Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH VARIASI MASSA KITOSAN TERHADAP YIELD DALAM PEMBUATAN NANOEMULSI KITOSAN DENGAN METODE GELASI IONIK DAN FREEZING Alvika Meta Sari; Tri Yuni Hendrawati; Kiki Rizky Ananda; Erdawati Erdawati
Jurnal Teknologi Vol 12, No 2 (2020): Jurnal Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jurtek.12.2.107-122

Abstract

Kitosan sebagai salah satu biopolymer aktif mempunyai potensi besar dalam aplikasinya antara lain di bidang material, farmasi, dan pengolahan limbah. Untuk meningkatkan aktivitasnya, kitosan disintesa menjadi nanoemulsi kitosan untuk penghantar obat, flokulan, koagulan dan anti bakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari pengaruh massa kitosan terhadap yield nanoemulsi kitosan dengan metode gelasi ionic dan mendapatkan massa kitosan yang optimum. Nanoemulsi kitosan disintesa dengan metode gelasi ionik yaitu proses reaksi antara kitosan dan Sodium Tripoly Phospat (STPP) dalam magnetic stirrer untuk mendapatkan ukuran nano pada berbagai variasi massa kitosan yaitu 0,5, 1, 1,5, 2, 2,5, dan 4 gram. Untuk menstabilkan emulsi maka dilakukan proses freezing dan dilanjutkan dengan sentrifugasi untuk mengurangi kadar air. Nanoemulsi yang didapatkan dihitung perolehan yield dan dilakukan analisa menggunakan FTIR (Fourier Transfor Infrared), XRD (X-Ray Diffaction), dan PSA (Particle Size Analyzer). Dari hasil penelitian didapatkan pengaruh massa kitosan terhadap yield adalah semakin besar kitosan yang ditambahkan maka yield yang didapatkan semakin besar serta ukuran nanoemulsi kitosan yang terbentuk juga semakin kecil.  Pengaruh antara massa kitosan dan yield disajikan dalam persamaan y= 2,9125x + 81,309 dengan R2 = 0,7048. Massa kitosan yang optimum pada 2,5 gram dengan yield sebesar 91,76%.
PENGARUH PENAMBAHAN GEL ALOE VERA TERHADAP EFEKTIFITAS ANTISEPTIK GEL Susanty Susanty; Tri Yuni Hendrawati; Wenny Diah Rusanti
Jurnal Teknologi Vol 12, No 1 (2020): Jurnal Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jurtek.12.1.79-86

Abstract

Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh yang sangat rentan  terkena infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen. Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme patogen seperti virus, bakteri, parasit, dan jamur. Aloe vera merupakan tanaman multikhasiat yang mengandung 17 asam amino yang penting bagi tubuh. Jenis Aloe vera yang dibudidayakan di Indonesia adalah jenis Aloe Chinensis Baker. Gel Aloe vera mempunyai kandungan saponin, flavonoid, polifenol, serta tanin yang bersifat antiseptik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan gel Aloe vera terhadap efektifitas antiseptik gel Aloe vera untuk mendapatkan formula terbaik. Penelitian ini menggunakan variabel sediaan gel Aloe vera dengan konsentrasi 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10% dan 12,5%. Parameter yang digunakan untuk analisa adalah indeks bias, pH, kadar vitamin C, densitas dan uji Antimikroba. Pada uji antimikroba menggunakan parameter pertumbuhan escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Dari penelitian ini menunjukkan kemampuan hambat pertumbuhan tertinggi bakteri Escehricia coli pada Antiseptik gel Aloe vera mencapai 12 dengan persamaan y = 27,429x + 7,619 dengan R2 = 0,5366 adalah pada penambahan gel Aloe vera konsentrasi 7,5%. Pada konsentrasi ini juga menunjukan tanda negatif pada pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.  Selain itu penambahan gel Aloe vera pada konsentrasi 7,5% juga menunjukan pH yang aman untuk kulit
PEMETAAN BAHAN BAKU DAN ANALISIS TEKNOEKONOMI BIOETANOL DARI SINGKONG (MANIHOT UTILISSIMA) DI INDONESIA Tri Yuni Hendrawati; Anwar Ilmar Ramadhan; Agung Siswahyu
Jurnal Teknologi Vol 11, No 1 (2019): Jurnal Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jurtek.11.1.37-46

