Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

DAMPAK PENGGUNAAN PANEL INTERAKTIF PADA PROSES BELAJAR MENGAJAR DI KELAS Patta, Naifah Mansyur; H, Nurhikmah; Tohamba, Citra Prasiska Puspita; Hakim, Abdul
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v5i4.7850

Abstract

The massive distribution of Interactive Flat Panels (IFPs) by the Indonesian government as a solution to the lack of educational technology facilities demands an in-depth evaluation of their effectiveness in real-life learning activities. This study aims to analyze the impact of IFP use on the dynamics of the teaching and learning process in classrooms. Using qualitative methods with a literature review approach, this study reviewed various scientific publications from 2022 to 2025 relevant to the topic. The research stages included keyword identification, abstract selection, and thematic analysis of secondary data obtained from various academic databases. Key findings indicate that the integration of IFPs into learning has a significant impact on increasing student enthusiasm and motivation to learn. This is driven by engaging visualization features and interactivity that enable active kinesthetic student participation. Furthermore, the use of this medium has proven effective in simplifying the delivery of complex concepts. The study's conclusions emphasize that while IFPs offer great potential in creating innovative learning environments, their success depends heavily on teachers' readiness and competence in operating the technology and developing relevant digital content. ABSTRAKDistribusi masif Interactive Flat Panel (IFP) oleh pemerintah Indonesia sebagai solusi atas minimnya fasilitas teknologi pendidikan menuntut adanya evaluasi mendalam mengenai efektivitasnya dalam kegiatan pembelajaran nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak penggunaan IFP terhadap dinamika proses belajar mengajar di ruang kelas. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, penelitian ini menelaah berbagai publikasi ilmiah dari tahun 2022 hingga 2025 yang relevan dengan topik tersebut. Tahapan penelitian meliputi identifikasi kata kunci, seleksi abstrak, serta analisis tematik terhadap data sekunder yang diperoleh dari berbagai basis data akademik. Temuan utama menunjukkan bahwa integrasi IFP dalam pembelajaran memberikan dampak signifikan berupa peningkatan antusiasme dan motivasi belajar siswa. Hal ini didorong oleh fitur visualisasi yang menarik dan interaktivitas yang memungkinkan partisipasi aktif siswa secara kinestetik. Selain itu, penggunaan media ini terbukti efektif dalam menyederhanakan penyampaian konsep yang kompleks. Simpulan penelitian menegaskan bahwa meskipun IFP menawarkan potensi besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang inovatif, keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan dan kompetensi guru dalam mengoperasikan teknologi serta mengembangkan konten digital yang relevan.
Penguatan Keterampilan Berbicara Mahasiswa melalui Model Two Stay Two Stray dalam Program Intensifikasi Bahasa Asing Musdalifah, Musdalifah; Susanto, Ashabul Kahfi; Azhari, Ahmad; Tohamba, Citra Prasiska Puspita; Hardianti, Hardianti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mentari Vol. 2 No. 5 (2025): Desember
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmm.v2i4.190

Abstract

Keterampilan berbicara Bahasa Inggris merupakan kemampuan esensial bagi mahasiswa, baik dalam konteks akademik maupun profesional. Namun, hasil observasi awal menunjukkan bahwa banyak mahasiswa masih mengalami hambatan dalam mengemukakan pendapat, membangun dialog sederhana, dan berpartisipasi aktif dalam diskusi berbahasa Inggris. Kegiatan pengabdian masyarakat melalui Program Intensifikasi Bahasa Asing (PIBA) di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara mahasiswa dengan menerapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS). Model ini dipilih karena mampu mendorong interaksi, kepercayaan diri, serta kelancaran berbicara melalui kerja kelompok yang dinamis. Pelaksanaan kegiatan mencakup analisis kebutuhan, penyusunan materi berbasis tugas, pelatihan intensif selama delapan sesi, dan evaluasi hasil. Pada setiap pertemuan, mahasiswa bekerja dalam kelompok kecil, di mana dua anggota bertahan menerima kunjungan dari kelompok lain, sementara dua anggota lainnya berkeliling untuk bertukar informasi. Pendekatan ini menciptakan lingkungan belajar yang komunikatif, kolaboratif, dan memungkinkan latihan berbicara secara natural. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam aspek kelancaran, pengucapan, tata bahasa, dan kemampuan menyampaikan ide, yang terlihat dari kenaikan skor pre-test dan post-test serta meningkatnya keaktifan mahasiswa. Peserta juga melaporkan meningkatnya motivasi dan kepercayaan diri. Temuan ini menegaskan bahwa TSTS efektif diterapkan dalam program intensif untuk memperkuat keterampilan berbicara mahasiswa.
TEKNOLOGI EMOTION DETECTOR DALAM LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENDETEKSI KESEHATAN EMOSIONAL SISWA:STUDI LITERATUR Salam, Agung Surya; Safitri, Nur; Yoesanti, Adi; H, Nurhikmah; Hakim , Abdul; Tohamba, Citra Prasiska Puspita
EDUTECH : Jurnal Inovasi Pendidikan Berbantuan Teknologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/edutech.v5i4.7853

