Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN YAHUDI DAN ISLAM DALAM LINTASAN SEJARAH Nur Fadilah Amin; Susmihara Susmihara
PILAR Vol 13, No 2 (2022): JURNAL PILAR, DESEMBER 2022
Publisher : PILAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang bagaimana sejarah bangsa Yahudi dan bagaimana hubungan Islam dan Yahudi dalam lintasan sejarah. metode yang digunakan yaitu studi dokumenter dan analisis dokumen untuk mendapatkan data yang diinginkan. Hasil dari tulisan ini menunjukkan bahwa 1) Bangsa Yahudi berasal dari nama salah seorang anak Ya’kub yakni Yahuda (Yehuda). Dalam sejarah perjalannya, kaum Yahudi bekembang pesat di Israel. Setelah sebelumnya mengalami berbagai lika-liku kehidupan yang tidak berjalan baik. Mengalami kekerasan, penindasan dan tekanan. Mulai abad ke-7 SM, kerajaan mereka secara berturut-turut mendapat serangan dari Persia (Iran), Macedonia, Assyiria, dan Babilonia. Bangsa Yahudi berhasil melewati itu semua hingga akhirnya sampai pada bangsa yahudi pada hari ini. 2) Hubungan Islam dan Yahudi dalam sejarah dapat dilihat pada nasab dan keturunannya yaitu merupakan generasi dari Nabi Ibrahim AS, selain itu dari hubungan sosial yang terjadi antara keduanya sangat baik, dapat dilihat pada kehidupan yang sangat baik di Madinah, dimana kaum muhajirin, kaum anshor dan kaum yahudi hidup berdampingan dengan baik dibaah kepemimpinan rasulullah SAW. Timbulnya sikap antipati orang-orang Yahudi terhadap umat Islam terutama pada masa Rasulullah saw lebih banyak disebabkan oleh faktor ekonomi dan politik dibandingkan dengan faktor agama. Terbukti bahwa pada awal kedatangan Islam di Madinah, mereka tidak memperlihatkan permusuhan terhadap umat Islam. mereka mengadakan pertemuan yang intensif antara keduanya (Yahudi dan Rasul) dalam menyelesaikan persoalam-persoalan yang ada pada mereka
MUQADDIMAH IBNU KHALDUN: STUDY OF ISLAMIC HISTORIOGRAPHY: Historiografi Islam Ahmad Habib Akramullah Abd. Rahim; Susmihara; Ahmad Yani
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 23 No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-hikmah.v23i2.34427

Abstract

The full name of an Ibn Khaldun is Abd al-Rahman bin Muhammad bin Mohammad bin Hasan bin Jabar bin Mohammad bin Ibrahim bin Abd al-Rahman bin Khaldun. Then he was born in the area of Tunisia, a region in North Africa, around 732 H or 1332 AD, he was a family of migrants from the Andalusian region, a region in Southern Spain, who now moved to the Tunisian area around the middle of the VII century H. The origin of a family The real Ibnu Khaldun was from the Hadramaut area, in the southern Yemen region. Ibnu Khaldun started his education at the age of 18 between 1332 and 1350 AD. As was the case with the Muslims at that time, Ibnu Khaldun's father was the first teacher figure who had taught him traditionally the basic values of Islam. During his stay in the Tunisian area until 751 H, Ibn Khaldun was very diligent in studying and reading and he attended the assembly of his teacher, Muhammad Ibrahim Al-Abili, every time. At that time, Ibnu Khaldun was already 20 years old. And at that time Ibn Khaldun was summoned by Abu Muhammad Ibn Tarafkin, one of the rulers who was in the Tunisian area, to assume the position of secretary to the ruler of Sultan Abu Ishaq Ibnu Abu Yahya Al-Hafsi. Ibnu Khaldun is one of the political activists and thinkers who was born in the Tunisa area in 1332 and he died in Egypt in 1406. Before he died he had spent much of his life in political struggles and adventures in various forms, at different times and at different times. the world in which he lives. Apart from being a political activist, he is also an expert thinker and is very observant of the knowledge he has and he is a very sharp analyst. He wrote down the results of his observations in a book consisting of several volumes on history, a book he called "Ibar" which is a book that is a role model that humans can take from history. The first part of the book he called "Muqaddimah", which means "Introduction". The works can be seen from the title Al-Ibar wa Diwan Al-Mubtada wa Al-Khabar fi, Ayyam Al-Arab wa al-Ajam wa Al-Barbar, wa Man Asharahum min Dzawi Al-Sulthan Al-Akbar, and consists of several volumes.
LAHIRNYA NEGARA ISLAM SEKULER TURKI DAN IDE PEMBAHARUAN MUSTAFA KEMAL Desi Yuniarti; Syamzan Syukur; Susmihara Susmihara
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 9 No. 1 (2023): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v9i1.1599

