Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

ORGANISASI POETRA SOERABAJA “POESOERA”: SEJARAH ORGANISASI DAN PERJUANGANNYA Dewi Sartika, Lianda
Avatara Vol 6, No 1 (2018): Vol 6 Nomer 1 (Maret 2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organisasi Poesoera di resmikan oleh kesembilan tokoh penggagas Poesoera, yaitu K.H Mas Mansur, H. Nawawi Amin, H. Hoesein, H. Manan Edris, Koesnan Efendi, dr. Soetomo, , dr. Yahya, dr. Soewandi, dan dr. Samsi pada 26 September 1936. Dalam kurun waktu sebelum kemerdekaan Indonesia, yaitu tahun 1936 (semenjak Organisasi Poesoera berdiri) hingga tahun 1945, Organisasi Poesoera kokoh berdiri dan telah melalui masa-masa kolonialisme serta pendudukan bangsa asing, yaitu kolonialisme Belanda (1936-1942) dan pendudukan Jepang (1942-1945). Lebih lanjut lagi, setelah Indonesia berhasil meraih kemerdekaan, Organisasi Poesoera masih bertahan dan mempunyai eksistensi di Kota Surabaya. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini, antara lain (1) mengenai sejarah berdirinya Organisasi Poetra Soerabaja “Poesoera” di Surabaya; dan (2) perjuangan Organisasi Poetra Soerabaja “Poesoera” pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan tahun 1936-1957. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui sejarah berdirinya Organisasi Poetra Soerabaja “Poesoera” dan mengetahui perjuangan Organisasi Poetra Soerabaja Poesoera” tahun 1936-1957. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian adalah menggunakan metode penulisan sejarah, yaitu pertama heuristik, merupakan tahapan untuk mengumpulkan sumber; kedua kritik, yaitu menggunakan kritik interen dengan melakukan kritik terhadap isi sumber; ketiga intepretasi, yaitu melakukan perangkaian terhadap fakta yang ada berdasarkan intepretasi dalam memahami data sejarah yang telah melalui proses kritik sebelumnya; keempat historiografi, setelah melalui tahap-tahap sebelumnya, pada tahap ini peneliti melakukan penulisan terhadap sejarah. Penelitian mengenai sejarah berdirinya Organisasi Poesoera, bahwa Organisasi Poesoera ini didirikan oleh para tokoh elit politik, cendekiawan, dan ulama di Surabaya. Bersatunya kesembilan tokoh penggagas Poesoera tersebut  telah melalui proses yang panjang dan keterkaitan antar tokoh yang kompleks. Berbekal visi, misi, dan tujuan yang sama diantara tokoh-tokoh berpengaruh diatas, akhirnya disepakatilah bahwa organisasi ini akan diberikan nama Poetra Soerabaja atau yang disingkat dengan nama Poesoera. Poesoera tumbuh dan berkembang menjadi organisasi sosial kemasyarakatan. Sebagai organisasi sosial kemasyarakatan, maka terdapat berbagai macam program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh Organisasi Poesoera yang mencakup pada berbagai bidang, diantaranya bidang agama, sosial, ekonomi, pendidikan, politik dan pemerintahan, serta budaya dan olahraga. Pada masa kolonialisme Belanda perjuangan Poesoera adalah  menumbuhkan jiwa kebangsaan dan nasionalisme, serta mensejahterakan masyarakat Kota Surabaya. Kemudian pada masa pendudukan Jepang, Poesoera seakan vakum dari segala aktivitasnya karena kebijakan Dai Nippon (Pemerintah Militer Jepang) yang sangat ketat dan disusul para penggagas Poesoera yang sibuk berjuang dengan kepentingannya masing-masing. Pasca kemerdekaan, Poesoera diaktifkan kembali oleh Doel Arnowo yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Poesoera sekaligus walikota Surabaya pada tahun 1950. Setelah kembali aktif, Poesoera tetap melanjutkan tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat kota Surabaya. Kata Kunci : Organisasi Kemasyarakatan, Organisasi Poetra Soerabaja, Perjuangan.  
TRANSFORMASI KEARIFAN LOKAL PELA GANDONG DARI RESOLUSI KONFLIK HINGGA PENDIDIKAN PERDAMAIAN DI MALUKU Anju Nofarof Hasudungan; Sariyatun Sariyatun; Hermanu Joebagio; Lianda Dewi Sartika
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol 5 No 1 (2020): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v5i1.784

