Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI, ANEMIA, STATUS INFEKSI, DAN ASUPAN ZAT GIZI DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH ENDEMIK GAKI Toto Sudargo; Emy Huriyati; Lastiana Safitri; Winda Irwanti; Sri Ahadi Nugraheni
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v35i2.129

Abstract

Anak-anak yang tinggal di daerah  GAKI  mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kelaparan dan rendahnya skor IQ.  Tujuan penelitian ini menjelaskan  hubungan status gizi, anemia, status infeksi, dan  asupan  zat  gizi  (energi,  protein,  karbohidrat,  lemak,  iodium,  vitamin  C,  vitamin  A,  Fe,  Zn,  dan Selenium), dengan fungsi kognitif    anak sekolah dasar (SD) yang tinggal di daerah GAKI, dan  mengetahui kandungan iodium pada tanah dan air di wilayah tersebut. Jenis studi observasional dengan desain crosssectional.  Subjek  penelitian  anak  SD  berusia  9-12  tahun  kelas  3,  4,  dan  5  dari  3  SD  di  daerah  endemik GAKI  Kecamatan  Kismantoro,  Kabupaten  Wonogiri,  Jawa  Tengah.  Status  GAKI  diukur  menggunakan metode  palpasi  dan  Urinary  Iodine  Excretion  (UIE),  status  gizi  dengan  indikator  TB/U,  status  anemia menggunakan Hemocue, status infeksi dengan wawancara pada orangtua, asupan zat gizi menggunakan multiple  food  recall  24  jam  (3  hari),  kandungan  iodium  dalam  tanah  dan  air  menggunakan  Inductive Coupled  Plasma-Mass  Spectrometry  (ICP-MS)  dan  fungsi  kognitif  menggunakan  Weschler  Intelligence Score for Children-Revised  (WISC-R).  Hasil menunjukkan  20 subjek (28,9%) mengalami  GAKI, 27 subjek (39,1%)  stunting,  17  subjek  (24,6%)  anemia,  11  subjek  (15,9%)  infeksi  (ISPA  dan  diare)  dan  57  subjek (82,6%)  mengalami  gangguan  fungsi  kognitif.  Analisis  bivariat  menunjukkan  tidak  terdapat  hubungan signifikan antara status  GAKI  dan infeksi dengan fungsi kognitif (p0,05). Terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan anemia dengan fungsi kognitif (p0,05).  Analisis multivariat asupan zat gizi energi, protein,  karbohidrat,  lemak,  iodium,  vitamin  C,  vitamin  A,  besi,  dan  selenium  memberikan  kontribusi sebesar  20,9%  dari  skor  IQ  total  anak  sekolah.  Hb,  UIE,  dan  asupan  zat  gizi  memberikan  kontribusi sebesar 24,1% dari skor IQ total anak sekolah. Hasil laboratorium menunjukkan  rerata  kandungan  iodiumtanah (2,49 ppm), dan dalam air (2,7ppb) berada di bawah standar. Jadi status gizi dan anemia, asupan zat gizi  berhubungan  dengan  fungsi  kognitif  anak  sekolah.  GAKI  dan  status  infeksi  tidak  berhubungan dengan fungsi kognitif. Secara bersama Hb, UIE dan asupan zat gizi berhubungan dengan fungsi kognitif. Rerata kandungan iodium pada tanah dan air di wilayah penelitian berada di bawah standar.Kata kunci: GAKI, status gizi, anemia, infeksi, fungsi kognitif
Exposure of Screen Time in Relationship with Obesity in Junior High School Adolescence in Yogyakarta Nurul Putrie Utami; Martalena Br Purba; Emy Huriyati
Jurnal Dunia Gizi Vol 1, No 2 (2018): Edisi Desember
Publisher : Study Program of Nutrition, Public Health Faculty, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdg.v1i2.3419

