Claim Missing Document
Check
Articles

Perbedaan Daya Hambat Ekstrak Propolis dan Kunyit Putih terhadap Bakteri e. Coli pada Konsentrasi Minimum Putu Oky Ari Tania; Agusniar Furkani Listyawati; Emilia Devi Dwi Rianti; Ayly Soekanto
Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran Vol 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Resistensi antibiotik akibat e. coll berkembang beberapa tahun belakangan. resistensi antibiotik ini dapat menjadi penyebab kematian akibat infeksi. amoksisilin dilaporkan memiliki penurunan aktivitas antibiotik terhadap e. coll. senyawa flavonoid diketahui mengandung fenol yang dapat mengganggu dan merusak membran sel (indryani et al). Senyawa ini didapatkan pada propolis maupun kunyit putih. penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan data hambat antara ektsrak propolis dan kunyit putih pada konsentrasi hambat minumum sebesar 5%. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif analitik dengan 2 kelompok perlakuan yaitu ekstrak propolis dan kunyit putih, dan 2 kelompok kontrol. Kelompok kontrol negatif menggunakan antibiotik amoksisilin. Penelitian ini menggunakan metode dilusi cakram dengan Hasil penelitian menunjukkan zona hambat pada ekstrak proplis bertipe radikal atau membentuk zona bening, dibandingkan ekstrak kunyit putih. Rata-rata diameter zona bening pada ekstrak propolis dan ekstrak kunyit putih adalah 8,93 mm dan 7,92 mm. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak propolis memiliki potensi daya hambat lebih baik dibandingkan dengan ekstrak kunyit putih terhadap bakteri e. coli. Dibandingkan dengan kontrol positif yaitu pemberian antibiotik amoksisilin, terbukti ekstrak propolis maupun kunyit putih menunjukkan daya hambat yang lebih baik
STUDI KOMPUTASI: INTERAKSI PROTEIN AKT DAN METABOLIT SEKUNDER Curcuma zedoaria SEBAGAI AGEN IMUNOMODULATOR Putu Oky Ari Tania; Candra Rini Hasanah Putri; Ayling Sanjaya; Titiek Sunaryati; Deddy Hartanto
Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran Vol 2 (2024): Edisi 2024
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit inflamasi sistemik yang kronis seperti reumatoid artritis, sistemik lupus eritematosus, multipel sklerosis memberikan beban, memerlukan biaya terapi yang besar dan menyebabkan kamatian. Paparan stres, antigen, polutan berkontribusi terhadap terganggunya signaling protein termasuk sistem imun. Protein Akt penting dalam maturasi, diferensiasi dan daya hidup sel myeloid. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi metabolit sekunder dalam Curcuma zedaoria yaitu demethoxycurcumin, curcumenol dan germacrone dalam menghambat protein Akt, sehingga dapat dikategorikan sebagai agen imunomodulator. Metode yang dilakukan adalah melakukan prediski fisikokimia ligan (PkCSM), dan molekular docking antara proten Akt (3O96) dan 3 ligan demethoxycurcumin, curcumenol dan germacrone (PyRx). Hasil penelitian didapatkan bahwa ligan yang digunakan memenuhi kriteria Lipinski’s rule of five. Binding affinity yang didapatkan untuk demethoxycurcumin adalah -9,0kcal/mol, curcumenol adalah -7,9 Kcal/mol, germacrone adalah 7,3Kcal/mol sedangkan ligan uniknya yaitu IQO adalah 14.4 Kcal/mol. Binding affinity terendah adalah demethoxycurcumin yang menunjukkan bahwa demethoxycurcumin yang paling kuat dalam berikatan dengan protein Akt.
Expression Levels of Intestinal Toll-Like Receptors 2 and 4 in Acute Inflammation Caused by Intestinal Candidiasis: An Experimental Study in Wistar Rats Tania, Putu Oky Ari; Masfufatun, Masfufatun; Baktir, Afaf
Althea Medical Journal Vol 11, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/amj.v11n3.3345