Abstract

Abstrack Pela gandong local wisdom has succeeded in becoming a media for conflict resolution that is unique and different from the conflict resolution of international institutions. So that the reconciliation of the Ambon conflict can be achieved through the Malino II Agreement on 12 February 2002. However, Ambon's condition is still volatile and there is segregation. The condition of peace vulnerabilities is caused by fullfiling the peace gaps. Therefore, the peace gap must be addressed immediately with peace education. The purpose of this paper are, (1) Describe how the transformation of pela gandong from conflict resolution into peace education (2) And to find out what impact the transformation will have on peace in Ambon City, Maluku Province today. This paper uses descriptive qualitative research methods with case studies. The research sites were at SMPN 4 Salahutu Liang Central Maluku and SMPN 9 Ambon City in January 2018 and continued in November 2019. Data collection through literature study, interview, and participatory observation methods. The results of the study revealed that pela gandong succeeded in the second time transforming from conflict resolution to peace education. So, being able to fill the peace gap and overcome segregation among students of different Islamic and Christian religions, at the same time has bequeathed the value of peace to the Ambonese younger generation of Maluku. Keywords: Transformation, Local Wisdom, Pela Gandong, Conflict Resolution, Peace Education Abstrak Kearifan lokal pela gandong telah berhasil menjadi media resolusi konflik yang khas dan berbeda dari resolusi konflik lembaga internasional. Sehingga rekonsiliasi konflik Ambon dapat tercapai melalui Perjanjian Malino II pada 12 Februari 2002. Akan tetapi, kondisi Ambon masih tetap bergejolak dan terdapatnya segregasi. Kondisi perdamaian yang masih rentan itu (peace vulnerabilities) disebabkan oleh masih adanya kesenjangan perdamaian (fullfiling the peace gaps). Oleh karena itu, kesenjangan perdamaian harus segera diatasi dengan pendidikan perdamaian (peace education). Tujuan dari penulisan ini yakni, (1) Mendeskripsikan bagaimana transformasi pela gandong dari resolusi konflik menjadi pendidikan perdamaian (2) Dan untuk mengetahui apa dampak yang dihasilkan dari transformasi tersebut bagi perdamaian di Kota Ambon Maluku saat ini. Tulisan ini mengunakan metodelogi penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian di SMPN 4 Salahutu Liang Maluku Tengah dan SMPN 9 Kota Ambon pada Januari 2018 dan dilanjutkan pada November 2019. Pengumpulan data melalui metode studi kepustakaan, wawancara, dan observasi-partisipatoris. Hasil penelitian mengungkapkan pela gandong berhasil untuk ke dua kalinya bertransformasi dari resolusi konflik menjadi pendidikan perdamaian. Sehingga, mampu mengisi kesenjangan perdamaian dan mengatasi segregasi dikalangan siswa yang berbeda agama Islam dan Kristen, disaat bersamaan telah mewariskan nilai perdamaian kepada generasi muda Ambon Maluku. Kata Kunci: Transformasi, Kearifan Lokal, Pela Gandong, Resolusi Konflik, Pendidikan Perdamaian
THE IMPLEMENTATION OF DEEP DIALOGUE LEARNING MODEL BASED ON THE STRUGGLE OF ANAK AGUNG GDE ANOM MUDITA TO INCREASE CRITICAL THINKING AND HISTORY LEARNING OUTCOME A. A Gek Indah Ani; Ruli Anto; Ida Bagus Brata; Lianda Dewi Sartika
International Journal of Applied Science and Sustainable Development (IJASSD) Vol. 4 No. 1 (2022): International Journal of Applied Science and Sustainable Development (IJASSD)
Publisher : Unmas Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.095 KB)

Abstract

The aims of this study are to 1) find out the benefits of the deep dialogue learning model in improving students' critical thinking skills 2) find out the benefits of the deep dialogue learning model in improving student learning outcomes 3) find out the benefits of the deep dialogue learning model based on local historical actor Anak Agung Gde Anom Mudita in improving critical thinking ability and the learning outcomes. The research subjects were students of class X IPS 1 SMA Negeri 6 Denpasar totaling 36 students. The object of this research is the students' historical learning outcomes and critical thinking skills. Data collection techniques are conducted by tests and non-tests. The research instrument used in this research is a questionnaire, observation, interviews and test questions. The results showed: that the first cycle of learning outcomes was 61.7 and the second cycle increased to 75.55. The achievement of KKM has increased from the initial condition of 58.33% to 80.55%. The improvement of critical thinking ability resulted from the questionnaire score increased from the initial condition of 1714 to 2830 in the final condition. The conclusion of this study is that the deep dialogue learning model based on local historical actor Anak Agung Gde Anom Mudita can improve learning outcomes and critical thinking abilities of students in class X IPS 1 SMA Negeri 6 Denpasar.
STRENGTHENING TEACHERS' UNDERSTANDING OF THE INDEPENDENT LEARNING CURRICULUM Ida Bagus Nyoman Mantra; Lianda Dewi Sartika; Rulianto Rulianto; I Nengah Astawa; I Nyoman Suwandi
Jurnal Inovasi Penelitian Vol 3 No 7: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/jip.v3i7.2229