Abstract

Bioetanol merupakan etanol yang dibuat dari biomassa yang mengandung komponen gula, pati atau selulosa seperti singkong dan tetes tebu.  Etanol umumnya digunakan dalam industri sebagai bahan baku industri turunan alkohol, campuran untuk minuman keras seperti sake atau gin, dan bahan baku farmasi dan kosmetika.  Berdasarkan kadar alkoholnya, etanol terbagi menjadi tiga grade yaitu grade industri dengan kadar alkohol 90-94 %, netral dengan kadar alkohol 96-99,5 %, umumnya digunakan untuk minuman keras atau bahan baku farmasi, dan grade bahan bakar dengan kadar alkohol diatas 99,5 – 100 %. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pemetaan bahan baku dan analisis teknoekonomi produksi bioetanol dari singkong.. Metode penelitian yang digunakan untuk pemetaan bahan baku dengan pengolahan data kuantitatif dari data sekunder dan pemilihan protitasnya dengan AHP. Berdasarkan analisis AHP dan kondisi obyektif maka hasil  pemilihan bahan baku bioetanol yang potensial berdasarkan prioritas terbaik di tingkat Nasional  adalah  Singkong, Tebu, Jagung, Nira, Sagu. Dari hasil analisis teknoekonomi aspek teknis teknologis, pasar pemasaran dan finansial menunjukkan hasil layak. Dari sisi kelayakan finansial pada Kapasitas produksi bioetanol singkong sebesar 30.000 kiloliter/tahun atau 100 kiloliter/hari.  Dengan tingkat konversi 6,5 kg singkong/liter bioetanol, jumlah singkong yang dibutuhkan oleh pabrik bioetanol ini adalah sebanyak 195.000 ton/tahun atau 650 ton/hari.  Kebutuhan singkong sebesar itu disuplai dari kebun singkong dengan luasan 5.571 ha.  Kriteria kelayakan investasi pabrik bioetanol singkong dengan kapasitas 30.000 kilo liter/tahun adalah Net B/C (Benefit/Cost) 1,55; IRR (Internal Rate of Return) lebih besar dari 12% yaitu 23,77%; NPV (Net Present Value) positif Rp 84.451.334.345,-;  Pay Back Period (PBP) pada tahun ke 6,45 tahun dan HPP (Harga Pokok Produksi) bioetanol sebesar Rp 4.058,- /liter. Dengan HPP sebesar Rp 4.058,- /liter ditetapkan harga jual bioetanol singkong sebesar Rp 6.100,-/liter.
ANALISIS KELAYAKAN INDUSTRI KELAPA TERPADU Tri Yuni Hendrawati; Syamsudin AB
Jurnal Teknologi Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jurtek.8.2.61-70

