Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Tinjauan Aspek Afektif dalam Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia Nurlatifa; Lianda Dewi Sartika
SOCIAL PEDAGOGY: Journal of Social Science Education Vol. 6 No. 2 (2025): Social Pedagogy: Journal of Social Science Education
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/social-pedagogy.v6i2.11521

Abstract

Pendidikan kewarganegraan bertujuan untuk menciptakan warga negara yang berperan aktif dalam berbagai aspek kehidupan sosial bermasayarakat sehingga salah satu kompetensi yang harus dicapai yaitu aspek afektif (sikap). Penelitian ini penting untuk dilakukan agar pendidik mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tidak hanya berfokus pada pengajaran dan evaluasi aspek kognitif dan psikomotorik saja tetapi juga merancang pembelajaran dan evaluasi aspek afektif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data studi pustaka. Data kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif dengan tahapan pengumpulan data, reduksi, penyajian, dan penarikan Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa sejauh ini perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian dalam pendidikan kewarganegaraan di Indonesia hanya berfokus pada ranah kognitif dan seringkali ranah penilaian aspek afektif terabaikan. Pendidik dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran dalam pendidikan kewarganegaraan berdasarkan taksonomi domain afektif sehingga aspek sikap dalam pendidikan kewarganegaraan dapat tercapai. Taksonomi domain afektif terdiri dari menerima, menanggapi, menghargai, pengorganisian, dan karakterisasi berdasarkan nilai atau kumpulan nilai.
Membangun Karakter Profil Pelajar Pancasila Berbasis Kearifan Lokal dengan Perspektif Kebudayaan Bali Brata, Ida Bagus; Sartika, Lianda Dewi; Saputra, I Putu Adi
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 3 (2024): JUPIN Agustus 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.338

Abstract

Proses pembelajaran sepanjang hayat merupakan salah satu upaya mengembangkan potensi peserta didik berbasis nilai kearifan lokal Bali sangat mendukung terwujudnya profil pelajar Pancasila. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menganalisis nilai kearifan lokal perspektif kebudayaan Bali dalam membangun profil pelajar Pancasila sebagai bagian dari kurikulum merdeka belajar untuk mengarahkan peserta didik agar menghargai dan mencintai budayanya sendiri. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur (literature review). Pendekatan studi literatur dilakukan dengan cara membaca, mencatat, dan menelaah bahan penelitian melalui berbagai sumber yang terkait dengan tujuan dan masalah penelitian melalui data pendukung yang bersumber dari buku, hasil lokakarya, prosiding, jurnal penelitian baik nasional maupun internasional dan sumber-sumber lainnya seperti internet. Hasil kajian menemukan bahwa nilai kearifan lokal perspektif kebudayaan Bali dapat dijadikan salah satu strategi untuk menciptakan paradigma baru dalam mewujudkan kompetensi global menuju profil karakter siswa Pancasila. Kearifan lokal merupakan salah satu aspek budaya yang dimiliki daerah-daerah termasuk Bali sangat banyak dan beraneka bentuknya, secara selektif dapat diangkat menjadi aset nasional dan dapat direvitalisasi sehingga dapat difungsikan sebagai wahana untuk membangun profil pelajar Pancasila.
Makna Ngelebur dalam Upacara Ngaben pada Masyarakat Bali Aga di Desa Penglipuran, Bangli Yanti, Kadek Suma; Yanti, Ni Wayan Oka; Saputra, I Putu Adi; Anto, Ruli; Sumarjiana, I Ketut Laba; Sartika, Lianda Dewi
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 3 (2024): JUPIN Agustus 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.353

