Claim Missing Document
Check
Articles

Evaluasi Program Jumat Bersih (Jumsih) Model CIPP di Desa Cikeusi Kab. Sumedang Nurjannah, Nisa; Sukmana, Cucu
Dikmas: Jurnal Pendidikan Masyarakat dan Pengabdian Vol 4, No 1 (2024): March
Publisher : Magister Pendidikan Nonformal Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/dikmas.4.1.1-6.2024

Abstract

Kegiatan Jumat bersih atau Jumsih merupakan hasil dari inisiatif Masyarakat terhadap kebersihan maupun keindahan lingkungan disekitar tempat tinggal atau suatu wilayah yang ditempati. dibutuhkan pengujian berupa evaluasi untuk mengukur seberapa jauh program tersebut berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan awal. Metode pelaksanaan dilakukan dengan melakukan observasi. Program Jumat Bersih memilikitotal penilaian 14 poin positif (73,7%) dan 5 poin menengah (26,3%). hasil survei menunjukkan kecenderungan positif, dimana mayoritas responden berpendapat bahwa program ini berjalan dengan baik.
Peran Tokoh Masyarakat dalam Pelestarian Kearifan Lokal Pasca Ketiadaan Kepala Adat di Desa Adat Cireundeu Cimahi Putri Nayla Ayubia; Cucu Sukmana; Asep Saepudin
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 10 No 3 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v10i3.27157

Abstract

Establishing a cultural community becomes a valuable asset capable of supporting the dissemination of cultural values. The community in Kampung Adat Cireundeu Village, Cimahi City has long upheld traditional values. This research aims to explain how the Cireundeu community can preserve and maintain its culture despite the absence of an official adat leader. Using a qualitative method with a case study approach, data collection techniques were derived from interviews, observations, and documentation studies. This research found that the Cireundeu community successfully overcame this challenge through collective leadership mechanisms and the use of modern technology. Community figures, including elders and the deputy adat leader, play a crucial role in preserving customs and traditions through the effective distribution of responsibilities and active involvement in various customary activities. Despite facing some obstacles, such as uncertainty in decision-making and suboptimal coordination, the Cireundeu community has adopted adaptive strategies that allow them to maintain cultural preservation and ensure their social continuity. This research demonstrates that even without an Indigenous leader, community strength, local figures, and local innovation can support cultural preservation in sustaining the Indigenous community.
SELECTIVE ATTENTION MAHASISWA DALAM SITUASI DISTRAKSI SENSORIK: STUDI KASUS RESPONS TERHADAP STIMULUS MAKAN DAN MUSIK Nurlaelasari, Nurlaelasari; Ghautama, Hellen Lie Grace; Izzuddin, Fathan Muhammad; Dahlan, Tina Hayati; Sukmana, Cucu
Jurnal Visi Ilmu Pendidikan Vol 18, No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jvip.v18i1.94441

Abstract

This study explores how university students experience and manage selective attention in learning situations accompanied by sensory distractions such as music and food. Employing a qualitative exploratory case study design, three students participated in four reading simulations involving different text types and sensory stimuli. The findings reveal that selective attention is an adaptive process shaped by emotional states, sensory preferences, and metacognitive strategies. Preferred music enhanced emotional comfort and supported focus, while disliked music and crunchy foods disrupted cognitive processing. The type of text also played a role"”narrative texts in the native language were easier to comprehend than academic texts in a foreign language. Emotions emerged as a key mediator between distraction and comprehension, and cognitive flexibility proved essential in maintaining learning performance under multitasking conditions. These findings offer valuable insights into the complexities of attention in everyday learning environments marked by frequent distractions.
Enhancing PKBM Institutional Governance: A Strategic Model for Strengthening Managerial Competence Oong Komar; Cucu Sukmana; Budi Setiawan
Journal Evaluation in Education (JEE) Vol 6 No 2 (2025): April
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/jee.v6i2.1458

