Claim Missing Document
Check
Articles

ISLAMISASI MAMBI ABAD 17 Herdian, Freddy; Hasriyodan; Dahlan; Susmihara
ISTIQRA: Jurnal Hasil Penelitian Vol. 11 No. 2 (2023): Juli - Desember 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/ist.v11i2.2145

Abstract

This study aims to reveal the Islamization of Mambi in the 17th century with main focuses. first, the socio-political religious conditions of the Mambi people before the arrival of Islam; second, the pattern of acceptance of Islam in Mambi; third, the contribution of Islam to religious understanding. The authors use historical methods to reveal these historical events, including the following stages: heuristics or data collection, source criticism, interpretation, and historiography. The approach used in research; is history, politics, religion, and sociology. The results of this study, firstly, the socio-political condition of religion before Islam in Mambi, that the religion that becomes the belief of the community is Mappurondo or Mappurondo. Mappurondo cannot be separated from the social, political, and cultural pre-Islamic Mambi. So Mappurondo is a framework of rules that regulates human procedures in social life. Society in this case is governed by human relations with others, the universe, and the Creator, usually called Dehata. The rules are formulated in Pemali Appa' Randanna (four prohibitions). Pemali Appa' Randanna are rules regarding the four basic elements of the human life cycle. Secondly, the acceptance of Islam in Mambi in the 17th century was brought by a figure who had a very broad understanding of religion. The Mambi people know him by the name Batua Muhammad Adil. Third, the contribution of Islam to religious understanding until now has been abandoned by Pamali Appa' Randanna. Contribution to social politics until now the election of leaders is no longer done in a monarchical manner
Ekspresi Tazkiyah al-Nafs dalam Pappaseng Susmihara, Susmihara; Nuraeni, Nuraeni; M, M. Dahlan; Yani, Ahmad
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.860

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang pappaseng Bugis yang merupakan ekspresi dari tazkiyah al-nafs dalam tasawuf yang mengandung nilai-nilai kebajikan. Pappaseng sebagai sebuah genre puisi dalam sastra Bugis secara subtansi memiliki relevansi dengan nilai-nilai Islam. Penelitian diawali dengan pemerolehan teks pappaseng yang dilakukan melalui sumber pustaka kemudian dipadukan dengan sumbersumber lisan. Analisis yang diterapkan menggunakan pendekatan antropologi agama yang bermaksud untuk mengungkap nilai-nilai kebajikan kehidupan yang terkandung dalam teks-teks pappaseng. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa, narasi pappaseng yang berkembang dalam masyarakat Bugis memiliki keselarasan dengan nilai-nilai Islam yang mencakup tiga aspek yaitu „tawakkal‟ yang di dalam pappaseng Bugis disebut pesona (pasrah kepada Tuhan); ukhuwah dalam pappaseng Bugis disebut assimellereng (persaudaraan); dan; shiddiq dalam pappaseng Bugis disebut lempu (jujur).
Strategi Pewarisan Nilai-Nilai Pappaseng dalam Masyarakat Bugis Wajo Yani, Ahmad; Susmihara, Susmihara; Nurkidam, A.
PUSAKA Vol 11 No 1 (2023): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang strategi pewarisan nilai-nilai pappaseng pada masyarakat Bugis Kabupaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan yang di dalamnya mengandung nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam masyarakat Bugis, seperti; lempu’ (kejujuran); acca (kecendekiaan), sitinaja (kepatutan), getteng (ketehuhan), reso (usaha), siri’ (prinsip malu). Kajian diawali dengan pemerolehan teks pappaseng melalui sumber pustaka, yang kemudian diintegrasikan dengan sumber lisan. Analisis menggunakan teknik antropologi budaya dengan tujuan mengungkap strategi pewarisan nilai-nilai pappaseng dalam masyarakat Bugis Wajo. Hasil kajian menunjukkan bahwa pewarisan nilai-nilai luhur pappaseng melalui internalisasi; pembiasaan secara konsisten dengan memberi keteladanan dan penanaman nilai sebagai tindakan keseharian seseorang atau kelompok masyarakat hingga terjadi penyerapan nilai, norma, atau aturan sampai terbentuknya suatu pola tingkah laku sosial dalam kepribadiannya, sehingga dengan proses pewarisan nilai-nilai utama pappaseng yakni: lempu’ (jujur), acca (cendekia) melalui saluran-saluran pewarisan nilai seperti melalui keluarga, sosial masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah akan terbentuk manusia-manusia yang berkepribadian dan terpandang selaras dengan lingkungan sosial dan budayanya. Dalam istilah Bugis dikenal dengan tau tongeng atau to matanre siri. Pewarisan nilai-nilai pappaseng diungkapkan dalam bentuk pangaja (nasihat), elong (nyanyian), werekkada (ungkapan), dan bentuk percakapan atau diucapkan secara dialog guna membentuk karakter khas keturunannya dengan kedisiplinan, konsistensi agar senantiasa memiliki etika berinteraksi dengan sesama, tata krama terhadap orang tua, tidak lepas dari fungsi dan peranan pappaseng sebagai sumber nilai budaya dalam masyarakat Bugis di Kabputen Wajo Sulawesi Selatan.
Sejarah Pembaharu Islam di Mesir: Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh Irfan, Muhammad; Yunus, Abd Rahim; Susmihara, Susmihara
AHKAM Vol 3 No 1 (2024): MARET
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/ahkam.v3i1.2505

