Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Isamic Communication Journal

Pilgrimage as a form of transcendental communication: A study at the burial site of Habib Abdurrahman bin Abdullah Al-Habsyi Achmad Jamil; Rizki Briandana; Ahmad Hannan; Muhammad Raqib Mohd Sofian
Islamic Communication Journal Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2022.7.2.12526

Abstract

Transcendental communication is a part of ritual communication. This form of communication is the least discussed in the discipline of communication. This study discusses transcendental communication in a pilgrimage to the burial site of Habib Abdurrahman in Cikini, Jakarta. The paradigm of this study is a constructivist paradigm using a qualitative approach with a case study method. The techniques used for data collection are interviews, observation, literature study, and documentation. The results show that the meaning of pilgrimage as a medium for transcendental communication is built on three things, namely, communicative situations, communicative events, and communicative acts, all of which can be observed from the attitudes of the pilgrims. These three elements are based on spiritual values in Islamic religious beliefs strengthened by the Sunnah of the Prophet Muhammad and continued by generations after that until today. Thus, this study contributes to the existence of Islamic communication scholarship where every communication behavior in everyday life is always based on human personal communication with the creator.***Salah satu bentuk komunikasi ritual adalah komunikasi transendental. Bentuk komunikasi transendental ini paling sedikit dibicarakan dalam disiplin ilmu komunikasi. Studi ini bertujuan membahas komunikasi transendental dalam ziarah ke makam Habib Abdurrahman di Cikini, Jakarta. Paradigma pada penelitian ini adalah paradigma konstruktivis dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, studi kepustakaan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan makna ziarah sebagai media komunikasi transendental dibangun pada 3 hal yaitu, situasi komunikatif, peristiwa komunikatif, dan tindak komunikatif, yang ketiganya dapat diamati dari sikap para peziarah. Ketiga elemen itu didasari atas nilai-nilai spiritual dalam keyakinan agama Islam yang dikuatkan oleh Sunnah Nabi Muhammad dan dilanjutkan oleh generasi-generasi setelahnya sehingga saat ini. Dengan demikian, studi ini berkontribusi bagi eksistensi keilmuan komunikasi Islam dimana setiap perilaku komunikasi berbasis pada komunikasi personal manusia dengan sang pencipta.
The role of film in environmental communication: An audience interpretation in Indonesia and Malaysia Briandana, Rizki; Mohamad Saleh, Mohamad Saifudin; Dwityas, Nindyta Aisyah
Islamic Communication Journal Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.21947

Abstract

Film is a form of communication that has the power to persuade   viewers to alter their perceptions and actions in order to support the communicator's chosen media agenda. Politics is the topic that is frequently covered in movies. In the documentary The Years of Living Dangerously, the topic of global warming is viewed from the angle of societal issues, offering a  fresh perspective to the audiences. The issue of environmental destruction that took place all across the world served as the theme. The concern highlighted in the movie is that its magnitude has significantly increased global greenhouse gas emissions. Deforestation in Indonesia and Malaysia was one of the topics  brought up. This study aims to analyze the audience's interpretation of the role of film in communicating environmental communication. This study used the reception analysis method with the FGD data collection technique. The informants in this study are audiences in Indonesia and Malaysia.  The results of this study indicate that environmental communication in Indonesia and Malaysia which discuss deforestation issues are interpreted by the public as part of social problems that are difficult to control. Meanwhile, the government is framed as a political communicator that is not transparent, causing public distrust.*****Film merupakan salah satu bentuk komunikasi yang memiliki kekuatan untuk membujuk pemirsa agar mengubah persepsi dan tindakannya guna mendukung agenda media yang dipilih komunikator. Politik adalah topik yang sering diangkat dalam film. Dalam film dokumenter The Years of Living Dangerously, topik pemanasan global dilihat dari sudut pandang isu-isu kemasyarakatan, sehingga menawarkan perspektif baru kepada penontonnya. Isu kerusakan lingkungan yang terjadi di seluruh dunia menjadi tema yang diangkat. Kekhawatiran yang disoroti dalam film ini adalah besarnya dampak buruk ini telah meningkatkan emisi gas rumah kaca global secara signifikan. Deforestasi di Indonesia dan Malaysia menjadi salah satu topik yang diangkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interpretasi penonton terhadap peran film dalam mengkomunikasikan komunikasi lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode analisis resepsi dengan teknik pengumpulan data FGD. Informan dalam penelitian ini adalah khalayak di Indonesia dan Malaysia.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi lingkungan hidup di Indonesia dan Malaysia yang membahas isu deforestasi dimaknai oleh masyarakat sebagai bagian dari permasalahan sosial yang sulit dikendalikan. Sementara itu, pemerintah dibingkai sebagai komunikator politik yang tidak transparan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat.
Pro-Palestinian netizen cyber activism through the Julid Fi Sabilillah movement on Instagram Amrullah, Haekal Fajri; Bate, Andi Pajolloi; Briandana, Rizki
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.22395