Abstract

Tulisan ini membahas tentang gagasan ide pembaharuan Mustafa Kemal di Turki dan transformasi Turki menjadi negara modern yang sekuler. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kajian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Analisis yang digunakan untuk menganalisis data yaitu content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mustafa Kemal adalah salah seorang tokoh pembaru Islam qualified abad ke-19. Dia telah memberikan konstribusi besar terhadap perubahan pola pikir masyarakat Turki. Dengan mengubah tatanan lama yang sudah mentradisi dalam kerajaan Turki Usmani, dan membentuknya ke dalam wajah baru dengan corak pemikiran yang sesungguhnya tidak mengubah “Islam” tetapi hanya mengubah mindset dan tatanan kehidupan umat Islam untuk di sesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman. Nilai-nilai Islam terbentuk, khilafah, republik bahkan sekuler. Sekalipun sebenarnya simbol juga penting, tetapi yang lebih penting adalah umatnya mampu membawakan substansi keislaman dalam setiap gerak kehidupan masyarakatnya. Ide-idenya telah membawa Turki menjadi negara maju yang sejajar dengan dunia internasional sekaligus membuktikan bahwa pemerintahan Islam adalah pemerintahan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.
SEJARAH ISLAM MODERN DI INDONESIA: Studi atas Pemikiran KH Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ary Sumiati Tomadehe; Syamzan Syukur; Susmihara Susmihara
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 8 No. 2 (2022): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v8i2.1606

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas tentang pemikiran KH Ahmad Dahlan dan KH Hasiym Asyari dalam pembaharuan sejarah Islam Moderen di Indonesia. Pembaharuan berawal dari bidang ekonomi, keagamaan, sosial, dakwa dan pendidikan, serta prinsip dasar dan tuntunan pembaharuan sosial keagamaan Muhammadiyah dan NU. Metode yang digunakan adalah library resarch dianalisis dengan pendekatan reflektif thinking dengan memadukan pendekatan deduktif dan induktif. Hasil pembahasan menunjukan bahwa Konsep pembaharuan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah yaitu bersifat modern-theosentris dan NU bersifat Tradisionalis yaitu ‎mempertahankan nilai-nilai tradisional Islam yang selama ini di ikuti yang ‎sudah ‎mulai tergerus dengan adanya pemikiran-pemikiran modern dan sebagai wadah perjuangan untuk menentang segala bentuk penjajahan dan merebut kemerdekaan negara Republik Indonesia dari penjajah Belanda.
The Existence of Sharia Courts in the United Kingdom Maria Ulfah Syarif; Susmihara Susmihara; Syamsudduha SyamsudduhA; Mardhati Mardhati
Al-Adalah: Jurnal Hukum dan Politik Islam Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah dan Hukum Islam IAIN Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ajmpi.v8i2.3857