Abstract

Background: Candida albicans grows in the gastrointestinal tract as a normal microflora that may cause intestinal candidiasis, characterized by formation of biofilm and inflammation. Candida is recognized by toll-like receptors (TLRs). This study aimed to explore the relationship between intestinal TLR 2 and TLR 4 expression levels in candidiasis at each phase of inflammation.Methods: An experimental study was performed using a simple randomized sampling on 30 male Wistar rats divided into a control and a treatment group. Each group was inoculated with Candida albicans. Dysbiosis conditions were designed in the treatment group using multiple antibiotics and on day 5 the rats were injected with subcutaneous cortisone acetate. The groups were terminated in five different times (days 7, 14, 21, 28 and 35). On the termination day, intestinal tissue was isolated and the TLR 2 and TLR 4 expression were analyzed by immunohistochemistry. The data were analyzed by parametric test with SPSS (p<0.05) and completed by post-hoc test Least Significance Difference (LSD) to compare pairs of groups.Results: The expression of TLR 2 and TLR 4 between control and treatment groups showed significant differences (p=0.005). In the treatment group, there was a gradual increase in the TLR2 and TLR 4 expressions.  Positive expression of TLR appeared more in the submucosal or basal area than apical surface. The treatment group showed the highest expression of both TLR2 (82.37%) and TLR4 (87.40%) on termination day 35.Conclusions: Inflammation caused by intestinal candidiasis can result in increased expression of intestinal TLR2 and 4 contributing to an increased risk of biofilm formation.
Effectiveness of the Combination of Facial Acupressure and Honey on Facial Skin Moisture Ayly Soekanto; Putu Oky Ari Tania; Andra Agnez Al Aska; Hardiyono Hardiyono
Jurnal Ilmiah Kedokteran Wijaya Kusuma Vol 13, No 2 (2024): September 2024
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/jikw.v13i2.3783

Abstract

Background: Facial skin is the most sensitive part, so it is important to take care of it. Facial skin care is a treatment to keep facial skin elastic and maintain facial skin moisture. Facial acupressure is a method of treatment that begins with massaging the meridian points so that blood flow becomes smooth and facial muscles feel more relaxed. Using honey is a facial skin care method that is made into a mask. Objective: The research aims to determine the effectiveness of the combination of facial acupressure and honey on facial skin moisture. Methods: This research is an analytical experimental study, with a sample of 30 women aged 40 - 50 years. In the first treatment, a moisture test was carried out, followed by the second treatment, the moisture test was measured for the facial acupressure and after the third treatment, the combination of the facial acupressure with a honey mask was subjected to a moisture test.  The research was carried out twice a week for 4 weeks for a total of 8 times. The research was carried out in April – May 2024 at the Wijaya Surabaya clinic & in a doctor's practice and used a Skin Moisture Analyzer as a measuring tool to measure skin moisture. Using statistical analysis with the Mann-Whitney test (α= 0.05) with a p-value of 0.000. Result: The results of the third treatment showed an increase in facial skin moisture until it reached 93.4%, including moist skin and 6.6%, which was considered normal skin criteria. Conclusion: It has been proven that the combination of facial acupressure and honey is effective on facial skin moisture, experiencing very significant changes in humidity starting from the first, second and third treatments.
Efektivitas Paparan Sinar Inframerah dengan Variasi Waktu Paparan Terhadap Pertumbuhan Escherichia Coli Listyawati, Agusniar Furkani; Rianti, Emillia Devi Dwi; Tania, Putu Oky Ari
BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Vol 7 No 4 (2022): Volume 7 Nomor 4, November 2022
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.844 KB) | DOI: 10.28926/briliant.v7i4.1112