Abstract

Tanaman Kelapa merupakan salah satu komoditas perkebunan yang telah lama dikenal dan sangat berperan bagi kehidupan masyarakat. Beroperasinya Industri kelapa terpadu ini akan membantu perputaran ekonomi daerah dan pada gilirannya pendapatan daerah dan masyarakat petani akan ikut terangkat. Tujuan dari penelitian ini untuk melakukan analisis kelayakan industri kelapa terpadu. Metodologi yang digunakan adalah pengumpulan data primer dan sekunder ke daerah penghasil kelapa. Analisis kelayakan meliputi aspek teknis teknologis, aspek kelayakan pasar dan pemasaran, aspek finansial dan aspek dampak sosial dan lingkungan. Salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai tambah dan efisiensi usaha perkebunan kelapa rakyat adalah dengan mengembangkan usaha pengolahan kelapa terpadu yaitu pendirian pabrik kelapa terpadu kapasitas kecil. Industri kelapa terpadu kapasitas kecil berpotensi untuk dikembangkan di perkebunan kelapa  dengan kapsitas pengolahan 20.000 butir kelapa/hari. Berdasarkan perhitungan neraca massa pada proses produksi, maka setiap 20.000 butir kelapa/hari dapat menghasilkan dessicated coco 1.860 kg/hari, coco powder 1.172 kg/hari, minyak kelapa 632 kg/hari, coir fibre 11.250 kg/hari, briket arang 2.880 kg/hari, asap cair 2.880 liter/hari dan nata de coco 117.600 gelas/hari. Dari analisis secara teknis dapat disimpulkan bahwa pengembangan industri kelapa terpadu 20.000 butir kelapa/hari layak untuk direalisasikan. Pendirian industri kelapa terpadu kapasitas 20.000 butir/hari membutuhkan modal investasi sebesar Rp 13.435.000.000,- dengan modal kerja untuk selama 3 (tiga) bulan sebesar Rp   2.963.145.150 ,-. Hasil perhitungan NPV berdasarkan aliran kas bersih pada proyeksi arus kas industri kelapa terpadu  Rp 3.493.291.768 ,- pada discount factor (DF) 20% dan nilai IRR adalah 27.67%. Sedangkan masa pengembalian modal (PBP) tercapai selama periode 3,53 tahun  dengan nilai Net  B/C sebesar  1,26. Dari hasil Analisa sensitivitas yang dilakukan, dihasilkan bahwa dengan penurunan harga produk sebesar 5% dan kenaikan harga beli bahan baku 10% tetap layak. Mengingat dalam praktiknya bunga bank 17,5% dan perubahan harga beli bahan baku selalu berhubungan positif dengan harga jual produk, sehingga dengan hasil Analisa sensitivitas tersebut, diproyeksikan kegiatan usaha  ini layak diimplementasikan.
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI EDIBLE FILM DARI NATA DE COCO DAN GLISEROL Furqon Cipta Ismaya; Nurul Hidayati Fithriyah; Tri Yuni Hendrawati
Jurnal Teknologi Vol 13, No 1 (2021): Jurnal Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jurtek.13.1.81-88

Abstract

Salah satu jenis kemasan bahan pangan yang aman dan bersifat biodegradable adalah dengan pengemasan menggunakan edible film. Edible film adalah suatu lapisan tipis yang rata, dibuat dari bahan yang dapat dikonsumsi, dan dapat berfungsi sebagai barrier agar tidak kehilangan kelembaban. Tujuan penelitian ini adalah membuat edible film dari nata de coco dan gliserol sebagai plasticizer, serta menguji pengaruh kenaikan konsentrasi gliserol terhadap karakter mekanik edible film. Penelitian ini menggunakan metodologi mixing dan casting. Variabel bebas pada penelitian ini meliputi konsentrasi gliserol 2%, 4%, 6%, 8%, 10% b/b. Penelitian menggunakan analisa sampel yaitu analisa ketebalan, tensile strength dan elongation. Analisa data menggunakan metode regresi. Semakin banyak gliserol yang ditambahkan, maka ketebalan film semakin meningkat dari 0,09 mm hingga 0,15 mm dan elongation semakin meningkat dari 1,59% sampai 13,75%, namun tensile strength menurun dari 32,40 MPa sampai 2,267MPa. Hasil karakterisasi film menunjukkan bahwa komponen utama penyusun nata adalah polimer selulosa. Hal ini ditunjukkan dengan adanya puncak serapan gugus fungsi karakteristik yaitu O-H, C-H dan C-O.
PEMILIHAN PRIORITAS LOKASI INDUSTRI SUSU STERILISASI DI JAWA TENGAH DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARKHI PROCESS (AHP) Tri Yuni Hendrawati; Suratmin Utomo
Jurnal Teknologi Vol 7, No 2 (2015): Jurnal Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jurtek.7.2.65-71