Abstract

The Covid-19 pandemic period was a special condition that caused different learning drawbacks and learning losses in the achievement of student competencies. In addition to learning losses, many national and international studies state that Indonesia has also experienced a learning crisis for a long time. Therefore, it is necessary to change the curriculum so that educational institutions are able to improve the quality of education. This research was conducted to improve the understanding of teachers as participants in the independent learning curriculum training. This study found that teachers’ understanding increased significantly after being given training on the independent learning curriculum. The results of this study imply that intensive training is needed on the concept of implementing the independent learning curriculum so that teachers can carry out more effective learning.
PERKEMBANGAN DAN EKSISTENSI ORGANISASI PUSURA DI KOTA SURABAYA Lianda Dewi Sartika
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 1 No. 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Jambi University, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.95 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan organisasi Pusura sebagai organisasi sosial kemasyarakatan tertua di kota Surabaya yang masih aktif berkiprah hingga saat ini. Dalam tulisan ini juga menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi Pusura dalam berbagai bidang. Adapun metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian historis yang terdiri dari heuritik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa organisasi Pusura masih terus mengemban mandat dari para pendirinya terdahulu untuk memberikan sumbangsih bagi masyarakat kota Surabaya, khususnya dalam bidang sosial. Berbagai organisasi baru yang berdiri di bawah naungan Pusura sebagai anak organisasi memiliki andil tersendiri yang dalam setiap kegiatannya memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat kota Surabaya. Kata kunci: perkembangan, eksistensi, organisasi Pusura
Museum: Media of Non-Formal Education in Intruding Character Values Strengthening the National Self Ida Bagus Brata; Ida Bagus Rai; Lianda Dewi Sartika; Ida Bagus Nyoman Wartha
Mimbar Ilmu Vol. 27 No. 3 (2022): Desember
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mi.v27i3.54321

Abstract

Museums are scientific information service providers based on data and facts presented through collections as part of a scientific study. This study aims to analyses museum as a medium of non-formal education in instilling character to strengthen national identity. The study in this paper is classified as a descriptive-exploratory type of study. This study uses a literature review approach and data study through the internet network, combined with field studies by visiting the Bali Museum as a research locus where cultural heritage is stored. Data analyses divided into three stages, namely: data reduction, data presentation, concluding/verification. The study results show that museums are perceived as non-profit institutions that prioritize social goals, such as education. Museums as a place for cultural studies while having recreation can foster thinking skills in children. The eyes are the windows to the soul that can stimulate active, creative, critical, and innovative thinking, thus giving rise to intelligence in understanding the character values ​​that lie behind a collection of cultural heritage to strengthen national identity. The Bali Museum is the pride of the Balinese people having a fundamental role in instilling character values ​​in maintaining national identity and identity.
Model Pembelajaran IPS Terintegrasi Nilai-Nilai Catur Guru sebagai Civic Intelligence di Bali Lianda Dewi Sartika; Hermanu Joebagio; Susanto Susanto
Yupa: Historical Studies Journal Vol 4 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.747 KB) | DOI: 10.30872/yupa.v4i1.172

Abstract

Materi lokal yang relevan dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sangat mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran dan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, Pemerintah Republik Indonesia telah mengatur dengan membuat regulasi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2013 mengenai potensi muatan lokal dalam pembelajaran. SMP PGRI 1 Denpasar Provinsi Bali telah menindaklanjuti dengan mengembangkan pembelajaran IPS terintegrasi nilai-nilai Catur Guru sebagai kecerdasan warganegara. Penelitian ini dilakukan pada Desember 2019 hingga Februari 2020 dengan mengunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan adanya daya dukung dan intersection nilai-nilai Catur Guru, IPS, pendidikan nasional serta juga Civic Intelligence menjadi kunci keberhasilan model pembelajaran IPS terintegrasi nilai-nilai Catur Guru. Hal ini dikarenakan nilai-nilai Catur Guru sangat relevan dan dekat dengan lingkungan peserta didik. Dukungan dari pemerintah, satuan pendidikan serta daya inovatif-kreativitas guru IPS memegang peranan penting untuk mencapai ini semua
INTEGRASI NILAI GURU WISESA DALAM AJARAN CATUR GURU PADA MATA KULIAH KEWARGANEGARAAN SEBAGAI PENGUAT JATI DIRI BANGSA Lianda Dewi Sartika; I Ketut Laba Sumarjiana; Rulianto; Sri Datuti
Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP) Vol. 13 No. 1 (2023): Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jsp.v13i1.6050