Abstract

This article discusses two significant figures in the history of Egypt, namely Jamaluddin al-Afghani and Muhammad Abduh. Jamal a-Din al-Afghani and Muhammad ‘Abduh were two influential figures in the development of Islam in Egypt. Their thoughts were not only admired in Egypt but also by the Islamic generation in other countries. This research is a literature study with a historical approach. Research data were obtained from various books and articles. Based on the research results, it can be stated that Jamaludin Al-Afghani is one of the Islamic reformist figures with creative ideas to revive the spirit of the Islamic community. He is known as the initiator of the concept of Pan-Islamism. On the other hand, Muhammad Abduh is a rationalist thinker who had a significant impact on the history of Islamic thought. For Abduh, reason holds a high position in religion because through reason, humans can recognize God and understand what must be implemented.
Lahirnya Negara Islam Sekuler Turki dan Ide Pembaharuan Mustafa Kemal Attaturk Nursalam, Nursalam; Yunus, Abd Rahim; Susmihara, Susmihara
AHKAM Vol 3 No 1 (2024): MARET
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/ahkam.v3i1.2525

Abstract

This article discusses the History of the Islamic State of Turkey and the Reform Ideas of Mustafa Kemal Atatürk. The birth of a modern state is derived from modernity ideas. The interaction between nations contributes to the transmission of ideas about the modern state. Similarly, in Turkey, the idea of the modern state in Europe was transmitted through Mustafa Kemal. As a figure who underwent military education in France, specifically at Picardie Manuvers, he had the opportunity to absorb reform ideas, leading him to transform Turkey into a modern state. Mustafa Kemal saw that the Ottoman Turkish government was not an ideal type of modern governance. The Sultan had absolute power and was not constrained by laws. There was no parliament to control the Sultan's authority. Additionally, the Sultan was powerless against Western influence in bilateral relations, as the West gradually dominated the Ottoman Turkish territory. Subsequently, Mustafa Kemal established an anti-government movement through his organization, Vatan, and boldly resisted the West, successfully reclaiming Turkey's territory from the Allies. Mustafa became renowned among the people and was considered a hero, receiving support and sympathy from the Turkish population.
WAHABISME: AL-HARAKAH AL-TANDHIFIYAH AL-ISLAMIYYAH Andriani, Hesti; Hasaruddin, Hasaruddin; Susmihara , Susmihara
RETORIKA : Jurnal Kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Retorika
Publisher : LP2M Universitas Islam Ahmad Dahlan Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/retorika.v6i1.2888