Abstract

Upacara Ngaben atau disebut juga upacara Pelebon merupakan salah satu upacara keagamaan yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu yang memiliki arti melebur, yaitu kembalinya raga (stula sarira) kepada Panca Maha Bhuta (lima unsur dasar yang menyusun mikrokosmos/manusia). Pelaksanaan upacara Ngaben pada masyarakat Hindu, khususnya di Bali memiliki keunikan tersendiri, sebab masing-masing masyarakat adat memiliki perbedaan dalam memaknai Ngaben, termasuk masyarakat desa adat Penglipuran yang memiliki perspektif tersendiri. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Terdapat tiga tahapan dalam penelitian ini, yaitu melalui tahap observasi, wawancara, dan studi dokumen. Adapun objek penelitian ini terletak di desa Penglipuran, Bangli. Fokus dari penelitian ini adalah mengenai fenomena upacara Ngaben yang dilaksanakan oleh masyarakat adat Penglipuran yang termasuk dalam suku Bali Aga yang dipercaya merupakan suku asli Bali yang mendiami wilayah Bali sebelum kedatangan suku Bali Majapahit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pelaksanaan upacara Ngaben pada masyarakat Bali Majapahit dilakukan melalui tradisi pembakaran jenazah. Sedangkan pada masyarakat Bali Aga, khususnya di desa Penglipuran tidak selalu dilakukan dengan mengadakan prosesi pembakaran jenazah, melainkan dengan melakukan prosesi penguburan mayat. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat adat Penglipuran bahwa melebur atau penduduk lokal menyebutnya dengan istilah ‘ngelebur’ memiliki esensi bahwa melalui prosesi penguburan jenazah, pada akhirnya tetap akan mengembalikan raga kepada Panca Maha Bhuta.
Pelatihan Pembuatan Media Augmented Reality Berbasis Kearifan Lokal Bali untuk Guru SMAN 9 Denpasar Indrawan, Aditya; Rulianto, Rulianto; Datuti, Sri; Persada, Soma Surya; Sartika, Lianda Dewi
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2025): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/bajpm.v5i3.2443

Abstract

kegiatan pengabdian ini merupakan kegiatan pelatihan kepada guru-guru di SMAN 9 Denpasar. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih para guru agar dapat memanfaatkan kearifan lokal yang ada di sekitar lingkungan sebagai sebuah media pembelajaran. Pemanfaatan kearifan lokal dalam kegiatan pembelajaran merupakan hal yang penting pada era saat ini dikarenakan banyaknya budaya asing yang dapat dengan mudah mempengaruhi para peserta didik. Oleh sebab itu, para guru harus dapat memanfaatkan kearifan lokal dengan menggabungkannya dengan teknologi terkini agar kegiatan pembelajaran lebih optimal dan agar para siswa tertarik dengan kebudayaan mereka sendiri. Kegiatan pelatihan ini dilakukan menggunakan metode pelatihan, dimana para guru akan diberikan pemaparan materi secara teoritik lalu akan dilanjutkan dengan kegiatan simulasi hingga praktik pembuatan media pembelajaran. Berdasarkan hasil kegiatan dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini sangat membantu para guru di SMAN 9 Denpasar, para guru juga turut aktif dalam setiap kegiatan pelatihan sehingga dapat berjalan dengan baik dan optimal. Berdasarkan hasil kuisioner pun para guru menilai kegiatan ini sangat membantu mereka dengan presentase Sekitar 10,9% memberikan penilaian kegiatan pelatihan sangat membantu, 70,9% memberikan penilaian kegiatan pelatihan membantu sedangkan 18,2% memberikan penilaian netral.
NARASI SISTEM KETATANEGARAAN RI PASCA-AMANDEMEN UUD 1945 DALAM BUKU TEKS SEJARAH SMA KURIKULUM MERDEKA: ANALISIS KONTEN Lianda Dewi Sartika; Nurlatifa Nurlatifa
Danadyaksa Historica Vol 6, No 1 (2026): Danadyaksa Historica
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jdh.v6i1.11058