Abstract

Paparan sinar inframerah Near Infra Red (NIR) mengandung efek panas dengan panjang gelombang 0.78 – 3 μm. Penelitian ini bertujuan melihat kemampuan NIR menghambat pertumbuhan Escherichia coli dengan menggunakan variasi waktu paparan terhadap hambatan pertumbuhan. Metode penelitian eksperimental acak lengkap digunakan dengan empat kelompok perlakuan dari biakan Escherichia coli, yaitu K0, K1, K2 dan K3. Kelompok dibedakan berdasarkan waktu paparan infra merah dalam menit. Pada perlakuan 1(K1) yaitu diberikan paparan selama 25 menit, K2 diberikan paparan 30 menit, dan K3 diberi paparan 35 menit, sedangkan kelompok kontrol (K0) tanpa diberikan paparan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan K3, jumlah bakteri Escherichia coli yang tumbuh lebih sedikit apabila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, sebesar 131 koloni. Uji statistik dengan ANOVA didapatkan p value sebesar 0,000 yang berarti ada pemberian infra merah berbagai variasi waktu berpengaruh terhadap jumlah koloni Escherichia coli. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka waktu paparan terbaik yang diberikan paparan NIR adalah selama 35 menit.
EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN SALAM (Eugenia polyantha) MENURUNKAN KADAR MALONDIALDEHYDE PADA KONDISI TIKUS HIPERLIPID Tania, Putu Oky Ari; Cahyadi, I Kadek Angga Dwi
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 9, No 2 (2021): EDITION JULY 2021
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v9i2.1426

Abstract

A high-fat diet leads to increasing intake of fatty acid in liver, making it susceptible to lipid peroxidation and free radical release. Malondialdehyde is a common biomarker for lipid peroxidation. Increasing free radicals should be balanced with the antioxidants in order to prevent oxidative stress. This study aim was to measured the effectiveness of bay leaf extract (Eugenia polyantha) in lowering MDA levels in hyperlipidemia rats. This study was an experimental study using 20 male rats divided into 4 groups. All rats were induced hyperlipidemia with high-fat diet for 12 days. KP was sacrificed in the next day after the feeding of high fat. KN administered by aquades 2 ml / day (peroral / po), P1 administered by bay leaves extract 1.08 g / day (p.0) and P2 received simvastatin treatment dose 0,0018 g / 150 g BB / day (p. 0). The results showed MDA levels in KP, KN, P1 and P2 were respectively 7.79; 7.07; 6.49; and 7.21 nmol / ml. One way ANOVA test showed p value was 0,073 (
Studi Invitro dan Insilico Efektivitas Antibakteri Kunyit Putih Terhadap Hambatan Pertumbuhan Escherichia Coli Tania, Putu Oky Ari; Listyawati, Agusniar Furkani; Soekanto, Ayly; Simamora, Dorta; Purbowati, Rini
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 10 No. 1 (2024): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v10i1.188

Abstract

Latar Belakang: Escherichia coli telah diamati sebagai salah satu bakteri penyebab resistensi antibiotik. Pasien ISK di India Selatan dilaporkan menunjukkan peningkatan resistensi terhadap ciprofloxacin. Senyawa bioaktif diperlukan sebagai kandidat antibiotik untuk mengendalikan infeksi bakteri. Curcuma zedoaria atau kunyit putih sebagai antimikroba terutama terhadap E. coli. Aktivitas antibakteri pada dinding sel paling sering digunakan sebagai agen bakterisida. Enzim penting untuk biosintesis peptidoglikan pada dinding sel bakteri adalah protein muramyl ligase E (MurE) (entri PDB: 7B9E) dan Gyrase B (entri PDB: 4ZVI), berpotensi sebagai target pengikatan dengan metabolit sekunder curcumenol dan germacrone dengan in silico (molecular docking). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas ekstrak etanol kunyit putih dibandingkan antibiotik dalam menghambat pertumbuhan E. coli secara in vitro dan in silico. Metode: 5 kelompok yang digunakan, yaitu ekstrak kunyit putih konsentrasi 15%, 20% dan 25%, kelompok kontrol positif dengan pemberian ciprofloxacin dan negatif yang diberikan aquades. Metode yang digunakan adalah mengukur diameter zona hambat dan daya bunuh (jumlah koloni) E. coli dan uji in silico yang dilakukan pada software PyRx. Hasil : penelitian menunjukkan ekstrak kunyit putih konsentrasi 25% mempunyai zona hambat yang sangat kuat dengan diameter hambatan 36,2 mm, sedangkan kunyit putih tidak mempunyai daya membunuh pada konsentrasi 10, 15 dan 25%. Afinitas pengikatan terendah untuk protein MurE adalah germacrone, sedangkan untuk pengikatan DNA girase B adalah curcumenol. Kesimpulan: Kunyit putih mempunyai potensi sebagai antibakteri dan diduga ligan curcumenol dan germacrone dapat menghambat aktivitas protein MurE dan DNA Gyrase B.
Pendampingan Kesehatan Kepada Peternak Dan Pengenalan Penyakit Infeksi Ternak Mastitis Dan Resistensi Antimikroba Di KPUD Tani Wilis Tulungagung Tania, Putu Oky Ari; Masfufatun, Masfufatun; Tjandra, Lusiani; Nadila, Sucia; Colin, Muhammad; Nugraha, Wima Handika; Sakri, Brian Manggala
JAPI (Jurnal Akses Pengabdian Indonesia) Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/japi.v10i3.7562