Abstract

Dalam sejarah dunia Islam modern, gerakan revivalisme Islam merupakan gerakan untuk memajukan suatu negara dengan berlandaskan syariat Islam. Revivalisme muncul dengan gagasan dari berbagai tokoh untuk menghilangkan praktek-praktek yang tidak sesuai dengan syariat Islam di kehidupan bermasyarakat yang dapat merusak ajaran Islam dengan kembali berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadis, melalui gerakan tajdid dan purifikasi. Penelitian ini merupkan penelitian kepustakaan atau library research dengan mengambil referensi dari buku atau jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini. Syekh Muhammad bin Abdul Wahab merupakan tokoh penggagas lahirnya gerakan revivalisme di Saudi Arabia khususnya gerakan Wahabi/Wahabisme. Melalui gerakan Wahabi, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab melakukan dakwah tentang tauhid atau pemurnian agama (al-Harakah al-Tandhifiyah al-Islamiyah). Muhammad bin Abdul Wahab menemukan berbagai praktek-praktek yang dapat merusak ajaran Islam seperti menyembah pepohonan dan ziarah ke tempat-tempat keramat.
Tradisi Mappatamma' pada Masyarakat Desa Julumate'ne Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa (Stuudi Unsur-unsur Budaya Islam) Ummul Fadilah; Susmihara; Nuraeni S
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 26 No 02 (2024): Desember
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-hikmah.v26i02.51148

Abstract

This study aims to examine the elements of Islamic culture within the mappatamma’tradition in the Julumate'ne Village community, Bontolempangan District, Gowa Regency. The appreciation of the procedure for completing the Qur'an is a compelling subject of discussion, given that the Qur'an serves as a fundamental guideline for Muslims. This research employs a cultural approach, utilizing qualitative data gathered from field studies and literature. To trace this data source, the researcher implemented techniques such as observation, interviews, and documentation. The research methodology is descriptive, providing a detailed account of the characteristics of the research object. The findings indicate that the mappatamma’tradition emerged as a result of the efforts to promote Islam in South Sulawesi and reflects the creativity of the Muslim community, particularly the Bugis-Makassar, in deeply embedding Islamic principles within society. The mappatamma’tradition is executed in three stages: pre-implementation, implementation, and post-implementation. Rich in meaning and conveying messages that embody the community's value system, the mappatamma’tradition encompasses various Islamic values, including religious, social, educational, and scientific dimensions that are essential to uphold and perpetuate in contemporary life.
Peranan Raja Faisal Bin Abdul Aziz Al-Saud dalam Mempertahankan Kedaulatan Wilayah Palestina (1930-1975) Diman, Muhammad Wardiman; Susmihara; Suraya Rasyid; Abu Haif
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 12 No 02 (2024): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v12i02.50349

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran seorang tokoh dengan judul "Peran Raja Faisal bin Abdul Aziz dalam Mempertahankan Kedaulatan Wilayah Palestina (1930-1975)". Raja Faisal merupakan pemimpin Negara Arab Saudi yang telah melakukan berbagai upaya untuk membebaskan Palestina dari pendudukan Yahudi. Penelitian ini meliputi penelitian sejarah dengan menggunakan heuristik, kritik sumber, tahapan interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan Raja Faisal berupa menyapa sahabat dari negara-negara Arab untuk membantu rakyat Palestina dalam perjuangan mempertahankan wilayahnya. Upaya lainnya adalah melakukan diplomasi politik melalui berbagai jalur, seperti PBB, OKI, Rabitahah al-Alam al-Islami, OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak), dan melakukan kontak langsung dengan para pemimpin organisasi di Palestina. Selain itu, Raja Faisal juga memberikan bantuan keuangan dan persenjataan kepada Palestina. Oleh karena itu, Raja Faisal merupakan tokoh Islam asal Arab Saudi yang memiliki peran penting dalam mempertahankan kedaulatan wilayah Palestina.
ISLAM DAN SPIRITUALITAS MANUSIA BUGIS Supratman; Hasaruddin; Susmihara
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal IlmuBudaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jib.v12i2.36078

Abstract

Makalah ini mengkaji hubungan antara Islam dan spiritualitas manusia Bugis, dua elemen yang telah membentuk identitas dan budaya masyarakat Sulawesi Selatan selama berabad-abad. Sejarah Islam di Sulawesi Selatan menunjukkan proses akulturasi yang dinamis, di mana ajaran Islam tidak hanya diadopsi tetapi juga disesuaikan dengan nilai-nilai dan tradisi lokal. Melalui perdagangan, dakwah, dan hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya, Islam menjadi bagian integral dari budaya Bugis. Spiritualitas manusia Bugis, yang berakar pada nilai-nilai seperti siri’ (kehormatan), ada tongeng (kata-kata yang jujur), lempuk (kejujuran), getteng (ketabahan), sipakatau (saling menghormati), dan mappesona ri dewata seuwae (tunduk pada kehendak Tuhan), menunjukkan bagaimana identitas spiritual dan moral mereka terbentuk. Proses ini memperlihatkan toleransi agama yang tinggi dan interaksi yang harmonis antara Islam dan budaya lokal. Dengan demikian, makalah ini menyoroti pentingnya memahami identitas yang kompleks dan beragam dalam masyarakat Sulawesi Selatan, di mana sejarah, agama, dan budaya berperan dalam membentuk identitas kolektif yang kaya dan dinamis.
Perang Proxy Dalam Konflik Yaman Adriani Adriani; Hasaruddin Hasaruddin; Susmihara Susmihara
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 4: Juni 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i4.3911