Abstract

Sterilisasi susu adalah proses pengawetan susu yang dilakukan dengan cara memanaskan susu sampai mencapai suhu diatas titik didih, sehingga bakteri maupun kuman dan sporanya mati. Cara sterilisasi susu memerlukan peralatan khusus dan perlu didesign untuk skala kecil menengah sehingga dapat diterapkan di kelompok peternak, KUD Susu di daerah penghasil terutama pada penelitian di daerah  Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah memilih prioritas lokasi industri susu sterilisasi di Jawa Tengah dengan metode Analytical Hierarkhi Process (AHP). Tahapan pengumpulan data/survey dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif terhadap aspek-aspek yang berhubungan dengan pemilihan prioritas lokasi industri susu sterilisasi di Jawa Tengah. Pengumpulan data yang akan dilakukan dalam survey ini meliputi data sekunder (instansional) dan  primer (wawancara dan kuesioner, data  publikasi dan rujukan). Dalam menentukan daerah mana yang akan dijadikan lokasi pembangunan pabrik susu sterilisasi untuk provinsi Jawa Tengah ditentukan menggunakan software AHP dengan mempertimbangkan kriteria utama ketersediaan bahan baku, ketersediaan lahan, utilitas dan kelembagaan. Sedangkan kriteria pendukung meliputi pemasaran, populasi pabrik susu yang ada, bencana alam dan cuaca. Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa Dari hasil pemilihan prioritas lokasi Kabupaten Semarang merupakan tempat prioritas pembangunan pengolahan susu sterilisasi dengan bobot 0,440  diikuti dengan Kabupaten Wonosobo dengan bobot 0,319  dan Kabupaten Boyolali dengan bobot 0,241.
Pemilihan Prioritas Pemanfaatan Daun Binahong(Bassela Rubra Linn) Dengan Metode AHP(Analytical Hierarkhi Process) Ade Nurul Hidayat; Ninin Asminah; Tri Yuni Hendrawati; Ismiyati Ismiyati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan Negara agraris yang memiliki banyak sekali potensi tanaman yang dapat digunakan sebagai obat-obatan, Binahong ( Anredera Cordifolia ) merupakan salah satu tanaman yang terdapat di Indonesia yang berfungsi sebagai obat untuk proses penyembuhan menurut survey social ekonomi nasional. Flavonoid yang terkandung dalam daun binahong dapat berfungsi sebagai obat herbal alami dengan bermacam-macam efek anti inflamasi, analgetik, anti radang dan antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan prioritas pemanfaatan daun binahong yang efektif menggunakan software CDP(Criterium Decision Plus) dan metoda AHP (Analytical Hierarchy Process) dengan mempertimbangkan kriteria kandungan zat aktif, ketersediaan bahan baku, harga, adanya efek samping dan kemudahan dalam membudidayakan daun binahong tersebut. Data – data diperoleh dari data primer dan sekunder yaitu berupa data atau catatan dari jurnal terdahulu, wawancara ahli dan kuisioner yang didapat peneliti, sehingga didapatkan hasil analisis AHP bahwa hasil pemilihan prioritas pemanfaatan daun binahong adalah sebagai (Obat Luka Bakar) dengan nilai tertinggi 0,930 diikuti dengan 0,740 sebagai anti oksidan & antiseptik dan 0,620 sebagai obat jerawat.
PROSES PENGOLAHAN MINYAK BIJI KAPUK (Ceiba Pentandra) MENJADI METHIL ESTER MELALUI PROSES ESTERIFIKASI TRANSESTERIFIKASI DENGAN VARIABEL KONSENTRASI KATALIS KOH DAN WAKTU REAKSI Arthur Setyawan Fajar; Tri Yuni Hendrawati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak biji kapuk diekstraksi dari biji kapuk randu atau kapuk (Ceiba Pentandra). Pohon ini merupakan pohon tropis yang tergolong ordo Malvales dan famili Malvaceae.  