Abstract

Obesity has been increasing throughout the world that also will impact to the increasing of non communicable disase realated to obesity. Obesity which is occurred since adolescence can worsen the problem because it will carry over until adult so it was necessary to prevent obesity by controlling the obesity risk factor. Some studies reveal that increasing obesity was emerged because of high screen time. Too much screen time can increase exposure of unhealthy snack and increase sedentary activity that was obesity risk factor. Objectives; to determine the relationship of screen time and obesity in adolescent in Junior High School in Yogyakarta. Material and Method; the type of research used was observational with a case control study approach. This research was conducted in 4 junior high schools in the city of Yogyakarta. The sample of this study was 120 students aged 12-15 years consisting of 60 students in the case group and 60 students in the control group selected by the proportionate random sampling method which then matched age and sex. Results; in this study it was found that there was a significant relationship between screen time of more than 2 hours/day and the risk of obesity in adolescent junior high school in Yogyakarta City (p=0.019) with an Odds Ratio of 2.6 (1.160-5.750). Higher screen time is significantly associated with a higher level of energy intake (p=0.037) with a Prevalence Ratio of 1.3 (1.025-1.638). Conclusion; it was found that there was a relationship between screen time and obesity in adolescent junior high school in Yogyakarta City.
Durasi dan kualitas tidur hubungannya dengan obesitas pada anak sekolah dasar di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul Dewi Marfuah; Hamam Hadi; Emy Huriyati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 1, NOMOR 2, MEI 2013
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.193 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2013.1(2).93-101

Abstract

ABSTRACTBackground: The prevalence of obesity in Indonesia is expected to continue to increase each year. Many factors contribute to obesity, one of which is the duration and quality of sleep. Short sleep duration and poor sleep quality lead to increase energy intake and increase sedentary lifestyle that will have an impact on obesity in children.Objective: To examine the difference in duration and quality of sleep between obese and non-obese children, and to examine whether short sleep duration and poor sleep quality were risk factors of obesity in elementary school children in City of Yogyakarta and Bantul Regency.Methods: This was a case control study. A random sample of 244 obese and 244 grade-matched non-obese elementary school students were selected form a cross-sectional survey previously done in the City of Yogyakarta and Bantul Regency. Information of sleep quality was collected using sleep self report questionnaires, sleep duration using recall of physical activity during the last week, nutrient intakes using a food frequency questionnaires and socio-economicusing structured questionnaires. Results: There was a signifi cant relationship between sleep duration and obesity. The odds of being obese was 1.7 (OR=1,74, 95%CI: 1.06-2.84) times higher in children who slept <10 hours/day and those children who slept ≥10 hours/ day. Children with low quality of sleep was 1.9 (OR=1.88, 95% CI:0.95-3.71) times more likely to be obese than children with good quality of sleep. However, the association was not statistically signifi cant.Conclusion: Short sleep duration was associatied with increased odds of being obese in elementary school children. KEYWORDS: sleep duration, sleep quality, obesity, elementary school children.ABSTRAKLatar Belakang: Prevalensi obesitas di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap obesitas, salah satunya adalah durasi dan kualitas tidur. Durasi tidur yang pendek dan kualitas tidur yang buruk menyebabkan peningkatan asupan energi dan peningkatan gaya hidup yang akan berdampak pada obesitas pada anak-anak.Tujuan: Menguji perbedaan durasi dan kualitas tidur antara anak obesitas dan non obesitas, dan apakah durasi tidur yang pendek dan kualitas tidur yang buruk merupakan faktor risiko obesitas pada anak sekolah dasar di Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kasus kontrol. Sampel diambil secara acak sebanyak 244 anak SD obes dan 244 anak SD non-obes yang sebelumnya telah dipilih menggunakan metode cross-sectional yang dilakukan di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Data kualitas tidur diperoleh menggunakan kuesioner catatan tidur, sedangkan durasi tidur dengan recall aktivitas fi sik selama satu minggu, asupan gizi dengan food frequency questionnaire, dan  sosial ekonomi dengan kuesioner terstruktur.Hasil: Terdapat hubungan yang signifi kan antara durasi tidur dengan obesitas. Anak yang tidur <10 jam/hari kemungkinan mengalami obesitas 1.7 (OR=1,74, 95% CI: 1.06-2.84) kali lebih tinggi dibandingkan yang tidur >10 jam/hari. Anak dengan kualitas tidur yang buruk kemungkinan mengalami obesitas 1.9 (OR=1.88, 95% CI: 0.95-3.71) kali dibandingkan dengan yang kualitas tidurnya baik, namun secara statistik tidak signifi kan.Kesimpulan: Durasi tidur yang pendek berhubungan dengan peningkatan kemungkinan untuk mengalami obesitas pada anak sekolah dasar.KATA KUNCI: durasi tidur, kualitas tidur, obesitas, anak SD
Riwayat pola asuh, pola makan, asupan zat gizi berhubungan dengan stunting pada anak 24–59 bulan di Biboki Utara, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur Christin Debora Nabuasa; M Juffrie; Emy Huriyati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 1, NOMOR 3, SEPTEMBER 2013
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2013.1(3).151-163