Abstract

Narasi sistem ketatanegaraan dalam buku teks sejarah memiliki peran strategis dalam membentuk pemahaman kewarganegaraan peserta didik. Namun, penyajiannya kerap bersifat deskriptif dan kurang memberikan ruang analisis kritis terhadap dinamika konstitusional. Artikel ini menganalisis narasi sistem ketatanegaraan Republik Indonesia pasca-amandemen UUD 1945 dalam buku teks Sejarah SMA Kurikulum Merdeka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten terhadap buku teks Sejarah kelas XI dan XII terbitan Kemendikbudristek. Unit analisis mencakup teks naratif, ilustrasi, dan instrumen asesmen yang berkaitan dengan perkembangan sistem pemerintahan dan transformasi ketatanegaraan era reformasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi disajikan secara kronologis dengan penekanan pada peristiwa politik, namun minim analisis substantif terhadap perubahan konstitusi. Selain itu, terdapat kecenderungan representasi yang bersifat state-centered dan kurang menghadirkan perspektif kritis terhadap relasi kekuasaan. Temuan ini menunjukkan bahwa buku teks belum sepenuhnya mendukung pengembangan pemahaman ketatanegaraan yang kritis dan reflektif dalam pembelajaran sejarah.
Sekolah sebagai Sistem Sosial: Analisis Perannya dalam Menguatkan Nilai-Nilai Multikultural Siswa di SMAN 4 Mataram Almira Wulandari; Edy Kurniawansyah; Lianda Dewi Sartika
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 7 No. 2 (2026): May
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v7i2.1955

Abstract

Schools, as social systems, play a crucial role in fostering a multicultural educational environment amidst diversity. This is evident at SMAN 4 Mataram, which exhibits a high degree of social, cultural, and religious diversity, thereby necessitating the reinforcement of tolerance, cooperation, and respect for differences to prevent social conflict within the school environment. This study aims to analyze the role of the school as a social system in reinforcing multicultural values among students at SMAN 4 Mataram. This study employs a descriptive qualitative approach, utilizing data collection techniques such as observation, interviews, and documentation. The results indicate that the school, as a social system, fosters a multicultural educational environment through its structural, cultural, and interactional roles. The socialization of values and the formation of students’ multicultural identities are achieved through the integration of multicultural values into Civic Education (PPKn) lessons and extracurricular activities such as Scouting, Red Cross (PMR), Student Council (OSIS), the Flag Raising Brigade (Paskibra), and dance. The effectiveness of the school’s role in building social cohesion amidst diversity is influenced by supporting factors such as principal support, teacher training and development, and adequate facilities and infrastructure, while inhibiting factors include the continued existence of a small number of students with exclusive attitudes and the inadequacy of multicultural socialization outside the school environment.
Arkeologi Renjana: Membedah Identitas Bangsa melalui Wewangian Di Balik Tirai Aroma Karsa Anak Agung Ngurah Bagus Janitra Dewanta; Lianda Dewi Sartika
Ruang Kata Vol 6 No 01 (2026): Ruang Kata
Publisher : Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama Kebumen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53863/jrk.v6i01.2257

Abstract

The dominance of synthetic aromatic products, which has led to the diffusion of cultural identity, provides the background for this study, which uses research-based literary works as a medium for reconstructing a detailed, emotional history. This study aims to map the traces of aromatic historical civilization in the Indonesian archipelago, as a cultural aspect documented in the book Behind the Curtain of Aroma Karsa by Dee Lestari, through a Sensory Archaeology approach. The study uses a descriptive qualitative method with library research and content analysis techniques. This study applies the Historicism Sensory History perspective, using the logical formulation I = (S × A) + C to measure the Cultural Identity variable (I) based on the correlation among Historical Data (S), Aroma Representation (A), and Social Context (C). Triangulation and classification techniques are used as data validation in this study, using the Weight of Evidence framework. The study identified 10 aroma categories, divided into three levels of identity. Sacred Aroma and Rare Botanicals were found to be the Fundamental elements with the highest scores, which represent transcendental spirituality and the biodiversity of the Indonesian archipelago. The other categories, namely the Aroma of Nobility, Territorial, Medical, Maritime, Mortality, Urban, and Archives, are classified as Strong, depicting social stratification and traces of maritime history in human sensory memory. Industrial Aroma is classified as Moderate, depicting the shift from philosophical values to economic commodities. The conclusion of this study confirms that aromas in fictional narratives function as artifacts and "living fossils," capable of preserving a nation's collective memory. The use of a sensory history approach has proven effective in reviving the often-overlooked history of ethnobotany and the archipelago's cultural identity.
Penerapan Pembelajaran Berbasis Aktivitas Bermain untuk Meningkatkan Kemandirian Anak SLB Yelli Fitri; Rini Adriani Auliana; Lianda Dewi Sartika; Anak Agung Ngurah Bagus Janitra Dewanta; Ayunda Wulandari; Wirdullutfi; Baiq Isti Hijriani
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 9 No 2 (2026): April-Juni 2026
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v9i2.15169

