Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pengaruh Kandungan Kafein Terhadap Penambahan Kopi Arabika (Coffea arabica L.) Sebagai Variasi Rasa pada Pembuatan Kue Cucur: The Effect of Caffeine Content on the Addition of Arabika Coffee (Coffea arabica L.) as a Flavor Variation in The Making of Cucur Cake Arinil Haq; Astrina Nur Inayah; Rukmelia, Rukmelia
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 12 No. 2 (2024): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v12i2.3828

Abstract

Kopi arabika (Coffea arabica L.) ialah salah satu jenis kopi yang paling populer di dunia dan Indonesia memiliki sejumlah varietas arabika yang terkenal, termasuk kopi arabika Toraja. Kandungan kafein dalam kopi berbeda-beda tergantung pada jenis kopinya. Kue cucur adalah salah satu kue khas Indonesia berbentuk bulat dengan tepi tipis dan tekstur tebal di tengahnya. Bahan dasar kue cucur adalah, tepung terigu, tepung beras, gula aren, air kelapa dan minyak goreng. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kopi arabika terhadap kandungan kafein pada kue cucur. Metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan dalam penelitian ini, dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yang menghasilkan dua belas unit percobaan. Taraf konsentrasi yang digunakan adalah sebagai berikut: C0 Kontrol (tanpa perlakuan), C1 (penambahan bubuk kopi arabika 10%), C2 (penambahan bubuk kopi arabika 15%), C3 (penambahan bubuk kopi arabika 20%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar kafein terhadap kue cucur meningkat dengan peningkatan komposisi bubuk kopi yang lebih tinggi. Untuk komposisi bubuk kopi 10%, 15% dan 20% diperoleh masing- masing kadar kafein rata-rata 95.87 mg; 246.26 mg; dan 318.36 mg. Hal tersebut terjadi karena penambahan bubuk kopi yang lebih tinggi mengakibatkan kadar kafein yang terkandung dalam kue cucur kopi semakin tinggi pula. Arabica coffee (Coffea arabica L.) is one of the most popular types of coffee in the world and Indonesia has a number of famous Arabica varieties, including Toraja Arabica coffee. The caffeine content in coffee varies depending on the type of coffee. Cucur cake is a typical Indonesian cake that is round in shape with thin edges and a thick texture in the middle. The basic ingredients for cucur cake are wheat flour, rice flour, palm sugar, coconut water and cooking oil. This research aims to determine the effect of adding Arabica coffee on the caffeine content of cucur cakes. The completely randomized design (CRD) method was used in this study, with 4 treatments and 3 replications, resulting in twelve experimental units. The concentration levels used are as follows: C0 Control (without treatment), C1 (addition of 10% Arabica coffee powder), C2 (addition of 15% Arabica coffee powder), C3 (addition of 20% Arabica coffee powder). The results showed that the caffeine content in cucur cakes increased with increasing coffee powder composition. For coffee powder compositions of 10%, 15% and 20%, the respective average caffeine content was 95.87 mg; 246.26 mg; and 318.36 mg. This happened because the addition of higher coffee powder resulted in the caffeine content contained in the cucur kopi cake increasing high too.
Uji Organoleptik Produk Riceball Ikan Layang (Decapterus spp) Terhadap Pengaruh Penambahan Wortel dan Daun Kelor: Organoleptic Testing of Mackerel Scad (Decapterus spp.) Riceball Products on the Effect of Adding Carrots and Moringa Leaves Astrina Nur Inayah; Rukmelia, Rukmelia; Eka Pratiwi Safri; Sulfika, Sulfika; Iranita Haryono; Astrini Padapi; Muh. Arsyad
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 12 No. 3 (2024): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v12i3.4304

Abstract

Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persentase penambahan wortel dan daun kelor terhadap tingkat kesukaan (warna, aroma, rasa dan tekstur) riceball ikan layang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Timoreng Panua dengan (25 orang panelis) Kecamatan Panca Rijang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata varian yang banyak disukai panelis adalah varian wortel. Peresentase nilai dari segi warna adalah 4.92, aroma 4.84, rasa 4.84 dan tekstur 4.92. Kesimpulannya, produk riceball ika layang ini memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan lebih lanjut. Berdasarkan hasil uji organoleptik kedua sampel dengan dua perlakuan yang dapat dilihat dari warna, aroma, rasa, dan tekstur bahwa penambahan wortel banyak disukai oleh panelis dapat diterima dimasyarakat. This research activity aims to determine the effect of the percentage of added carrots and Moringa leaves on the level of liking (color, aroma, taste and texture) of mackerel scad riceballs. This research was carried out in Timoreng Panua Village with (25 panelists) Panca Rijang District. This research was carried out on June 2024. The results of the research showed that the average value of the variant that most panelists liked was the carrot variant. The percentage value in terms of color is 4.92, aroma 4.84, taste 4.84 and texture 4.92. In conclusion, the ika layang riceball product has good potential for further development. Based on the results of organoleptic tests of two samples with two treatments, as observed through color, aroma, taste, and texture, the addition of carrots was highly favored by the panelists and is acceptable to the public.
Subtitusi Tepung Ampas Tahu pada Pembuatan Brownies Kering Kulit Pisang Inayah, Astrina Nur; Zahilah, Riska Nur; Ramadhan, Tri
Gorontalo Agriculture Technology Journal Volume 8 Nomor 1 April 2025
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32662/gatj.v0i0.3888

