Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Hubungan Pengetahuan dan Peran Guru Terhadap Larangan Merokok Pada Siswa-Siswi Di SMP SMIP 1946 Kota Banjarmasin Tahun 2023 M. Ridha Ilhami; Ridha Hayati; M. Bahrul Ilmi; Husnul Khatimatun Inayah
Health Research Journal of Indonesia Vol 2 No 6 (2024): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Dari hasil studi pendahuluan di SMP SMIP 1946 dengan metode wawancara kepada Kepala Sekolah, diketahui ada beberapa siswa yang merokok di sekitar lingkungan luar Sekolah Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan peran Guru dan pengetahuan siswa-siswi terhadap larangan merokok di Sekolah. Metode: Jenis penelitian ini yaitu kuantitatif bersifat analitik melalui pendekatan cross sectional. Sampel yaitu seluruh siswa-siswi kelas 7 dan 8 SMP SMIP 1946 yang berjumlah 44 siswa-siswi, menggunakan kuesioner dan di analisis dengan uji chi square. Hasil: Hasil dari variabel larangan merokok menunjukkan bahwa sebagian besar responden memilih setuju 72,7%, kategori pengetahuan kurang sebesar 75% dan kategori peran Guru baik sebesar 61,4%. Hasil uji chi square tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan larangan merokok (p-value = 0.672), sedangkan ada hubungan antara variabel peran Guru dengan larangan merokok (p-value = 0.000). Simpulan: Diharapkan Guru memberikan edukasi menarik dan bisa memacu semangat siswa-siswi terkait edukasi yang di sampaikan, seperti dari segi video animasi atau video komedi bertujuan membuat para siswa-siswi bisa memahami isi dari edukasi terkait larangan merokok.
Capaian Level Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) Cara Produksi Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga (CPPB-IRT) di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Kuala Tahun 2023 Khairul Anam; Mahmudah; Muhammad Bahrul Ilmi; Elsi Setiandari LO; Dina Hartini
Health Research Journal of Indonesia Vol 3 No 5 (2025): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v3i5.621

Abstract

Pendahuluan: Tata Cara produksi pangan yang baik (CPPB) bisa meminimalisir terjadinya dampak cemaran, menaikan kualitas pangan dan terjaminnya keamanan pangan. CPPB bermanfaat bagi perkembangan industri mikro, sedang, dan makro. Tujuan: menggambarkan capaian level industri rumah tangga pangan (IRTP) cara produksi pangan yang baik untuk industri rumah tangga (CPPB-IRT). Metode penelitian menggunakan mix metode. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam (Indepth Interview) terhadap 5 orang informan kunci dan 61 orang pelaku usaha. Analisis data menggunakan analisis distribusi frekuensi dan field research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 61 pelaku usaha IRTP terdapat 17,5% parameter CPPB-IRT yang tidak sesuai pada variabel pencatatan dan dokumentasi dengan indikator tertinggi yaitu “Dokumen produksi tidak mutakhir, tidak akurat, tidak tertelusur dan tidak disimpan selama 2 (dua) kali umur simpan produk pangan yang diproduksi” dengan skor 61. Sebanyak 47 IRTP (77,05%) masuk dalam kategori capaian level IV. Faktor yang menyebabkan ketidaksesuaian serius dan kritis disebabkan oleh tenaga kerja, faktor bahan baku, faktor mesin, faktor metode, faktor Lingkungan. Dalam Pengawasan terhadap Industri Rumah Tangga Pangan ini sebaiknya pemerintah memberikan alokasi anggaran yang lebih besar serta menetapkan kebijakan dan komitmen untuk melakukan pengawasan rutin setiap bulannya agar tercipta Industri Rumah Tangga Pangan yang memenuhi standar yang telah ditetapkan. Selain itu perlu ada pemberian sanksi yang tegas bagi pelaku Industri Rumah Tangga Pangan yang melakukan pelanggaran. Kata kunci: Capaian Level, Industri Rumah Tangga, Produksi Pangan
Implementasi (Input, Proses dan Output) JKN-KIS pada Pelayanan Kesehatan di Faskes Tik.1 Puskesmas Alalak Tengah Yeni Riza; Mahmudah Mahmudah; Erwin Ernadi; Bahrul Ilmi
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.343 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v3i3.1145