Kata "kapuk" atau "kapok" juga digunakan untuk menyebut serat yang dihasilkan dari bijinya. Pohon ini juga dikenal sebagai kapas Jawa atau kapok Jawa, atau pohon kapas-sutra. Daerah penghasil kapuk di Indonesia meliputi daerah DI.Aceh, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebagai salah satu bahan baku oleokimia dan bahan bakar alternatif yang dikenal sebagai biodiesel. Pemanfaatan minyak biji kapuk sebagai bahan baku untuk memproduksi metil ester sebagai topik dari penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan karakteristik metil ester dari minyak biji kapuk dan mendapatkan proses terbaik. Metode yang digunakan adalah penelitian di Laboratorium Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Jakarta Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta pusat. Penelitian ini meliputi tiga tahapan dimana tahapan pertama proses degumming minyak biji kapuk menggunakan H3PO4 sebanyak 1% volume minyak dan direaksikan pada temperatur 70oC selama 30 menit, tahapan dua mereaksikan minyak biji kapuk dengan katalis H2SO4  (esterifikasi) kemudian tahapan ketiga yang dilakukan untuk mendapatkan metil ester yaitu dengan mereaksikan minyak biji kapuk dan metanol (transesterifikasi)  dengan variabel katalis KOH (1%, 1,5%, 2% ) dari volume metil ester hasil (esterifikasi) dengan jumlah metanol sebesar  20% dari volume hasil esterifikasi dengan waktu reaksi 1 Jam, 1.5 jam , dan 2 jam pada suhu 70°C. Berdasarkan hasil yang didapat dari penelitian dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut yaitu (1) Bahan baku minyak biji kapuk mengandung zat pengotor  dan  asam lemak bebas tinggi sebesar 8,63  maka diperlukan proses degumming dan esterifikasi, (2) Minyak biji kapuk sebelum mengalami proses esterifikasi memiliki kadar asam lemak bebas 8,63 dan setelah mengalami proses esterifikasi memiliki kadar asam lemak bebas turun menjadi 0,70275 dan rendemen yang didapat sebesar 99.15% (3) Kondisi proses terbaik adalah pada katalis 1,5%  dan waktu 2 jam dengan jumlah metanol 20% yakni dengan rendemen 92,24 %, angka asam 0,38, bilangan penyabunan 164,76. (4) Pengolahan minyak biji kapuk menjadi metil ester menjadi salah satu bahan bakar alternatif biodiesel dan bahan oleokimia.
PENGARUH WAKTU LIQUEFACTION TERHADAP KANDUNGAN GLISEROL PADA POLIOL DARI TISU DENGAN PELARUT GLISEROL Ribath Faruqi; Indra Budi Susetyo; Tri Yuni Hendrawati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selulosa merupakan Polimer alam berupa zat karbohidrat dengan rumus molekul (C6H10O5)n. Metode yang digunakan untuk menghasilkan poliol diantaranya hidrolisis, liquefaction, degradasi panas. Metode dalam penelitian ini adalah liquefaction. Selulosa direaksikan dengan gliserol dan katalis asam sulfat. Proses pemanasan menggunakan hot plate. Produk diencerkan dengan air untuk memisahkan residu dan poliol. Kemudian dipisahkan dengan sentrifuge. Lapisan atas berupa poliol diencerkan 1 ppm lalu diuji kandungan gliserolnya dengan alat GC-MS. Variabel dalam penelitian ini menggunakan variasi rasio selulosa/gliserol 1:3 (w/w) dan 1:4 (w/w) dengan waktu 1 jam, 2 jam 3 jam, 4 jam, 5 jam. Hasil analisis GCMS menunjukan kandungan gliserol yang diperoleh memberikan nilai tertinggi untuk rasio 1:3 pada waktu 1 jam dengan tinggi peak, yaitu 564146 dan nilai terendah pada waktu 5 jam dengan tinggi peak, yaitu 268265 dengan persamaan y = -73659x + 60716 dengan R²=0,933. Untuk rasio 1:4 kandungan gliserol tertinggi pada waktu 3 jam dengan tinggi peak, yaitu 621260 dan nilai terendah pada waktu 5 jam dengan tinggi peak, yaitu 564986. Dengan persamaan y= -10108x4-12771x3+55365x2-94901x+1E+06 dengan R²=1 dengan x adalah waktu dan y adalah tinggi peak. 
PENGARUH PENAMBAHAN TEH LIDAH BUAYA (ALOE TEA) TERHADAP SIFAT FITOKIMIA MINUMAN THAI TEA Wenny Diah Rusanti; Tri Yuni Hendrawati
