p-Index From 2021 - 2026
5.766
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Biologi Udayana Wahana Matematika dan Sains Jurnal Ilmu Dasar Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN AL KAUNIYAH Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Interest : Jurnal Ilmu Kesehatan Quagga Bioedukasi: Jurnal Pendidikan Biologi Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) BioWallacea Journal of Biological Research Jurnal Florea Pro-Life Edumatsains Jurnal Dinamika Pendidikan BERITA BIOLOGI Indonesian Journal of Science and Education Jurnal Pendidikan Informatika dan Sains Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences Jurnal Biodjati JURNAL PENDIDIKAN ROKANIA EKSAKTA : Jurnal Penelitian dan Pembelajaran MIPA Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan: Wawasan Kesehatan Bioma : Jurnal Biologi Indonesia Jurnal Kesehatan Manarang Sainmatika: Jurnal Ilmiah Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan JPBIO (Jurnal Pendidikan Biologi) JURNAL BIOEDUCATION J-KESMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Husada Mahakam: Jurnal Kesehatan Cendekia Journal of Pharmacy Majalah Sainstekes Best Journal (Biology Education, Sains and Technology) KESMAS UWIGAMA: Jurnal Kesehatan Masyarakat Journal of Tropical Ethnobiology Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Eureka Herba Indonesia Vivabio : Jurnal Pengabdian Multidisiplin Jurnal ComunitA Servizio Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi International Journal of Business, Economics, and Social Development Oryza : Jurnal Pendidikan Biologi Bioed : Jurnal Pendidikan Biologi Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) Cakrawala: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global AL QALAM JURNAL KEPENDIDIKAN Jurnal MAIYAH BIO-SAINS | Jurnal Ilmiah Biologi Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Edubiotik : Jurnal Pendidikan, Biologi dan Terapan Strada Jurnal Ilmiah Kesehatan (SJIK)
Claim Missing Document
Check
Articles

Phyllanthus amarus Schum Dan Bioaktivitasnya Marina Silalahi
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v12i1.2147

Abstract

Phyllantus amarus Schum (PA) merupakan salah satu tumbuhan obat yang telah lama digunakan untuk mengatasi gangguan ginjal khususnya sebagai peluruh batu ginjal. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat hubungan pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional berhubungan dengan senyawa bioaktif dan bioaktivitasnya.Penulisan artikel ini didasarkan pada studi literatur pada berbagai artikel ilmiah, buku yang terbit secara online maupun offline, kemudian disintesis untuk menjelaskan bioaktivitas PA. PA merupakan salah satu spesies dari famili Phyllantaceae, yang sangat mudah ditemukan diberbagai habitat di Indonesia dan cenderung dianggap sebagai gulma.Walupun PA mudah ditemukan, namun PA juga telah diperjual-belikan oleh pedagang tumbuhan obat di pasar Kabanjahe, Sumatera Utara. Secara etnobotani PA digunakan untuk mengatasi diabetes mellitus, hipertensi, analgesik, malaria, mengatasi batu ginjal, dan diare.PA mengandung senyawa filantin, hipofilantin, filantenol, nirantin, nirurin, kuersetin, rutin, asam galat, isokuersetin dan asam lemak.PA memiliki bioaktivitas sebagai hepetoprotektor, anti disentri, antioksidan, anti kanker dan tumor, dan anti batu ginjal. Pemanfaatan PA sebagai antikanker perlu diteliti lebih lanjut terutama dosis dan cara pemanfaatannya, sehingga dapat digunakan sebagai obat alternatif dalam penyembuhan penyakit kanker.Kata Kunci: Phyllanthus amarus; filantin; anti kanker.
STUDI ETNOBOTANI TUMBUHAN PANGAN YANG TIDAK DIBUDIDAYAKAN OLEH MASYARAKAT LOKAL SUB-ETNIS BATAK TOBA, DI DESA PEADUNGDUNG SUMATERA UTARA, INDONESIA Marina Silalahi; Nisyawati Nisyawati; Ria Anggraeni
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol. 8 No. 2 (2018): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.8.2.241-250