Abstract

ABSTRACTBackground: Stunting is an indicator of chronic malnutrition that reflects problem of overall social economic condition in the past and as a manifestation of further consequences of the prevalence of low birth weight and undernutrition in children underfive and absence of supreme catch-up growth in the followingyears. Stunting brings impact to physical growth disorder that results in low capacity in working memory, learning memory, visuospatial ability and cognitive function. Low economic condition, rearing pattern, eating pattern, nutrient intake for a long time cause high prevalence of stunting in children underfives. The result of basic health survey 2007 showed the prevalence of stunting at the Province of Nusa Tenggara Timur was 46.7%, in District of Timor Tengah Utara was 59.6% and at Subdistrict of Biboki Utara in two subsequent years were 64.6% and 60.2%.Objectives: To identify association between history of rearing pattern, eating pattern, nutrient intake and stunting in children of 24-59 months in Subdistrict of Biboki Utara District of Timor Tengah Utara Province of Nusa Tenggara Timur.Methods: The study was observational with case control design. Research instrument was questionnaire that was used to identify history of rearing pattern, eating pattern and nutrient intake through recall 4x24 hours subsequently. The study was carried out in Subdistrict of Biboki Utara with subject of the study were children of 24-59 months old involving a total of 152 subjects consisting of 76 children underfive as cases and 76 as control.Results: History of inadequate rearing pattern was 53.9%, eating pattern 55.9%, energy intake 55.9%, protein intake 52.6%, calcium intake 52.0%, infection disease 51.3%, family economy 61.8%, food tenacity 71.7%. The result of bivariate analysis showed variables of history of rearing pattern, eating pattern, nutrient intake, infection disease, family economy had significant association (p<0.05) with stunting whereas food security had no significant association. The result of multivariate analysis showed variable of history of rearing pattern most dominantly influenced the prevalence of stunting.Conclusions: There was significant association between history of rearing pattern, eating pattern, intake of protein, energy, calcium and stunting.KEYWORDS: rearing pattern, eating pattern, nutrient intake, culture, economy, infection disease, food security, stunting,children underfiveABSTRAKLatar belakang: Stunting merupakan salah satu indikator gizi kronis yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan sosial ekonomi keseluruhan di masa lampau. Stunting diketahui dengan melakukan pengukuran indikator TB/U. Dampak stunting menyebabkan menurunnya pertumbuhan, perkembanganmotorik terlambat, terhambatnya pertumbuhan mental, penurunan intelegensi anak, penurunan kualitas sumber daya manusia dan produktivitas. Anak stunting umur ≥ 2 tahun mempunyai risiko mengalami morbiditas dan obesitas lebih tinggi. Dengan rendahnya keadaan ekonomi, pola asuh, pola makan,asupan zat gizi dalam kurun waktu yang lama menyebabkan tingginya prevalensi stunting pada balita. Hasil riskesdas tahun 2007, prevalensi stunting provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 46,7% dan prevalensi di Kabupaten Timor Tengah Utara sebesar 59,6% dan di Kecamatan Biboki Utara 2 tahun berturut-turut adalah 64,6% dan 60,2%.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan riwayat pola asuh, pola makan, asupan zat gizi terhadap kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Biboki Utara Kabupaten Timor Tengah Utara ProvinsiNTT. Metode: Jenis penelitian studi observasional dengan rancangan case-control dengan alat ukur menggunakan kuesioner untuk mengetahui riwayat pola asuh, pola makan dan asupan zat gizi menggunakan recall 24 jam. Penelitian dilakukan di Kecamatan Biboki Utara dengan jumlah sampel sebanyak 152 yang terdiri dari 76 anak sebagai kasus dan 76 anak sebagai kontrol.Hasil: Riwayat pola asuh kurang (53,9%), pola makan (55,9%), asupan energi (55,9%), asupan protein (52,6%), asupan kalsium (52,0%), budaya (61,1%), penyakit infeksi (51,3%), ekonomi keluarga (61,8%), ketahanan pangan (71,7%), berdasarkan analisis bivariat yang dilakukan diperoleh variabel riwayatpola asuh, pola makan, asupan zat gizi, budaya, penyakit infeksi, ekonomi keluarga memiliki hubungan yang signifikan (p<0,05), ketahanan pangan tidak signifikan terhadap kejadian stunting (p>0,05). Analisis multivariat diperoleh variabel riwayat pola asuh paling dominan berpengaruh terhadap kejadian stunting.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna pada variabel pola asuh, pola makan, asupan zat gizi, budaya, ekonomi keluarga dan penyakit infeksi terhadap kejadian stunting, tidak terdapat hubungan yang bermakna pada variabel ketahanan pangan terhadap kejadian stunting.KATA KUNCI: pola asuh, pola makan, asupan zat gizi, budaya, ekonomi, penyakit infeksi ketahanan pangan, stunting
Faktor risiko kejadian stunting pada anak umur 6-36 bulan di Wilayah Pedalaman Kecamatan Silat Hulu, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat Siti Wahdah; M Juffrie; Emy Huriyati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 3, NOMOR 2, MEI 2015
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.367 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2015.3(2).119-130

