salt raw materials..The results showed that the TDS content of raw material salt water was 1109-1692 mg.L-1, pH 7,6-8,7, salinity levels 16,9-19 ppt and the temperature range of 29,7-3,3oC. The condition of ponds in Kaliwlingi Village, Brebes Regency is classified as moderately polluted waters because almost all of the parameters tested passed the sea water quality standard for the manufacture of consumption salt and passed the STORET index with a water score of -12. For this reason, it is necessary to carry out treatment to improve the quality of seawater, among others, by setting up sedimentation and reservoir ponds to obtain better sea water as as raw materials for table salt production.  
Pengaruh Salinitas Terhadap Kandungan Lutein Spirulina platensis Donna Nur&#039;Aurelya Mahardhika; Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih
Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.34176

Abstract

Spirulina platensis merupakan mikroalga yang mengandung protein tinggi. Mikroalga ini tidak hanya bertindak sebagai sumber protein sel tunggal, tetapi juga memberikan beberapa manfaat lainnya antara lain sumber karotenoid, klorofil, serta sumber mikronutrien. Salah satu kandungan karotenoid yaitu lutein. Lutein memiliki manfaat sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas pada mata. Pertumbuhan mikroalga dipengaruhi oleh beberapa macam faktor lingkungan, salah satunya yaitu salinitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap kandungan lutein pada S. platensis. Metode yang digunakan ialah eksperimen laboratoris. Mikroalga S. platensis dikultivasi dengan tiga perlakuan salinitas yang berbeda yaitu 15, 23, dan 27ppt. Pertumbuhan sel S. platensis diamati selama 5 hari kemudian dipanen untuk perhitungan biomassanya. Biomassa basah hasil kultivasi diekstraksi menggunakan pelarut aseton. Ekstrak aseton S. platensis kemudian dianalisis kandungan luteinnya secara spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan salinitas berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan lutein S. platensis. Kandungan pigmen lutein S. platensis yang tertinggi terdapat pada salinitas 23 ppt sebesar 0.0113 µg/g.  Spirulina platensis is a microalga that contains high protein. This microalga is not only acts as a single cell protein source, but also provides several other benefits, including a source of carotenoids, chlorophyll, and a source of micronutrients. One of the carotenoids contents is lutein. Lutein has benefits as an antioxidant to fight free radicals in the eyes. Microalgae growth is influenced by several kinds of environmental factors, one of which is salinity. This study aims to determine the effect of salinity on lutein content in S. platensis. The method used is a laboratory experiment. Microalgae S. platensis was cultivated with three different salinity treatments, namely 15, 23, and 27ppt. The growth of S. platensis cells was observed for 5 days and then harvested for biomass calculation. Wet biomass from cultivation was extracted using acetone as a solvent. The acetone extract of S. platensis was then analyzed for its lutein content spectrophotometrically. The results showed that different salinity didn’t have a significant effect on the S. platensis. The lutein content of S. platensis is highest at 23 ppt (0.0113 µg/g).
Simpanan Karbon Lamun di Pulau Sintok dan Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa Rico Adi Setyanto; Widianingsih Widianingsih; Wilis Ari Setyati
Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.33980