Abstract

Students' emotional health is a crucial factor in education as it directly influences academic achievement, social relationships, and overall psychological well-being. In the digital era, students face increasingly complex challenges such as academic stress, cyberbullying, and social isolation. These conditions demand innovation in guidance and counseling (GC) services to detect and address emotional issues early. One proposed solution is the application of emotion detector technology, an artificial intelligence (AI)-based system capable of analyzing facial expressions, voice intonation, and behavioral patterns to identify emotional states such as anxiety, stress, and depression, with an accuracy rate of 70–90%. This article employs a literature review method, analyzing national and international publications from 2015 to 2023 obtained through databases such as Google Scholar, Scopus, and PubMed. The review results indicate that integrating emotion detector technology can enhance the effectiveness of GC services through early intervention, personalized support, and a reduction in mental health stigma in schools. However, several challenges remain, including data privacy protection, accuracy across diverse cultural contexts, and limited technological infrastructure in Indonesian schools. Therefore, further research is needed to examine the effectiveness of this technology in local contexts. Through such efforts, education can become more adaptive and responsive to students’ emotional needs, ultimately supporting the holistic development of the younger generation. ABSTRAKKesehatan emosional siswa merupakan faktor penting dalam dunia pendidikan karena berpengaruh langsung terhadap prestasi akademik, hubungan sosial, serta kesejahteraan psikologis secara menyeluruh. Di era digital, siswa menghadapi tantangan yang semakin kompleks seperti stres akademis, cyberbullying, dan isolasi sosial. Kondisi ini menuntut adanya inovasi dalam layanan bimbingan dan konseling (BK) agar mampu mendeteksi dan menangani permasalahan emosional sejak dini. Salah satu solusi yang dikaji adalah penerapan teknologi emotion detector, yaitu teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat menganalisis ekspresi wajah, intonasi suara, dan pola perilaku untuk mengidentifikasi kondisi emosional siswa, seperti kecemasan, stres, dan depresi, dengan tingkat akurasi mencapai 70–90%. Artikel ini menggunakan metode studi literatur dengan meninjau berbagai publikasi nasional dan internasional dari tahun 2015 hingga 2023 yang bersumber dari Google Scholar, Scopus, dan PubMed. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi teknologi emotion detector dapat meningkatkan efektivitas layanan BK melalui intervensi dini, pemberian dukungan yang lebih personal, serta mengurangi stigma terhadap kesehatan mental di sekolah. Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan seperti perlindungan privasi data, keakuratan dalam konteks budaya yang beragam, serta keterbatasan sarana teknologi di sekolah-sekolah Indonesia. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menguji efektivitas penerapan teknologi ini dalam konteks lokal. Dengan langkah tersebut, dunia pendidikan diharapkan menjadi lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan emosional siswa guna mendukung perkembangan holistik generasi muda.
Utilization of Chatbot AI to Improve the Accessibility and Effectiveness of Guidance and Counseling Services in the Digital Era: A Literature Review Hesti, Ikma; Yunizahrani, Auliya; Saskia, Cintia; Tohamba, Citra Prasiska Puspita; Nurhikma, Nurhikma
JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala Vol 10, No 4 (2025): JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala (Desember)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jupe.v10i4.9681

Abstract

Guidance and counseling (GC) services across educational, public health, and industrial contexts face core challenges: limited professional workforce, geographical barriers, and stigma that impede user access. This systematic literature review analyzes the potential of AI chatbots as a supportive solution for GC services in the digital era. Data were collected from 32 scientific journals (2018–2025) and practical reports, then analyzed using a thematic approach. The findings reveal that AI chatbots improve service accessibility through three key avenues: (1) 24/7 availability without location restrictions, (2) up to 40% reduction in operational costs for service providers, and (3) stigma mitigation via anonymous interactions. Additionally, chatbots equipped with natural language processing (NLP) algorithms and psychological data training enhance service effectiveness by delivering initial mental health symptom screening (78% accuracy based on a case study in Indonesian secondary schools), simple coping guidance, and referrals to professionals when necessary. However, the study identifies critical challenges: the risk of misinterpreting emotional context, limitations in addressing complex cases (such as severe depression), and user data privacy concerns. Based on these results, the study recommends a collaborative model between AI chatbots and GC professionals, as well as the implementation of strict data regulations to ensure service safety and relevance. This review concludes that AI chatbots are valuable supportive tools for expanding the reach of GC services but cannot replace the human role in addressing complex emotional needs.