Abstract

ABSTRACTBackground: Stunting in children under five is an indicator of nutritional status that can reflect problem of overall social economic condition in the past. Stunting that occurs in childhood is a risk factor of increasing in mortality rate, low cognitive capability and motoric development, and improper physical function. The incidence of stunting is associated with many factors such as family environment (education, occupation, income, rearing pattern, eating pattern, and number of family members), nutritional factors (exclusivebreastfeeding and duration of breastfeeding), genetic factor, infection disease, and the incidence of low birth weight. The scope of stunting in 2010 were 35,6% and 39,7% in Indonesia and Province of Kalimantan Barat.Objectives: To identify the risk factors associated with the incidence of stunting in children of 6-36 months in Silat Hulu District of Kapuas Hulu, Province of Kalimantan Barat.Methods: This was an analytic observational study with cross sectional design. Population of the study were all of underfi ves children at remote area of Subdistrict of Silat Hulu, District of Kapuas Hulu, Province of Kalimantan Barat. Data analysis used chi-square test and logistic regression analysis to identify themost dominantly determinant stunting variable.Results: The incidence of stunting was significantly associated with occupation of mother, height of father, height of mother, income, number of family members, rearing pattern, and exclusive breastfeeding supplementation (p<0.05). The incidence of stunting was not associated with occupation of father, eating pattern, duration of breastfeeding, infection disease, and education of mother (p>0.05).Conclusions: Factors associated with the incidence of stunting were the work of mothers, rearing pattern, family income, number of household members, father’s height, maternal height, and exclusive breastfeeding. The most dominant determinant of risk factors on the incidence of stunting were exclusivebreastfeeding, number of household members, maternal height, income, and father’s height.KEYWORDS: exclusive breastfeeding, height of father, height of mother, income, stuntingABSTRAKLatar belakang: Stunting pada anak balita merupakan indikator status gizi yang dapat memberikan gambaran gangguan keadaan sosial ekonomi secara keseluruhan di masa lampau. Stunting yang terjadi pada masa anak merupakan faktor risiko meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif dan perkembangan motorik yang rendah, dan fungsi tubuh yang tidak seimbang. Kejadian stunting berhubungan dengan berbagai macam faktor antara lain lingkungan keluarga (pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pola asuh, pola makan dan jumlah anggota rumah tangga), faktor gizi (ASI eksklusif danlama pemberian ASI), faktor genetik, penyakit infeksi, dan kejadian BBLR. Menurut hasil riset kesehatan dasar, prevalensi anak balita yang menderita stunting di Indonesia pada tahun 2010 masih tinggi sebesar 35,6%, dan 39,7% di Provinsi Kalimantan Barat.Tujuan: Mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak umur 6-36 bulan di pedalaman Kecamatan Silat Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Populasinya adalah seluruh balita yang ada di wilayah pedalaman Kecamatan Silat Hulu Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Analisis data menggunakan uji chi-square dan untuk mengetahui variabel paling determinan terhadap stunting dilakukan analisis regresi logistik.Hasil: Kejadian stunting berhubungan signifi kan dengan pekerjaan ibu, tinggi badan ayah, tinggi badan ibu, pendapatan, jumlah anggota rumah tangga, pola asuh, dan pemberian ASI eksklusif (p<0,05). Kejadian stunting tidak berhubungan dengan, pekerjaan ayah, pola makan, lama pemberian ASI, penyakit infeksi, dan pendidikan ibu (p>0,05).Kesimpulan: Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah pekerjaan ibu, pola asuh, pendapatan keluarga, jumlah anggota rumah tangga, tinggi badan ayah, tinggi badan ibu, dan pemberian ASI eksklusif. Faktor risiko determinan terhadap kejadian stunting adalah pendapatan, jumlah anggotarumah tangga, tinggi badan ayah, tinggi badan ibu, dan pemberian ASI eksklusif.KATA KUNCI: stunting, pendapatan, jumlah anggota rumah tangga, tinggi badan, ayah, tinggi badan ibu, pemberian ASI eksklusif
Riwayat asupan energi dan protein yang kurang bukan faktor risiko stunting pada anak usia 6-23 bulan Rahmaniah Rahmaniah; Emy Huriyati; Winda Irwanti
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 2, NOMOR 3, SEPTEMBER 2014
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.593 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2014.2(3).150-158