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperkuat jati diri bangsa pada diri mahasiswa melalui integrasi nilai Guru Wisesa yang ada dalam ajaran Catur Guru pada mata kuliah Kewarganegaraan. Metodologi peneitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Memperkuat jati diri bangsa sangatlah penting untuk ditanamkan dalam diri mahasiswa sebagai kaum intelektual muda yang akan menjadi tonggak estafet pembangunan bangsa Indonesia di masa depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata terdapat relevansi antara nilai Guru Wisesa dalam ajaran Catur Guru dengan mata kuliah Kewarganegaraan sebagai penguat jati diri bangsa. Selanjutnya, integrasi nilai kearifan lokal, khususnya nilai Guru Wisesa ke dalam pembelajaran Kewarganegaraan terbukti efektif dalam memperkuat karakter jati diri bangsa pada diri mahasiswa. Nilai Guru Wisesa yang dipegang teguh oleh masyarakat Bali apabila ditarik dalam konteks berbangsa dan bernegara terbukti dapat dimanfaatkan untuk menguatkan jati diri bangsa. Oleh sebab itu antara mata kuliah Kewarganegaraan dan nilai Guru Wisesa memiliki tujuan yang sama, yaitu dapat dipergunakan untuk memperkuat jati diri bangsa.
Integrasi Nilai-Nilai Dharma Gita sebagai Strategi Menciptakan Harmoni Sosial dalam Pembelajaran Sejarah *I Putu Adi Saputra; Lianda Dewi Sartika; Ida Bagus Nyoman Wartha
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 7, No 1 (2022): Februari, Ilmu Sejarah dan Media Pembelajaran
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimps.v7i1.19868

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam tentang nilai-nilai dalam dharma gita yang dapat digunakan sebagai strategi untuk menciptakan harmoni sosial di kalangan pelajar, khususnya siswa SMA. Keberagaman ras, suku, etnis,  agama, dan kebudayaan menjadikan Indonesia memiliki ciri khas yang membedakannya dengan bangsa lain. Local genius atau yang sebagian besar oleh para ahli disebut juga dengan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia pada setiap daerah merupakan akar dari sejarah nasional. Masyarakat Bali memiliki dharma gita sebagai salah satu kearifan lokalnya. Dharma gita adalah seni sastra masyarakat Bali dalam menyampaikan cerita dengan menyanyikannya melalui olah vokal (kidung atau kekawin) yang berisi berbagai nilai kehidupan melalui tokoh-tokoh dan dialog-dialognya. Dharma gita dalam perkembangannya di masyarakat Bali dikenal dengan nama mebebasan. Dharma gita melalui tradisi mebebasan menawarkan upaya menciptakan harmoni sosial untuk para generasi penerus bangsa. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan. Adapun pengumpulan data diperoleh dari referensi dan literatur terkait yang relevan dengan pokok bahasan yang dikaji. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa menciptakan harmoni sosial merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Bali, melihat corak masyarakatnya yang beragam. Begitupun prakteknya dalam interaksi para siswa di sekolah, guru harus menjadikan pembelajaran sejarah sebagai resolusi dalam meminimalisir konflik yang disebabkan oleh keberagaman. Jadi dapat disimpulkan bahwa integrasi nilai-nilai dharma gita dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran sejarah mampu menciptakan harmoni sosial dalam setiap interaksi siswa di SMA.
ANALISIS PERANAN SUNAN GIRI DALAM PROSES ISLAMISASI DI JAWA BERDASARKAN FUNGSI AGIL I Putu Adi Saputra; Lianda Dewi Sartika
Langgong: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 1 No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/langgong.v1i1.674

Abstract

Setelah keruntuhan Majapahit pada abad XV, agama Islam kemudian berkembang sangat pesat seiring dengan meluasnya pengaruh kerajaan Demak yang berbasis Islam di pulau Jawa. Proses Islamisasi di pulau Jawa dilakukan oleh para wali yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Salah satu dari Wali Songo itu adalah Sunan Giri yang memegang peranan penting dalam proses Islamisasi tersebut. Indonesia, khususnya pulau Jawa yang sebelumnya kental akan budaya dan agama Hindu-Buddha kemudian dapat beralih menjadi penganut Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses Islamisasi yang dilakukan oleh Sunan Giri di pulau Jawa berdasarkan fungsi AGIL dalam teori fungsionalisme struktural Talcott Parson. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah kualitatif deskriptif melalui studi kepustakaan.