Abstract

The Batak Toba sub-ethnic is an indegenous tribe in Sumatra Island, who has local knowledge of using plants as food (edible plants). This study aims to (1) document the non-cultivated plants used by Batak Toba sub-ethnic as edible plants; (2) compare the quantitative values of edible plants by Batak Toba sub-ethnic. The study was conducted with ethnobotany approach through surveys and parcifative observations. The interviews were conducted toward key informants (7 people) and the general respondents (30 people). The general respondents were grouped into 17-30 years old, 30-50 years old, more than 50 years old, which the numbers of each were 10 respondents. The data were analyzed qualitatively and quantitatively. The quantitative analysis was done by calculating the relative frequency of citation (RFC), and informant consensus factor (ICF). This research found a total of 44 species belonging to the 28 families and 40 genera have been used by Batak Toba sub-ethnic as edible plants. The edible plants have been used as vegetables (18 species), fruits (16 species), spices (6 species), and drinks (3 species). The mean of species known by respondents were 15.8 ± 5.18 (17-30 years old), 23.2 ± 3.58 (30-50 years old), 26.8 ± 4.66 (> 50 years old) and 36.85 ± 5.11 (key informants). The IFC values of edible plants were 0.943 (spices) - 0.968 (drinks). A total of nine species of foodstuffs have been known by all respondents (RFC = 1.0). The utilization of Calamus javensis and Arundina graminifolia, as foodstuffs are going to be further investigated as low-calorie of carbohydrate sources.
Ethnobotanical Study of Zingiberaceae Rhizomes as Traditional Medicine Ingredients by Medicinal Plant Traders in the Pancur Batu Traditional Market, North Sumatera, Indonesia Marina Silalahi; Nisyawati; Endang C. Purba; Daichiro W. Abinawanto; Riska S. Wahyuningtyas
Journal of Tropical Ethnobiology Vol. 4 No. 2 (2021): July 2021
Publisher : The Ethnobiological Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46359/jte.v4i2.54

Abstract

Traditional markets are places for buying and selling medicinal plants and are a source of ethnobotany research data.  This study aims to determine the uses and characteristics of Zingiberaceae rhizomes have been used as traditional medicine and traded in the traditional market of Pancur Batu, North Sumatra. This research was conducted with an ethnobotany approach through surveys, interviews and observation participatory. The respondents are all medicinal plants traders in the Pancur Batu traditional market. The things that were asked of the traders included local names, special characters, benefits, and how to recognize the rhizome. The medicinal plant traders in the Pancur batu traditional market have been utilized and traded as many as 10 species of Zingiberaceae rhizome, most of them belonging Curcuma and Zingiber genera. The characteristics of rhizomes are recognized by traders through their size, color, and aroma. The cross-section of the rhizomes of each species is different in structure and color which is used as the main marker for each species. Rhizoma Zingiberaceae is used as the main ingredient for tawar (semi-solid medicinal herbs consumed by brewing), parem (solid medicinal ingredients), and oukup (traditional Karo sauna). The rhizome aroma of each species belonging Zingiberaceae is very distinctive which is related to the content of essential oils. The use of Zingiberaceae rhizomes as tawar and parem ingredients needs to be studied further so that they are developed into standardized herbs.
Acalypha Indica: Pemanfaatan dan Bioaktivitasnya Marina Silalahi
Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences Vol 11 No 2 (2019): Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences - July 2019
Publisher : Universitas Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.581 KB) | DOI: 10.30599/jti.v11i2.478

Abstract

Acalypha indica (AI) atau yang dikenal dengan nama daun anting-anting telah lama digunakan masyarakat Indonesia sebagai obat tradisional. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional berhubungan dengan kandungan metabolit sekunder dan bioaktivitasnya. Penulisan artikel ini didasarkan pada kajian literatur yang diperoleh dari jurnal ilmiah yang terbit secara online maupun offline, sehingga diperoleh informasi yang komprehensif mengenai bioaktivitas AI. Sebagai obat tradisional AI digunakan untuk obat kolesterol dan rematik. Kandungan metabolit sekunder AI berupa saponin, flavonoid, steroid, fenol, alkaloid, tanin, dan glikosida jantung. Bioaktivitas AI antara lain: anti mikroba, antioksidan, anti diabetes melitus, anti kanker, anti stroke dan meningkatkan kualitas sperma. Aktivitas anti mikroba AI berhubungan dengan kandungan flavonoid dan alkaloid. Mikroba merupakan salah satu penyebab keracunan makanan, oleh karena itu bioaktivitasnya AI sebagai anti mikroba berpotensi sebagai pengawet makanan.
Essential Oil pada Cymbopogon citratus (DC.) Stapf Dan Bioaktivitasnya Marina Silalahi
Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences Vol 12 No 1 (2020): Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences - January 2020
Publisher : Universitas Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.928 KB) | DOI: 10.30599/jti.v12i1.538