Abstract

ABSTRACTBackground: Stunting was a chronic nutrition problem that still be a concern in the developing nations include Indonesia. The direct cause of stunting was infectious disease and inadequate food intake such as energy and protein deficiency. In Indonesia in 2010, the prevalence of stunting was 35.7%, inYogyakarta as much as 22.5%, in Bantul District in 2012 was 18.08% and in Sedayu Subdistrict was 30.51%.Objectives: To know the history of energy and protein intake as the risk factors of stunting in children of 6-23 months.Methods: This was an observational study with case-control design. The population were children aged 6-23 months who lived in Sedayu Subdistrict, Bantul. The measurement energy and protein intake used a semi-quantitative food frequency questionnaire and determination of stunting used the WHO standard anthro 2005. Samples were selected by total sampling approachment. Data was analyzed by chi-square and logistic regression test.Results: The result of bivariate analysis showed that birth weight and maternal height had significant association with stunting (p<0.05). While energy and protein intake did not associated with stunting. However, there was a tendency that children with less energy and protein intake had higher risk of stunting. Multivariate analysis showed that maternal height was the dominant variable effect on the prevalence of stunting (OR=2.06).Conclusions: Low energy and protein intakes were not risk factors of stunting in children 6-23 months. Maternal height was dominant variable that influenced the stunting incidence.KEYWORDS: energy intake, protein intake, stunting, childABSTRAKLatar belakang: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi perhatian di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyebab langsung stunting adalah penyakit infeksi dan asupan makanan yang tidak memadai seperti kurang energi dan protein. Di Indonesia pada tahun 2010 prevalensi stunting sebanyak 35,7%, di Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 22,5%, di Kabupaten Bantul tahun 2012 sebesar 18,08% dan Kecamatan Sedayu 30,51%.Tujuan: Untuk mengetahui riwayat asupan energi dan protein sebagai faktor risiko stunting pada anak usia 6-23 bulan.Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan case-control. Populasinya seluruh anak usia 6-23 bulan yang ada di wilayah Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul. Pengukuran asupan energi dan protein dengan menggunakan semi-quantitative food frequency questionnaire dan penentuan stunting dengan menggunakan baku standar WHO anthro 2005. Cara pengambilan sampel adalah dengan total sampling. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Berat bayi lahir dan tinggi badan ibu menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian stunting (p<0,05), sedangkan riwayat asupan energi dan protein tidak berhubungan dengan stunting (p>0,05). Secara multivariat, tinggi badan ibu merupakan variabel yang dominan berpengaruh terhadap stunting(OR=2,06).Kesimpulan: Asupan energi dan protein yang kurang bukan merupakan faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan. Tinggi badan ibu merupakan variabel yang dominan berpengaruh terhadap kejadian stunting.KATA KUNCI: asupan energi, asupan protein, stunting, anak
ASI eksklusif berhubungan dengan perkembangan bayi di Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu Kamsiah .; Detty Siti Nurdiati; Emy Huriyati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 1, NOMOR 1, JANUARI 2013
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.717 KB) | DOI: 10.21927/ijnd.2013.1(1).39-43