Abstract

Angka cakupan kepesertaan masyarakat dalam program Jaminan Kesehatan Nasional dan Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) di Kalimantan Selatan (Kalsel) termasuk menjadi salah satu yang masih belum optimal di Indonesia. Berdasarkan laporan bulan September 2019 Puskesmas Alalak Tengah merupakan Puskesmas yang memiliki cakupan JKN-KIS terendah yaitu 10.209 peserta, jika dibandingkan dengan Puskesmas yang ada di wilayah Banjarmasin utara lainnya. Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui implementasi JKN-KIS pada Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Alalak Tengah Tahun 2019. Metode penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan dengan pengambilan sampel secara purposive sampling dengan jumlah informan sebanyak 6 orang. Instrumen yang digunakan berupa panduan wawancara dan observasi dengan fokus penelitian meliputi input, proses, dan output. Hasil penelitian pada aspek input diperoleh informasi bahwa pengetahuan petugas memiliki pengatahuan tentang program, tidak ada dana khusus untuk kegiatan sosialisasi JKN KIS, kunjungan dari BPJS dilakukan rutin perbulan, fasilitas kesehatan untuk peserta JKN KIS sesuai dengan jenis penyakit yang bisa dilayani ditingkat FKTP, ketersediaan obat sebagai material dalam pelayanan peserta JKN terkendali karna merupakan dropping dari APBD. Pada aspek Proses, strategi yang dilakukan dalam meningkatkan implementasi peserta JKN KIS mengikuti sistem akreditasi Puskesmas, koordinasi petugas dalam hal menjalan program sudah cukup lihai ungkap infoman kunci. Aspek berikutnya yaitu Output, dimana implementasi kepesertaan JKN KIS untuk di wilayah kerja Puskesmas Alalak Tengah sudah lebih dari diatas 80% kepesertaannya, namun masih rendah jika dibanding dengan Puskesmas lain yang ada di wilayah Banjarmasin Utara,  kendala yang ditemukan adalah adanya sebagian masyarakat mendaftar diluar wilayah kerjanya.
Hubungan Pengetahuan, Tingkat Pendidikan dan Dukungan Keluarga dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Kuin Raya Kota Banjarmasin: Relationship between Knowledge, Level of Education and Family Support with Stunting Incidents in the Work Area of the Kuin Raya Community Health Center, Banjarmasin City Yusiana Nur Maulida; M. Bahrul Ilmi; M. Febriza Aquarista
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 9 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i9.3619

Abstract

Latar belakang: Salah satu indikator tingkat kesehatan rakyat adalah prevalensi stunting. Terdapat sejumlah faktor yang berkontribusi pada terjadinya stunting diantaranya adalah pengetahuan, tingkat pendidikan dan dukungan keluarga. Tujuan: Penelitian ini dimaksudkan guna mengidentifikasi dan menganalisis keterkaitan pengetahuan, tingkat pendidikan dan dukungan keluarga atas kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Kuin Raya Kota Banjarmasin. Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Ibu di wilayah kerja Puskesmas Kuin Raya Kota Banjarmasin yang memiliki anak Balita usia 0-59 bulan yaitu sebanyak 1.646 Balita. Menggunakan Rumus Slovin untuk menentukan besarnya sampel, didapatkan 94 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling. Hasil: Sebanyak 52 kasus (55,3%) stunting, 40 responden (42,6%) mempunyai pengetahuan cukup, 50 responden (53,2%) mempunyai tingkat pendidikan rendah, 53 responden (56,4%) mendapat dukungan keluarga. Uji statistik dengan uji Chi-Square, ada keterkaitan pengetahuan dengan kejadian stunting (p-value = 0,036 < 0.005), tidak ada keterkaitan tingkat pendidikan dengan Kejadian Stunting (p-value = 0,727 < 0.005), ada hubungan dukungan keluarga dengan Kejadian Stunting (p-value = 0,000 < 0.005). Kesimpulan: Ada keterkaitan antara pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kejadian Stunting dan tidak ada keterkaitan antara tingkat pendidikan dengan kejadian stunting. Saran dalam penelitian ini yakni menganjurkan para Ibu untuk lebih memahami pentingnya pengetahuan tentang stunting pada anak.
Factors Associated with the Nutritional Status of Pregnant Women in Banjarmasin City: A Cross-Sectional Analytical Study Ari Widyarni; M. Bahrul Ilmi; Netty Netty; Elsi Setiandari Lely Octaviana; M. Febriza Aquarista; Edy Ariyanto; Husnul Khatimatun Inayah
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 9 No. 3 (2026)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v9i3.8925