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teh merupakan minuman yang digemari dan diyakini memiliki khasiat bagi kesehatan. Untuk menambah nilai gizi pada thai tea, dapat dilakukan dengan menambah daun lidah buaya yang telah dikeringkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan teh lidah buaya terhadap sifat fitokimia dan organoleptic dari minuman thai tea. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok dengan 3 kali pengulangan. Variabel dalam rancangan penelitian ini yaitu variasi massa teh lidah buaya dan thai tea (1,85:40, 2,00:40 dan 2,50:40) pada variasi suhu penyeduhan (70ºC dan 90ºC). Aloe thai tea dibuat dari thai tea yang dipanaskan sampai suhu 70ºC dan 90ºC bersama teh lidah buaya dengan kombinasi perlakuan penambahan daun lidah buaya pada campuran thai tea. Data dianalisis terhadap sifat fitokimianya (viskositas, kadar vitamin C) dan mendapatkan formula Thai tea Aloe vera yang terbaik dan disukai. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan teh lidah buaya berpengaruh terhadap kekentalan dan kadar Vitamin C minuman Thai tea. Formula minuman Aloe thai tea yang dapat menghasilkan derajat keasaman yg lebih rendah serta tingkat kekentalan yang lebih rendah bisa dibuat melalui formulasi 2:8 dengan suhu penyeduhan 90C
Co-Authors Ade Nurul Hidayat Agdila, Alivia Fernanda Agung Siswahyu Agung Siswahyu Agus Priyanto Aini, Latifah Nur Alvika Meta Sari Andriyani Andriyani Anggaraini, Nisrina Harum Anwar Ilmar Ramadhan Arinda, Yosi Duwita Arthur Setyawan Fajar Athiek Sri Redjeki Ayu Candraningsih Azmairit Aziz Azmi, Wan Hamzah Azqia, Khalisya Nasywa Budiyanto Budiyanto Cakrawala, Orion Nawandie Cardosh, Syafira R Darto Darto Darto Darto, D Dedek Rahayu Deri Iryawan Desy Hijriyah Dimas Adhitya Rahman Dimas Yoga Pradipta Pratama Efrizon Umar Efrizon Umar Elvia Desiana Erdawati Erdawati Erdawati Erdawati Ericha Indriani Marjuki Erna Astuti Ery Diniardi Fachry Abda El Rahman Faisal Ismail Febri Yani Fiqih Azis Pangestu Firgi Adha Listanto Firmansyah Firmansyah Firmansyah Firmansyah Furqon Cipta Ismaya Furqon Cipta Ismaya Hakim, Rusnia Junita Hamza Mursandi Hana Ambarwati Hana Ambarwati Hardiman, Bayu Haryanto, Lorenta In Helfi Gustia Heri Setiono Heryanti Heryanti Hidayat, Sri hidayat, untung Ika Kurniaty, Ika Ilham Kurniawan Indra Budi Susetyo Ismiyati Ismiyati Ismiyati Ismiyati Ismiyati Ismiyati Ismiyati, Ismiyati Istianto Budhi Rahardja kadarisman, muhammad Kiki Rizky Ananda Kushendarsyah Saptaji Lemsoh, Jarunee Lusida, Nurmalia Miftah Andriansyah, Miftah Muh. Kadarisman Muhammad Kosasih Muhammad Reza Huseini Mutiara Salsabila Ninin Asminah Noni Noni Nurul Hidayati Fithriyah OKTA MAHENDRA, OKTA Oktariawan, Reddy Rahardja, Istianto Budhi Rahmawati Suryani Ramadhani, Annisyah Ratri Ariatmi Nugrahani Ratri Ariatmi Nugrahani Raynaldi Syarief Armanzah Renty Anugerah Mahaji Puteri Ribath Faruqi Rizalman Mamat Rohmat Mufti Ali Rosmi, Fitria Rusnia Junita Hakim Rusnia Junita Hakim Safira, Ajeng Listiani Sari, Fatma Semendo, Rifqi Putra Setiawan, Hanif Rama Yuda Shela Niken Wijayanti Siska Ayu Anggraini Suffah, Nurullia Sulis Yulianto Suratmin Utomo Suratmin Utomo Suratmin Utomo Susanty Susanty Susanty Susanty Susanty, Susanty Syamsudin AB Tria Astika Endah Permatasari Ummul Habibah Hasyim Ummul Habibah Hasyim Viki Febrianoca Wan Hamzah Azmi Wenny Diah Rusanti Wenny Diah Rusanti Wenny Diah Rusanti Wiwik Handayani Wiwik Handayani Wulan Wibisono Is Tunggal Wulan Wibisono Is Tunggal, Wulan Wibisono Wusono, Ciska Nabila wusono, ciska nabilah Wusono, Ciska Nabilla Yukarie Ayu Wulandari Yully Mulyani Yusril, Ariadi Yustinah Yustinah Zidni, Irfan Azka Zihan, Nurul