Abstract

This study investigates the Julid Fi Sabilillah movement, a pro-Palestinian cyber activism initiative on Instagram formed by Indonesian netizens in response to the Al-Aqsa Hurricane attack by Israel. The emergence of a social movement on social media called Julid Fi Sabilillah became a mutually supportive virtual community that was formed to fight Israeli propaganda and its supporters on social media by trolling, cursing, and terrorizing the social media accounts of Israeli supporters. This research aims to find out and analyze how Julid Fi Sabilillah's activism on Instagram social media creates propaganda and mental attacks and creates negative issues for Israeli supporters on social media. Using a qualitative approach and case study method, this research revealed that the Julid Fi Sabilillah movement successfully countered the narrative supporting Israel on Instagram. Findings reveal that the movement has effectively disrupted pro-Israel accounts, causing psychological distress among supporters and amplifying global awareness of Palestine's plight. This digital activism highlights the potential of social media in uniting global efforts toward political and humanitarian causes. ***** Penelitian ini menyelidiki gerakan "Julid Fi Sabilillah", sebuah inisiatif aktivisme siber pro-Palestina di Instagram yang dibentuk oleh warganet Indonesia sebagai respons terhadap serangan Badai Al-Aqsa oleh Israel. Munculnya gerakan sosial di media sosial yang bernama Julid Fi Sabilillah menjadi komunitas virtual yang saling mendukung yang terbentuk karena adanya tujuan melawan propaganda Israel dan pendukungnya di media sosial dengan cara trolling menghujat dan meneror akun media sosial pendukung Israel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana aktivitisme Julid Fi Sabilillah di media sosial Instagram dalam membuat propaganda, menyerang mental dan membuat isu negatif bagi pendukung Israel di media sosial. Dengan pendekatan Kualilatif dan metode studi kasus penelitian ini mengungkap bahwa gerakan Julid Fi Sabilillah berhasil melawan narasi pendukung Israel di Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan tersebut telah secara efektif mengacaukan akun-akun pro-Israel, menyebabkan tekanan psikologis di antara para pendukung dan meningkatkan kesadaran global akan penderitaan Palestina. Aktivisme digital ini menyoroti potensi media sosial dalam menyatukan upaya global menuju tujuan politik dan kemanusiaan.
The role of film in environmental communication: An audience interpretation in Indonesia and Malaysia Briandana, Rizki; Mohamad Saleh, Mohamad Saifudin; Dwityas, Nindyta Aisyah
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.21947

Abstract

Film is a form of communication that has the power to persuade   viewers to alter their perceptions and actions in order to support the communicator's chosen media agenda. Politics is the topic that is frequently covered in movies. In the documentary The Years of Living Dangerously, the topic of global warming is viewed from the angle of societal issues, offering a  fresh perspective to the audiences. The issue of environmental destruction that took place all across the world served as the theme. The concern highlighted in the movie is that its magnitude has significantly increased global greenhouse gas emissions. Deforestation in Indonesia and Malaysia was one of the topics  brought up. This study aims to analyze the audience's interpretation of the role of film in communicating environmental communication. This study used the reception analysis method with the FGD data collection technique. The informants in this study are audiences in Indonesia and Malaysia.  The results of this study indicate that environmental communication in Indonesia and Malaysia which discuss deforestation issues are interpreted by the public as part of social problems that are difficult to control. Meanwhile, the government is framed as a political communicator that is not transparent, causing public distrust.*****Film merupakan salah satu bentuk komunikasi yang memiliki kekuatan untuk membujuk pemirsa agar mengubah persepsi dan tindakannya guna mendukung agenda media yang dipilih komunikator. Politik adalah topik yang sering diangkat dalam film. Dalam film dokumenter The Years of Living Dangerously, topik pemanasan global dilihat dari sudut pandang isu-isu kemasyarakatan, sehingga menawarkan perspektif baru kepada penontonnya. Isu kerusakan lingkungan yang terjadi di seluruh dunia menjadi tema yang diangkat. Kekhawatiran yang disoroti dalam film ini adalah besarnya dampak buruk ini telah meningkatkan emisi gas rumah kaca global secara signifikan. Deforestasi di Indonesia dan Malaysia menjadi salah satu topik yang diangkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interpretasi penonton terhadap peran film dalam mengkomunikasikan komunikasi lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode analisis resepsi dengan teknik pengumpulan data FGD. Informan dalam penelitian ini adalah khalayak di Indonesia dan Malaysia.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi lingkungan hidup di Indonesia dan Malaysia yang membahas isu deforestasi dimaknai oleh masyarakat sebagai bagian dari permasalahan sosial yang sulit dikendalikan. Sementara itu, pemerintah dibingkai sebagai komunikator politik yang tidak transparan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat.
Pro-Palestinian netizen cyber activism through the Julid Fi Sabilillah movement on Instagram Amrullah, Haekal Fajri; Bate, Andi Pajolloi; Briandana, Rizki
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.22395