Abstract

ABSTRACTBackground: Malnutrition is a major problem in Indonesia nowadays. Malnutrition will affect the quality of human resources in the future. Age of 7–12 months is a critical and golden period for the process of child development. Early complementary breastfeeding is one of causes the prevalence child development disorder.Objective: To fi nd out the relationship between exclusive breastfeeding and the development of infants 7–12 months old at the Health Center at Jalan Gedang, Sub District of Gading Cempaka, Bengkulu Municipality.Method: This observational study used cross sectional design. There were as many as 75 samples of infants 7–12 months old taken using cluster random sampling. Data of breastfeeding were obtained from questionnaires, data of development were obtained from questionnaires with pre-screening development format. Data analysis used chi square and logistic regression statistical test.Result: There was signifi cant relationship between exclusive breastfeeding and infant development (p<0.05). There was signifi cant relationship between birth weight and infant development (p<0.05). There was no signifi cant relationship between method of childbirth, education of mothers, mothers’ occupation, family income and infant development (p>0.05). The result of multivariable analysis showed that birth weight was a predictor of infant development (OR= 5.231).Conclusion: There was signifi cant relationship between exclusive breastfeeding and the development of infants of 7–12 months old. Birth weight was a dominant factor related to the development of infants of 7–12 months old.KEYWORDS:exclusive breastfeeding, infant developmentABSTRAKLatar belakang: Malnutrisi menjadi masalah utama di Indonesia yang akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia pada masa yang akan dating. Usia 7-12 tahun merupakan masa kritis dan masa keemasan bagi perkembangan anak. Pemberian MPASI (makanan pendamping ASI) yang terlalu dini merupakan salah satu penyebab gangguan perkembangan bayi.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara ASI eksklusif dengan perkembangan bayi di Puskesmas Jalan Gedang Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu.Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional menggunakan rancangan cross sectional. Jumlah sampel adalah 75 bayi berusia 7-12 bulan yang dipilih menggunakan simple random sampling.Data diperoleh melalui kuesioner dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi Square dan regresi logistik dengan confi dence interval (CI) 95%.Hasil: Ada hubungan bermakna antara ASI eksklusif dengan perkembangan bayi dan antara berat badan lahir dan perkembangan bayi (p<0.05), namun tidak ditemukan hubungan antara metode persalingan, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan pendapatan keluarga dengan perkembangan bayi (p>0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa berat badan lahir merupakan prediktor perkembangan bayi (OR=5,231).Kesimpulan: Ada hubungan bermakna antara ASI eksklusif dengan perkembangan bayi 7-12 bulan. Berat badan lahir  merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan perkembangan bayi 7-12 bulan.KATA KUNCI: ASI eksklusif, perkembangan bayi
Faktor yang Mempengaruhi Bidan dalam Inisiasi Laktasi di Klinik Bersalin Kota Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam Husnah Husnah; Detty Siti Nurdiati; Emy Huriyati
JNKI (Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia) (Indonesian Journal of Nursing and Midwifery) Vol 2, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.185 KB) | DOI: 10.21927/jnki.2014.2(2).81-85