Abstract

Purpose of the study: This research describes the governance of managers in organizing programs in non-formal education units at Community Learning Activity Center (PKBM) of Al Insan Cikeusi Village Darmaraja District Sumedang Regency. Therefore, this study aims to initiate alternative solutions to the problem by searching and finding a product model of PKBM institutional governance in improving their competence. Methodology: The research design uses a qualitative descriptive approach. Data collection using interview techniques, observation, and documentation. Data analysis as an interactive model. Main Findings: The expected research results reveal the design of the PKBM Institution Governance model in improving the competence of PKBM Al Insan managers. The elements of the educational process are very influential on the course of the implementation process, these elements are the manager as the subject of program implementation, the subject being guided (students / learning citizens), the person who guides (educators / tutors), the interaction between students and educators. Likewise, governance, approaches, strategies and techniques in organizing programs are arranged into a unified system that makes more use of environmental conditions. Programs in non-formal education units have met the level of community needs for the importance of education. Novelty/Originality of this study: The output in this study created a product model of PKBM Institution Governance, national articles, HKI, mass media and governance guidelines and teaching materials for the PKBM Institution governance model.
Penguatan kapasitas kelembagaan PKBM Ash-Shoddiq melalui pelatihan berbasis andragogi di Kampung Babakan Bandung Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang Bandung Barat Oong Komar; Ade Sadikin Akhyadi; Cucu Sukmana
Jurnal Abmas Vol. 17 No. 1 (2017): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v17i1.37295

Abstract

Pengabdian masyarakat berbasis bidang ilmu ini ditujukan untuk dapat memberikan penguatan pada mitra PKBM Ash-Shoddiq sebagai pusat dari berbagai kegiatan yang ada di wilayah Desa Pagerwangi. PKBM Ash-Shoddiq memiliki potensi dalam mengembangkan berbagai program di wilayah desa ini karena letak dan kondisi geografis yang mendukung dan merupakan jalur wisata dengan daerah pertanian dan perkebunan. Belum optimalnya kinerja pengelola lokal dan belum maksimalnya upaya dalam mengembangkan program-program dari setiap program yang ada, menjadi permasalahan utama dari lembaga ini. Permasalahan ini memunculkan perlu adanya upaya dari tim pelaksana untuk dapat membantu dengan menyelenggarakan pembinaan dan pelatihan juga pendampingan dalam mengoptimalkan kapasitas lembaga PKBM Ash-Shoddiq di Kp. Babakan Bandung Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang Bandung Barat Provinsi Jawa Barat. Program pengabdian ini memiliki batasan dan fokus pada aspek kegiatan yang akan dikaji, merujuk pada rumusan masalah sebagai berikut: "Bagaimanakah Penguatan Kapasitas Kelembagaan PKBM Ash-Shoddiq Melalui Pelatihan Berbasis Andragogi?" Hasil kegiatan program pengabdian pada masyarakat pada Penguatan Kapasitas Kelembagaan PKBM Ash-Shoddiq Melalui Pelatihan Berbasis Andragogi, di antaranya: 1) Tergambarkannya kondisi objektif PKBM Ash-Shoddiq. Berdasarkan hasil dokumen profil PKBM dan implementasi program di PKBM Ash-Shoddiq terdapat beberapa program, sumber daya manusia, dan administrasi lembaga yang tidak sesuai antara harapan dengan kenyataan implementasi di lapangan. Kondisi objektif tersebut sebagai berikut: a) Program yang tertulis di profil berjumlah 10 program dengan program yang aktif berjumlah 5 program sedangkan program yang pasif atau belum optimal berjumlah 5 program. b) Sumber daya manusia dilihat dari latar belakang pendidikan rata-rata pengelola dan tutor lulusannya dari jenjang SD sampai jenjang S2 perguruan tinggi. Administrasi di PKBM Ash-Shoddiq berdasarkan hasil pengamatan di lapangan masih belum optimal, terutama administrasi tiap program dan administrasi lembaga PKBM Ash-Shoddiq.; 2) Mendeskripsikan implementasi program pengabdian masyarakat sebagai berikut: a) Rekrutmen calon peserta; b) Menciptakan iklim yang kondusif; c) Menyusun rancangan program pelatihan; d) Mendiagnosa kebutuhan pelatihan; e) Merumuskan tujuan pelatihan; f) Menyusun rancangan pelatihan; g) Kegiatan belajar; h) Penilaian proses dan hasil belajar.; 3) Tergambarkannya partisipasi pengelola dan pendidik PKBM Ash-Shoddiq pada pelatihan berbasis andragogi terbagi tiga bentuk partisipasi sebagai berikut: a) Ide/gagasan/pemikiran; b) Tenaga; c) Materi. Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan penguatan kapasitas kelembagaan PKBM Ash-Shoddiq sebagai upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas masyarakat di PKBM Ash-Shoddiq.
SUSTAINABILITY-IN-ACTION: IMPLEMENTASI CHSE PADA RANTAI NILAI WISATA DESA OLEH PEMUDA KARANG TARUNA Eko Sulistiono; Uyu Wahyudin; Cucu Sukmana; Mohamad Hadi Ali Mutamam
Comm-Edu (Community Education Journal) Vol. 9 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : IKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/comm-edu.v9i1.29803