Abstract

Cymbopogon citratus (DC.) Stapf yang dikenal sebagai serai merupakan salah satu jenis tumbuhan penghasil essential oil. Essential oil merupakan senyawa aromatis yang banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi atau dalam bidang pengobatan. Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan essential oil yang terdapat pada C. citratus dan bioaktivitasnya. Penulisan artikel ini didasarkan pada kajian literatur yang diperoleh secara online maupun offline meliputi Scopus, Pubmed, dan jurnal ilmiah lainnya. Cymbopogon citratus dalam pengobatan tradisional digunakan sebagai ramuan sauna tradisonal, rematik, gangguan saluran pencernaan, gangguan sistem saraf, demam, dan diabetes mellitus. Essential oil merupakan senyawa kompleks, namun oleh berbagai ahli diklasifikasikan ke dalam empat kelompok yaitu (1) senyawa alifatik, (2) terpen dan derivatnya, (3) derivat benzena, dan (4) senyawa miscellaneous. Ektsrak C. citratus memiliki aktivitas sebagai antimikroba, analgesik, dan anti inflamasi. Pemanfaatan C. citratus dalam industri makanan dan minuman perlu diteliti lebih lanjut sehingga dapat berdampak ganda sebagai makanan atau minuman yang menyehatkan.
Pemanfaatan dan Bioaktivitas Bilimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Marina Silalahi
Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences Vol 13 No 1 (2021): January Edition
Publisher : Universitas Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30599/jti.v13i1.843

Abstract

Averrhoa bilimbi atau yang dikenal juga sebagai bilimbing wuluh atau bilimbing sayur merupakan tumbuhan yang memiliki banyak manfaat. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan pemanfaatan dan bioaktivitas A. bilimbi. Penulisan artikel didasarkan pada literature review pada berbagai hasil penelitian yang terbit secara online terutama di Google scholar dengan menggunakan kata kunci A. bilimbi, uses of A. bilimbi dan biactivities A. bilimbi. Informasi yang diperoleh disintesakan sehingga bisa menjelaskan hubungan pemanfaatan A. bilimbi dengan biaktivitasnya. Dalam pengobatan tradisional AB digunakan untuk menyembuhkan hipertensi, menyembuhkan batuk, masuk angin, gatal-gatal, bisul, rematik, sifilis, kencing manis, batuk rejan, diabetes mellitus dan dislipidemia. Averrhoa bilimbi memiliki biaoktivitas sebagai antimiikroba, antioksidan, anti kanker, anti hiperlipidemia dan antidiabetes mellitus. Averhoa bilimbi sangat potensial dikembangkan sebagai nutraseutika yaitu bahan pangan sekaligus memiliki efek yang menyehatkan terutama sebagai antimikroba dan anti kanker.
HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA DENGAN PENERAPAN PENDEKATAN JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS) PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN DI SMA BUDI MULIA KOTA BOGOR Rifana Desi Rosalia; Fajar Adinugraha; Marina Silalahi
Bioed : Jurnal Pendidikan Biologi Vol 9, No 2 (2021): BIOED : Jurnal Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.477 KB) | DOI: 10.25157/jpb.v9i2.6282