Abstract

Tofu dregs are a by-product of soybean pulp which is pressed to extract its juice in making tofu. Tofu dregs have low economic value, are easily damaged and cannot be stored for long. However, wet tofu dregs are easily damaged and spoiled, so they need further handling to increase the shelf life of the tofu dregs and to be more flexible in use, for example by making flour. This research aims to analyze the effect of adding tofu dregs flour and kepok banana peel on the physical and organoleptic quality of dry brownies. Tofu dregs flour was used as a substitute for wheat flour with three variations in concentration (20%, 25%, 30%). Tests included color, aroma, taste and texture parameters through organoleptic tests using the hedonic scale method by 25 panelists. The results showed that the highest value of the color organoleptic test was in the BK2 treatment (4.36) with 25% tofu dregs substitution, the highest value of the aroma organoleptic test was in the BK3 treatment (4.21) with 30% tofu dregs substitution, the highest value of the taste organoleptic test was in treatment BK2 (4.29) with 25% tofu dregs substitution, and the highest value of the texture organoleptic test was in treatment BK0 (4.09) with 0% tofu dregs substitution. The use of tofu dregs flour gives an attractive deep brown color to the final product. This research concluded that the addition of tofu dregs flour and kepok banana peels could increase the panelists' appeal to dry brownies. 
Pengaruh Penambahan Ekstrak Kulit Semangka (Citrullus lanatus) terhadap Karakteristik Fisik, Kimia dan Organoleptik Mi Ramadhan, Tri; Inayah, Astrina Nur; Salfiana, Salfiana
JASATHP: Jurnal Sains dan Teknologi Hasil Pertanian Vol 5 No 2 (2025): November
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Sains dan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jasathp.v5i2.2434

Abstract

Indonesia menduduki posisi kedua terbesar di dunia dalam konsumsi mi instan, dengan total sekitar 12,62 juta porsi atau sekitar 12,6% dari konsumsi global. Mi telah menjadi makanan populer di berbagai kalangan masyarakat Indonesia, mulai dari anak-anak hingga lansia, karena sifatnya yang praktis, mudah diolah dengan berbagai resep, serta cepat disajikan. Sementara itu, kulit semangka sebagai hasil samping buah semangka diketahui mengandung berbagai nutrisi dan senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan, namun pemanfaatannya masih sangat terbatas. Untuk mengurangi limbah dan meningkatkan nilai guna kulit semangka, bahan ini dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami dalam pembuatan mi. Penelitian ini bertujuan yaitu mengetahui pengaruh penambahan kulit semangka terhadap mutu mi yang dihasilkan berdasarkan uji kimia (kadar protein, kadar air, kadar rendemen) dan uji organoleptik. Penelitian dilakukan dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, sehingga diperoleh total 12 sampel. Data dianalisis menggunakan metode ANOVA untuk menguji perbedaan antar perlakuan, dan apabila terdapat perbedaan yang signifikan, kemudian melakukan uji DMRT pada taraf signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kulit semangka tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kadar protein, dengan nilai tertinggi pada perlakuan C (7,05%), kadar air tertinggi pada perlakuan B (4,56%), dan kadar rendemen tertinggi pada perlakuan D (48,39%). Berdasarkan hasil uji organoleptik, perlakuan terbaik diperoleh pada penambahan kulit semangka sebanyak 9% (perlakuan D).
Pemanfaatan Buah Pepaya California Dalam Modifikasi Pembuatan Kue Bolu Di Desa Carawali Kabupaten Sidrap Rukmelia Rukmelia; Iranita Haryono; Astrini Padapi; Astrina Nur Inayah; Rifni Nikmat Syarifuddin; Damayanti Trisnasari
KREATIF: Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara Vol. 3 No. 1 (2023): Maret : Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/kreatif.v3i1.1235