Abstract

The Islamic Risala brought by Muhammad SAW has been presented as the last heavenly religious teaching that carries a mission of peace with the Qur'an as the guidebook of his people. The study of all life aspects contained in the Qur'an is Hudan (guidance), and it is the most complete guide for all humans in the world. The authenticity of the Qur'an and language style has been unrivaled throughout the ages, and it strengthens the perfection of Islamic teachings, which is universal as Rahmatan Lil' ālamīn. As time goes by, Islam has significantly contributed to the history of human civilization. History also records areas where great civilizations have emerged. There are relics of high Islamic culture, admired and recognized, including in the European region, definitely cannot be separated from the contribution of the struggle of Muslim leaders who are highly dedicated and persistent in spreading Islamic teachings. As a European country, the United Kingdom was not spared from the spread of Islamic teachings. By collecting research data from various works of literature and making the world of texts the main object of its analysis, this article intends to examine the track record of the early embryo of the universality of Islam touching British society by looking deeper into the history of the beginning of the arrival of Islam, the Dynamics of Muslim life and Sharia Courts in the United Kingdom.
Religious Transformation In Wajo: The Islamization Era 1582-1626 Alamshah, Anisah; Susmihara
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 11 No 02 (2023): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v11i02.43293

Abstract

This article endeavors to uncover the process of Islamization within the Cinnottabbangka Kingdom, more commonly recognized as the Wajo Kingdom. Employing a historical approach, it utilizes various stages of historical research, involving heuristic methods for source collection, internal and external critique of historical sources, interpretation, and historiography. The findings from this research suggest the establishment of Wajo as a kingdom believed to have originated around the mid-15th century, initiated by an individual who founded the Lampulungeng settlement, known as Puangnge Lapulungeng. This phase progressed with the arrival of La Paukke, a noble and the offspring of Datu Cina, who laid the groundwork for the Cinnotabi Kingdom, eventually evolving into the Wajo Kingdom. Furthermore, Islam's adoption as the official religion in Wajo by the royal elite through the musu’ selleng, instigated by the Gowa Kingdom, is a significant event. This acceptance took place on Tuesday, 15 Safar 1019, corresponding to Sunday, 9 May 1610, when Arung Matowa Wajo La Sangkuru Patau embraced Islam, adopting the title Sultan Abd. Rahman. Subsequently, the reception of Islam by the Wajo kingdom led to substantial transformations in governance and social structures, notably through the Pangngadereng system, a set of normative and customary rules grounded in elements like ade’, bicara, rapang, wari. With the integration of Islam into the Wajo Kingdom's governance, the Pangngadereng system merged with Sharia principles. The amalgamation of Bugis Wajo cultural values within the Pangadereng concept and their alignment with Islamic teachings encompassing belief, Sharia, and ethics represents a harmonious blend, supporting a balanced lifestyle across personal, societal, and national domains.
Koeksistensi Saeyyang Pattuqduq dalam Kehidupan Masyarakat Polewali Mandar: (Tinjauan Studi Historis dan Antropologi) Wijdan, Wijdan Alim Lopa; Susmihara; Dewi Anggariani
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 12 No 01 (2024): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v12i01.46845

Abstract

Pengetahuan tradisional merupakan suatu kebudayaan ataupun kekayaan intelektual yang bersifat komunal dan turun temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Barat adalah Kabupaten Polewai Mandar yang memiliki kultur budaya yang mengandung filosofi telah menurun dari nenek moyang mereka yaitu Saeyyang Pattuqduq. Tradisi Saeyyang Pattuqduq adalah tradisi syukuran terhadap anak yang berhasil mengkhatamkan Al-Qur'an. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan beberapa pendekatan historis, antropologi dan sosiologi. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini mengungkap bahwa Pertama, bentuk akulturasi budaya dengan ajaran agama Islam yakni Saeyyang Pattuqduq bermula dari tingkah laku. Kedua,. Ketiga mempunyai nilai dan daya tarik bagi semua kalangan baik dalam lingkup domestik maupun mancanegara, pagelaran yang dilaksanakan setiap tahunnya dijadikan sebagai bentuk pelaksanaan Festival.
The Influence of The Example of Ummul Mukminin Aisyah (Radhiyallahu Anha) in Accompanying The Apostolic Mission of The Prophet Muhammad Saw on Women Mardhiyah, Ainun; Susmihara; Megawati, Lydia
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 26 No 01 (2024): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-hikmah.v26i01.48367