Abstract

Introduction: The nutritional status of pregnant women is a critical indicator of maternal and fetal health. Chronic Energy Deficiency (CED) during pregnancy increases the risk of obstetric complications, low birth weight, stunting, and contributes indirectly to maternal mortality. Indonesia continues to report one of the highest maternal mortality ratios in Southeast Asia. This study aimed to analyze factors associated with the nutritional status of pregnant women in Banjarmasin City. Methods: This analytical cross-sectional study involved 100 pregnant women selected using accidental sampling. Nutritional status was assessed based on mid-upper arm circumference (MUAC), with MUAC <23.5 cm indicating CED. Independent variables included maternal knowledge, parity, maternal age, and toothbrushing habits. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test. Effect sizes were reported as prevalence ratios (PR) with a significance level of 0.05. Results: The prevalence of CED among pregnant women was 52%. The majority of respondents had low levels of knowledge (59%), risk parity (88%), risk maternal age (63%), and bad toothbrushing habits (58%). Bivariate analysis showed significant associations between maternal knowledge (PR=2.08; p=0.001), maternal age (PR=1.59; p=0.012), and toothbrushing habits (PR=1.95; p=0.000) with nutritional status. Parity was not significantly associated with nutritional status (p=0.076). Conclusion: Maternal knowledge, age, and toothbrushing habits were significantly associated with the nutritional status of pregnant women in Banjarmasin City. Strengthening nutrition education and healthy lifestyle behaviors through Posyandu services and antenatal education programs is essential to prevent CED and improve maternal and fetal health outcomes.
Analysis of Public Perception of the Size (Placement) and Color of Dentures in Health Promotion Efforts M. Bahrul Ilmi; Netty Netty; Deni Suryanto; Eddy Rahman
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 9 No. 7 (2026)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v9i7.10502

Abstract

ntroduction: Dentures have many functions, of course, all of which are to improve health, but there are many factors that cause people to tend not to know the function of dentures. In Banjar Regency, there has not been a maximum in the equal distribution of dentists and dental nurses, which has the largest working area in Banjar Regency, so that people are more directed to dentists who specialize in dentures. The purpose of this study is to find out the public's perception of the function of dentures. Methods: This study is a quantitative analytical research with a cross-sectional approach using structured questionnaire instruments. The determination of the number of samples here is the community in the work area of the Aranio Health Center, Banjar Regency, using the Non-Probability Sampling technique, namely Quota Sampling, totaling 100 respondents. The instruments used in this study were in the form of questionnaires/interviews containing a list of statements about respondents' perceptions of denture function, perception of size (placement), and color of dentures. The data is processed and analyzed with Fisher Exact Test tests to test the research hypothesis. Results: The results of the study show that the level of public knowledge about the function of dentures is still relatively low, with the dominant respondents (96%) in the category of not knowing, where this condition shows a gap between public perception and a more comprehensive understanding of the benefits of dentures. In terms of the size (placement) of dentures, the largest proportion of respondents were in the poor category (45%). In the aspect of denture color, the distribution of respondents was relatively balanced between the interested (45%) and uninterested (55%) categories. The results of bivariate analysis came from the variable size (placement) of dentures (p-value 0.625; OR = 1.743) and color of dentures variables (p value 1.000; OR=1.233) with the function variable of dentures, where the two variables have no meaningful relationship. Considering the limitations of statistical power, the imbalance of the data distribution and the gap of the confidence interval make the accuracy of the estimates limited. These findings indicate that low public understanding is more likely to be related to limited access to dental health information and education than to the characteristics of dentures used. Conclusion: The need to increase access to information and education on dental health so that suggestions for the provision of information about dentures as a learning medium, both from print and electronic media dedicated to the immediate families of denture users, to reduce the reluctance to seek information. Health workers maximize their knowledge about the function of dentures in carrying out health promotion.
Strategi Pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan Pada Kejadian Hipertensi Di Puskesmas Kayu Tangi Tahun 2024 Aminatuz Zahra; Yeni Riza; M. Bahrul Ilmi; Mahmudah Mahmudah; Khairul Anam; Ridha Hayati
An-Nadaa : Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 13 No 1 (2026): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (JUNI)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v13i1.16378