Abstract

This community service aimed to improve the independence of students in a Special School (SLB) through structured play-based learning. The main issue addressed was low student engagement and independence due to limited teaching methods. The activity was conducted through preparation, implementation, and evaluation stages by applying structured play activities such as guessing sounds and imitating animal movements. Evaluation was carried out through observation of participation, ability to follow instructions, and student independence. The results showed improvements in engagement, ability to follow instructions, and independence, indicated by reduced reliance on teacher assistance. The learning environment also became more enjoyable and interactive, encouraging students to be more active and confident. This activity provides a practical alternative for teachers to develop engaging and structured learning, and demonstrates that play-based learning can be an effective approach to enhance independence among students with special needs.
THE CONSTRUCTION OF THE INDEPENDENCE STRUGGLE NARRATIVE IN SENIOR HIGH SCHOOL HISTORY TEXTBOOKS UNDER THE MERDEKA CURRICULUM: A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS Sartika, Lianda Dewi; Dewanta, Anak Agung Ngurah Bagus Janitra; Alqadri, Bagdawansyah
Jurnal Historica Vol. 10 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jhis.v10i1.60009

Abstract

The narrative of the 1945 independence struggle in history textbooks plays a crucial role in shaping students’ understanding of national identity. However, its presentation does not always reflect the diversity of historical perspectives or meet the demands of critical learning. This study aims to analyze the construction of the 1945 independence narrative in high school history textbooks under the Merdeka Curriculum. The study employs a qualitative approach using a three-dimensional critical discourse analysis framework encompassing textual analysis, social context, and the underlying perspectives of the narrative. Data were drawn from two history textbooks for Grades 11 and 12 published by the Ministry of Education. The units of analysis included narrative texts, illustrations, learning activities, and assessment questions related to the theme of independence. The results indicate that the narrative is predominantly shaped by a nationalist perspective that emphasizes the role of elite figures, while the contributions of other groups are only partially represented. Furthermore, most assessment questions remain focused on factual recall and do not sufficiently promote critical thinking skills. These findings reveal a gap between the intended curriculum and the actual presentation of material in textbooks. Therefore, the development of more inclusive, analytical, and contextualized historical narratives is necessary to support critical history learning.
Penerapan Model Pembelajaran Direct Instruction Berbantuan Video Animasi Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas VII A Pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila di SMPN 1 Mataram Amrulloh, Muh Khozin Arif; Basariah; Sartika, Lianda Dewi
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/schxmy62

Abstract

Rendahnya minat belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila menjadi salah satu kendala utama dalam mencapai tujuan pembelajaran yang optimal. Berdasarkan hasil observasi awal di kelas VII A SMPN 1 Mataram, ditemukan bahwa sebagian besar siswa kurang aktif, kurang perhatian, dan cenderung merasa bosan selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini disebabkan oleh penggunaan metode ceramah yang monoton dan kurangnya variasi media pembelajaran yang menarik. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam pembelajaran guna meningkatkan keterlibatan dan minat belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila melalui penerapan model pembelajaran Direct Instruction berbantuan video animasi di kelas VII A SMPN 1 Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas dua kali pertemuan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, angket, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah tercapainya minimal 80% siswa atau sekurang-kurangnya 34 dari 42 siswa berada pada kategori minat belajar tinggi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan minat belajar siswa secara bertahap, dari 69% pada siklus I pertemuan 1, meningkat menjadi 76% pada siklus I pertemuan 2, kemudian mencapai 86% pada siklus II pertemuan 1, dan tetap berada pada kategori tinggi dengan persentase 83% pada siklus II pertemuan 2. Dengan demikian, penerapan model Direct Instruction berbantuan video animasi terbukti efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif dan berbasis teknologi, khususnya dalam menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan menarik guna meningkatkan partisipasi serta hasil belajar siswa.