Abstract

Blue carbon merupakan salah satu upaya penurunan efek pemanasan global melalui peran ekosistem penyerap karbon di pesisir. Kehadiran ekosistem lamun menjadi ekosistem penting pesisis dan penyerap karbon masif. Penelitian ini berutujuan untuk mengetahui kondisi lamun dan kandungan karbon pada vegetasi lamun di Pulau Sintok dan Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa. Pengamatan ekosistem lamun menggunakan metode LIPI dengan transek kuadran 50x50cm. Sampling jaringan lamun dilakukan acak pada tiap lokasi dengan alat seagrasscore. Perhitungan kandngan karbon pada tiap jaringan lamun menggunakan metode pengabuan. Jenis lamun yang ditemukan pada Pulau Sintok terdapat 4 spesies sedangkan pada Pulau Menjangan Besar sebanyak 6 spesies. Pulau Sintok memiliki persen cover kategori sedang dan Pulau Menjangan Besar memiliki persen cover kategori padat. Nilai simpanan karbon pada Pulau Sintok berkisar antara 2,59–61,07 gC/m2 sedangkan pada Pulau Menjangan Besar berkisar antara 5,97–404,57 gC/m2. Nilai simpanan karbon terbesar pada Pulau Sintok dipegan spesies Thalassia hemprichii dan pada Pulau Menjangan Besar dipegang oleh spesies Enhalus acoroides. Kondisi ekosistem yang baik meningkatkan kemampuan ekosistem lamun dalam menyerap karbon dan dapat menjadi mitigasi pemanasan global.  Blue Carbon is one of the concepts to reduce the effects of global warming through the role of carbon-absorbing ecosystems on the coast. The presence of seagrass ecosystems is an important coastal ecosystem and a massive carbon sink. This study aims to determine the condition of seagrass and the carbon content of seagrass vegetation on Sintok Island and Menjangan Besar Island, Karimunjawa. Observation of seagrass ecosystem using LIPI method with 50x50cm quadrant transect. Seagrass tissue sampling was carried out randomly at each location using a seagrasscore tool. Calculation of carbon content in each seagrass tissue using Loss on Ignition (LOI method). There are 4 species of seagrass found on Sintok Island, while on Menjangan Besar Island there are 6 species. Sintok Island has a medium percent cover category and Menjangan Besar Island has a high percent cover category. The value of carbon storage on Sintok Island ranged from 2.59 – 61.07 gC/m2 while on Menjangan Besar Island it ranged from 5.97 – 404.57 gC/m2. In the Sintok Island, the largest value of carbon storage was Thalassia hemprichii and in the Menjangan Besar Island was held by Enhalus acoroides species. Good ecosystem conditions increase the ability of seagrass ecosystems to absorb carbon and mitigate global warming.
Co-Authors Abdul Hadi Abdullah Afif Abidin Nur II Achmad Muhajir Adi Santoso Agus Indarjo Agus Subagio Agus Trianto Aini, Salsabila Quratu Aldhian Triatmojo Aldi Rivaldy Maulana Ali Djunaedi Ali Djunaedi Altysia Putriany Ambariyanto Ambariyanto Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Annisa Fadillah Antonius Budi Susanto Anuwat Nateewathana Apriliani, Seka Indah Ari B Abdulah Aris Ismanto Arumning T. Fauziah Azhari Nourma Dewi Bagus Enggal Prakoso Broto Wisnu RTD Broto, R. T.D Wisnu Cantika Elistyowati Andanar Chamidy, Ardian Nurrasyid Chrisna Adhi Suryono Christin Manulang Cristiana Manullang Cristiana Manullang Cristiana Manullang Dedi Nugroho Deki Lukman Wicaksono Delianis Pringgenies Denny Nugroho Sugianto Donna Nur&#039;Aurelya Mahardhika Dwi Haryanti Eddy Yusuf, Eddy Edy Supriyo Edy Supriyo Edy Supriyo ELza Lusia Agus Emia Sayniri Sembiring Endah Sari Endang Supriyantini Ervia Yudiati Farmasita B, Rizky Farmasita Budiastuti, Rizky Fathorrahman Fauzan, Rianda Febriana Banun Fitrianti Fitri Kurniawati Fitri Kurniawati Fitriyan, Jodhi Kusumayudha Frijona Fabiola Lokollo Ginzel, Fanny Iriany H. Endrawati Hadi Endrawati Hayati, Amaliya Tsiqotul Hendrik Surya Bahar Hermawan Hermawan Hermawan Hermawan Hermin Pancasakti Kusumaningrum Hilal M Ibnu Pratikto Imam Misbach Imam Mishbach Indras Marhaendrajaya Irma Kusumadewi Irwani Irwani Ita Riniatsih Ita Widowati Jelita Rahma Hidayati Johannes Hutabarat Jusup Suprijanto Ken Suwartimah Kurnia, Andine Rizki La Nina Gunaswara Samudera Mada Triandala Sibero Mahfud Mahfud Meitri Bella Puspa Melinda Sri Asih Mirsa Septiana Mutik Mostafa Imhmed Ighwerb Muchammad Miftahul Ulum Muchammad Miftahul Ulum Muhammad Helmi Muhammad Iskandar Zulkarnain Muhammad Yusuf Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Munana, Nila Munasik Munasik Munnaffaroh, Mufasihatul Mu’alimah Hudatwi Nando Arta Gusti Pamungkas Nila Munana Njurumana, Steven Nggiku Nopratilova Nopratilova Nur Taufiq Nur Taufiq-Spj Nurhabibah, Prabawati Ony Ilham Pradiksa Pradina Purwati Prakoso, Bagus Enggal Pratiwi, Wukir Berliana Primaswatantri Permata Puji Norbawa Putri Sakinah Mayani, Putri Sakinah Putri, Ni Putu Purba Nava Vidyadhari Raden Ario Rafsanjani A. Karim Rafsanjani A. Karim Ranny Ramadhani Yuneni Retno Hartati Retno Kusumastuti Retno Murwani Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Rico Adi Setyanto Robertus Triaji Mahendrajaya Robertus Triaji Mahendrajaya Robertus Triaji Mahendrajaya Robertus Triaji Mahendrajaya Robin Robin Rudhi Pribadi Sabila, Ahda Samudera, La Nina Gunaswara Saputra Giri Wicaksono Saputra Giri Wicaksono Saputri, Noviyani Sari Budi Moria Septiyani, Fenny Seto Haryoardyantoro Siagian, Cristiani Sri Redjeki Sri Turni Hartati Sri Turni Hartati Sri Yulina Wulandari Subagiyo Subagiyo Sugiyanto, Nenden Rose Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Surbakti, Fitriani Suryono Suryono Sutrisno Anggoro Theresia Claudia Lasmarito Theresia Pradiani Triatmojo, Aldhian Ulfah Nurjanah, Ulfah Valentina R Iriani Valentina R. Iriani W.L. Saputra Wahyu Adi Wahyu Dewi Utari Haryanti Wilis Ari Setyati Wisnu Dewanto Wita Kristianty Sirait Wukir Berliana Pratiwi Yulia Ulfah Yulia Ulfah Yuvita Muliastuti