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan latar belakang terjadinya perang Proxy dalam konflik Yaman. Metode penelitian yang digunakan yaitu dikaji literatur dari berbagai sumber yang relevan dengan topik pembahasan yaitu Perang Proxy dalam konflik Yaman. Hasil penelitian dan pembahasannya yaitu Perang Yaman dimulai pada tahun 2015 akibat konflik yang melibatkan pemerintahan Yaman dan kelompok bersenjata Houthi. Keduanya sama-sama mengklaim sebagai pemerintahan resmi Yaman. Saat ini kelompok Houthi berada dan mengendalikan ibu kota Sana’a, bersekutu dengan pasukan yang masih tetap setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh dan telah bentrok dengan pasukan yang juga setia kepada Hadi di Aden. AQAP (Al-Qaeda in the Arabian Peninsula) dan Negara Islam Irak dan Levant (ISIS) terlibat di dalam perang. AQAP menguasai wilayah-wilayah yang berada di pedalaman dan sepanjang bentang pesisir pantai. Perang Saudara Yaman (2015-sekarang) merupakan salah satu konflik yang dijuluki “krisis kemanusiaan terburuk” oleh PBB di tahun 2018 (PBB 2018). Perang Proxy dalam Konflik di Yaman saat ini banyak menelan korban yang tidak sedikit sebanyak lebih dari 70.000 jiwa (ACLED 2019) dan lebih dari 3 juta penduduk Yaman harus mengungsi (unrefugees.org 2019), dengan situasi perang di Yaman yang melibatkan serangan udara dan blokade-blokade membuat semakin sulitnya mencari penghidupan di daerah-daerah asal para pengungsi tersebut. Serangan Houthi yang bersekutu dengan pasukan militer yang tetap setia kepada Ali Abdullah Saleh, mulai melakukan penyerangan ke Gubernuran Lahij pada 22 Meret 2015. Sampai pada akhirnya di 25 Maret, Lahij berhasil dikuasi oleh Houthi dan menguasai pinggiran Aden. Pada saat yang sama, Presiden Yaman melarikan diri dari Yaman. Negara-negara di Teluk Arab yang dipimpin oleh negara Arab Saudi melakukan kampanye. isolasi ekonomi dan serangan udara terhadap kelompok Houthi. Kampanye tersebut didukung oleh Amerika Serikat.Setelah kampanye yang dilakukan oleh militer Koalisi Arab, Hadi membatalkan pengunduran dirinya dan memutuskan kembali ke Aden pada September 2015 dan pertempuran masih terus berlanjut sejak saat itu. PBB tidak tinggal diam. Mereka melakukan pembicaraan damai dan berperan sebagai penengah antara gerilyawan Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Akan tetapi pembicaraan tersebut terhenti pada 2016. Terdapat laporan jika pada Desember 2017, Hadi telah berada di pengasingan di Arab Saudi. Pada Juli 2016, kedua kelompok yang saling bersekutu yakni kelompok Houthi dan pemerintah mantan Presiden Ali Abdullah Saleh yang digulingkan pada 2011 setelah hampir 30 tahun berkuasa, mengumumkan bahwa telah terbentuk dewan politik untuk memerintah Sana’a dan sebagian besar Yaman Utara. Perang Yaman semakin parah dengan adanya intervensi kekuatan regional dari Iran dan negara-negara di teluk yang dipimpin oleh Arab Saudi. Arab Saudi membentuk koalisi negara Arab untuk mengalahkan kelompok Houthi di Yaman pada tahun 2015. Sedangkan Amerika Serikat secara teratur melakukan penyerangan pada al-Qaeda dan ISIS di Yaman menggunakan serangan udara. Tidak hanya itu, Amerika Serikat juga mengirim sejumlah kecil pasukannya di lapangan.