Abstract

SPM hipertensi di Puskesmas Kayu Tangi berdasarkan data profil kesehatan Kota Banjarmasin tahun 2022 sebesar 86,40%, namun pada tahun 2023 turun menjadi 58,03%. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi dan faktor penghambat pencapaian SPM bidang kesehatan pada kejadian hipertensi di Puskesmas Kayu Tangi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan kendala pada perencanaan SDM yang dianggap kurang. Pada aspek pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sudah berjalan baik melalui rapat rutin dalam forum lokakarya mini tiap bulan, namun optimalisasi tetap diperlukan karena SDM masih kurang. Faktor penghambat terkait Man cukup signifikan menghambat pencapaian SPM hipertensi karena jumlah tenaga kesehatan yang terbatas dan beban tugas ganda. Selain itu, pasien hipertensi kurang patuh melakukan pemeriksaan rutin. Dari segi Money, Puskesmas menerima dana dari BOK sehingga kebutuhan pelaksanaan tercukupi dan pelayanan gratis bagi masyarakat. Dari segi Method, pelayanan langsung dianggap efektif dalam mencapai target. Namun, terdapat masalah pada Machine dengan alat yang masih kurang. Material berupa bahan penunjang kegiatan di Puskesmas selalu terpenuhi. Disarankan untuk menambah jumlah tenaga kesehatan atau mengatur beban kerja secara lebih efisien, serta menambah alat untuk mendukung pelaksanaan SPM hipertensi. Selain itu, diharapkan peningkatan upaya promosi dan preventif terkait hipertensi agar pemahaman serta kepatuhan masyarakat di Puskesmas Kayu Tangi meningkat.
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Obesitas Mahasiswi FKM Uniska MAB Banjarmasin Husnul Khatimatun Inayah; Netty Netty; Ari Widyarni; Nurul Indah Qariati; M. Bahrul Ilmi; Noorhidayah Noorhidayah
Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi Vol. 15 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jab.v15i1.1017

Abstract

Obesity is a growing global nutrition problem, including in productive age groups such as college students. Female students, especially in the Faculty of Public Health (FKM), have a higher susceptibility to obesity due to lifestyle, hormonal and dietary factors. This study aims to analyze factors related to the incidence of obesity in FKM students of the Islamic University of Kalimantan MAB Banjarmasin. This study uses an analytical survey method with a cross sectional design. The study population was 1,370 FKM students, with a sample of 94 respondents determined using the Slovin formula (90% confidence level) and accidental sampling techniques. The variables studied included knowledge, frequency of Fast Food  consumption, and genetik factors, with data collection through questionnaires and Body Mass Index (BMI) measurements. Data analysis was carried out using the Chi Square test. The results showed the prevalence of obesity at 48.9%. Most of the respondents had sufficient knowledge (43.6%), often consumed Fast Food  (58.5%), and had a genetik history of obesity (55.3%). Bivariate analysis showed a significant relationship between knowledge (p=0.032), frequency of Fast Food  consumption (p=0.027), and genetiks (p=0.000) and the incidence of obesity in female students. The discussion of this study emphasizes that obesity in female students is not only influenced by lifestyle such as Fast Food  consumption, but also nutritional knowledge factors and genetik predisposition. College students with low knowledge are more prone to choosing high-calorie foods, while frequent consumption of Fast Food  contributes to excess energy. Genetik factors further strengthen the risk of obesity if it is not balanced with a healthy lifestyle. It is recommended that female students limit Fast Food  consumption and increase nutritional knowledge through health counseling. Further research is expected to add other variables, such as physical activity and stress, to enrich the analysis of obesity risk factors
Exploration of Stunting Reduction Program Implementation at Rantau Badauh Community Health Center, Barito Kuala Khairul Anam; Muhammad Rizki Adisti; Elsi Setiandari Lely Octaviana; M. Febriza Aquarista; M. Bahrul Ilmi; Noorhidayah Noorhidayah
Media of Health Research Vol. 4 No. 3 (2026): Media of Health Research, August 2026
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70716/mohr.v4i3.639

Abstract

This study explored the implementation of the stunting reduction program at the Rantau Badauh Community Health Center, Barito Kuala District. A descriptive qualitative design was employed involving ten purposively selected participants, including health center managers, health workers, community health volunteers, mothers of children with stunting, and a district nutrition officer. Data were collected through in-depth interviews and participatory observation and were analyzed using thematic analysis. The findings showed that the program was implemented through structured nutrition interventions, regular monthly evaluations, and financial support from multiple funding sources. Communication and health education were delivered through formal coordination meetings and community-based activities, which improved public understanding of stunting prevention. However, cultural practices related to child feeding, caregivers' occupational demands, and geographical barriers reduced participation in community health activities and adherence to nutrition interventions. Limited nutrition personnel also constrained service delivery, although teamwork and adequate facilities supported program continuity. Cross-sector collaboration among health services, local government, and village authorities strengthened program implementation. Overall, organizational capacity, community behavior, and intersectoral coordination influenced the program's effectiveness. Strengthening human resources and culturally responsive community engagement was considered essential for improving program outcomes.