Abstract

Breastfeeding is recommended soon or 30 minutes to an hour after childbirth. Breastfeeding or initiation of lactation will affect successful continuity of breast milk supply and prevent infant morbidity and mortality caused by infection. However, some studies convey that the prevalence of lactation initiation is still relatively low due to factors of mothers and midwives who assist childbirth. This was a quantitative observational study with cross sectional design aimed to identify the effect of knowledge, attitude, behavior and duration of occupation of midwives to lactation initiation at maternity clinic of Banda Aceh Municipality. Qualitative data were obtained through indepth interview. Samples were purposively chosen from all midwives working at maternity clinic of Banda Aceh Municipality. Data analysis used univariable, bivariable with Chi square and multivariable with logistic regression. The result of bivariable analysis showed that knowledge and behavior of midwives affected lactation initiation (p<0.05) whereas variable of attitude and duration of midwives’ occupation did not affect lactation initiation. The result of multivariable analysis showed that knowledge and behavior of midwives affected lactation initiation (p=0,041 OR= 3,94 (95%-Cl:1.05–14.69) and (p=0,016 OR=4,52 (95%-Cl:1.32 – 15.46). In conclusion, variables of knowledge and behavior of midwives affected lactation initiation whereas variable of attitude and duration of midwives’ occupation did not affect lactation initiation.
Efek ekstrak teh hijau (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze var. assamica) terhadap berat badan dan kadar malondialdehid wanita overweight Alpha Olivia Hidayati; Wiryatun Lestariana; Emy Huriyati
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 9, No 1 (2012): Juli
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijcn.15377

Abstract

Background: Overweight and obesity were risk factors of various degenerative diseases. Green tea extract contains polyphenol compounds, particularly catechins which act as antioxidants, fat dissolvent and aid lipolysis. Thus, it is necessary to study the use of green tea as an alternative treatment to overcome overweight.Objective: To identify the effect of green tea extract supplementation on body weight and malondialdehide (MDA) level of overweight women in Yogyakarta District Health Office.Method: This was an experimental study with double-blind randomized controlled trial design. Subject of the study were divided into two groups; one group consumed green tea extract capsules and the other consumed placebo. Weight, 6 times 24 hours recall, and level of MDA were measured on every subject.Results: The results revealed that green tea extract has a weight-reducing effect and decrease MDA level of overweight women, though the reduction of weight and MDA level was not significant (p>0,05). Weight loss of 1.3% was observed in the treatment group, whereas the control group has an increase of 0.6% body weight, but the weight change was not significant (p=0.501, p=0.620). Changes in body weight after 12 weeks of treatment showed a significant disparity between the two groups (p=0.000). MDA level decreased by 10% in the treatment group compared to 8.3% in the control group. MDA levels pre and post intervention was significantly different in the treatment group (p=0.006), whereas in the control group there was no significant discrepancy observed (p=0.123). However, changes in MDA levels after 12 weeks of treatment showed no significant differences among groups (p=0.278). The mean nutrient intakes of subjects were still below the recommended dietary allowance (RDA), except for protein.Conclusion: Green tea extract had a weight-reducing effect and decrease MDA level of overweight women in Yogyakarta District Health Office, though the reduction was not statistically significant.
Ketahanan pangan rumah tangga, status gizi, dan prestasi belajar siswa sekolah dasar Akhmad Sujai; Maria Goretti Adiyanti; Emy Huriyati
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 9, No 3 (2013): Januari
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, FK-KMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijcn.15442