Abstract

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menganalisis hasil belajar kognitif siswa dan skor Keterampilan Proses Sains (KPS) siswa pada materi pencemaran lingkungan sebelum dan sesudah penerapan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar. Metode penelitian menggunakan metode pre-eksperimental design dengan one group pre-test post-test. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2020/2021 di bulan Maret sampai Juni 2021. Populasi penelitian ini yaitu siswa kelas X MIPA SMA Budi Mulia Bogor dengan kelas penelitian X MIPA 2 dan X MIPA 3. Teknik analisis data dengan statistik desktiptif. Rerata nilai hasil belajar kognitif kelompok pre-test, yaitu 72.38 dan kelompok post-test, yaitu 86.25 dengan sekitar 13. 87 poin. Rerata skor KPS sebelum dan sesudah penerapan JAS secara berturut-turut adalah 108.06 dan 110.29 dengan peningkatan skor sebanyak 2.23 poin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara rerata nilai hasil belajar kognitif pre-test dan post-test menggunakan pendekatan JAS di mana melaui Uji Wilcoxon ditunjukkan Whitung = 58,8 < Wtabel = 772, sehingga Ho ditolak dan H1 diterima. Selanjutnya, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata skor KPS sebelum dan sesudah penerapan pendekatan JAS pada materi pencemaran lingkungan. Hal ini dibuktikan dengan Uji Wilcoxon yang menunjukkan Whitung = 812 > Wtabel = 772, sehingga Ho diterima dan H1 ditolak.Kata kunci, Hasil Belajar Kognitif, Jelajah Alam Sekitar, Keterampilan Proses Sains, Pencemaran Lingkungan
The Utilization of Pasak Bumi Plants (Eurycoma longifolia Jack.) as Traditional Medicine and Its Bioactivity Marina Silalahi
Eureka Herba Indonesia Vol. 1 No. 2 (2020): Eureka Herba Indonesia
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/ehi.v1i2.9

Abstract

Pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) is a species belonging to Simarobuaceae that has been long used as traditional medicine, which is known very well as an aphrodisiac. The studies have been conducted to reveal the benefits of E. longifolia through ethnobotany, phytochemical, and bio essay approaches, but the review articles on its utilization and bioactivity are limited. This article is based on scientific articles published online or offline, then synthesized so that to be information on the relationship between use and bioactivity. Ethnobotany of E. longifolia has been used as a medicine for fever, malaria, improved stamina, diabetes, cancer, aphrodisiac, and erectile dysfunction. The bioactivity of E. longifolia is antiosteoporotic, antimicrobial, aphrodisiac, anticancer, angiogenesis, and hepatoprotective. Eurycomanone is a secondary metabolite in E, longifolia has activity as an antimalaria, antipyretic, aphrodisiac, and cytotoxic. The quassinoids, coumarin, and glycosides of El have activity increase the production, quality, totality, synthesis, and release of spermatozoa. Eurycoma longifolia is very potential to be developed as an antiosteoporotic and a prosidiac drug, but until now most of it is harvested directly from the forest, so to preserve it, we need to study the cultivation method.
Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe: Benefits and Bioactivity Marina Silalahi
Eureka Herba Indonesia Vol. 1 No. 2 (2020): Eureka Herba Indonesia
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/ehi.v1i2.10

Abstract

Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe or Temu Putih is a native plant in India and has been long cultivated in Indonesia. By the local communities in Java, it has been used as a component of the Jammu and the traditional medicine. This article is based on literature from offline and online media. Offline literature used the books, whereas online media used Web, Scopus, Pubmed, and scientific journals. Based on a study of ethnobotany Curcuma zedoaria was used as medicine and spices. The main secondary metabolites of Curcuma zedoaria rhizomes are terpenoids, especially sesquiterpenoids and monoterpenoids. Curcuma zedoaria have bioactivities as anticholesterol, anti-tumor/cancer, anti-inflammation, fever, antipyretic, analgesic dan anti-microbial
The ethnobotony and local knowledge of sayur asem by the vegetable traders Marina Silalahi; Riska Septia Wahyuningtyas
JPBIO (Jurnal Pendidikan Biologi) Vol 6, No 1 (2021): April 2021
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpbio.v6i1.838

Abstract

The sayur asem is one of the traditional Indonesian dishes, especially the Betawi ethnic group. This study aims to document the local knowledge of vegetable traders in the Kranggan Mas market, the diversity of plants used as an ingredient in sayur asem. The method used in this research was a survey. Data were analyzed qualitatively and descriptively. The sayur asem is a soup-like vegetable that has a sour taste with the main ingredients of melinjo (Gnetum gnemon) leaves and seeds and tamarind fruit (Tamarindus indica). The total of 13 species belonging 12 genera and 10 families used to process of making sayur asem. The part of used to process of making sayur asem is dominated by fruits (8 species), followed leaves and tubers (each 2 species). The melinjo (G. gnemon) is the main ingredient in the making of sayur asem, while Alphinia galanga, Syzygium polianthum and Tamarindus indica are the main spices with a larger volume. The main ingredients and seasonings used mostly have antioxidant and antimicrobial activity and are therefore very good at supporting digestive tract health and providing healthful effects.Keywords: Antioxidant, antimicrobial, gnetum gnemom, tamarindus indica