Abstract

Penyakit infeksi pada ternak khususnya sapi perah ada jenis yang beresiko menularkan kepada peternak (zoonosis) atau sebaliknya dapat menularkan ke peternak atau sebaliknya. Mastitis merupakan penyakit infeksi yang menyerang ambing susu sapi perah yang dapat berdampak ekonomi dan kesehatan. Masalah kesehatan lain adalah resistensi antimikroba yang menjadi issue global khususnya di negara berkembang. Daerah Tulungagung, Jawa Timur menjadi daerah empat besar pemasok susu di Jawa Timur. Bidang usaha masyarakat yaitu KPUD Tani Wilis yang menaungi lebih dari 1800 masyarakat produktif yaitu peternak. Pemahaman mengenai penyakit infeksi yang belum tersentuh secara menyeluruh perlu ditingkatkan, untuk itu kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pengalaman peternak terutama terkait penyakit infeksi pada ternak maupun manusia. Tujuan: memberikan pendampingan dan pengenalan penyakit infeksi mastitis dan resistensi antimikroba pada sapi perah dan orang-orang di sekitar daerah pertanian. Metode: edukasi dengan metode pemaparan materi kepada 57 peserta dan konsultasi peternak ke narasumber, serta pembagian leaflet. Evaluasi kegiatan berupa penilaian pre-test dan pemberian leaflet di awal kegiatan. Hasilnya nilai tertinggi yaitu 100 poin didapatkan pada 23% peserta, dengan nilai terendah 60 poin ditunjukkan dengan prosentase terkecil sebesar 15%. Pada sesi konsultasi tidak kurang dari 11 pertanyaan diajukan kepada narasumber.
Supplementation of Pumpkin Seed Oil and SCFASs as a Prospective Biotherapeutic to Preserve Gut Natural Microbiota of Colitis Mice Tania, Putu Oky Ari; Simamora, Dorta; Widjaja, Jimmy Hadi; Purbowati, Rini
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 11 No. 2 (2025): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v11i2.399

Abstract

Background: Ulcerative Colitis (UC) is an inflammatory disease in the colon, due to the disruption of the interaction between the immune response and the intestinal microbiota in a genetically susceptible host. The imbalance between commensal and pathogenic intestinal microbiota promotes inflammation. This study aims to explore the efficacy of pumpkin seed oil and SCFAs in maintaining the intestinal microbiota in UC model mice. Methods: Four groups, K1, K2, K3, and K4, as health control given distilled water (K1); K2, K3, and K4 induced UC with 2% DSS, followed by administration of Short Chain Fatty Acids (SCFAs) (K3), supplementation of SCFAs and pumpkin seed oil (K4). The number of colonies measured microbiota diversity (log CFU/mL/g) in NA, EMB, MRSA, and McConkey media. Hemoglobin and hematocrit were also measured to assess anemia. Results: The average number of bacterial colonies that grew on NA, EMB, MRSA, and McConkey media in K4 was 7.65, 5.78, 7.85, and 6.20, respectively, and the average HB and hematocrit levels were 14.2 g/dL and 42%, respectively. There was greater microbiota diversity and lactobacillus bacteria in UC rats given pumpkin seed oil and SCFAs, with fewer Enterobacteriaceae and E. coli than in the UC model. The increase in HB and hematocrit levels also showed the same trend. Conclusion: Pumpkin seed oil at a dose of 100 mg/kg and SCFAs can be a prospective biotherapy for maintaining the balance of the natural microbiota and increasing HB levels.
Prevalence Pattern of Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) Producing Escherichia coli in the Intestinal Flora of Milkfish Salsabillah, Dinara Safina; Kuntaman, Kuntaman; Masfufatun, Masfufatun; Tania, Putu Oky Ari
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i1.11259