Abstract

This study investigates the Julid Fi Sabilillah movement, a pro-Palestinian cyber activism initiative on Instagram formed by Indonesian netizens in response to the Al-Aqsa Hurricane attack by Israel. The emergence of a social movement on social media called Julid Fi Sabilillah became a mutually supportive virtual community that was formed to fight Israeli propaganda and its supporters on social media by trolling, cursing, and terrorizing the social media accounts of Israeli supporters. This research aims to find out and analyze how Julid Fi Sabilillah's activism on Instagram social media creates propaganda and mental attacks and creates negative issues for Israeli supporters on social media. Using a qualitative approach and case study method, this research revealed that the Julid Fi Sabilillah movement successfully countered the narrative supporting Israel on Instagram. Findings reveal that the movement has effectively disrupted pro-Israel accounts, causing psychological distress among supporters and amplifying global awareness of Palestine's plight. This digital activism highlights the potential of social media in uniting global efforts toward political and humanitarian causes. ***** Penelitian ini menyelidiki gerakan "Julid Fi Sabilillah", sebuah inisiatif aktivisme siber pro-Palestina di Instagram yang dibentuk oleh warganet Indonesia sebagai respons terhadap serangan Badai Al-Aqsa oleh Israel. Munculnya gerakan sosial di media sosial yang bernama Julid Fi Sabilillah menjadi komunitas virtual yang saling mendukung yang terbentuk karena adanya tujuan melawan propaganda Israel dan pendukungnya di media sosial dengan cara trolling menghujat dan meneror akun media sosial pendukung Israel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana aktivitisme Julid Fi Sabilillah di media sosial Instagram dalam membuat propaganda, menyerang mental dan membuat isu negatif bagi pendukung Israel di media sosial. Dengan pendekatan Kualilatif dan metode studi kasus penelitian ini mengungkap bahwa gerakan Julid Fi Sabilillah berhasil melawan narasi pendukung Israel di Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan tersebut telah secara efektif mengacaukan akun-akun pro-Israel, menyebabkan tekanan psikologis di antara para pendukung dan meningkatkan kesadaran global akan penderitaan Palestina. Aktivisme digital ini menyoroti potensi media sosial dalam menyatukan upaya global menuju tujuan politik dan kemanusiaan.
Co-Authors Abdul Haris Achmad Jamil Achmad Jamil Achmad Jamil Adhy Purnama, Adhy Adi Adrian Ahmad Hannan Ahmad Mulyana Aliagan, Isiaka Zubair Amer Qasem Amin, Chair Andhita Ramadhania Pristiawati Andi Adriansyah Andi Pajolloi Bate Anggraeni Ananda, Ida Anistya, Famelia Annisa Hakim Zamzami Ari Sulistyanto Arief Bowo Prayoga Kasmo Ariska, Cynthia Aristia Ningrum, Dian Asep Sunandar Azman Azwan Azmawati Azmawati, Azman Azwan Chinmi, Maichel Dafit Feriyanto Damayati, Anindita Dicky Andika Edi Pribadi Eka Perwitasari Fauzi Eli Jamilah Mihardja Elly Yuliawati Endi Rekarti, Endi Eni Kusti Rahayu Erna Setiany Fahmi Fotaleno Feni Fasta Fitri Aprilia Galuh Dinda Utami Haekal Fajri Amrullah Hana Rochani Gustasari Panggabean Harris Christanto Harry Harry Julpri Andika Kasiful Fadli KRISTIAWAN KRISTIAWAN Kristina Nurhayati Lucky Nugroho Maria Borges, Serilio Verdial Mayde, Putri Calista Mellisa Fransisca Mijan, Rohana Mohamad Saifudin Mohamad Saleh Mohamad Saleh, Mohamad Saifudin Mohd Sofian, Muhammad Raqib Mokhtarrudin Ahmad, Mokhtarrudin Muhammad Raqib Mohd Sofian Muhammad Raqib Mohd Sofian Natasia Angreani Nindyta Aisyah Dwityas Ningrum, Dwi Anggraini Puspa Ningrum, Dwi Anggraini Puspa Nurhalidah Nurhalidah Nurhayati, Kristina Pratiwi, Riri Putri, Yessi Mareta Andari Rahayu, Muthia Rahmadani, Rina Rahmani, Deanisa Ramadhan, Kurnia Reni Mayerni Rustono - Rustono Farady Marta Salsabilla Audinna Santa Lorita Sarata Balaya Septiana, Riyan Siti Hajariah Siti Hajariah, Siti Sofian, Muhammad Raqib Mohd Sri Hesti Syafril Tahar Tarodinarta, Firman Timea Gal Tirta Lestari Tjajadi, Octavia Putri Widyastuti Widyastuti Yananto Mihadi Putra