Abstract

Carawali village is an agro-tourism village with wide stretches of rice fields. Seeing this potential, businesses need to optimize their land resources and produce high productivity. California papaya fruit (Carica papaya L) is one type of fruit that has a high selling value. The potential for California papaya is large enough to be developed to increase the amount of public consumption so that it will have an impact on economic growth in the area. Besides having a high selling value, California papaya also has many benefits. Processed papaya products need to be developed so that papaya farmers can also become processors of papaya products, so that their level of economic welfare increases. One of the processed papaya products that can be developed is unyil cake and jam. The research method includes counseling on California papaya business opportunities and training on making unyil cakes and papaya jam. This counseling and training provides a new understanding for the Carawali village community in developing businesses that can provide additional income
The Effect of Adding Katuk Leaf Flour (Sauropus androgynus) in Making Tofu Waste Crackers: Pengaruh Penambahan Tepung Daun Katuk (Sauropus androgynus) terhadap Kadar Air, Kadar Protein, Rendemen, dan Sifat Organoleptik Kerupuk Ampas Tahu Nur Zahilah, A Riska; astrina nur inayah; Nur yahya abdullah; Andi Nurwidah
Jurnal Agrisistem Vol. 21 No. 2 (2025): Jurnal Agrisistem
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52625/j-agr.v21i2.488

Abstract

Ampas tahu adalah hasil sisa dari pembuatan tahu yang memiliki kandungan gizi tinggi, baik dari protein maupun lemak, sehingga sangat cocok untuk diolah menjadi berbagai jenis makanan, seperti kerupuk ampas tahu. Salah satu cara untuk meningkatkan kandungan gizi pada kerupuk dari ampas tahu adalah dengan menambahkan tepung dari daun katuk, karena daun tersebut kaya akan protein. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh penambahan tepung daun katuk terhadap kadar air, kadar protein, dan rendemen, serta untuk mencari metode yang tepat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali, yaitu A (tanpa tepung daun katuk), B (5% tepung daun katuk), C (10% tepung daun katuk), dan D (15% tepung daun katuk). Temuan penelitian menunjukkan bahwa tepung daun katuk tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kadar air pada perlakuan B (5%) dengan nilai tertinggi sebesar 4. 56%, dan juga terhadap kadar protein pada perlakuan C (10%) dengan nilai tertinggi 7.05%, serta rendemen 48.29%, di mana hasil tertinggi didapatkan pada perlakuan D (15%). Berdasarkan hasil uji sensorik, perlakuan A ( 0% daun katuk )  adalah perlakuan yang terbaik dengan nilai rata-rata 4. 41 dalam aspek warna, aroma, rasa, dan tekstur. Penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung daun katuk tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kadar air, protein, dan rendemen, serta menurunkan penerimaan organoleptik. Disarankan penggunaan konsentrasi rendah dan perbaikan proses pengolahan daun katuk untuk meningkatkan mutu produk.
Pengaruh Suhu Pengeringan terhadap Mutu Organoleptik Chips Porang Salfiana, Salfiana; Nurwidah, Andi; Muhanniah, Muhanniah; Inayah, Astrina Nur; Syahril, Muh; Basri, Fitra; Thamrin, Rinal; YS, Al Adzim; Syasurya, Yaqub; Erwinsyah, Erwinsyah
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 9 No 02 (2025): Journal Of Agritech Science -November
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jasc.v9i02.1486

Abstract

Pengeringan merupakan proses penting dalam pembuatan chips porang yang dapat memengaruhi kualitas sensori produk. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh suhu pengeringan terhadap mutu organoleptik chips porang, termasuk warna, aroma, tekstur, dan kualitas keseluruhan produk (Over all). Penelitian ini menguji beberapa suhu pengeringan, yakni 180-199°C, 200-219°C, 220-239°C, dan 240-269°C, untuk mengevaluasi perubahan mutu organoleptik pada chips porang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pengeringan yang lebih rendah, antara 180-199°C, cenderung menghasilkan chips porang dengan kualitas warna yang lebih cerah, aroma yang lebih kuat, namun belum optimal. Sebaliknya, suhu yang lebih tinggi, di atas 220°C, menyebabkan penurunan kualitas yang signifikan, dengan warna yang lebih gelap, aroma yang lebih lemah, dan tekstur yang keras atau rapuh. Oleh karena itu, untuk mencapai chips porang dengan kualitas organoleptik optimal, pengaturan suhu pengeringan 200-219°C yang tepat sangat penting untuk mempertahankan karakteristik produk yang diinginkan.
Pemberdayaan Nasyiatul Aisyiyah Transformasi Food Waste Ampas Kelapa Menjadi Olahan Pangan Berbasis Manajemen Usaha Untuk Mendukung Green Supermarket Sejati Mart Inayah, Astrina Nur; Haryono, Iranita; Syasurya, Ya’qub; Basri, Fitra; Riska, Riska; Riskia, Riskia
Jurnal SOLMA Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v15i1.22773