Abstract

Escherichia coli is one of the gram-negative bacteria that produces the Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) enzyme and has a role in resistance to the beta-lactam group. The presence of E. coli bacteria that produce ESBL in food, especially in fish such as milkfish (Chanos chanos) poses a potential source of the spread of antimicrobial resistance (AMR) in humans. This study aims to determine the prevalence of ESBL-producing E. coli in the intestinal flora of milkfish sold in traditional markets in Surabaya City. This study used a descriptive observational method with a cross-sectional approach. There were 50 samples of milkfish intestines taken from several stalls in traditional markets randomly. Identification of E. coli bacteria by planting in MacConkey media with 4 µL/ml cefotaxime followed by the Double Disk Synergy Test (DDST). Of the 50 milkfish intestine samples used, 34 (68%) samples showed positive results for ESBL-producing E. coli. The high prevalence may indicate that the potential for the spread of antimicrobial resistance through the food chain, food hygiene management and controlling the use of antibiotics in fish farming need serious attention.
Co-Authors AFAF BAKTIR Agusniar Furkani Listyani Agusniar Furkani Setiyawati Ahista Saskirana Putri Ahnaf Farel Al Raihaan akhmad sudibya, akhmad Amirotul Khifana Andiani Andiani Andra Agnez Al Aska Athaya Azalia Yasirah Ayling Sanjaya Ayly Soekanto Azka, Andra Agnes Al Cahyadi, I Kadek Angga Dwi Candra Rini Hasanah Putri Candra Rini Hasanah Putri Colin, Muhammad Deddy Hartanto Dorta Simamora Emanuel, Endrayana Putut Laksminto Emilia Devi D. Rianti Emilia Devi Dwi Rianti Emilia Devi Dwi Rianti Emilia Devi Dwi Rianti Emillia Devi D.Rianti, Emillia Devi Enny Willianti, Enny Erlix R Purnama Erny Erny Erny Erny Fadilla Lutvi Aryanti Febtarini Rahmawati Febtarini Rahmawati Fuad Ama Furkani, Agusniar Hardiyono Hardiyono Hardiyono Hardiyono Hardiyono Hardiyono HARMAN AGUSAPUTRA Harsono Wiradinata Haru Setiawan I Kadek Putra Dwipayana I Made Subhawa Harsa Ibrahim Njoto, Ibrahim Inawati Inawati, Inawati Indra Firismanda Dermawan Kadek Adi Sudarmika Ketut Ayesha Edelwise Prayoga Kuntaman Kuntaman Listyawati, Agusniar Furkani Loo Hariyanto Raharjo, Loo Hariyanto Lusiani Tjandra Marcela Anindita Masfufatun Masfufatun Masfufatun Maverick Nathanael Adirangga Meivy Isnoviana Muhammad Collin Nadila, Sucia Ni Kadek Evita Vara Rosieana Ni Made Ayu Gea Niquita Noer Kumala Indahsari, Noer Kumala Nugraha, Wima Handika Nur Sri Wahyuni Olivia Rahayu Ramadhani Pramita Laksitarahmi Isrianto Puja Ayu Misuari Puja Ayu Misuari Putra, Wisnu Pratama Putut Laksminto Emanuel Rini Purbowati Sakri, Brian Manggala Salsabillah, Dinara Safina Satya Yudhayana Satya Yudhayana Sianny Suryawati, Sianny Sudarmika, Kadek Adi Sukma Sahadewa, Sukma Syeira Rigita Noptavia Theodora Theodora Titiek Sunaryati Titiek Sunaryati Titiek Sunaryati, Titiek Wahyuni Dyah Parmasari, Wahyuni Dyah Widjaja, Jimmy Hadi