Abstract

Background: Poverty and lack of income will cause inability of the family to provide enough and nutritious food for all the family members. Fulfillment of nutritious food will bring direct impact to nutrition status of children. Malnutrition will affect brain development and intelligence that in the long run disrupts academic achievement.Objective: To identify association between food security of the household and nutrition status with academic achievement of elementary school students at Yogyakarta Municipality.Method: The study was observational with cross sectional design. Samples were students of grade V of elementary school at Subdistrict of Gedongtengen, Yogyakarta Municipality. Data of food security of the house were obtained through interview based on questionnaire of Radimer/Cornell, nutritional status data used height for age collected by measurement, and academic achievement through secondary data, i.e. original score of final semester examination. Statistical analysis was performed by using Chi-Square and Fisher’s Exact test.Results: As much as 67.6% of the household were food insecure and 13.3% of students were stunted. Food security of the household was significantly associated with nutrition status (p=0.033) and achievement in mathematics (p=0.045). There was association between nutrition status and achievement in mathematics (p=0.035); Indonesia language (p=0.000); and combined achievement in Mathematics, Indonesia language and science (p=0.004).Conclusion: There was association between food security of the household and nutritional status with academic achievement of student. There was association between food security of the household and nutrition status. 
Co-Authors A’yun, Rizka Qurrota Abdul Wahab Abeng, Andi Tenri Abidillah Mursyid Adhila Fayasari Ahmad Hamim Sadewa Ailsa Nur Rahma Apta Widyadhana Akhmad Sujai Almira Nadia Alpha Olivia Hidayati Andi Tenri Abeng Annisa Leny Saraswati Arta Farmawati Atika Sulistyan Ave Anugraheni Cati Martiyana Christin Debora Nabuasa Dangga, Victorianus Daniel Robert Daniel Robert, Daniel Darwin Nasution Detty Siti Nurdiati Dewi Marfuah Dian Caturini Sulistyonigrum Djauhar Ismail Djauhar Ismail Djauhar Ismail Djauhar Ismail Dwi Sarbini Dyah Ayu Kusuma Wardani Elisabeth Pampang Eni Harmayani Eni Harmayani Erinda Nurrahma Fajar Sri Tanjung Fatwa Sari Tetra Dewi Fitri Ardiani Fitri Ardiani Gebang, Antonius Adolf Hamam Hadi Hamam Hadi Hamam Hadi Hamam Hadi Happy Nurlita Octavinanda Hardiana Probosiwi Hari Kusnanto Harry Freitag Luglio Muhammad Hidayah, Rizki Amalia Husnah Husnah Inas Nur Hafizhah Janatin Hastuti Kamsiah . Kantari, Eka Suci Khristina Dias Utami Lastiana Safitri Lastiana Safitri, Lastiana Latifah Mahdiyati Lely Lusmilasari, Lely Lily Arsanti Lestari Lisdrianto Hanindriyo Lisma Evareny, Mohammad Hakimi, Retna Siwi Padmawati M Juffrie Madarina Julia Madarina Julia Madarina Julia Madarina Julia Mae Sri Hartati Wahyuningsih Maria Goretti Adiyanti Maria Goretti Adiyanti, Maria Goretti Martalena Br Purba Martalena Br Purba Martalena Br Purba Martalena Br Purba, Martalena Br Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih Mubasysyir Hasanbasri Mubasysyir Hasanbasri Muhammad Jourdan Prasetyatama Mursyid, Abidillah Mustikaningtyas Mustikaningtyas Mustikaningtyas, Mustikaningtyas Mutiara Tirta Prabandari Lintang Kusuma Nailufar, Farida Nasution, Darwin Ni Komang Wiardani Ningrum, Ema W. Nisa, Ainun Nur Fitri Widya Astuti Nurahma, Bira Arumndari Okta Haksaica Sulistyo Pampang, Elisabeth Perdana Samekto Tyasnugroho Suyoto Podojoyo Podojoyo Podojoyo, Podojoyo RAHMANIAH RAHMANIAH Ramadhaniah Ramadhaniah Ramadhaniah, Ramadhaniah Ratih Feraritra Danu Atmaja Refdiana Dewi Ribia Tutstsintaiyn Rina Susilowati Rina Susilowati Rissa Saputri Rizka Qurrota A’yun Ronny Tri Wirasto Rupiasa, Welresna Juliatri Putri Sadewa, Hamim Saputri, Rissa Siti Wahdah Sri Ahadi Nugraheni Sri Ahadi Nugraheni, Sri Ahadi Sri Rahayoe Sujai, Akhmad Sulistyan, Atika Sulistyo, Okta Haksaica Sunarti, Sunarti Supriyati Susetyowati Susilo, Leonardus Reynald Tiara Marthias Toto Sudargo Toto Sudargo Usi Lanita Utami, Nurul Putrie Wardani, Dyah Ayu Kusuma Winda Irwanti Winda Irwanti, Winda Wirasto, Ronny Tri Wiryatun Lestariana Wiryatun Lestariana Wiryatun Lestariana, Wiryatun Yayi Suryo Prabandari Yusmiati Yusmiati Yusmiati Yusmiati, Yusmiati Zahra Anggita Pratiwi