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana prinsip Clean, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) dioperasionalisasikan sepanjang rantai nilai (value chain) wisata desa melalui kepeloporan pemuda di Desa Pager Wangi. Menggunakan desain kualitatif—studi kasus deskriptif—data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, FGD, serta telaah dokumen program. Analisis dilakukan dengan thematic analysis (pengodean terbuka–aksial) dan pemetaan rantai nilai (hulu–hilir) untuk memeriksa titik sentuh CHSE pada proses kurasi produk, layanan, dan pengalaman pengunjung. Hasil menunjukkan lima temuan utama: (1) standardisasi kebersihan dan sanitasi yang terukur (SOP, checklist, rotasi tugas) meningkatkan konsistensi layanan; (2) health literacy aktor lokal menumbuhkan disiplin etik pelayanan dan komunikasi risiko; (3) sistem keamanan berbasis komunitas (identifikasi bahaya, wayfinding, P3K, incident log) menurunkan service failure; (4) tata kelola lingkungan menyeimbangkan nilai ekonomi–ekologi melalui penataan sampah, pembatasan daya dukung, dan substitusi material; (5) orkestrasi pemuda atas rantai nilai (dari pemasok hingga after-visit care) mempercepat pembelajaran organisasi, keterlibatan UMKM, dan spillover manfaat ekonomi. Diskusi menautkan praktik ini dengan kerangka CBT (Community-Based Tourism), triple bottom line, dan pedoman global pariwisata pascapandemi. Artikel menutup dengan implikasi kebijakan dan riset, termasuk metrik keberlanjutan operasional, visitor journey analytics, serta tata kelola kemitraan publik-komunitas
Participatory Learning in the Utilization of Social Media: A Study on PIK-R Well Majalaya in Child Marriage Prevention Education Deti Nudiati; Cucu Sukmana; Irma Darmawanti; Muhamad Hadi Ali Mutamam; Bangkit Alamsyah; Mildrett de Fatima Jalane
JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat) Vol. 13 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Departement of Nonformal Education, Graduate Scholl of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jppm.v13i1.89673

Abstract

Child marriage is still a serious issue in Indonesia that has an impact on reproductive health, education, and the quality of life of adolescents. This study aims to analyze the digital strategy of the Well Majalaya Youth Information and Counseling Center (PIK-R Well) for its Instagram campaign to prevent child marriage. Data were collected through analysis of 10 Instagram posts from June-July 2025 and through a Focus Group Discussion (FGD) with PIK-R Well administrators, using the Kolb Experiential Learning approach. The results showed that event-themed and collaborative posts had wide reach, but more meaningful engagement came from factual educational content, albeit with fewer views. Through the FGD, PIK-R Well administrators reflected on their experiences, identified weaknesses in previous digital strategies, and formulated new strategies, including increasing the frequency and variety of content, using a call to action (CTA), and fostering digital collaboration with schools and communities. This study concludes that social media can serve not only as a promotional tool but also as an experiential learning space that strengthens organizational capacity and increases adolescents’ awareness of the dangers of child marriage.
Implementation of deep learning approach in equivalency education at PKBM Al Insan Nurul Haifa; Elih Sudiapermana; Nike Kamarubiani; Sodikin Sodikin; Cucu Sukmana
Curricula: Journal of Curriculum Development Vol. 4 No. 2 (2025): Curricula: Journal of Curriculum Development
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/curricula.v4i2.88482