Abstract

Pendahuluan: Nasyiatul Aisyiyah (NA) Sidenreng Rappang menghadapi kendala dalam optimalisasi limbah pangan dan pengelolaan usaha berbasis ekonomi hijau. Ampas kelapa belum dimanfaatkan secara optimal dan berpotensi mencemari lingkungan, padahal memiliki nilai ekonomi jika diolah dengan tepat. Metode: Kegiatan ini melibatkan 30 peserta dan dilaksanakan melalui tiga tahap: persiapan (survei dan Focus Group Discussion), pelaksanaan (pelatihan dua hari terkait pengolahan produk dan manajemen usaha digital), serta evaluasi menggunakan pretest dan postest. Hasil: Adanya peningkatan signifikan, dengan rata-rata nilai peserta meningkat dari 55 (pre-test) menjadi 82 (post-test), atau naik sebesar 49%. Sebanyak 87% peserta mampu mempraktikkan pengolahan ampas kelapa menjadi produk bernilai jual, dan 80% peserta memahami dasar manajemen usaha serta pemasaran digital. Selain itu, 70% produk yang dihasilkan memenuhi standar awal untuk dipasarkan di Green Supermarket Sejati Mart. Kesimpulan: Program ini efektif dalam meningkatkan kapasitas peserta dalam pengolahan limbah pangan dan manajemen usaha berbasis ekonomi hijau, serta berpotensi memperkuat rantai pasok produk lokal berkelanjutan.
Pemberdayaan BUMDes karya bersama melalui optimalisasi limbah domestik sebagai peluang bisnis dan ramah lingkungan di Desa Lombo, Kecamatan Pitu Riase: Empowering BUMDes Karya Bersama through the optimization of domestic waste as a business opportunity and environmentally friendly initiative in Lombo Village, Pitu Riase Subdistrict Astrina Nur Inayah; Muhammad Aksan; Muhpidah Muhpidah; Inna Mutmainna Cahyani Thahir; Nur Afifah; Tri Ramadhan
Jurnal Tarreang: Tren Pengabdian Masyarakat Agrokompleks Vol. 1 No. 3 (2025): Jurnal Tarreang
Publisher : Agriculture and Forestry Faculty, Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/jtarreang.v1i3.4995

Abstract

The problems faced by BUMDes Karya Bersama include: (1) Lack of an effective waste management system – there is no proper system for waste collection, sorting, and processing, resulting in waste accumulation or improper disposal; (2) Low public awareness – the village community still lacks understanding of the importance of waste management; (3) Absence of waste-based business innovation – the potential of waste as a business opportunity has not been fully optimized. This activity aims to create new business opportunities based on waste processing that can increase village income, develop an environmentally friendly business model at the village level, and increase scientific knowledge for the community from the service carried out. The method used is counseling and training on how to make banana peel muffins and carrot peel muffins. The partner involved in this activity is BUMDes Karya Bersama. The result of the activity includes improved knowledge and skills, as seen from the active participation of the community in the activity and their engagement in innovating products made from domestik waste. In conclusion, the empowerment of BUMDes Karya Bersama through optimizing domestik waste has created a positive economic and environmental impact, opened up new business opportunities, and raised community awareness of the importance of clean and eco-friendly living. With ongoing support, this initiative has the potential to become an innovative and sustainable village waste management model.
Pengabdian kepada pelajar SMA Muhammadiyah: Pengembangan kreativitas melalui inovasi kuliner berbasis limbah domestik: Community service for Muhammadiyah High School students: Developing creativity through culinary innovation based on domestic waste Astrina Nur Inayah; Muhammad Aksan; Iranita Haryono
Jurnal Tarreang: Tren Pengabdian Masyarakat Agrokompleks Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Tarreang
Publisher : Agriculture and Forestry Faculty, Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/jtarreang.v2i1.5318

Abstract

This community service program was conducted at Muhammadiyah High School to develop student creativity through waste-based culinary innovations, as a solution to students' limited understanding of organic waste utilisation and the lack of entrepreneurial activities within the school environment. The partners faced several challenges, including low awareness of the importance of recycling and a lack of practical skills in creating marketable products. This activity was implemented through participatory training methods, interactive discussions, and hands-on practice in processing household organic waste—such as fruit peels and vegetable scraps—into innovative culinary products, such as carrot peel dim sum, dragon fruit peel ice cream, and banana peel soy sauce. Throughout the process, students were actively involved, from planning, production, and packaging, with simple entrepreneurship materials provided. The results of the activity showed a significant increase in students' knowledge of waste management and entrepreneurial skills, marked by high enthusiasm, the creation of several creative culinary products, and students' plans to sell their products at the school bazaar. In conclusion, this program successfully fostered environmental awareness and an entrepreneurial spirit among students through a creative and applicable approach relevant to their daily lives.