Abstract

Skripsi ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang sejarah hidup ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anha dimana kajian ini melihat dari sisi keteladanan yang dimiliki oleh sosok Aisyah terhadap Muslimah dalam mendampingi misi kerasulan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Mengkaji bentuk keteladanan yang dilakukan oleh Aisyah radhiyallahu anha sebagai seorang istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Selanjutnya menganalisis pengaruh keteladanan Aisyah radhiyallahu anha dalam mendampingi misi kerasulan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam terhadap Muslimah. Penelitian ini disusun dengan menggunakan jenis penelitian Pustaka atau library research yaitu mengumpulkan berbagai data dan fakta sejarah melalui literatur-literatur yang ada baik berupa buku, jurnal, maupun skripsi. Peneliti menggunakan langkah-langkah penelitian yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil akhir dari telaah Pustaka yang dilakukan peneliti ialah 1) Aisyah radhiyallahu anha menguasai berbagai bidang disiplin ilmu yang dapat menjadi teladan bagi Muslimah dalam menjalani kehidupannya agar lebih bermanfaat diantaranya Al-Qur’an, hadits, fikih, akidah, juga ilmu-ilmu umum seperti ilmu pengobatan, sejarah dan sastra. 2) Aisyah juga sangat penting diteladani dari sisi akhlak yang dimilikinya yaitu lemah lembut, tawadhu, rendah hati, tidak cinta dunia, dermawan, sederhana, dan akhlak mulia lainnya. 3) Pengaruh keteladanan perempuan terhadap Aisyah ini diantaranya ialah menjadi perempuan berilmu, menjadi perempuan yang memanfaatkan masa muda dengan produktif, menjadi perempuan yang senantiasa menjaga ketaatan, menjadi perempuan yang berakhlak mulia sebagaimana Aisyah. Kata Kunci : Aisyah, keteladanan, peranan
HISTORY OF MODERN ISLAM IN IRAN AND THE IDEAS OF REFORMING THE AYATULLAH KOMAENI Muslimah, Muslimah; Syukur, Syamzan; Susmihara, Susmihara
Archipelago Journal of Southeast Asia Islamic Studies Vol. 1 No. 1 (2023): Archipelago Journal of Southeast Asia Islamic Studies (AJSAIS)
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/archipelago.v1i1.1803

Abstract

Modernism is a movement that originated in the western world to replace Catholic religious teachings with modern science and philosophy. The culmination of this movement is the process of secularization in the western world, before the revolution in Iran. The success of the Iranian Islamic Revolution which succeeded in overthrowing the Pahlavi dynasty which had changed the political system and form of the Iranian state from an absolute monarchy to an Islamic republic. A first popular revolution in the last quarter of the twentieth century against a modern authoritarian political system. However, this Iranian experience does not provide a definite answer to the problems between Islam and the originator of the Iranian revolution, Ayatollah Khomeini, who played a major role in moving the masses to carry out a revolution against the Pahlavi regime.
Kontribusi Wakaf Dalam Membangun Peradaban Dunia Islam Dan Barat (Studi Pada Lembaga Pendidikan Tinggi) Putra, Trisno Wardy; Hasaruddin, Hasaruddin; Susmihara, Susmihara
Studia Economica : Jurnal Ekonomi Islam STUDIA ECONOMICA: Jurnal Ekonomi Islam | Vol. 10 | No. 1 | 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/se.v10i1.20303

Abstract

Waqf is a form of worship that has a major contribution to world civilization. This research aims to analyze the role of waqf in building Islamic and Western civilization in higher education institutions. The method used is qualitative with a literature study approach, namely understanding and studying theories from various literature related to research. The research results show that Islamic education cannot be separated from the role of waqf. One proof of higher education built from waqf is Al-Qarawiyyin University in Morocco. This university has been named the oldest and first campus to use waqf. The concept of waqf developed and was adopted by the western world with the term endowment fund. Harvard University is an example of a university built from endowment funds. Indonesia is one of the countries that has also practiced waqf at higher education institutions, but has not been able to provide free education to underprivileged students. This research is an original study to motivate the Muslim community to be more enthusiastic about giving waqf to higher education. This study is also very important for practitioners and policy makers in evaluating the potential and role of waqf in developing Islamic higher education institutions