Abstract

Equivalency education serves as a crucial alternative for providing learning opportunities to individuals excluded from formal schooling, particularly adults with diverse backgrounds and learning needs. However, learning practices in PKBM (Community Learning Centers) often remain instructional and fail to address the demand for contextual and meaningful education. This study aims to examine the implementation of a deep learning approach in the planning, implementation, and evaluation stages of the learning process within the Paket C Equivalency Program at PKBM Al Insan, Sumedang. Employing a descriptive qualitative method, data were collected through Focus Group Discussions (FGDs), observations, and in-depth interviews. Thematic analysis was employed to identify key patterns related to the study’s focus. The findings suggest that learning practices are beginning to reflect the principles of mindful, meaningful, and joyful learning, although they have not yet been systematically applied. Flexibility in scheduling and close tutor-learner relationships emerged as major strengths, while key challenges included limited theoretical understanding among tutors and the absence of structured evaluation tools. The study recommends enhancing tutor capacity and developing contextual learning instruments to support better the application of the deep learning approach in non-formal equivalency education.   Abstrak Pendidikan kesetaraan menjadi alternatif penting dalam menyediakan layanan pendidikan bagi kelompok masyarakat yang tidak terjangkau pendidikan formal, termasuk orang dewasa dengan latar belakang dan kebutuhan belajar yang beragam. Namun, praktik pembelajaran di PKBM seringkali masih bersifat instruksional dan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pembelajaran yang bermakna dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi pendekatan deep learning dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada Program Pendidikan Kesetaraan Paket C di PKBM Al Insan, Sumedang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui Focus Group Discussion (FGD), observasi, dan wawancara mendalam. Data dianalisis menggunakan pendekatan tematik untuk mengidentifikasi pola temuan sesuai fokus penelitian. Hasil menunjukkan bahwa praktik pembelajaran telah mengarah pada prinsip mindful, meaningful, dan joyful learning, meskipun belum diterapkan secara sistematis. Fleksibilitas waktu dan hubungan personal antara tutor dan peserta menjadi kekuatan utama, sementara kendala muncul pada aspek pemahaman teoritik tutor dan keterbatasan perangkat evaluasi. Studi ini merekomendasikan penguatan kapasitas tutor dan pengembangan perangkat ajar kontekstual sebagai upaya mengoptimalkan pendekatan deep learning dalam pendidikan kesetaraan. Kata Kunci: deep learning; PKBM; pendidikan kesetaraan
Academic policy for establishing new junior high schools in South Tangerang City Mustofa Kamil; Neneng Nurjanah; Muhammad Yus Firdaus; Bambang Mardi Sentosa; Purnomo Purnomo; Cucu Sukmana
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.74566

Abstract

This study explores the academic policy regarding establishing new Junior High Schools (SMP) in South Tangerang City in response to the rising number of Elementary School (SD) graduates and the limited availability of secondary education facilities. Using a theoretical and quantitative approach, the research applies the "Social Demand Approach" planning model to identify the need for new schools. Findings reveal a significant imbalance between the number of SD and SMP, particularly in Setu, North Serpong, Pondok Aren, and Ciputat sub-districts, highlighting an urgent need for new school units (USB) and classrooms (RKB) to ensure equitable access to quality education. The analysis is supported by geographic and demographic data, considering essential variables such as student group sizes (rombel). Therefore, the policy for establishing new schools in South Tangerang City must be implemented promptly to address primary and secondary education challenges, ensuring adequate facilities for the growing student population. The research emphasizes the importance of addressing educational infrastructure needs to support student's educational progress and highlights the critical role of geographic information systems (GIS) in mapping school locations and planning future school development.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi kebijakan akademik terkait pendirian Sekolah Menengah Pertama (SMP) baru di Kota Tangerang Selatan sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah lulusan Sekolah Dasar (SD) dan terbatasnya ketersediaan fasilitas pendidikan menengah. Dengan menggunakan pendekatan teoritis dan kuantitatif, penelitian ini menerapkan model perencanaan "Social Demand Approach" untuk mengidentifikasi kebutuhan akan sekolah baru. Temuan menunjukkan ketidakseimbangan yang signifikan antara jumlah SD dan SMP, khususnya di kecamatan Setu, Serpong Utara, Pondok Aren, dan Ciputat, menyoroti kebutuhan mendesak akan unit sekolah baru (USB) dan ruang kelas (RKB) untuk memastikan akses yang merata terhadap pendidikan berkualitas. Analisis didukung oleh data geografis dan demografis, mempertimbangkan variabel penting seperti ukuran kelompok peserta didik (rombel). Oleh karena itu, kebijakan pendirian sekolah baru di Kota Tangerang Selatan harus dilaksanakan segera untuk mengatasi tantangan dalam pendidikan dasar dan menengah, serta memastikan fasilitas yang memadai bagi populasi peserta didik yang berkembang. Penelitian ini menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan infrastruktur pendidikan untuk mendukung kemajuan peserta didik. Sistem informasi geografis (GIS) memainkan peran penting dalam pemetaan lokasi sekolah dan perencanaan pengembangan pendidikan di masa depan. Kata Kunci: kebijakan pendidikan; kelompok belajar pendirian SMP; social demand approach
Pengelolaan layanan perpustakaan khusus: Pengalaman praktis di Perpustakaan DPR RI Purnomo Purnomo; Eko Sulistiono; Cucu Sukmana; Ade Romi Rosmia; Mohamad Hadi Ali Mutamam; Tuti Alawiyah; Diemas Arya Komara
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 4 No. 1 (2026): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v4i1.579

Abstract

The Community Learning Center (CLC) in Kota Kinabalu, Malaysia, provides basic education for the children of Indonesian migrant workers, but the teachers face challenges with digital literacy, pedagogical competence, and professional isolation due to the center's remote location on a plantation. This community service activity aims to develop and implement an e-collaborative learning platform to strengthen CLC teachers' competencies through a continuous, technology-integrated capacity-building model. The program is implemented through six participatory stages based on the Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) and Outcome-Based Education frameworks. This includes a needs analysis, the design of a WordPress-based platform called EduKolab, and interactive training on quality assurance, andragogy, and digital learning for participating teachers. This activity was attended by 20 CLC teachers from various regions in Sabah. The evaluation combined pre- and post-tests with the TPACK Likert-scale instrument and reflective interviews, and analyzed them using N-Gain and thematic analysis. Teachers demonstrated substantial improvements across all competency indicators, reflected in increased digital self-efficacy, the formation of cross-site professional learning communities, and a stronger understanding of andragogical principles in serving adult learners. Integrating TPACK with social constructivism and adult learning principles effectively addresses teacher competency gaps in cross-border educational contexts and offers a replicable model for other CLC.
Co-Authors Achmad Hufad Ade Romi Rosmia adi Ali Mutamam, Mohamad Ainul Ilmi, Luthfi Mufthi Akhyadi, Ade Sadikin Andika Pratama Aq Zahra, Dera Isgi Ardiwinata, Jajat Sudrajat Asep Saepudin Auli Fathan Rosyadi Bambang Mardi Sentosa Bangkit Alamsyah Budi Setiawan Dadang Yunus Lutfiansyah dadang yunus lutfiansyah dadang yunus lutfiansyah Dadang Yunus Lutfiansyah, Dadang Yunus DEWI SARTIAMI Diemas Arya Komara Eko Sulistiono Eko Sulistiono Elih Sudiapermana, Elih Emi, Chiara fadlika, elsya nurul Falah, Thufail Ammar Gabriela, Gabriela Ghautama, Hellen Lie Grace Henny Helmi Hidayat, Salsabila Maura Hidayat Hoerniasih, Nia Ida Ayu Putu Sri Widnyani Ihat Hatimah ihat hatimah ihat hatimah Indradewa, Rhian Inoue, Hiromu Irma Darmawanti Izzuddin, Fathan Muhammad Jajat S Ardiwinata, Jajat S Jajat S. Ardiwinata, Jajat S. Jaliel, Nabiel Abdul Kartini, Apriani Dwi Mildrett de Fatima Jalane Mohamad Hadi Ali Mutamam Muhamad Hadi Ali Mutamam Muhammad Yus Firadus Muhammad Yus Firdaus Mulyana, Enceng Mustofa Kamil Mustofa Kamil, Mustofa Mutamam, Mohamad Hadi Ali Mutamam, Mohamad Hadi Ali Mutamam5 Natalini Nova Kristina Neneng Nurjanah Neneng Nurjanah Nike Kamarubiani Nudiati, Deti Nunu Heryanto Nunu Heryanto, Nunu Nurhadi, Masdian Nurjannah, Nisa Nurlaelasari, Nurlaelasari Nurul Haifa Nurul Khumaida Oong Komar P. Purnomo Permatasari, Vini Rizky Pramudia, Joni Rahmat Purnomo Purnomo Purnomo Purnomo Purnomo Purnomo Purnomo Pusya, Bunga Meila Putri Nayla Ayubia Rahmat Pramudia, Joni Salsabila, Syalwa Putri Sodikin Sodikin Sodikin Sri Nurhayati Syifa Nurul Hasanah Tina Hayati Dahlan, Tina Hayati Tri Lestari Mardiningsih, Tri Lestari Tuti Alawiyah Uyu Wahyudin Uyu Wahyudin Windarsih, Chandra Asri Yulia Fitriani, Yulia Yunus, Dadang Zahra Ikhsania Putri